stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Gambaran Umum Risiko dalam Perusahaan & Konsep ERM
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP

Manajemen Resiko Bisnis

Pertemuan 1 — Gambaran Umum Risiko dalam Perusahaan & Konsep ERM

Mengapa perusahaan perlu memahami dan mengelola risiko? Hari ini kita mulai dari definisi, taksonomi, hingga kerangka Enterprise Risk Management (ERM) yang dipakai perusahaan global.

RPS Minggu 1 • Sub-CPMK 1 • Durasi 2 × 50 Menit

Tujuan Pembelajaran Pertemuan 1

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mendeskripsikan gambaran umum risiko dalam perusahaan (Sub-CPMK 1). Secara rinci:

Capaian 1 — Definisi
C1
Membedakan risiko vs ketidakpastian dengan argumen logis dan contoh nyata Indonesia.
Capaian 2 — Unsur
C2
Mengidentifikasi tiga unsur risiko — peristiwa, probabilitas, dampak — dari skenario bisnis konkret.
Capaian 3 — Klasifikasi
C3
Mengklasifikasikan risiko berdasarkan sumber: internal/eksternal, murni/spekulatif, finansial/non-finansial.
Capaian 4 — ERM & CRO
C4
Menjelaskan kerangka ERM COSO dan peran CRO (Chief Risk Officer) dalam perusahaan.

Ketika Risiko Tidak Dikelola: PT Garuda Indonesia (2019)

Maskapai penerbangan terbesar Indonesia tersandung skandal akuntansi, mengungkap kegagalan manajemen risiko di berbagai lini.

Apa yang Terjadi
Garuda melaporkan laba 2018 — namun labanya semu. Pendapatan dari kontrak layanan WiFi penerbangan senilai ~USD 239 juta (jangka 15 tahun) diakui penuh di 2018, padahal jasa belum diberikan dan kas belum diterima. Dua komisaris menolak menandatangani laporan, namun proses tidak terhenti.
Akibat — Tiga Dimensi Risiko
  • Risiko reputasi: saham GIAA di BEI (Bursa Efek Indonesia) anjlok, kepercayaan investor hilang.
  • Risiko operasional: direksi dicopot, manajemen diganti sepenuhnya.
  • Risiko regulasi: OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menjatuhkan sanksi, BEI menghentikan perdagangan sementara.
Ini bukan hanya kasus kecurangan — ini adalah bukti bahwa tidak ada sistem ERM yang efektif di level direksi Garuda saat itu. Kita akan kembali ke kasus ini di Slide 20.
Blok 1 dari 4
Risiko dan Ketidakpastian
Membangun fondasi konseptual: definisi risiko, perbedaannya dari ketidakpastian, dan tiga unsur yang membentuk setiap risiko.
Definisi Unsur Pengukuran

Apa Itu Risiko? Definisi & Etimologi

"Risiko adalah kondisi di mana terdapat kemungkinan terjadinya deviasi dari hasil yang diharapkan, akibat suatu peristiwa yang dapat diidentifikasi." — Hanafi (2014)

Tiga elemen kunci yang membedakan risiko dari sekadar "hal yang buruk":

Elemen 1
P
Kemungkinan
Ada probabilitas yang bisa diperkirakan — tidak selalu 100% terjadi.
Elemen 2
Δ
Deviasi
Penyimpangan dari ekspektasi — bisa positif atau negatif, bukan selalu rugi.
Elemen 3
🔍
Identifikasi
Ada sumber risiko yang dapat dikenali dan dianalisis lebih lanjut.
Kata kunci: risiko mengandung ukuran probabilitas. Inilah yang membedakannya dari ketidakpastian murni.

Risiko vs Ketidakpastian — Garis Pembatas

Risiko (Risk)
Kondisi di mana probabilitas kejadian dapat diukur dari data historis, model, atau judgement ahli. Kita tahu kemungkinannya.

Contoh: Probabilitas gagal bayar obligasi korporasi BBB– di Indonesia berdasarkan data historis Pefindo (PT Pemeringkat Efek Indonesia — lembaga pemeringkat kredit resmi Indonesia, setara Moody's/S&P).
Ketidakpastian (Uncertainty)
Kondisi di mana probabilitas tidak diketahui dan tidak bisa diukur. Tidak ada basis historis yang memadai.

Contoh: Dampak pandemi virus yang belum pernah ada sebelumnya (COVID-19 di awal 2020 sebelum data tersedia); efek jangka panjang AI generatif terhadap pasar tenaga kerja.
AspekRisikoKetidakpastian
ProbabilitasDapat diukurTidak dapat diukur
ContohKebakaran gudang (ada statistik)Bencana teknologi baru
ResponsMitigasi & asuransiSkenario & adaptasi
Frank Knight (1921) adalah ekonom pertama yang memformulasikan pembedaan ini secara formal. Manajemen risiko terutama berfokus pada risiko yang bisa dikuantifikasi.

Tiga Unsur Pembentuk Setiap Risiko

Setiap risiko dapat diurai menjadi tiga unsur yang saling terkait. Mengelola risiko berarti mengelola satu atau ketiga unsur ini.

Unsur 1
E
Peristiwa (Event)
Kejadian yang memicu potensi penyimpangan. Bencana alam, kegagalan sistem, perubahan regulasi.

"Apa yang bisa terjadi?"
Unsur 2
P
Probabilitas
Seberapa besar kemungkinan peristiwa itu benar-benar terjadi. Diukur 0 (mustahil) hingga 1 (pasti).

"Seberapa mungkin?"
Unsur 3
D
Dampak (Impact)
Besarnya kerugian atau keuntungan jika peristiwa terjadi, diukur dalam nilai moneter atau skala lain.

"Seberapa besar konsekuensinya?"
Risiko = f(Peristiwa, Probabilitas, Dampak). Mengelola risiko berarti mengelola salah satu atau ketiga unsur ini secara bersamaan.

Dari Unsur ke Angka: Expected Loss

Menggabungkan probabilitas dan dampak menghasilkan satu angka penilaian risiko yang berguna: Expected Loss (EL).

EL = P × D  |  P = Probabilitas (0–1)  |  D = Dampak (Rp)

Skenario: PT Maju Bersama, perusahaan manufaktur Semarang (ilustrasi hipotetis)

LangkahPerhitunganNilai
Kebakaran gudang bahan baku — P=0,05 ; D=Rp 2.000 juta0,05 × Rp 2.000.000.000Rp 100 juta
Gangguan pasokan bahan baku — P=0,20 ; D=Rp 500 juta0,20 × Rp 500.000.000Rp 100 juta
Gagal bayar piutang dagang utama — P=0,10 ; D=Rp 800 juta0,10 × Rp 800.000.000Rp 80 juta
Dua risiko berbeda bisa memiliki EL yang sama (kebakaran & gangguan pasokan sama-sama Rp 100 juta), namun memerlukan respons yang berbeda. EL hanyalah titik awal, bukan akhir analisis.
Blok 2 dari 4
Klasifikasi Risiko
Tiga dimensi klasifikasi: sumber (internal vs eksternal), sifat (murni vs spekulatif), dan jenis (finansial vs non-finansial).
Sumber Sifat Jenis

Coba Sendiri: Geser Probabilitas & Dampak, Amati Expected Loss

Geser slider probabilitas dan dampak rupiah, lalu amati bagaimana Expected Loss berubah secara proporsional terhadap keduanya.

Klasifikasi 1: Risiko Internal vs Risiko Eksternal

Risiko Internal
Bersumber dari dalam perusahaan — proses, sistem, manusia, aset. Sebagian besar dapat dikendalikan manajemen.
  • Kegagalan mesin produksi
  • Penipuan atau kelalaian karyawan
  • Kesalahan prosedur akuntansi
  • Kebakaran di fasilitas perusahaan
Risiko Eksternal
Bersumber dari luar perusahaan — pasar, regulasi, alam, sosial-politik. Lebih sulit dikendalikan; hanya bisa diantisipasi.
  • Kenaikan suku bunga BI
  • Perubahan regulasi OJK
  • Bencana alam (gempa, banjir)
  • Fluktuasi kurs USD/IDR
Manajemen risiko lebih efektif untuk risiko internal. Untuk eksternal, fokusnya pada antisipasi dan adaptasi, bukan pengendalian penuh.

Klasifikasi 2: Risiko Murni vs Risiko Spekulatif

Risiko Murni (Pure Risk)
Hanya memiliki dua kemungkinan: rugi atau impas — tidak pernah menghasilkan keuntungan.
  • Kebakaran pabrik (terjadi = rugi; tidak = impas)
  • Kecelakaan kendaraan operasional
  • Bencana alam
  • Kematian eksekutif kunci
Risiko Spekulatif (Speculative Risk)
Memiliki tiga kemungkinan: rugi, impas, atau untung. Perusahaan sengaja mengambilnya demi peluang keuntungan.
  • Investasi saham (BBCA, TLKM, dll.)
  • Pembukaan cabang baru
  • Trading valas untuk mencari keuntungan
  • Pengembangan produk baru
Miskonsepsi: banyak orang mengira "manajemen risiko = menghindari semua risiko". Padahal risiko spekulatif adalah inti kewirausahaan — diambil sadar demi keuntungan. Yang dikelola adalah besarannya, bukan keberadaannya.

Klasifikasi 3: Risiko Finansial vs Non-Finansial

Risiko Finansial
Berdampak langsung pada nilai moneter perusahaan — arus kas, nilai aset, biaya pendanaan.
  • Risiko pasar (fluktuasi kurs/saham/komoditas)
  • Risiko kredit (gagal bayar debitur)
  • Risiko likuiditas (gagal bayar kewajiban jangka pendek)
Risiko Non-Finansial
Tidak langsung menyentuh angka keuangan, tetapi berdampak pada operasi, reputasi, kepatuhan.
  • Risiko operasional (kegagalan proses/sistem/manusia)
  • Risiko reputasi (citra publik)
  • Risiko regulasi/hukum
Contoh kontras: Fluktuasi USD/IDR meningkatkan biaya impor bagi importir yang belum hedge (lindung nilai — mengunci kurs di muka agar terlindung dari pergerakan nilai tukar) = Finansial (pasar).  |  Kebocoran data nasabah fintech = Non-finansial (operasional), namun berujung kehilangan pelanggan & denda OJK.
Banyak risiko non-finansial akhirnya berujung ke kerugian finansial — keduanya perlu dikelola bersama-sama.

Peta Risiko (Risk Map): Visualisasi Portofolio Risiko

Setelah mengklasifikasikan risiko, kita petakan berdasarkan dua dimensi: probabilitas (sumbu Y) dan dampak (sumbu X).

KENDALIKANRUTINPRIORITASUTAMAMONITORSAJASIAPKANKONTINJENSIDampak →Probabilitas →Fluktuasi Kurs(tdk di-hedge)Gempa(dampak tinggi)Gagal bayarpiutang kecil
Empat Kuadran & Implikasi Manajemen
  • Kanan-atas: Probabilitas & dampak tinggi → Prioritas Utama, tindakan segera
  • Kanan-bawah: Dampak tinggi, prob. rendah → Siapkan kontinjensi
  • Kiri-atas: Prob. tinggi, dampak rendah → Kendalikan dengan prosedur rutin
  • Kiri-bawah: Prob. & dampak rendah → Cukup dimonitor
Peta risiko adalah alat komunikasi, bukan alat perhitungan. Ia memberi gambaran cepat di mana energi manajemen harus difokuskan.

Aktivitas Kelas: Klasifikasikan 5 Skenario Risiko

Diskusi kelompok (5–7 menit). Gunakan tiga dimensi klasifikasi yang sudah dipelajari.

#SkenarioInternal / EksternalMurni / SpekulatifFinansial / Non-fin.
1Gempa bumi merusak gudang PT Astra Agro???
2Kurs USD/IDR naik Rp15.000 → Rp16.500 meningkatkan biaya impor bahan baku???
3Pegawai kasir bank BRI melakukan penggelapan Rp 50 juta???
4Telkomsel (TLKM) meluncurkan layanan 5G namun sepi peminat di tahap awal???
5OJK mewajibkan bank meningkatkan CAR (Capital Adequacy Ratio — rasio kecukupan modal) mulai kuartal berikutnya???
Boleh menjawab "Keduanya" bila skenario menyentuh dua kategori sekaligus — yang dinilai adalah argumennya, bukan pilihan biner semata. Kunci jawaban di Lampiran A.2.
Blok 3 dari 4
Manajemen Risiko & ERM COSO
Dari pemahaman risiko individual ke pengelolaan risiko terpadu di seluruh perusahaan — dan kerangka global yang menjadi standar.
Definisi Evolusi ERM

Manajemen Risiko: Definisi & Tujuan

Manajemen risiko adalah proses terstruktur untuk mengidentifikasi, menganalisis, merespons, dan memantau risiko guna memaksimalkan nilai perusahaan dalam batas toleransi risiko yang ditetapkan.
Tujuan Defensif
Melindungi aset dan kelangsungan perusahaan dari kerugian.
  • Meminimalkan kejutan negatif
  • Memastikan kepatuhan regulasi
  • Menjaga reputasi perusahaan
Tujuan Ofensif
Memungkinkan pengambilan risiko yang tepat demi pertumbuhan.
  • Mengoptimalkan imbal hasil per unit risiko
  • Mendukung keputusan strategis
  • Menciptakan keunggulan kompetitif
Manajemen risiko modern adalah bukan hanya tentang bertahan — ia adalah tentang mengambil risiko yang tepat pada level yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan.

Evolusi: Dari Ad Hoc ke ERM Terpadu

Era 1 — Sebelum 1990-an
Pendekatan Ad Hoc
Setiap departemen mengelola risikonya sendiri tanpa koordinasi. Tidak ada fungsi manajemen risiko terpusat. Fokus utama: asuransi dan kepatuhan dasar.
Era 2 — 1990-an
Pendekatan Silo
Mulai ada unit risiko, tetapi terpisah-pisah: risiko keuangan di Treasury, operasional di divisinya sendiri. Risiko "jatuh di celah" antar-departemen tanpa ada yang bertanggung jawab.
Era 3 — 2000-an–Kini
Enterprise Risk Management (ERM)
Manajemen risiko terintegrasi lintas seluruh perusahaan, selaras dengan strategi. Dipicu: skandal Enron (2001), regulasi Sarbanes-Oxley AS, dan krisis keuangan global 2008.
Di Indonesia, dorongan ke ERM dipercepat oleh POJK 18/2016 untuk bank dan praktik tata kelola perusahaan (GCG — Good Corporate Governance) di BUMN.

Kerangka ERM COSO 2017 — Gambaran Umum

COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission — konsorsium lima organisasi profesi penerbit standar kontrol internal dan ERM global) menerbitkan versi 2017 yang memperkenalkan integrasi ERM dengan strategi.

1. Tata Kelola & BudayaGovernance & Culture2. Strategi & TujuanStrategy & Objective-Setting3. KinerjaPerformance — inti operasional ERM4. Peninjauan & RevisiReview & Revision5. Informasi & KomunikasiInformation, Communication & Reporting
Kebaruan COSO 2017: ERM bukan lagi fungsi terpisah dari strategi — ia tertanam dalam proses perencanaan strategis perusahaan.
Kontrol Internal (definisi)
Sistem prosedur dan kebijakan yang dirancang untuk memastikan keandalan pelaporan, kepatuhan, dan efisiensi operasi — fondasi dari seluruh kerangka COSO.

Lima Komponen ERM COSO — Fungsi & Isi

KomponenPertanyaan IntiElemen Kunci
1. Tata Kelola & Budaya"Siapa bertanggung jawab apa? Apa nilai risiko kita?"Dewan komisaris, CRO, risk appetite, budaya risiko
2. Strategi & Tujuan"Risiko apa yang kita terima untuk capai strategi?"Risk appetite, skenario strategis, peluang
3. Kinerja ★"Risiko apa yang paling mempengaruhi tujuan kita?"Identifikasi, penilaian, prioritisasi, respons
4. Peninjauan & Revisi"Apakah ERM masih efektif setelah kondisi berubah?"Kinerja vs target, perubahan substansif
5. Informasi & Komunikasi"Bagaimana info risiko mengalir ke semua pihak?"Sistem data, laporan ke dewan, pengungkapan
Komponen 3 (Kinerja) adalah jantung operasional ERM — di sinilah risiko benar-benar diidentifikasi, dinilai, dan direspons sehari-hari. (★ = prioritas operasional)

Studi Kasus: Kegagalan ERM di PT Garuda Indonesia (2019)

Menerapkan lima komponen COSO untuk menganalisis kasus yang kita buka di awal pertemuan.

Komponen COSOKondisi di Garuda 2019Kegagalan
1. Tata Kelola & BudayaDua komisaris menolak tanda tangan laporan keuanganAda sinyal — tidak ditindaklanjuti direksi
2. Strategi & TujuanTekanan untuk tampil laba demi citra korporasi BUMNRisk appetite tidak jelas; laba jangka pendek > integritas
3. KinerjaPengakuan pendapatan kontrak WiFi 15 tahun (~USD 239 juta) diakui penuh di 2018Kontrol internal gagal — risiko akuntansi tidak terdeteksi
4. Peninjauan & RevisiAuditor eksternal menyetujui laporan (2018)Review tidak efektif mendeteksi manipulasi
5. Informasi & KomunikasiOJK & BEI baru mengetahui setelah whistleblowerInformasi risiko tidak mengalir ke regulator tepat waktu
Skandal Garuda bukan hanya kegagalan satu orang — ia adalah kegagalan sistemik di hampir semua komponen ERM.

Regulasi ERM di Indonesia: POJK No.18/POJK.03/2016

Penerapan ERM di Indonesia, khususnya sektor perbankan, diatur secara mandatory oleh OJK. POJK adalah Peraturan OJK — regulasi dengan kekuatan hukum mengikat bagi entitas di bawah pengawasannya.

Kewajiban Utama POJK 18/2016Penjelasan Singkat
Identifikasi 8 jenis risikoKredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi, strategis, kepatuhan
Komite Manajemen RisikoWajib ada di bank; melaporkan ke Dewan Komisaris
Divisi Manajemen RisikoUnit independen, terpisah dari unit bisnis (hindari konflik kepentingan)
Laporan Profil RisikoWajib dilaporkan ke OJK secara berkala
Sistem Informasi MRBank wajib punya sistem informasi risiko yang memadai
POJK 18/2016 adalah minimum standard untuk bank umum. Perusahaan non-bank dapat mengadopsi standar serupa secara sukarela. Prinsip-prinsipnya berlaku universal.
Blok 4 dari 4
Peran CRO & Penutup
Siapa yang memimpin fungsi manajemen risiko di level eksekutif — dan bagaimana ia bekerja dengan CFO, CEO, dan dewan komisaris.
CRO Struktur Penutup

Chief Risk Officer (CRO) — Posisi dalam Organisasi

CRO (Chief Risk Officer — direktur eksekutif bertanggung jawab atas strategi dan implementasi ERM) duduk sejajar dengan direktur fungsional lain, melapor langsung ke CEO dan Dewan Komisaris.

Dewan Komisaris
Komite Manajemen Risiko
CEO
CRO
Unit Risiko Kredit
Unit Risiko Pasar
Unit Risiko Operasional

GLOS C-SUITE — Empat Jabatan Eksekutif Puncak

CFOChief Financial Officer — Direktur Keuangan
COOChief Operating Officer — Direktur Operasional
CROChief Risk Officer — Direktur Manajemen Risiko
CCOChief Compliance Officer — Direktur Kepatuhan
Di perbankan Indonesia, POJK 18/2016 mewajibkan bank memiliki direktur yang membawahi fungsi manajemen risiko — jabatan yang setara CRO.

Chief Risk Officer (CRO) — Tiga Peran Utama

Peran 1
🌎
Arsitek ERM
Merancang kerangka, kebijakan, dan prosedur manajemen risiko seluruh perusahaan — dari metodologi pengukuran hingga template laporan.
Peran 2
📡
Risk Intelligence
Mengumpulkan dan menganalisis informasi risiko dari seluruh unit; menyintesisnya menjadi gambaran risiko menyeluruh bagi CEO dan dewan komisaris.
Peran 3
👨
Risk Culture Champion
Membangun budaya sadar risiko di seluruh jenjang organisasi — memastikan nilai-nilai terkait risiko meresap ke perilaku sehari-hari, bukan sekadar poster di dinding.
CRO harus independen dari unit bisnis — tidak boleh merangkap target penjualan yang bisa membiaskan penilaian risiko. Analoginya: seperti hakim yang tidak boleh sekaligus menjadi pengacara salah satu pihak.

Peta Besar: Semua yang Kita Pelajari Hari Ini

RISIKOPeristiwa · P · Dampak · ELDefinisi & UnsurRisiko ≠ KetidakpastianEL = P × DKlasifikasi RisikoInternal/Eksternal · Murni/Spekulatif · Fin./Non-fin.Peta Risiko (Risk Map)Manajemen RisikoEvolusi: Ad Hoc → ERMCOSO 2017 (5 Komponen)POJK 18/2016CRO + Divisi MRBudaya Risiko→ Pertemuan 2Proses Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah tentang mengambil risiko yang tepat, pada level yang tepat, untuk tujuan yang tepat.

Refleksi & Pra-Kerja untuk Pertemuan 2

Refleksi Diri (individu, 3 menit)
Pikirkan satu perusahaan yang Anda kenal (PT tempat keluarga bekerja, atau emiten BEI yang Anda ikuti beritanya). Identifikasikan:
  • Satu risiko internal yang mungkin mereka hadapi
  • Satu risiko eksternal
  • Klasifikasikan keduanya (murni/spekulatif, finansial/non-finansial)
Siapkan untuk dibagikan di awal Pertemuan 2.
Pra-Kerja Membaca
Baca Hanafi (2014), Bab 2 — Proses Manajemen Risiko (hlm. 45–65). Fokus pada:
  • Tahapan identifikasi risiko
  • Teknik-teknik identifikasi: brainstorming, checklist, skenario
Siapkan satu pertanyaan untuk didiskusikan di kelas.
Pertemuan 2: Proses Manajemen Risiko — identifikasi, analisis, respons, pemantauan. Teknik Bow-Tie (penyebab → peristiwa → konsekuensi) dan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) akan kita praktikkan.

Pertemuan 2 — Preview & Referensi

Pertemuan 2 — Proses MR
Proses manajemen risiko tahap demi tahap: identifikasi, analisis (kualitatif & kuantitatif), respons (transfer, mitigasi, retensi, penghindaran), dan pemantauan. Teknik: brainstorming, Bow-Tie, FMEA (Failure Mode and Effect Analysis — analisis sistematis potensi kegagalan dan efeknya).
Referensi Wajib P1
  • Hanafi, M.M. (2014). Manajemen Risiko, Ed. 2. UPP STIM YKPN, Bab 1–2.
  • Rustam, B.R. (2017). Manajemen Risiko Perbankan. Salemba Empat, Bab 1–3.
  • COSO (2017). ERM — Integrating with Strategy and Performance.
  • OJK POJK No.18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.
✓ Pertemuan 1 Selesai • Sub-CPMK 1

Hitung dari Nol: Verifikasi Expected Loss

Verifikasi tiga kalkulasi EL dari Lampiran A.1 — PT Maju Bersama (ilustrasi hipotetis, nilai P dan D dipilih secara realistis untuk manufaktur skala menengah).

LangkahPerhitunganNilai
Skenario 1: Kebakaran gudang
P = 0,05  |  D = Rp 2.000.000.000
EL = 0,05 × 2.000.000.000Rp 100.000.000
= Rp 100 juta ✓
Skenario 2: Gangguan pasokan
P = 0,20  |  D = Rp 500.000.000
EL = 0,20 × 500.000.000Rp 100.000.000
= Rp 100 juta ✓
Skenario 3: Gagal bayar piutang
P = 0,10  |  D = Rp 800.000.000
EL = 0,10 × 800.000.000Rp 80.000.000
= Rp 80 juta ✓
Insight Kunci
Skenario 1 dan 2 memiliki EL yang sama (Rp 100 juta) meskipun P dan D berbeda. Ini membuktikan mengapa P dan D harus selalu dianalisis secara terpisah, bukan hanya melihat produknya.
Implikasi Respons
Kebakaran (P rendah, D besar): → Asuransi aset. Gangguan pasokan (P tinggi, D sedang): → Diversifikasi supplier. Respons berbeda meski EL sama.