Setelah ramalan permintaan dan desain jaringan, pertanyaan berikutnya: berapa banyak persediaan yang harus disimpan, di mana, dan kapan dipesan ulang — di setiap eselon rantai pasok.
RPS MINGGU 5 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Mengapa Persediaan Perlu Dikelola Secara Strategis
Peran persediaan dalam rantai pasok, jenis-jenisnya, dan trade-off biaya di baliknya.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan mengevaluasi kebijakan persediaan serta menjelaskan pentingnya koordinasi lintas eselon. Secara rinci:
CAPAIAN 1
JENIS
Mengenali empat jenis persediaan — siklus, pengaman, musiman, pipeline.
CAPAIAN 2
HITUNG EOQ
Menghitung kuantitas pesanan ekonomis (Economic Order Quantity).
CAPAIAN 3
STOK PENGAMAN
Menghitung safety stock & reorder point berdasarkan tingkat layanan.
CAPAIAN 4
KOORDINASI
Menjelaskan masalah optimasi lokal & solusi koordinasi persediaan lintas eselon (VMI).
Dilema Klasik: Terlalu Sedikit vs Terlalu Banyak Persediaan
Persediaan menyerap modal kerja perusahaan dalam jumlah besar — keputusan "berapa banyak" selalu berhadapan dengan dua risiko berlawanan.
PERSEDIAAN TERLALU SEDIKIT
STOK HABIS (STOCKOUT)
Rak Alfamart kosong saat pelanggan datang — penjualan hilang, pelanggan beralih ke gerai lain.
PERSEDIAAN TERLALU BANYAK
MODAL TERTAHAN
Gudang distributor penuh — biaya sewa, asuransi, risiko usang/kedaluwarsa naik.
Tujuan manajemen persediaan bukan "nol stok" atau "stok maksimal", melainkan menemukan titik keseimbangan antara biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan risiko kehabisan stok — secara terkoordinasi di setiap eselon.
Empat Jenis Persediaan Berdasarkan Fungsi
Setiap jenis persediaan punya alasan keberadaan & cara pengelolaan yang berbeda — mengenalinya adalah langkah pertama sebelum menghitung kebijakan persediaan.
CYCLE STOCK
PERSEDIAAN SIKLUS
Stok normal antara satu pemesanan & pemesanan berikutnya — ditentukan oleh EOQ.
SAFETY STOCK
PERSEDIAAN PENGAMAN
Cadangan ekstra untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan & lead time.
SEASONAL STOCK
PERSEDIAAN MUSIMAN
Ditimbun sebelum lonjakan permintaan terjadwal, mis. stok parsel jelang Lebaran.
PIPELINE STOCK
PERSEDIAAN DALAM PERJALANAN
Barang yang sudah dipesan/diproduksi tapi masih dalam transit antar-eselon.
Kuantitas Pesanan Ekonomis (Economic Order Quantity)
EOQ mencari titik jumlah pesanan optimal yang meminimumkan total biaya pemesanan & biaya penyimpanan tahunan.
EOQ = √(2DS ÷ H)
D
PERMINTAAN/TAHUN
Total unit yang dibutuhkan dalam satu tahun.
S
BIAYA PESAN
Biaya tetap setiap kali melakukan satu pemesanan.
H
BIAYA SIMPAN
Biaya menyimpan satu unit selama satu tahun.
Semakin sering memesan (jumlah kecil per pesanan) → biaya pesan naik, biaya simpan turun. Semakin jarang memesan (jumlah besar per pesanan) → sebaliknya. EOQ adalah titik di mana kedua biaya ini seimbang.
Hitung dari Nol: EOQ Komponen di Gudang Distributor
Distributor sparepart motor: permintaan tahunan (D) = 2.000 unit, biaya pesan (S) = Rp20.000/pesanan, biaya simpan (H) = Rp2.000/unit/tahun.
LANGKAH PERHITUNGAN
Langkah
Perhitungan
Nilai
2 × D × S
2 × 2.000 × Rp20.000
Rp80.000.000
Bagi dengan H
80.000.000 ÷ 2.000
40.000
EOQ = √40.000
√40.000
200 unit
Frekuensi pesan/tahun
2.000 ÷ 200
10 kali/tahun
KUANTITAS PESANAN OPTIMAL
200 unit
Distributor sebaiknya memesan 200 unit setiap kali, sekitar 10 kali dalam setahun
Coba Sendiri: Trade-Off Biaya Pesan vs Biaya Simpan pada EOQ
Ubah biaya pesan (S) & biaya simpan (H), amati bagaimana titik EOQ optimal bergeser pada grafik total biaya.
Persediaan Pengaman (Safety Stock) & Tingkat Layanan
Safety stock adalah cadangan ekstra untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan & lead time — besarnya ditentukan oleh target tingkat layanan (service level).
SS = Z × σd × √L
Z
FAKTOR LAYANAN
Ditentukan target tingkat layanan, mis. 95% → Z ≈ 1,65.
σd
VARIASI PERMINTAAN
Standar deviasi permintaan harian — makin fluktuatif, makin besar.
L
LEAD TIME
Waktu tunggu (hari) dari pesan sampai barang tiba.
Target tingkat layanan makin tinggi (mis. 99% dibanding 90%) → Z makin besar → safety stock makin besar. Tingkat layanan 100% tidak realistis secara biaya.
Hitung dari Nol: Safety Stock untuk Tingkat Layanan 95%
Standar deviasi permintaan harian (σd) = 10 unit, lead time (L) = 4 hari, target tingkat layanan 95% (Z = 1,65).
LANGKAH PERHITUNGAN
Langkah
Perhitungan
Nilai
√L (akar lead time)
√4
2
σd × √L
10 × 2
20 unit
SS = Z × 20
1,65 × 20
33 unit
SAFETY STOCK
33 unit
Cadangan ekstra 33 unit di luar cycle stock agar 95% dari waktu tidak kehabisan stok selama lead time
Bagian 2 dari 3
Koordinasi Persediaan Lintas Eselon
Mengapa mengoptimalkan persediaan sendiri-sendiri di tiap eselon justru merugikan rantai pasok secara keseluruhan.
Titik Pemesanan Ulang (Reorder Point)
ROP menjawab pertanyaan: pada level stok berapa perusahaan harus memesan lagi, agar barang baru tiba tepat sebelum stok habis?
ROP = (d̄ × L) + SS
d̄ × L
STOK SELAMA LEAD TIME
Rata-rata permintaan harian dikali lama waktu tunggu pengiriman.
+ SS
DITAMBAH CADANGAN
Safety stock ditambahkan sebagai bantalan ketidakpastian.
ROP dipantau lewat kebijakan continuous review (pesan begitu stok menyentuh ROP, kapan saja) atau periodic review (cek stok pada interval tetap, mis. tiap Senin).
Hitung dari Nol: Reorder Point untuk Distributor yang Sama
Rata-rata permintaan harian (d̄) = 50 unit/hari, lead time (L) = 4 hari, safety stock (SS) = 33 unit (dari slide sebelumnya).
LANGKAH PERHITUNGAN
Langkah
Perhitungan
Nilai
Stok selama lead time
50 × 4
200 unit
Tambahkan safety stock
200 + 33
233 unit
ROP
—
233 unit
TITIK PEMESANAN ULANG
233 unit
Begitu stok gudang tersisa 233 unit, distributor harus segera memesan 200 unit (EOQ) berikutnya
Coba Sendiri: Reorder Point & Safety Stock Interaktif
Ubah lead time, variasi permintaan, dan target tingkat layanan — amati bagaimana ROP & safety stock berubah.
Jebakan Optimasi Lokal di Setiap Eselon
Kalau tiap eselon (pabrik, distributor, ritel) menghitung EOQ & safety stock sendiri-sendiri tanpa koordinasi, total persediaan sepanjang rantai pasok justru membengkak.
Setiap eselon menambahkan safety stock-nya sendiri terhadap ketidakpastian permintaan dari eselon di bawahnya — bukan permintaan konsumen akhir yang sebenarnya. Total persediaan gabungan jadi lebih besar daripada bila dikelola sebagai satu sistem terkoordinasi.
Solusi Koordinasi: Vendor Managed Inventory (VMI)
Dalam VMI, pemasok (bukan pembeli) yang memutuskan kapan & berapa banyak mengirim persediaan ke pembeli, berdasarkan data permintaan aktual yang dibagikan.
TANPA VMI
RITEL YANG PESAN
Ritel memesan berdasarkan perkiraannya sendiri — rawan bias & keterlambatan.
DENGAN VMI
PEMASOK YANG MENGISI
Pemasok memantau data penjualan real-time ritel & mengisi ulang stok secara proaktif.
Contoh nyata: praktik P&G – Walmart yang menjadi rujukan klasik VMI global; di Indonesia, pola serupa diterapkan produsen consumer goods besar (mis. Unilever, Indofood) dengan jaringan minimarket melalui sistem data penjualan terhubung.
Diskusi: Kapan VMI Cocok Diterapkan?
Berpasangan, 5 menit. Diskusikan tiga situasi berikut — apakah VMI cocok diterapkan, dan mengapa?
Situasi
Karakteristik Hubungan
Kasus A
Produsen consumer goods besar dengan jaringan minimarket nasional — volume transaksi tinggi & rutin.
Kasus B
UMKM kerajinan lokal yang menjual satu-dua kali ke pembeli baru — hubungan belum terjalin lama.
Kasus C
Pemasok komponen otomotif dengan satu pabrikan mobil, kontrak jangka panjang & sistem data terintegrasi.
Petunjuk: pertimbangkan kepercayaan antar-pihak, kesiapan sistem data, dan durasi hubungan bisnis.
Bagian 3 dari 3
Penerapan & Studi Kasus
Melihat keputusan persediaan lintas eselon secara utuh melalui contoh perusahaan Indonesia, lalu berlatih mandiri.
Studi Kasus: Jaringan Distribusi Ritel Modern Indonesia
Jaringan minimarket seperti Indomaret/Alfamart mengelola persediaan di tiga eselon sekaligus: gerai, distribution center (DC) regional, dan pemasok/pabrik.
Eselon
Keputusan Persediaan Utama
Gerai
Reorder point per SKU di rak — dipicu otomatis oleh sistem point-of-sale.
Distribution Center
EOQ konsolidasi untuk ratusan gerai — safety stock lebih efisien lewat risk pooling.
Pemasok/Pabrik
Perencanaan produksi berbasis data penjualan agregat dari DC, bukan tebakan sendiri.
Konsolidasi persediaan di level DC (bukan tiap gerai menyimpan safety stock sendiri) disebut risk pooling — variasi permintaan gabungan ratusan gerai lebih "halus" daripada variasi tiap gerai sendiri-sendiri, sehingga total safety stock yang dibutuhkan lebih kecil.
Latihan: Hitung Sendiri dengan Data Baru
Kerjakan berpasangan, 10 menit. Sebuah toko bahan bangunan online memasok semen kemasan:
DATA EOQ
D=4.500, S=Rp10.000, H=Rp500
Permintaan/tahun, biaya pesan, biaya simpan per unit/tahun
DATA SAFETY STOCK & ROP
σ=8, L=9, Z=1,65, d̄=15/hari
Std. deviasi permintaan harian, lead time, faktor layanan 95%, rata-rata permintaan harian
Hitung: (1) EOQ, (2) safety stock (SS = Z × σ × √L), (3) reorder point (ROP = d̄×L + SS). Bandingkan: berapa kali toko ini memesan dalam setahun?
Peta Keputusan Persediaan: Dari Satu Gudang ke Rantai Pasok
Tiga keputusan kuantitatif hari ini saling terhubung dalam satu alur keputusan persediaan — lalu diperkuat oleh koordinasi lintas eselon.
EOQ & safety stock yang dihitung terpisah di tiap eselon tetap boros — nilai penuhnya baru terasa saat dikoordinasikan lintas eselon lewat berbagi data (VMI) & konsolidasi (risk pooling).
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
CHEAT SHEET — MANAJEMEN PERSEDIAAN
Konsep
Inti
4 Jenis Persediaan
Cycle, safety, seasonal, pipeline stock
EOQ
√(2DS÷H) — kuantitas pesanan optimal
Safety Stock
Z × σd × √L — bantalan ketidakpastian
ROP
d̄×L + SS — pemicu pemesanan ulang
Koordinasi Lintas Eselon
VMI & risk pooling — cegah pemborosan optimasi lokal