‹ Daftar slidePertemuan 2: Keputusan Investasi (Lanjutan) — Arus Kas, RRR, NPV, PI
FEB UNDIP · Program Studi Manajemen · Manajemen Keuangan II
Keputusan Investasi (Lanjutan)
Pertemuan 2 · Arus Kas, RRR, Payback, NPV & Profitability Index
Dari "proyek ini layak atau tidak" (MK I) menuju "proyek ini layak di bawah berapa risiko" — arus kas relevan yang lebih kaya, hurdle RRR, dan Profitability Index untuk dana terbatas.
RPS MINGGU 2 · SUB-CPMK 2 · DURASI 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis & memutuskan investasi dengan arus kas, RRR, Payback, NPV, dan PI (Sub-CPMK 2). Secara rinci:
Capaian 1 — Arus Kas
Menyusun arus kas relevan yang lengkap: incremental, perubahan modal kerja (ΔNWC), perisai pajak 22%, dan nilai sisa setelah pajak.
Capaian 2 — RRR
Menetapkan required rate of return sebagai hurdle berbasis risiko, dan membedakannya dari WACC dasar perusahaan.
Capaian 3 — NPV & PI
Menghitung NPV dan PI dari nol, lalu menerapkan aturan terima/tolak relatif terhadap RRR.
Capaian 4 — Dana Terbatas
Memakai PI untuk memeringkat proyek saat anggaran modal mengikat (capital rationing).
Dari "Layak atau Tidak" ke "Layak di Bawah Risiko"
Di MK I, Anda diberi WACC 12% lalu hitung NPV. Di dunia nyata, dari mana angka 12% itu — dan benarkah ia cocok untuk proyek ini?
Di MK I
Tingkat diskonto diberikan (mis. WACC 12%). Anda fokus menghitung NPV/IRR. Pertanyaannya hanya: "layak atau tidak?"
Di MK II (Hari Ini)
Tingkat diskonto ditetapkan sesuai risiko proyek (RRR), arus kas disusun lebih teliti. Pertanyaannya: "layak di bawah risiko berapa, dan mana yang dipilih saat dana terbatas?"
Keputusan investasi yang sama, kini dengan dua pertanyaan baru: berapa hurdle yang adil untuk risiko proyek ini, dan bagaimana memilih saat tak semua proyek layak bisa didanai.
Bagian 1 dari 4
Rekap MK I, Lalu Naik Level
Tiga slide pengingat cepat — alat keputusan (Payback / NPV / IRR) dan anatomi arus kas proyek — sebelum kita naik ke level aplikatif berbasis risiko.
Payback · NPV · Arus Kas
Rekap Kilat — Empat Alat Keputusan (MK I P13–14)
Payback
Lama modal kembali. Aturan: terima jika ≤ cutoff. Cacat: abai nilai waktu uang & arus kas setelah periode payback. (lihat MK I P13)
NPV — Kriteria Emas
NPV = −CF₀ + Σ CFₜ/(1+r)ᵗ. Terima jika NPV > 0. Mengukur tambahan kekayaan pemegang saham hari ini. (lihat MK I P13)
IRR
Tingkat r yang membuat NPV = 0. Terima jika IRR > RRR. Populer karena dalam persen, tetapi punya jebakan skala & arus kas. (lihat MK I P14)
Hari ini kita perdalam NPV, tambahkan PI, dan jadikan tingkat diskonto sebuah RRR berbasis risiko — bukan WACC yang sekadar diberikan.
Rekap Kilat — Anatomi Arus Kas Proyek (MK I P12)
Setiap proyek punya tiga tahap arus kas. Hari ini kita susun versi yang lebih kaya, tetapi kerangkanya tetap sama.
Tahap
Isi
Arah
Initial (t=0)
CapEx + modal kerja awal
keluar (−)
Operating (t=1..n)
OCF = EBIT(1−T) + Depr.
masuk (+)
Terminal (t=n)
nilai sisa setelah pajak + pemulihan NWC
masuk (+)
Tiga Hal Baru di MK II (Beda dari MK I)
Tambahan 1 — Arus Kas Lebih Kaya
Susun dari komponen, bukan terima angka jadi. Perisai pajak & nilai sisa setelah pajak dieksplisitkan. (vs MK I)
Tambahan 2 — RRR Berbasis Risiko
Tingkat diskonto = hurdle yang disesuaikan risiko proyek, bukan WACC tunggal untuk semua proyek. (vs MK I)
Tambahan 3 — PI untuk Dana Terbatas
Profitability Index memeringkat proyek per rupiah investasi saat anggaran modal mengikat. (vs MK I)
Inti MK II Pertemuan 2: keputusan investasi yang lebih realistis — risiko yang adil, arus kas yang teliti, dan pilihan saat dana tak cukup untuk semua.
Bagian 2 dari 4
Arus Kas Relevan yang Lebih Kaya
Incremental, perubahan modal kerja, perisai pajak depresiasi 22%, dan nilai sisa setelah pajak — lalu kita bangun arus kas satu proyek ekspansi dari nol.
FCF = EBIT(1−T) + Depresiasi − ΔNWC − CapEx
Rumus Inti: FCF Proyek & OCF (penegasan dari MK I)
OCF (tahun operasi stabil) = EBIT(1 − T) + Depresiasi
EBIT(1−T) = laba operasi setelah pajak (NOPAT); T = 22% (PPh badan).
+ Depresiasi = ditambah kembali karena non-tunai.
− ΔNWC = kenaikan modal kerja menyedot kas.
− CapEx = belanja modal menyedot kas.
Mulai dari EBIT, bukan laba bersih (net income) — agar perisai pajak bunga tidak terhitung ganda. Pendanaan masuk lewat tingkat diskonto (RRR), bukan lewat arus kas.
Dua Komponen yang Sering Salah: Perisai Pajak & Nilai Sisa
Perisai Pajak Depresiasi
Depresiasi non-tunai, tetapi menghemat pajak. Perisai = T × Depresiasi. Contoh: depresiasi Rp 1.000 jt, T = 22% → hemat Rp 220 jt pajak/tahun. (Sudah ikut otomatis dalam EBIT(1−T)+Depresiasi.)
Nilai Sisa Setelah Pajak
Jika aset dijual di akhir, keuntungan jual kena pajak. Jika nilai buku = 0, seluruh harga jual kena pajak. Sisa bersih = Salvage − T × (Salvage − Nilai Buku).
Nilai sisa bersih = S − T × (S − NB) · S = harga jual, NB = nilai buku
Lupa pajak atas nilai sisa = melebih-lebihkan arus kas terminal. Jika NB = 0 dan S = Rp 500 jt: bersih = 500 − 22% × 500 = Rp 390 jt, bukan Rp 500 jt.
Hitung dari Nol — HDN-1a: Asumsi & Initial CF
Sebuah emiten manufaktur consumer goods di BEI menimbang ekspansi lini produksi. Kita bangun arus kasnya dari nol — mulai dari asumsi dan kas keluar awal. Semua dalam juta rupiah.
Asumsi Proyek (ilustrasi)
CapEx (belanja mesin): Rp 5.000
Umur proyek: 5 tahun; depresiasi garis lurus, nilai buku akhir 0
Tambahan modal kerja awal (ΔNWC₀): Rp 600
Tambahan penjualan: Rp 4.000/th
Biaya kas operasi (tanpa depresiasi): Rp 2.200/th
Nilai jual mesin akhir (salvage): Rp 500
Tarif pajak T = 22%
Langkah
Perhitungan
Nilai
Depresiasi/th
5.000 ÷ 5
1.000
Initial (t=0)
−(5.000 + 600)
−5.600
Initial CF (t=0)
−5.600
mesin 5.000 + modal kerja 600 (juta Rp)
Hitung dari Nol — HDN-1a (lanj.): OCF & Terminal
Pakai asumsi yang sama dari slide sebelumnya. Sekarang susun arus kas operasi tahunan dan arus kas terminal di akhir.
Inilah arus kas yang akan kita diskon untuk NPV & PI di Bagian 4: −5.600 · +1.624 ×4 · +2.614.
Bagian 3 dari 4
Required Rate of Return (RRR)
Tingkat diskonto bukan sekadar angka yang diberikan — ia hurdle yang mencerminkan risiko proyek. Dari mana ia datang, dan kapan kita menyesuaikannya?
Hurdle · Risiko · WACC sebagai titik awal
RRR = Hurdle yang Disesuaikan Risiko
Logika dasar: makin berisiko arus kas masa depan, makin tinggi imbal hasil yang adil dituntut — sehingga hurdle-nya makin tinggi dan arus kas didiskon makin tajam.
Prinsip
RRR = imbal hasil minimum yang membuat investor rela menanggung risiko proyek. Risiko ↑ → RRR ↑ → NPV ↓ (lebih sulit lolos).
Titik Awal = WACC
Untuk proyek dengan risiko setara rata-rata perusahaan, RRR ≈ WACC. Untuk proyek di atas/di bawah rata-rata, RRR disesuaikan.
Aturan keputusan semua alat memakai RRR: NPV pakai RRR sebagai diskonto · IRR dibandingkan dengan RRR · PI memakai RRR untuk men-PV-kan arus kas masuk.
RRR vs WACC — Jangan Pakai Satu Angka untuk Semua Proyek
Memakai WACC tunggal untuk semua proyek bisa menerima proyek berisiko yang buruk dan menolak proyek aman yang baik.
Jenis proyek
Risiko
RRR adil
Penggantian mesin rutin
di bawah rata-rata
< WACC
Ekspansi lini sejenis
≈ rata-rata
≈ WACC
Masuk bisnis/pasar baru
di atas rata-rata
> WACC
Studi Kasus: RRR untuk Ekspansi Lini Produksi (proyek HDN-1)
Proyek ekspansi tadi sedikit lebih berisiko dari rata-rata bisnis emiten. Misalkan WACC emiten ~12%. Berapa RRR yang adil?
Pertimbangan
Ekspansi lini baru → permintaan belum teruji, kompetisi bisa berubah → risiko di atas rata-rata bisnis lama. Maka hurdle dinaikkan dari WACC.
Keputusan RRR
13%
WACC ~12% + premi proyek ~1% → RRR = 13% (ilustrasi). Inilah tingkat diskonto yang kita pakai di NPV & PI proyek ekspansi.
RRR = 13% berarti: proyek ini baru layak kalau imbal hasilnya melampaui 13%. Angka premi 1% di sini ilustratif — di praktik ditetapkan lewat data sektor & kebijakan perusahaan.
Bagian 4 dari 4
NPV & Profitability Index
Hitung NPV proyek dengan RRR, lalu kenalkan Profitability Index — alat utama saat dana terbatas — dan rangkai aturan keputusan terpadu.
PI = PV arus kas masuk ÷ Investasi awal
NPV (penegasan) — Sekarang Diskon dengan RRR
NPV = −CF₀ + Σ [ CFₜ ÷ (1 + RRR)ᵗ ] untuk t = 1 … n
Komponen
CF₀ = investasi awal (keluar t=0). CFₜ = arus kas bersih tahun ke-t (dari HDN-1a). RRR = tingkat diskonto berbasis risiko (di sini 13%). n = umur proyek.
Aturan Keputusan
NPV > 0 → TERIMA (proyek menambah nilai di atas RRR). NPV < 0 → TOLAK. NPV = 0 → indiferen.
Bedanya dari MK I hanya satu: tingkat diskonto sekarang RRR yang Anda tetapkan, bukan WACC yang diberikan. Logika & aturannya identik.
Diskon profil arus kas dari HDN-1a dengan RRR 13%, lalu jumlahkan (juta rupiah).
Tahun
Arus Kas
Faktor 1/(1,13)ᵗ
PV
0
(5.600)
1,000000
(5.600,00)
1
1.624
0,884956
1.437,17
2
1.624
0,783147
1.271,83
3
1.624
0,693050
1.125,51
4
1.624
0,613319
996,03
5
2.614
0,542760
1.418,77
NPV
Σ PV
+649,32
NPV Proyek
+Rp 649,3 jt
NPV > 0 → TERIMA
PV arus kas masuk = Rp 6.249,32 jt; dikurangi investasi Rp 5.600 jt → NPV = +Rp 649,32 juta. Proyek diterima pada RRR 13%.
Profitability Index (PI) — Nilai per Rupiah Investasi
PI mengukur berapa rupiah nilai sekarang yang dihasilkan per satu rupiah investasi awal. Ia "menormalkan" NPV terhadap ukuran proyek.
PI = PV arus kas masuk (t=1..n) ÷ |Investasi awal|
PI = 1 + (NPV ÷ Investasi awal)
PI
NPV setara
Keputusan
PI > 1
NPV > 0
TERIMA
PI = 1
NPV = 0
indiferen
PI < 1
NPV < 0
TOLAK
PI > 1 ⇔ NPV > 0 — keduanya identik untuk keputusan terima/tolak satu proyek. PI baru memberi nilai tambah saat memeringkat proyek dengan dana terbatas (slide berikut).
Hitung dari Nol — HDN-1c: PI Proyek Ekspansi
Pakai angka HDN-1b: PV arus kas masuk dan investasi awal sudah kita punya. Tinggal dibagi.
Setiap Rp 1 investasi menghasilkan ~Rp 1,12 nilai sekarang → kelebihan ~12 sen per rupiah. PI > 1, konsisten dengan NPV > 0 → TERIMA.
Coba Sendiri: Geser RRR, Lihat NPV & PI Proyek Bergerak
Geser tingkat RRR (hurdle rate) proyek dan amati bagaimana NPV serta PI naik-turun, sampai ke titik keduanya menolak proyek.
Kapan PI Mengalahkan NPV: Dana Terbatas (Capital Rationing)
Saat anggaran modal tidak cukup untuk semua proyek layak, tujuan berubah: bukan "pilih NPV terbesar", tetapi "maksimumkan total NPV per rupiah anggaran".
Tanpa Kendala
Ambil semua proyek ber-NPV positif. PI dan NPV sepakat. Tak ada masalah pemeringkatan.
Dengan Kendala Anggaran
Tak semua proyek bisa didanai. Peringkat dengan PI (nilai per rupiah), lalu ambil dari PI tertinggi sampai anggaran habis → total NPV portofolio cenderung lebih tinggi.
Jebakan: memilih proyek ber-NPV absolut terbesar lebih dulu bisa menghabiskan anggaran pada satu proyek "rakus", menyisakan dana yang tak cukup untuk proyek-proyek efisien. PI mencegah ini.
Hitung dari Nol — HDN-2: Pilih Proyek dengan PI (Anggaran Rp 3.500 jt)
Tiga proyek independen A, B, C. Anggaran modal hanya Rp 3.500 jt (juta rupiah). PV arus kas masuk sudah didiskon di RRR. Mana yang dipilih?
Proyek
Investasi
PV masuk
NPV
PI
A
2.000
2.600
+600
1,30
B
1.500
2.100
+600
1,40
C
3.000
3.600
+600
1,20
Peringkat PI
B > A > C
Ketiga proyek punya NPV sama (+600) → peringkat NPV mentah ambigu. PI memberi urutan jelas: B (1,40) > A (1,30) > C (1,20).
Greedy per PI dalam anggaran Rp 3.500: ambil B (1.500) lalu A (2.000) → tepat habis 3.500. Total NPV = +1.200. Bandingkan jika ambil C dulu (3.000): sisa 500 tak cukup → total NPV hanya +600. PI menang.
Aturan Keputusan Terpadu: Payback · NPV · PI · IRR
Alat
Ukuran
Aturan
Kapan paling berguna
Payback
tahun balik modal
≤ cutoff
cek likuiditas/risiko kasar; bukan kriteria utama
NPV
rupiah nilai tambah
NPV > 0
kriteria emas — selalu pakai
PI
nilai per rupiah
PI > 1
dana terbatas — peringkat proyek
IRR
persen hasil internal
IRR > RRR
komunikasi ke direksi; awas jebakan skala
Hierarki: NPV memutuskan terima/tolak & memilih saat mutually exclusive. PI memilih saat anggaran terbatas. IRR/Payback = pelengkap komunikasi, bukan pengambil keputusan utama.
Lima Jebakan yang Sering Bikin Salah (Level Lanjutan)
1. RRR seragam untuk semua proyek — proyek berisiko butuh hurdle lebih tinggi; WACC tunggal menyesatkan. (baru di MK II)
2. Lupa pajak atas nilai sisa — jika harga jual > nilai buku, selisihnya kena pajak; tulis nilai sisa bersih.
3. Lupa pemulihan modal kerja di tahun terakhir — arus kas terminal jadi terlalu kecil.
4. Pakai NPV absolut saat dana terbatas — sebaiknya peringkat dengan PI agar total NPV optimal. (baru di MK II)
5. Salah mulai dari laba bersih (bukan EBIT) → laba bersih sudah memuat penghematan pajak dari bunga, padahal manfaat utang sudah ditangkap di RRR → perisai pajak bunga terhitung ganda. Mulai dari EBIT.
Kerjakan berpasangan. Pakai konstanta yang sama: T = 22%. Kita bahas bersama setelah lima menit.
Soal 1 — Nilai Sisa & OCF
Mesin proyek dijual akhir umur Rp 500 jt, nilai buku Rp 0, T = 22%. (a) Berapa arus kas masuk bersih dari penjualan mesin? (b) Jika EBIT Rp 800 jt/th dan depresiasi Rp 1.000 jt/th, berapa OCF tahunannya dan berapa besar perisai pajak depresiasinya?
Soal 2 — PI & Dana Terbatas
Tiga proyek independen ber-NPV sama +600 jt: A (Inv 2.000, PI 1,30), B (Inv 1.500, PI 1,40), C (Inv 3.000, PI 1,20). Anggaran Rp 3.500 jt. Susun peringkat PI, pilih kombinasi optimal, dan hitung total NPV-nya. Mengapa peringkat NPV mentah tidak membantu di sini?
Petunjuk: nilai sisa bersih = S − T × (S − NB); OCF = EBIT(1−T) + Depresiasi; di bawah anggaran, urut dari PI tertinggi sampai dana habis.
Penutup & Jembatan ke Pertemuan 3
Yang Sudah Anda Kuasai
Susun arus kas relevan lengkap (perisai pajak, nilai sisa setelah pajak) · tetapkan RRR berbasis risiko · hitung NPV & PI dari nol · pakai PI saat dana terbatas.
Pertemuan Berikutnya
Lanjutan keputusan investasi — alat & situasi lanjut (mis. proyek dengan umur berbeda, risiko & sensitivitas). Bawa kalkulator.
Tugas mandiri: ulangi HDN-1 dengan RRR berbeda (mis. 10% dan 16%), amati bagaimana NPV & PI berubah — dan pada RRR berapa NPV menyentuh nol (itulah IRR proyek, jembatan ke pembahasan lanjut).
📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.