Rata-rata bergerak (moving average), exponential smoothing, pola tren, dan cara mengukur ketepatan ramalan lewat MAD, MSE, MAPE. Peramalan permintaan = memperkirakan jumlah barang/jasa yang akan diminta pasar di masa depan.
RPS minggu 3 • 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda mampu menyusun dan mengevaluasi ramalan permintaan dengan metode time-series (Sub-CPMK 3).
CAPAIAN 1 · RATA-RATA
SMA & WMA
Menghitung ramalan dengan Simple Moving Average dan Weighted Moving Average dari data historis.
CAPAIAN 2 · PEMULUSAN
α
Menerapkan exponential smoothing dan memilih konstanta pemulusan α (alpha) yang tepat.
CAPAIAN 3 · TREN
POLA
Mengenali pola tren, musiman, siklus, acak dalam data permintaan dan menyesuaikan metode peramalan.
CAPAIAN 4 · AKURASI
MAD/MSE/MAPE
Menghitung MAD, MSE, MAPE untuk mengukur dan membandingkan ketepatan beberapa metode ramalan.
Mengapa Peramalan adalah "Titik Nol" Manajemen Operasi?
Hampir semua keputusan operasi bergantung pada ramalan permintaan — kapasitas, persediaan, jadwal produksi, bahkan perekrutan karyawan. Tiga kasus nyata:
RITEL · INDOMARET
STOK LEBARAN
Ramalan permintaan sirup & kue kering terlalu rendah menjelang Lebaran → rak kosong, omzet hilang.
E-COMMERCE · TOKOPEDIA
GUDANG PENUH
Ramalan terlalu tinggi pada kampanye 12.12 → gudang overstock, biaya simpan membengkak.
UMKM · BAKERY
ROTI BASI
Toko roti tanpa metode ramalan → produksi asal tebak, roti sisa basi & terbuang tiap hari.
Ketiga kasus ini punya akar masalah sama: tidak ada metode ramalan sistematis. Hari ini Anda belajar menggantinya dengan angka yang bisa dipertanggungjawabkan.
Bagian 1 dari 3
Dasar Peramalan & Pola Permintaan
Sebelum menghitung, kita kenali dulu jenis peramalan menurut horizon waktu, dan empat pola dasar yang bisa muncul dalam data permintaan.
Horizon Waktu4 Pola Data
Jenis Peramalan Menurut Horizon Waktu
Pilihan metode peramalan selalu bergantung pada rentang waktu yang diramal. Tiga horizon utama:
TIGA HORIZON PERAMALAN
PENDEK
jadwal produksi & belanja bahan
Fokus pertemuan hari ini — metode kuantitatif time-series.
MENENGAH
perencanaan agregat (P8)
Input untuk strategi chase vs level di Pertemuan 8.
PANJANG
lokasi & kapasitas pabrik
Biasanya kualitatif — pendapat ahli, riset pasar.
Empat Pola Dasar dalam Data Permintaan
Sebelum memilih metode, kenali dulu bentuk pola data historis Anda. Empat pola yang paling sering muncul:
EMPAT POLA — GRAFIK PERMINTAAN vs WAKTU
Contoh Indonesia: tren = pertumbuhan pengguna dompet digital tahunan; musiman = lonjakan penjualan sirup tiap Ramadan; siklus = naik-turun penjualan properti mengikuti siklus ekonomi; acak = lonjakan mendadak akibat viral media sosial.
Rata-rata Bergerak Sederhana (Simple Moving Average)
SMA meramal periode berikutnya sebagai rata-rata dari n periode terakhir — metode paling sederhana untuk data tanpa tren kuat.
Ft₊₁ = (Aₜ + Aₜ₋₁ + … + Aₜ₋ₙ₋₁) ÷ n
MAKNA SIMBOL
Ft₊₁ & At
Ft₊₁ = ramalan periode depan. At = permintaan aktual periode t. n = jumlah periode yang dirata-ratakan.
SIFAT n
n KECIL vs BESAR
n kecil (mis. 3) → lebih responsif terhadap perubahan terbaru. n besar → lebih halus, tapi lambat bereaksi.
SMA memberi bobot sama ke semua periode dalam jendela n — kelemahannya, ia tidak membedakan data minggu lalu dengan data bulan lalu.
Hitung dari Nol: Ramalan SMA 3-Bulan
Data permintaan roti UMKM "Kenanga" (unit/bulan). Kita ramalkan April–Juli dengan rata-rata 3 bulan terakhir.
DATA AKTUAL — JAN–JUN
Bulan
Permintaan (unit)
Januari
120
Februari
132
Maret
126
April
138
Mei
130
Juni
144
RAMALAN SMA(3)
Langkah
Perhitungan
Nilai
F-April
(120+132+126) ÷ 3
126
F-Mei
(132+126+138) ÷ 3
132
F-Juni
(126+138+130) ÷ 3
131,33
F-Juli
(138+130+144) ÷ 3
137,33
Ramalan Juli ≈ 137,33 unit — jendela 3 bulan bergeser maju tiap kali kita punya data baru, sehingga disebut "bergerak" (moving).
Rata-rata Bergerak Tertimbang (Weighted Moving Average)
WMA memperbaiki kelemahan SMA dengan memberi bobot lebih besar ke data terbaru — lebih realistis karena kondisi pasar terkini lebih relevan.
Ft₊₁ = ∑(wₜ × Aₜ) ÷ ∑wₜ
ATURAN BOBOT
wₜ ↑
Bobot w harus dijumlahkan = 1 (atau dinormalisasi). Periode paling baru diberi bobot paling besar.
CONTOH BOBOT 3 PERIODE
3–2–1
Bulan terbaru bobot 3, dua bulan lalu bobot 2, tiga bulan lalu bobot 1. Total bobot = 6.
WMA lebih responsif terhadap perubahan terbaru dibanding SMA — cocok saat pasar bergerak cepat, misalnya tren belanja daring menjelang kampanye diskon.
Hitung dari Nol: Ramalan WMA dengan Bobot 3–2–1
Data yang sama dengan slide sebelumnya. Bobot: bulan terbaru ×3, dua bulan lalu ×2, tiga bulan lalu ×1 (total bobot 6).
RAMALAN WMA(3–2–1)
Langkah
Perhitungan
Nilai
F-April
(3×126+2×132+120) ÷ 6
127
F-Mei
(3×138+2×126+132) ÷ 6
133
F-Juni
(3×130+2×138+126) ÷ 6
132
F-Juli
(3×144+2×130+138) ÷ 6
138,33
BANDINGKAN DENGAN SMA
WMA > SMA
F-Juli WMA = 138,33 vs SMA = 137,33. WMA sedikit lebih tinggi karena Juni (144, bulan terbaru) dibobot ×3 — lebih peka terhadap lonjakan terbaru.
Coba Sendiri: Bandingkan SMA dan WMA Langsung
Ubah deret data permintaan dan bobot periode untuk melihat bagaimana SMA dan WMA menghasilkan ramalan yang berbeda pada data yang sama.
Bagian 2 dari 3
Exponential Smoothing & Tren
Metode yang lebih hemat data daripada rata-rata bergerak — hanya butuh ramalan terakhir dan satu konstanta pemulusan α (alpha).
Konstanta αPemulusan Ganda + Tren
Exponential Smoothing: Ramalan dari Satu Angka Sebelumnya
Exponential smoothing memperbarui ramalan dengan mengoreksi ramalan lama memakai sebagian kesalahan (error) periode terakhir.
Ft₊₁ = Ft + α (At − Ft)
MAKNA α (ALPHA)
0 < α < 1
α besar (mis. 0,7) = ramalan sangat responsif, cocok pasar bergejolak. α kecil (mis. 0,1) = ramalan halus & stabil, cocok data relatif tenang.
KEUNTUNGAN UTAMA
HEMAT DATA
Hanya butuh Ft (ramalan terakhir) dan At (aktual terakhir) — tidak perlu simpan seluruh riwayat seperti SMA/WMA.
Istilah "eksponensial" muncul karena bobot data lama meluruh secara eksponensial — data terbaru selalu paling berpengaruh, tanpa harus menentukan jendela n secara manual.
Hitung dari Nol: Exponential Smoothing dengan α = 0,3
Ramalan awal F-Januari = aktual Januari = 120. Kita perbarui ramalan bulan demi bulan dengan rumus Ft₊₁ = Ft + α(At−Ft).
PEMBARUAN RAMALAN — α = 0,3
Langkah
Perhitungan
Nilai
F-Februari
120 + 0,3×(120−120)
120
F-Maret
120 + 0,3×(132−120)
123,6
F-April
123,6 + 0,3×(126−123,6)
124,32
F-Mei
124,32 + 0,3×(138−124,32)
128,42
Ramalan bergerak perlahan mendekati aktual (120→128,42) — semakin besar α, semakin cepat ramalan mengejar perubahan aktual.
Exponential Smoothing dengan Tren (Metode Holt)
Exponential smoothing dasar selalu tertinggal saat data punya tren naik/turun terus-menerus. Solusinya: pemulusan ganda (Holt's method) — melacak level DAN tren sekaligus.
FITt = Ft + Tt | Ft = αAt + (1−α)(Ft−1+Tt−1) | Tt = β(Ft−Ft−1) + (1−β)Tt−1
LANGKAH 1 · PERBARUI LEVEL
Ft
Sama seperti exponential smoothing biasa, tapi ditambah estimasi tren periode lalu (Ft−1+Tt−1) sebagai basis, bukan Ft−1 saja.
LANGKAH 2 · PERBARUI TREN
Tt
Konstanta β (beta) memuluskan perubahan level (Ft−Ft−1) menjadi estimasi tren baru — mirip logika α, tapi untuk arah kemiringan data.
FITt (Forecast Including Trend) = level ditambah tren — inilah ramalan akhir yang dipakai, bukan Ft saja.
Hitung ramalan Juni dengan SMA 3-bulan (pakai Mar, Apr, Mei).
Hitung ramalan Juni dengan WMA bobot 3–2–1.
Bandingkan: metode mana yang memberi angka lebih tinggi? Mengapa?
PETUNJUK
CEK ULANG
Gunakan rumus slide 7 & 9. Tulis jawaban di kertas, kita bahas bersama sebelum lanjut ke Bagian 3.
Bagian 3 dari 3
Mengukur Akurasi Peramalan
Meramal tanpa mengukur kesalahan sama saja menembak dalam gelap. Kita pelajari tiga ukuran akurasi standar: MAD, MSE, MAPE.
MADMSEMAPE
Tiga Ukuran Akurasi: MAD, MSE, MAPE
Ketiganya berangkat dari error (kesalahan) = Aktual − Ramalan, hanya diolah dengan cara berbeda.
MAD
Σ|error| ÷ n
Mean Absolute Deviation
Rata-rata nilai mutlak kesalahan. Satuannya sama dengan data (unit).
MSE
Σerror² ÷ n
Mean Squared Error
Rata-rata error dikuadratkan — menghukum kesalahan besar jauh lebih berat.
MAPE
Σ(|error|/At) ×100%
Mean Absolute Percentage Error
Kesalahan dalam persentase — bisa dibandingkan antar-produk beda skala.
Metode dengan MAD/MSE/MAPE terkecil = paling akurat untuk data historis tersebut. MAPE paling sering dipakai karena mudah diinterpretasi ("rata-rata meleset 7%").
Hitung dari Nol: MAD, MSE, MAPE dari Ramalan SMA
Bandingkan ramalan SMA (slide 8) dengan aktual sesungguhnya. Data Juli aktual baru masuk: 150 unit.
AKTUAL vs RAMALAN SMA
Bulan
Aktual
Ramalan
April
138
126
Mei
130
132
Juni
144
131,33
Juli
150
137,33
HITUNG UKURAN AKURASI
Langkah
Perhitungan
Nilai
|error| tiap bulan
12; 2; 12,67; 12,67
—
MAD
(12+2+12,67+12,67) ÷ 4
9,83
MSE
(144+4+160,45+160,45) ÷ 4
117,23
MAPE
rata-rata(|error|/At)×100%
6,87%
Ramalan SMA meleset rata-rata ≈6,87% dari aktual — cukup akurat untuk keputusan operasional harian.
Ubah nilai α dan data aktual untuk melihat bagaimana ramalan exponential smoothing bergerak, lalu bandingkan MAD, MSE, dan MAPE-nya.
Kapan Pakai Metode Apa?
Tidak ada metode "terbaik" mutlak — pilihan bergantung pada pola data dan seberapa cepat pasar berubah.
DATA STABIL, TANPA TREN
SMA
Permintaan relatif datar, fluktuasi kecil & acak. Sederhana & cukup akurat.
PASAR BERGERAK CEPAT
WMA / ES α besar
Kampanye diskon, tren viral. Butuh ramalan yang cepat bereaksi ke data terbaru.
ADA TREN JELAS
HOLT (ES+Tren)
Pertumbuhan pengguna aplikasi, ekspansi bisnis. SMA/WMA/ES biasa akan selalu tertinggal.
Cara memastikan pilihan: hitung MAPE beberapa metode pada data historis yang sama, lalu pilih yang MAPE-nya paling kecil — bukan menebak dari "feeling".
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Hari ini Anda sudah menguasai tiga metode ramalan dan tiga ukuran akurasi — fondasi bagi hampir seluruh keputusan operasi berikutnya.
EMPAT TAKEAWAY UTAMA
SMA & WMA — rata-rata dari n periode terakhir, WMA lebih responsif.