‹ Daftar slidePertemuan 9: Struktur Modal — EBIT-EPS, ROE, Rentabilitas Ekonomis & Teori
FEB UNDIP · Program Studi Manajemen · Manajemen Keuangan II
Struktur Modal
Pertemuan 9 · EBIT-EPS, ROE, Rentabilitas Ekonomis & Empat Teori
Berapa banyak utang yang sebaiknya dipakai perusahaan? Kita bedah teorinya — MM, trade-off, pecking order, keagenan — lalu hitung dampaknya pada EPS dan ROE.
RPS MINGGU 10 · SUB-CPMK 9 · DURASI 2 × 50 MENIT
PRASYARAT: MK I (BIAYA MODAL/WACC, NILAI WAKTU UANG) · MK II P1–P8
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan teori struktur modal dan menentukan struktur modal berdasarkan EPS, ROE, dan rentabilitas ekonomis (Sub-CPMK 9). Secara rinci:
Capaian 1 — Teori
Menjelaskan empat teori struktur modal: MM tanpa & dengan pajak, trade-off, pecking order, dan keagenan — satu kalimat inti tiap teori.
Capaian 2 — EBIT-EPS
Menghitung titik indiferen EBIT-EPS dua alternatif pendanaan dari nol dan membaca grafiknya.
Capaian 3 — ROE
Menghitung efek leverage ke ROE di dua kondisi ekonomi dan mengaitkannya dengan rentabilitas ekonomis (BEP) & biaya utang.
Capaian 4 — Optimal
Menentukan arah struktur modal optimal dengan menimbang tax shield melawan risiko keuangan & jenis aset.
Dua Perusahaan Kembar — Satu Berutang, Satu Tidak
Bayangkan dua perusahaan yang persis sama asetnya dan labanya. Bedanya hanya cara mendanai. Apakah nilainya berbeda?
Perusahaan A — Tanpa Utang
100% Saham
Aset Rp 100 miliar
Tidak ada bunga. Aman, tetapi pemilik menanggung seluruh risiko sendiri.
Perusahaan B — Pakai Utang
50% : 50%
Aset Rp 100 miliar (utang + saham)
Ada beban bunga, tetapi pemilik mengendalikan aset lebih besar dengan modal lebih kecil.
Pertanyaan yang memicu salah satu debat terbesar dalam keuangan: apakah B lebih bernilai, kurang bernilai, atau sama dengan A? Jawabannya tergantung pajak, biaya kebangkrutan, dan informasi — itulah isi pertemuan hari ini.
Bagian 1 dari 4
Apa Itu Struktur Modal?
Sisi kanan neraca — komposisi utang dan ekuitas — dan mengapa leverage keuangan adalah pedang bermata dua.
UTANG · EKUITAS · LEVERAGE
Struktur Modal = Sisi Kanan Neraca
Aset perusahaan (kiri) selalu didanai oleh dua sumber (kanan): utang dan ekuitas. Struktur modal adalah proporsi keduanya.
DR = Total Utang ÷ Total Aset DER = Total Utang ÷ Total Ekuitas
Fokus kita = utang jangka panjang vs ekuitas (struktur modal / capital structure), bukan utang dagang harian — itu modal kerja, sudah Anda bahas di MK I.
Leverage Keuangan — Pedang Bermata Dua
Leverage keuangan = memakai dana berbiaya tetap (utang) dengan harapan imbal hasil aset > biaya utang, sehingga kelebihannya menjadi milik pemegang saham.
Sisi Baik (Kondisi Baik)
Jika imbal hasil aset lebih tinggi dari bunga utang, selisihnya memperbesar imbal hasil pemilik → ROE melonjak.
Sisi Buruk (Kondisi Buruk)
Jika imbal hasil aset lebih rendah dari bunga utang, bunga tetap tetap harus dibayar → ROE anjlok, bahkan bisa negatif / gagal bayar.
Bunga utang bersifat tetap & wajib — tidak peduli perusahaan untung atau rugi. Itulah sumber risiko keuangan (financial risk) yang akan kita buktikan dengan angka di Hitung dari Nol nanti.
Bagian 2 dari 4
Empat Teori Struktur Modal
Dari "struktur modal tidak penting" (MM) sampai "ada urutan pendanaan yang dihormati manajer" (pecking order) — empat jawaban atas satu pertanyaan.
MM · TRADE-OFF · PECKING ORDER · KEAGENAN
MM Tanpa Pajak (1958): Struktur Modal Tidak Relevan
Dalam pasar sempurna (tanpa pajak, tanpa biaya kebangkrutan, informasi sama), Modigliani-Miller membuktikan: cara mendanai tidak mengubah nilai perusahaan.
Proposisi I: VL = VU(nilai berutang = nilai tanpa utang)
Proposisi I — "Pizza"
Nilai ditentukan oleh aset & arus kas operasi, bukan kemasan pendanaan. Ukuran pizza tidak berubah karena cara memotongnya.
Proposisi II — Biaya Ekuitas
re = r0 + (r0 − rd)(D/E). Utang murah dinetralkan ekuitas yang makin mahal → WACC tetap datar.
Intinya bukan "utang tak berguna", melainkan di dunia ideal risiko hanya berpindah tempat, bukan hilang. Investor bisa meniru leverage sendiri (homemade leverage).
MM Dengan Pajak (1963): Munculnya Tax Shield
Begitu pajak dimasukkan, ceritanya berubah. Bunga utang mengurangi laba kena pajak, sehingga negara ikut "mensubsidi" perusahaan yang berutang.
VL = VU + (T × D) · T = PPh Badan, D = utang permanen
Tax Shield (Perisai Pajak)
Setiap rupiah bunga mengurangi pajak sebesar T × bunga. Dengan PPh Badan 22%, tiap Rp 1 bunga menghemat Rp 0,22 pajak.
Implikasi Ekstrem
Karena tax shield menambah nilai, model ini secara harfiah menyarankan utang 100% — kesimpulan yang jelas tidak realistis (memicu teori berikutnya).
Inilah cacat MM-dengan-pajak: ia hanya menghitung manfaat utang dan mengabaikan biaya-nya (risiko bangkrut). Trade-off theory menambal lubang ini.
Hitung dari Nol — HDN-1: Nilai Tax Shield
Perusahaan tanpa utang bernilai Rp 100 miliar. Ia mengambil utang permanen Rp 40 miliar (bunga 10%/tahun). Berapa tambahan nilai dari tax shield, dengan PPh Badan 22%?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Identifikasi
VU=100; D=40; T=22%; rd=10%
—
Bunga tahunan
10% × 40 mld
Rp 4,0 mld
Hemat pajak/tahun
22% × 4,0 mld
Rp 0,88 mld
PV tax shield
0,88 ÷ 0,10 = T × D
Rp 8,8 mld
Nilai berutang
VL = 100 + 8,8
Rp 108,8 mld
Hasil — VL
108,8
Rp miliar (dari 100)
Tambahan Rp 8,8 mld = persis T × D = 22% × 40 mld.
Mengapa dibagi 0,10 (bunga utang), bukan tarif pajak atau WACC? Karena penghematan pajak ini sama pastinya / sama berisikonya dengan pembayaran bunga yang memunculkannya — keduanya menempel pada utang yang sama, jadi diskontonya pun bunga utang (rd).
Trade-off Theory: Manfaat Pajak vs Biaya Distress
Realistisnya, makin banyak utang, manfaat tax shield bertambah tetapi biaya kesulitan keuangan juga bertambah — dan makin cepat. Ada titik optimal di tengah.
VL = VU + (T × D) − PV(biaya distress)
Optimal = titik di mana tambahan tax shield dari Rp 1 utang terakhir = tambahan biaya distress-nya. Tidak nol, tidak maksimum — di tengah.
Coba Sendiri: Geser Rasio Utang, Temukan Struktur Modal Optimal
Geser rasio utang dan bandingkan tiga kurva — MM tanpa pajak, MM dengan pajak, trade-off theory — sampai menemukan puncak D* optimal.
Biaya Kesulitan Keuangan & Konteks Hukum Indonesia
Biaya Langsung (Direct)
Ongkos hukum & administrasi kepailitan — honor kurator, pengacara, akuntan forensik, biaya pengadilan. Relatif kecil tapi nyata.
Biaya Tak Langsung (Indirect)
Pelanggan ragu, pemasok memperketat tempo, karyawan terbaik hengkang, aset dijual paksa di bawah harga, manajemen sibuk "memadamkan api". Biasanya jauh lebih besar.
Konteks Indonesia: kepailitan & restrukturisasi utang diatur UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). PKPU adalah jalur restrukturisasi sebelum pailit penuh.
SINYAL DINI (pengayaan, bukan materi ujian P9): model Z-Score Altman (1968) menggabungkan ~5 rasio (modal kerja/aset, laba ditahan/aset, EBIT/aset) menjadi satu angka; di bawah ambang tertentu = zona bahaya. Cukup tahu ada alatnya — tidak dihitung di pertemuan ini.
Pecking Order (Myers 1984): Ada Urutan Pendanaan
Karena manajer tahu lebih banyak daripada investor (asimetri informasi), perusahaan mengikuti urutan: pakai dana internal dulu, baru utang, ekuitas paling akhir.
Implikasi penting: tidak ada target rasio utang tetap. Struktur modal hanyalah akibat dari kebutuhan dana dikurangi dana internal yang tersedia.
Mengapa saham baru dihindari? Pasar membaca penerbitan ekuitas sebagai sinyal "manajemen merasa saham kemahalan" → harga sering turun saat pengumuman.
Teori Keagenan: Utang sebagai Alat Disiplin
Konflik kepentingan antara manajer (agent) dan pemilik (principal) — sudah dikenalkan di MK I — juga membentuk struktur modal.
Sisi Manfaat Utang
Kewajiban bayar bunga mendisiplinkan manajer — kas bebas tidak bisa dihambur-hamburkan untuk proyek pamer. Utang menekan agency cost of free cash flow (Jensen 1986).
Sisi Biaya Utang
Utang terlalu besar memicu konflik pemegang saham vs kreditor — pemilik tergoda ambil proyek sangat berisiko (risk shifting): untungnya milik mereka, ruginya milik kreditor.
Struktur modal yang baik menyeimbangkan dua biaya keagenan ini: terlalu sedikit utang → manajer boros; terlalu banyak utang → konflik dengan kreditor.
Empat Teori Struktur Modal — Ringkasan
Teori
Inti / Pesan
Implikasi Struktur Modal
MM tanpa pajak (1958)
Di pasar sempurna, pendanaan tidak relevan
Nilai tak dipengaruhi utang (VL = VU)
MM dengan pajak (1963)
Bunga mengurangi pajak (tax shield)
Makin banyak utang makin baik (ekstrem: 100%)
Trade-off
Tax shield vs biaya distress
Ada rasio utang optimal di tengah
Pecking order (1984)
Asimetri informasi → urutan dana
Internal → utang → ekuitas; tanpa target tetap
Keagenan
Utang mendisiplinkan, tapi memicu konflik
Seimbangkan dua biaya keagenan
Tidak ada satu teori yang "menang" mutlak. Praktik perusahaan riil mencerminkan campuran keempatnya — itulah mengapa Myers menamainya "the capital structure puzzle".
Bagian 3 dari 4
Alat Keputusan: EBIT-EPS & ROE
Dari teori ke angka — kapan utang menaikkan EPS dan ROE pemegang saham, dan kapan ia justru menghancurkannya?
EPS = (EBIT − Bunga)(1 − T) ÷ Jumlah Saham
Analisis EBIT-EPS & Titik Indiferen
Bandingkan dua cara mendanai ekspansi — terbitkan saham vs terbitkan utang — dari sisi EPS yang dihasilkan pada berbagai tingkat EBIT.
EPS = [(EBIT − I)(1 − T)] ÷ N · I = bunga · T = pajak · N = jumlah saham
Alternatif Ekuitas
Tambah saham (N besar), tanpa bunga (I = 0). Aman saat EBIT rendah.
Alternatif Utang
Tanpa tambah saham (N kecil), ada bunga (I > 0). Unggul saat EBIT tinggi.
Titik indiferen = tingkat EBIT yang membuat EPS kedua alternatif sama. Di atasnya, utang menang; di bawahnya, ekuitas menang. Inilah ambang keputusan.
Hitung dari Nol — HDN-2: Titik Indiferen EBIT-EPS
SKENARIO HDN-2 — PT MAJU · UTANG PENUH → BUNGA Rp 10 MLD (terpisah dari HDN-3 di Slide 22)
PT Maju butuh Rp 100 miliar untuk ekspansi. Saham lama 10 juta lembar. PPh Badan 22%. Alt A (Ekuitas): + 10 jt saham @ Rp 10.000 → total 20 jt, bunga Rp 0. Alt B (Utang): pinjam Rp 100 mld @ 10% → bunga Rp 10 mld, saham tetap 10 jt.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Samakan EPS
EBIT(1−T)/20jt = (EBIT−10)(1−T)/10jt
(1−T) hapus
Sederhanakan
10·EBIT = 20·(EBIT − 10mld)
—
Pecahkan EBIT
10·EBIT = 20·EBIT − 200 → 10·EBIT = 200
EBIT* = Rp 20 mld
EPS titik itu (A)
20mld × 0,78 ÷ 20 jt
Rp 780
EPS titik itu (B)
(20−10)mld × 0,78 ÷ 10 jt
Rp 780 ✓
Titik Indiferen
Rp 20 mld
EPSA = EPSB = Rp 780
Cek EBIT 30 mld → EPSA Rp 1.170 vs EPSB Rp 1.560 → utang menang.
EBIT > 20 mld → pilih UTANG; EBIT < 20 mld → pilih EKUITAS. Faktor (1−T) muncul di kedua sisi dan saling hapus → letak titik indiferen tidak tergantung tarif pajak.
Membaca Grafik EBIT-EPS
Plot EPS (sumbu-y) terhadap EBIT (sumbu-x) untuk dua alternatif → dua garis lurus yang berpotongan di titik indiferen.
Garis utang lebih curam (saham sedikit) → di kanan titik indiferen ia melesat di atas garis ekuitas. Itulah leverage: imbalan lebih tinggi, tapi garisnya juga lebih cepat jatuh ke kiri.
Grafik ini memakai skenario HDN-2 (bunga Rp 10 mld) → garis utang memotong sumbu-x di Rp 10 mld. Skenario HDN-3 (Slide 22) berbeda — bunga Rp 5 mld.
Coba Sendiri: Geser EBIT, Temukan Titik Indiferen Utang vs Saham
Geser EBIT dan struktur pendanaan, amati kapan garis EPS-utang menyalip garis EPS-saham dan pilihan pendanaan mana yang menang.
DFL — Degree of Financial Leverage
Seberapa sensitif EPS terhadap perubahan EBIT? Itulah yang diukur DFL (degree of financial leverage) — derajat pengungkit keuangan.
DFL = EBIT ÷ (EBIT − I) = %ΔEPS ÷ %ΔEBIT
Hitung DFL (struktur 50/50)
1,33×
20 ÷ (20 − 5) = 20 ÷ 15
Data HDN-3: EBIT Rp 20 mld kondisi baik, bunga Rp 5 mld.
Artinya
Setiap EBIT naik 10%, EPS naik 13,3%. Pengungkit memperbesar — tapi ke bawah juga: EBIT turun 10% → EPS turun 13,3%.
Makin besar bunga (I), makin besar DFL → makin bergejolak EPS. Tanpa utang (I = 0), DFL = 1 (tak ada pengungkit keuangan). Catatan: ini struktur 50/50 HDN-3 (bunga Rp 5 mld); dengan setup HDN-2 (bunga Rp 10 mld), DFL = 20 ÷ 10 = 2,0×.
Rentabilitas Ekonomis (BEP) vs Rentabilitas Modal Sendiri (ROE)
Rentabilitas Ekonomis (BEP)
Produktivitas seluruh aset, tanpa melihat pendanaan. BEP = EBIT ÷ Total Aset. Sama untuk perusahaan kembar — tak dipengaruhi utang.
Rentabilitas Modal Sendiri (ROE)
Imbal hasil bagi pemegang saham saja. ROE = Laba Bersih ÷ Ekuitas.Dipengaruhi struktur modal.
ROE = [ BEP + (BEP − rd)(D/E) ] × (1 − T)
Kunci leverage: jika BEP > biaya utang (rd) → utang menambah ROE (selisih positif × D/E). Jika BEP < rd → utang justru menggerus ROE. Inilah "efek leverage". Rumus = konsekuensi logis dari ROE = LB ÷ E (penurunan lengkap di Lampiran A), bukan hafalan ajaib.
Hitung dari Nol — HDN-3: Efek Leverage ke ROE
SKENARIO HDN-3 — Perusahaan B · 50/50 → BUNGA Rp 5 MLD (berbeda dari HDN-2: bunga Rp 10 mld, jangan tertukar)
Total aset Rp 100 miliar, PPh 22%, biaya utang 10%. Bandingkan dua struktur di dua kondisi:
Rp miliar
Tanpa Utang (E=100)
50% Utang (D=50, E=50)
Kondisi BAIK (BEP 20% → EBIT 20)
Bunga (10%×D)
0
5
Laba sebelum pajak
20
15
Laba bersih (×0,78)
15,6
11,7
ROE = LB ÷ E
15,6%
23,4%
Kondisi BURUK (BEP 5% → EBIT 5)
Bunga (10%×D)
0
5
Laba sebelum pajak
5
0
Laba bersih (×0,78)
3,9
0
ROE = LB ÷ E
3,9%
0%
Kondisi BAIK (BEP 20% > bunga 10%): utang mengangkat ROE 15,6% → 23,4%. Kondisi BURUK (BEP 5% < bunga 10%): utang menghancurkan ROE 3,9% → 0%. Itulah pedang bermata dua.
Bagian 4 dari 4
Menuju Struktur Modal Optimal
Menyatukan teori dan hitungan — melihat struktur modal emiten Indonesia nyata, lalu menentukan arah "optimal" sebuah perusahaan.
∩ PUNCAK BUKIT = OPTIMAL
Studi Kasus: Struktur Modal Emiten Indonesia Berbeda-beda
Mengapa rasio utang antar-sektor di BEI sangat berbeda? Karena jenis aset & stabilitas arus kas berbeda — sesuai prediksi trade-off & pecking order.
Sektor / contoh emiten
Karakter arus kas & aset
Kecenderungan DER
Consumer staples (mis. UNVR, ICBP)
Arus kas stabil, merek kuat
Cenderung rendah–moderat
Perbankan (mis. BBCA, BBRI)
"Utang" = dana pihak ketiga, diatur OJK
Tinggi (sifatnya khusus)
Properti & konstruksi (mis. emiten karya)
Aset berwujud, proyek jangka panjang
Cenderung tinggi
Teknologi/digital (mis. GOTO)
Aset tak berwujud, arus kas belum stabil
Cenderung rendah (sulit berutang)
Tegas: angka & posisi di atas adalah pola umum / ilustrasi, bukan data presisi suatu tanggal. DER tiap emiten berubah tiap periode — selalu cek laporan keuangan terkini di idx.co.id. Bank dikecualikan dari kerangka biasa karena rasio utangnya tinggi by-design & diatur ketat OJK.
Menentukan Struktur Modal "Optimal"
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua. Tetapi ada enam penuntun untuk mendekati struktur modal yang menambah nilai.
Penuntun 1–3
Stabilitas arus kas — makin stabil & terprediksi → makin aman menanggung utang.
Jenis aset — aset berwujud (bisa dijaminkan) → kapasitas utang lebih besar.
Tarif pajak efektif — pajak tinggi → tax shield lebih bernilai (PPh Badan 22%).
Penuntun 4–6
Risiko bisnis — risiko operasi sudah tinggi → tambah utang = bahaya berganda.
Fleksibilitas & cadangan — sisakan "ruang berutang" untuk peluang/krisis mendadak.
Sinyal & kondisi pasar — pecking order: hindari menerbitkan ekuitas saat harga saham rendah.
Praktiknya: targetkan kisaran rasio utang (bukan titik tunggal) yang membuat WACC mendekati minimum dan nilai perusahaan mendekati maksimum — sambil menjaga peringkat kredit & fleksibilitas.
Peta Konsep: Struktur Modal
Satu benang merah: utang menambah nilai lewat tax shield & disiplin, tapi menambah risiko lewat biaya distress & gejolak EPS/ROE. Optimal = menyeimbangkan keduanya.
Rangkuman — Cheat-Sheet Struktur Modal
Satu layar untuk difoto sebelum ujian: rumus inti, angka kunci HDN, dan aturan keputusan.
Konsep
Rumus / Angka Kunci (dari HDN hari ini)
Tax shield (MM + pajak)
VL = VU + T×D · HDN-1: 0,22 × 40 = Rp 8,8 mld → VL Rp 108,8 mld
EPS
EPS = (EBIT − I)(1 − T) ÷ N · ingat (1−T) = 0,78
Titik indiferen EBIT-EPS
HDN-2: EBIT* Rp 20 mld, EPS Rp 780 · >20 utang, <20 ekuitas
BEP > rd → utang menaikkan ROE · BEP < rd → utang menggerus ROE
Empat teori dalam satu napas: MM-tanpa-pajak (tak relevan) → MM-pajak (tax shield) → trade-off (optimal di tengah) → pecking order (internal→utang→ekuitas) + keagenan (utang mendisiplinkan).
Latihan, Diskusi & Persiapan Pertemuan 10
Hari ini Anda belajar teori struktur modal dan menghitung dampaknya pada EPS & ROE. Latih, diskusikan, lalu siap untuk topik berikutnya.
Latihan Mandiri
(1) Ulangi HDN-2 & HDN-3 dengan angka Anda sendiri sampai langkahnya otomatis. (2) Buka laporan keuangan satu emiten BEI di idx.co.id, hitung DER & BEP-nya, lalu nilai apakah leverage-nya menambah atau menggerus ROE.
Diskusi Kelas
Mengapa GOTO cenderung minim utang sedangkan emiten properti berutang besar? Kaitkan dengan trade-off (jenis aset) & pecking order (asimetri info). · Jika MM-pajak menyarankan utang 100%, mengapa tak ada perusahaan riil yang begitu?
Pertemuan 10 — Lanjutan
Kebijakan & teori dividen (relevansi/irrelevansi dividen, dividend smoothing) dan/atau lanjutan biaya modal — kelanjutan logis dari keputusan pendanaan hari ini.
Kuasai dua hal malam ini: empat teori (satu kalimat masing-masing) dan rumus titik indiferen + efek leverage ke ROE. Sampai jumpa di Pertemuan 10.