‹ Daftar slidePertemuan 1: Gambaran Umum Risiko dalam Perusahaan & Konsep ERM
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Resiko Bisnis
Pertemuan 1 — Gambaran Umum Risiko dalam Perusahaan & Konsep ERM
Mengapa perusahaan perlu memahami dan mengelola risiko? Hari ini kita mulai dari definisi, taksonomi, hingga kerangka Enterprise Risk Management (ERM) yang dipakai perusahaan global.
RPS Minggu 1 • Sub-CPMK 1 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pembelajaran Pertemuan 1
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mendeskripsikan gambaran umum risiko dalam perusahaan (Sub-CPMK 1). Secara rinci:
Capaian 1 — Definisi
C1
Membedakan risiko vs ketidakpastian dengan argumen logis dan contoh nyata Indonesia.
Capaian 2 — Unsur
C2
Mengidentifikasi tiga unsur risiko — peristiwa, probabilitas, dampak — dari skenario bisnis konkret.
Capaian 3 — Klasifikasi
C3
Mengklasifikasikan risiko berdasarkan sumber: internal/eksternal, murni/spekulatif, finansial/non-finansial.
Capaian 4 — ERM & CRO
C4
Menjelaskan kerangka ERM COSO dan peran CRO (Chief Risk Officer) dalam perusahaan.
Ketika Risiko Tidak Dikelola: PT Garuda Indonesia (2019)
Maskapai penerbangan terbesar Indonesia tersandung skandal akuntansi, mengungkap kegagalan manajemen risiko di berbagai lini.
Apa yang Terjadi
Garuda melaporkan laba 2018 — namun labanya semu. Pendapatan dari kontrak layanan WiFi penerbangan senilai ~USD 239 juta (jangka 15 tahun) diakui penuh di 2018, padahal jasa belum diberikan dan kas belum diterima. Dua komisaris menolak menandatangani laporan, namun proses tidak terhenti.
Akibat — Tiga Dimensi Risiko
Risiko reputasi: saham GIAA di BEI (Bursa Efek Indonesia) anjlok, kepercayaan investor hilang.
Risiko regulasi: OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menjatuhkan sanksi, BEI menghentikan perdagangan sementara.
Ini bukan hanya kasus kecurangan — ini adalah bukti bahwa tidak ada sistem ERM yang efektif di level direksi Garuda saat itu. Kita akan kembali ke kasus ini di Slide 20.
Blok 1 dari 4
Risiko dan Ketidakpastian
Membangun fondasi konseptual: definisi risiko, perbedaannya dari ketidakpastian, dan tiga unsur yang membentuk setiap risiko.
DefinisiUnsurPengukuran
Apa Itu Risiko? Definisi & Etimologi
"Risiko adalah kondisi di mana terdapat kemungkinan terjadinya deviasi dari hasil yang diharapkan, akibat suatu peristiwa yang dapat diidentifikasi." — Hanafi (2014)
Tiga elemen kunci yang membedakan risiko dari sekadar "hal yang buruk":
Elemen 1
P
Kemungkinan
Ada probabilitas yang bisa diperkirakan — tidak selalu 100% terjadi.
Elemen 2
Δ
Deviasi
Penyimpangan dari ekspektasi — bisa positif atau negatif, bukan selalu rugi.
Elemen 3
🔍
Identifikasi
Ada sumber risiko yang dapat dikenali dan dianalisis lebih lanjut.
Kata kunci: risiko mengandung ukuran probabilitas. Inilah yang membedakannya dari ketidakpastian murni.
Risiko vs Ketidakpastian — Garis Pembatas
Risiko (Risk)
Kondisi di mana probabilitas kejadian dapat diukur dari data historis, model, atau judgement ahli. Kita tahu kemungkinannya.
Contoh: Probabilitas gagal bayar obligasi korporasi BBB– di Indonesia berdasarkan data historis Pefindo (PT Pemeringkat Efek Indonesia — lembaga pemeringkat kredit resmi Indonesia, setara Moody's/S&P).
Ketidakpastian (Uncertainty)
Kondisi di mana probabilitas tidak diketahui dan tidak bisa diukur. Tidak ada basis historis yang memadai.
Contoh: Dampak pandemi virus yang belum pernah ada sebelumnya (COVID-19 di awal 2020 sebelum data tersedia); efek jangka panjang AI generatif terhadap pasar tenaga kerja.
Aspek
Risiko
Ketidakpastian
Probabilitas
Dapat diukur
Tidak dapat diukur
Contoh
Kebakaran gudang (ada statistik)
Bencana teknologi baru
Respons
Mitigasi & asuransi
Skenario & adaptasi
Frank Knight (1921) adalah ekonom pertama yang memformulasikan pembedaan ini secara formal. Manajemen risiko terutama berfokus pada risiko yang bisa dikuantifikasi.
Tiga Unsur Pembentuk Setiap Risiko
Setiap risiko dapat diurai menjadi tiga unsur yang saling terkait. Mengelola risiko berarti mengelola satu atau ketiga unsur ini.
Unsur 1
E
Peristiwa (Event)
Kejadian yang memicu potensi penyimpangan. Bencana alam, kegagalan sistem, perubahan regulasi.
"Apa yang bisa terjadi?"
Unsur 2
P
Probabilitas
Seberapa besar kemungkinan peristiwa itu benar-benar terjadi. Diukur 0 (mustahil) hingga 1 (pasti).
"Seberapa mungkin?"
Unsur 3
D
Dampak (Impact)
Besarnya kerugian atau keuntungan jika peristiwa terjadi, diukur dalam nilai moneter atau skala lain.
"Seberapa besar konsekuensinya?"
Risiko = f(Peristiwa, Probabilitas, Dampak). Mengelola risiko berarti mengelola salah satu atau ketiga unsur ini secara bersamaan.
Dari Unsur ke Angka: Expected Loss
Menggabungkan probabilitas dan dampak menghasilkan satu angka penilaian risiko yang berguna: Expected Loss (EL).
EL = P × D | P = Probabilitas (0–1) | D = Dampak (Rp)
Skenario: PT Maju Bersama, perusahaan manufaktur Semarang (ilustrasi hipotetis)
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kebakaran gudang bahan baku — P=0,05 ; D=Rp 2.000 juta
0,05 × Rp 2.000.000.000
Rp 100 juta
Gangguan pasokan bahan baku — P=0,20 ; D=Rp 500 juta
0,20 × Rp 500.000.000
Rp 100 juta
Gagal bayar piutang dagang utama — P=0,10 ; D=Rp 800 juta
0,10 × Rp 800.000.000
Rp 80 juta
Dua risiko berbeda bisa memiliki EL yang sama (kebakaran & gangguan pasokan sama-sama Rp 100 juta), namun memerlukan respons yang berbeda. EL hanyalah titik awal, bukan akhir analisis.
Blok 2 dari 4
Klasifikasi Risiko
Tiga dimensi klasifikasi: sumber (internal vs eksternal), sifat (murni vs spekulatif), dan jenis (finansial vs non-finansial).
SumberSifatJenis
Coba Sendiri: Geser Probabilitas & Dampak, Amati Expected Loss
Geser slider probabilitas dan dampak rupiah, lalu amati bagaimana Expected Loss berubah secara proporsional terhadap keduanya.
Klasifikasi 1: Risiko Internal vs Risiko Eksternal
Risiko Internal
Bersumber dari dalam perusahaan — proses, sistem, manusia, aset. Sebagian besar dapat dikendalikan manajemen.
Kegagalan mesin produksi
Penipuan atau kelalaian karyawan
Kesalahan prosedur akuntansi
Kebakaran di fasilitas perusahaan
Risiko Eksternal
Bersumber dari luar perusahaan — pasar, regulasi, alam, sosial-politik. Lebih sulit dikendalikan; hanya bisa diantisipasi.
Kenaikan suku bunga BI
Perubahan regulasi OJK
Bencana alam (gempa, banjir)
Fluktuasi kurs USD/IDR
Manajemen risiko lebih efektif untuk risiko internal. Untuk eksternal, fokusnya pada antisipasi dan adaptasi, bukan pengendalian penuh.
Klasifikasi 2: Risiko Murni vs Risiko Spekulatif
Risiko Murni (Pure Risk)
Hanya memiliki dua kemungkinan: rugi atau impas — tidak pernah menghasilkan keuntungan.
Kebakaran pabrik (terjadi = rugi; tidak = impas)
Kecelakaan kendaraan operasional
Bencana alam
Kematian eksekutif kunci
Risiko Spekulatif (Speculative Risk)
Memiliki tiga kemungkinan: rugi, impas, atau untung. Perusahaan sengaja mengambilnya demi peluang keuntungan.
Investasi saham (BBCA, TLKM, dll.)
Pembukaan cabang baru
Trading valas untuk mencari keuntungan
Pengembangan produk baru
Miskonsepsi: banyak orang mengira "manajemen risiko = menghindari semua risiko". Padahal risiko spekulatif adalah inti kewirausahaan — diambil sadar demi keuntungan. Yang dikelola adalah besarannya, bukan keberadaannya.
Klasifikasi 3: Risiko Finansial vs Non-Finansial
Risiko Finansial
Berdampak langsung pada nilai moneter perusahaan — arus kas, nilai aset, biaya pendanaan.
Contoh kontras: Fluktuasi USD/IDR meningkatkan biaya impor bagi importir yang belum hedge (lindung nilai — mengunci kurs di muka agar terlindung dari pergerakan nilai tukar) = Finansial (pasar). | Kebocoran data nasabah fintech = Non-finansial (operasional), namun berujung kehilangan pelanggan & denda OJK.
Banyak risiko non-finansial akhirnya berujung ke kerugian finansial — keduanya perlu dikelola bersama-sama.
Setelah mengklasifikasikan risiko, kita petakan berdasarkan dua dimensi: probabilitas (sumbu Y) dan dampak (sumbu X).
Empat Kuadran & Implikasi Manajemen
Kanan-atas: Probabilitas & dampak tinggi → Prioritas Utama, tindakan segera
Kanan-bawah: Dampak tinggi, prob. rendah → Siapkan kontinjensi
Kiri-atas: Prob. tinggi, dampak rendah → Kendalikan dengan prosedur rutin
Kiri-bawah: Prob. & dampak rendah → Cukup dimonitor
Peta risiko adalah alat komunikasi, bukan alat perhitungan. Ia memberi gambaran cepat di mana energi manajemen harus difokuskan.
Aktivitas Kelas: Klasifikasikan 5 Skenario Risiko
Diskusi kelompok (5–7 menit). Gunakan tiga dimensi klasifikasi yang sudah dipelajari.
#
Skenario
Internal / Eksternal
Murni / Spekulatif
Finansial / Non-fin.
1
Gempa bumi merusak gudang PT Astra Agro
?
?
?
2
Kurs USD/IDR naik Rp15.000 → Rp16.500 meningkatkan biaya impor bahan baku
?
?
?
3
Pegawai kasir bank BRI melakukan penggelapan Rp 50 juta
?
?
?
4
Telkomsel (TLKM) meluncurkan layanan 5G namun sepi peminat di tahap awal
?
?
?
5
OJK mewajibkan bank meningkatkan CAR (Capital Adequacy Ratio — rasio kecukupan modal) mulai kuartal berikutnya
?
?
?
Boleh menjawab "Keduanya" bila skenario menyentuh dua kategori sekaligus — yang dinilai adalah argumennya, bukan pilihan biner semata. Kunci jawaban di Lampiran A.2.
Blok 3 dari 4
Manajemen Risiko & ERM COSO
Dari pemahaman risiko individual ke pengelolaan risiko terpadu di seluruh perusahaan — dan kerangka global yang menjadi standar.
DefinisiEvolusiERM
Manajemen Risiko: Definisi & Tujuan
Manajemen risiko adalah proses terstruktur untuk mengidentifikasi, menganalisis, merespons, dan memantau risiko guna memaksimalkan nilai perusahaan dalam batas toleransi risiko yang ditetapkan.
Tujuan Defensif
Melindungi aset dan kelangsungan perusahaan dari kerugian.
Meminimalkan kejutan negatif
Memastikan kepatuhan regulasi
Menjaga reputasi perusahaan
Tujuan Ofensif
Memungkinkan pengambilan risiko yang tepat demi pertumbuhan.
Mengoptimalkan imbal hasil per unit risiko
Mendukung keputusan strategis
Menciptakan keunggulan kompetitif
Manajemen risiko modern adalah bukan hanya tentang bertahan — ia adalah tentang mengambil risiko yang tepat pada level yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan.
Evolusi: Dari Ad Hoc ke ERM Terpadu
Era 1 — Sebelum 1990-an
Pendekatan Ad Hoc
Setiap departemen mengelola risikonya sendiri tanpa koordinasi. Tidak ada fungsi manajemen risiko terpusat. Fokus utama: asuransi dan kepatuhan dasar.
Era 2 — 1990-an
Pendekatan Silo
Mulai ada unit risiko, tetapi terpisah-pisah: risiko keuangan di Treasury, operasional di divisinya sendiri. Risiko "jatuh di celah" antar-departemen tanpa ada yang bertanggung jawab.
Era 3 — 2000-an–Kini
Enterprise Risk Management (ERM)
Manajemen risiko terintegrasi lintas seluruh perusahaan, selaras dengan strategi. Dipicu: skandal Enron (2001), regulasi Sarbanes-Oxley AS, dan krisis keuangan global 2008.
Di Indonesia, dorongan ke ERM dipercepat oleh POJK 18/2016 untuk bank dan praktik tata kelola perusahaan (GCG — Good Corporate Governance) di BUMN.
Kerangka ERM COSO 2017 — Gambaran Umum
COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission — konsorsium lima organisasi profesi penerbit standar kontrol internal dan ERM global) menerbitkan versi 2017 yang memperkenalkan integrasi ERM dengan strategi.
Kebaruan COSO 2017: ERM bukan lagi fungsi terpisah dari strategi — ia tertanam dalam proses perencanaan strategis perusahaan.
Kontrol Internal (definisi)
Sistem prosedur dan kebijakan yang dirancang untuk memastikan keandalan pelaporan, kepatuhan, dan efisiensi operasi — fondasi dari seluruh kerangka COSO.
Lima Komponen ERM COSO — Fungsi & Isi
Komponen
Pertanyaan Inti
Elemen Kunci
1. Tata Kelola & Budaya
"Siapa bertanggung jawab apa? Apa nilai risiko kita?"
Dewan komisaris, CRO, risk appetite, budaya risiko
2. Strategi & Tujuan
"Risiko apa yang kita terima untuk capai strategi?"
Risk appetite, skenario strategis, peluang
3. Kinerja ★
"Risiko apa yang paling mempengaruhi tujuan kita?"
Identifikasi, penilaian, prioritisasi, respons
4. Peninjauan & Revisi
"Apakah ERM masih efektif setelah kondisi berubah?"
Kinerja vs target, perubahan substansif
5. Informasi & Komunikasi
"Bagaimana info risiko mengalir ke semua pihak?"
Sistem data, laporan ke dewan, pengungkapan
Komponen 3 (Kinerja) adalah jantung operasional ERM — di sinilah risiko benar-benar diidentifikasi, dinilai, dan direspons sehari-hari. (★ = prioritas operasional)
Studi Kasus: Kegagalan ERM di PT Garuda Indonesia (2019)
Menerapkan lima komponen COSO untuk menganalisis kasus yang kita buka di awal pertemuan.
Komponen COSO
Kondisi di Garuda 2019
Kegagalan
1. Tata Kelola & Budaya
Dua komisaris menolak tanda tangan laporan keuangan
Ada sinyal — tidak ditindaklanjuti direksi
2. Strategi & Tujuan
Tekanan untuk tampil laba demi citra korporasi BUMN
Risk appetite tidak jelas; laba jangka pendek > integritas
3. Kinerja
Pengakuan pendapatan kontrak WiFi 15 tahun (~USD 239 juta) diakui penuh di 2018
Kontrol internal gagal — risiko akuntansi tidak terdeteksi
4. Peninjauan & Revisi
Auditor eksternal menyetujui laporan (2018)
Review tidak efektif mendeteksi manipulasi
5. Informasi & Komunikasi
OJK & BEI baru mengetahui setelah whistleblower
Informasi risiko tidak mengalir ke regulator tepat waktu
Skandal Garuda bukan hanya kegagalan satu orang — ia adalah kegagalan sistemik di hampir semua komponen ERM.
Regulasi ERM di Indonesia: POJK No.18/POJK.03/2016
Penerapan ERM di Indonesia, khususnya sektor perbankan, diatur secara mandatory oleh OJK. POJK adalah Peraturan OJK — regulasi dengan kekuatan hukum mengikat bagi entitas di bawah pengawasannya.
Unit independen, terpisah dari unit bisnis (hindari konflik kepentingan)
Laporan Profil Risiko
Wajib dilaporkan ke OJK secara berkala
Sistem Informasi MR
Bank wajib punya sistem informasi risiko yang memadai
POJK 18/2016 adalah minimum standard untuk bank umum. Perusahaan non-bank dapat mengadopsi standar serupa secara sukarela. Prinsip-prinsipnya berlaku universal.
Blok 4 dari 4
Peran CRO & Penutup
Siapa yang memimpin fungsi manajemen risiko di level eksekutif — dan bagaimana ia bekerja dengan CFO, CEO, dan dewan komisaris.
CROStrukturPenutup
Chief Risk Officer (CRO) — Posisi dalam Organisasi
CRO (Chief Risk Officer — direktur eksekutif bertanggung jawab atas strategi dan implementasi ERM) duduk sejajar dengan direktur fungsional lain, melapor langsung ke CEO dan Dewan Komisaris.
Dewan Komisaris
→
Komite Manajemen Risiko
CEO
CRO
Unit Risiko Kredit
Unit Risiko Pasar
Unit Risiko Operasional
GLOS C-SUITE — Empat Jabatan Eksekutif Puncak
CFO
Chief Financial Officer — Direktur Keuangan
COO
Chief Operating Officer — Direktur Operasional
CRO
Chief Risk Officer — Direktur Manajemen Risiko
CCO
Chief Compliance Officer — Direktur Kepatuhan
Di perbankan Indonesia, POJK 18/2016 mewajibkan bank memiliki direktur yang membawahi fungsi manajemen risiko — jabatan yang setara CRO.
Chief Risk Officer (CRO) — Tiga Peran Utama
Peran 1
🌎
Arsitek ERM
Merancang kerangka, kebijakan, dan prosedur manajemen risiko seluruh perusahaan — dari metodologi pengukuran hingga template laporan.
Peran 2
📡
Risk Intelligence
Mengumpulkan dan menganalisis informasi risiko dari seluruh unit; menyintesisnya menjadi gambaran risiko menyeluruh bagi CEO dan dewan komisaris.
Peran 3
👨
Risk Culture Champion
Membangun budaya sadar risiko di seluruh jenjang organisasi — memastikan nilai-nilai terkait risiko meresap ke perilaku sehari-hari, bukan sekadar poster di dinding.
CRO harus independen dari unit bisnis — tidak boleh merangkap target penjualan yang bisa membiaskan penilaian risiko. Analoginya: seperti hakim yang tidak boleh sekaligus menjadi pengacara salah satu pihak.
Peta Besar: Semua yang Kita Pelajari Hari Ini
Manajemen risiko adalah tentang mengambil risiko yang tepat, pada level yang tepat, untuk tujuan yang tepat.
Refleksi & Pra-Kerja untuk Pertemuan 2
Refleksi Diri (individu, 3 menit)
Pikirkan satu perusahaan yang Anda kenal (PT tempat keluarga bekerja, atau emiten BEI yang Anda ikuti beritanya). Identifikasikan:
Siapkan satu pertanyaan untuk didiskusikan di kelas.
Pertemuan 2: Proses Manajemen Risiko — identifikasi, analisis, respons, pemantauan. Teknik Bow-Tie (penyebab → peristiwa → konsekuensi) dan FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) akan kita praktikkan.
Pertemuan 2 — Preview & Referensi
Pertemuan 2 — Proses MR
Proses manajemen risiko tahap demi tahap: identifikasi, analisis (kualitatif & kuantitatif), respons (transfer, mitigasi, retensi, penghindaran), dan pemantauan. Teknik: brainstorming, Bow-Tie, FMEA (Failure Mode and Effect Analysis — analisis sistematis potensi kegagalan dan efeknya).
Referensi Wajib P1
Hanafi, M.M. (2014). Manajemen Risiko, Ed. 2. UPP STIM YKPN, Bab 1–2.
Rustam, B.R. (2017). Manajemen Risiko Perbankan. Salemba Empat, Bab 1–3.
COSO (2017). ERM — Integrating with Strategy and Performance.
OJK POJK No.18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum.
✓ Pertemuan 1 Selesai • Sub-CPMK 1
Hitung dari Nol: Verifikasi Expected Loss
Verifikasi tiga kalkulasi EL dari Lampiran A.1 — PT Maju Bersama (ilustrasi hipotetis, nilai P dan D dipilih secara realistis untuk manufaktur skala menengah).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Skenario 1: Kebakaran gudang P = 0,05 | D = Rp 2.000.000.000
EL = 0,05 × 2.000.000.000
Rp 100.000.000 = Rp 100 juta ✓
Skenario 2: Gangguan pasokan P = 0,20 | D = Rp 500.000.000
EL = 0,20 × 500.000.000
Rp 100.000.000 = Rp 100 juta ✓
Skenario 3: Gagal bayar piutang P = 0,10 | D = Rp 800.000.000
EL = 0,10 × 800.000.000
Rp 80.000.000 = Rp 80 juta ✓
Insight Kunci
Skenario 1 dan 2 memiliki EL yang sama (Rp 100 juta) meskipun P dan D berbeda. Ini membuktikan mengapa P dan D harus selalu dianalisis secara terpisah, bukan hanya melihat produknya.
Implikasi Respons
Kebakaran (P rendah, D besar): → Asuransi aset. Gangguan pasokan (P tinggi, D sedang): → Diversifikasi supplier. Respons berbeda meski EL sama.