Implementation — program benar-benar dijalankan ke peserta nyata
Trainer tampil, peserta hadir, materi disampaikan sesuai jadwal
Semua rencana di atas kertas diuji oleh kenyataan lapangan
Hasilnya jadi input Evaluation di pertemuan 13–14
Ingat: sebagus apa pun desain, kalau pelaksanaannya berantakan — trainer terlambat, ruang salah setting, materi tidak sinkron — hasil belajar peserta ikut anjlok. Implementation adalah titik paling rawan gagal dalam ADDIE.
Kesiapan Pelaksanaan: Checklist 5 Pilar
Pilar 1–2
SDM & Materi
Trainer/fasilitator terkonfirmasi, modul & alat bantu ajar final dan tergandakan sesuai jumlah peserta
Pilar 3
Logistik
Ruang, konsumsi, perangkat (proyektor, sound), akomodasi bila luar kota — semua terkonfirmasi H-3
Praktik lapangan: sebagian besar perusahaan menetapkan H-3 sebagai batas akhir seluruh checklist harus "hijau" — kalau ada pilar merah, opsi realistis adalah menunda, bukan memaksakan pelaksanaan.
Prinsip Andragogi: Cara Orang Dewasa Belajar
Malcolm Knowles — 6 Prinsip Inti
Kebutuhan tahu — ingin jelas "apa manfaatnya bagi saya"
Konsep diri — ingin diperlakukan mandiri, bukan didikte
Pengalaman — membawa bekal kerja yang harus dihargai
Lanjutan
Kesiapan belajar — belajar hal yang relevan dengan peran kerjanya
Orientasi belajar — berpusat masalah nyata, bukan teori abstrak
Motivasi internal — dorongan datang dari kepuasan & karier, bukan sekadar nilai
Implikasi praktis bagi trainer: buka sesi dengan menjelaskan manfaat langsung bagi pekerjaan peserta, gunakan studi kasus dari industri peserta sendiri, dan hindari gaya ceramah satu arah yang khas ruang kelas sekolah.
Peran-Peran Kunci dalam Pelaksanaan
Hitung dari Nol #1: Anggaran Pelaksanaan Satu Sesi
Kasus: PT Nusantara Retail melaksanakan pelatihan customer service untuk 40 peserta, durasi 2 hari.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Konsumsi peserta
40 org × Rp150.000/hari × 2 hari
Rp12.000.000
Honor 2 fasilitator
2 org × Rp3.000.000/hari × 2 hari
Rp12.000.000
Sewa venue
Rp5.000.000/hari × 2 hari
Rp10.000.000
Modul & ATK
40 org × Rp75.000
Rp3.000.000
Total Anggaran
12jt + 12jt + 10jt + 3jt
Rp37.000.000
Biaya per peserta
Rp37.000.000 ÷ 40 peserta
Rp925.000
Bagian 2 dari 3
Metode Penyampaian & Pengelolaan Sesi
On-the-job, off-the-job, blended learning, dan mengelola dinamika kelas
On-the-Job Training (OJT)
Karakteristik
Belajar langsung di lokasi & tugas kerja nyata
Biaya relatif lebih rendah, transfer keterampilan cepat
Risiko: kesalahan berdampak langsung ke operasional
Contoh Teknik
Coaching — atasan membimbing rutin bawahan
Mentoring — pendampingan jangka panjang, sering lintas jenjang karier
Job rotation & understudy — berpindah peran untuk perluas kompetensi
Contoh nyata: management trainee Unilever Indonesia dirotasi antar-divisi (sales, marketing, supply chain) selama 1–2 tahun sebagai bentuk OJT terstruktur.
Off-the-Job Training
Karakteristik
Dilakukan di luar tempat & ritme kerja sehari-hari
Peserta lebih fokus, bebas gangguan operasional
Cocok untuk materi konseptual & keterampilan baru sama sekali
Contoh Teknik
Lecture/ceramah — penyampaian konsep secara efisien ke banyak peserta
Studi kasus — analisis masalah nyata industri
Role play & simulasi — berlatih perilaku dalam skenario terkendali
Contoh: pelatihan manajerial baru di Telkomsel sering memakai kombinasi ceramah singkat lalu role play menangani komplain pelanggan — peserta berlatih tanpa risiko merusak hubungan dengan pelanggan sungguhan.
Blended Learning & E-Learning dalam Pelaksanaan Modern
Hitung dari Nol #2: Rasio Fasilitator & Alokasi Waktu
Kasus lanjutan: 1 hari pelatihan = 480 menit efektif (8 jam), rasio ideal 1 fasilitator per 20 peserta.
Ubah jumlah peserta, rasio fasilitator, dan kapasitas ruangan untuk melihat trade-off antara jumlah fasilitator yang dibutuhkan dan lama hari pelatihan.
Mengelola Dinamika Kelas: Dua Skenario
Skenario A — Peserta Pasif
Trainer melempar pertanyaan terbuka, hanya hening
Trainer beralih ke pertanyaan spesifik bernama — "Pak Andi, di unit Anda bagaimana?"
Bentuk kelompok kecil 3–4 orang untuk diskusi dulu sebelum presentasi pleno
Partisipasi meningkat karena tekanan sosial berkurang
Skenario B — Satu Peserta Mendominasi
Satu peserta senior terus menjawab semua pertanyaan
Trainer apresiasi kontribusinya, lalu arahkan giliran ke peserta lain
Gunakan teknik round-robin: setiap orang wajib menjawab bergiliran
Kelas kembali seimbang tanpa mempermalukan siapa pun
Tingkat kehadiran peserta dari total yang diundang — ambang wajar untuk sesi wajib
Ketepatan Jadwal
± 10 mnt
Toleransi maksimal deviasi dari rundown sebelum dianggap "meleset"
Keterlibatan
Aktif Bertanya
Proporsi peserta yang bertanya/merespons — indikator kualitatif keterlibatan
Indikator ini bersifat "leading" — muncul saat pelaksanaan berlangsung, sebelum hasil belajar sungguhan terlihat lewat evaluasi Kirkpatrick level 1–2 di pertemuan 13. Kalau leading indicator sudah buruk, jangan tunggu evaluasi akhir untuk bertindak.
Bagian 3 dari 3
Dokumentasi & Praktik Simulasi
Bukti pelaksanaan, studi kasus, dan latihan kelompok Anda
Dokumen Pelaksanaan: Bukti yang Wajib Ada
Daftar Hadir
Absensi
Tanda tangan peserta per sesi/hari — dasar hitung tingkat kehadiran
Training Log
Catatan Sesi
Waktu mulai/selesai, topik tersampaikan, kendala teknis yang terjadi
Berita Acara
BA Pelaksanaan
Pengesahan resmi bahwa pelatihan telah dilaksanakan sesuai rencana
Tanpa ketiga dokumen ini, tim monitoring di pertemuan 12 tidak punya dasar objektif untuk menilai apakah pelaksanaan sesuai rencana — klaim lisan trainer saja tidak cukup untuk audit internal HRD.
Studi Kasus: Onboarding Karyawan Baru BUMN
Walkthrough Bertahap
Hari H-3: koordinator konfirmasi ulang 30 peserta baru, ruang, dan 3 fasilitator internal
Hari H: sesi pagi ceramah budaya perusahaan & tata kelola (off-the-job)
Siang: simulasi kerja lintas divisi didampingi mentor (mendekati on-the-job)
Sore: peserta isi daftar hadir & kuis singkat via e-learning sebagai penutup hari
Akhir hari: koordinator susun training log & berita acara sebagai bukti pelaksanaan
Latihan Kelompok: Simulasikan Pelaksanaan Anda
Instruksi (30 menit, kelompok yang sama dari pertemuan 10):
Ambil desain program pelatihan yang sudah Anda susun pekan lalu
Tentukan: siapa berperan koordinator, trainer, dan peserta simulasi dalam kelompok Anda
Susun rundown pelaksanaan 1 hari (jam per jam) lengkap dengan metode penyampaian per sesi
Hitung estimasi anggaran pelaksanaan seperti contoh Hitung dari Nol #1 di slide sebelumnya
Setiap kelompok presentasi rundown singkat 3 menit di akhir sesi
Do's and Don'ts Fasilitator Saat Pelaksanaan
Lakukan
Buka sesi dengan tujuan & manfaat langsung bagi peserta
Cek pemahaman berkala lewat pertanyaan singkat, bukan di akhir saja
Catat kendala teknis segera di training log, jangan andalkan ingatan
Hindari
Mengubah rundown sepihak tanpa koordinasi ke koordinator
Ceramah satu arah lebih dari 45 menit tanpa jeda interaksi
Mengabaikan peserta yang terlihat bingung demi mengejar target materi
Kesalahan paling sering: trainer memaksakan seluruh materi tersampaikan sesuai slide, padahal andragogi menuntut penyesuaian ritme dengan kebutuhan peserta di ruangan — lebih baik materi berkurang tapi dipahami, daripada penuh tapi terlewat begitu saja.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 12
Yang Sudah Kita Bahas
Posisi Implementation dalam ADDIE & kesiapan 5 pilar
Andragogi sebagai dasar cara melatih orang dewasa
Metode OJT, off-the-job, dan blended learning
Perhitungan anggaran & alokasi waktu pelaksanaan
Menuju Pertemuan 12
Dokumen pelaksanaan hari ini (absensi, log, BA) jadi bahan monitoring
Praktik menyusun dokumen & mekanisme kontrol pelaksanaan
Bawa hasil latihan rundown kelompok Anda minggu depan