‹ Daftar slidePertemuan 14: Review Integratif & Persiapan UAS
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Lembaga Keuangan
Pertemuan 14 — Review Integratif & Persiapan UAS
Pertemuan terakhir: menyatukan seluruh puzzle — dari sistem keuangan sampai manajemen risiko — lalu mengasah kemampuan menjawab soal UAS (Ujian Akhir Semester — evaluasi sumatif di akhir semester).
RPS Minggu 15 • Sub-CPMK 14 • Durasi 2 × 50 Menit
Tujuan Pertemuan Terakhir
Setelah pertemuan ini, Anda mampu mengintegrasikan dan mengaplikasikan seluruh konsep MK secara terpadu (Sub-CPMK 14).
Capaian 1 — Peta Integratif
🗺
Menggambar keterkaitan semua lembaga keuangan dalam satu sistem — dari KSSK hingga nasabah.
Capaian 2 — Hitungan Kunci
∑
Menghitung CAR (Capital Adequacy Ratio), WACOF (Weighted Average Cost of Funds), Leasing/Gadai, Bagi Hasil, Harga Obligasi dari data mentah — enam soal hitung penuh.
Capaian 3 — Studi Kasus
🏦
Mendiagnosis dan merekomendasikan strategi untuk Bank Diponegoro (kasus integratif).
Capaian 4 — Strategi UAS
✓
Mengidentifikasi common mistakes dan teknik menjawab soal analisis kasus secara efektif.
Peta Besar: Sistem Keuangan Indonesia
Regulator: BI · OJK · LPS · KSSK — Peran & Batas Wewenang
BI — Bank Indonesia
Kebijakan moneter: BI Rate (suku bunga kebijakan acuan)
GWM (Giro Wajib Minimum) — cadangan wajib bank di BI
Sistem pembayaran & BI-RTGS
Pengawasan makroprudensial
OJK — Otoritas Jasa Keuangan
Pengawasan mikroprudensial bank, LKNB, pasar modal
Menjamin simpanan s.d. Rp 2 miliar per nasabah per bank
Menyelesaikan bank gagal (likuidasi / pengalihan)
Bukan asuransi komersial — memungut premi dari bank
Dasar hukum: UU No. 24/2004
KSSK — Komite Stabilitas Sistem Keuangan
Forum koordinasi BI + OJK + LPS + Kemenkeu
Keputusan krisis sistemik: bail-in vs bail-out
Dasar hukum: UU PPKSK No. 9/2016
Aktif saat potensi krisis sistemik (too big to fail)
Jangan tukar wewenang BI vs OJK di soal UAS — ini sumber kesalahan paling umum. BI = makroprudensial & moneter; OJK = mikroprudensial & pengawasan individual.
Blok 1 dari 5
Bank Umum: Funding, Kredit, Jasa & Kesehatan
Tiga rasio kunci yang WAJIB Anda hafal: CAR · NPL · LDR/LFR
CARNPLLDR
Sumber Dana Bank (Funding): DPK & Non-DPK
Kategori
Contoh
Biaya
DPK — Dana Pihak Ketiga
Giro, Tabungan, Deposito
Suku bunga yang dibayar ke nasabah
Non-DPK: Dana Sendiri
Modal disetor, cadangan
Biaya modal (tidak eksplisit)
Non-DPK: Pinjaman
Pinjaman antar bank (PUAB), obligasi bank
Suku bunga pasar
Non-DPK: Lainnya
Setoran jaminan, utang pajak
Sangat rendah / nol
DPK (Dana Pihak Ketiga) adalah tulang punggung pendanaan bank — rata-rata 70–80% total dana. WACOF (Weighted Average Cost of Funds — biaya rata-rata tertimbang dana) dihitung dari seluruh komponen ini, bukan hanya DPK.
CAR (Capital Adequacy Ratio) — Rumus & Ambang Batas
CAR = Modal Bank / ATMR × 100%
Modal Bank = Modal Inti (Tier 1: saham disetor + laba ditahan) + Modal Pelengkap (Tier 2: cadangan revaluasi, subordinated debt)
ATMR (Aset Tertimbang Menurut Risiko) = setiap pos aset × bobot risikonya
Kategori Aset
Bobot Risiko
Kas & SBI
0%
KPR (Kredit Pemilikan Rumah)
35–75%
Kredit korporasi
100%
NPL (Non-Performing Loan) gross
150%
CAR minimum:8% (batas absolut Basel) + buffer → total ~11–14% untuk bank besar (KBMI — Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti — 3–4). Istilah "BUKU I–IV" sudah diganti "KBMI 1–4" sejak POJK No. 12/POJK.03/2021. D-SIB (Domestic Systemically Important Bank — bank yang kegagalannya mengancam stabilitas sistem keuangan domestik) dikenakan surcharge modal tambahan.
Kredit Bermasalah: NPL, BMPK, dan Kualitas Kredit
Kolektibilitas
Kategori
Cadangan PPAP (acuan regulatoris)
1
Lancar
1%
2
Dalam Perhatian Khusus — menunggak 1–90 hari
5%
3
Kurang Lancar
15%
4
Diragukan
50%
5
Macet
100%
NPL (Non-Performing Loan) = (Kredit kol.3+4+5) / Total Kredit × 100%. Maks 5% (KERAS — OJK). NPL tinggi → CKPN/cadangan naik → laba turun → CAR tertekan.
BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit): 25% modal untuk pihak tidak terkait; 10% untuk pihak terkait. Tujuan: cegah konsentrasi risiko. Sejak PSAK 71 (2020): cadangan akuntansi bank = CKPN berbasis ECL (Expected Credit Loss) — forward-looking, bukan % tetap per kolektibilitas.
Enam Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) yang mengisi celah yang tidak dijangkau perbankan.
LKNB dalam Satu Pandangan: Fungsi & Karakteristik Pembeda
Lembaga
Fungsi Utama
Sumber Dana
Regulasi
Leasing
Pembiayaan aset tetap (sewa beli/sewa murni)
Pinjaman bank + obligasi
POJK No. 72/2016
Modal Ventura
Ekuitas untuk startup/UMKM
Modal sendiri + investor
POJK No. 35/2015
Anjak Piutang
Pembelian piutang dagang
Modal sendiri + kredit bank
POJK (perusahaan pembiayaan)
Asuransi
Pengalihan risiko via premi
Premi nasabah
POJK No. 69/2016
Dana Pensiun
Akumulasi tabungan pensiun
Iuran peserta + pemberi kerja
UU No. 11/1992
Pegadaian
Kredit cepat dengan agunan barang
BUMN + obligasi
PP No. 103/2000
Pegadaian: Mekanisme & Penghitungan Nilai Taksir
Mekanisme 3 langkah:
Nasabah menyerahkan barang jaminan (emas, elektronik, kendaraan)
Pegadaian menaksir nilai barang → memberikan pinjaman ≤ 90% nilai taksir
Nasabah menebus barang dengan membayar pokok + biaya sewa modal; bila tidak ditebus, barang dilelang
UP (Uang Pinjaman) = persentase nilai taksir yang dicairkan (85–90%), bervariasi per golongan (A/B/C/D). Biaya sewa modal = istilah Pegadaian untuk biaya pinjaman, dihitung per periode 15 hari.
Pinjaman Maks = Nilai Taksir × UP (%)
Contoh: Emas 10 gram @ Rp 1.000.000/gram Nilai taksir = Rp 10.000.000 Pinjaman maks (UP 90%) = Rp 9.000.000
Blok 3 dari 5
Perbankan Syariah & Pasar Modal/Uang
Prinsip akad (perjanjian berbasis hukum Islam), bagi hasil, dan instrumen pasar keuangan Indonesia.
Prinsip Syariah: Akad Inti & Perbedaan Struktural
Akad Penghimpunan Dana
Wadi'ah — titipan; bank boleh pakai, berikan bonus sukarela
Mudharabah Mutlaqah — investasi; nasabah = shahibul maal (pemilik modal), bank = mudharib (pengelola); bagi hasil sesuai nisbah (rasio pembagian, misal 60:40)
Akad Penyaluran Dana
Mudharabah — bank modal penuh, nasabah kelola usaha; bagi hasil
Musyarakah — bank + nasabah sama-sama modal; bagi hasil proporsional
Murabahah — bank beli barang, jual ke nasabah dengan margin tetap; jual beli, bukan bunga
Ijarah — sewa; bank beli aset, sewakan ke nasabah
Prinsip inti: TIDAK ada bunga (riba); keuntungan berasal dari bagi hasil (profit-sharing) atau margin jual beli yang disepakati di awal akad.
Pasar Modal & Pasar Uang — Instrumen & Pelaku Utama
Dimensi
Pasar Modal
Pasar Uang
Jangka
Panjang (>1 tahun)
Pendek (≤1 tahun)
Instrumen
Saham (contoh: BBCA, TLKM di BEI), Obligasi, Reksa Dana
SBI (Sertifikat Bank Indonesia), Deposito, PUAB (Pasar Uang Antar Bank), Repo
SBI diterbitkan BI untuk menyerap kelebihan likuiditas bank. Dalam soal UAS: OJK mengawasi lembaga dan transaksi pasar modal, tetapi BI yang mengoperasikan sistem pembayaran BI-RTGS.
Blok 4 dari 5
Hitung dari Nol: Enam Soal Tipe UAS
CAR · WACOF · Leasing vs Beli · Bagi Hasil · Harga Obligasi · Gadai — satu per satu, dari data ke jawaban.
HDN-1 CARHDN-2 WACOFHDN-3 LeasingHDN-4 Bagi HasilHDN-5 ObligasiHDN-6 Gadai
HDN-1: Menghitung CAR Bank dari Nol
Data: Modal Inti (Tier 1) Rp 500 M • Modal Pelengkap (Tier 2) Rp 100 M • Kas Rp 200 M (0%) • SBI Rp 300 M (0%) • Kredit Korporasi Rp 800 M (100%) • KPR Rp 400 M (75%) • NPL Gross Rp 100 M (150%)
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. ATMR Kas
Rp 200 M × 0%
Rp 0
2. ATMR SBI
Rp 300 M × 0%
Rp 0
3. ATMR Kredit Korporasi
Rp 800 M × 100%
Rp 800 M
4. ATMR KPR
Rp 400 M × 75%
Rp 300 M
5. ATMR NPL Gross
Rp 100 M × 150%
Rp 150 M
6. Total ATMR
0+0+800+300+150
Rp 1.250 M
7. Total Modal
500 + 100
Rp 600 M
8. CAR
600 / 1.250 × 100%
48,0%
CAR 48,0% jauh di atas ambang minimum 8% (batas keras Basel) maupun kisaran buffer ~11–14% untuk bank besar KBMI 3–4. Bank dalam kondisi permodalan sangat kuat.
HDN-2: Menghitung WACOF (Weighted Average Cost of Funds) dari Nol
Data: Giro Rp 200 M (2% p.a.) • Tabungan Rp 300 M (3% p.a.) • Deposito Rp 400 M (6% p.a.) • Pinjaman Antar Bank Rp 100 M (7% p.a.) • Total Dana Rp 1.000 M
WACOF = Σ (wᵢ × rᵢ)
Sumber Dana
Jumlah (M)
Proporsi (w)
Biaya (r)
w × r
Giro
200
20,0%
2%
0,40%
Tabungan
300
30,0%
3%
0,90%
Deposito
400
40,0%
6%
2,40%
Pinjaman Antar Bank
100
10,0%
7%
0,70%
Total
1.000
100%
—
WACOF = 4,40%
WACOF 4,40% adalah "harga beli" uang oleh bank. Agar bank untung, suku bunga kredit rata-rata harus lebih tinggi dari 4,40% + biaya operasional + margin risiko. Selisih inilah yang disebut NIM (Net Interest Margin).
HDN-3: Leasing vs Beli Tunai — Perbandingan PV Biaya
Data: Mesin harga Rp 300 juta. Pilihan: Beli Tunai Rp 300 juta sekarang (t=0) atau Leasing Rp 80 juta/tahun selama 5 tahun (anuitas biasa, akhir tahun, nilai sisa = 0). Tingkat diskonto: 10% p.a.
Langkah
Perhitungan
Nilai
A. Beli tunai — PV biaya
Rp 300 juta (sudah t=0)
Rp 300,0 juta
B1. Hitung (1,10)&sup5;
1,10 × 1,10 × 1,10 × 1,10 × 1,10
1,61051
B2. Hitung 1/(1,10)&sup5;
1 / 1,61051
0,62092
B3. PVIFA(10%,5) = [1−0,62092]/0,10
0,37908 / 0,10
3,7908
C. Leasing — PV total sewa
Rp 80 juta × 3,7908
Rp 303,3 juta
D. Pilihan
PV leasing (303,3) > PV beli (300,0)
Beli Tunai Lebih Murah
PVIFA (Present Value Interest Factor of Annuity) = [1−(1/(1+r)ⁿ)] / r. Selisih Rp 3,3 juta. Dalam praktik: pertimbangkan juga nilai sisa, pajak, dan fleksibilitas operasional.
HDN-4: Bagi Hasil Mudharabah Deposito dari Nol
Data: Dana deposito nasabah Rp 50 juta (1 bulan) • Total DPK bank syariah Rp 500 miliar • Pendapatan distributable bulan itu Rp 5 miliar • Nisbah (rasio pembagian keuntungan) nasabah:bank = 60%:40%
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Porsi pendapatan nasabah (nisbah)
Rp 5 M × 60%
Rp 3.000.000.000
2. Proporsi dana nasabah
Rp 50 juta / Rp 500.000 juta
0,0001 (desimal — bukan %)
3. Bagi hasil nasabah
Rp 3.000.000.000 × 0,0001
Rp 300.000
4. Setara imbal hasil p.a.
(300.000/50.000.000) × 12
7,2% p.a.
Bagi hasil bersifat variabel (tergantung pendapatan aktual bank) — berbeda dari bunga deposito konvensional yang tetap. Kritis: gunakan proporsi sebagai desimal (0,0001), BUKAN persen (0,01%), agar tidak salah hitung 100 kali lipat.
HDN-5: Harga Obligasi dengan Perubahan Yield
Data: Obligasi PT X — Nilai nominal Rp 1.000.000 • Kupon (pembayaran bunga periodik) 8% p.a. (tahunan) • Jangka 3 tahun • YTM (Yield to Maturity — imbal hasil hingga jatuh tempo) = 10%
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Kupon tahunan (C)
Rp 1.000.000 × 8%
Rp 80.000
2. PV kupon th-1
80.000 / (1,10)¹
Rp 72.727
3. PV kupon th-2
80.000 / (1,10)²
Rp 66.116
4. PV kupon th-3
80.000 / (1,10)³
Rp 60.105
5. PV nilai nominal
1.000.000 / (1,10)³
Rp 751.315
6. Harga Obligasi
72.727+66.116+60.105+751.315
Rp 950.263
Yield naik (8%→10%) → harga turun di bawah par (nilai pari/nominal, Rp 1.000.000): Rp 950.263 < Rp 1.000.000. Hubungan inverse yield–harga ini WAJIB diingat. Obligasi diperdagangkan at discount bila YTM > kupon rate.
HDN-6: Nilai Gadai & Biaya Sewa Modal Pegadaian dari Nol
Data: Emas 10 gram @ Rp 1.000.000/gram • UP (Uang Pinjaman) 90% Golongan B • Biaya sewa modal Gol. B: 1,0% per 15 hari dari uang pinjaman • Masa gadai: 30 hari (2 periode × 15 hari)
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai taksir emas
10 gram × Rp 1.000.000/gram
Rp 10.000.000
2. Pinjaman maksimum (UP 90%)
Rp 10.000.000 × 90%
Rp 9.000.000
3. Biaya sewa modal 1 periode (15 hari)
Rp 9.000.000 × 1,0%
Rp 90.000
4. Total biaya sewa modal (30 hari = 2 periode)
Rp 90.000 × 2
Rp 180.000
5. Total pelunasan
Rp 9.000.000 + Rp 180.000
Rp 9.180.000
Nasabah menebus emas dengan membayar Rp 9.180.000 (pokok + sewa modal 30 hari). Bila tidak ditebus, barang dilelang oleh Pegadaian. Angka 90% dan 1,0% adalah ilustrasi soal — tarif aktual bervariasi per golongan dan kebijakan Pegadaian.
Blok 5 dari 5
Studi Kasus Integratif: Bank Diponegoro
Analisis kesehatan bank fiktif — neraca, rasio, diagnosis, dan rekomendasi strategis.
BD
BANK DIPONEGORO — DATA FIKTIF
Profil Bank Diponegoro — Neraca & Data Utama
DATA FIKTIF — HANYA UNTUK ILUSTRASI
ASET (Rp M)
Nilai
PASIVA (Rp M)
Nilai
Kas & Setara Kas
500
Giro nasabah
1.200
SBI & Surat Berharga
800
Tabungan
1.800
Kredit Korporasi
3.200
Deposito
2.500
KPR
1.500
Pinjaman bank lain
400
NPL Gross
480
Modal Inti (Tier 1)
700
Aset Lainnya
220
Modal Pelengkap (Tier 2)
100
Total Aset
6.700
Total Pasiva
6.700
Data Operasional:
NII (Net Interest Income — pendapatan bunga bersih): Rp 420 M/tahun
Biaya operasional: Rp 340 M/tahun
CKPN/cadangan yang dibentuk: Rp 60 M
Produk fee-based: LC, bank garansi, transfer valas, bancassurance (produk asuransi yang dijual melalui jaringan bank)
Total Kredit = 3.200 + 1.500 + 480 = Rp 5.180 M DPK = 1.200 + 1.800 + 2.500 = Rp 5.500 M
Diagnosis Kesehatan Bank Diponegoro — Hitung Rasio
Pos Aset
Nilai (M)
Bobot
ATMR (M)
Kas & Setara Kas
500
0%
0
SBI & Surat Berharga
800
0%
0
Kredit Korporasi
3.200
100%
3.200
KPR
1.500
75%
1.125
NPL Gross
480
150%
720
Aset Lainnya
220
100%
220
Total ATMR
—
—
5.265 M
Rasio
Rumus
Hasil
Batas
Status
CAR
800 / 5.265 × 100%
15,2%
Min 8%+buffer (keras)
✅ Lulus
NPL
480 / 5.180 × 100%
9,3%
Maks 5% (keras)
❌ Kritis
LDR
5.180 / 5.500 × 100%
94,2%
80–92% (guidance)
⚠️ Sedikit Tinggi
ROA
(420−340−60) / 6.700 × 100%
0,3%
Min ~1,5% (benchmark)
❌ Rendah
Dua sinyal merah utama: NPL 9,3% (2× ambang keras 5% OJK) dan ROA 0,3% (jauh di bawah benchmark 1,5%). CAR 15,2% masih lulus ambang keras. LDR 94,2% melampaui guidance 80–92% (bukan pelanggaran keras, tetapi perlu kehati-hatian).
Rekomendasi Strategis untuk Bank Diponegoro
Prioritas 1 — Selesaikan NPL
Intensifkan restrukturisasi kredit (perpanjangan tenor, penurunan bunga) untuk debitur yang masih viable
NPL hopelessly lost → proses PKPU atau write-off (penghapusbukuan) dengan lelang agunan
Sesuai POJK No. 40/2019 tentang kualitas aset
Prioritas 2 — Perkuat Modal
Pertimbangkan penerbitan obligasi subordinasi (Tier 2) atau rights issue (penerbitan saham baru ke pemegang saham lama)
Target CAR >17% memberi ruang bila NPL semakin membesar
Modal tambahan = sinyal kepercayaan kepada pasar
Prioritas 3 — Diversifikasi Pendapatan
Tingkatkan porsi fee-based income (LC, bank garansi, bancassurance)
Fee-based tidak menambah ATMR → tidak menekan CAR
Lebih tahan terhadap siklus suku bunga
Urutan: selesaikan NPL DULU sebelum ekspansi kredit baru — sesuai prinsip kehati-hatian POJK tentang kualitas aset.
Harga obligasi = nilai nominal (tidak mendiskontokan arus kas)
Bagi hasil = nisbah × pokok deposito (lupa proporsionalkan dengan total DPK)
Kesalahan Konseptual
Menyamakan fungsi BI dan OJK (BI = makro; OJK = mikro)
Mengatakan "bank syariah bebas risiko" (tidak — ada risiko investasi)
Leasing selalu lebih mahal dari beli (tidak selalu — tergantung diskonto & nilai sisa)
NPL tinggi hanya masalah aset (padahal juga tekan CAR dan ROA)
Pasar uang = bursa saham (keliru — pasar uang = instrumen jangka pendek)
Cheat Sheet 1: Rasio Kesehatan Bank
CHEAT SHEET 1 DARI 2
Konsep
Rumus / Definisi
Ambang / Catatan
CAR
Modal / ATMR × 100%
Min 8% KERAS (Basel) + buffer; ~11–14% total KBMI 3–4
NPL
(Kredit kol.3+4+5) / Total Kredit × 100%
Maks 5% KERAS (OJK) — melanggar = pengawasan intensif
LDR
Kredit / DPK × 100%
80–92% (guidance — bukan ambang keras regulatif)
ROA
Laba Bersih / Total Aset × 100%
Min ~1,5% (benchmark/guidance — bukan ketentuan mutlak)
WACOF
Σ (proporsi dana × biaya dana)
Semakin rendah = semakin baik; bandingkan dengan NIM
KBMI (Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti — pengganti klasifikasi BUKU sejak POJK 12/2021): KBMI 1 < Rp 6 T; KBMI 4 ≥ Rp 70 T. Dalam soal kasus, selalu sebutkan rumus → hitung → bandingkan dengan ambang → interpretasi.
Cheat Sheet 2: Instrumen & Hitungan Kunci
CHEAT SHEET 2 DARI 2
Konsep
Rumus / Definisi
Catatan Kritis
Harga Obligasi
Σ [C/(1+YTM)ᵗ] + [N/(1+YTM)ⁿ]
Yield ↑ → Harga ↓ (hubungan inverse WAJIB)
Pinjaman Gadai Maks
Nilai Taksir × % UP
UP 85–90%; bervariasi per golongan A–D
Biaya Sewa Modal Gadai
Pinjaman × tarif (per 15 hari)
Hitung per periode 15 hari, bukan bulanan
PV Anuitas Leasing
PMT × PVIFA(r,n)
PVIFA = [1−(1/(1+r)ⁿ)] / r; bandingkan dengan PV beli tunai
Bagi Hasil Mudharabah
Pendapatan × nisbah nasabah × (dana nasabah / total DPK)
Proporsi = desimal (0,0001), BUKAN persen!
PMT = payment (besaran pembayaran periodik anuitas); N = nilai nominal obligasi; C = kupon periodik; PVIFA = Present Value Interest Factor of Annuity. Ilustrasi akuntansi: PPh Badan 22%, PPN efektif 11%, pajak dividen 10% = angka historis ilustratif untuk soal.
Selamat Menempuh UAS — Anda Sudah Siap
✔ 14 pertemuan, satu semester penuh telah diselesaikan.
✔ Anda telah mempelajari sistem keuangan, empat regulator, bank umum, enam LKNB, perbankan syariah, pasar modal & uang, dan manajemen risiko lintas lembaga.
✔ Hari ini Anda telah melatih enam hitungan kunci (CAR, WACOF, Leasing, Bagi Hasil, Obligasi, Gadai) dan menganalisis Bank Diponegoro secara integratif.
Tip Terakhir:
Baca soal dua kali sebelum mulai menjawab
Tuliskan rumus sebelum memasukkan angka
Sebutkan sumber perbandingan (regulasi/ambang batas) untuk soal analisis
Kelola waktu — amankan poin soal mudah terlebih dahulu
Terima Kasih atas kerja keras Anda sepanjang semester. Semoga hasil UAS mencerminkan pemahaman yang telah Anda bangun.
MANAJEMEN LEMBAGA KEUANGAN • FEB UNDIP • RPS MINGGU 15
📖 Baca juga: Wacc — penjelasan mendalam dan contoh numerik.