‹ Daftar slidePertemuan 8: Perencanaan Produksi Agregat: strategi chase vs level dari hasil peramalan
Prodi Bisnis Digital • FEB UNDIP • Pertemuan 8
Manajemen Operasi
Perencanaan Produksi Agregat: Strategi Chase vs Level dari Hasil Peramalan
Bagaimana hasil peramalan permintaan (Pertemuan 3) diterjemahkan menjadi rencana produksi, tenaga kerja, dan persediaan untuk 3–18 bulan ke depan — dua strategi murni yang saling berlawanan arah.
RPS minggu 9 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun dan mengevaluasi rencana produksi agregat (Sub-CPMK 7):
Capaian 1 — Konsep & Posisi
C1
Menjelaskan definisi, horizon waktu, dan posisi perencanaan agregat dalam hierarki perencanaan produksi.
Capaian 2 — Variabel & Biaya
C2
Mengidentifikasi variabel keputusan (tenaga kerja, lembur, subkontrak) dan biaya relevan perencanaan agregat.
Capaian 3 — Hitung Chase & Level
C3
Menghitung total biaya strategi chase dan strategi level dari satu set data peramalan permintaan.
Capaian 4 — Evaluasi & Rekomendasi
C4
Membandingkan hasil kedua strategi dan merekomendasikan pilihan sesuai konteks bisnis nyata.
Dari Peramalan (P3) ke Perencanaan Agregat (P8)
Peramalan permintaan yang Anda pelajari di Pertemuan 3 bukan tujuan akhir — ia adalah input bagi keputusan perencanaan produksi yang kita bahas hari ini.
Alur logis: ramalan memberi angka permintaan per bulan → perencanaan agregat menentukan berapa diproduksi & berapa pekerja → keputusan persediaan & MRP menentukan kapan dan berapa banyak dipesan di level komponen.
Apa itu Perencanaan Produksi Agregat?
Perencanaan produksi agregat (aggregate production planning) adalah proses menentukan tingkat produksi, tenaga kerja, dan persediaan untuk horizon menengah (3–18 bulan), dihitung dalam satuan agregat — unit umum per famili produk, bukan per SKU individual.
Agregat artinya angka digabung: "sepatu" bukan "sepatu kulit hitam ukuran 42", "AMDK" (air minum dalam kemasan) bukan "botol 600ml rasa lemon". Detail per-SKU baru dipecah di tahap MPS & MRP.
Bagian 1 dari 3
Elemen Dasar Perencanaan Agregat
Input, variabel keputusan, dan biaya relevan — fondasi sebelum memilih strategi.
Input PeramalanVariabel KeputusanBiaya Relevan
Input Utama: Permintaan Teragregasi dari Peramalan
Perencanaan agregat dimulai dari angka ramalan permintaan per bulan yang sudah dijumlahkan lintas produk dalam satu famili — hasil metode yang Anda pelajari di Pertemuan 3 (SMA, WMA, exponential smoothing, trend projection).
Bulan
Ramalan Permintaan (unit)
Sumber
1
900
Exponential smoothing, P3
2
1.100
Exponential smoothing, P3
3
1.500
Exponential smoothing, P3
4
1.700
Exponential smoothing, P3
5
1.100
Exponential smoothing, P3
6
900
Exponential smoothing, P3
Data ramalan enam bulan ini akan menjadi kasus dasar yang kita pakai berulang kali sepanjang pertemuan hari ini.
Delapan Opsi Keputusan Manajer Operasi
Untuk menyeimbangkan kapasitas dengan permintaan, manajer bisa mengubah sisi kapasitas atau sisi permintaan — sendiri-sendiri atau dikombinasikan.
Opsi Sisi Kapasitas (Reaktif)
Hiring/firing — rekrut atau berhentikan pekerja.
Lembur/overtime & jam kerja lebih pendek.
Tenaga kerja part-time/paruh waktu.
Subkontrak — alihkan sebagian produksi ke pihak lain.
Persediaan sebagai buffer (produksi di muka).
Opsi Sisi Permintaan (Proaktif)
Harga & promosi — geser permintaan ke periode sepi.
Setiap opsi keputusan pada slide sebelumnya memicu biaya berbeda. Total biaya kelima kategori inilah yang dibandingkan antar-strategi.
Kategori Biaya
Definisi Singkat
Contoh Pemicu
Biaya dasar produksi
Biaya per unit pada jam kerja normal
Bahan baku, upah reguler
Biaya rekrut/PHK
Muncul saat tenaga kerja diubah
Hiring cost & firing cost
Biaya lembur
Premi di atas upah reguler
Jam lembur, tarif 1,5× upah normal
Biaya persediaan
Holding cost — menyimpan stok
Gudang, asuransi, modal tertahan
Biaya kekurangan/subkontrak
Akibat tak mampu penuhi permintaan
Backorder cost, biaya subkontrak
Bagian 2 dari 3
Strategi Murni: Chase vs Level
Dua filosofi berlawanan dalam menyeimbangkan kapasitas dan permintaan.
Chase StrategyLevel StrategyStrategi Campuran
Strategi Chase: Produksi Mengejar Permintaan
Chase strategy menyesuaikan tingkat produksi (dan tenaga kerja) persis mengikuti ramalan permintaan tiap periode — naik saat permintaan naik, turun saat permintaan turun.
Garis produksi (tebal) menempel persis pada tinggi batang permintaan — tanpa stok berlebih/kurang, tapi pekerja naik-turun tiap bulan.
Konsekuensi: nyaris tanpa biaya persediaan/backorder, tapi biaya rekrut & PHK tinggi serta risiko turunnya moral & kualitas kerja akibat tenaga kerja yang terus berganti.
Strategi Level: Produksi Tetap Stabil
Level strategy menjaga tingkat produksi konstan (biasanya = rata-rata permintaan) sepanjang horizon; persediaan menumpuk saat permintaan rendah, backorder terjadi saat permintaan tinggi.
Garis putus-putus = produksi konstan. Batang di bawah garis → persediaan menumpuk; batang di atas garis → backorder (pesanan tertunda).
Konsekuensi: tenaga kerja & biaya rekrut/PHK stabil, tapi menanggung biaya persediaan dan/atau biaya kekurangan (backorder).
Strategi Campuran (Mixed/Hybrid)
Dalam praktik, hampir semua perusahaan memakai kombinasi chase dan level — sedikit perubahan tenaga kerja, sedikit lembur, sedikit persediaan, sedikit subkontrak — disesuaikan dengan struktur biaya masing-masing.
Kita pakai data ramalan dari Slide 6, ditambah asumsi biaya berikut untuk kedua strategi:
Produktivitas & Biaya Tenaga Kerja
1 pekerja = 20 unit/bulan
Biaya rekrut = Rp 500.000/pekerja
Biaya PHK = Rp 750.000/pekerja
Biaya Persediaan & Backorder
Biaya simpan = Rp 50.000/unit/bulan
Biaya backorder = Rp 100.000/unit/bulan
Total ramalan permintaan 6 bulan = 900+1.100+1.500+1.700+1.100+900 = 7.200 unit → rata-rata = 7.200 ÷ 6 = 1.200 unit/bulan (ini akan jadi tingkat produksi konstan strategi level).
Hitung dari Nol #1 — Total Biaya Strategi Chase
Produksi = permintaan tiap bulan → kebutuhan pekerja berubah tiap bulan mengikuti Slide 6.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kebutuhan pekerja B1–B6 (unit ÷ 20)
900,1.100,1.500,1.700,1.100,900 ÷ 20
45, 55, 75, 85, 55, 45 pekerja
Total perekrutan (kenaikan antar-bulan)
(55−45)+(75−55)+(85−75)
10+20+10 = 40 pekerja
Total pemberhentian (penurunan antar-bulan)
(85−55)+(55−45)
30+10 = 40 pekerja
Biaya rekrut total
40 × Rp 500.000
Rp 20.000.000
Biaya PHK total
40 × Rp 750.000
Rp 30.000.000
Total Biaya Chase
Rp 20.000.000 + Rp 30.000.000
Rp 50.000.000
Total Biaya Strategi Chase = Rp 50.000.000
Hitung dari Nol #2 — Total Biaya Strategi Level
Produksi konstan 1.200 unit/bulan (60 pekerja tetap) → selisih terhadap permintaan menjadi persediaan/backorder.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Pekerja tetap dibutuhkan
1.200 ÷ 20
60 pekerja (konstan, tanpa rekrut/PHK)
Persediaan akhir kumulatif B1–B6 (produksi−permintaan, berjalan)
+300, +400, +100, −400, −300, 0
Puncak stok +400, defisit terbesar −400
Total unit-bulan persediaan positif (B1–B3)
300+400+100
800 unit-bulan
Total unit-bulan backorder (B4–B5)
400+300
700 unit-bulan
Biaya simpan total
800 × Rp 50.000
Rp 40.000.000
Biaya backorder total
700 × Rp 100.000
Rp 70.000.000
Total Biaya Level
Rp 40.000.000 + Rp 70.000.000
Rp 110.000.000
Total Biaya Strategi Level = Rp 110.000.000
Perbandingan Hasil & Interpretasi
Strategi Chase
Rp 50 jt
Rekrut/PHK 40 pekerja tiap arah
Strategi Level
Rp 110 jt
Simpan Rp 40 jt + backorder Rp 70 jt
Untuk kasus ini, chase lebih murah — sebab biaya backorder diasumsikan mahal (Rp 100.000/unit) relatif terhadap biaya rekrut/PHK (Rp 500.000–750.000/pekerja, tiap pekerja = 20 unit).
Hasil bukan aturan universal: naikkan biaya PHK atau turunkan biaya backorder → kesimpulan bisa berbalik ke level. Selalu hitung ulang dengan asumsi biaya perusahaan Anda sendiri.
Coba Sendiri: Uji Ulang Chase vs Level dengan Asumsi Anda
Ubah biaya rekrut/PHK dan biaya simpan/backorder untuk melihat apakah kesimpulan chase-lebih-murah tetap bertahan.
Studi Kasus: Konveksi Baju Lebaran, Kabupaten Pekalongan
Sebuah UMKM konveksi memproduksi baju muslim dengan permintaan yang melonjak drastis menjelang Ramadan lalu anjlok sesudahnya — pola musiman ekstrem, mirip data kasus kita.
Kain & baju jadi tahan simpan (bukan produk segar).
Konsumen tidak toleran terhadap keterlambatan (baju harus siap sebelum Lebaran).
Implikasi Strategi
Kombinasi level untuk tenaga kerja inti (penjahit tetap, sulit dilatih mendadak) + produksi di muka beberapa bulan sebelum Ramadan agar stok siap tanpa perlu backorder saat puncak.
Karena backorder tidak dapat diterima pada produk musiman berbatas waktu (baju Lebaran tak berguna dijual sesudahnya), strategi realistis di sini adalah level + persediaan di muka, bukan level dengan backorder murni seperti Slide 17.
Latihan Kelas & Ringkasan Pertemuan
Instruksi Latihan (10 menit, berpasangan)
Ganti data ramalan Slide 6 dengan ramalan permintaan produk Anda sendiri (tugas kelompok/UTS) atau contoh musiman lain (parcel Natal, tiket mudik).
Hitung ulang total biaya chase dan total biaya level memakai format tabel Slide 16–17.
Tentukan strategi mana yang direkomendasikan — sertakan alasan biaya dan alasan non-biaya (karakteristik produk, toleransi pelanggan).
Ringkasan poin kunci: perencanaan agregat menerjemahkan ramalan (P3) menjadi rencana produksi & tenaga kerja • chase = biaya rekrut/PHK tinggi, persediaan nyaris nol • level = tenaga kerja stabil, biaya simpan/backorder yang menanggung fluktuasi • pilihan terbaik selalu bergantung asumsi biaya & karakteristik produk perusahaan.
Pertemuan 9 — Manajemen Persediaan: setelah rencana agregat ditetapkan, kita masuk ke level lebih rinci — EOQ, ROP, safety stock, dan klasifikasi ABC untuk mengelola persediaan item per item.