stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-11
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 11: Praktik Pelaksanaan Program Pelatihan dan Pengembangan
RPS minggu 12 · 2x50 menit

Praktik Pelaksanaan Program Pelatihan dan Pengembangan

Dari Rancangan di Atas Kertas Menuju Sesi yang Berjalan Nyata

Mata Kuliah Manajemen Pelatihan dan Pengembangan · Program Studi Manajemen · FEB UNDIP

Bagian 1 dari 3
Dari Desain ke Pelaksanaan
Posisi tahap Implementation, kesiapan, dan andragogi sebagai fondasi

Posisi Pertemuan 11 dalam Siklus ADDIE

Rekap Tahap Sebelumnya
  • Analysis — identifikasi kesenjangan kompetensi (need assessment)
  • Design — tujuan pembelajaran, kurikulum, metode
  • Development — modul, materi, alat bantu ajar jadi
  • Ketiganya sudah Anda praktikkan di pertemuan 10
Fokus Hari Ini
  • Implementation — program benar-benar dijalankan ke peserta nyata
  • Trainer tampil, peserta hadir, materi disampaikan sesuai jadwal
  • Semua rencana di atas kertas diuji oleh kenyataan lapangan
  • Hasilnya jadi input Evaluation di pertemuan 13–14
Ingat: sebagus apa pun desain, kalau pelaksanaannya berantakan — trainer terlambat, ruang salah setting, materi tidak sinkron — hasil belajar peserta ikut anjlok. Implementation adalah titik paling rawan gagal dalam ADDIE.

Kesiapan Pelaksanaan: Checklist 5 Pilar

Pilar 1–2
SDM & Materi
Trainer/fasilitator terkonfirmasi, modul & alat bantu ajar final dan tergandakan sesuai jumlah peserta
Pilar 3
Logistik
Ruang, konsumsi, perangkat (proyektor, sound), akomodasi bila luar kota — semua terkonfirmasi H-3
Pilar 4–5
Peserta & Jadwal
Undangan & konfirmasi kehadiran peserta selesai; rundown menit-per-menit disetujui atasan unit
Praktik lapangan: sebagian besar perusahaan menetapkan H-3 sebagai batas akhir seluruh checklist harus "hijau" — kalau ada pilar merah, opsi realistis adalah menunda, bukan memaksakan pelaksanaan.

Prinsip Andragogi: Cara Orang Dewasa Belajar

Malcolm Knowles — 6 Prinsip Inti
  • Kebutuhan tahu — ingin jelas "apa manfaatnya bagi saya"
  • Konsep diri — ingin diperlakukan mandiri, bukan didikte
  • Pengalaman — membawa bekal kerja yang harus dihargai
Lanjutan
  • Kesiapan belajar — belajar hal yang relevan dengan peran kerjanya
  • Orientasi belajar — berpusat masalah nyata, bukan teori abstrak
  • Motivasi internal — dorongan datang dari kepuasan & karier, bukan sekadar nilai
Implikasi praktis bagi trainer: buka sesi dengan menjelaskan manfaat langsung bagi pekerjaan peserta, gunakan studi kasus dari industri peserta sendiri, dan hindari gaya ceramah satu arah yang khas ruang kelas sekolah.

Peran-Peran Kunci dalam Pelaksanaan

KoordinatorLogistik & jadwalTrainer/FasilitatorMenyampaikan materiPesertaBelajar & berlatih aktifAtasan UnitDukungan & izin kerjaKeempat peran harus sinkron — putusnya satu mata rantai bisa menggagalkan pelaksanaan

Hitung dari Nol #1: Anggaran Pelaksanaan Satu Sesi

Kasus: PT Nusantara Retail melaksanakan pelatihan customer service untuk 40 peserta, durasi 2 hari.

LangkahPerhitunganNilai
Konsumsi peserta40 org × Rp150.000/hari × 2 hariRp12.000.000
Honor 2 fasilitator2 org × Rp3.000.000/hari × 2 hariRp12.000.000
Sewa venueRp5.000.000/hari × 2 hariRp10.000.000
Modul & ATK40 org × Rp75.000Rp3.000.000
Total Anggaran12jt + 12jt + 10jt + 3jtRp37.000.000
Biaya per pesertaRp37.000.000 ÷ 40 pesertaRp925.000
Bagian 2 dari 3
Metode Penyampaian & Pengelolaan Sesi
On-the-job, off-the-job, blended learning, dan mengelola dinamika kelas

On-the-Job Training (OJT)

Karakteristik
  • Belajar langsung di lokasi & tugas kerja nyata
  • Biaya relatif lebih rendah, transfer keterampilan cepat
  • Risiko: kesalahan berdampak langsung ke operasional
Contoh Teknik
  • Coaching — atasan membimbing rutin bawahan
  • Mentoring — pendampingan jangka panjang, sering lintas jenjang karier
  • Job rotation & understudy — berpindah peran untuk perluas kompetensi
Contoh nyata: management trainee Unilever Indonesia dirotasi antar-divisi (sales, marketing, supply chain) selama 1–2 tahun sebagai bentuk OJT terstruktur.

Off-the-Job Training

Karakteristik
  • Dilakukan di luar tempat & ritme kerja sehari-hari
  • Peserta lebih fokus, bebas gangguan operasional
  • Cocok untuk materi konseptual & keterampilan baru sama sekali
Contoh Teknik
  • Lecture/ceramah — penyampaian konsep secara efisien ke banyak peserta
  • Studi kasus — analisis masalah nyata industri
  • Role play & simulasi — berlatih perilaku dalam skenario terkendali
Contoh: pelatihan manajerial baru di Telkomsel sering memakai kombinasi ceramah singkat lalu role play menangani komplain pelanggan — peserta berlatih tanpa risiko merusak hubungan dengan pelanggan sungguhan.

Blended Learning & E-Learning dalam Pelaksanaan Modern

E-Learning MandiriModul video & kuis onlineFleksibel waktu & tempatCocok materi dasar/pengetahuanSesi Tatap MukaDiskusi & praktik langsungUmpan balik langsung trainerCocok keterampilan & sikapBlended LearningGabungan keduanya berurutanHemat waktu tatap mukaStandar baru pasca-pandemi

Hitung dari Nol #2: Rasio Fasilitator & Alokasi Waktu

Kasus lanjutan: 1 hari pelatihan = 480 menit efektif (8 jam), rasio ideal 1 fasilitator per 20 peserta.

LangkahPerhitunganNilai
Kebutuhan fasilitator40 peserta ÷ 20 peserta/fasilitator2 fasilitator
Alokasi ceramah (40%)480 menit × 40%192 menit
Alokasi praktik/simulasi (40%)480 menit × 40%192 menit
Alokasi diskusi/evaluasi (20%)480 menit × 20%96 menit
Verifikasi total192 + 192 + 96 menit480 menit

Coba Sendiri: Rasio Fasilitator & Kapasitas Pelatihan

Ubah jumlah peserta, rasio fasilitator, dan kapasitas ruangan untuk melihat trade-off antara jumlah fasilitator yang dibutuhkan dan lama hari pelatihan.

Mengelola Dinamika Kelas: Dua Skenario

Skenario A — Peserta Pasif
  • Trainer melempar pertanyaan terbuka, hanya hening
  • Trainer beralih ke pertanyaan spesifik bernama — "Pak Andi, di unit Anda bagaimana?"
  • Bentuk kelompok kecil 3–4 orang untuk diskusi dulu sebelum presentasi pleno
  • Partisipasi meningkat karena tekanan sosial berkurang
Skenario B — Satu Peserta Mendominasi
  • Satu peserta senior terus menjawab semua pertanyaan
  • Trainer apresiasi kontribusinya, lalu arahkan giliran ke peserta lain
  • Gunakan teknik round-robin: setiap orang wajib menjawab bergiliran
  • Kelas kembali seimbang tanpa mempermalukan siapa pun

Indikator Keberhasilan Pelaksanaan (Leading Indicators)

Kehadiran
≥ 90%
Tingkat kehadiran peserta dari total yang diundang — ambang wajar untuk sesi wajib
Ketepatan Jadwal
± 10 mnt
Toleransi maksimal deviasi dari rundown sebelum dianggap "meleset"
Keterlibatan
Aktif Bertanya
Proporsi peserta yang bertanya/merespons — indikator kualitatif keterlibatan
Indikator ini bersifat "leading" — muncul saat pelaksanaan berlangsung, sebelum hasil belajar sungguhan terlihat lewat evaluasi Kirkpatrick level 1–2 di pertemuan 13. Kalau leading indicator sudah buruk, jangan tunggu evaluasi akhir untuk bertindak.
Bagian 3 dari 3
Dokumentasi & Praktik Simulasi
Bukti pelaksanaan, studi kasus, dan latihan kelompok Anda

Dokumen Pelaksanaan: Bukti yang Wajib Ada

Daftar Hadir
Absensi
Tanda tangan peserta per sesi/hari — dasar hitung tingkat kehadiran
Training Log
Catatan Sesi
Waktu mulai/selesai, topik tersampaikan, kendala teknis yang terjadi
Berita Acara
BA Pelaksanaan
Pengesahan resmi bahwa pelatihan telah dilaksanakan sesuai rencana
Tanpa ketiga dokumen ini, tim monitoring di pertemuan 12 tidak punya dasar objektif untuk menilai apakah pelaksanaan sesuai rencana — klaim lisan trainer saja tidak cukup untuk audit internal HRD.

Studi Kasus: Onboarding Karyawan Baru BUMN

Walkthrough Bertahap
  • Hari H-3: koordinator konfirmasi ulang 30 peserta baru, ruang, dan 3 fasilitator internal
  • Hari H: sesi pagi ceramah budaya perusahaan & tata kelola (off-the-job)
  • Siang: simulasi kerja lintas divisi didampingi mentor (mendekati on-the-job)
  • Sore: peserta isi daftar hadir & kuis singkat via e-learning sebagai penutup hari
  • Akhir hari: koordinator susun training log & berita acara sebagai bukti pelaksanaan

Latihan Kelompok: Simulasikan Pelaksanaan Anda

Instruksi (30 menit, kelompok yang sama dari pertemuan 10):

  • Ambil desain program pelatihan yang sudah Anda susun pekan lalu
  • Tentukan: siapa berperan koordinator, trainer, dan peserta simulasi dalam kelompok Anda
  • Susun rundown pelaksanaan 1 hari (jam per jam) lengkap dengan metode penyampaian per sesi
  • Hitung estimasi anggaran pelaksanaan seperti contoh Hitung dari Nol #1 di slide sebelumnya
  • Setiap kelompok presentasi rundown singkat 3 menit di akhir sesi

Do's and Don'ts Fasilitator Saat Pelaksanaan

Lakukan
  • Buka sesi dengan tujuan & manfaat langsung bagi peserta
  • Cek pemahaman berkala lewat pertanyaan singkat, bukan di akhir saja
  • Catat kendala teknis segera di training log, jangan andalkan ingatan
Hindari
  • Mengubah rundown sepihak tanpa koordinasi ke koordinator
  • Ceramah satu arah lebih dari 45 menit tanpa jeda interaksi
  • Mengabaikan peserta yang terlihat bingung demi mengejar target materi
Kesalahan paling sering: trainer memaksakan seluruh materi tersampaikan sesuai slide, padahal andragogi menuntut penyesuaian ritme dengan kebutuhan peserta di ruangan — lebih baik materi berkurang tapi dipahami, daripada penuh tapi terlewat begitu saja.

Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 12

Yang Sudah Kita Bahas
  • Posisi Implementation dalam ADDIE & kesiapan 5 pilar
  • Andragogi sebagai dasar cara melatih orang dewasa
  • Metode OJT, off-the-job, dan blended learning
  • Perhitungan anggaran & alokasi waktu pelaksanaan
Menuju Pertemuan 12
  • Dokumen pelaksanaan hari ini (absensi, log, BA) jadi bahan monitoring
  • Praktik menyusun dokumen & mekanisme kontrol pelaksanaan
  • Bawa hasil latihan rundown kelompok Anda minggu depan