‹ Daftar slidePertemuan 2: Perencanaan Kebutuhan Material (MRP)
Program Studi Manajemen • FEB
Manajemen Operasi II
Pertemuan 2 — Perencanaan Kebutuhan Material (MRP)
Mempelajari bagaimana memastikan material yang tepat tersedia pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat, agar produksi berjalan tanpa hambatan.
RPS MINGGU 2 • SUB-CPMK 2 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu memahami dan mempraktikkan perhitungan Material Requirements Planning (MRP).
CAPAIAN 1 — KONSEP DASAR
DEPENDENT DEMAND
Membedakan antara permintaan dependen vs independen, dan mengapa MRP sangat krusial untuk dependent demand.
CAPAIAN 2 — INPUT UTAMA
KOMPONEN MRP
Menjelaskan tiga pilar MRP: Jadwal Induk Produksi (MPS), Bill of Materials (BOM), dan Catatan Persediaan.
CAPAIAN 3 — KALKULASI MRP
LOGIKA MRP
Menghitung Kebutuhan Bersih (Net Requirements) dan merencanakan waktu rilis pesanan (Planned Order Releases).
CAPAIAN 4 — LOT SIZING
UKURAN PESANAN
Menerapkan berbagai teknik lot-sizing seperti Lot-for-Lot (L4L) dan melihat dampaknya terhadap efisiensi.
Pabrik Mobil Berhenti Karena Kekurangan 1 Baut?
Bayangkan Anda mengelola pabrik perakitan mobil. Pesanan mobil bulan ini adalah 1.000 unit.
SKENARIO TANPA MRP
CHAOS & STOCKOUT
Anda punya mesin, kaca, kursi, dan ban. Tapi di hari perakitan, ternyata stok baut roda kurang 500 buah. Seluruh lini perakitan mobil senilai ratusan miliar terhenti total.
SKENARIO DENGAN MRP
SINKRONISASI SEMPURNA
Sistem sudah menghitung mundur kapan setiap komponen harus dipesan berdasarkan lead time. Baut dipesan 2 minggu lalu dan tiba tepat saat mobil siap dipasang ban.
MRP adalah alat penjadwalan yang menjawab pertanyaan: Apa yang kita butuhkan? Berapa banyak? dan Kapan kita membutuhkannya?
Bagian 1 dari 4
Konsep Dasar MRP
Memahami fondasi pemikiran Material Requirements Planning dan mengapa ia berbeda dari manajemen persediaan tradisional.
DefinisiDependent Demand
Apa itu Material Requirements Planning (MRP)?
MRP adalah sistem informasi terkomputerisasi yang dikembangkan secara spesifik untuk mengelola persediaan yang memiliki permintaan dependen (dependent demand).
PERTANYAAN 1
WHAT?
Material atau komponen apa yang dibutuhkan untuk merakit produk akhir?
PERTANYAAN 2
HOW MANY?
Berapa banyak kuantitas dari tiap material tersebut yang dibutuhkan?
PERTANYAAN 3
WHEN?
Kapan tepatnya material tersebut harus dipesan atau diproduksi agar siap dipakai?
Fungsi utama MRP bukan hanya mengelola stok, tetapi merencanakan jadwal (scheduling).
Permintaan Dependen vs Independen
Perbedaan ini adalah kunci mengapa kita butuh MRP. Metode persediaan tradisional (seperti EOQ/Reorder Point) dipakai untuk Independen, MRP dipakai untuk Dependen.
INDEPENDENT DEMAND
Definisi: Permintaan atas barang yang tidak terkait dengan permintaan barang lain.
Sifat: Dipengaruhi pasar, tidak pasti, butuh peramalan (forecasting).
Contoh: Permintaan sepeda utuh oleh konsumen di toko.
DEPENDENT DEMAND
Definisi: Permintaan atas barang yang diturunkan langsung dari permintaan barang lain (produk induk).
Sifat: Pasti & bisa dihitung matematis, tidak perlu diramal!
Contoh: Permintaan roda sepeda. Jika ingin merakit 100 sepeda, pasti butuh persis 200 roda.
Mengapa Perusahaan Menggunakan MRP?
MANFAAT IMPLEMENTASI MRP YANG SUKSES
Keuntungan
Dampak Nyata (Berdasarkan Studi Kasus)
Penurunan Tingkat Persediaan
Mengurangi safety stock yang tidak perlu. Uang tidak tertahan di gudang sebagai barang mati. Biaya simpan turun 10-20%.
Pengurangan Waktu Henti (Downtime)
Mencegah mesin berhenti karena menunggu bahan baku (material shortage).
Peningkatan On-Time Delivery
Lead time pesanan pelanggan lebih dapat diandalkan karena jadwal manufaktur lebih akurat.
Visibilitas Data
Bagian produksi, gudang, dan pembelian (purchasing) melihat satu data yang sama.
Dari pabrik farmasi hingga garmen, studi kasus menunjukkan transisi dari MS Excel ke software MRP mempercepat siklus kerja secara drastis.
Bagian 2 dari 4
Tiga Input Utama MRP
Sebuah sistem MRP tidak bisa bekerja tanpa tiga set data yang mutlak harus ada dan harus akurat.
MPSBOMInventory Records
Anatomi Sistem MRP
Sistem perangkat lunak MRP menerima 3 input, memproses dengan logika matematis, lalu menghasilkan rencana dan laporan aksi.
1. Master Production Schedule (MPS)
2. Bill of Materials (BOM)
3. Inventory Records
→
Program Komputer MRP
→
Planned Order Schedules (Jadwal Rilis Pesanan)
Laporan Eksepsi & Kinerja
Input 1: Master Production Schedule (MPS)
Jadwal Induk Produksi (MPS) menjawab: Produk akhir apa yang akan dibuat, berapa banyak, dan kapan produk itu harus selesai?
KETERANGAN MPS
Berasal dari pesanan pasti pelanggan + hasil peramalan penjualan (forecasting).
Harus spesifik: bukan "membuat kursi", tapi "membuat Kursi Tipe A sebanyak 500 unit di minggu ke-4".
Menjadi pemicu (trigger) bergeraknya seluruh sistem MRP.
ILUSTRASI MPS (Produk: Meja Belajar)
Minggu Ke-
1
2
3
4
5
Kuantitas
100
-
250
-
150
Input 2: Bill of Materials (BOM)
BOM (Daftar Kebutuhan Material) adalah "resep" dari produk. Dokumen yang berisi daftar semua komponen, rakitan bagian (subassemblies), dan bahan baku.
BOM SEBAGAI POHON STRUKTUR PRODUK
Sepeda (A) Level 0
│
├── Roda (B) [Butuh: 2] Level 1
│ ├── Ban Karet (C) [Butuh: 1] Level 2
│ └── Velg (D) [Butuh: 1] Level 2
│
└── Rangka (E) [Butuh: 1] Level 1
LEVELING DALAM BOM
LEDAKAN KOMPONEN
Produk akhir selalu berada di Level 0. Komponen pembentuknya di Level 1, dan sub-komponennya di Level 2, dst. Proses memecah produk ke level bawahnya disebut explosion.
Jika BOM tidak akurat 100%, sistem akan salah memesan komponen! BOM salah satu penyebab utama kegagalan implementasi ERP/MRP di dunia nyata.
Input 3: Rekam Persediaan (Inventory Records)
Sistem harus tahu: Apa yang kita punya sekarang di gudang? Dan berapa lama barang datang kalau kita pesan (Lead Time)?
KOMPONEN INVENTORY RECORDS
On-Hand (Persediaan di tangan): Stok yang saat ini secara fisik ada dan siap dipakai.
Scheduled Receipts: Pesanan yang sudah dipesan minggu lalu, dan dijadwalkan tiba di masa depan (sudah di jalan).
Lead Time: Waktu tunggu sejak pesanan dirilis hingga barang tiba dan siap dipakai.
DATA INTEGRITY
AKURASI 99%
Pencatatan gudang harus hampir sempurna. Jika komputer mencatat ada 50 velg, tetapi di gudang fisik velgnya berkarat atau hilang, hitungan MRP berikutnya akan kacau dan produksi bisa terhenti.
Bagian 3 dari 4
Mekanisme Kalkulasi MRP
Inilah jantung perhitungannya. Memahami proses dari Gross Requirements hingga Planned Order Releases untuk tiap item.
GrossNetOffsetting
Logika Dasar Perhitungan (Netting)
Untuk setiap periode (minggu), kita menghitung kebutuhan nyata (bersih) dengan rumus sederhana ini:
Net Requirement = Gross Requirement − (On-Hand + Scheduled Receipts)
GROSS REQUIREMENT
KEBUTUHAN KOTOR
Berapa total yang kita butuhkan minggu ini? (Diperoleh dari MPS atau turunan komponen dari atasnya).
PERSEDIAAN TERSEDIA
STOK & KIRIMAN
Berapa yang sudah kita pegang di gudang (On-hand) ditambah kiriman yang dijadwalkan tiba minggu ini?
NET REQUIREMENT
KEBUTUHAN BERSIH
Berapa "kekurangannya"? Jika angkanya negatif/nol, berarti stok cukup, Net = 0. Jika positif, ini yang harus dibuat/dibeli!
Bentuk Baku Tabel MRP
Dalam ujian, Anda akan mengisi tabel ini. Pemahaman tiap baris sangat penting.
ITEM: KOMPONEN X | LEAD TIME = 2 MINGGU
Periode (Minggu)
1
2
3
4
5
Gross Requirements (Kebutuhan Kotor)
-
-
-
-
-
Scheduled Receipts (Penerimaan Terjadwal)
-
-
-
-
-
Projected On-Hand (Sisa Persediaan)
-
-
-
-
-
Net Requirements (Kebutuhan Bersih)
-
-
-
-
-
Planned Order Receipts (Rencana Penerimaan)
-
-
-
-
-
Planned Order Releases (Rencana Pelepasan Order)
-
-
-
-
-
Aturan Emas:Planned Order Release = Planned Order Receipt (atau Net Requirement, tergantung ukuran Lot), digeser maju (mundur waktu) sebesar Lead Time. Ini disebut proses Offsetting.
Contoh Kasus: Perhitungan Baris MRP (L4L)
Item: C. Lead time = 1 minggu. Stok On-Hand Awal = 20. Teknik lot: Lot-for-Lot (pesan persis sesuai kebutuhan).
Minggu
1
2
3
4
Gross Requirements
0
50
0
40
Scheduled Receipts
0
10
0
0
Projected On-Hand (Awal=20)
20
0
0
0
Net Requirements
0
20
0
40
Planned Order Receipts
0
20
0
40
Planned Order Releases
20
0
40
0
Penjelasan Minggu 2: Butuh 50. Di gudang ada 20 dari M1. Ada kiriman datang (SR) = 10. Tersedia = 30. Kurangnya (Net) = 50 - 30 = 20. Karena Lot-for-Lot, kita terima pesanan (PORc) = 20. Karena Lead time = 1 minggu, maka pesanan harus dirilis (PORel) pada Minggu 1.
Coba Sendiri: Susun Tabel MRP dan Lacak Jadwal Mundur
Ubah Gross Requirement, On-Hand awal, dan Lead Time, lalu amati bagaimana Net Requirement dan Planned Order Release bergeser mundur otomatis.
Bagian 4 dari 4
Teknik Lot-Sizing & Kesimpulan
Ketika net requirement sudah ketahuan, berapa banyak yang sebenarnya harus kita pesan? Mari berkenalan dengan Lot Sizing.
Lot-for-LotEOQPOQ
Pilihan Teknik Lot-Sizing dalam MRP
TEKNIK 1
LOT-FOR-LOT (L4L)
Pesan persis sebanyak kebutuhan bersih.
Biaya simpan (holding cost) mendekati nol, tapi biaya pemesanan sangat tinggi karena terlalu sering pesan. Sesuai untuk sistem JIT.
TEKNIK 2
EOQ (Economic Order Qty)
Hitung rumus kuantitas optimal statistik.
Asumsinya permintaan konstan (padahal MRP itu berfluktuasi/lumpy demand). Jika EOQ=100 dan Net=20, kita tetap pesan 100.
TEKNIK 3
POQ (Periodic Order Qty)
Pesan untuk mengcover kebutuhan sekian periode.
Menggabungkan pesanan untuk mengurangi ongkos kirim/setup, sambil tetap menjaga sisa persediaan di akhir periode menjadi nol.
Manfaat vs Tantangan Implementasi
KEUNGGULAN MRP
Respons Cepat: Cepat beradaptasi terhadap perubahan pesanan atau jadwal MPS.
Level Stok Rendah: Mengeliminasi idle inventory, sehingga pemanfaatan modal perusahaan lebih efisien.
Siklus Cepat: Meningkatkan utilisasi fasilitas dan tenaga kerja karena mengurangi antrean mesin.
PERSYARATAN & TANTANGAN (GIGO)
Disiplin Komputer: Pegawai pabrik harus rajin menginput data setiap ada mutasi barang. Jika malas, sistem gagal.
Akurasi BOM Mutlak: Jika resepnya salah, yang dipesan sistem juga ikut salah.
Rigid (Kaku): Kurang fleksibel jika lead time supplier sering meleset atau tidak konsisten.
Sistem MRP tidak bisa menyelamatkan perusahaan yang datanya berantakan. Ia justru akan memperbesar skala dari data yang salah tersebut.
Ringkasan Pertemuan 2
TAKEAWAY 1
DEPENDENT DEMAND
MRP dirancang eksklusif untuk kebutuhan dependen. Komponen rakitan tidak di-forecasting, melainkan dihitung berdasarkan jadwal induk.
TAKEAWAY 2
TIGA INPUT SAKTI
Keberhasilan MRP bertumpu pada akurasi Master Production Schedule (MPS), Bill of Materials (BOM), dan Inventory Records.
TAKEAWAY 3
PLANNED ORDER RELEASE
Hasil akhir MRP adalah kapan dan berapa pesanan harus dirilis. Diperoleh dari: (Gross - Sisa Gudang) digeser mundur sebanyak Lead Time.