Bagaimana menyusun arus kas yang relevan untuk keputusan investasi — investasi awal, arus kas operasi, dan arus kas terminal — sebagai bahan baku utama penganggaran modal.
RPS MINGGU 13 • 2×50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menyusun arus kas proyek yang relevan untuk keputusan investasi. Secara rinci:
CAPAIAN 1
PRINSIP
Menjelaskan prinsip arus kas inkremental dan menghindari jebakan sunk cost & opportunity cost.
CAPAIAN 2
STRUKTUR
Membedakan tiga komponen: investasi awal, arus kas operasi (OCF), dan arus kas terminal.
CAPAIAN 3
MENGHITUNG
Menghitung OCF tahunan dan nilai sisa aset setelah pajak dengan benar.
CAPAIAN 4
MENYUSUN
Menyusun tabel arus kas proyek lengkap tahun-per-tahun sebagai input NPV/IRR minggu depan.
Mengapa Arus Kas, Bukan Laba Akuntansi?
Bayangkan sebuah UMKM digital di Semarang ingin membeli mesin cetak otomatis senilai Rp 200 juta untuk memenuhi pesanan dari marketplace. Pemiliknya melihat laporan laba rugi dan berkata: "labanya positif, berarti proyek ini bagus." Benarkah?
LAPORAN LABA RUGI
AKRUAL
Mencatat pendapatan & beban saat terjadi (termasuk depresiasi non-kas), bukan saat uang benar-benar berpindah tangan.
ARUS KAS PROYEK
KAS RIIL
Mencatat kapan & berapa uang tunai keluar-masuk — inilah yang bisa dipakai membayar utang, gaji, dan dividen.
Investor dan kreditor tidak bisa membayar tagihan dengan "laba di atas kertas" — mereka butuh kas sungguhan. Karena itu, keputusan investasi (NPV, IRR) selalu memakai arus kas, bukan laba akuntansi.
Bagian 1 dari 4
Prinsip Arus Kas yang Relevan
Sebelum menghitung apa pun, kita harus tahu arus kas mana yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke analisis proyek.
Prinsip Arus Kas Inkremental (Incremental)
Arus kas proyek = arus kas perusahaan DENGAN proyek − arus kas perusahaan TANPA proyek.
STAND-ALONE PRINCIPLE
MANDIRI
Proyek dievaluasi seolah-olah perusahaan mini tersendiri, terpisah dari arus kas perusahaan induk secara keseluruhan.
INCREMENTAL CASH FLOW
SELISIH
Hanya arus kas yang berubah karena keberadaan proyek yang dihitung — bukan seluruh arus kas perusahaan.
Contoh Indonesia: jika GoTo membuka gudang baru, yang dihitung hanyalah pendapatan & biaya tambahan dari gudang itu — bukan seluruh pendapatan GoTo yang sudah ada sebelumnya.
Dua Jebakan Klasik: Sunk Cost & Opportunity Cost
Ikuti dua kasus ini langkah demi langkah — keduanya sering tertukar oleh pemula.
KASUS 1 — BIAYA TERTANAM (SUNK COST)
Perusahaan sudah bayar riset pasar Rp 50 juta tahun lalu, sudah lunas, tak bisa ditarik kembali.
Pertanyaannya: apakah Rp 50 juta ini masuk ke analisis proyek sekarang?
TIDAK. Uang itu sudah keluar terlepas proyek dilanjutkan atau dibatalkan — tidak berubah karena keputusan hari ini.
Kesimpulan: sunk cost diabaikan, berapa pun besarnya dan sesayang apa pun kita padanya.
KASUS 2 — BIAYA KESEMPATAN (OPPORTUNITY COST)
Proyek baru akan memakai gudang lama yang saat ini bisa disewakan Rp 30 juta/tahun.
Jika gudang dipakai proyek, pendapatan sewa Rp 30 juta itu hilang.
Ini BUKAN sunk cost — ini adalah nilai kesempatan yang dikorbankan karena memilih proyek.
Kesimpulan: opportunity cost DIMASUKKAN sebagai biaya (arus kas keluar) dalam analisis proyek.
Eksternalitas & Alokasi Biaya Bersama
EKSTERNALITAS (KANIBALISASI)
CANNIBALIZATION
Produk baru mengambil pelanggan dari produk lama perusahaan sendiri. Contoh: Indomie varian baru menggerus penjualan varian lama — penurunan itu harus dikurangkan dari manfaat proyek baru.
ALOKASI BIAYA BERSAMA (OVERHEAD)
SUNK-LIKE
Biaya kantor pusat, gaji direksi, dsb yang tetap ada dengan atau tanpa proyek tidak boleh dialokasikan sebagai biaya tambahan proyek.
Aturan sederhana: tanyakan selalu — "Apakah arus kas ini berbeda seandainya proyek TIDAK dijalankan?" Jika jawabannya tidak berbeda, ia bukan arus kas relevan.
Sebaliknya, biaya tambahan yang benar-benar baru karena proyek — misalnya biaya pengiriman & instalasi mesin, kenaikan modal kerja — wajib dimasukkan, walau belum tercatat di akuntansi.
Bagian 2 dari 4
Tiga Komponen Arus Kas Proyek
Setelah tahu arus kas mana yang relevan, sekarang kita susun ke dalam kerangka: investasi awal, arus kas operasi, dan arus kas terminal.
Kerangka: Timeline Arus Kas Proyek
Bayangkan proyek berjalan 5 tahun. Tiga jenis arus kas muncul di titik waktu berbeda:
Tahun 5 istimewa: ia menerima OCF tahun itu SEKALIGUS arus kas terminal — keduanya dijumlahkan.
Komponen 1 — Investasi Awal (Initial Outlay)
Investasi Awal = Capex + Biaya Instalasi & Pengiriman + ΔNWC − Kas Bersih Penjualan Aset Lama
KOMPONEN UTAMA
Capex (capital expenditure) — harga beli aset tetap (mesin, gedung, kendaraan).
Biaya instalasi, pengiriman, pelatihan operator — ikut dikapitalisasi, bukan biaya tahun berjalan.
Kenaikan NWC (net working capital, modal kerja bersih) — tambahan kas untuk persediaan & piutang di awal proyek.
Jika proyek penggantian aset lama: dikurangi kas bersih hasil penjualan aset lama setelah pajak.
CONTOH KASUS SEPANJANG DECK INI
Rp 225 jt
Capex Rp 200 jt + ΔNWC Rp 25 jt
Angka ini yang akan terus kita pakai di slide-slide berikutnya (Hitung dari Nol & studi kasus terpadu).
Komponen 2 — Arus Kas Operasi (OCF)
OCF = EBIT × (1 − Pajak) + Depresiasi
EBIT
Penjualan − Biaya − Depresiasi
Earnings Before Interest and Taxes — laba operasi sebelum bunga & pajak. Bunga tidak dikurangkan di sini (efek pendanaan sudah ada di WACC).
TAX SHIELD DEPRESIASI
Depresiasi × Pajak
Depresiasi bukan arus kas keluar (non-kas), tetapi mengurangi pajak yang harus dibayar — disebut perisai pajak (tax shield). Karena itu ditambahkan kembali setelah pajak dihitung.
Jangan gunakan laba bersih (net income) dari laporan akuntansi langsung — laba bersih sudah memasukkan beban bunga, sementara OCF proyek harus bebas dari struktur pendanaan.
Hitung dari Nol: Menghitung OCF Tahunan
Proyek mesin cetak Rp 200 juta, disusut garis lurus 5 tahun, tanpa nilai sisa buku. Penjualan tahunan Rp 500 juta, biaya operasional tunai Rp 300 juta, PPh Badan 22%.
TABEL LANGKAH OCF
Langkah
Perhitungan
Nilai
Penjualan tahunan
—
Rp 500,0 jt
(−) Biaya operasional tunai
—
Rp 300,0 jt
(−) Depresiasi
200 ÷ 5
Rp 40,0 jt
EBIT
500 − 300 − 40
Rp 160,0 jt
(−) Pajak (PPh Badan 22%)
22% × 160
(Rp 35,2 jt)
NOPAT (laba operasi setelah pajak)
160 − 35,2
Rp 124,8 jt
(+) Depresiasi (bukan kas)
124,8 + 40
Rp 164,8 jt
OCF PER TAHUN (TAHUN 1–5)
Rp 164,8 jt
EBIT (1−22%) + Depresiasi
Angka ini akan dipakai di studi kasus terpadu (slide belakang) sebagai arus kas Tahun 1 s.d. Tahun 4.
Bagian 3 dari 4
Modal Kerja & Arus Kas Terminal
Bagian yang paling sering terlewat: apa yang terjadi pada NWC dan aset ketika proyek berakhir?
Perubahan NWC & Formula Arus Kas Terminal
Arus Kas Terminal = (Harga Jual Aset − Pajak atas Untung/Rugi) + Pemulihan ΔNWC
Modal kerja yang ditambahkan di Tahun 0 bukan biaya hilang — ia hanya "tertahan" di piutang & persediaan, dan dicairkan kembali secara penuh saat proyek berakhir.
Hitung dari Nol: Arus Kas Terminal (Tahun 5)
Mesin dijual seharga Rp 30 juta di akhir Tahun 5. Nilai buku sudah nol (disusut penuh 5 tahun). NWC awal Rp 25 juta dicairkan penuh.
TABEL LANGKAH ARUS KAS TERMINAL
Langkah
Perhitungan
Nilai
Harga jual aset (nilai sisa pasar)
—
Rp 30,0 jt
Nilai buku aset (disusut penuh)
200 − (40×5)
Rp 0,0 jt
Keuntungan kena pajak
30 − 0
Rp 30,0 jt
(−) Pajak atas keuntungan (22%)
22% × 30
(Rp 6,6 jt)
Nilai sisa setelah pajak
30 − 6,6
Rp 23,4 jt
(+) Pemulihan NWC
—
Rp 25,0 jt
Total arus kas terminal
23,4 + 25
Rp 48,4 jt
ARUS KAS TERMINAL (TAHUN 5)
Rp 48,4 jt
Nilai sisa setelah pajak + pemulihan NWC
Digabung dengan OCF Tahun 5 (Rp 164,8 jt) pada studi kasus terpadu berikutnya.
Studi Kasus Terpadu: Tabel Arus Kas Proyek Lengkap
Menggabungkan investasi awal, OCF, dan arus kas terminal menjadi satu tabel — inilah "bahan baku" yang akan didiskontokan minggu depan.
Tahun
Investasi Awal
OCF
Arus Kas Terminal
Total Arus Kas
0
(Rp 225,0 jt)
—
—
(Rp 225,0 jt)
1
—
Rp 164,8 jt
—
Rp 164,8 jt
2
—
Rp 164,8 jt
—
Rp 164,8 jt
3
—
Rp 164,8 jt
—
Rp 164,8 jt
4
—
Rp 164,8 jt
—
Rp 164,8 jt
5
—
Rp 164,8 jt
Rp 48,4 jt
Rp 213,2 jt
Tabel inilah yang minggu depan akan didiskontokan dengan WACC untuk menghitung NPV (net present value) dan IRR (internal rate of return) — hari ini tugas kita "hanya" menyiapkan angkanya dengan benar.
Coba Sendiri: Susun Timeline Arus Kas Proyek Anda Sendiri
Ubah investasi awal, OCF tahunan, dan arus kas terminal, amati bagaimana timeline arus kas lengkap proyek terbentuk tahun demi tahun.
Kesalahan Umum dalam Menyusun Arus Kas Proyek
SERING SALAH TAMBAH
Memasukkan sunk cost (biaya riset, studi kelayakan yang sudah dibayar).
Mengurangkan bunga pinjaman di dalam OCF (padahal sudah tercermin di WACC).
Lupa memasukkan opportunity cost aset yang sudah dimiliki.
SERING TERLEWAT
Lupa memasukkan kenaikan NWC di investasi awal.
Lupa memulihkan NWC & menjual aset di tahun terakhir.
Lupa pajak atas keuntungan penjualan aset (jika nilai jual > nilai buku).
Satu kesalahan kecil di tahun nol atau tahun terakhir bisa mengubah keputusan NPV dari "layak" menjadi "tidak layak" — ketelitian di pertemuan ini menentukan kualitas keputusan investasi minggu depan.
Sensitivitas: Bagaimana Asumsi Mengubah Arus Kas?
DEPRESIASI DIPERCEPAT
OCF ↑ Lebih Awal
Perisai pajak lebih besar di tahun-tahun awal → OCF awal naik, OCF akhir turun (total sama, waktunya berbeda).
NILAI SISA LEBIH TINGGI
Terminal CF ↑
Harga jual aset bekas lebih tinggi → arus kas terminal naik, tapi pajak atas keuntungan juga naik.
ΔNWC LEBIH BESAR
Outlay ↑ Awal
Investasi awal lebih besar (kas "tertanam" lebih banyak), tapi seluruhnya kembali sebagai pemulihan NWC di akhir.
Perhatikan: waktu (timing) arus kas sama pentingnya dengan besarannya — karena nilai waktu uang (time value of money, dibahas pertemuan 6–7), Rp 1 juta di tahun 1 lebih berharga daripada Rp 1 juta di tahun 5.
Coba Sendiri: Uji Sensitivitas Asumsi Arus Kas Proyek
Geser asumsi depresiasi, nilai sisa, dan perubahan NWC satu per satu, amati mana yang paling besar mengubah bentuk arus kas proyek.
Latihan Kelas: Susun Arus Kas Proyek Anda Sendiri
Kerjakan berpasangan (10 menit), lalu satu pasangan mempresentasikan hasilnya.
DATA PROYEK — USAHA KATERING DIGITAL
Peralatan dapur baru: Rp 120 juta, disusut garis lurus 4 tahun, nilai sisa buku Rp 0.
Kenaikan NWC (bahan baku & piutang platform): Rp 15 juta di Tahun 0.
Penjualan tahunan Rp 250 juta; biaya operasional tunai Rp 150 juta; PPh Badan 22%.
Peralatan dijual Rp 20 juta di akhir Tahun 4; NWC dipulihkan penuh.
Tugas Anda: (1) hitung OCF tahunan, (2) hitung arus kas terminal Tahun 4, (3) susun tabel arus kas Tahun 0–4 — ikuti persis pola slide sebelumnya.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
CHEAT SHEET HARI INI
Inkremental: hanya arus kas yang berubah karena proyek.
Sunk cost dibuang; opportunity cost dimasukkan.
Investasi Awal = Capex + ΔNWC (− kas aset lama).
OCF = EBIT × (1−Pajak) + Depresiasi.
Terminal = Nilai sisa setelah pajak + Pemulihan NWC.
MINGGU DEPAN — PERTEMUAN 13
CAPITAL BUDGETING
Payback, Discounted Payback, NPV (bagian 1)
Tabel arus kas yang Anda susun hari ini akan langsung didiskontokan dengan WACC pertemuan 10–11 untuk menghasilkan keputusan investasi.
Tugas: kerjakan latihan katering digital sampai selesai (tabel Tahun 0–4) dan bawa hasilnya — akan dipakai langsung sebagai data latihan NPV minggu depan.