‹ Daftar slidePertemuan 11: Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) dan Analisis Keputusan
Program Studi Bisnis Digital · FEB UNDIP · Manajemen Keuangan
Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC)
Pertemuan 11 · WACC dan Analisis Keputusan
Dari biaya utang, saham preferen, dan saham biasa — menjadi satu angka yang menentukan layak-tidaknya sebuah proyek.
RPS minggu 12 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung biaya modal tiap sumber dana dan menggabungkannya menjadi WACC untuk pengambilan keputusan investasi:
Capaian 1 — Biaya Komponen
①
Menghitung biaya utang setelah pajak, biaya saham preferen, dan biaya saham biasa (Gordon Growth & CAPM).
Capaian 2 — Pembobotan
②
Menentukan bobot struktur modal berdasarkan nilai pasar, bukan nilai buku, untuk tiap sumber dana.
Capaian 3 — Menghitung WACC
③
Menyusun rumus WACC lengkap dan menghitungnya untuk kasus perusahaan dengan tiga sumber dana sekaligus.
Capaian 4 — Aplikasi Keputusan
④
Menjelaskan mengapa WACC menjadi hurdle rate keputusan investasi, serta keterbatasannya dalam praktik.
Mengapa Satu Angka Ini Bisa Membuat atau Menghancurkan Proyek
WACC bukan sekadar rumus akademis — ia adalah garis batas antara proyek yang menciptakan nilai dan proyek yang menggerus nilai perusahaan.
Kasus 1 — Ekspansi Gudang
📦
Tokopedia mempertimbangkan gudang baru dengan proyeksi return 13%. Jika WACC perusahaan 11,5%, proyek ini menambah nilai.
Kasus 2 — Proyek Ditolak
🚫
Sebuah pabrik konveksi UMKM menawarkan return proyeksi 9%, di bawah WACC 11,5% — dananya lebih baik dikembalikan ke investor.
Kasus 3 — Salah Hitung
⚠
BBCA salah menaksir WACC terlalu rendah 2% saja bisa membuat proyek miliaran rupiah tampak layak, padahal sebenarnya merugi.
WACC menjawab satu pertanyaan sederhana namun krusial: berapa return minimum yang harus dihasilkan sebuah proyek agar layak didanai? Salah menghitungnya berarti salah mengambil keputusan miliaran rupiah.
Bagian 1 dari 3
Biaya Modal Komponen: Utang, Preferen, Saham Biasa
Sebelum digabung menjadi WACC, kita hitung dulu biaya tiap sumber dana secara terpisah — masing-masing punya logika dan rumusnya sendiri.
Biaya UtangSaham PreferenSaham Biasa
Biaya Utang (Kd): Perhatikan Tameng Pajak
Biaya utang adalah yield to maturity (YTM) atau tingkat bunga yang disyaratkan pasar atas obligasi/pinjaman perusahaan. Karena bunga adalah beban yang mengurangi pajak, biaya utang riil bagi perusahaan lebih rendah dari bunga nominalnya.
Tarif PPh Badan di Indonesia = 22%. Semakin tinggi tarif pajak, semakin besar penghematan, dan semakin rendah biaya utang riil.
Hitung dari Nol — HDN-1: Biaya Utang Setelah Pajak
PT Cahaya Nusantara Tbk menerbitkan obligasi dengan YTM (Kd pretax) = 9% per tahun. Tarif PPh Badan 22%. Berapa biaya utang riil (setelah pajak)?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Kd pretax (YTM obligasi)
diberikan di soal
9,00%
2. Faktor tameng pajak
1 − 22%
0,78
3. Kd setelah pajak
9% × 0,78
7,02%
Biaya Utang Riil (Kd AT)
7,02%
Inilah angka yang dipakai dalam WACC — bukan 9%
Biaya Saham Preferen (Kp): Dividen Tetap, Tanpa Tameng Pajak
Saham preferen membayar dividen tetap setiap periode. Berbeda dari bunga utang, dividen tidak mengurangi pajak — sehingga tidak ada penyesuaian tarif pajak di rumusnya.
Kp = Dividen Preferen per Lembar (Dp) ÷ Harga Pasar per Lembar (Pp)
Contoh — PT Cahaya Nusantara
💠
Dividen preferen Rp 12.000/lembar/tahun. Harga pasar saham preferen Rp 100.000/lembar.
Perhitungan
12.000 / 100.000
Kp = Rp 12.000 ÷ Rp 100.000 = 12%
Saham preferen berada di antara utang dan saham biasa dalam hal risiko dan biaya: lebih mahal dari utang (tanpa tameng pajak), tetapi biasanya lebih murah dari saham biasa (dividen tetap, bukan residual).
Biaya Saham Biasa (Ke): Dua Pendekatan Utama
Saham biasa adalah sumber dana paling mahal — pemegang saham menanggung risiko residual (dibayar terakhir). Ada dua pendekatan populer untuk menaksir Ke:
Pendekatan 1 — Gordon Growth (DDM)
📈
Ke = (Dividen Tahun Depan ÷ Harga Saham) + Tingkat Pertumbuhan Dividen. Cocok untuk perusahaan dengan dividen stabil dan tumbuh konstan.
Pendekatan 2 — CAPM
📊
Ke = Suku Bunga Bebas Risiko + (Beta × Premi Risiko Pasar). Cocok untuk perusahaan dengan atau tanpa dividen — dasar dari harga saham berisiko.
Dua pendekatan ini sering menghasilkan angka yang berbeda karena asumsinya berbeda — praktik lazim: hitung keduanya, lalu ambil rata-rata sebagai estimasi Ke akhir.
Hitung dari Nol — HDN-2: Ke via Gordon Growth & CAPM
Saham biasa PT Cahaya Nusantara: harga pasar Rp 15.000/lembar, dividen tahun depan (D₁) Rp 1.500, pertumbuhan (g) 5%. Beta saham 1,4; suku bunga bebas risiko (SUN 10 tahun) ~6,8%; premi risiko pasar ~6%.
Biaya tiap sumber dana sudah kita hitung — sekarang kita bobot sesuai porsi struktur modal dan gabungkan menjadi satu angka WACC.
WACC = WdKd(1−T) + WpKp + WeKe
Bobot Struktur Modal: Selalu Pakai Nilai Pasar
Kesalahan paling umum: memakai nilai buku (dari neraca) untuk menghitung bobot. Yang benar adalah nilai pasar — karena itulah nilai yang sesungguhnya dituntut investor saat ini.
Walkthrough — Mengapa Nilai Pasar?
Nilai buku mencatat harga historis saat aset/saham diterbitkan — bisa jadi puluhan tahun lalu.
Nilai pasar mencerminkan ekspektasi investor hari ini — inilah dana riil yang harus "dipuaskan" returnnya.
Contoh: BBCA punya nilai buku ekuitas jauh lebih kecil dari kapitalisasi pasarnya di BEI — memakai nilai buku akan meremehkan bobot ekuitas.
Walkthrough — Struktur Modal PT Cahaya Nusantara
Nilai pasar utang = Rp 400 miliar.
Nilai pasar saham preferen = Rp 100 miliar.
Nilai pasar saham biasa (harga saham × jumlah lembar beredar) = Rp 500 miliar.
Total nilai pasar modal = Rp 1.000 miliar.
Rumus WACC Lengkap: Membaca Tiap Suku
WACC = (Wd × Kd(1−T)) + (Wp × Kp) + (We × Ke)
W = bobot (porsi nilai pasar sumber dana terhadap total).
K = biaya masing-masing sumber dana (sudah dihitung di Bagian 1).
(1−T) hanya di utang — karena hanya bunga yang punya tameng pajak.
Hitung dari Nol — HDN-3: WACC Lengkap PT Cahaya Nusantara Tbk
Struktur modal (nilai pasar): Utang Rp 400 M (Kd AT 7,02%), Preferen Rp 100 M (Kp 12%), Saham Biasa Rp 500 M (Ke 15%). Total Rp 1.000 M.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Bobot utang (Wd)
400 / 1.000
40%
2. Bobot saham preferen (Wp)
100 / 1.000
10%
3. Bobot saham biasa (We)
500 / 1.000
50%
4. Kontribusi utang
40% × 7,02%
2,808%
5. Kontribusi saham preferen
10% × 12%
1,200%
6. Kontribusi saham biasa
50% × 15%
7,500%
7. WACC
2,808% + 1,200% + 7,500%
11,508%
WACC PT Cahaya Nusantara Tbk
~11,51%
Inilah hurdle rate minimum proyek perusahaan ini
Coba Sendiri: Susun WACC dari Tiga Komponen Biaya Modal
Ubah nilai pasar utang, saham preferen, dan saham biasa beserta biaya masing-masing, amati bagaimana WACC bergerak sebagai hurdle rate perusahaan.
WACC sebagai Hurdle Rate untuk Keputusan Investasi
WACC paling sering dipakai sebagai discount rate dalam perhitungan NPV, dan sebagai hurdle rate pembanding IRR — konsep yang akan Anda dalami penuh di pertemuan penganggaran modal.
Aturan Keputusan — NPV
💰
Diskontokan arus kas proyek dengan WACC = 11,51%. Jika NPV > 0, proyek layak diterima — nilai perusahaan bertambah.
Intuisi sederhana: WACC adalah "harga" rata-rata seluruh dana yang dipakai perusahaan. Sebuah proyek hanya layak jika ia menghasilkan return lebih besar dari harga dana tersebut — jika tidak, perusahaan sebenarnya merugi meski laba akuntansi tetap positif.
Bagian 3 dari 3
Keterbatasan & Aplikasi Lanjutan WACC
WACC bukan angka sakti tanpa syarat — ada asumsi tersembunyi yang wajib Anda pahami sebelum memakainya untuk semua jenis keputusan.
Asumsi RisikoWACC Divisional
Keterbatasan WACC: Marginal Cost of Capital
WACC yang kita hitung adalah biaya modal saat ini, bukan biaya modal untuk tambahan dana dalam jumlah besar di masa depan.
Batasan 1 — Struktur Modal Tetap
⚖
WACC mengasumsikan perusahaan mempertahankan proporsi struktur modal yang sama saat menambah dana baru (40:10:50 pada kasus kita).
Batasan 2 — Kenaikan Biaya Marjinal
📈
Jika perusahaan butuh dana sangat besar sekaligus, biaya tiap sumber dana bisa naik (investor minta return lebih tinggi) — WACC lama tak lagi relevan.
Contoh: jika PT Cahaya Nusantara ingin menerbitkan obligasi senilai Rp 2 triliun sekaligus (dua kali lipat aset saat ini), investor cenderung meminta yield lebih tinggi dari 9% karena risiko yang meningkat — WACC harus dihitung ulang dengan Kd baru.
Coba Sendiri: Temukan Titik Patah Marginal Cost of Capital
Geser jumlah dana baru yang dibutuhkan perusahaan, amati titik di mana biaya modal marjinal mulai naik dan berpotongan dengan jadwal peluang investasi.
WACC Divisional: Satu Perusahaan, Risiko Berbeda-Beda
Perusahaan dengan banyak lini bisnis berisiko berbeda sebaiknya tidak memakai satu WACC perusahaan untuk menilai semua proyek — ini disebut jebakan WACC tunggal (single hurdle rate fallacy).
Contoh — GoTo Group
🛵
Divisi ride-hailing (risiko lebih tinggi) seharusnya punya hurdle rate di atas WACC gabungan perusahaan.
Contoh — GoTo Group
💳
Divisi fintech pembayaran (risiko lebih rendah, lebih stabil) seharusnya punya hurdle rate di bawah WACC gabungan.
Konsekuensi Kalau Diabaikan
⚠
Memakai WACC tunggal membuat divisi berisiko rendah terlalu ketat dinilai, dan divisi berisiko tinggi terlalu longgar dinilai.
Solusi praktik: gunakan WACC divisional/proyek yang disesuaikan dengan beta dan risiko masing-masing lini bisnis — bukan satu angka pukul rata untuk seluruh perusahaan.
Latihan Mandiri: Hitung WACC Perusahaan Anda Sendiri
Kerjakan secara berpasangan, waktu 10 menit. Gunakan struktur perhitungan yang sama seperti HDN-1, HDN-2, dan HDN-3.
Data PT Warna Digital Tbk (fiktif)
Obligasi: nilai pasar Rp 300 miliar, YTM (Kd pretax) 10%. Tarif PPh Badan 22%.
Saham preferen: nilai pasar Rp 200 miliar, dividen Rp 8.000/lembar, harga Rp 80.000/lembar.
Saham biasa: nilai pasar Rp 500 miliar, D₁ Rp 900/lembar, harga Rp 12.000/lembar, g = 7%.
Instruksi: (1) Hitung Kd setelah pajak, Kp, dan Ke (Gordon Growth). (2) Hitung bobot tiap sumber dana dari nilai pasar. (3) Hitung WACC akhir. Kumpulkan jawaban di akhir sesi — kunci jawaban dibahas pertemuan berikutnya.
Empat Kesalahan Umum Menghitung WACC
Sebagian besar kesalahan mahasiswa (dan bahkan praktisi pemula) berulang pada empat titik yang sama:
Kesalahan
Yang Benar
Dampak Jika Salah
Memakai Kdpretax langsung
Wajib dikalikan (1−T)
WACC terlalu tinggi
Memakai bobot dari nilai buku
Wajib pakai nilai pasar
Bobot ekuitas sering terlalu kecil
Lupa (1−T) juga dipakai di Kp/Ke
(1−T) hanya di utang
WACC terlalu rendah
Memakai satu WACC untuk semua divisi
Sesuaikan dengan risiko divisi
Salah menerima/menolak proyek
Tabel ini bukan sekadar daftar hafalan — setiap kesalahan berdampak langsung pada keputusan investasi miliaran rupiah. Cek ulang tanda (1−T) dan sumber angka bobot setiap kali Anda menghitung WACC.
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Yang Sudah Anda Kuasai
✓
Menghitung Kd setelah pajak, Kp, dan Ke (Gordon Growth & CAPM); membobot struktur modal dengan nilai pasar; menghitung WACC lengkap; memahami WACC sebagai hurdle rate serta keterbatasannya.
Pertemuan Berikutnya
→
Analisis Arus Kas Proyek & Teknik Penganggaran Modal — payback period, NPV, IRR, dan MIRR — semuanya akan memakai WACC 11,51% yang baru kita hitung sebagai discount rate.
Bawa hasil perhitungan WACC PT Cahaya Nusantara Tbk (11,51%) dan latihan PT Warna Digital Tbk Anda ke pertemuan berikutnya — angka-angka ini akan langsung dipakai untuk menilai kelayakan proyek investasi nyata.
📖 Baca juga: Wacc — penjelasan mendalam dan contoh numerik.