‹ Daftar slidePertemuan 4: Manajemen Sumber Dana Bank (Funding)
Program Studi Manajemen • FEB UNDIP
Manajemen Lembaga Keuangan
Pertemuan 4 — Manajemen Sumber Dana Bank (Funding)
Dari mana bank mendapatkan uang untuk dipinjamkan? Bagaimana menghitung biaya dana tersebut? Apa dampak aturan GWM (Giro Wajib Minimum — cadangan wajib bank di BI) terhadap profitabilitas?
RPS MINGGU 4 • SUB-CPMK 4 • DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis manajemen sumber dana bank (Sub-CPMK 4). Secara rinci:
CAPAIAN 1 — KLASIFIKASI
3 PIHAK
Mengelompokkan sumber dana bank menjadi DPK (Dana Pihak Ketiga — simpanan masyarakat), pinjaman, dan modal beserta komponen masing-masing.
CAPAIAN 2 — KARAKTERISTIK
COF
Membandingkan biaya, likuiditas, dan stabilitas giro, tabungan, deposito, PUAB (Pasar Uang Antar Bank), dan modal.
CAPAIAN 3 — HITUNG WACOF
WACOF
Menghitung cost of funds dan WACOF (Weighted Average Cost of Funds) serta dampak GWM pada biaya dana riil.
CAPAIAN 4 — STRATEGI
4 DIMENSI
Mengevaluasi strategi gathering dana bank menggunakan dimensi bunga, fitur, dan saluran distribusi.
Bank Itu “Pedagang Uang” — Dari Mana Modalnya?
Bank tidak punya uang sendiri yang cukup. Ia “membeli” uang murah dari masyarakat, lalu “menjualnya” mahal ke peminjam. Selisihnya = keuntungan bank.
BANK “BELI” DANA
3–5%
per tahun (biaya bank)
Anda simpan tabungan di BCA atau BRI → bank membayar bunga kepada Anda sebesar sekitar 3–5% per tahun.
BANK “JUAL” DANA
10–12%
per tahun (pendapatan bank)
Bank meminjamkan uang Anda ke pengusaha dengan bunga jauh lebih tinggi. Selisih ini adalah sumber laba bank.
Selisih ∼7–9 poin persen = NIM (Net Interest Margin — selisih bersih pendapatan bunga terhadap aset produktif). Supaya NIM menggemuk, bank harus menekan biaya dananya — itulah inti manajemen funding.
Bagian 1 dari 5
Gambaran Besar: Liabilitas Bank sebagai Peta Sumber Dana
Neraca bank bukan sekadar laporan akuntansi — sisi kanan (liabilitas + ekuitas) adalah peta lengkap dari mana bank mendapat uangnya.
1Liabilitas2Ekuitas
Neraca Bank — Sisi Liabilitas = Peta Sumber Dana
Setiap rupiah aset bank berasal dari salah satu sumber di sisi kanan neraca ini.
LIABILITAS & EKUITAS (Sumber Dana)
Dana Pihak Ketiga (DPK) — ~80–85% • Giro (demand deposit) • Tabungan (savings deposit) • Deposito berjangka (time deposit)
Dana Pihak Kedua • PUAB (Pasar Uang Antar Bank) • Pinjaman dari BI
Dana Pihak Pertama • Modal saham + laba ditahan • Obligasi subordinasi
DPK biasanya 80–85% total liabilitas bank umum di Indonesia (OJK, 2024 est.). Itulah mengapa DPK adalah prioritas utama manajemen funding.
Tiga Kelompok Sumber Dana Bank
DANA PIHAK KETIGA (DPK)
~80–85%
porsi total liabilitas
Simpanan masyarakat umum: giro, tabungan, deposito berjangka. Volume terbesar. Biaya moderat. Kelebihan: massal. Kelemahan: bisa ditarik sewaktu-waktu (giro/tabungan).
DANA PIHAK KEDUA
Darurat
bukan sumber rutin
Pinjaman dari lembaga lain: PUAB, fasilitas repo, pinjaman Bank Indonesia. Porsi kecil. Biaya lebih tinggi dan bergantung pada kondisi pasar uang.
DANA PIHAK PERTAMA
~8–12%
sesuai KPMM / CAR
Modal sendiri bank: saham, laba ditahan, obligasi subordinasi. Paling stabil. Biaya tertinggi (return yang dituntut pemegang saham). KPMM = Kewajiban Penyediaan Modal Minimum; CAR = Capital Adequacy Ratio.
Catatan taksonomi: istilah Pihak Pertama/Kedua/Ketiga merujuk pada asal dana (pemilik / lembaga lain / masyarakat) — bukan urutan prioritas penghimpunan. Biaya ↑ dan stabilitas ↑ dari Pihak Ketiga ke Pihak Pertama.
Bagian 2 dari 5
Dana Pihak Ketiga: Simpanan Masyarakat
Giro, tabungan, dan deposito berjangka — tiga instrumen dengan sifat, biaya, dan risiko yang sangat berbeda.
1Giro2Tabungan3Deposito
Giro (Demand Deposit) — Murah tapi Volatile
Simpanan yang bisa ditarik kapan saja melalui cek/bilyet giro. Nasabah utama: perusahaan & pemerintah. Bilyet giro = surat perintah pemindahbukuan, tidak bisa dicairkan tunai langsung.
Dimensi
Keterangan
Nasabah utama
Perusahaan, pemerintah, lembaga
Alat tarik
Cek, bilyet giro, transfer kliring
Bunga dibayar bank
~0,5–2,5% per tahun (paling rendah)
Penarikan sewaktu-waktu?
Ya — permintaan kapan saja
Stabilitas bagi bank
Rendah (bisa keluar tiba-tiba)
Giro = sumber dana termurah tetapi paling volatile (tidak stabil). Bank tidak bisa mengandalkan giro untuk kredit jangka panjang.
Bank yang memiliki CASA (Current Account Savings Account) ratio tinggi menikmati biaya dana rendah. BCA dikenal unggul di CASA korporasi.
Tabungan (Savings Deposit) — Likuid dan Masif
Simpanan perorangan yang bisa ditarik melalui ATM/mobile banking kapan saja. Tulang punggung DPK nasional.
Dimensi
Keterangan
Nasabah utama
Perorangan (ritel masif)
Alat tarik
ATM, mobile/internet banking, teller
Bunga dibayar bank
~1,5–5% per tahun
Penarikan sewaktu-waktu?
Ya, dengan batas limit harian
Stabilitas bagi bank
Sedang (lebih stabil dari giro)
Contoh Produk Indonesia
BRI Simpedes — segmen pedesaan, bunga berjenjang (naik sesuai saldo), jaringan BRI-Link luas.
Mandiri Tabungan — ekosistem digital Livin’ by Mandiri, fitur e-banking luas.
Deposito Berjangka (Time Deposit) — Mahal tapi Stabil
Simpanan dengan jangka waktu tetap (1, 3, 6, 12, 24 bulan). Bank bayar bunga lebih tinggi sebagai kompensasi atas dana yang dikunci. Tenor = jangka waktu penempatan deposito.
Dimensi
Keterangan
Nasabah
Perorangan dan korporasi
Tenor umum
1, 3, 6, 12, 24 bulan
Bunga dibayar bank
~3–7% per tahun (tertinggi di DPK)
Tarik sebelum jatuh tempo?
Dikenakan penalti
Stabilitas bagi bank
Tinggi (dana terkunci)
Penalti penarikan dini: denda ~0,5–2% dari pokok atau kehilangan seluruh bunga yang belum jatuh tempo. Wajib dicek di perjanjian.
Bunga deposito mengikuti acuan pasar: BI-Rate plus spread. Bank Indonesia sedang bertransisi dari JIBOR ke IndONIA (Indonesia Overnight Index Average) sebagai benchmark overnight resmi.
Perbandingan Tiga Instrumen DPK
Dimensi
Giro
Tabungan
Deposito
Nasabah utama
Korporasi/pemerintah
Perorangan ritel
Perorangan & korporasi
Penarikan
Kapan saja (cek/BG)
Kapan saja (ATM limit)
Hanya saat jatuh tempo
Bunga per tahun
~0,5–2,5%
~1,5–5%
~3–7%
Stabilitas dana
Rendah
Sedang
Tinggi
Biaya bank (urutan)
Termurah
Menengah
Termahal
Risiko likuiditas bagi bank
Tinggi
Sedang
Rendah
Trade-off universal: semakin likuid bagi nasabah → semakin tidak stabil bagi bank → semakin murah bunga yang dibayar bank. Risiko likuiditas = risiko bank tidak dapat memenuhi penarikan dana tepat waktu.
Bagian 3 dari 5
Dana Pihak Kedua & Pertama
Pinjaman antar bank, fasilitas BI, modal sendiri — sumber-sumber non-DPK yang dipakai ketika DPK tidak cukup.
1PUAB2Fasilitas BI3Modal
Dana Pihak Kedua: Pinjaman Antar Bank & Fasilitas BI
PUAB (Pasar Uang Antar Bank)
Overnight
jatuh tempo keesokan harinya
Bank kelebihan likuiditas meminjamkan ke bank yang kekurangan. Acuan suku bunga PUAB overnight: IndONIA (Indonesia Overnight Index Average, dipublikasikan BI harian) — JIBOR sedang ditransisi keluar. Biaya indikatif ~5–7%. Risiko: mengering saat krisis.
FASILITAS BI — Lender of Last Resort
Darurat
bukan sumber rutin
Bank meminjam dari Bank Indonesia sebagai lender of last resort (pemberi pinjaman terakhir). Fasilitas: REPO (repurchase agreement — jual SBI lalu beli kembali) dan FLI (Fasilitas Likuiditas Intrahari). Acuan: BI-Rate.
Bank yang sering menggunakan pinjaman BI adalah sinyal kesehatan buruk — regulator OJK akan memperhatikan. SBI = Sertifikat Bank Indonesia — surat berharga jangka pendek yang diterbitkan BI sebagai instrumen moneter.
Dana Pihak Pertama: Modal Sendiri Bank
MODAL INTI (TIER 1)
Paling Permanen
tidak ada jatuh tempo
Modal saham (setoran pendiri + IPO) + Laba ditahan (retained earnings) + Cadangan modal. Digunakan sebagai penyangga kerugian (loss absorbing). Biaya: return yang dituntut pemegang saham (~12–18%, indikatif).
MODAL PELENGKAP (TIER 2)
Semi-Modal
ada kewajiban kupon
Obligasi subordinasi (jatuh tempo >5 tahun; hak klaim di bawah deposan) + Cadangan umum kerugian kredit + Revaluasi aset. Biaya lebih rendah dari ekuitas karena ada tax shield (penghematan pajak dari bunga utang).
CAR (Capital Adequacy Ratio): OJK mensyaratkan bank mempertahankan modal minimum 8–10% dari ATMR (Aset Tertimbang Menurut Risiko). Bank tidak bebas beroperasi dengan modal sesedikit mungkin.
Bagian 4 dari 5
Biaya Dana: COF & WACOF
Berapa sesungguhnya “harga” setiap rupiah yang berhasil dihimpun bank? — menghitung cost of funds dan weighted average cost of funds dari nol.
WACOF = Σ (Wi × COFi)
Cost of Funds (COF) — Berapa Biaya 1 Rupiah Dana?
COF (cost of funds) mengukur berapa persen per tahun yang harus dibayar bank atas setiap rupiah dana yang berhasil dihimpunnya.
COF satu sumber = (Jumlah bunga dibayar ÷ Total dana dari sumber) × 100%
WACOF = Σi (Wi × COFi)
Wi = proporsi dana sumber i terhadap total dana (desimal; syarat: Σ Wi = 1)
COFi = cost of funds sumber i (%)
WACOF = floor harga kredit (batas bawah suku bunga kredit). Bank WAJIB meminjamkan di suku bunga lebih tinggi dari WACOF-nya, atau merugi. Kalau WACOF 4%, bunga kredit minimal harus >4% — sebelum tambahkan margin dan biaya operasional.
Hitung dari Nol — HDN-1: WACOF Tiga Sumber Dana
Bank X: giro Rp 200 M (bunga 1%), tabungan Rp 500 M (bunga 3%), deposito 1 bulan Rp 300 M (bunga 6%). Hitung WACOF.
Total bunga: Rp 2M + Rp 15M + Rp 18M = Rp 35M ÷ Rp 1.000M
3,50% ✓
WACOF = 3,50% per tahun. Dari setiap Rp 1.000 yang dihimpun, bank membayar rata-rata Rp 35 bunga per tahun. Suku bunga kredit harus >3,50% agar bank tidak merugi secara bunga.
GWM — Aturan Cadangan Wajib Bank
Bank tidak boleh menyalurkan 100% DPK yang dihimpunnya. Sebagian wajib disisihkan di Bank Indonesia sebagai GWM (Giro Wajib Minimum).
APA ITU GWM?
% DPK
diparkir di rekening BI
Persentase tertentu dari DPK yang wajib ditempatkan dalam rekening Giro di Bank Indonesia. Tidak menghasilkan bunga (umumnya). Sumber hukum: PBI No. 20/3/PBI/2018 dan perubahannya (PADG Bank Indonesia).
TUJUAN GWM
3 Fungsi
likuiditas + moneter + sinyal
(1) Menjaga likuiditas sistem perbankan nasional. (2) Instrumen kebijakan moneter: naikkan GWM → kurangi uang beredar; turunkan GWM → tambah uang beredar. (3) Sinyal kecukupan cadangan.
Angka 5% di materi ini bersifat ILUSTRATIF — rasio GWM berubah-ubah sebagai instrumen kebijakan moneter. Wajib verifikasi ke bi.go.id untuk rasio yang berlaku saat ini. Dana GWM = tidak bisa dikreditkan → mengurangi dana produktif.
Hitung dari Nol — HDN-2: Dana Bersih Setelah GWM
Bank X menghimpun total DPK Rp 1 triliun. GWM yang berlaku 5% (ilustratif — verifikasi bi.go.id). Berapa dana bersih yang bisa dikreditkan?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1Diketahui
Total DPK; GWM = 5%
Rp 1.000.000.000.000 (Rp 1 T)
2Hitung GWM
Rp 1 T × 5% = Rp 1 T × 0,05
Rp 50.000.000.000 (Rp 50 M)
3Dana bersih
Rp 1 T − Rp 50 M
Rp 950.000.000.000 (Rp 950 M)
4% Dana produktif
Rp 950 M ÷ Rp 1 T × 100%
95% ✓
Dana produktif = Rp 950 miliar (95% DPK). Dari setiap Rp 100 yang dihimpun, hanya Rp 95 yang bisa menghasilkan pendapatan bunga.
Bank membayar bunga atas seluruh Rp 1 T, tetapi hanya memperoleh pendapatan dari Rp 950 M → biaya dana riil lebih tinggi dari WACOF nominal.
WACOF Efektif — Biaya Dana Riil Setelah GWM
GWM memaksa bank membayar bunga atas dana yang tidak bisa diputar → biaya dana riil lebih tinggi dari WACOF nominal.
WACOF nominal 3,50% naik menjadi 3,684% setelah GWM. Selisih ~18 basis poin (1 bp = 0,01 poin persen) ini pada skala Rp 1 T = perbedaan biaya dana ~Rp 1,8 miliar per tahun.
Floor bunga kredit yang sesungguhnya adalah di atas WACOF Efektif — bukan WACOF nominal.
Geser rasio GWM dan bobot tiga sumber dana bank, lalu amati bagaimana biaya dana efektif naik karena sebagian dana harus mengendap di bank sentral.
Bagian 5 dari 5
Strategi Penghimpunan Dana
Bersaing memperebutkan dana masyarakat: tidak hanya soal bunga tertinggi, tetapi juga fitur, jaringan, layanan, dan digitalisasi.
1Bunga2Hadiah3Cabang4Digital
Empat Dimensi Strategi Penghimpunan Dana
STRATEGI 1 — BUNGA KOMPETITIF
Rate War
Naikkan bunga deposito/tabungan di atas pasar. Paling mudah dieksekusi, tetapi langsung menaikkan WACOF dan memeras NIM. Risiko: pyrrhic victory — menang dana tapi rugi margin (dari Raja Pyrrhus Yunani, yang menang perang namun kehilangan pasukannya).
STRATEGI 2 — HADIAH & PROMO
Promo
Undian berhadiah (mobil, emas, umroh) untuk produk tabungan. Tujuan: menarik nasabah baru tanpa naikkan bunga permanen. BRI Simpedes sangat dikenal dengan program undiannya di segmen pedesaan.
STRATEGI 3 — EKSPANSI JARINGAN
Cabang & Agen
Buka kantor cabang, ATM, agen (BRI-Link, Agen BNI) di lokasi strategis termasuk pedesaan. Jangkau segmen unbanked (belum memiliki rekening di lembaga keuangan formal). Biaya tinggi tapi membangun loyalitas jangka panjang.
STRATEGI 4 — DIGITALISASI
Digital
Mobile banking, QRIS, dompet digital. Kurangi friction nasabah menaruh dana, tahan dana tetap di ekosistem digital bank. BCA Mobile, Livin’ Mandiri, BRImo adalah contoh sukses.
Studi Kasus: BRI Simpedes vs BCA Tahapan — Dua Strategi Berbeda
Dua bank terbesar di Indonesia memilih segmen dan strategi funding yang berbeda. Mengapa?
Dimensi
BRI Simpedes
BCA Tahapan
Segmen target
Pedesaan, mikro, petani, nelayan
Urban-menengah, profesional, korporasi
Strategi utama
Jaringan BRI-Link (program agen perbankan BRI) + Undian
Infrastruktur digital terdepan (BCA Mobile)
Diferensiasi
Aksesibilitas geografis ekstrem
Kenyamanan transaksi digital & CASA korporasi
Biaya dana relatif
Lebih tinggi (segmen lebih price-sensitive)
Lebih rendah (CASA ratio sangat tinggi)
Kekuatan utama
Volume nasabah terluas di Indonesia
Current account korporasi dominan → WACOF rendah
CASA ratio (Current Account Savings Account ratio — proporsi giro + tabungan terhadap total DPK): semakin tinggi → biaya dana lebih murah. BCA: CASA tinggi → WACOF rendah → NIM lebar. BRI: jangkauan geografis → volume DPK masif.
Tiga Risiko Utama dalam Manajemen Funding
RISIKO 1 — KONSENTRASI
1 Nasabah
sangat berbahaya
Dana terlalu bergantung pada segelintir nasabah besar (misal deposito korporasi Rp 500 M dari 1 nasabah di bank kecil). Jika nasabah itu menarik, bank langsung krisis. Mitigasi: diversifikasi basis nasabah.
RISIKO 2 — REPRICING (SUKU BUNGA)
Jatuh Tempo
naikkan biaya mendadak
Deposito jatuh tempo dan harus diperpanjang di bunga lebih tinggi ketika pasar berubah. Mitigasi: laddering — menyusun jatuh tempo deposito secara bertahap agar tidak semua jatuh bersamaan ketika suku bunga naik.
RISIKO 3 — LIKUIDITAS
Bank Run
skenario terburuk
Penarikan DPK lebih cepat dari kemampuan bank melikuidasi aset. Kasus ekstrem: bank run (penarikan serentak besar-besaran). Mitigasi: GWM sebagai bantalan + LCR + NSFR (kerangka Basel III).
Ketiga risiko berinteraksi. ALM (Asset-Liability Management — pengelolaan terpadu aset dan liabilitas bank) bertugas mengelola ketiganya secara terintegrasi. LCR & NSFR = rasio ketahanan likuiditas Basel III — materi detail di MK Manajemen Risiko Bank.
Ringkasan Pertemuan 4 — Cheat Sheet Funding Bank
Topik
Poin Kunci
Sumber dana
DPK (~80–85%) + Pihak Kedua (darurat) + Modal sendiri
Floor bunga kredit bank = di atas WACOF Efektif + biaya operasional + margin risiko kredit.
Persiapan Pertemuan 5
PERTEMUAN 5 — PREVIEW
Lending
manajemen penggunaan dana
Topik: Manajemen Penggunaan Dana Bank — sisi kiri neraca. Jenis kredit, penilaian kelayakan, agunan (jaminan yang diberikan debitur kepada bank), dan penetapan suku bunga kredit.
TUGAS PERSIAPAN
3 Tugas
untuk pertemuan berikutnya
Baca Rose & Hudgins, Bab Loan Management.
Cari berita terkini: apakah BI mengubah GWM bulan ini?
Hitung WACOF sederhana dengan angka buatan sendiri sebagai latihan mandiri.
Pertanyaan refleksi: Mengapa bank besar seperti BCA bisa menawarkan bunga kredit lebih rendah daripada bank kecil, padahal keduanya sama-sama “bank umum”? Pikirkan dalam kerangka WACOF Efektif yang baru saja Anda pelajari.