‹ Daftar slidePertemuan 7: Pendanaan Jangka Panjang — Saham & Instrumen Utang
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP · Manajemen Keuangan II
Pendanaan Jangka Panjang
Pertemuan 7 · Saham & Instrumen Utang
Ketika perusahaan butuh dana besar untuk tumbuh: kapan menjual saham, kapan berutang — dan bagaimana menghitung nilai buku ekuitasnya.
RPS Minggu 7 · Sub-CPMK 7 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis perbedaan pendanaan saham vs utang dan menghitung nilai buku ekuitas (Sub-CPMK 7). Secara rinci:
Capaian 1 — Saham
Banding
Membandingkan saham biasa vs preferen beserta hak masing-masing pemegang.
Capaian 2 — Utang
Kenali
Mengenali obligasi, MTN, term loan serta fiturnya (kupon, jaminan, callable, convertible).
Capaian 3 — Nilai Buku
Hitung
Menghitung nilai buku ekuitas & BVPS, lalu membedakannya dari nilai pasar.
Capaian 4 — Tambah Modal & Trade-off
Timbang
Menghitung dilusi rights issue (HMETD) dan menimbang trade-off saham vs utang.
Pabrik Rp 5 Triliun — Dananya dari Mana?
Anda CFO (direktur keuangan) sebuah emiten manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Dewan menyetujui ekspansi pabrik Rp 5 triliun. Tiga jalur pendanaan ada di meja:
Jalur 1 — Saham Baru
EKUITAS
Terbitkan saham baru (rights issue / private placement). Tak ada kewajiban bayar tetap, tetapi kepemilikan terdilusi & kendali berbagi.
Jalur 2 — Obligasi
UTANG
Terbitkan obligasi Rp 5 triliun. Kepemilikan utuh, bunga bisa kurangi pajak — tetapi wajib bayar kupon & pokok, apa pun kondisinya.
Jalur 3 — Term Loan Bank
UTANG
Pinjaman jangka panjang dari sindikasi bank. Cepat, fleksibel, tetapi ada jaminan & kovenan yang membatasi gerak.
Ketiga jalur ini adalah topik kita hari ini. Tidak ada jawaban "selalu benar" — yang ada adalah trade-off antara kendali, biaya, pajak, dan risiko.
Bagian 1 dari 4
Spektrum Pendanaan Jangka Panjang
Dua keluarga besar sekuritas — ekuitas dan utang — dan satu aturan penting: siapa dibayar duluan kalau perusahaan bermasalah.
Ekuitas · Utang · Urutan Klaim
Dua Sumber Besar: Ekuitas vs Utang
Ekuitas (Saham)
Pemilik
Pemegang saham = pemilik perusahaan. Imbalannya dividen + kenaikan harga (tidak dijanjikan). Klaim sisa (residual) — dibayar terakhir. Tidak ada jatuh tempo.
Utang (Obligasi / Pinjaman)
Kreditor
Kreditor = pemberi pinjaman, bukan pemilik. Imbalannya bunga/kupon tetap (dijanjikan secara hukum). Klaim didahulukan (senior). Ada jatuh tempo.
Aspek
Ekuitas
Utang
Status pemegang
Pemilik
Pemberi pinjaman
Imbalan
Dividen (variabel)
Bunga/kupon (tetap)
Kewajiban bayar
Tidak wajib
Wajib (gagal = default)
Inti pembeda: ekuitas = klaim sisa tanpa janji; utang = klaim pasti yang didahulukan. Dari sini semua perbedaan lain mengalir.
Urutan Klaim: Siapa Dibayar Duluan Saat Bermasalah?
Kalau perusahaan dilikuidasi (aset dijual habis), hasilnya dibagi menurut urutan prioritas yang ketat — dari atas (paling didahulukan) ke bawah:
Karena pemegang saham biasa dibayar paling akhir, ia menanggung risiko tertinggi — itulah harga dari status "pemilik". Urutan ini diatur UU 37/2004 (Kepailitan & PKPU).
Bagian 2 dari 4
Saham: Hak Pemilik Perusahaan
Saham biasa dan saham preferen — hak yang melekat, lalu cara menghitung nilai buku ekuitas yang sering disangka sama dengan harga pasar.
Nilai Buku Ekuitas per Lembar = Ekuitas ÷ Jumlah Saham
Saham Biasa (Common Stock) & Hak Pemegangnya
Pemegang saham biasa adalah pemilik sejati perusahaan. Statusnya membawa empat hak utama, dikelompokkan menjadi dua:
Hak Ekonomi
Hak atas dividen — bagian laba yang dibagikan, jika diumumkan (tidak dijanjikan).
Hak atas sisa aset (residual) — sisa kekayaan saat likuidasi, setelah semua kewajiban & preferen.
Hak Kendali & Proteksi
Hak suara (voting) — memilih dewan komisaris & menyetujui aksi korporasi via RUPS.
Hak memesan lebih dulu (preemptive/HMETD) — membeli saham baru lebih dulu agar kepemilikan tak terdilusi.
Contoh BEI: pemegang saham biasa PT Telkom (TLKM), BCA (BBCA), dan Astra (ASII) hadir & memberi suara di RUPS tiap tahun.
Saham Preferen (Preferred Stock) — Hibrida
Saham preferen "di tengah": punya ciri saham (ekuitas) sekaligus ciri obligasi (bayaran tetap & didahulukan).
Ciri Mirip Utang
Tetap
Dividen tetap (mis. Rp 120/lembar/tahun), didahulukan dari saham biasa, biasanya tanpa hak suara.
Ciri Mirip Saham
Ekuitas
Tetap ekuitas (bukan kewajiban hukum); jika dividen tak dibayar, perusahaan tidak default; tak ada jatuh tempo.
Karena dividennya tetap & selamanya, saham preferen sering dinilai sebagai perpetuitas (ingat P6 MK I): Nilai = Dividen ÷ r. Contoh: dividen Rp 120, r = 10% → nilai = Rp 120 ÷ 0,10 = Rp 1.200/lembar.
Saham Biasa vs Preferen vs Obligasi — Sekali Lihat
Aspek
Saham Biasa
Saham Preferen
Obligasi
Status pemegang
Pemilik
Pemilik (prioritas)
Kreditor
Imbalan
Dividen (variabel)
Dividen tetap
Kupon tetap (bunga)
Kewajiban bayar
Tidak wajib
Tidak wajib (tak default)
Wajib (gagal = default)
Hak suara
Ya (penuh)
Umumnya tidak
Tidak
Urutan klaim
Terakhir
Setelah utang
Didahulukan
Jatuh tempo
Tidak ada
Umumnya tidak ada
Ada (tertentu)
Efek pajak penerbit
Dividen ≠ pengurang pajak
Dividen ≠ pengurang pajak
Bunga = pengurang pajak
Baris terakhir penting: bunga obligasi mengurangi pajak, dividen tidak — inilah keunggulan pajak utang (tax shield), kita hitung di slide trade-off.
Nilai Buku vs Nilai Pasar Ekuitas — Jangan Tertukar
Nilai Buku (Book Value)
Neraca
Dari akuntansi: modal disetor + agio + saldo laba. Berbasis biaya historis, lambat berubah, sama untuk semua pembaca laporan.
Nilai Pasar (Market Value)
Bursa
Harga saham × jumlah saham di bursa. Berbasis ekspektasi arus kas masa depan, berubah tiap detik, hasil tawar-menawar pasar.
Miskonsepsi yang dibongkar: BVPS ≠ harga saham. Telkom bisa punya nilai buku Rp X tetapi harga pasar 2–5× lipatnya — karena pasar menghargai prospek, bukan catatan masa lalu.
Mini-ilustrasi: ekuitas buku Rp 4 triliun, 5 miliar lembar → BVPS Rp 800. Harga pasar Rp 1.500 → pasar menilai 1,88× nilai buku.
Rumus Nilai Buku Ekuitas per Lembar (BVPS)
Dua langkah: (1) hitung ekuitas yang menjadi hak pemegang saham biasa; (2) bagi dengan jumlah saham biasa beredar.
Ekuitas Biasa = Total Ekuitas − Klaim Saham Preferen
BVPS = Ekuitas Biasa ÷ Jumlah Saham Biasa Beredar
Keterangan: Total Ekuitas = Modal Disetor + Agio + Saldo Laba (+ komponen lain). Klaim preferen dikeluarkan agar hasil murni hak pemegang saham biasa. Jika tidak ada saham preferen, langkah 1 dilewati: BVPS = Total Ekuitas ÷ Jumlah Saham Biasa.
Hitung dari Nol — HDN-1: Nilai Buku Ekuitas per Lembar
Neraca PT Maju Manufaktur Tbk (ilustrasi). Saham biasa beredar 5 miliar lembar (nominal Rp 100). Berapa BVPS?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Modal disetor
5 miliar × Rp 100
Rp 500 miliar
(+) Agio saham
—
Rp 1.200 miliar
(+) Saldo laba
—
Rp 2.300 miliar
Total ekuitas biasa
500 + 1.200 + 2.300
Rp 4.000 miliar
Bagi jumlah saham
Rp 4.000.000.000.000 ÷ 5.000.000.000
—
BVPS
hasil pembagian
Rp 800
BVPS = Rp 800/lembar. Artinya, menurut buku, tiap lembar saham "mewakili" kekayaan bersih Rp 800. (Jika ada preferen Rp 200 miliar di dalamnya, kurangi dulu → ekuitas biasa Rp 3.800 miliar → BVPS Rp 760.)
PBV: Berapa Kali Pasar Menghargai Nilai Buku
Rasio Price-to-Book Value (PBV) membandingkan harga pasar dengan nilai buku per lembar — jembatan antara dua konsep tadi.
PBV = Harga Pasar per Lembar ÷ BVPS
Kasus PT Maju
1,88×
Rp 1.500 ÷ Rp 800
BVPS Rp 800 (HDN-1). Harga pasar di BEI Rp 1.500. Maka PBV = 1.500 ÷ 800 = 1,88×.
Artinya
Optimis
Pasar bersedia membayar 1,88 kali nilai buku — sinyal pasar menghargai prospek & laba masa depan di atas catatan akuntansi.
PBV > 1 → pasar optimis (umum untuk perusahaan sehat). PBV < 1 → pasar pesimis atau saham "murah" (sering jadi incaran investor nilai). Bandingkan antar-emiten satu sektor.
Bagian 3 dari 4
Instrumen Utang Jangka Panjang
Obligasi dan anatominya, fitur-fitur penting (jaminan, callable, convertible), lalu alternatifnya: MTN dan term loan.
Utang = janji bayar kupon + pokok
Obligasi (Bond) & Anatominya
Obligasi = surat utang jangka panjang. Penerbit berjanji membayar kupon berkala + pokok saat jatuh tempo.
Istilah
Arti
Contoh
Nilai nominal/par
Pokok yang dikembalikan
Rp 1 juta / unit
Kupon
Bunga berkala
8%/th → Rp 80.000
Jatuh tempo (maturity)
Kapan pokok kembali
5 tahun
Yield
Imbal hasil sesungguhnya
≠ kupon jika harga ≠ par
Menilai obligasi = mencari PV dari seluruh kupon + pokok (anuitas + single sum, P6 MK I). Penilaian penuh → Pertemuan 8.
Fitur Obligasi: Jaminan, Callable, Convertible
Fitur
Arti
Untung bagi siapa
Berjaminan (secured)
Didukung agunan (aset/properti)
Investor (lebih aman) → kupon lebih rendah
Tanpa jaminan (debenture)
Hanya berbasis kredibilitas penerbit
Penerbit (tak ikat aset) → kupon lebih tinggi
Callable
Penerbit boleh tebus lebih awal
Penerbit (refinancing saat bunga turun)
Putable
Investor boleh jual balik lebih awal
Investor (proteksi)
Convertible
Boleh ditukar jadi saham penerbit
Investor (ikut naik harga saham) → kupon lebih rendah
Aturan main: fitur yang menguntungkan investor (jaminan, putable, convertible) membuat penerbit bisa menawarkan kupon lebih rendah — dan sebaliknya.
Selain Obligasi: MTN & Term Loan
Tidak semua utang jangka panjang berbentuk obligasi publik. Dua alternatif yang lazim dipakai emiten Indonesia:
MTN — Medium Term Notes
Cepat
Surat utang jangka menengah (umumnya 1–5 tahun), diterbitkan lewat private placement ke investor terbatas. Lebih cepat & fleksibel dari obligasi publik; tidak wajib tercatat di bursa.
Term Loan — Kredit Investasi
Bank
Pinjaman berjangka dari bank/sindikasi untuk membiayai aset jangka panjang. Ada jadwal angsuran (amortisasi — pelunasan pokok + bunga bertahap; ingat P7 MK I), jaminan, & kovenan.
Sebelum diterbitkan, obligasi dinilai lembaga pemeringkat (di Indonesia: Pefindo). Makin tinggi peringkat → makin rendah risiko gagal bayar → makin rendah kupon.
Peringkat (Pefindo)
Makna
Implikasi kupon
idAAA
Risiko gagal bayar terendah
Kupon paling rendah
idAA / idA
Sangat baik / baik
Kupon rendah–sedang
idBBB
Memadai (batas investment grade)
Kupon sedang
idBB ke bawah
Spekulatif (non-investment grade)
Kupon tinggi (high yield)
Logika kunci: kreditor menuntut kompensasi sesuai risiko. Obligasi berisiko tinggi harus membayar kupon tinggi agar laku — inilah hubungan risiko ↔ imbal hasil yang Anda kenal sejak MK I.
Bagian 4 dari 4
Tambah Modal, Hibrida & Trade-off
Bagaimana emiten menambah modal saham (rights issue & dilusi), instrumen di perbatasan (warrant, obligasi konversi), dan keputusan akhir: saham atau utang?
Rights Issue · Hibrida · Trade-off
Rights Issue (HMETD) — Menambah Modal dari Pemegang Lama
Rights issue = penerbitan saham baru yang ditawarkan lebih dulu ke pemegang saham lama, sesuai proporsi kepemilikan. Hak itu disebut HMETD.
Mekanisme
Diumumkan rasio (mis. 4:1 → tiap 4 saham lama berhak beli 1 saham baru) & harga tebus (exercise price, biasanya di bawah harga pasar agar menarik). Konvensi HMETD: setiap 1 saham lama memberi 1 HMETD; dengan rasio 4:1, butuh 4 HMETD untuk menebus 1 saham baru di harga tebus.
Tiga Pilihan Pemegang Lama
(1) Tebus HMETD → kepemilikan tetap; (2) Jual HMETD di bursa → dapat tunai; (3) Diamkan → HMETD hangus & terkena dilusi penuh.
Tujuan emiten: menghimpun dana segar tanpa default (beda dengan obligasi). Hak preemptive melindungi pemegang lama dari dilusi — asalkan ia menebus atau menjual HMETD-nya.
Hitung dari Nol — HDN-2: Harga Teoretis (TERP) & Dilusi
PT Maju Tbk: 4 miliar saham lama, harga pasar Rp 2.000 (cum-rights). Rights 4:1, harga tebus Rp 1.500. Berapa TERP & dilusinya?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Saham baru (4:1)
4 miliar ÷ 4
1 miliar lembar
Saham total
4 miliar + 1 miliar
5 miliar lembar
Nilai pasar lama
4 miliar × Rp 2.000
Rp 8.000 miliar
Dana masuk rights
1 miliar × Rp 1.500
Rp 1.500 miliar
Nilai total
8.000 + 1.500
Rp 9.500 miliar
TERP
9.500 miliar ÷ 5 miliar
Rp 1.900
Nilai 1 HMETD
Rp 2.000 − Rp 1.900
Rp 100
TERP = Rp 1.900 · Nilai 1 HMETD = Rp 100. Cek rumus pintas: (4×2.000 + 1×1.500) ÷ 5 = 9.500 ÷ 5 = Rp 1.900. ✓
HDN-2 (lanjutan): Apakah Dilusi Selalu Merugikan?
Seorang pemegang 4.000 saham (nilai cum Rp 8.000.000) menerima 4.000 HMETD (1 per saham lama). Apa yang terjadi pada tiga pilihannya?
Skenario
Perhitungan
Nilai akhir
A — Diamkan (HMETD hangus)
4.000 × Rp 1.900
Rp 7.600.000 (rugi Rp 400.000)
B — Jual 4.000 HMETD @ Rp 100
Rp 7.600.000 + Rp 400.000
Rp 8.000.000 (utuh)
C — Tebus penuh (1.000 saham baru)
5.000 × 1.900 − (1.000 × 1.500)
Rp 8.000.000 (utuh)
Dilusi hanya menggigit yang pasif. Pemegang yang mendiamkan HMETD rugi Rp 400.000; tetapi yang menjual atau menebus haknya, nilainya kembali utuh. Proporsi kepemilikan pasif turun ke 4/5 = 80% dari semula.
Coba Sendiri: Ubah Rasio Right & Harga Tebus, Lihat TERP Bergerak
Ubah rasio HMETD dan harga tebus saham baru, amati TERP, nilai right, serta dampak dilusi bagi pemegang pasif.
Dua instrumen di perbatasan saham–utang. Keduanya memberi opsi menjadi pemegang saham di masa depan.
Warrant (Waran)
Rp 700
nilai intrinsik (2.500 − 1.800)
Hak (bukan kewajiban) membeli saham penerbit pada harga tertentu sampai batas waktu. Sering "ditempelkan" gratis pada saham/obligasi baru. Contoh: exercise Rp 1.800; saham Rp 2.500 → intrinsik Rp 700.
Obligasi Konversi (Convertible)
400
lembar/obligasi (Rp 1 juta ÷ Rp 2.500)
Obligasi yang boleh ditukar jadi saham. Nominal Rp 1.000.000, harga konversi Rp 2.500 → rasio 400 lembar. Jika saham Rp 3.000 → nilai konversi Rp 1.200.000 (> nominal → untung).
Logika sama: investor dapat "tiket" ikut naik bila saham terbang, sehingga penerbit bisa menawarkan kupon/harga lebih murah. Penilaian penuh = topik lanjutan (teori opsi).
Keputusan Akhir: Saham vs Utang — Empat Sumbu
Sumbu
Pilih SAHAM jika…
Pilih UTANG jika…
Kendali
Tak masalah berbagi kendali/dilusi
Ingin kepemilikan utuh (utang tak punya suara)
Biaya
Tak ingin beban bayar tetap
Ingin manfaatkan kupon < imbal hasil saham
Pajak
— (dividen tak kurangi pajak)
Ingin tax shield (bunga kurangi pajak)
Risiko
Ingin fleksibel (dividen bisa ditunda)
Arus kas stabil & cukup bayar kupon
Tax shield (ilustrasi, PPh Badan 22%): EBIT Rp 1.000, bunga Rp 200 → pajak (1.000−200)×22% = Rp 176. Tanpa utang: 1.000×22% = Rp 220. Hemat pajak = Rp 44 (= bunga × tarif = 200 × 22%).
Tak ada jawaban tunggal. Pecking order (Myers, 1984): perusahaan cenderung pakai laba ditahan dulu, baru utang, baru saham — karena menerbitkan saham bisa dibaca pasar sebagai sinyal saham "mahal".
Peta Konsep: Sekuritas Pendanaan Jangka Panjang
Satu garis pemandu: makin ke ekuitas = makin berisiko, klaim sisa, tak ada janji bayar; makin ke utang = makin aman, didahulukan, ada janji bayar. Hibrida duduk di tengah.
idAAA aman (kupon rendah) → idBB spekulatif (kupon tinggi/high yield)
TERP & HMETD
TERP = (nilai lama + dana masuk) ÷ saham total; HMETD = harga cum − TERP
Dilusi
Hanya menggigit pemegang pasif; netral bila jual/tebus HMETD
Tax shield
Hemat pajak = bunga × tarif PPh Badan (22%). Inti keunggulan utang
Latihan & Diskusi Kelas
Latihan 1 — BVPS
Ekuitas PT Sentosa: modal disetor Rp 600 miliar, agio Rp 900 miliar, saldo laba Rp 1.500 miliar; saham preferen Rp 300 miliar. Saham biasa beredar 3 miliar lembar. Hitung BVPS. (petunjuk: keluarkan preferen dulu.)
Latihan 2 — TERP & HMETD
Saham lama 6 miliar, harga pasar Rp 1.000, rights 2:1, harga tebus Rp 700. Hitung TERP dan nilai 1 HMETD.
Kerjakan 5 menit. Untuk BVPS: ekuitas biasa ÷ saham. Untuk TERP: (nilai lama + dana masuk) ÷ saham total. Kunci: L1 BVPS = (600+900+1.500−300) ÷ 3 = Rp 1.000. · L2 TERP = (6.000 + 2.100) ÷ 9 = Rp 900; HMETD = 1.000 − 900 = Rp 100.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan 8
Hari ini Anda belajar membandingkan instrumen pendanaan jangka panjang & menghitung nilai buku ekuitas dan dilusi. Pertemuan depan kita menilai obligasi secara penuh.
Pertemuan 8 — Menilai Obligasi
Harga obligasi = PV kupon (anuitas) + PV pokok (single sum)
Yield to maturity (YTM) & hubungan harga ↔ suku bunga
Obligasi premium vs diskon (pakai TVM dari MK I P6)
Tugas Mandiri
Cari satu emiten BEI yang baru rights issue atau terbit obligasi (sumber: situs IDX / keterbukaan informasi). Catat rasio/harga tebus (rights) atau kupon/jatuh tempo (obligasi). Bawa ke kelas.
Kuasai dua hitungan inti malam ini: BVPS & TERP. Sampai jumpa di Pertemuan 8 — Penilaian Obligasi.