Dari menghitung WACC (MK I) ke memakainya dengan benar: ambang keputusan investasi, biaya modal marjinal & break point, dan dampak struktur modal pada WACC.
RPS MINGGU 9 · SUB-CPMK 8 · DURASI 2 × 50 MENIT
PRASYARAT: MK I PERTEMUAN 10–11 (BIAYA MODAL & WACC)
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mendefinisikan & menghitung biaya tiap jenis modal dan WACC (Sub-CPMK 8) — pada level aplikatif. Secara rinci:
Capaian 1 — Konsolidasi
Merakit ulang WACC dari komponen kₑ, k_d(1−T), k_p & bobot pasar dengan cepat. (rujuk MK I P10–11 — bukan materi baru)
Capaian 2 — Hurdle Rate
Memakai WACC sebagai tolok ukur keputusan terima/tolak, dan menyetel discount rate sesuai risiko proyek.
Menjelaskan & menghitung dampak perubahan struktur modal pada WACC (relever β) → jembatan ke P9.
Satu Angka yang Membalik Keputusan Miliaran
Anda CFO. Sebuah proyek ekspansi diajukan: investasi Rp 100 miliar, arus kas +Rp 30 miliar/tahun selama 5 tahun. Layak? Jawabannya bergantung pada satu angka: discount rate.
Pakai WACC Perusahaan — 12,74%
+Rp 6,19 mld
NPV positif
Proyek tampak LAYAK → diterima. Tetapi apakah 12,74% adil untuk risiko proyek ini?
Pakai Tarif Risiko Proyek — 16%
−Rp 1,77 mld
NPV negatif
Proyek seharusnya DITOLAK. Tarif yang lebih tinggi mencerminkan risiko yang sebenarnya.
Keputusan terbalik hanya karena salah memilih discount rate. Di MK I Anda belajar menghitung WACC; di MK II Anda belajar kapan & bagaimana memakainya agar tidak menggerus nilai.
Blok 1 dari 4
Rekap Kilat WACC (dari MK I)
Dua slide untuk menyamakan ingatan — komponen biaya modal & rumus WACC — lalu kita rakit ulang sekali dengan cepat. Detail penurunan ada di MK I Pertemuan 10–11.
kₑ · k_d(1−T) · k_p ⟶ WACC
RUJUK MK I P10–P11
Rekap MK I P10 — Biaya Tiap Komponen Modal
Setiap sumber dana punya "harga"-nya sendiri. Ini ringkasan; penurunan penuh ada di MK I Pertemuan 10.
Komponen
Lambang
Rumus inti
Catatan
Utang (setelah pajak)
k_d(1−T)
YTM × (1 − T)
T = 22% (PPh Badan); termurah
Saham preferen
k_p
D_p ÷ P_p
sering 0 (jarang di RI)
Ekuitas — CAPM
kₑ
r_f + β(r_m − r_f)
r_f = SUN ~6,8%
Ekuitas — Gordon
kₑ
(D₁ ÷ P₀) + g
butuh dividen tumbuh stabil
Urutan harga (umum): utang < preferen < ekuitas. Ekuitas paling mahal karena pemegang saham menanggung risiko paling akhir dan menuntut imbal hasil tertinggi.
Hitung dari Nol — HDN-1: Rakit Ulang WACC (PT Sentosa Tbk)
Kasus pembanding sama persis dengan MK I P11 agar kontinu. Input: kₑ = 14,4%; k_d = 11% (sblm pajak); T = 22%; ekuitas pasar Rp 2.800 mld; utang pasar Rp 1.120 mld; preferen 0.
WACC = (E/V)·kₑ + (D/V)·k_d·(1−T)
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total nilai (V)
2.800 + 1.120
Rp 3.920 mld
2. Bobot ekuitas (E/V)
2.800 ÷ 3.920
71,43%
3. Bobot utang (D/V)
1.120 ÷ 3.920
28,57%
4. k_d setelah pajak
11% × (1 − 0,22)
8,58%
5. Kontribusi ekuitas
71,43% × 14,4%
10,29%
6. Kontribusi utang
28,57% × 8,58%
2,45%
WACC
10,29% + 2,45%
≈ 12,74%
WACC PT Sentosa
12,74%
ekuitas 10,29% + utang 2,45%
Inilah angka yang akan kita pakai & uji sepanjang pertemuan ini.
Blok 2 dari 4
WACC sebagai Hurdle Rate Keputusan
Inilah materi MK II yang sesungguhnya: bukan menghitung WACC, tetapi memakainya — sebagai ambang terima/tolak, dan menyetelnya ketika risiko proyek berbeda dari risiko perusahaan.
Terima jika imbal hasil > hurdle
WACC sebagai Hurdle Rate — Aturan Keputusan
WACC adalah imbal hasil minimum yang harus dihasilkan investasi agar tidak menggerus nilai. Ia jadi ambang resmi keputusan.
TERIMA jika IRR > WACC atau NPV > 0
TOLAK jika IRR < WACC atau NPV < 0
Bukti Lapangan
Graham & Harvey (2001, JFE): mayoritas CFO perusahaan besar memang memakai WACC sebagai hurdle rate proyek.
Logikanya: kalau proyek hanya menghasilkan persis WACC, ia cukup membayar para penyandang dana — tidak lebih, tidak kurang (NPV = 0). Di atas WACC → ada kelebihan yang menjadi tambahan kekayaan pemegang saham.
Bahaya: WACC Perusahaan untuk SEMUA Proyek
WACC perusahaan mencerminkan risiko rata-rata perusahaan. Untuk proyek dengan risiko berbeda, ia menyesatkan.
Proyek Lebih Berisiko
Dinilai dengan WACC perusahaan yang lebih rendah → tampak layak → diterima padahal seharusnya ditolak (over-invest pada risiko).
Proyek Lebih Aman
Dinilai dengan WACC perusahaan yang lebih tinggi → tampak tak layak → ditolak padahal seharusnya diterima (under-invest pada peluang aman).
Cara baca SML: garis miring naik — makin tinggi beta (risiko), makin tinggi imbal hasil yang wajar. WACC perusahaan hanya satu titik di garis itu (risiko rata-rata). Proyek lebih berisiko ada di kanan (butuh tarif > WACC), proyek lebih aman di kiri.
Menyetel Hurdle Rate Mengikuti Risiko Proyek
Solusi praktik: hitung discount rateper proyek/divisi memakai beta yang sesuai risikonya, bukan beta perusahaan.
Cara 1 — Beta Proyek (CAPM)
Pakai β proyek (mis. dari perusahaan pembanding sejenis), masukkan ke CAPM → kₑ proyek → discount rate proyek.
Cara 2 — WACC Divisi
Perusahaan multi-bisnis pakai WACC berbeda tiap divisi sesuai risikonya (mis. divisi properti vs divisi teknologi).
Tipe proyek (ilustratif)
β
Hurdle rate (CAPM)
vs WACC 12,74%
Perluasan bisnis inti
~1,1
~12,7%
≈ sama
Ekspansi bisnis baru
~1,5
~16%
lebih tinggi
Penggantian mesin (aman)
~0,7
~10%
lebih rendah
Aturan emas: risiko proyek → menentukan tarif proyek. Sumber dana yang dipakai untuk proyek itu tidak menentukan tarifnya.
Blok 3 dari 4
Biaya Modal Marjinal & Break Point
WACC bukan satu angka beku. Saat perusahaan menggalang dana makin besar, sumber murah habis dan biaya modal melompat naik bertangga — inilah MCC schedule.
Laba ditahan (murah) → Saham baru (mahal)
Marginal Cost of Capital (MCC) — Naik Bertangga
MCC = biaya untuk setiap rupiah tambahan dana baru. Awalnya rendah (laba ditahan), lalu melompat di tiap break point.
MCC
Biaya marjinal, bukan rata-rata. Berbeda dari WACC yang merata-rata semua dana yang sudah ada.
Mengapa Naik
Sumber murah (laba ditahan, kapasitas utang murah) terbatas. Habis → beralih ke ekuitas baru / utang mahal → MCC melompat.
Selama dana baru di bawah break point pertama → ekuitas dari laba ditahan (tanpa biaya emisi). Di atasnya → emisi saham baru → kₑ naik → MCC naik.
Hitung dari Nol — HDN-2: Break Point Laba Ditahan
PT Sentosa punya laba ditahan Rp 300 mld tersedia. Bobot ekuitas target = 71,43% (dari HDN-1). Sampai berapa dana baru bisa digalang tanpa emisi saham?
Break Point = Dana Sumber Murah ÷ Bobot Sumber Itu
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Laba ditahan tersedia
diberikan
Rp 300 mld
2. Bobot ekuitas target
dari HDN-1
71,43%
3. Break Point laba ditahan
300 ÷ 0,7143
≈ Rp 420 mld
Break Point
Rp 420 mld
batas laba ditahan murah
Di bawahnya, ekuitas dari laba ditahan. Di atasnya, perusahaan mulai emisi saham → MCC melompat.
Logika pembagi: agar struktur modal tetap pada proporsi target, tiap rupiah dana baru harus mengandung 71,43% ekuitas; maka laba ditahan Rp 300 mld "cukup" untuk total dana 300 ÷ 0,7143 = Rp 420 mld.
MCC Schedule — Bisa Ada Beberapa Break Point
Bukan hanya ekuitas yang punya batas. Kapasitas utang murah pun terbatas; melewati batasnya, k_d naik → break point kedua.
Rentang dana baru (ilustrasi PT Sentosa)
Sumber ekuitas
Sumber utang
MCC (perkiraan)
Rp 0 – 420 mld
Laba ditahan
Utang murah
~12,7%
Rp 420 – 700 mld
Saham baru (flotation)
Utang murah
~13,3%
> Rp 700 mld
Saham baru
Utang lebih mahal
~14,0%
Rumus break point umum: BP = (Dana sumber murah) ÷ (Bobot sumber itu). Hitung satu BP untuk batas laba ditahan, satu lagi untuk batas utang murah, lalu urutkan dari kecil ke besar (di sini BP₁ = 420 mld, BP₂ = 700 mld).
Coba Sendiri: Geser Dana Baru, Temukan Break Point MCC
Geser jumlah dana baru yang ditarik, amati kapan MCC melompat naik saat laba ditahan lalu utang murah habis.
Memadukan MCC dengan Peluang Investasi (IOS)
MCC naik bertangga; di sisi lain, peluang investasi (IOS) yang diurut dari IRR tertinggi ke terendah menurun. Titik potongnya menentukan anggaran modal optimal.
IOS — turun
Daftar proyek diurut dari IRR tertinggi. Makin banyak proyek diambil, IRR proyek marjinal makin rendah.
MCC — naik
Makin banyak dana digalang, biaya modal marjinal makin tinggi.
Aturan: ambil proyek selama IRR proyek > MCC pada titik itu. Titik potong MCC = IOS → ukuran anggaran modal optimal & WACC marjinal yang relevan.
Mengapa Ekuitas Baru Lebih Mahal: Biaya Emisi (Flotation)
Menerbitkan saham baru menanggung biaya emisi (penjamin emisi, hukum, administrasi). Akibatnya, dana bersih yang diterima < harga pasar, sehingga biaya ekuitas baru > biaya laba ditahan.
kₑ_baru = D₁ / [P₀(1 − F)] + g
Keterangan: F = biaya emisi sebagai % harga P₀(1−F) = dana bersih per lembar jika F = 0 → kembali ke kₑ laba ditahan.
Intuisi
Perusahaan menerima lebih sedikit per lembar (karena F), tetapi tetap harus membayar dividen penuh → biaya per rupiah dana naik.
Inilah penyebab teknis lompatan break point di Slide 13–14: begitu laba ditahan habis, kₑ berpindah dari versi tanpa flotation ke versi dengan flotation.
Blok 4 dari 4
Bobot Target & Dampak Struktur Modal ke WACC
Bobot WACC sebaiknya pakai struktur modal target, bukan campuran kebetulan hari ini. Lalu: apa yang terjadi pada WACC ketika perusahaan mengubah komposisi utang–ekuitasnya? Inilah jembatan ke Pertemuan 9.
Target weights · MM 1958/1963
Pakai Bobot Target, Bukan Bobot Kebetulan Hari Ini
WACC dipakai untuk keputusan jangka panjang, jadi bobotnya pun harus mencerminkan struktur modal target yang akan dipertahankan — bukan campuran sesaat akibat pendanaan satu proyek.
Bobot Target
Proporsi utang–ekuitas yang ingin dipertahankan perusahaan jangka panjang. Inilah yang dipakai untuk WACC.
Bobot Aktual Hari Ini
Bisa menyimpang sementara (mis. baru menarik utang besar). Jangan dipakai langsung — menyesatkan.
Kesalahan klasik: mendiskon proyek dengan k_d murah hanya karena proyek itu kebetulan dibiayai utang. Setiap proyek harus "menanggung" bobot target campuran, karena utang & ekuitas saling menopang dalam jangka panjang.
Dampak Struktur Modal ke WACC — Teorema MM
Apa yang terjadi pada WACC saat utang ditambah? Modigliani–Miller (1958/1963) memberi dua versi jawaban.
MM 1958 — Tanpa Pajak
Dalam pasar sempurna tanpa pajak, struktur modal tidak memengaruhi nilai perusahaan; WACC konstan. Lebih banyak utang murah → kₑ naik persis cukup untuk membatalkannya.
MM 1963 — Dengan Pajak
Karena bunga dapat dikurangkan pajak (tax shield), menambah utang menurunkan WACC — sampai batas tertentu.
Realita (jembatan P9): di luar MM ada biaya kesulitan keuangan (financial distress) & risiko kepailitan (UU 37/2004). Maka utang menurunkan WACC hanya sampai titik tertentu, lalu naik kembali → ada struktur modal optimal.
Hitung dari Nol — HDN-3: WACC Bergeser Saat Utang Ditambah
PT Sentosa mempertimbangkan menambah utang dari D/V 28,57% ke 40%. Pakai relever beta agar kₑ ikut menyesuaikan risiko. β awal (levered) = 1,1; r_f ~6,8%; ERP ~6,9%; k_d naik 11%→11,5%; T = 22%.
β_u = β_L / [1 + (1−T)(D/E)] — lepas efek leverage lama → beta aset murni
Perhatikan rasio: rumus beta memakai utang-terhadap-EKUITAS (D/E), bukan utang-terhadap-NILAI (D/V) untuk bobot WACC. Di kasus ini D/E lama = 0,40 sementara D/V baru = 40% kebetulan terlihat sama — jangan tertukar.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. D/E lama (utang÷ekuitas)
28,57 ÷ 71,43
D/E = 0,40
2. β unlevered
1,1 ÷ [1 + 0,78 × 0,40]
≈ 0,838
3. D/V baru → D/E baru
D/V 40% ⇒ E/V 60% ⇒ 40 ÷ 60
D/E = 0,6667
4. β relevered
0,838 × [1 + 0,78 × 0,6667]
≈ 1,274
5. kₑ baru (CAPM)
6,8% + 1,274 × 6,9% (ERP)
≈ 15,59%
6. k_d setelah pajak
11,5% × 0,78
8,97%
7. Kontribusi ekuitas
60% (E/V) × 15,59%
9,35%
8. Kontribusi utang
40% (D/V) × 8,97%
3,59%
WACC baru
9,35% + 3,59%
≈ 12,94%
WACC naik dari 12,74% → ~12,94%, bukan turun! Kenaikan kₑ (risiko ekuitas ↑) mengalahkan penghematan dari lebih banyak utang murah di kasus ini — bukti MM/trade-off bekerja.
Anchor Indonesia — Struktur Modal Beda → WACC Beda
Struktur modal sangat berbeda antar-sektor di BEI, sehingga WACC mereka pun berbeda. Pola (bukan angka real-time):
Emiten (sektor)
Porsi utang
Pola → implikasi WACC
UNVR (konsumer)
rendah–sedang
arus kas stabil, sedikit utang → ekuitas dominan
TLKM (telekomunikasi)
sedang
padat modal, sebagian utang → campur seimbang
GOTO (teknologi)
rendah
dibiayai ekuitas, masih bertumbuh → WACC ~ kₑ
BBCA (bank)
tinggi*
*kerangka WACC khusus — "utang" = dana nasabah
Bank diperlakukan khusus: "utang" bank mayoritas dana nasabah → WACC bank dihitung beda. Untuk non-bank, kerangka WACC standar berlaku. Angka pasti berubah tiap hari — pakai laporan keuangan terbaru & papan BEI (idx.co.id).
Lima Jebakan yang Sering Bikin Salah Keputusan
1 · Discount rate salah Pakai WACC perusahaan untuk proyek beda risiko → keputusan terbalik (Slide 3 & 9).
2 · Bobot nilai buku Memakai porsi dari neraca, bukan nilai pasar → bobot keliru (MK I P11).
3 · k_d sebelum pajak Lupa kalikan (1−T) → WACC terlalu tinggi (T = 22%).
4 · Bobot kebetulan Pakai sumber dana proyek, bukan bobot target (Slide 18).
5 · WACC dianggap tetap Abai break point/MCC saat dana membesar (Blok 3).
Inti MK II: empat dari lima jebakan ini bukan soal hitungan, tetapi soal memilih input & memakai hasil dengan benar.
Pertanyaan yang Dibawa ke Pertemuan 9
HDN-3 menunjukkan WACC bisa naik atau turun tergantung berapa banyak utang. Maka muncul pertanyaan besar: adakah komposisi utang–ekuitas yang membuat WACC paling rendah?
Ya — secara teori ada titik di mana WACC minimum dan nilai perusahaan maksimum. Itulah struktur modal optimal, inti Pertemuan 9.
Tarik Utang (awal)
Tax shield menurunkan WACC — perisai pajak bekerja di tahap awal penambahan utang.
Karena WACC dan struktur modal saling mengunci, dua topik ini wajib dipelajari berurutan — itulah sebabnya P8 (biaya modal) mendahului P9 (struktur modal).
Cheat Sheet — WACC Aplikatif (P8)
Konsep
Rumus/Aturan inti
Catatan kunci
WACC
(E/V)kₑ + (D/V)k_d(1−T) [+ (P/V)k_p]
bobot pasar, target; T = 22%
Aturan keputusan
Terima jika IRR > WACC / NPV > 0
hurdle rate
Tarif proyek
CAPM dgn β proyek
risiko proyek → tarif proyek
Break point
Dana sumber murah ÷ bobotnya
mis. laba ditahan ÷ E/V
MCC
biaya marjinal, naik bertangga
potong dgn IOS → anggaran optimal
Ekuitas baru
D₁ / [P₀(1−F)] + g
flotation → kₑ baru > laba ditahan
Relever β
β_u = β_L / [1+(1−T)D/E] → relever
struktur modal ↑ → kₑ ↑
Inti P8: WACC bukan satu angka beku — ia bergerak mengikuti risiko proyek, skala dana (MCC), dan struktur modal.
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan Hitung
PT Nusa: ekuitas pasar Rp 1.500 mld, utang pasar Rp 500 mld, kₑ = 15%, k_d = 12%, T = 22%. (a) Hitung WACC. (b) Laba ditahan tersedia Rp 240 mld — hitung break point laba ditahannya.
Diskusi Kelompok
Sebuah BUMN karya ingin masuk bisnis properti yang lebih berisiko, tetapi tim keuangan memakai WACC perusahaan untuk menilainya. Apa risikonya? Apa yang sebaiknya dilakukan?
Petunjuk (a): cari bobot dulu (V = 2.000 mld) → k_d(1−T) → campur. (b): break point = 240 ÷ bobot ekuitas. Jawaban lengkap di lembar kunci (Lampiran B materi).
Penutup & Jembatan ke Pertemuan 9
Yang Anda Kuasai Hari Ini
Rakit WACC dari komponen & bobot pasar (rekap)
WACC sebagai hurdle rate & tarif berbasis risiko
Break point & menyusun MCC schedule
Dampak struktur modal pada WACC (relever β)
Pertemuan 9 — Struktur Modal
Adakah struktur modal optimal?
Teori MM penuh (1958 & 1963)
Trade-off vs pecking order (Myers 1984)
Biaya kesulitan keuangan & kepailitan
WACC adalah mesin diskonto yang akan terus dipakai: capital budgeting, valuasi, dan keputusan struktur modal. Kuasai ia, dan separuh keuangan korporat terbuka.
Tugas mandiri: baca awal bab struktur modal (Ross-Westerfield-Jaffe / Brigham-Houston). Kerjakan latihan Slide 25 sebelum kelas berikutnya.
📖 Baca juga: Wacc — penjelasan mendalam dan contoh numerik.