‹ Daftar slidePertemuan 4: Identifikasi Risiko: Proses, Prosedur & Teknik
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Resiko Bisnis
Pertemuan 4 — Identifikasi Risiko: Proses, Prosedur & Teknik
Sebelum risiko bisa dikelola, ia harus ditemukan. Hari ini kita pelajari cara kerja identifikasi risiko yang sistematis — dari checklist sederhana hingga teknik Fishbone, FMEA, Bow-Tie, SWIFT, dan RBS.
RPS Minggu 4 • Sub-CPMK 4 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mengidentifikasi risiko (Sub-CPMK 4). Secara rinci:
Capaian 1 — Proses & Prosedur
Menjelaskan proses & prosedur identifikasi risiko: dokumentasi sumber, checklist, brainstorming, dan wawancara.
Capaian 2 — KRI
Mengenali Key Risk Indicators (KRI) — indikator kunci risiko — sebagai sinyal peringatan dini eksposur risiko.
Capaian 3 — Fishbone & FMEA
Menerapkan diagram Fishbone (Ishikawa) dan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) untuk mengidentifikasi penyebab dan mode kegagalan.
Capaian 4 — Bow-Tie, SWIFT, RBS
Membedakan dan memilih teknik Bow-Tie, SWIFT, dan Risk Breakdown Structure (RBS) sesuai konteks yang tepat.
Apa yang Terjadi Jika Risiko Tidak Diidentifikasi?
Dua kasus Indonesia menunjukkan bahwa risiko yang diabaikan bisa berbiaya sangat besar.
Kasus 1 — Industri Tekstil Jawa Tengah
Produsen garmen gagal mengidentifikasi risiko ketergantungan pada satu pemasok bahan baku.
Saat pemasok bangkrut, lini produksi berhenti 3 minggu.
Kerugian ditaksir ratusan juta rupiah — kerugian yang bisa dicegah dengan identifikasi risiko rantai pasok lebih awal.
Kasus 2 — Perbankan & POJK 65/2016
Bank yang tidak memetakan risiko konsentrasi kredit pada sektor properti mengalami lonjakan NPF (Non-Performing Financing — pembiayaan bermasalah).
OJK menerbitkan POJK Nomor 65/POJK.03/2016 sebagai respons regulasi.
Konsentrasi kredit = risiko akibat portofolio pinjaman terpusat pada satu sektor.
Risiko yang tidak diidentifikasi = risiko yang tidak terkelola. Identifikasi risiko bukan formalitas dokumentasi; ia adalah pertahanan pertama organisasi.
Bagian 1 dari 4
Proses & Prosedur Identifikasi Risiko
Lima langkah proses; empat prosedur utama — dokumentasi sumber, checklist, brainstorming, dan wawancara.
DokumentasiChecklistBrainstormingWawancara
Posisi Identifikasi dalam Siklus Manajemen Risiko
Identifikasi risiko adalah langkah pertama setelah penetapan konteks — sebelum penilaian, penanganan, dan pemantauan.
Kalau identifikasi risiko tidak lengkap → langkah-langkah berikutnya kehilangan fondasi. Garbage in, garbage out. — ISO 31000:2018, Pasal 6
Proses Identifikasi Risiko: Lima Langkah
1
Tetapkan Cakupan
Tentukan unit bisnis, proses, atau proyek yang akan diidentifikasi risikonya.
2
Kumpulkan Informasi
Dokumentasi sumber risiko, historis kejadian, kontrak, regulasi, dan data operasional.
3
Identifikasi Sumber & Penyebab
Gunakan teknik (checklist, brainstorming, Fishbone) untuk menemukan sumber dan akar penyebab risiko.
4
Identifikasi Konsekuensi
Tentukan akibat yang mungkin terjadi: finansial, operasional, reputasi, atau hukum.
5
Dokumentasikan di Risk Register
Catat semua risiko ke dalam risk register (daftar risiko terstruktur) yang aktif diperbarui.
Risk register = daftar risiko terstruktur berisi nama risiko, penyebab, konsekuensi, pemilik risiko, dan status penanganan — output wajib identifikasi risiko. | Sumber: ISO 31000:2018, Pasal 6.4.2
Prosedur 1 & 2: Dokumentasi Sumber + Checklist Risiko
Dokumentasi Sumber
Laporan keuangan historis
Laporan audit internal & eksternal
Dokumen kontrak & log insiden operasional
Laporan regulator: OJK, BI, BPOM sesuai industri
Aktivitas "duduk dan membaca" sebelum bicara dengan orang atau menggunakan teknik visual.
Checklist Risiko
Daftar risiko standar berdasarkan pengalaman industri
Kelemahan: hanya menemukan risiko yang sudah diketahui; emerging risk (risiko baru) bisa terlewat
Checklist adalah titik awal, bukan titik akhir. Selalu lengkapi dengan brainstorming dan teknik lainnya untuk menangkap emerging risk — risiko baru yang lahir dari perubahan teknologi, regulasi, atau lingkungan bisnis.
Prosedur 3 & 4: Brainstorming + Wawancara Pakar
Brainstorming Tim
Sesi terstruktur lintas fungsi: keuangan, operasi, SDM, IT, hukum
Aturan: tidak ada kritik saat generasi ide
Output: daftar risiko kasar yang disaring
Cocok untuk: menemukan risiko yang tidak ada di checklist, mendapat perspektif beragam
Wawancara Pakar / Metode Delphi
Wawancara mendalam dengan manajer senior, pakar teknis, atau konsultan risiko
Metode Delphi (teknik penggalian pendapat pakar secara anonim berulang): wawancara anonim berulang sampai konsensus tercapai — mengurangi bias sosial
Komposisi peserta brainstorming kritis: jangan hanya undang manajer — libatkan frontliner (karyawan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan atau operasi lapangan) yang paling dekat dengan risiko operasional sehari-hari.
Bagian 2 dari 4
KRI: Sinyal & Indikator Risiko
Bagaimana organisasi tahu risiko sedang meningkat sebelum menjadi insiden? Jawabnya: Key Risk Indicators.
Key Risk Indicators (KRI) — Sistem Peringatan Dini Risiko
KRI adalah metrik kuantitatif maupun kualitatif yang memberi sinyal bahwa level risiko sedang bergerak mendekati ambang batas (threshold) yang tidak dapat diterima.
Jenis Risiko
Contoh KRI
Ambang Batas "Lampu Kuning"
Risiko Operasional
Jumlah kesalahan transaksi/hari
> 0,1% dari total transaksi
Risiko Kredit
Rasio NPL/NPF
> 3%
Risiko Rantai Pasok
Jumlah pemasok alternatif per bahan baku kritis
< 2 pemasok
Risiko SDM
Tingkat turnover karyawan kunci/bulan
> 5%
Risiko Kepatuhan
Jumlah temuan audit yang belum diselesaikan
> 5 temuan
KRI yang baik: terkait langsung ke risiko (bukan metrik bisnis umum), dapat diukur secara berkala, dan punya ambang batas (threshold) yang jelas. | NPL/NPF = Non-Performing Loan/Financing — rasio kredit bermasalah terhadap total portofolio.
KRI dalam Praktik: Perbankan Syariah & POJK 65/2016
POJK Nomor 65/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum Syariah (BUS) mewajibkan bank memiliki sistem identifikasi & pemantauan risiko yang mencakup indikator risiko.
Apa yang Diwajibkan POJK?
Proses identifikasi risiko yang komprehensif
Sistem informasi untuk memantau KRI secara berkala
Fokus pada POLA: rasio sebagai KRI dengan threshold regulatoris. Rasio ini dipelajari mendalam di MK Manajemen Perbankan.
Prinsip relevan non-bank: regulasi sektoral Indonesia (OJK, BI, BPOM, ESDM) semakin mensyaratkan sistem MR formal dengan KRI. CAR >8% = standar Basel III diadopsi OJK.
Bagian 3 dari 4
Teknik Identifikasi: Fishbone, FMEA & Bow-Tie
Tiga teknik paling populer — kita praktikkan dari nol. Siapkan kalkulator dan pensil Anda.
FishboneFMEABow-Tie
Fishbone (Ishikawa) — Diagram Penyebab Risiko
Pertanyaan utama: mengapa suatu masalah/risiko terjadi? Fishbone memetakan penyebab ke dalam 6 kategori (6M).
Kepala ikan = masalah/risiko yang dianalisis | Tulang besar = 6 kategori (6M): Man · Machine · Method · Material · Measurement · Milieu/Mother Nature | Tulang kecil = penyebab spesifik. Dikembangkan Kaoru Ishikawa di Kawasaki Steel Works ~1960-an; salah satu dari seven basic tools of quality.
Worked Example — WE-1: Fishbone Keterlambatan Pengiriman
Perusahaan distribusi FMCG (Fast Moving Consumer Goods — produk konsumen perputaran cepat) menghadapi risiko: keterlambatan pengiriman produk ke retailer. Isi Fishbone 6M secara lengkap.
Kategori (6M)
Penyebab Spesifik yang Diidentifikasi
Man
(1) Sopir kurang terlatih rute baru; (2) Kelelahan akibat shift ganda; (3) Absensi tinggi
Machine
(1) Armada truk tua, sering mogok; (2) Tidak ada GPS tracking; (3) Perawatan armada tidak rutin
Method
(1) SOP loading/unloading tidak standar; (2) Tidak ada rute optimasi; (3) Koordinasi gudang–ekspedisi manual via telepon
Material
(1) Kerusakan kemasan → sortir ulang; (2) Stok-out (kehabisan stok) saat jadwal kirim; (3) Mismatch surat jalan vs fisik barang
Measurement
(1) Tidak ada monitoring waktu tiba per titik; (2) Data historis keterlambatan tidak direkam; (3) KPI (Key Performance Indicator) pengiriman tidak dipantau real-time
Milieu/Nature
(1) Kemacetan lalu lintas kota; (2) Pembatasan jam operasional truk; (3) Kondisi jalan buruk di daerah terpencil
Dari 6 kategori ditemukan 18 penyebab potensial. Langkah selanjutnya: prioritaskan penyebab yang paling sering dan paling berdampak → masuk ke FMEA (Slide 16).
FMEA — Failure Mode and Effect Analysis
FMEA (Failure Mode and Effect Analysis — analisis mode kegagalan dan efeknya) bertanya: apa yang bisa gagal dalam suatu proses, seberapa parah efeknya, seberapa sering, dan seberapa mudah terdeteksi? Jawaban ketiga dimensi → RPN.
RPN = S × O × D
S — Severity
1–10
Keparahan efek kegagalan. 1 = tidak ada efek; 10 = efek bencana/ekstrem.
O — Occurrence
1–10
Frekuensi kegagalan. 1 = hampir mustahil; 10 = sangat sering terjadi.
RPN (Risk Priority Number — angka prioritas risiko) = S × O × D. Makin tinggi → makin mendesak. ⚠️ Severity 10 HARUS diprioritaskan meskipun RPN totalnya bukan tertinggi. Standar AIAG-VDA 2019 menggantinya dengan Action Priority (AP) berbasis kombinasi S-O-D. D tinggi = bahaya tersembunyi.
Coba Sendiri: Geser S, O, D — Amati Perubahan RPN
Geser tiga slider Severity, Occurrence, dan Detection, lalu amati bagaimana RPN berubah dan kapan mode kegagalan berpindah level prioritas.
Hitung dari Nol — HDN-2: Tabel FMEA Distribusi FMCG
Mini-Walkthrough (proses loading — Salah Muat):
S = 7 (dampak finansial signifikan + komplain, bukan bahaya jiwa) |
O = 5 (kadang-kadang, terutama saat rush hour gudang) |
D = 4 (ada cek surat jalan tapi tidak 100% andal) →
RPN = 7 × 5 × 4 = 140
Proses
Mode Kegagalan
Efek Kegagalan
S
O
D
RPN = S×O×D
Prioritas
Loading di gudang
Salah muat (produk tertukar/kurang)
Retailer terima pesanan tidak sesuai → komplain, retur
7
5
4
140
TINGGI
Pengiriman (di jalan)
Kendaraan mogok di tengah rute
Keterlambatan 4–8 jam, produk segar rusak
8
4
6
192
SANGAT TINGGI
Unloading di retailer
Kerusakan kemasan saat bongkar muat
Produk tidak layak jual, retur (pengembalian barang) → kerugian
Prioritas: (1) Kendaraan mogok [RPN 192] → preventive maintenance + armada cadangan; (2) Kerusakan kemasan [RPN 180] → SOP bongkar muat baru + alat bantu; (3) Salah muat [RPN 140] → sistem barcode scanning.
Bow-Tie Analysis — Peta Lengkap Sebab, Kejadian & Akibat
Bow-Tie menghubungkan penyebab risiko (kiri) → Top Event / kejadian risiko inti (tengah) → akibat/konsekuensi (kanan). Sekaligus memetakan kontrol yang ada di tiap sisi.
Bow-Tie unggul untuk komunikasi risiko ke manajemen senior karena satu visual menunjukkan gambaran lengkap risiko + kontrol yang ada. Top Event = kejadian risiko inti di tengah diagram. BCP (Business Continuity Plan — rencana kelangsungan bisnis) adalah contoh recovery control.
Coba Sendiri: Susun Diagram Bow-Tie Anda Sendiri
Tambahkan penyebab dan konsekuensi di kedua sisi Top Event, lalu pasang kontrol pencegahan/pemulihan dan amati bagaimana diagram bow-tie terbentuk.
Studi Kasus: Bow-Tie Risiko Rantai Pasok PT Astra International Tbk (ASII)
PT Astra International (kode BEI: ASII) — konglomerat terbesar di Bursa Efek Indonesia — memiliki rantai pasok kompleks lintas industri. Top Event: Gangguan pasokan komponen otomotif kritis.
Penyebab (kiri)
Kontrol Pencegahan
TOP EVENT
Konsekuensi (kanan)
Kontrol Mitigasi
Bencana alam di lokasi pemasok
Pemetaan risiko geografis pemasok
Gangguan pasokan komponen kritis
Henti lini produksi
Buffer stock (stok penyangga) minimum 30 hari
Pemasok bangkrut
Evaluasi keuangan pemasok berkala
Penundaan pengiriman ke konsumen
Kontrak dengan pemasok alternatif
Lonjakan harga material global
Kontrak jangka panjang lock-in harga
Kerugian finansial
Klausul force majeure (klausul yang membebaskan pihak dari kewajiban akibat kejadian di luar kendali) + asuransi
Astra dalam laporan tahunannya mengungkapkan manajemen risiko rantai pasok sebagai risiko material (risiko signifikan yang wajib diungkapkan dalam laporan tahunan) — contoh transparansi tata kelola yang diharapkan regulator OJK dan BEI dari perusahaan publik.
Bagian 4 dari 4
Teknik Lanjut: SWIFT & Risk Breakdown Structure
Dua teknik pelengkap — SWIFT untuk skenario "bagaimana jika", RBS untuk taksonomi risiko yang terstruktur hierarkis.
SWIFTRBS
SWIFT — Structured What-If Technique
SWIFT mengajukan pertanyaan "bagaimana jika… (what if)…" secara terstruktur untuk setiap elemen proses atau sistem, guna mengidentifikasi risiko yang mungkin tidak terpikirkan. Dikembangkan sebagai variasi HAZOP (Hazard and Operability Study) dari industri kimia.
Pertanyaan "What If?"
Penyebab
Konsekuensi
Kontrol yang Ada
Rekomendasi
Bagaimana jika sistem ERP tiba-tiba offline?
Kegagalan server/jaringan
Proses pesanan & pengiriman terhenti
Backup manual via spreadsheet
Backup server + prosedur offline tertulis
Bagaimana jika pemasok utama terlambat 2 minggu?
Bencana di lokasi pemasok
Keterlambatan produksi, penalti klien
Stok penyangga 1 minggu
Tambah pemasok alternatif; tingkatkan buffer
Bagaimana jika regulasi bea impor bahan baku naik 20%?
Perubahan kebijakan pemerintah
Biaya produksi meningkat, margin tertekan
Hedging nilai tukar
Diversifikasi sumber lokal; advokasi regulasi
SWIFT cocok digunakan pada awal proyek baru atau saat ada perubahan proses signifikan — format what-if mendorong tim berpikir proaktif tentang skenario yang belum pernah terjadi. ERP = Enterprise Resource Planning — sistem informasi terintegrasi untuk mengelola proses bisnis. Hedging = strategi keuangan untuk melindungi dari risiko fluktuasi harga.
RBS mengorganisasi semua risiko yang sudah diidentifikasi ke dalam struktur pohon hierarkis — dari kategori besar hingga risiko spesifik — memastikan tidak ada kategori yang terlewat. Analogi WBS (Work Breakdown Structure) dalam manajemen proyek, namun untuk risiko.
RBS sering dibuat setelah Fishbone/FMEA/SWIFT — ia adalah peta organisasi risiko, bukan alat penggali risiko baru. Berguna untuk pelaporan ke manajemen dan audit. Taksonomi risiko = klasifikasi risiko yang sistematis dan hierarkis.
Panduan Memilih Teknik Identifikasi Risiko
Lima teknik yang kita pelajari tidak saling menggantikan — mereka saling melengkapi. Pilih berdasarkan tujuan dan konteks.
Teknik
Tujuan Utama
Terbaik Digunakan Saat
Output
Fishbone
Identifikasi penyebab suatu masalah
Masalah sudah terjadi, cari akar masalah
Diagram penyebab 6M
FMEA
Identifikasi & prioritaskan mode kegagalan
Desain proses baru atau perbaikan proses
Tabel FMEA + RPN
Bow-Tie
Petakan hubungan sebab–kejadian–akibat + kontrol
Komunikasi risiko ke manajemen/stakeholder
Diagram Bow-Tie
SWIFT
Eksplorasi skenario "bagaimana jika"
Proyek baru, perubahan proses signifikan
Tabel SWIFT
RBS
Organisasi & klasifikasi risiko hierarkis
Setelah identifikasi selesai, untuk pelaporan
Struktur pohon risiko
Dalam proyek identifikasi risiko komprehensif: SWIFT untuk eksplorasi awal → Fishbone untuk pendalaman penyebab → FMEA untuk pemeringkatan → RBS untuk pelaporan akhir. Sumber: Hanafi, M.M. (2014); ISO 31000:2018.
Lima Kesalahan Umum dalam Identifikasi Risiko
Kesalahan 1
Bias
Bias konfirmasi — tim hanya mencari risiko yang sudah "diketahui" dan mengabaikan risiko baru yang tidak nyaman diakui. Kecenderungan manusia menerima informasi yang mengonfirmasi keyakinan yang sudah ada.
Kesalahan 2
Sempit
Cakupan terlalu sempit — hanya mengidentifikasi risiko operasional, sementara risiko strategis, reputasi, dan kepatuhan diabaikan.
Kesalahan 3
Statis
Identifikasi dilakukan sekali, tidak diperbarui — risiko berkembang; identifikasi harus berulang (setidaknya tahunan, atau saat ada perubahan material).
Kesalahan 4
Top-Down
Tidak melibatkan frontliner — manajemen senior mungkin tidak mengetahui risiko operasional sehari-hari yang terasa "biasa" bagi karyawan lapangan.
Kesalahan 5 — Berhenti di daftar: identifikasi tanpa dokumentasi terstruktur tidak menghasilkan tindak lanjut yang bisa dipantau. Identifikasi risiko yang baik = proses hidup yang berkelanjutan, bukan laporan tahunan yang disimpan di laci.
Cheat Sheet — Lima Teknik + Empat Prosedur Identifikasi Risiko
Empat Prosedur Dasar
Prosedur
Keunggulan
Kelemahan
Dokumentasi sumber
Berbasis fakta
Hanya risiko terdokumentasi
Checklist
Cepat, sistematis
Hanya risiko diketahui
Brainstorming
Tangkap risiko baru
Perlu fasilitator
Wawancara/Delphi
Mendalam, anonim
Butuh waktu & akses pakar
Lima Teknik Utama
Teknik
Kunci
Kapan Pakai
Fishbone
6M
Analisis penyebab
FMEA
RPN = S×O×D
Prioritas mode kegagalan
Bow-Tie
Sebab→[Kontrol]→Top Event→[Kontrol]→Akibat
Komunikasi risiko
SWIFT
Tabel What-If?
Proyek baru
RBS
Pohon 3–4 level
Organisasi & pelaporan
Urutan logis: Prosedur (kumpulkan info) → Teknik (gali lebih dalam) → RBS (organisasikan) → Risk Register (dokumentasikan). Sumber: Hanafi (2014); ISO 31000:2018; Rustam (2017); Stamatis (2003).
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — Fishbone
E-Commerce
Perusahaan e-commerce mengalami risiko peningkatan tiba-tiba tingkat retur dari 2% menjadi 8% dalam satu bulan. Buat diagram Fishbone: tuliskan setidaknya 2 penyebab spesifik di setiap kategori 6M. (Minimal 12 penyebab total.)
Latihan 2 — FMEA Mini
Last-Mile
Untuk proses last-mile delivery (pengiriman dari gudang lokal ke konsumen akhir — tahap paling rawan di rantai pasok e-commerce), identifikasi 3 mode kegagalan, beri nilai S, O, D masing-masing (skala 1–10), hitung RPN = S × O × D. Tentukan prioritas penanganan.
Kerjakan 8 menit secara individu, lalu 5 menit diskusi berpasangan. Gambar Fishbone di kertas kosong. Untuk FMEA, gunakan format tabel. Kita bahas bersama setelahnya. Perbedaan nilai S/O/D antar mahasiswa adalah pembelajaran tentang subjektivitas penilaian risiko — dan mengapa konsensus tim itu penting.
Apa yang Sudah Kita Capai & Yang Harus Anda Siapkan
Capaian Hari Ini (Sub-CPMK 4)
Proses & prosedur identifikasi risiko (5 langkah, 4 prosedur)
KRI — indikator peringatan dini risiko + konteks POJK 65/2016
Perhitungan Expected Loss = Probabilitas × Dampak Finansial
Bawa kalkulator — ada perhitungan numerik
Baca: Hanafi (2014) Bab Penilaian Risiko
Tugas opsional (tambahan nilai): pilih satu proses di perusahaan magang/kerja paruh waktu Anda. Buat FMEA mini (3 mode kegagalan). Kumpulkan di Pertemuan 5. Ini adalah portofolio profesional Anda.