‹ Daftar slidePertemuan 10: Material Requirement Planning (MRP): BOM, MRP record, lot sizing
Program Studi Bisnis Digital • FEB
Manajemen Operasi
Pertemuan 10 — Material Requirement Planning (MRP): BOM, MRP Record, Lot Sizing
Dari peramalan dan persediaan independen (EOQ) minggu lalu, kini kita masuk ke jantung perencanaan produksi: bagaimana pabrik menerjemahkan satu jadwal produk jadi menjadi ribuan pesanan komponen — tepat jumlah, tepat waktu.
RPS MINGGU 11 • 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu merancang dan membaca sistem MRP untuk kebutuhan bahan bergantung (dependent demand). Secara rinci:
CAPAIAN 1 — STRUKTUR PRODUK
BOM & DEPENDENSI
Menjelaskan konsep Bill of Materials (BOM) dan perbedaan permintaan independen vs dependen.
CAPAIAN 2 — PERHITUNGAN
MRP RECORD
Menyusun dan menghitung catatan MRP (gross requirement hingga planned order release) untuk satu komponen.
CAPAIAN 3 — UKURAN PESANAN
LOT SIZING
Membandingkan teknik lot sizing (Lot-for-Lot, FOQ, POQ, EOQ) dan dampaknya pada biaya total.
CAPAIAN 4 — KONTEKS SISTEM
MRP II & ERP
Memahami evolusi MRP menuju MRP II dan sistem ERP modern.
Bagian 1
Dari Permintaan Independen ke Permintaan Dependen
Kenapa logika EOQ dan ROP dari Pertemuan 9 tidak cukup untuk komponen perakitan — dan bagaimana Bill of Materials menjadi jembatannya.
Permintaan Independen vs Dependen
Jenis permintaan menentukan metode perencanaan yang tepat digunakan.
Permintaan Independen
Dipengaruhi pasar, bukan produk lain — mis. permintaan sepeda jadi dari konsumen.
Perlu diramalkan (lihat Pertemuan 3).
Dikelola dengan EOQ, ROP, safety stock (Pertemuan 9).
Contoh: sepeda jadi, meja jadi, produk akhir di rak toko.
Permintaan Dependen
Diturunkan secara matematis dari permintaan produk induk.
Tidak perlu diramalkan sendiri — dihitung dari BOM.
Kunci: jika 100 sepeda dipesan, kebutuhan roda pasti 200 unit (2 per sepeda) — bukan estimasi, melainkan hasil perkalian yang presisi.
Apa Itu Material Requirement Planning?
MRP (Material Requirement Planning) adalah sistem berbasis komputer yang menerjemahkan jadwal produksi barang jadi menjadi kebutuhan bahan baku dan komponen secara terjadwal.
TUJUAN 1
APA
Menentukan komponen apa saja yang dibutuhkan.
TUJUAN 2
BERAPA
Menentukan jumlah tiap komponen yang harus dipesan.
TUJUAN 3
KAPAN
Menentukan waktu pemesanan agar tiba tepat sebelum dibutuhkan.
Diperkenalkan Joseph Orlicky (IBM, awal 1970-an) — filosofi intinya: "jangan simpan stok berlebih, pesan hanya saat dan sejumlah yang dibutuhkan."
Bill of Materials (BOM)
BOM (Daftar Kebutuhan Bahan) adalah "resep" produk — daftar terstruktur semua komponen, sub-rakitan, dan bahan mentah yang membentuk satu unit produk jadi, lengkap dengan jumlah kebutuhannya.
Struktur Berjenjang (Level)
Level 0 — produk jadi (mis. Meja Kayu).
Level 1 — sub-rakitan langsung (mis. Rangka Kaki).
Level 2 — komponen dasar sub-rakitan (mis. Kaki, Sekrup).
Informasi di Tiap Baris BOM
Nomor & nama komponen
Jumlah kebutuhan per unit induk
Satuan ukur (unit, kg, meter)
Lead time pengadaan komponen
Contoh Struktur BOM: Meja Kayu Sederhana
Diagram pohon menunjukkan hubungan induk-komponen dan jumlah kebutuhan per unit induk.
Untuk 1 meja: 4 Kaki & 8 Sekrup. Untuk 60 meja: 4 × 60 = 240 Kaki, 8 × 60 = 480 Sekrup — inilah cara BOM "meledakkan" (explode) kebutuhan.
Bagian 2
Anatomi Catatan MRP
Tiga input yang membentuk sistem, dan delapan baris angka yang menjawab pertanyaan "apa, berapa, kapan" untuk setiap komponen.
Tiga Input Utama Sistem MRP
MRP bekerja dengan menggabungkan tiga sumber data ini menjadi satu rencana pemesanan.
1 • MPS
Master Production Schedule
Jadwal produk jadi: berapa unit, kapan selesai.
Turunan dari peramalan & pesanan pasti pelanggan.
2 • BOM
Bill of Materials
"Resep" struktur produk (lihat Slide 6–7).
Mengalikan MPS menjadi kebutuhan komponen.
3 • Catatan Persediaan
Inventory Records
Stok di tangan (on-hand) & pesanan yang sudah berjalan.
Setiap komponen punya "kartu" mingguan berisi baris-baris berikut, dibaca dari atas ke bawah.
Gross Requirement (GR) — total kebutuhan kotor komponen per periode.
Scheduled Receipts (SR) — pesanan yang sudah dibuat, akan tiba.
Projected On-Hand — proyeksi stok tersedia di akhir periode.
Net Requirement (NR) — kekurangan bersih yang harus dipenuhi.
Planned Order Receipt (POR) — jumlah pesanan yang direncanakan tiba.
Planned Order Release (PORL) — kapan pesanan itu harus dilepas (dipesan).
Lead Time — jarak waktu antara PORL dan POR.
Lot Size — aturan pembulatan jumlah pesanan (dibahas di Bagian 3).
Hitung dari Nol: Catatan MRP Komponen "Kaki Meja"
Kasus: MPS Meja Kayu = 60 unit pada Minggu 6. BOM: 4 Kaki per meja. Stok Kaki saat ini = 40 unit, tidak ada scheduled receipt, lead time pengadaan Kaki = 2 minggu.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Gross Requirement (Minggu 6)
60 meja × 4 kaki/meja
240 unit
2. Scheduled Receipts (Minggu 6)
tidak ada pesanan berjalan
0 unit
3. Projected On-Hand tersedia
stok gudang saat ini
40 unit
4. Net Requirement
240 − (0 + 40)
200 unit
5. Planned Order Receipt
Lot-for-Lot = Net Requirement
200 unit
6. Planned Order Release
Minggu 6 − lead time 2 minggu
Minggu 4
Kesimpulan: staf pembelian harus melepas pesanan 200 kaki meja pada Minggu 4 agar tiba tepat sebelum perakitan di Minggu 6.
Coba Sendiri: Susun Catatan MRP dengan Data Anda
Ubah MPS, BOM per unit, stok saat ini, dan lead time untuk melihat net requirement serta minggu pelepasan pesanan terhitung otomatis.
Time-Phasing: Menggeser Waktu Sesuai Lead Time
Planned Order Release selalu digeser mundur dari Planned Order Receipt sejauh lead time komponen.
Prinsip time-phasing: sistem MRP "membaca mundur" dari tanggal dibutuhkan untuk menentukan tanggal harus memesan — inilah yang membedakan MRP dari sekadar pencatatan stok biasa.
Low-Level Coding: Urutan Pemrosesan Komponen
Ketika satu komponen dipakai di banyak level BOM sekaligus, sistem perlu tahu level terendah tempat ia muncul agar diproses satu kali di waktu yang tepat.
Langkah 1 — Identifikasi
Misal Sekrup dipakai di Rangka Kaki (Level 2, lihat Slide 7) dan juga langsung di Permukaan Meja (Level 1) untuk kasus lain.
Langkah 2 — Tetapkan Kode Terendah
Sekrup diberi low-level code = 2 (level terdalam kemunculannya), bukan 1 — supaya seluruh kebutuhannya digabung dan dihitung satu kali saja, bukan dua kali terpisah.
Tanpa low-level coding, sistem berisiko menghitung kebutuhan komponen yang sama dua kali secara berbeda — memicu pemesanan ganda atau kekurangan stok mendadak.
Bagian 3
Lot Sizing: Berapa Banyak Dipesan Sekaligus?
Net requirement sudah kita ketahui — sekarang pertanyaannya, apakah dipesan persis sejumlah kebutuhan, atau digabung menjadi lot yang lebih besar?
Empat Teknik Lot Sizing yang Umum Dipakai
Setiap teknik menyeimbangkan biaya pesan vs biaya simpan secara berbeda.
Lot-for-Lot (L4L)
Pesan persis sejumlah net requirement tiap periode. Biaya simpan = 0, tetapi frekuensi pesan tinggi.
Fixed Order Quantity (FOQ)
Pesan dalam jumlah tetap setiap kali (mis. selalu 50 unit), sisa disimpan untuk periode berikutnya.
Periodic Order Quantity (POQ)
Pesan untuk menutup kebutuhan beberapa periode sekaligus (mis. tiap 3 minggu), jumlah bisa berbeda tiap kali.
EOQ (diadaptasi)
Memakai rumus EOQ Pertemuan 9 pada rata-rata kebutuhan periodik — cocok bila permintaan relatif stabil.
Hitung dari Nol: Lot-for-Lot vs FOQ (Lot=50)
Net requirement komponen selama 6 minggu: 10, 40, 0, 30, 0, 20 unit. Biaya pesan = Rp100.000/order. Biaya simpan = Rp1.000/unit/minggu.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Jumlah order Lot-for-Lot
pesan tiap minggu ada kebutuhan (Mgg 1,2,4,6)
4 order
2. Biaya pesan L4L
4 × Rp100.000
Rp400.000
3. Biaya simpan L4L
tidak ada sisa stok tiap minggu
Rp0
4. Total biaya Lot-for-Lot
400.000 + 0
Rp400.000
5. Jumlah order FOQ (lot 50)
pesan saat stok tak cukup (Mgg 1, Mgg 4)
2 order
6. Biaya pesan FOQ
2 × Rp100.000
Rp200.000
7. Biaya simpan FOQ
(40+0+0+20+20+0) unit-mgg × Rp1.000
Rp80.000
8. Total biaya FOQ
200.000 + 80.000
Rp280.000
FOQ menghemat Rp400.000 − Rp280.000 = Rp120.000 dibanding Lot-for-Lot untuk kasus ini — bukti bahwa lot sizing yang tepat memengaruhi biaya total nyata.
Coba Sendiri: Bandingkan Biaya Lot-for-Lot vs FOQ
Ubah deret net requirement mingguan, ukuran lot FOQ, biaya pesan, dan biaya simpan untuk melihat teknik mana yang lebih hemat.
Kapan MRP, Kapan EOQ Murni?
MRP dan EOQ bukan pesaing — keduanya dipakai untuk situasi permintaan yang berbeda.
Aspek
MRP (dependent)
EOQ / ROP (independent)
Sumber kebutuhan
Diturunkan dari BOM & MPS
Diramalkan dari pola permintaan pasar
Pola permintaan
Naik-turun tajam, "lumpy"
Relatif stabil & kontinu
Contoh item
Komponen rakitan (roda, papan sirkuit)
Barang jadi di rak, ATK kantor
Fokus perencanaan
Waktu (kapan pesan tepat)
Jumlah ekonomis & titik pesan ulang
Perusahaan besar seperti IKEA memakai keduanya sekaligus: MRP untuk komponen rakitan furnitur, EOQ/ROP untuk aksesori toko yang permintaannya stabil.
Evolusi: dari MRP ke MRP II dan ERP
MRP terus berkembang menjadi sistem yang mencakup lebih banyak fungsi bisnis.
1970-an
MRP
Fokus sempit: perencanaan kebutuhan material saja.
1980-an
MRP II
Meluas ke kapasitas, keuangan, dan tenaga kerja (Manufacturing Resource Planning).
1990-an–kini
ERP
Integrasi penuh lintas fungsi: produksi, keuangan, SDM, penjualan dalam satu sistem (mis. SAP).
Banyak perusahaan Indonesia — dari Maspion hingga UMKM menengah — kini mengadopsi modul MRP di dalam sistem ERP berbasis cloud, bukan lagi perangkat lunak MRP yang berdiri sendiri.
Latihan Kelas: Susun Catatan MRP Anda Sendiri
Kerjakan berpasangan (10 menit), lalu satu pasangan mempresentasikan hasilnya.
Instruksi
Produk: Rak Sepatu 3-Susun. MPS = 80 unit pada Minggu 8.
BOM: setiap rak butuh 3 Papan Susun per unit.
Stok Papan Susun saat ini: 50 unit. Scheduled receipt: 20 unit tiba Minggu 8.
Lead time pengadaan Papan Susun: 3 minggu.
Tugas Anda: hitung Gross Requirement, Net Requirement, Planned Order Receipt, dan Planned Order Release — lalu tentukan minggu berapa pesanan harus dilepas.
Petunjuk: gunakan urutan enam langkah yang sama seperti pada Slide 11. Bandingkan jawaban Anda dengan pasangan sebelah sebelum kelas membahas bersama.
Ringkasan & Menuju Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Anda Kuasai
BOM — struktur produk berjenjang, dasar "peledakan" kebutuhan.
Catatan MRP — dari gross requirement hingga planned order release.
Lot sizing — L4L, FOQ, POQ, EOQ dan dampaknya pada biaya total.
Evolusi MRP menuju MRP II dan ERP.
Pertemuan 11 — Manajemen Rantai Pasokan
Setelah tahu apa, berapa, kapan memesan komponen secara internal, pertanyaan berikutnya: dari siapa kita membeli, dan bagaimana mengelola hubungan dengan pemasok?
Referensi: Heizer, Render & Munson, Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management, bab Material Requirements Planning (MRP) and ERP.