‹ Daftar slidePertemuan 13: Praktik Evaluasi Program: Kirkpatrick Level 1 dan Level 2
RPS minggu 14-15 · 2x50 menit
Praktik Evaluasi Program: Kirkpatrick Level 1 dan Level 2
Mengukur reaksi peserta dan hasil belajar dari program pelatihan
Pertemuan 13 · Mata Kuliah Manajemen Pelatihan dan Pengembangan · Program Studi Manajemen FEB UNDIP
Bagian I dari III
Model Evaluasi Kirkpatrick: Peta Empat Level
Memahami di mana Level 1 dan Level 2 duduk dalam kerangka evaluasi program pelatihan yang lebih luas.
Model Evaluasi Kirkpatrick: Empat Level Berjenjang
Donald Kirkpatrick (1959) merancang model evaluasi pelatihan yang berjenjang dari mudah ke sulit diukur — tiap level menjadi fondasi bagi level berikutnya.
Fokus Pertemuan Hari Ini
Level 1 dan Level 2 = tahap paling sering dipraktikkan langsung setelah pelatihan selesai
Level 3 dan 4 butuh waktu observasi lebih lama (minggu-bulan) — dibahas di P14 lewat tindak lanjut
Semakin tinggi level, semakin sulit diukur tapi semakin bernilai bagi manajemen puncak
Data Level 1-2 yang lemah membuat klaim di Level 3-4 tidak kredibel
Mengapa Level 1 dan Level 2 Menjadi Prioritas Praktik
Kedua level ini paling langsung dan murah dieksekusi setelah program selesai, sekaligus jadi sinyal awal keberhasilan desain pelatihan.
Level 1 — Reaction
Diukur segera setelah sesi selesai (same-day survey)
Fokus: kepuasan terhadap materi, fasilitator, fasilitas
Murah dan cepat, tapi tidak membuktikan belajar terjadi
Level 2 — Learning
Diukur lewat pre-test dan post-test atau demonstrasi keterampilan
Fokus: perubahan pengetahuan, keterampilan, atau sikap
Butuh instrumen yang valid & reliabel, bukan sekadar kuesioner puas-tidak-puas
Kaitan dengan ADDIE (P4): Level 1-2 sebenarnya menutup siklus tahap Evaluation untuk desain (Design) dan pengembangan (Development) program — hasilnya menjadi umpan balik ke need assessment (NAT, P5) periode berikutnya.
Bagian II dari III
Praktik Level 1: Mengukur Reaksi Peserta
Menyusun instrumen kuesioner reaksi dan menghitung skor kepuasan peserta pelatihan.
Menyusun Instrumen Kuesioner Reaksi (Level 1)
Kuesioner reaksi yang baik mencakup empat dimensi standar, bukan hanya pertanyaan umum "apakah Anda puas".
4 Dimensi Wajib
Materi/konten — relevansi dengan kebutuhan kerja
Fasilitator/trainer — penguasaan materi & cara mengajar
Metode & fasilitas — durasi, ruang, alat bantu, konsumsi
Kepuasan keseluruhan — item ringkasan (overall satisfaction)
Contoh Item (Skala Likert 1-5)
"Materi pelatihan relevan dengan pekerjaan saya" — 1 (sangat tidak setuju) s.d. 5 (sangat setuju)
"Fasilitator menguasai materi dengan baik" — 1-5
"Secara keseluruhan saya puas dengan pelatihan ini" — 1-5
Hindari jebakan: kuesioner yang hanya berisi 1 pertanyaan umum tidak bisa menunjukkan bagian mana yang perlu diperbaiki — selalu pecah per dimensi.
Hitung dari Nol: Skor Rata-Rata Kepuasan Peserta
Kasus: 25 peserta pelatihan "Analisis Kredit Dasar" di sebuah bank BUKU III mengisi kuesioner reaksi untuk item kepuasan keseluruhan (skala 1-5). Total skor yang terkumpul = 105.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total skor kepuasan (25 peserta, skala 1-5)
Dijumlahkan dari seluruh kuesioner
105
2. Skor rata-rata peserta
105 / 25 peserta
4,2
3. Persentase tingkat kepuasan
(4,2 / skor maks 5) x 100
84%
4. Gap terhadap target minimal 75%
84% - 75%
+9 poin (di atas target)
Kesimpulan: skor 84% melampaui target minimal 75% yang biasa dipakai sebagai ambang batas keberhasilan Level 1 di banyak organisasi.
Interpretasi Hasil Level 1 dan Tindak Lanjutnya
Skor Level 1 yang tinggi bukan jaminan pembelajaran terjadi — ia hanya mengukur persepsi kenyamanan peserta terhadap proses pelatihan.
Yang Bisa Disimpulkan
Peserta merasa materi relevan & fasilitator kompeten
Logistik (ruang, konsumsi, durasi) dirasa memadai
Sinyal awal desain pelatihan diterima baik oleh peserta
Yang TIDAK Bisa Disimpulkan
Peserta benar-benar menguasai materi baru (perlu Level 2)
Perilaku kerja akan berubah (perlu Level 3)
Pelatihan menguntungkan organisasi secara finansial (Level 4)
Fenomena "happy sheet": peserta bisa memberi skor tinggi karena trainer menghibur, meski substansi materi tidak tersampaikan — inilah alasan Level 2 tetap wajib dilakukan.
Bagian III dari III
Praktik Level 2: Mengukur Hasil Belajar
Merancang pre-test dan post-test, menghitung gain score, serta melatih kemampuan mendeteksi kesalahan umum evaluasi.
Level 2 — Learning: Apa yang Sebenarnya Diukur
Level 2 mengukur perubahan pada tiga ranah: pengetahuan, keterampilan, dan sikap — sebelum vs sesudah pelatihan.
Pengetahuan
Tes tertulis pilihan ganda/esai tentang konsep yang diajarkan
Keterampilan
Demonstrasi/simulasi praktik dinilai dengan rubrik
Sikap
Skala sikap sebelum-sesudah terhadap topik/perubahan kerja
Merancang Pre-Test dan Post-Test yang Adil
Instrumen Level 2 harus setara secara kesulitan antara pre-test dan post-test agar kenaikan skor benar-benar mencerminkan hasil belajar.
Langkah 4: Skor dua penilai dirata-rata; skor akhir ≥3 = kompeten
Walkthrough B — Praktik Layanan Frontliner
Langkah 1: Peserta mempraktikkan skrip layanan ke "nasabah bayangan" (mystery customer internal)
Langkah 2: Penilai mengamati langsung menggunakan checklist observasi terstandar
Langkah 3: Setiap perilaku kunci ditandai muncul/tidak muncul (bukan skala, tapi ya/tidak)
Langkah 4: Persentase perilaku kunci yang muncul = skor keterampilan peserta
Prinsip yang sama di kedua walkthrough: penilaian keterampilan butuh rubrik/checklist eksplisit dan idealnya >1 penilai agar hasilnya reliabel (lihat slide reliabilitas berikutnya).
Hitung dari Nol: Gain Score Pre-Test dan Post-Test
Interpretasi: normalized gain 0,50 masuk kategori "sedang" (Hake, 1998: rendah <0,3 · sedang 0,3-0,7 · tinggi >0,7); 80% peserta lulus individu menunjukkan mayoritas mencapai standar kompetensi minimum.
Toggle antara Level 1 (skor reaksi dari kuesioner) dan Level 2 (gain score pre-test/post-test) untuk kelas Anda sendiri.
Reliabilitas dan Validitas Instrumen Evaluasi
Instrumen Level 1 dan Level 2 hanya bermakna kalau valid (mengukur yang seharusnya diukur) dan reliabel (konsisten bila diulang).
Validitas
Item tes benar-benar mencerminkan tujuan pembelajaran (learning objectives)
Direview oleh subject matter expert sebelum digunakan
Contoh gagal: soal analisis kredit tapi isinya trivia perbankan umum
Reliabilitas
Hasil konsisten jika diberikan pada kelompok/waktu berbeda
Instruksi pengisian jelas & tidak ambigu bagi semua peserta
Contoh gagal: rubrik penilaian keterampilan ditafsirkan beda oleh tiap penilai
Praktik cepat: sebelum dipakai massal, uji coba (pilot) instrumen pada 5-10 peserta dari batch sebelumnya untuk menangkap pertanyaan yang membingungkan.
Studi Kasus: Kombinasi Level 1 dan Level 2 di Praktik Nyata
Kasus: program pelatihan "Layanan Prima" untuk 40 frontliner sebuah bank daerah — bagaimana kedua level dibaca bersama untuk mengambil keputusan.
Indikator
Hasil
Makna
Level 1 — Skor reaksi keseluruhan
4,5 / 5 (90%)
Peserta sangat puas dengan sesi
Level 2 — Rata-rata post-test
68 / 100 (naik dari 55)
Belum capai passing grade 70
Kesimpulan gabungan
Reaksi tinggi, hasil belajar belum tuntas
Materi terlalu padat untuk durasi yang tersedia
Rekomendasi tindak lanjut
Tambah sesi refreshment 2 jam + modul e-learning
Perbaikan desain sebelum ke Level 3
Pelajaran kunci: keputusan tindak lanjut harus berdasarkan kombinasi kedua level, bukan hanya salah satunya — reaksi bagus saja tidak cukup untuk menyatakan pelatihan berhasil.
Latihan 1: Menyusun Kuesioner Reaksi (Level 1)
Instruksi kerja kelompok (15 menit) — siapkan instrumen reaksi untuk kasus berikut.
Kasus: Anda adalah tim L&D di sebuah perusahaan retail modern yang baru menyelenggarakan pelatihan "Teknik Cross-Selling di Kasir" untuk 30 kasir toko.
Gain score/normalized gain dihitung, bukan hanya rata-rata post-test
Kesimpulan menggabungkan Level 1 dan Level 2, bukan berdiri sendiri
Rekomendasi tindak lanjut konkret (bukan sekadar "perlu diperbaiki")
Jembatan ke P14: hasil Level 1-2 yang sudah diolah menjadi dasar analisis lanjutan — mengaitkan skor evaluasi dengan tindak lanjut program dan fungsi MSDM lain (rekrutmen, kompensasi, jenjang karier).
Ringkasan Pertemuan 13
Hari ini Anda telah berlatih dua level dasar model evaluasi Kirkpatrick secara konkret dan terukur.
Yang Sudah Dikuasai
Empat level model Kirkpatrick & posisi Level 1-2 di dalamnya