‹ Daftar slidePertemuan 5: Identifikasi Risiko: Skenario Peristiwa & Risk Map
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Resiko Bisnis
Pertemuan 5 — Identifikasi Risiko: Skenario Peristiwa & Risk Map
Dari daftar risiko mentah ke peta risiko yang bisa dipakai pengambil keputusan — skenario cause→event→consequence, risk register, RBS (Risk Breakdown Structure), dan heat map 5×5.
RPS Minggu 5 • Sub-CPMK4 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu mengidentifikasi risiko secara lanjutan (Sub-CPMK4). Secara rinci:
Capaian 1 — Skenario
Menyusun skenario risiko dalam kerangka Cause → Event → Consequence untuk minimal tiga risiko berbeda.
Capaian 2 — Register
Membangun risk register awal dengan minimal 8 entri lengkap — ID, deskripsi, sumber, kategori, estimasi K & D, dan risk score.
Capaian 3 — RBS & Map
Menggambar RBS (Risk Breakdown Structure — hierarki kategorisasi risiko) dan memplot risiko pada heat map 5×5.
Capaian 4 — Interaksi
Menjelaskan risk interdependency — fenomena di mana satu risiko memicu atau memperkuat risiko lain — dan dampaknya pada prioritas penanganan.
Mengapa Peta Risiko — Bukan Sekadar Daftar Risiko?
Daftar risiko bisa sangat panjang. Tanpa pemetaan, manajemen tidak tahu mana yang paling mendesak ditangani.
Tanpa Peta Risiko
Semua risiko tampak setara. Sumber daya tersebar merata. Risiko kecil bisa mendapat perhatian berlebih; risiko besar justru terabaikan.
Dengan Risk Map 5×5
Prioritas visual langsung terlihat. Tim fokus pada zona merah (high risk). Biaya mitigasi risiko — langkah mengurangi kemungkinan atau dampak — dialokasikan lebih efisien.
Regulasi perbankan Indonesia (POJK 18/POJK.03/2016 — Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang mengikat bank umum) mewajibkan bank umum memiliki profil risiko berbasis matriks kemungkinan × dampak. Bagi perusahaan non-bank, ini adalah best practice global yang terangkum dalam ISO 31000:2018.
Bagian 1 dari 4
Skenario Peristiwa Risiko
Kerangka Cause → Event → Consequence — cara terstruktur mengurai setiap risiko menjadi tiga lapisan yang bisa dikelola secara berbeda.
Anatomi Risiko: Kerangka Cause → Event → Consequence
Setiap risiko dapat diurai menjadi tiga lapisan yang saling berurutan:
Contoh konkret:
Cause
Event
Consequence
Kenaikan BI Rate (suku bunga acuan Bank Indonesia)
Biaya KPR nasabah naik
Penjualan properti turun 30%
Tiga Lapisan: Ciri Khas & Cara Mengenalinya
Cause — Penyebab
Mengapa bisa terjadi?
Ada sebelum peristiwa. Bisa internal (SDM — Sumber Daya Manusia — lemah, teknologi usang) atau eksternal (regulasi, ekonomi makro).
Contoh: "Server lokal tanpa redundansi (cadangan sistem)."
Event — Peristiwa
Apa yang terjadi?
Bersifat tidak pasti; dinyatakan sebagai kejadian, bukan kondisi.
Contoh: "Sistem IT down selama 24 jam."
Consequence — Dampak
Apa efeknya?
Terjadi setelah event; bisa finansial, reputasi, operasional, atau regulasi.
Contoh: "Kerugian operasional Rp 500 juta; keluhan pelanggan."
Kesalahan umum: Menulis consequence sebagai event — misalnya "risiko kerugian finansial" padahal kerugian finansial itu adalah consequence. Event-nya adalah peristiwanya, misalnya downtime (periode ketika sistem tidak berfungsi) 24 jam. Pisahkan dengan tepat.
Hitung dari Nol — HDN-1: Skenario Risiko Hotel Berbintang
Konteks: Hotel Nusantara (berbintang 4, Semarang). Susun skenario risiko untuk 4 risiko utama:
#
Cause
Event
Consequence
S-01
Pemasok bahan makanan tunggal (tidak ada alternatif)
Pemasok utama berhenti beroperasi mendadak
Kelangkaan bahan baku dapur; batalnya event catering; kerugian pendapatan ~Rp 200 jt/bulan
S-02
Kenaikan UMP (Upah Minimum Provinsi) Jawa Tengah + tekanan inflasi
Biaya tenaga kerja meningkat 15% di atas anggaran
Margin operasional turun; layoff terpaksa jika tidak ada efisiensi lain
S-03
Server pemesanan kamar menggunakan server lokal tanpa redundansi
Server pemesanan down saat musim liburan puncak
Reservasi hilang; kehilangan pendapatan; kerusakan reputasi di platform OTA (Online Travel Agent — Traveloka, Booking.com)
S-04
Fluktuasi kurs (nilai tukar) USD/IDR; peralatan impor dibayar dalam USD
Pola yang benar: Cause = kondisi yang ada sekarang • Event = kejadian tidak pasti • Consequence = dampak terukur. Jika Anda bisa mengisi ketiga kolom, skenario Anda sudah terstruktur.
Bagian 2 dari 4
Risk Register Awal
Dari skenario bebas ke database risiko terstruktur — kolom standar, kode ID, dan estimasi awal kemungkinan serta dampak sebelum analisis kuantitatif (pra-analisis).
Risk Register — Database Risiko Terstruktur
Risk register adalah daftar tertulis seluruh risiko yang telah diidentifikasi, lengkap dengan atribut dasar masing-masing. Ia adalah output utama tahap identifikasi risiko.
ID Risiko
Deskripsi Singkat
Sumber / Cause
Kategori
K (1–5)
D (1–5)
Risk Score
Pemilik Risiko
R-001
…
…
…
…
…
…
…
Risk register bukan dokumen sekali jadi. Ia adalah living document (dokumen hidup) yang diperbarui setiap siklus penilaian risiko — minimal tahunan, atau saat ada perubahan signifikan bisnis. K = Kemungkinan; D = Dampak; Risk score (skor risiko) = K × D, dipakai untuk membandingkan dan memprioritaskan risiko. Pemilik risiko (risk owner) = individu atau unit yang bertanggung jawab memantau dan mengelola risiko tertentu.
Satu–dua kalimat menjelaskan peristiwa risiko (event) dan sumbernya (cause). Harus spesifik, bukan generik. "Kebakaran gudang akibat instalasi listrik" > "risiko kebakaran".
Kategori
Jenis risiko: strategis, operasional, finansial, kepatuhan/regulasi, reputasi. Berdasarkan RBS (Risk Breakdown Structure — dibahas di Bagian 3).
Kemungkinan (K)
Skala 1–5: 1 = sangat jarang; 5 = hampir pasti. Estimasi awal berdasarkan data historis atau penilaian pakar (expert judgment).
Dampak (D)
Skala 1–5: 1 = tidak signifikan; 5 = sangat besar/kritis. Mencerminkan efek terburuk yang realistis — finansial, reputasi, atau regulasi.
Risk Score (K×D)
Hasil perkalian: rentang 1–25. Digunakan untuk plotting di heat map dan menentukan prioritas. Ini adalah estimasi awal — akan diperhalus di Pertemuan 6.
Hitung dari Nol — HDN-2: Risk Register Hotel Nusantara (8 Entri)
Melanjutkan kasus Hotel Nusantara. Risk register awal — 8 risiko, kolom lengkap. Risk Score = K × D.
ID
Deskripsi Singkat (Event)
Sumber (Cause)
Kategori
K
D
Score
OPS-01
Pemasok utama bahan makanan berhenti beroperasi
Ketergantungan pemasok tunggal
Operasional
2
4
2×4=8
OPS-02
Server pemesanan kamar down ≥24 jam
Server lokal tanpa redundansi
Operasional
3
4
3×4=12
FIN-01
Biaya operasional membengkak akibat pelemahan rupiah
Eksposur (nilai terancam) USD pada kontrak peralatan
Finansial
3
3
3×3=9
FIN-02
Gagal bayar pinjaman bank akibat arus kas negatif
Penurunan drastis tingkat hunian (occupancy rate)
Finansial
2
5
2×5=10
HRM-01
Kenaikan UMP melampaui anggaran tenaga kerja
Penetapan UMP tahunan Gubernur Jawa Tengah + inflasi
Operasional
4
3
4×3=12
REP-01
Ulasan negatif viral di media sosial (Traveloka, Google)
Keluhan tamu yang tidak tertangani
Reputasi
3
4
3×4=12
STR-01
Hotel pesaing baru (bintang 4+) buka dalam 2 km
Pertumbuhan pasar menarik investor baru
Strategis
3
3
3×3=9
KEP-01
Pelanggaran peraturan keselamatan kebakaran
SOP tidak diperbarui; staf kurang terlatih
Kepatuhan
2
5
2×5=10
Skor tertinggi: OPS-02, HRM-01, REP-01 (score=12) — masih Zona Sedang (8–14). FIN-02 & KEP-01 (score=10) berada di kolom D=5 — jika K naik 1 poin, langsung masuk Zona Merah (≥15). Waspada.
Bagian 3 dari 4
RBS & Risk Map 5×5
Mengorganisir risiko dalam hierarki (Risk Breakdown Structure) lalu memvisualisasikannya dalam heat map dua dimensi: kemungkinan × dampak.
Risk Breakdown Structure (RBS) — Pohon Hierarki Risiko
RBS (Risk Breakdown Structure) mengorganisir risiko dari level umum ke level spesifik — memastikan identifikasi risiko komprehensif dan tidak ada kategori yang terlewat.
RBS adalah peta kategori, bukan daftar risiko. Gunakan sebagai checklist: "Apakah kita sudah mengidentifikasi risiko di setiap cabang ini?" Rantai pasok (supply chain) = jaringan pemasok dan proses hingga ke konsumen.
Skala Standar 5×5: Kemungkinan & Dampak
Sebelum memplot ke heat map, definisikan dulu skala — agar semua orang dalam organisasi menggunakan tolok ukur yang sama.
Skala ini tidak universal — tiap organisasi menetapkan skala sesuai konteksnya. Omzet = total pendapatan penjualan. UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dengan omzet Rp 1 miliar mendefinisikan "dampak besar" secara berbeda dibanding bank besar dengan aset Rp 100 triliun.
Risk Score: Mengukur Prioritas Risiko
Risk score adalah cara sederhana menggabungkan dua dimensi risiko menjadi satu angka untuk keperluan perbandingan dan prioritisasi.
Risk Score = K × D | K = Kemungkinan (1–5) • D = Dampak (1–5) • Score: 1–25
Risk Score
Zona
Warna
Tindakan Umum
15–25
Tinggi / Kritis
Merah
Tindakan segera; mitigasi prioritas utama
8–14
Sedang
Kuning/Oranye
Perlu rencana penanganan; pantau rutin
1–7
Rendah
Hijau
Terima atau pantau berkala
Risk score bukan satu-satunya dasar keputusan. Risiko dengan score rendah tapi berdampak fatal bagi reputasi (mis. skandal korupsi) tetap perlu prioritas khusus — pertimbangan kualitatif selalu penting di samping perhitungan angka.
Heat Map 5×5 — Visualisasi Posisi Risiko
Heat map memvisualisasikan posisi setiap risiko dalam matriks Kemungkinan (sumbu Y) × Dampak (sumbu X). Warna sel ditentukan oleh skor (K × D), bukan posisi kolom.
Penting untuk pemula: Warna sel ditentukan oleh skor (K×D), bukan posisi kolom. Sel D=5, K=2 menghasilkan skor 10 → tetap berwarna kuning/sedang, walaupun letaknya di tepi kanan matriks. Jangan biarkan posisi visual menyesatkan penilaian zona.
Coba Sendiri: Plot Risiko ke Matriks 5×5
Geser posisi kemungkinan dan dampak sebuah risiko pada grid 5×5, lalu amati skor dan zona keputusan (4T) yang otomatis terbentuk.
Hitung dari Nol — HDN-3: Memplot Risiko Hotel Nusantara ke Heat Map
Rekap posisi 8 risiko dari risk register:
ID
K
D
Score
Zona
OPS-01
2
4
8
Sedang
OPS-02
3
4
12
Sedang (oranye)
FIN-01
3
3
9
Sedang
FIN-02
2
5
10
Sedang
HRM-01
4
3
12
Sedang (oranye)
REP-01
3
4
12
Sedang (oranye)
STR-01
3
3
9
Sedang
KEP-01
2
5
10
Sedang
Tidak ada risiko di zona merah (≥15) saat ini. Namun FIN-02 & KEP-01 berada di kolom D=5: jika K naik 1 poin → score menjadi 15 → langsung Zona Merah. Ini disebut "risiko laten". Ingat: warna didasarkan pada skor, bukan posisi kolom.
Studi Kasus: Risk Map Perusahaan Properti Indonesia
Konteks: Emiten properti LQ45 (indeks 45 saham paling likuid di BEI) seperti PT Bumi Serpong Damai / BSDE menghadapi dua tekanan sekaligus di 2022–2023.
Risiko Material Bangunan
Cause: Gangguan rantai pasok global (baja, semen) Event: Harga material naik 20–30% mendadak K=4, D=4 → Score = 4×4 = 16 → ZONA MERAH
Risiko Suku Bunga KPR
Cause: BI Rate naik untuk kendalikan inflasi Event: Suku bunga KPR bank komersial naik 200–300 bps (basis points — 1 bps = 0,01%) K=4, D=4 → Score = 4×4 = 16 → ZONA MERAH
Kedua risiko muncul bersamaan di 2022–2023: BI Rate naik dari 3,5% → 6,0% dalam 18 bulan + harga baja naik >40%. Perusahaan properti menghadapi tekanan ganda. Kedua risiko ini adalah contoh risk interdependency yang akan dibahas di Bagian 4.
Praktik Nyata: Risk Map di Laporan Tahunan Emiten Indonesia
Perusahaan publik Indonesia wajib mengungkapkan manajemen risiko dalam Laporan Tahunan (Annual Report) kepada OJK dan pemegang saham — berdasarkan POJK 29/POJK.04/2016.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Laporan Tahunan → Bab Manajemen Risiko. Mengungkapkan 8 kategori risiko sesuai POJK: kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi, strategis, kepatuhan. Profil risiko disajikan dalam format matriks kemungkinan × dampak.
Emiten Properti (BSDE/CTRA)
Laporan Tahunan → Seksi Faktor Risiko. Berisi identifikasi risiko per kategori (RBS), penjelasan cause–consequence, dan gambaran strategi mitigasi. Format kualitatif namun terstruktur sesuai standar internasional.
Cara belajar paling efektif: unduh laporan tahunan dari idx.co.id (Bursa Efek Indonesia — portal resmi data emiten), buka seksi manajemen risiko, dan identifikasi apakah struktur RBS dan cause→event→consequence-nya konsisten dengan yang kita pelajari hari ini.
Bagian 4 dari 4
Interaksi Antar-Risiko & Rangkuman
Risiko jarang berdiri sendiri — risk interdependency menentukan mengapa urutan penanganan risiko lebih kompleks dari sekadar mengurutkan skor tertinggi.
Risk Interdependency — Rantai Pemicu Risiko
Risiko-risiko saling berinteraksi: satu peristiwa dapat menjadi trigger (pemicu) bagi peristiwa risiko lainnya.
Implikasi: Mengurangi satu risiko (mis. R3) tanpa menangani hulunya (R1, R2) akan terus menghasilkan tekanan. Strategi terbaik: identifikasi root cause (penyebab akar) dan putus rantai di titik paling efektif. Hedging suku bunga = kontrak swap untuk melindungi diri dari perubahan suku bunga.
Kasus Konkret: Bagaimana Perubahan BI Rate Menggeser Risk Map
Saat BI Rate naik, profil risiko perusahaan properti bergeser — risiko yang semula di zona sedang bisa pindah ke zona merah.
Ini menunjukkan mengapa risk map harus diperbarui saat ada perubahan eksternal signifikan — bukan dokumen tahunan saja. Risk map adalah foto kondisi saat ini, bukan foto permanen.
Lima Kesalahan Umum dalam Pemetaan Risiko
Kesalahan 1
Mencampur cause, event, dan consequence — menulis "risiko kerugian finansial" padahal itu consequence, bukan event. Pisahkan dengan ketat menggunakan tiga kolom skenario.
Kesalahan 2
Skala tidak didefinisikan — memberi nilai K=4 tanpa mendefinisikan apa artinya "4" untuk konteks organisasi ini. Buat tabel definisi skala lebih dahulu sebelum mengisi register.
Kesalahan 3
Risk register statis — mengisi satu kali saat proyek dimulai lalu tidak pernah diperbarui. Register yang usang lebih berbahaya dari tidak punya register sama sekali — memberikan rasa aman palsu.
Kesalahan 4
Mengabaikan risk interdependency — menilai setiap risiko secara independen dan melewatkan efek rantai. Selalu tanyakan: "Jika risiko ini terjadi, risiko apa lagi yang terpicu?"
Kesalahan 5
Terlalu percaya pada angka — menolak mempertimbangkan risiko karena score-nya rendah, padahal ada dimensi kualitatif (reputasi, etika) yang tidak tertangkap oleh angka K×D semata.
Sebelum menyerahkan risk register atau heat map ke atasan: cek lima poin ini. Temukan minimal satu yang harus diperbaiki.
Mengurai risiko menjadi lapisan cause, event, consequence
Tabel skenario terstruktur
Setiap risiko diidentifikasi
Risk Register
Mendokumentasikan semua risiko dengan atribut standar
Database / spreadsheet risiko
Seluruh siklus manajemen risiko
RBS
Memastikan kelengkapan kategori risiko
Pohon hierarki kategori
Saat merancang atau review register
Heat Map 5×5
Memvisualisasikan prioritas risiko secara dua dimensi
Matriks berwarna dengan titik risiko
Presentasi ke manajemen / komite
Risk Interdependency
Memetakan rantai pemicu antar-risiko
Diagram rantai atau matriks korelasi
Analisis risiko lanjutan
Urutan kerja: RBS → Skenario C→E→C → Register → Score (K×D) → Heat Map → Analisis Interdependency. Matriks korelasi = tabel yang menunjukkan seberapa erat hubungan antara dua risiko.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Skenario & Register
Pilih satu bisnis jasa yang Anda kenal (mis. bengkel motor, warung makan, salon). Identifikasi minimal 5 risiko, buat skenario C→E→C untuk masing-masing, lalu isikan ke dalam risk register sederhana (ID, deskripsi, kategori, K, D, score).
Waktu: 10 menit.
Latihan 2 — Heat Map
Dari 5 risiko di Latihan 1, plotkan ke matriks 5×5 pada kertas atau papan tulis. Tentukan: (a) Risiko mana di zona merah? (b) Jika ada risiko yang berinteraksi dengan risiko lain, jelaskan rantainya (risk interdependency).
Diskusikan:Apakah dua perusahaan sejenis (mis. dua hotel berbintang) akan memiliki risk map yang identik? Mengapa ya atau tidak? Pertimbangkan: komposisi tamu, kondisi gedung, pengalaman manajemen, dan toleransi risiko pemilik.
Pertemuan 5 — Selesai
Rangkuman 4 Blok
Blok 1: Setiap risiko diurai menjadi cause → event → consequence — tiga lapisan yang memandu strategi mitigasi berbeda.
Blok 2:Risk register adalah database risiko hidup dengan kolom ID, deskripsi, sumber, kategori, K, D, dan score.
Blok 4: Risiko berinteraksi — kenali rantai pemicu untuk memilih titik intervensi yang paling efektif.
Persiapan Pertemuan 6 — Analisis Risiko
Topik: dari identifikasi ke kuantifikasi — expected loss (kerugian yang diharapkan = probabilitas × kerugian jika terjadi), probability distributions, Value at Risk (VaR) sederhana.
Tugas: Baca kembali risk register Hotel Nusantara (HDN-2). Pikirkan: bagaimana Anda akan mengkonversi estimasi K dari skala 1–5 menjadi angka probabilitas, dan D menjadi nilai kerugian dalam rupiah?