stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-01
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 1: Pengantar Manajemen Keuangan Lanjutan — Leverage, Risiko, Nilai Perusahaan
Program Studi Manajemen · FEB UNDIP

Manajemen Keuangan II

Pertemuan 1 · Pengantar Manajemen Keuangan Lanjutan: Leverage, Risiko, Nilai Perusahaan

Anda sudah menguasai gambaran besar di MK I. Sekarang kita naikkan levelnya: bagaimana leverage memperbesar imbal hasil sekaligus risiko, dan bagaimana semuanya bermuara pada nilai perusahaan.

RPS MINGGU 1 · SUB-CPMK 1 · PRASYARAT: MANAJEMEN KEUANGAN I · 2 × 50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu mendefinisikan ruang lingkup manajemen keuangan lanjutan lewat lensa leverage, risiko, dan nilai perusahaan (Sub-CPMK 1). Secara rinci:

Capaian 1 — Ruang Lingkup
Memperbarui tiga keputusan keuangan — investasi, pendanaan, dan dividen — serta peran manajer keuangan, masing-masing dengan contoh emiten BEI.
Capaian 2 — Leverage
Menjelaskan bagaimana leverage operasi & keuangan memperbesar imbal hasil dan risiko; menghitung DOL, DFL, dan DCL tanpa keliru.
Capaian 3 — Pasar
Membedakan pasar uang vs pasar modal, instrumen tiap pasar, dan peran OJK/BEI dalam mengawasinya.
Capaian 4 — Nilai
Menjelaskan mengapa tujuan = maksimumkan nilai perusahaan di bawah trade-off risiko–imbal hasil dari struktur modal.

Dua Perusahaan, Laba Operasi Sama — Nasib Pemilik Beda Jauh

Dua perusahaan punya aset Rp 1.000 miliar dan laba operasi (EBIT) yang sama. Bedanya cuma satu: cara mendanai. Lihat apa yang terjadi pada pemiliknya.

Perusahaan A — Tanpa Utang
Modal 100% ekuitas (Rp 1.000 M). Saat untung, imbal hasil pemilik stabil. Saat ekonomi lesu, perusahaan tetap bertahan dan masih untung tipis.
Perusahaan B — Pakai Utang
Modal Rp 500 M ekuitas + Rp 500 M utang (bunga 12%). Saat untung, ROE melonjak. Saat lesu, ROE bisa negatif.
EBIT identik, tetapi risiko bagi pemegang saham berbeda total. Itulah leverage — dan itulah yang membuat MK II berbeda dari MK I. (Angka lengkap dihitung dari nol di HDN-1.)
Bagian 1 dari 4
Dari MK I ke MK II: Lensa Baru
Apa yang kita bawa dari MK I, apa yang baru di MK II, dan satu benang merah yang mengikat semuanya: leverage, risiko, nilai. — Rekap · Lompatan · Benang Merah

Rekap Kilat MK I: Tiga Pilar — Kini Plus Dividen

Di MK I (lihat MK I Pertemuan 1) Anda kenal tiga pilar. Di MK II, pilar ketiga "naik kelas": kebijakan dividen mendapat porsi penuh.

Pilar 1 — Investasi
Aset jangka panjang apa yang dibeli? Capital budgeting (NPV/IRR). Contoh BEI: belanja modal pabrik baru oleh emiten manufaktur.
Pilar 2 — Pendanaan
Utang atau ekuitas? Struktur modal & leverage — salah satu fokus terbesar MK II.
Pilar 3 — Dividen
Laba dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk reinvestasi? Naik jadi pilar penuh di MK II.
Jangan disamakan: di MK I pilar ketiga difokuskan pada manajemen modal kerja (kas, piutang, persediaan). Di MK II kerangka diperluas — kebijakan dividen naik jadi pilar strategis penuh, sementara modal kerja tetap dibahas. Cara mengingatnya: pilar ketiga MK II = keputusan atas kas yang sudah ada — dibagikan ke pemilik (dividen) atau diputar dalam operasi (modal kerja).

Apa yang Baru di MK II? Risiko Naik ke Pusat Panggung

MK I — Apa & Mengapa
Mengenali keputusan, membaca laporan, menghitung nilai waktu uang, menilai obligasi/saham, dasar WACC & capital budgeting. Fokus: alat dasar.
MK II — Di Bawah Risiko
Struktur modal optimal, leverage, kebijakan dividen, manajemen modal kerja lanjut, risiko & kesulitan keuangan. Fokus: keputusan dengan trade-off risiko.
Pergeseran inti: MK I bertanya "berapa nilainya?"; MK II bertanya "bagaimana cara mendanai & membagi hasilnya tanpa menambah risiko berlebih, agar nilai naik?"

Benang Merah MK II: Leverage → Risiko → Nilai

Tiga konsep ini saling mengunci. Pahami hubungannya sekali, dan seluruh MK II terasa runtut.

LEVERAGEoperasi & keuanganRISIKObisnis & keuanganNILAIharga saham / firm valuemenaikkandiskonto ↑ → nilai ↓kelola agar maks.Tujuan:Maks. Nilai
Aturan main MK II: tambah leverage → imbal hasil harapan naik, tapi risiko juga naik → biaya modal naik. Nilai maksimum ada di titik keseimbangan, bukan di "utang sebanyak-banyaknya".
Bagian 2 dari 4
Leverage: Pisau Bermata Dua
Bagaimana biaya tetap (operasi) dan bunga utang (keuangan) memperbesar imbal hasil sekaligus risiko — lengkap dengan angka dari nol.
ROE naik saat untung — ROE jatuh saat rugi

Dua Sumber Risiko: Bisnis vs Keuangan

Risiko Bisnis
Ketidakpastian laba operasi (EBIT) — dari penjualan, biaya, persaingan, siklus ekonomi. Ada walau tanpa utang. Diperbesar oleh leverage operasi.
Risiko Keuangan
Ketidakpastian tambahan bagi pemegang saham karena perusahaan memakai utang berbunga tetap. Muncul hanya jika ada utang. Diperbesar oleh leverage keuangan.
Risiko total pemegang saham = risiko bisnis + risiko keuangan. Manajer bisa memilih risiko keuangan (lewat struktur modal); risiko bisnis lebih melekat pada jenis usahanya.

Leverage Operasi (DOL) — Akibat Biaya Tetap

Makin besar porsi biaya tetap dalam operasi, makin besar lonjakan EBIT ketika penjualan naik — dan makin dalam jatuhnya saat penjualan turun.

Kenal dulu margin kontribusi lewat angka. Jual Rp 100, biaya variabel Rp 40 → margin kontribusi = 100 − 40 = Rp 60. Rp 60 inilah yang menutup biaya tetap; sisanya setelah biaya tetap tertutup menjadi EBIT. (Angka penuh dihitung di HDN-2.)
DOL = %ΔEBIT ÷ %ΔPenjualan = Margin Kontribusi ÷ EBIT
Kenapa dua bentuk ini setara? Sisi kiri = definisi (rasio dua persentase perubahan); sisi kanan = rumus praktis (rasio dua angka level). Sama karena saat penjualan naik, biaya tetap tidak ikut naik — seluruh tambahan margin kontribusi langsung jatuh ke EBIT. Karena margin kontribusi selalu > EBIT, rasionya > 1 → itulah pembesaran. DOL = 2 berarti penjualan naik 10% → EBIT naik 20%.

Leverage Keuangan (DFL) — Akibat Bunga Tetap

Setelah EBIT terbentuk, bunga utang memotongnya dengan jumlah tetap. Makin besar bunga tetap, makin liar ayunan laba bersih (dan EPS) terhadap perubahan EBIT.

DFL = %ΔEPS ÷ %ΔEBIT = EBIT ÷ (EBIT − Bunga)
Kenapa dua bentuk ini setara? Keduanya sama karena bunga itu tetap: setiap rupiah perubahan EBIT mengalir utuh ke EBT (laba sebelum pajak), sebab pengurangnya — bunga — tidak ikut berubah. Karena EBIT selalu > (EBIT − Bunga), rasionya selalu > 1 → itulah pembesaran. (Bukti angka di HDN-2: EBIT naik 10% bikin EBT naik 25%, dan 25%÷10% = 2,5 = 100÷40 = EBIT÷EBT.)
DFL = 2,5 berarti EBIT naik 10% → laba bersih/EPS naik 25%. Tanpa utang, bunga = 0 → DFL = 1 (tak ada pembesaran — itulah Perusahaan A). Catat: EPS = laba bersih ÷ jumlah saham beredar.

Hitung dari Nol — HDN-1: Leverage Memperbesar ROE (dan Risiko)

Dua perusahaan, aset Rp 1.000 M, PPh Badan 22%. A: 100% ekuitas. B: ekuitas Rp 500 M + utang Rp 500 M (bunga 12% → bunga = Rp 60 M). Bandingkan ROE di dua skenario EBIT (semua Rp miliar).

PosA·BOOMA·BUSTB·BOOMB·BUST
EBIT2004020040
(−) Bunga006060
EBT20040140−20
(−) Pajak 22%448,830,80
Laba bersih15631,2109,2−20
Ekuitas1.0001.000500500
ROE15,60%3,12%21,84%−4,00%
BOOM: leverage mengangkat ROE B dari 15,60% → 21,84%. BUST: leverage menjerumuskan ROE B dari 3,12% → −4,00% (rugi — lebih dalam dari A). EBIT identik, risiko pemegang saham jauh berbeda. Pisau bermata dua tidak simetris: sisi rugi menganga lebih lebar daripada sisi untung.

Hitung dari Nol — HDN-2: DFL & DCL (Combined Leverage)

Satu perusahaan (Rp miliar): Penjualan 500, Biaya Variabel 300, Biaya Tetap 100, Bunga 60. Hitung DOL, DFL, dan gabungannya DCL — langkah demi langkah.

LangkahPerhitunganNilai
Margin Kontribusi (MK)500 − 300200
EBITMK − Biaya Tetap = 200 − 100100
EBTEBIT − Bunga = 100 − 6040
DOLMK ÷ EBIT = 200 ÷ 1002,0
DFLEBIT ÷ EBT = 100 ÷ 402,5
DCLDOL × DFL = 2,0 × 2,55,0
Hasil Gabungan
5,0×
DCL = DOL (2,0) × DFL (2,5)
Penjualan naik 10% → laba bersih naik 50%. Pembesaran 5× = gabungan pengungkit operasi (2×) dan keuangan (2,5×). Pisau yang sama menajamkan rugi 5× saat penjualan turun.

Coba Sendiri: Geser Biaya Tetap & Bunga, Lihat DOL-DFL-DCL Berubah

Geser biaya tetap operasi dan beban bunga, amati bagaimana DOL, DFL, dan DCL membesar-mengecil serta dampaknya ke sensitivitas EPS/ROE.

Anchor Indonesia: Struktur Modal Berbeda per Sektor

Emiten Bursa Efek Indonesia memilih tingkat leverage sangat berbeda — bukan acak, melainkan mengikuti risiko bisnis sektornya.

Leverage Tinggi (lazim)
Bank (BBCA, BBRI, BMRI) — bisnisnya memang mengelola dana pihak ketiga; rasio utang sangat tinggi tapi diatur ketat OJK. Multifinance — mendanai piutang dengan utang.
Leverage Rendah (lazim)
Barang konsumsi (UNVR, ICBP) — arus kas stabil, banyak pakai laba ditahan & ekuitas. Banyak emiten teknologi tahap awal juga minim utang berbunga.
Pelajaran: tidak ada satu struktur modal "benar" untuk semua. Sektor berisiko bisnis tinggi cenderung menahan leverage keuangan; sektor arus kas stabil lebih leluasa. (Klasifikasi indikatif per sektor; rasio persis tiap emiten berfluktuasi — verifikasi di laporan keuangan/IDX.)
Bagian 3 dari 4
Sistem & Pasar Keuangan
Tempat keputusan pendanaan dieksekusi — pasar uang vs pasar modal, dan para penjaganya (OJK, BEI, BI, LPS). Recap aplikatif dari MK I Pertemuan 2.

Sistem Keuangan: Menjembatani Surplus → Defisit

Inti sistem keuangan: menyalurkan dana dari pihak yang kelebihan (penabung/investor) ke pihak yang butuh (perusahaan/pemerintah) — agar dana mengalir ke penggunaan paling produktif.

UNIT SURPLUSpenabung · investor(a) PERANTARAbank · multifinance · manajer investasi(b) PASAR MODALterbitkan saham/obligasi di BEIUNIT DEFISITperusahaan · pemerintahimbal hasil: bunga · dividen · capital gain (arah balik)
Dua jalur: pembiayaan tidak langsung (via perantara seperti bank) dan pembiayaan langsung (via pasar modal). Manajer keuangan memilih jalur termurah sesuai kebutuhan & risiko.

Pasar Uang vs Pasar Modal — Recap Aplikatif

Bedanya jangka waktu instrumen. Untuk apa manajer keuangan memakai masing-masing?

AspekPasar UangPasar Modal
Jangka waktuPendek (< 1 tahun)Panjang (> 1 tahun)
InstrumenSBI, SPN, deposito, commercial paperSaham, obligasi, sukuk, reksa dana
Tujuan emitenLikuiditas, modal kerjaEkspansi, investasi jangka panjang
Tempat (Indonesia)Antar-bank, OJK/BIBursa Efek Indonesia (BEI)
Risiko / imbal hasilRendah / rendahLebih tinggi / lebih tinggi
Aturan padanan: danai aset jangka panjang dengan sumber jangka panjang. Membiayai pabrik (jangka panjang) pakai utang jangka pendek = risiko likuiditas — jebakan klasik.

Para Penjaga: OJK, BEI, BI, LPS

OJK
Otoritas Jasa Keuangan — mengatur & mengawasi seluruh sektor jasa keuangan (perbankan, pasar modal, IKNB). Pengawas utama emiten & pelindung investor.
BEI
Bursa Efek Indonesia — penyelenggara pasar modal: tempat saham/obligasi diperdagangkan, listing, dan perdagangan harian.
BI
Bank Indonesia — bank sentral: kebijakan moneter, suku bunga acuan (BI-Rate), stabilitas sistem pembayaran & nilai rupiah.
LPS
Lembaga Penjamin Simpanan — menjamin simpanan nasabah bank (batas tertentu), menjaga kepercayaan & stabilitas perbankan.
Empat lembaga ini menjaga agar pasar tempat manajer keuangan beroperasi tetap adil, tertib, dan stabil — prasyarat agar dana mengalir efisien.

Studi Kasus: Bagaimana Emiten Mendanai Keputusannya

Tiga kebutuhan dana berbeda → jalur pasar berbeda. Inilah keputusan pendanaan dalam praktik.

Butuh Jangka Pendek
Modal kerja musiman (mis. ritel jelang Lebaran). → Pasar uang / kredit modal kerja bank. Cepat, jangka pendek.
Butuh Jangka Panjang
Bangun pabrik / akuisisi. → Pasar modal: terbitkan obligasi (utang) atau saham baru (ekuitas) di BEI.
Pilihan utang vs saham baru = keputusan struktur modal (fokus MK II). Terbitkan obligasi → leverage & risiko keuangan naik, tapi pemilik tak terdilusi. Terbitkan saham → tak menambah bunga, tapi kepemilikan lama terdilusi. (Skenario ilustratif.)
Bagian 4 dari 4
Nilai Perusahaan & Peran Manajer di Bawah Risiko
Semua keputusan — leverage, pendanaan, dividen — bermuara pada satu tolok ukur: apakah nilai perusahaan naik setelah risiko diperhitungkan?
Tujuan = Maksimumkan Nilai Perusahaan

Tujuan = Memaksimumkan Nilai Perusahaan

Penegasan dari MK I (lihat MK I Pertemuan 1): bukan laba akuntansi, melainkan nilai yang sudah memperhitungkan waktu dan risiko.

Nilai = Σ ( Arus Kas Masa Depant ÷ (1 + r)t )
Baca dalam kata: arus kas tahun depan dibagi sekali, dua tahun lagi dibagi dua kali, tiga tahun lagi tiga kali — makin jauh datangnya, makin besar pembaginya — lalu semua dijumlahkan (Σ = "jumlahkan untuk semua tahun"; pangkat t = "tahun ke-berapa"). Mini-recap MK I P6: Rp 110 tahun depan pada diskonto 10% = 110 ÷ (1,10)¹ = Rp 100 sekarang.
Pembilang — Arus Kas
Naikkan dengan keputusan investasi yang baik (proyek ber-NPV positif) dan operasi efisien.
Penyebut — Tingkat Diskonto
Tekan dengan struktur modal & risiko yang terkelola. Risiko naik → diskonto naik → nilai turun.

Trade-off Risiko–Imbal Hasil & Struktur Modal Optimal

Hukum besi keuangan: imbal hasil lebih tinggi menuntut risiko lebih tinggi. Tugas manajer = cari titik di mana nilai maksimum, bukan risiko minimum atau untung maksimum.

Tingkat utang (leverage) →Nilai perusahaan →struktur modal optimalmanfaat pajak →← biaya distress
Bukan "utang = jahat" atau "utang = bagus". Ada titik optimal: tambah utang menaikkan nilai sampai puncak (manfaat pajak), lalu menurunkannya (risiko bangkrut). Diperdalam di pertemuan struktur modal MK II.
Dari mana "manfaat pajak"? Pakai bunga HDN-1 (Rp 60 M): bunga mengurangi laba kena pajak Rp 60 M → pajak berkurang 22% × 60 = Rp 13,2 M yang tinggal di perusahaan. Inilah tax shield.

Peran Manajer Keuangan di Bawah Ketidakpastian

Setiap keputusan diambil sebelum hasil diketahui. Maka peran manajer = mengelola trade-off, bukan meramal masa depan.

Pengambil Keputusan
Memilih proyek, struktur modal, & dividen yang menaikkan nilai setelah risiko ditimbang.
Manajer Risiko
Menyeimbangkan leverage, menjaga likuiditas, menghindari kesulitan keuangan (financial distress).
Agen Pemegang Saham
Bekerja untuk kepentingan pemilik — tetapi rawan masalah keagenan (rekap MK I): selaraskan via insentif & tata kelola.
Benang dari MK I: masalah keagenan kini bertemu risiko — manajer yang terlalu berani berutang demi bonus bisa membahayakan pemegang saham. Tata kelola (GCG) & OJK menjadi rem.

Peta Konsep: Bagaimana Semua Terhubung di MK II

NILAI PERUSAHAAN(maksimum, di bawah risiko terkendali)TIGA KEPUTUSANinvestasi · pendanaan · dividenLEVERAGEDOL · DFL · DCL → risikoPASAR & PENJAGAuang/modal · OJK/BEI/BI/LPS→ struktur modal · → kebijakan dividen · → biaya modal (pertemuan MK II berikutnya)
Satu kalimat MK II: kelola leverage & keputusan keuangan sehingga nilai perusahaan maksimum, di bawah risiko yang terkendali.

Latihan & Diskusi Kelas

Latihan 1 — DFL & DCL
Perusahaan (Rp miliar): Penjualan 800, Biaya Variabel 480, Biaya Tetap 160, Bunga 80. Hitung DOL, DFL, DCL. Jika penjualan naik 5%, berapa % laba bersih naik? (petunjuk: ikuti HDN-2.)
Latihan 2 — ROE & Leverage
Aset Rp 600 M, PPh 22%. Bandingkan ROE struktur (a) 100% ekuitas vs (b) ekuitas 300 M + utang 300 M (bunga 10%), saat EBIT = Rp 120 M. Mana lebih tinggi & mengapa?
Kerjakan 7 menit. Gambar dulu alur EBIT → bunga → pajak → laba bersih. Cek: apakah leverage menaikkan ROE di sini? Lalu kita bahas kuncinya bersama.

Rangkuman & Persiapan Pertemuan 2

Hari ini kita memasang kerangka MK II: leverage memperbesar imbal hasil & risiko, semuanya bermuara pada nilai perusahaan.

Cheat Sheet Hari Ini
  • Tiga keputusan: investasi / pendanaan / dividen
  • Risiko total = risiko bisnis + risiko keuangan
  • DOL = MK ÷ EBIT · DFL = EBIT ÷ EBT · DCL = DOL × DFL
  • Pasar uang (jangka pendek) vs pasar modal (jangka panjang)
  • Tujuan = maks. nilai di bawah risiko · optimal = titik bukit
Tugas Mandiri
Ulang HDN-1 & HDN-2 dengan angka Anda sendiri. Pilih satu emiten BEI, lihat sekilas komposisi utang vs ekuitas di laporan keuangannya, kaitkan dengan risiko bisnis sektornya.
Kuasai kerangka leverage–risiko–nilai malam ini. Sampai jumpa di Pertemuan 2 sesuai RPS Manajemen Keuangan II.