stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-09
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 9: Model Penilaian Saham Biasa dan Saham Preferen
Manajemen Keuangan · Program Bisnis Digital

Manajemen Keuangan

Pertemuan 9: Model Penilaian Saham Biasa dan Saham Preferen

Bagaimana kita menghitung berapa harga wajar selembar saham — bukan sekadar harga yang tertera di layar aplikasi trading?

RPS minggu 10 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Fondasi: Saham sebagai Klaim atas Perusahaan
Sebelum menghitung harga, kita perlu paham dulu apa sebenarnya yang dibeli seorang investor saat membeli saham.

Dua Jenis Saham, Dua Karakter Berbeda

Saham (stock/equity) adalah bukti kepemilikan atas sebagian perusahaan. Ada dua jenis utama yang diperdagangkan di BEI (Bursa Efek Indonesia):

AspekSaham Biasa (Common Stock)Saham Preferen (Preferred Stock)
Hak suara (voting)Ya, di RUPSUmumnya tidak
DividenBerubah-ubah, tidak dijaminTetap, sering seperti "%" dari nilai nominal
Prioritas klaim saat likuidasiTerakhir (paling berisiko)Sebelum saham biasa
Potensi kenaikan hargaTidak terbatasRelatif terbatas

Contoh riil: saham BBCA dan TLKM yang Anda lihat di aplikasi trading adalah saham biasa. Saham preferen lebih jarang diperdagangkan ritel di Indonesia, tapi tetap penting dipahami sebagai instrumen hybrid antara utang dan ekuitas.

Hak-Hak Pemegang Saham Biasa

HAK UTAMA
  • Hak suara di RUPS — memilih direksi & komisaris, menyetujui aksi korporasi (mis. merger, penerbitan saham baru).
  • Hak atas dividen — bagian laba yang dibagikan, besarnya tidak dijamin dan bergantung keputusan RUPS.
  • Hak atas aset residual saat likuidasi — dibayar paling terakhir, setelah kreditur dan pemegang saham preferen.
IMPLIKASI RISIKO
  • Karena dividen tidak dijamin, arus kas ke pemegang saham biasa jauh lebih tidak pasti dibanding kupon obligasi.
  • Sebagai kompensasi ketidakpastian ini, investor menuntut required return (ke) yang lebih tinggi daripada obligasi.
  • Inilah sebabnya model penilaian saham biasa lebih rumit daripada obligasi.

Saham Preferen: "Hibrida" Utang dan Ekuitas

1. Kreditur / Pemegang Obligasi — dibayar paling dulu2. Pemegang Saham Preferen — dividen tetap, prioritas kedua3. Pemegang Saham Biasa — sisa terakhir, potensi untung tak terbatas

Saham preferen mirip obligasi (dividen tetap, prioritas klaim) tapi tetap "saham" karena dividennya bukan kewajiban hukum wajib seperti bunga utang — kalau perusahaan rugi, dividen preferen boleh ditunda tanpa membuat perusahaan pailit.

Nilai Intrinsik vs. Harga Pasar

Model penilaian saham menjawab pertanyaan: berapa nilai wajar (intrinsik) selembar saham berdasarkan arus kas dividen yang diharapkan di masa depan, didiskon dengan required return investor?

HARGA PASAR (P₀)
Angka yang tertera di layar aplikasi trading saat ini — hasil tarik-menarik permintaan & penawaran.
NILAI INTRINSIK (V)
Hasil hitungan model penilaian — estimasi "harga wajar" berdasarkan fundamental perusahaan.
Jika V > harga pasar → saham dianggap undervalued (murah, layak dibeli). Jika V < harga pasarovervalued (mahal). Inilah dasar strategi value investing.
Bagian 2 dari 3
Model Diskonto Dividen (Dividend Discount Model)
Tiga varian model, dari yang paling sederhana (saham preferen) sampai yang paling realistis (pertumbuhan tidak konstan).

Prinsip Dasar: Nilai = PV Semua Dividen Masa Depan

D₁D₂D₃D∞V₀Semua dividen masa depan didiskon ke masa kini dengan required return (ke atau kp)
V₀ = Σ Dt ÷ (1 + k)t   untuk t = 1 sampai ∞

V₀ = nilai intrinsik saat ini, Dt = dividen yang diharapkan diterima pada periode t, k = required return investor (kp untuk saham preferen, ke untuk saham biasa).

Kasus Termudah: Saham Preferen (Dividen Tetap Selamanya)

Karena dividen preferen (Dp) tidak berubah setiap tahun, rumus umum di atas menyederhana menjadi rumus perpetuitas (anuitas tanpa batas waktu) yang sudah Anda pelajari di pertemuan nilai waktu uang.

Vp = Dp ÷ kp
Dp
Dividen preferen tahunan (tetap, dalam Rupiah per lembar)
kp
Required return investor saham preferen (dalam desimal)

Hitung dari Nol #1: Valuasi Saham Preferen

Kasus: PT Bank Maju Tbk (kode ilustratif BMJU) menerbitkan saham preferen dengan dividen tetap Rp 500 per lembar per tahun. Required return investor saham preferen di pasar saat ini ~10%.

LangkahPerhitunganNilai
1. Dividen preferen tahunan (Dp)diketahui dari prospektusRp 500
2. Required return (kp)diketahui dari pasar10% = 0,10
3. Nilai intrinsik (Vp)500 ÷ 0,10Rp 5.000
NILAI INTRINSIK Vₛ
Rp 5.000
Per lembar saham preferen BMJU

Saham Biasa: Model Pertumbuhan Konstan (Gordon Growth)

Dividen saham biasa biasanya tidak tetap — perusahaan sehat cenderung menaikkan dividennya seiring waktu dengan tingkat pertumbuhan konstan g. Model ini disebut Gordon Growth Model, dikembangkan ekonom Myron J. Gordon.

P₀ = D₁ ÷ (ke − g)
D₁
Dividen yang diharapkan tahun depan = D₀×(1+g)
ke
Required return saham biasa
g
Tingkat pertumbuhan dividen konstan
Syarat model ini hanya valid jika ke > g — kalau pertumbuhan diasumsikan lebih cepat dari required return, hasilnya negatif dan tidak masuk akal secara ekonomi.

Hitung dari Nol #2: Valuasi Saham Biasa Pertumbuhan Konstan

Kasus: PT Bank Maju Tbk (BMJU) baru saja membagikan dividen D₀ = Rp 200 per lembar. Manajemen memperkirakan dividen tumbuh g = 8% per tahun selamanya, dan investor menuntut required return ke = 14%.

LangkahPerhitunganNilai
1. Dividen tahun depan (D₁)200 × (1 + 0,08)Rp 216
2. Selisih ke − g0,14 − 0,080,06
3. Nilai intrinsik (P₀)216 ÷ 0,06Rp 3.600
NILAI INTRINSIK P₀
Rp 3.600
Per lembar saham biasa BMJU

Kasus Realistis: Model Pertumbuhan Tidak Konstan (Two-Stage)

Banyak perusahaan — terutama startup digital yang baru IPO (Initial Public Offering, penawaran saham perdana) — tumbuh sangat cepat di awal, lalu melambat ke level stabil. Model dua-tahap menangani situasi ini dengan alur berikut:

TAHAP 1
Selama beberapa tahun (misal 3-5 tahun), perusahaan tumbuh supernormal (di atas rata-rata) karena ekspansi pasar, mis. penetrasi e-commerce baru. Hitung PV tiap dividen tahap ini satu per satu.
TAHAP 2
Setelah itu, pertumbuhan melambat ke tingkat konstan selamanya. Hitung nilai terminal di akhir tahap 1 memakai Gordon Growth, lalu diskon balik ke masa kini.
Nilai total = PV dividen tahap supernormal + PV nilai terminal. Model ini sering dipakai analis untuk menilai saham teknologi seperti GOTO yang belum stabil pertumbuhannya.

Coba Sendiri: Bandingkan Valuasi Gordon Growth vs Two-Stage

Ubah dividen, tingkat pertumbuhan, dan required return, amati bagaimana nilai intrinsik saham berbeda antara model pertumbuhan konstan dan dua-tahap.

Membalik Rumus: Mencari Required Return dari Harga Pasar

Kadang kita justru sudah tahu harga pasar (P₀) dan ingin tahu berapa required return yang implisit di dalamnya. Susun ulang rumus Gordon Growth:

ke = (D₁ ÷ P₀) + g
LANGKAH 1
Dividend yield = D₁ ÷ P₀ = 216 ÷ 3.600 = 0,06 (6%)
LANGKAH 2
Tambahkan capital gains yield (g) = 0,06 + 0,08 = 0,14 (14%) — cocok dengan ke semula!
Teknik ini penting: dua pertemuan lagi kita pakai cara serupa untuk menghitung biaya modal saham biasa dalam perhitungan WACC.
Bagian 3 dari 3
Aplikasi, Sensitivitas, dan Keterbatasan Model
Model DDM sangat berguna, tetapi punya asumsi yang perlu dikritisi sebelum dipakai di dunia nyata.

Seberapa Sensitif Harga Terhadap Asumsi g dan ke?

Menggunakan kasus BMJU (D₁ = Rp 216, ke = 14%), lihat bagaimana nilai intrinsik berubah drastis hanya dengan mengubah asumsi pertumbuhan g:

Asumsi gPerhitungan P₀Nilai Intrinsik
4%216 ÷ (0,14 − 0,04)Rp 2.160
6%216 ÷ (0,14 − 0,06)Rp 2.700
8%216 ÷ (0,14 − 0,08)Rp 3.600
10%216 ÷ (0,14 − 0,10)Rp 5.400
Kenaikan g dari 8% ke 10% (hanya 2 poin persentase) mendorong nilai naik 50% — inilah mengapa proyeksi growth rate adalah bagian paling kritis dan paling diperdebatkan dalam analisis saham.

Keterbatasan Model Diskonto Dividen

MASALAH UTAMA
  • Tidak bisa dipakai untuk saham yang belum membagikan dividen — banyak perusahaan digital seperti GOTO menahan seluruh laba untuk ekspansi.
  • Sangat bergantung pada asumsi g yang akurat — sulit diproyeksikan untuk industri yang berubah cepat.
  • Mengasumsikan pola pertumbuhan yang rapi, padahal realitas bisnis sering bergejolak.
ALTERNATIF PRAKTIS
  • Analis sering memakai rasio harga terhadap laba (P/E) atau valuasi relatif berbasis pembanding sejenis.
  • Untuk perusahaan tanpa dividen, dipakai model arus kas bebas (free cash flow) sebagai pengganti dividen.
  • DDM tetap paling relevan untuk perusahaan mapan berdividen stabil, mis. sektor perbankan & consumer goods di BEI.

Latihan Kelas: Coba Hitung Sendiri

SOAL LATIHAN INDIVIDU (10 MENIT)

Soal A (Saham Preferen): PT Sejahtera Abadi Tbk membagikan dividen preferen tetap Rp 800/lembar per tahun. Required return investor saham preferen 8%. Berapa nilai intrinsiknya?

Soal B (Saham Biasa, Pertumbuhan Konstan): PT Nusantara Digital Tbk baru membagikan dividen D₀ = Rp 150/lembar. Pertumbuhan dividen diperkirakan konstan 6% per tahun, required return investor 12%. Berapa nilai intrinsiknya?

Kerjakan di kertas, lalu bandingkan jawaban dengan teman sebangku. Kita bahas bersama 5 menit sebelum lanjut ke rangkuman.

Rangkuman: Peta Rumus Penilaian Saham

Jenis SahamRumusKapan Dipakai
Saham PreferenVp = Dp ÷ kpDividen tetap selamanya
Saham Biasa — pertumbuhan konstanP₀ = D₁ ÷ (ke − g)Dividen tumbuh stabil, ke > g
Saham Biasa — dua-tahapPV eksplisit + PV nilai terminalPerusahaan baru tumbuh cepat lalu stabil
Prinsip inti yang berlaku untuk SEMUA rumus di atas: nilai = present value dari arus kas masa depan — sama seperti obligasi minggu lalu, hanya arus kasnya berupa dividen, bukan kupon.

Sebelum Pertemuan Berikutnya

MINGGU DEPAN
Biaya Modal (WACC)
Bagian 1: biaya utang & biaya saham preferen
Kita akan pakai kembali rumus kp dan ke dari hari ini sebagai komponen penghitungan WACC (Weighted Average Cost of Capital, biaya modal rata-rata tertimbang).
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 10
  • Selesaikan Soal A & B latihan kelas hari ini kalau belum tuntas.
  • Cari data dividen historis 1 emiten BEI pilihan Anda (mis. lewat laporan tahunan/IDX), bawa ke kelas.
  • Baca ulang catatan penilaian obligasi (P8) untuk menyegarkan konsep PV.

📖 Baca juga: Dcf Valuation — penjelasan mendalam dan contoh numerik.