‹ Daftar slidePertemuan 12: Penjadwalan Jangka Pendek: sequencing FCFS/SPT/EDD, metode penugasan
Program Studi Bisnis Digital • FEB
Manajemen Operasi
Pertemuan 12 — Penjadwalan Jangka Pendek
Aturan urutan kerja FCFS, SPT, EDD, dan bagaimana mencocokkan tugas ke sumber daya lewat metode penugasan (Hungarian Method).
RPS minggu 13 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu memahami dan menerapkan penjadwalan jangka pendek secara komprehensif:
CAPAIAN 1 — KONSEP DASAR
LOADING & SEQUENCING
Membedakan dua keputusan penjadwalan inti dan mengenal kriteria kinerja: flow time, makespan, dan tardiness.
CAPAIAN 2 — ATURAN URUTAN
FCFS, SPT, EDD
Menghitung urutan pekerjaan dan membandingkan hasil ketiga aturan tersebut pada data yang sama.
CAPAIAN 3 — TRADE-OFF
MEMILIH ATURAN TEPAT
Menjelaskan kapan tiap aturan unggul, dan mengapa tidak ada satu aturan yang selalu terbaik.
CAPAIAN 4 — PENUGASAN
METODE HUNGARIAN
Menyelesaikan masalah penugasan (siapa mengerjakan apa) dengan biaya total minimum.
Dilema Meja Layanan: Siapa Dilayani Duluan?
Bayangkan bengkel motor dengan lima kendaraan menunggu diperbaiki pagi ini. Urutan mana yang Anda pilih akan mengubah kepuasan pelanggan secara drastis.
KALAU URUT DATANG SAJA
ADIL, TAPI BISA LAMBAT
Motor yang butuh perbaikan besar dikerjakan lebih dulu, motor yang cuma ganti oli harus menunggu lama di belakangnya meski pengerjaannya singkat.
KALAU URUT DEADLINE
TEPAT JANJI, TAPI RUMIT
Motor yang dijanjikan selesai sore ini didahulukan, tapi motor lain yang sebenarnya cepat dikerjakan jadi tertahan tanpa alasan jelas bagi pelanggan.
Tidak ada aturan penjadwalan yang sempurna untuk semua tujuan sekaligus — setiap aturan mengorbankan sesuatu demi mengejar sesuatu yang lain.
Bagian 1 dari 3
Konsep Dasar Penjadwalan Jangka Pendek
Dua keputusan yang harus dibuat manajer operasi setiap hari, dan tolok ukur untuk menilai keputusan mana yang lebih baik.
LoadingSequencingKriteria Kinerja
Loading vs Sequencing: Dua Keputusan Inti
Sebelum menentukan urutan, manajer dulu harus menentukan di mana sebuah pekerjaan dikerjakan. Dua keputusan ini berurutan, bukan pilihan.
1. LOADING (PEMBEBANAN)
Menentukan stasiun kerja/mesin/karyawan mana yang mengerjakan suatu pekerjaan.
Fokus: menyeimbangkan beban kerja antar sumber daya agar tidak ada yang menganggur sementara yang lain kewalahan.
Contoh: dua kasir di minimarket, siapa melayani pelanggan yang datang berikutnya.
2. SEQUENCING (PENGURUTAN)
Setelah pekerjaan dibebankan ke satu stasiun, tentukan urutan pengerjaannya jika ada beberapa pekerjaan menunggu di stasiun yang sama.
Ditentukan lewat aturan prioritas (priority/dispatching rule) — fokus utama pertemuan ini.
Contoh: satu kasir, lima pelanggan mengantre — siapa dilayani lebih dulu?
Pertemuan hari ini fokus pada sequencing (aturan urutan) dan kasus khusus loading yaitu penugasan (assignment).
Kriteria Kinerja: Cara Menilai Sebuah Jadwal
Sebelum membandingkan aturan, kita perlu ukuran objektif. Empat istilah ini akan terus muncul sepanjang pertemuan.
FLOW TIME
Waktu Alir
Total waktu sebuah pekerjaan berada dalam sistem, dari masuk antrean sampai selesai dikerjakan. Semakin kecil rata-ratanya, semakin cepat pelanggan dilayani.
MAKESPAN
Rentang Total
Waktu total untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam antrean, dari pekerjaan pertama dimulai sampai pekerjaan terakhir selesai.
LATENESS & TARDINESS
Keterlambatan
Lateness = selisih waktu selesai dengan tenggat (bisa negatif jika lebih cepat). Tardiness = lateness yang dihitung hanya jika positif (terlambat).
UTILISASI
Pemakaian Sumber Daya
Persentase waktu mesin/karyawan benar-benar bekerja dibanding waktu tersedia. Idle time yang tinggi berarti utilisasi rendah.
Empat Aturan Prioritas yang Umum Dipakai
Setiap aturan prioritas (dispatching rule) menjawab pertanyaan "siapa duluan" dengan logika berbeda.
FCFS — FIRST COME, FIRST SERVED
Kerjakan sesuai urutan kedatangan. Paling adil dan mudah dijelaskan ke pelanggan, tapi sering menghasilkan rata-rata waktu tunggu yang tinggi.
SPT — SHORTEST PROCESSING TIME
Kerjakan yang waktu prosesnya paling singkat lebih dulu. Terbukti secara matematis meminimalkan rata-rata flow time.
EDD — EARLIEST DUE DATE
Kerjakan yang tenggatnya paling dekat lebih dulu. Terbukti meminimalkan keterlambatan maksimum.
LPT — LONGEST PROCESSING TIME
Kerjakan yang waktu prosesnya paling lama lebih dulu. Jarang dipakai, tapi berguna saat pekerjaan besar butuh dimulai sedini mungkin.
Pertemuan hari ini fokus mendalami tiga aturan pertama: FCFS, SPT, dan EDD — lengkap dengan perhitungannya.
Bagian 2 dari 3
Aturan Sequencing dalam Praktik
Satu data lima kendaraan bengkel, tiga aturan berbeda — mari kita hitung sendiri dan lihat mana yang paling unggul untuk tujuan apa.
FCFS: First Come, First Served
Kasus kita: bengkel motor dengan lima kendaraan (A–E) yang datang berurutan pagi ini. FCFS mengerjakan persis sesuai urutan kedatangan tersebut.
DATA KASUS (WAKTU DALAM JAM)
Kendaraan
Waktu Proses
Tenggat Janji
A
3 jam
5 jam
B
6 jam
8 jam
C
2 jam
6 jam
D
5 jam
4 jam
E
4 jam
12 jam
URUTAN FCFS
A → B → C → D → E
Sederhana: tidak peduli waktu proses atau tenggat, kerjakan persis sesuai urutan kendaraan tiba di bengkel. Kita hitung akibatnya di slide berikutnya.
Hitung dari Nol #1 — Sequencing FCFS
Waktu selesai (completion time) dihitung kumulatif: waktu proses ditambahkan satu per satu sesuai urutan.
WAKTU SELESAI KUMULATIF (FCFS)
Langkah
Perhitungan
Nilai
A selesai
0 + 3
3 jam
B selesai
3 + 6
9 jam
C selesai
9 + 2
11 jam
D selesai
11 + 5
16 jam
E selesai
16 + 4
20 jam
HASIL FCFS
Rata² 11,8 jam
jumlah waktu selesai ÷ 5 job
Total waktu selesai = 3+9+11+16+20 = 59 jam → rata-rata flow time = 59 ÷ 5 = 11,8 jam. D terlambat 12 jam (16−4) — keterlambatan terparah hari ini.
SPT: Shortest Processing Time
Aturan ini mengurutkan ulang kelima kendaraan yang sama tadi — kali ini berdasarkan waktu proses tersingkat lebih dulu.
LOGIKA SPT
Selesaikan yang Cepat Dulu
Pekerjaan singkat "keluar" dari sistem lebih cepat, sehingga jumlah pekerjaan yang menunggu di antrean berkurang lebih cepat pula — ini yang menekan rata-rata waktu tunggu.
URUTAN SPT (DATA SAMA)
C → A → E → D → B
Urutkan naik dari waktu proses: C (2j) → A (3j) → E (4j) → D (5j) → B (6j). Perhatikan: urutan kedatangan sama sekali diabaikan.
SPT terbukti secara matematis selalu meminimalkan rata-rata flow time dibanding aturan urutan lain, untuk data yang sama.
Hitung dari Nol #2 — Sequencing SPT
Perhatikan: total waktu proses tetap sama (20 jam), tapi urutannya berbeda — sehingga waktu selesai tiap kendaraan ikut berubah.
WAKTU SELESAI KUMULATIF (SPT)
Langkah
Perhitungan
Nilai
C selesai
0 + 2
2 jam
A selesai
2 + 3
5 jam
E selesai
5 + 4
9 jam
D selesai
9 + 5
14 jam
B selesai
14 + 6
20 jam
HASIL SPT
Rata² 10,0 jam
lebih rendah dari FCFS (11,8 jam)
Total waktu selesai = 2+5+9+14+20 = 50 jam → rata-rata flow time = 50 ÷ 5 = 10,0 jam. Terbukti: SPT unggul 1,8 jam dibanding FCFS.
EDD: Earliest Due Date
Kali ini kendaraan diurutkan berdasarkan tenggat janji tercepat, tidak peduli kapan datang atau berapa lama pengerjaannya.
URUTAN EDD (DATA SAMA)
D → A → C → B → E
Urutkan naik dari tenggat: D (4j) → A (5j) → C (6j) → B (8j) → E (12j). D lebih dulu meski waktu prosesnya termasuk panjang (5 jam).
Keterlambatan maksimum hanya 8 jam — lebih rendah dari FCFS (12 jam)!
Perbandingan: Tidak Ada Aturan yang Menang di Semua Hal
Data lima kendaraan yang sama, tiga aturan berbeda — hasilnya membuktikan setiap aturan punya keunggulan berbeda.
Aturan
Rata² Flow Time
Rata² Keterlambatan
Keterlambatan Maks.
FCFS
11,8 jam
4,8 jam
12 jam (D)
SPT
10,0 jam ← terbaik
3,0 jam ← terbaik
12 jam (B)
EDD
11,8 jam
4,8 jam
8 jam ← terbaik
Kesimpulan: SPT unggul menekan rata-rata waktu tunggu; EDD unggul mencegah satu pekerjaan terlambat parah. Pilih aturan sesuai tujuan bisnis Anda, bukan ikut-ikutan.
Coba Sendiri: Uji Ketiga Aturan Sequencing Sekaligus
Masukkan waktu proses dan tenggat tiap pekerjaan, lalu bandingkan flow time dan keterlambatan pada FCFS, SPT, dan EDD secara langsung.
Bagian 3 dari 3
Metode Penugasan (Assignment Method)
Pertanyaan yang berbeda dari sequencing: bukan "siapa duluan", melainkan "siapa paling cocok mengerjakan tugas mana" dengan biaya total termurah.
Cost MatrixHungarian MethodReduksi Baris/Kolom
Masalah Penugasan: Mencocokkan Sumber Daya ke Tugas
Kasus baru: bengkel punya 3 teknisi (A, B, C) dan 3 jenis tugas servis hari ini. Setiap teknisi punya kecepatan berbeda untuk tiap jenis tugas — direpresentasikan sebagai biaya (jam kerja × tarif, dalam Rp ratus ribu).
MATRIKS BIAYA (COST MATRIX) — Rp RATUS RIBU
Teknisi
Tugas 1 (Ganti Oli)
Tugas 2 (Tune-up)
Tugas 3 (Kelistrikan)
A
10
12
9
B
8
10
11
C
13
9
11
Aturan permainan: 1 teknisi = 1 tugas (tidak boleh dobel), tujuannya meminimalkan total biaya ketiga penugasan sekaligus — bukan biaya termurah satu per satu.
Algoritma Hungarian: Logika di Baliknya
Algoritma ini bekerja dengan mengurangi biaya secara sistematis sampai muncul kombinasi angka nol yang bisa dipasangkan sempurna — tanpa mengubah penugasan optimalnya.
TAHAP 1 — REDUKSI BARIS
Untuk tiap teknisi (baris), cari biaya terkecil, lalu kurangkan dari semua angka di baris itu. Ini mengungkap "biaya relatif" tiap teknisi terhadap pilihan tugas terbaiknya sendiri.
TAHAP 2 — REDUKSI KOLOM & PENUGASAN
Ulangi proses yang sama per kolom (tugas). Cari sel bernilai nol di tiap baris/kolom yang bisa dipasangkan tanpa tabrakan — itulah penugasan optimal.
Mengurangi seluruh baris/kolom dengan angka yang sama tidak mengubah penugasan optimal — hanya menyederhanakan pencarian pola nol. Ini dasar matematis di balik metode Hungarian.
Hitung dari Nol #3 — Metode Penugasan
Menerapkan reduksi baris pada matriks biaya tadi (A: 10,12,9 · B: 8,10,11 · C: 13,9,11), lalu mencari pola nol.
REDUKSI BARIS & PENUGASAN
Langkah
Perhitungan
Nilai
Reduksi baris A (min 9)
10−9, 12−9, 9−9
1, 3, 0
Reduksi baris B (min 8)
8−8, 10−8, 11−8
0, 2, 3
Reduksi baris C (min 9)
13−9, 9−9, 11−9
4, 0, 2
Cek tiap kolom
kolom 1,2,3 sudah punya nol
tanpa reduksi lanjutan
Penugasan optimal
A→T3, B→T1, C→T2
9+8+9
BIAYA TOTAL MINIMUM
Rp 2.600.000
A→Kelistrikan, B→Ganti Oli, C→Tune-up
Bandingkan: kalau kita ikuti "intuisi" B ke Tugas 1 (termurah sendiri, 8) lalu asal pasangkan sisanya, total bisa mencapai Rp 3.000.000–3.100.000 — lebih mahal!
Coba Sendiri: Selesaikan Matriks Penugasan Anda
Masukkan matriks biaya teknisi vs tugas Anda sendiri, lalu lihat langkah reduksi dan penugasan optimal terhitung otomatis.
Latihan Kelas: Urutkan dan Tugaskan Sendiri
Kerjakan berpasangan (5 menit), lalu kita bahas bersama.
Pasangkan agar total jam kerja minimum. Bandingkan dengan pasangan intuitif.
Petunjuk Soal 1: urutkan naik dari waktu proses, lalu hitung waktu selesai kumulatif seperti contoh SPT tadi. Petunjuk Soal 2: coba kedua kombinasi pasangan yang mungkin, bandingkan totalnya.
Ringkasan: Takeaways Pertemuan 12
1. LOADING VS SEQUENCING
Loading menentukan di mana pekerjaan dilakukan; sequencing menentukan urutan pengerjaan di stasiun yang sama.
2. FCFS, SPT, EDD
Data sama, hasil beda: SPT minimalkan rata-rata flow time & lateness; EDD minimalkan keterlambatan maksimum; FCFS paling adil tapi tidak optimal di kriteria mana pun.
3. TIDAK ADA "JUARA UMUM"
Pilihan aturan bergantung tujuan bisnis: kepuasan rata-rata pelanggan vs mencegah satu pelanggan sangat kecewa.
4. METODE PENUGASAN
Algoritma Hungarian mencari kombinasi biaya total terendah lewat reduksi baris/kolom — sering mengalahkan intuisi "termurah sendiri-sendiri".
Selesai! Pertemuan 13: Lean Operations dan Just-in-Time.