stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-05
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 5: Manajemen Piutang, Utang Dagang, dan Persediaan
FEB UNDIP · Manajemen Keuangan II

Manajemen Modal Kerja

Pertemuan 5 · Manajemen Piutang, Utang Dagang, dan Persediaan

Mengelola tiga pos aset lancar yang menyedot kas: piutang yang ditagih, utang dagang yang ditunda, dan persediaan yang disimpan — agar laba di atas kertas benar-benar menjadi kas di tangan.

RPS MINGGU 5 · SUB-CPMK 5 · 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan, menentukan, dan menganalisis manajemen piutang, utang dagang, dan persediaan (Sub-CPMK 5). Secara rinci:

Capaian 1 — Piutang
Kredit
Menjelaskan kebijakan kredit (5C, syarat kredit, periode, potongan) dan mengukurnya lewat DSO & aging schedule.
Capaian 2 — Analisis
Untung?
Mengevaluasi perubahan kebijakan kredit — membandingkan tambahan laba kontribusi versus tambahan biaya secara inkremental.
Capaian 3 — Utang Dagang
Diskon
Menghitung biaya tahunan melewatkan diskon tunai dan memutuskan: ambil potongan atau tahan kas.
Capaian 4 — Persediaan
EOQ
Menentukan EOQ, reorder point, safety stock; membedakan sistem ABC & JIT dan kapan tepat dipakai.

Toko Laku Keras, tetapi Kasnya Kering — Kenapa?

Sebuah toko grosir bahan bangunan di Semarang mencatat laba Rp 800 juta tahun ini. Namun pemiliknya kesulitan membayar gaji bulan ini. Tiga hal menyita kasnya:

Piutang
~60 hr
Banyak pelanggan kontraktor membeli secara tempo; uangnya baru kembali sekitar 60 hari kemudian. Kas tersangkut di piutang.
Persediaan
Gudang
Gudang penuh semen & besi yang dibeli banyak-banyak "biar aman", tetapi belum laku. Kas berubah jadi tumpukan barang.
Utang Dagang
net 14
Pemasok menagih cepat (net 14 hari), padahal pelanggan bayar lambat. Selisih waktu ini mencekik kas.
Laba bukan kas. Hari ini kita belajar mengelola jarak waktu antara membayar pemasok dan menerima dari pelanggan — itulah inti manajemen modal kerja.
Bagian 1 dari 4
Modal Kerja & Siklus Konversi Kas
Tiga komponen yang mengikat kas — piutang, persediaan, utang dagang — dan ukuran berapa lama kas "menghilang" sebelum kembali.

Tiga Komponen Modal Kerja Operasional

Modal kerja operasional berputar terus. Tiga pos berikut menentukan seberapa cepat kas kembali:

Piutang (AR)
DSO
Kas yang tertahan di pelanggan setelah menjual kredit. Makin lama tertagih, makin banyak kas terikat. Diukur dengan DSO.
Persediaan
DIO
Kas yang berubah jadi barang di gudang, menunggu terjual. Diukur dengan DIO (days inventory outstanding) — rata-rata hari barang tersimpan.
Utang Dagang (AP)
DPO
Kas yang belum perlu dibayar ke pemasok — justru menambah napas kas. Diukur dengan DPO (days payable outstanding).
Dua pos pertama menyedot kas (aset). Pos ketiga menahan kas keluar (liabilitas). Keseimbangan ketiganya menentukan kebutuhan dana operasi.

Siklus Konversi Kas (Cash Conversion Cycle)

Berapa hari kas "menghilang" dari saat membayar pemasok sampai menerima uang dari pelanggan?

CCC = DIO + DSO − DPO
DIO 50 hrDSO 45 hrbeli & simpanterjual kreditpelanggan bayarDPO 30 hr (bayar pemasok)CCC = 65 hr (celah pendanaan sendiri)
Contoh
65 hari
DIO 50 + DSO 45 − DPO 30
Perusahaan harus mendanai operasinya sendiri selama 65 hari sebelum kas dari pelanggan masuk.
Makin pendek CCC, makin sedikit dana terikat. Memperpendek lewat: tagih lebih cepat (↓DSO), simpan lebih sedikit (↓DIO), tunda bayar pemasok (↑DPO) — tanpa merusak relasi.
Bagian 2 dari 4
Manajemen Piutang
Kebijakan kredit — siapa diberi tempo, dengan syarat apa, untuk berapa lama — lalu cara mengukur (DSO, aging) dan menganalisis perubahannya.

Kebijakan Kredit: Empat Tuas Keputusan

Merancang kebijakan kredit berarti menyetel empat tuas. Setiap tuas menukar lebih banyak penjualan dengan lebih banyak biaya/risiko.

Tuas 1 — Standar Kredit
Seberapa ketat menyaring pelanggan? Longgar → penjualan naik, tetapi risiko gagal bayar naik. Kerangka penilaian: 5C.
Tuas 2 — Periode Kredit
Berapa lama tempo diberikan (net 30? net 60?). Lebih panjang → menarik pembeli, tetapi kas terikat lebih lama.
Tuas 3 — Potongan Tunai
Diskon untuk bayar cepat (mis. 2/10). Mempercepat kas masuk, tetapi mengurangi pendapatan.
Tuas 4 — Kebijakan Penagihan
Seberapa agresif menagih tunggakan. Ketat → piutang macet turun, tetapi biaya & risiko hubungan naik.
Tidak ada tuas "gratis". Setiap pelonggaran menambah penjualan dan biaya. Tugas manajer: cari setelan yang menambah kekayaan, bukan sekadar omzet.

Menyaring Pelanggan: Lima Aspek (5C)

Sebelum memberi kredit, perusahaan menilai calon pelanggan lewat lima aspek klasik — the five Cs of credit.

CArtiPertanyaan kunci
CharacterWatak / itikad bayarRekam jejak membayar tepat waktu?
CapacityKemampuan membayarArus kas cukup melunasi?
CapitalModal / kekuatan finansialPermodalan & ekuitas sehat?
CollateralJaminan / agunanAda aset yang bisa dijaminkan?
ConditionsKondisi ekonomi/industriProspek sektornya bagaimana?
Di Indonesia, SLIK OJK (dulu BI Checking) membantu menilai Character & Capacity lewat riwayat kredit; laporan keuangan menilai Capital & Capacity.

Membaca Syarat Kredit: "2/10 net 30"

Notasi syarat kredit terlihat seperti kode rahasia. Sebenarnya ia memuat tiga informasi sekaligus:

Angka pertama
2
potongan tunai
Besar diskon = 2% dari nilai faktur bila dibayar cepat.
Angka kedua
10
periode diskon
Bayar dalam 10 hari → dapat potongan 2%.
"net 30"
30
periode kredit penuh
Batas akhir bayar penuh tanpa potongan = hari ke-30.
hari 0–10: bayar Rp 98 jt (hemat 2%)hari 11–30: bayar penuh Rp 100 jt> 30: telatfaktur terbit (hari 0)
Pembeli punya pilihan: bayar hari ke-10 dapat diskon 2%, atau tahan kas sampai hari ke-30 tetapi bayar penuh. Mana lebih untung? Dihitung di HDN-2.

Mengukur Piutang: DSO & Perputaran

Setelah memberi kredit, kita harus memantau: rata-rata berapa hari piutang baru kembali jadi kas?

DSO = (Piutang ÷ Penjualan Kredit) × 360
Perputaran Piutang = Penjualan Kredit ÷ Piutang
Mini-contoh
45 hari
perputaran = 8×/tahun
Penjualan kredit Rp 3.600 jt; piutang Rp 450 jt → DSO = (450 / 3.600) × 360 = 45 hari.
Bandingkan DSO dengan periode kredit yang Anda berikan. Jika syarat net 30 tetapi DSO = 45 hari, berarti penagihan molor 15 hari — ada masalah penagihan.

Aging Schedule — Peta Umur Piutang

DSO hanya satu angka rata-rata. Aging schedule membongkar piutang berdasarkan umur tunggakan — di mana letak masalahnya.

Umur piutangNilai (Rp jt)% dari total
0–30 hari (belum jatuh tempo)27060%
31–60 hari10824%
61–90 hari4510%
> 90 hari (rawan macet)276%
Total450100%
Piutang > 90 hari wajib diwaspadai — makin tua, makin kecil peluang tertagih. PSAK 109 (eks PSAK 71) — Instrumen Keuangan mengharuskan perusahaan mencadangkan kerugian kredit ekspektasian atas piutang berisiko.

Haruskah Melonggarkan Kredit? Kerangka Untung vs Rugi

Melonggarkan kredit menaikkan penjualan, tetapi menambah biaya. Terima usulan hanya jika tambahan manfaat > tambahan biaya.

Tambahan Manfaat (+)
Tambahan laba kontribusi dari unit ekstra yang terjual = (tambahan unit) × (harga − biaya variabel per unit).
Tambahan Biaya (−)
(1) Biaya peluang atas tambahan dana terikat di piutang · (2) tambahan kerugian piutang (bad debt) · (3) tambahan biaya diskon/penagihan bila ada.
Δ Laba Bersih = Δ Laba Kontribusi − Δ Biaya Peluang Piutang − Δ Kerugian Piutang
Jika Δ Laba Bersih positif → longgarkan. Jika negatif → pertahankan kebijakan lama. Hanya angka tambahan (incremental) yang relevan.

Hitung dari Nol — HDN-1: Layakkah Melonggarkan Kredit?

Toko alat listrik: harga Rp 100.000/unit (biaya variabel Rp 70.000). Penjualan kini 10.000 unit/tahun. Usul: longgarkan kredit → penjualan jadi 12.000 unit, DSO naik 30→45 hari, kerugian piutang naik 1%→3%. Biaya peluang dana 20%.

Baca dulu — dari mana "dana terikat di piutang"? Dana yang membeku = (DSO ÷ 360) × (penjualan setahun dihitung dalam biaya variabel). (a) DSO ÷ 360 = porsi setahun uang Anda nyangkut. (b) Pakai biaya variabel Rp 70.000, bukan harga Rp 100.000, karena kas riil yang Anda keluarkan untuk barang yang ditahan pelanggan hanya biaya membuatnya — margin Rp 30.000 belum jadi kas. (c) Inilah "dana terikat", lalu dikalikan biaya peluang 20% untuk tahu ongkos menahannya.
LangkahPerhitunganNilai
(+) Tambahan laba kontribusi2.000 × (100.000 − 70.000)+Rp 60.000.000
Investasi piutang lama (biaya)(30/360) × 10.000 × 70.000Rp 58.333.333
Investasi piutang baru (biaya)(45/360) × 12.000 × 70.000Rp 105.000.000
Δ investasi piutang105.000.000 − 58.333.333Rp 46.666.667
(−) Biaya peluang dana 20%46.666.667 × 0,20−Rp 9.333.333
(−) Δ kerugian piutang(3%×12.000×100.000) − (1%×10.000×100.000)−Rp 26.000.000
Δ Laba Bersih60.000.000 − 9.333.333 − 26.000.000+Rp 24.666.667
Keputusan
+24,67 jt
positif → TERIMA
Δ Laba Bersih ≈ +Rp 24,67 juta (positif) → longgarkan kredit. Tambahan laba Rp 60 jt menutup biaya dana Rp 9,33 jt dan tambahan macet Rp 26 jt.
Bagian 3 dari 4
Utang Dagang (Trade Credit)
Sekarang kita berbalik menjadi pembeli: kapan utang dagang menjadi sumber dana murah, dan kapan melewatkan diskon tunai justru sangat mahal.

Utang Dagang: Sumber Dana "Gratis"?

Bagian yang Gratis
Menunda bayar sampai periode diskon (mis. hari ke-10) — atau net tanpa diskon sampai jatuh tempo — tidak dikenai biaya eksplisit. Ini free trade credit.
Bagian yang Mahal
Menunda melewati periode diskon berarti kehilangan potongan tunai. Potongan yang hilang itu adalah biaya menahan kas lebih lama — costly trade credit.
Pertanyaan kuncinya: dengan melewatkan diskon 2%, kita "membeli" tambahan waktu 20 hari (dari hari 10 ke hari 30). Berapa biaya tahunan dari pinjaman 20-hari itu? Hitung di HDN-2.
Mini-ilustrasi: faktur Rp 100 jt, 2/10 net 30 → bayar Rp 98 jt di hari 10, atau Rp 100 jt di hari 30. Selisih Rp 2 jt = biaya menahan Rp 98 jt selama 20 hari.

Hitung dari Nol — HDN-2: Biaya Tahunan Melewatkan Diskon 2/10 net 30

Pemasok menawarkan 2/10 net 30. Jika Anda melewatkan diskon (bayar di hari ke-30, bukan ke-10), berapa biaya tahunan yang Anda tanggung?

Kenapa ada DUA angka — perkiraan vs efektif? Versi perkiraan menjumlahkan biaya 18 periode begitu saja (2,04% × 18). Versi efektif memperhitungkan biaya tiap periode ikut berbunga ke periode berikutnya — makanya muncul pangkat 18. Ini persis seperti EAR vs bunga nominal di nilai waktu uang (MK I): bunga nominal dijumlah lurus, bunga efektif memajemukkan, dan angka efektif selalu lebih tinggi.
Biaya ≈ [ %diskon ÷ (100% − %diskon) ] × [ 360 ÷ (periode kredit − periode diskon) ]
LangkahPerhitunganNilai
Biaya per periode 20-hari2% ÷ (100% − 2%) = 2/982,0408%
Jumlah periode/tahun360 ÷ (30 − 10) = 360 ÷ 2018 kali
Biaya tahunan (perkiraan)2,0408% × 18≈ 36,73%
Biaya tahunan (efektif/majemuk)(1 + 0,020408)18 − 1≈ 43,86%
Melewatkan diskon "cuma 2%" setara meminjam pada ~37% (perkiraan) atau ~44% (efektif) per tahun — jauh lebih mahal dari kredit bank (~10–15%). Ambil diskonnya, kecuali biaya dana Anda di atas angka itu.

Studi Kasus: Ambil Diskon atau Tahan Kas? (UMKM)

Sebuah UMKM mebel di Jepara menerima faktur kayu Rp 50 juta dengan syarat 2/10 net 30. Kasnya sedang tipis. Apa keputusan terbaik?

Opsi A — Ambil Diskon
Rp 49 jt
bayar di hari ke-10 (hemat Rp 1 jt)
Jika kas kurang, pinjam jangka pendek sisanya pada bunga ~14%/tahun (mis. KUR / kredit modal kerja).
Opsi B — Lewatkan Diskon
Rp 50 jt
bayar penuh di hari ke-30
Tahan kas, tampak "bebas bunga" — tetapi biaya tersembunyinya ~36,7%/tahun (dari HDN-2).
Karena biaya melewatkan diskon (~36,7%) jauh di atas bunga pinjaman bank (~14%), Opsi A menang: lebih baik pinjam 14% untuk mengambil diskon yang "bernilai" ~37%. Selisihnya bersih untung.

Coba Sendiri: Ubah Syarat Diskon, Lihat Biaya Efektif per Tahun

Ubah persentase diskon dan jendela waktu pembayaran, amati bagaimana biaya efektif tahunan melewatkan diskon melonjak.

Bagian 4 dari 4
Manajemen Persediaan
Berapa banyak yang sebaiknya dipesan sekali jalan (EOQ), kapan memesan ulang (reorder point), dan berapa stok pengaman — plus sistem ABC & JIT.

Persediaan: Dua Biaya yang Saling Berlawanan

Kenapa tidak memesan sangat banyak sekaligus (jarang repot), atau sangat sedikit (gudang lega)? Karena dua biaya ini bergerak berlawanan arah:

Biaya Pemesanan (↑ jika sering)
Ongkos tiap kali memesan — administrasi, ongkos kirim, inspeksi. Pesan banyak unit/pesanan → lebih jarang pesan → biaya pemesanan turun.
Biaya Penyimpanan (↑ jika banyak)
Ongkos menyimpan — sewa gudang, asuransi, risiko usang, biaya peluang dana. Pesan banyak unit → stok rata-rata besar → biaya simpan naik.
Kuantitas pesanan (Q)Biaya/tahunbiaya pemesananbiaya simpantotal biayaEOQ
Pesan terlalu banyak → boros biaya simpan. Pesan terlalu sedikit → boros biaya pemesanan. Ada titik optimal yang meminimalkan total — itulah EOQ.

Model EOQ (Economic Order Quantity)

EOQ adalah kuantitas pesanan yang meminimalkan total biaya (pemesanan + penyimpanan). Diperoleh dari menyamakan kedua biaya.

EOQ = √( 2 × D × S ÷ C )
Keterangan: D = permintaan tahunan (unit) · S = biaya per pesanan (Rp/pesan) · C = biaya simpan per unit per tahun (Rp/unit/thn).
Baca dulu — arti tiap potongan rumus. D/Q = berapa kali memesan setahun = total kebutuhan (D) dibagi ukuran tiap pesanan (Q); pesan lebih besar → lebih jarang pesan. Q/2 = persediaan rata-rata, karena setelah barang datang stok penuh = Q, lalu meluncur turun lurus ke 0 seiring terjual, jadi rata-rata = (Q + 0)/2 = separuh Q.
Jembatan asal-usul: Total biaya = (D/Q)·S + (Q/2)·C. Minimum tercapai saat biaya pesan = biaya simpan; selesaikan untuk Q → muncul akar di atas. Asumsi: permintaan stabil & diketahui, biaya konstan, tanpa diskon kuantitas.

Hitung dari Nol — HDN-3: EOQ Toko Ritel

Toko ritel menjual 24.000 unit/tahun sebuah produk. Setiap memesan, biaya Rp 50.000/pesanan. Biaya simpan Rp 300/unit/tahun. Berapa kuantitas pesanan paling ekonomis?

LangkahPerhitunganNilai
IdentifikasiD = 24.000; S = 50.000; C = 300
Pembilang 2·D·S2 × 24.000 × 50.0002.400.000.000
Bagi C2.400.000.000 ÷ 3008.000.000
Akarkan√8.000.000≈ 2.828 unit
Jumlah pesanan/tahun24.000 ÷ 2.828≈ 8,5 kali
Biaya pemesanan(24.000/2.828) × 50.000≈ Rp 424.264
Biaya penyimpanan(2.828/2) × 300≈ Rp 424.264
Total biaya minimum424.264 + 424.264≈ Rp 848.528
Hasil
2.828
unit per pesanan (~8,5×/tahun)
Bukti optimal: biaya pemesanan = biaya penyimpanan (Rp 424.264 masing-masing) — ciri khas titik EOQ. Cek: √(2·D·S·C) = Rp 848.528 ✓.

Kapan Memesan Ulang? Reorder Point & Safety Stock

EOQ menjawab berapa banyak dipesan. Reorder point menjawab kapan memesan — sebelum stok benar-benar habis.

ROP = (Permintaan harian × Lead time) + Safety Stock
waktuROP 433safety 100lead time
Mini-contoh
433
unit (titik pesan ulang)
Permintaan 66,67/hari (24.000/360), lead time 5 hari, safety 100 → ROP = (66,67 × 5) + 100 = 333 + 100 = 433.
Lead Time
Jeda antara memesan dan barang datang. Selama jeda stok terus terpakai → harus memesan sebelum kosong.
Safety Stock
Bantalan untuk permintaan tak terduga / pengiriman terlambat. Menukar sedikit biaya simpan dengan perlindungan dari stockout.

Coba Sendiri: Geser Permintaan & Biaya, Lihat EOQ dan Reorder Point

Geser permintaan tahunan, biaya pesan, dan biaya simpan, amati EOQ optimal bergeser serta titik reorder yang mengikutinya.

Dua Filosofi Pengendalian: Sistem ABC & JIT

Sistem ABC — Prioritas
Pilah persediaan menurut nilai: A = sedikit item tapi nilai terbesar (~80% nilai) → awasi ketat; B = menengah; C = banyak item tapi nilai kecil → kontrol longgar. Prinsip Pareto 80/20.
JIT — Tepat Waktu
Pesan & terima barang persis saat dibutuhkan, stok nyaris nol. Menekan biaya simpan drastis, tetapi butuh pemasok andal & rantai pasok presisi. Berasal dari Toyota.
ABCtinggi-nilai → rendah-nilai (Pareto)
Tidak ada yang "selalu terbaik". ABC cocok untuk fokus pengawasan; JIT hemat tetapi rapuh terhadap gangguan pasokan (pandemi/banjir/macet). Banyak perusahaan kini memilih buffer wajar, bukan nol mutlak.

Enam Jebakan dalam Manajemen Aset Lancar

Piutang & Utang Dagang
  • Mengejar omzet, lupa kas — penjualan kredit naik tetapi piutang macet menggerus laba. Selalu hitung incremental, bukan omzet.
  • Melewatkan diskon tunai — "cuma 2%" ternyata ~37–44%/tahun. Ambil diskon, pinjam bila perlu.
  • Salah penyebut biaya diskon — bagi dengan (100% − diskon), bukan 100%. Yang Anda tahan = harga setelah diskon.
Persediaan
  • Persediaan "biar aman" — menumpuk stok membekukan kas & menambah risiko usang. Hormati EOQ.
  • Memesan ulang saat stok nol — lupa lead time → stockout. Pakai reorder point + safety stock.
  • JIT tanpa pemasok andal — efisien di atas kertas, rapuh saat pasokan terganggu. Sediakan buffer.
Cek cepat sebelum keputusan modal kerja: (a) ini incremental? (b) biaya peluang dana sudah dihitung? (c) unit & periode konsisten?

Cheat Sheet & Peta Konsep

KonsepRumusUntuk
DSO(Piutang ÷ Penjualan kredit) × 360Rata-rata hari penagihan
Biaya lewatkan diskon[d ÷ (1−d)] × [360 ÷ (N−Pd)]Mahalnya melewatkan potongan tunai
EOQ√(2·D·S ÷ C)Kuantitas pesanan ekonomis
Reorder Point(permintaan harian × lead time) + safety stockKapan memesan ulang
CCCDIO + DSO − DPOLama kas terikat
MODAL KERJA → CCCPiutangUtang DagangPersediaankredit→DSO/agingfree vs costlyEOQ→ROP→ABC/JIT
Benang merahnya satu: kas yang terikat di aset lancar punya biaya. Kelola piutang, utang dagang, dan persediaan untuk memperpendek siklus kas tanpa merusak penjualan.

Latihan, Diskusi & Persiapan Pertemuan 6

Latihan 1 — EOQ
Sebuah distributor menjual 10.000 unit/tahun; biaya pesan Rp 40.000; biaya simpan Rp 200/unit/tahun. Hitung EOQ. (petunjuk: √(2DS/C); lalu cek biaya pesan = biaya simpan)
Latihan 2 — Biaya Diskon
Pemasok menawarkan 3/15 net 45. Berapa biaya tahunan (perkiraan) jika Anda melewatkan diskon? (petunjuk: [d/(1−d)]×[360/(N−Pd)])
Pertemuan 6 — Preview
  • Lanjutan manajemen keuangan jangka pendek: pendanaan modal kerja dan sumber dana jangka pendek.
  • Bawa hasil dua latihan di atas untuk dibahas bersama di awal kelas.
Kerjakan dua latihan ini (kunci di Lampiran B materi). Kuasai DSO, biaya diskon, dan EOQ — tiga alat yang akan terus Anda pakai. Sampai jumpa di Pertemuan 6.