‹ Daftar slidePertemuan 2: Determinan Budaya (Determinants of Culture)
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Manajemen Lintas Budaya
Determinan Budaya
Pertemuan 2 · Determinants of Culture
Dari mana budaya sebuah bangsa terbentuk, dan mengapa manajer bisnis internasional wajib memahaminya sebelum menyusun strategi apa pun.
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan determinan budaya dan bagaimana masing-masing membentuk perilaku bisnis (Sub-CPMK minggu 2):
Capaian 1 — Definisi
①
Menjelaskan pengertian budaya dalam konteks bisnis internasional dan ciri-ciri utamanya.
Capaian 2 — Determinan
②
Mengidentifikasi enam determinan budaya utama: agama, bahasa, pendidikan, struktur sosial, nilai & sikap, serta sejarah/lingkungan fisik.
Capaian 3 — Analisis
③
Menganalisis keterkaitan tiap determinan dengan praktik manajemen & pemasaran di suatu negara.
Capaian 4 — Aplikasi
④
Menerapkan kerangka determinan budaya pada studi kasus perusahaan Indonesia riil yang beroperasi lintas negara.
Mengapa Manajer Wajib Paham Determinan Budaya?
Kegagalan bisnis internasional sering bukan soal produk atau harga, melainkan salah baca budaya. Tiga contoh nyata:
Kasus 1 — Ritel
🛒
Carrefour menyesuaikan jam buka toko di Indonesia saat Ramadan & menata rak khusus produk halal — mengikuti determinan agama.
Kasus 2 — Perbankan
🏦
BCA di Hong Kong melayani nasabah dalam Bahasa Inggris & Mandarin, bukan hanya Indonesia — menyesuaikan determinan bahasa.
Kasus 3 — UMKM
🛍️
UMKM binaan Tokopedia yang ekspor ke Malaysia perlu paham struktur sosial setempat sebelum memilih mitra distribusi.
Ketiga kasus ini menunjukkan pola yang sama: keputusan bisnis yang tepat selalu berakar pada pemahaman determinan budaya setempat — bukan asumsi dari negara asal.
Bagian 1 dari 3
Apa Itu Budaya dalam Bisnis Internasional?
Definisi budaya, ciri-cirinya sebagai sistem yang dipelajari & dibagikan bersama, serta mengapa budaya sulit berubah dengan cepat.
DefinisiCiri-ciriGunung Es
Definisi Budaya
Budaya adalah keseluruhan nilai, keyakinan, norma, kebiasaan, dan simbol yang dipelajari & dibagikan bersama oleh anggota suatu masyarakat, yang membentuk cara mereka berpikir & berperilaku, termasuk dalam berbisnis.
Budaya bukan bawaan biologis — ia diwariskan lewat sosialisasi (keluarga, sekolah, komunitas), sehingga bisa dipelajari oleh orang luar meski butuh waktu & usaha.
Contoh Elemen Terlihat
👁️
Bahasa, pakaian, makanan, arsitektur, upacara adat — mudah diamati wisatawan atau ekspatriat baru.
Contoh Elemen Tersembunyi
🧠
Nilai kerja, konsep waktu, sikap terhadap hierarki & risiko — baru terasa setelah berinteraksi lama.
Metafora Gunung Es Budaya
Edward T. Hall menggambarkan budaya seperti gunung es: sebagian kecil terlihat di permukaan, sebagian besar tersembunyi di bawah.
Kesalahan bisnis internasional paling fatal justru terjadi di zona 90% tersembunyi — bagian yang tidak bisa dipelajari hanya dari brosur pariwisata.
Bagian 2 dari 3
Enam Determinan Pembentuk Budaya
Agama, bahasa, pendidikan, struktur sosial, nilai & sikap, serta sejarah/lingkungan fisik — enam kekuatan yang membentuk budaya sebuah bangsa.
AgamaBahasaPendidikanStruktur Sosial
Determinan 1 — Agama
Agama sering menjadi determinan paling kuat & paling terlihat dalam membentuk nilai, kebiasaan konsumsi, hingga jadwal kerja.
Pengaruh ke Konsumsi
🍽️
Sertifikasi halal di Indonesia, larangan alkohol di negara mayoritas Muslim, pantangan daging sapi di India (Hindu).
Pengaruh ke Jadwal Kerja
🕌
Jam istirahat salat Jumat, libur Nyepi di Bali, jam kerja lebih pendek saat Ramadan di banyak kantor Indonesia.
Pengaruh ke Etika Bisnis
🤝
Bank Syariah (BSI) tidak memakai bunga (riba) — struktur produk keuangan menyesuaikan prinsip agama.
Manajer yang abai determinan agama berisiko blunder besar: iklan yang menampilkan makanan saat jam puasa, atau jadwal rapat yang bentrok jam salat, bisa merusak hubungan bisnis.
Determinan 2 — Bahasa
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi — ia membentuk cara berpikir & menyimpan nilai budaya di dalam struktur & kosakatanya.
Bahasa Verbal
💬
Indonesia punya tingkatan bahasa (Jawa: ngoko-krama) yang mencerminkan nilai hierarki & kesopanan yang kuat.
Bahasa Nonverbal
🤲
Jarak bicara, kontak mata, bahasa tubuh berbeda makna: mengangguk di Bulgaria justru berarti "tidak".
Kesalahan penerjemahan slogan iklan lintas negara adalah kegagalan bisnis klasik akibat mengabaikan determinan bahasa — nuansa makna hilang atau berubah drastis saat diterjemahkan harfiah.
Contoh Indonesia: BCA mewajibkan staf relationship manager di Hong Kong fasih Bahasa Inggris & Mandarin — bukan hanya Bahasa Indonesia — karena bahasa adalah pintu masuk kepercayaan nasabah.
Walkthrough 1: Mendiagnosis Determinan dari Kasus
Latihan bertahap mengidentifikasi determinan budaya mana yang paling berperan dalam sebuah keputusan bisnis — ikuti logikanya:
Langkah
Pertanyaan Diagnostik
Kasus: "KFC Indonesia mencantumkan logo halal besar di kemasan & menu, dan tutup sebentar saat azan Magrib di beberapa gerai daerah"
1
Elemen budaya apa yang paling menonjol dalam kebijakan ini?
Kepatuhan pada aturan konsumsi & jadwal ibadah.
2
Determinan budaya mana yang paling relevan?
Agama — sertifikasi halal & penghormatan waktu ibadah.
3
Apakah ada determinan kedua yang ikut berperan?
Ya — bahasa label kemasan memakai Bahasa Indonesia formal, bukan hanya Inggris.
4
Kesimpulan strategi manajerial
Adaptasi ganda: agama (label halal & jam operasi) + bahasa (komunikasi lokal) — bukan strategi standar global KFC.
Perhatikan: satu keputusan bisnis sering dipengaruhi lebih dari satu determinan sekaligus — tugas Anda sebagai manajer adalah mengurai mana yang dominan.
Determinan 3 — Pendidikan
Sistem pendidikan membentuk keterampilan tenaga kerja, nilai kerja, dan cara berpikir kritis — menentukan apa yang bisa & tidak bisa dilakukan perusahaan di suatu negara.
Ketersediaan Talenta
🎓
Perusahaan teknologi (mis. startup binaan modal ventura di Jakarta) memilih lokasi kantor dekat kampus teknik unggulan.
Literasi & Melek Huruf
📖
Tingkat literasi memengaruhi desain kemasan & iklan — lebih banyak gambar/ikon di pasar literasi rendah.
Nilai yang Ditanamkan
🏫
Pendidikan formal menanamkan sikap terhadap otoritas, kompetisi, & kerja sama tim sejak usia dini.
Contoh Indonesia: ekspansi Gojek/GoTo ke Vietnam & Thailand mempertimbangkan tingkat literasi digital tenaga kerja lokal untuk merekrut mitra pengemudi & tim teknis.
Determinan 4 — Struktur Sosial
Struktur sosial menentukan bagaimana masyarakat terorganisasi: unit dasarnya, stratifikasi/kelas, mobilitas sosial, dan peran kelompok vs individu.
Individu vs Kelompok
👤 / 👥
Sebagian masyarakat menempatkan individu sebagai unit dasar (dominan di negara Barat); sebagian lain menempatkan keluarga/kelompok (dominan di banyak negara Asia & Timur Tengah).
Stratifikasi & Mobilitas
🪜
Seberapa mudah seseorang berpindah kelas sosial memengaruhi ambisi karier & loyalitas terhadap perusahaan.
Contoh Indonesia: keputusan bisnis UMKM keluarga sering melibatkan musyawarah anggota keluarga besar, bukan hanya pemilik tunggal — mencerminkan struktur sosial berbasis kelompok/keluarga.
Manajer ekspatriat yang berasumsi keputusan bisa diambil satu orang saja (gaya individualis) berisiko frustrasi bernegosiasi di masyarakat berbasis kelompok yang butuh konsensus keluarga/komunitas.
Bagian 3 dari 3
Nilai, Sikap, Sejarah & Lingkungan Fisik
Dua determinan terakhir — lalu bagaimana keenam determinan saling berinteraksi membentuk satu sistem budaya yang utuh.
Nilai & SikapSejarahInteraksi Sistem
Determinan 5 — Nilai & Sikap
Nilai adalah keyakinan mendasar tentang apa yang baik/benar; sikap adalah respons yang terbentuk dari nilai terhadap objek/situasi tertentu (waktu, uang, risiko, perubahan).
Sikap terhadap Waktu
⏱️
Monochronic (Jerman, Jepang: satu hal sekaligus, tepat waktu ketat) vs polychronic (Indonesia, Amerika Latin: fleksibel, banyak hal bersamaan).
Sikap terhadap Risiko
🎲
Masyarakat penghindar-ketidakpastian tinggi lebih suka aturan & prosedur baku dibanding improvisasi.
Sikap terhadap Perubahan
🔄
Sebagian masyarakat menghargai tradisi & stabilitas, sebagian lain merangkul inovasi & disrupsi cepat.
Istilah "jam karet" yang sering dilekatkan pada budaya rapat di Indonesia adalah contoh populer sikap polychronic terhadap waktu — bukan berarti tidak profesional, melainkan prioritas berbeda pada relasi vs jadwal.
Determinan 6 — Sejarah & Lingkungan Fisik
Sejarah (penjajahan, perang, migrasi) dan lingkungan fisik (geografi, iklim, sumber daya alam) menjadi latar belakang yang membentuk determinan lainnya.
Warisan Sejarah
📜
350 tahun kolonialisme Belanda meninggalkan jejak pada sistem hukum, birokrasi, & bahkan kosakata bisnis Indonesia (mis. istilah "kantor").
Lingkungan Fisik
🌋
Indonesia sebagai negara kepulauan & agraris tropis membentuk budaya gotong royong & ketergantungan pada musim tanam.
Sejarah & lingkungan fisik jarang berubah dalam satu generasi — inilah sebabnya budaya cenderung stabil dalam jangka pendek meski bisa bergeser perlahan lintas generasi.
Walkthrough 2: Budaya sebagai Sistem yang Saling Terkait
Latihan menelusuri bagaimana satu determinan memicu perubahan pada determinan lain — kasus urbanisasi di Indonesia:
Langkah
Perubahan yang Terjadi
Determinan yang Terdampak
1
Urbanisasi besar-besaran ke Jakarta & kota besar
Lingkungan fisik — dari desa agraris ke kota padat.
2
Keluarga inti menggantikan keluarga besar sebagai unit rumah tangga utama
Struktur sosial — bergeser ke arah lebih individualis.
3
Akses pendidikan tinggi & internet meningkat drastis
Pendidikan — literasi digital & keterampilan baru.
4
Sikap terhadap karier & waktu berubah (lebih monokronik, ambisius)
Nilai & sikap — dampak akhir dari rantai perubahan.
Kesimpulan: mengubah satu determinan (lingkungan fisik via urbanisasi) memicu efek berantai ke determinan lain — inilah mengapa budaya harus dianalisis sebagai sistem, bukan daftar faktor lepas.
Implikasi Manajerial: Mengapa Ini Penting bagi Manajer?
Memahami determinan budaya membantu manajer bisnis internasional dalam empat area keputusan kunci:
Riset Pasar & Produk
🔍
Menentukan atribut produk mana yang wajib diadaptasi (rasa, kemasan, sertifikasi) vs bisa distandardisasi.
Rekrutmen & SDM
👔
Merancang kebijakan SDM yang sesuai sikap lokal terhadap hierarki, waktu, & kerja kelompok.
Negosiasi Bisnis
🤝
Menyesuaikan gaya negosiasi — langsung vs tersirat, cepat vs butuh membangun relasi dulu.
Strategi Masuk Pasar
🚪
Memilih mitra lokal & skema kerja sama yang cocok dengan struktur sosial & nilai setempat.
Studi Kasus: Unilever Indonesia & Enam Determinan
Terapkan kerangka enam determinan pada satu perusahaan riil yang beroperasi puluhan tahun di Indonesia:
Agama & Bahasa
🕌💬
Produk (mis. Rinso, Sunsilk) bersertifikat halal & iklan berbahasa Indonesia dengan model lokal.
Struktur Sosial
👨👩👧👦
Iklan menonjolkan nilai keluarga besar & kebersamaan, bukan pencapaian individu semata.
Sejarah & Nilai
📜
Beroperasi sejak era kolonial (1933) — beradaptasi lintas rezim & pergeseran nilai generasi.
Perhatikan: Unilever tidak menerapkan satu formula global yang sama di semua negara — strategi Indonesia dibentuk oleh keenam determinan yang telah kita bahas hari ini.
Latihan Mandiri: Analisis Determinan Budaya
Kerjakan sebelum pertemuan berikutnya (akan dibahas sebagai pemanasan sebelum masuk kerangka Hofstede & GLOBE):
Instruksi Tugas
Pilih satu perusahaan Indonesia yang sudah beroperasi lintas negara (mis. Indomie, Erajaya, BCA, Kalbe Farma, atau lainnya).
Identifikasi minimal 3 dari 6 determinan budaya yang paling terlihat memengaruhi strategi bisnis perusahaan tersebut di negara tujuan.
Untuk tiap determinan, tuliskan bukti konkret (kutipan berita, gambar produk, kebijakan perusahaan) — bukan opini pribadi.
Tuliskan dalam maksimal 1 halaman, siap dipresentasikan singkat (2 menit) di awal pertemuan berikutnya.
Latihan ini adalah fondasi langsung untuk pertemuan berikutnya — kerangka Hofstede & GLOBE akan mengukur determinan-determinan ini secara lebih terstruktur & kuantitatif.
Ringkasan & Menuju Pertemuan 3
Yang Sudah Kita Pelajari
Budaya = nilai, keyakinan, norma & simbol yang dipelajari & dibagikan bersama.
Metafora gunung es: 90% budaya tersembunyi, bukan sekadar yang terlihat.
Enam determinan: agama, bahasa, pendidikan, struktur sosial, nilai & sikap, sejarah/lingkungan fisik.
Determinan saling terkait sebagai satu sistem, bukan daftar faktor lepas.
Preview Pertemuan 3
Dimensi Budaya Hofstede: 6 dimensi terukur (power distance, individualism, dst).
Kerangka GLOBE: pelengkap & kritik terhadap Hofstede.
Mulai memetakan skor budaya Indonesia vs negara mitra dagang utama.
Presentasi singkat latihan mandiri hari ini sebagai pembuka kelas.
Kerangka determinan budaya hari ini adalah fondasi kualitatif — minggu depan kita akan mengukurnya secara kuantitatif lewat skor Hofstede & GLOBE.