stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-14
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 14: Capital Budgeting — Konflik & Alat Lanjut 📥 Excel
FEB UNDIP · Manajemen Keuangan I · Program Studi Manajemen

Capital Budgeting: Konflik & Alat Lanjut

Pertemuan 14 · Saat NPV & IRR Berbeda Pendapat (Bagian 2)

Ketika dua alat andalan kita merekomendasikan proyek yang berbeda — plus MIRR, Profitability Index, dan analisis risiko untuk keputusan investasi yang matang.

RPS Minggu 15 · Sub-CPMK 12 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran (Sub-CPMK 12)

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan menganalisis penganggaran modal lanjutan. Secara rinci:

Capaian 1 · Konflik
Menjelaskan dan menyelesaikan konflik NPV vs IRR pada proyek mutually exclusive (saling meniadakan) — baik karena beda skala maupun beda waktu arus kas.
Capaian 2 · MIRR
Menjelaskan masalah multiple IRR (IRR berganda) dan menghitung MIRR sebagai perbaikannya.
Capaian 3 · PI & Rationing
Menghitung Profitability Index dan memakainya untuk memilih proyek saat dana investasi terbatas.
Capaian 4 · Risiko
Menyusun analisis sensitivitas & skenario, lalu mengambil keputusan akhir yang berbasis NPV.

Saat Dua Alat Tidak Sepakat

Bayangkan Anda analis di sebuah emiten ritel di Bursa Efek Indonesia. Komite investasi memberi Anda dua usulan proyek yang hanya boleh dipilih salah satu:

Proyek S — Gerai Kecil
36%
IRR · investasi Rp 200 jt
NPV = Rp 98 jt. Persentase hasil tinggi, tetapi nilai rupiah lebih kecil.
Proyek L — Gerai Besar
20%
IRR · investasi Rp 800 jt
NPV = Rp 145 jt. Persentase hasil lebih rendah, tetapi nilai rupiah lebih besar.
IRR memilih S (36% > 20%). NPV memilih L (Rp 145 jt > Rp 98 jt). Dua alat andalan kita bertengkar. Anda harus pilih satu — mana yang benar?
Bagian 1 dari 4
Saat NPV & IRR Bertengkar
Dua sumber konflik pada proyek mutually exclusive — beda skala investasi dan beda pola waktu arus kas — serta cara membaca crossover rate.

Mengingat Aturan: NPV vs IRR

Sebelum membahas konflik, kita segarkan dua aturan dari Pertemuan 13.

NPV = Σ [ CFt / (1+r)t ] − Investasi awal  →  terima jika NPV > 0
IRR = tingkat r yang membuat NPV = 0  →  terima jika IRR > WACC
NPV — Rupiah
Mengukur tambahan kekayaan pemegang saham. Asumsi reinvestasi pada WACC (realistis).
IRR — Persen
Mengukur tingkat hasil proyek. Asumsi reinvestasi pada IRR sendiri (sering tak realistis).

Dua Sumber Konflik: Skala & Waktu

Sumber 1 · Beda Skala
IRR mengabaikan ukuran. Hasil 50% atas Rp 100 jt (= Rp 50 jt) kalah jumlah dengan 20% atas Rp 1 miliar (= Rp 200 jt). IRR tinggi pada basis kecil ≠ rupiah lebih banyak.
Sumber 2 · Beda Waktu
Satu proyek arus kasnya besar di awal, yang lain besar di akhir. Karena asumsi reinvestasi NPV (WACC) dan IRR (IRR) berbeda, peringkat keduanya bisa berbalik.
Pada proyek independen, kedua sumber ini tak masalah — NPV dan IRR selalu sepakat. Konflik hanya muncul saat proyek mutually exclusive.

Hitung dari Nol: Gerai Kecil vs Gerai Besar

Emiten ritel, WACC 10%. Pilih satu: Gerai Kecil (S) atau Gerai Besar (L). Faktor anuitas PV 10%, 3 tahun = 2,4869. Semua angka dalam Rp juta.

LangkahPerhitunganNilai
Proyek S — investasi awal(200)
Proyek S — PV arus kas masuk120 × 2,4869298,42
NPV S298,42 − 20098,42
IRR S (buat NPV = 0)36,31%
Proyek L — investasi awal(800)
Proyek L — PV arus kas masuk380 × 2,4869945,00
NPV L945,00 − 800145,00
IRR L (buat NPV = 0)20,04%
IRR memilih S (36,31% > 20,04%). NPV memilih L (Rp 145 jt > Rp 98,42 jt). → Konflik beda skala.

Crossover Rate & Grafik Profil NPV

Plot NPV setiap proyek pada berbagai tingkat diskonto = profil NPV. Titik potong dua kurva = crossover rate ≈ 14,4% (diturunkan dari nol di Lampiran A).

NPVr (%)01014,42036Kurva L (besar)Kurva S (kecil)WACC 10%crossover ≈ 14,4%IRR L 20%IRR S 36%
Karena WACC kita 10% < 14,4%, kita di kiri crossover → L unggul lewat NPV. Di kanan crossover (r > 14,4%) barulah S unggul.

Coba Sendiri: Temukan Titik Silang Dua Proyek

Ubah arus kas proyek L dan S, lalu lihat kurva profil NPV bergerak dan titik crossover bergeser — coba juga pola arus kas tak-konvensional untuk melihat multiple IRR.

Mengapa NPV yang Menang

Ketika NPV dan IRR berkonflik pada proyek mutually exclusive, selalu ikuti NPV. Tiga alasan:

AlasanPenjelasan
Tujuan perusahaanNPV mengukur tambahan kekayaan dalam rupiah — selaras tujuan memaksimumkan kekayaan pemegang saham (Pertemuan 1).
Reinvestasi realistisNPV menanam ulang arus kas pada WACC; IRR pada IRR sendiri yang sering terlalu tinggi.
Tidak ambiguSatu proyek selalu punya satu NPV; IRR bisa ganda (slide berikut).
Aturan emas: maksimalkan NPV. IRR & PI berguna untuk komunikasi dan penjatahan, tetapi bukan pengambil keputusan akhir saat konflik.
Bagian 2 dari 4
Masalah Multiple IRR & Solusi MIRR
Ketika arus kas berubah tanda lebih dari sekali, IRR bisa punya lebih dari satu nilai. MIRR memperbaikinya — dan selalu menghasilkan satu angka.

Arus Kas Non-Konvensional → Multiple IRR

Proyek tambang: investasi awal Rp 1.600 jt, untung besar +Rp 10.000 jt tahun 1, lalu biaya penutupan & reklamasi −Rp 10.000 jt tahun 2. Tanda berubah dua kali (− + −).

Tingkat diskontoNPV (Rp jt)
10%−773,6
25%0 ← IRR ke-1
100%+900,0
400%0 ← IRR ke-2
500%−211,1
NPVr25%400%memotong nol 2×
Dua IRR (25% & 400%) sama-sama valid! IRR jadi tak bisa dipakai. Solusi: pakai NPV (di WACC 10%, NPV = −773,6 → tolak) atau MIRR.

MIRR — Memperbaiki Cacat IRR

MIRR (Modified IRR) memperbaiki dua cacat IRR: asumsi reinvestasi tak realistis & multiple IRR.

PV biaya = TV arus kas masuk / (1 + MIRR)n
Kalikan silang: (1+MIRR)n = TV / PV biaya. Ambil akar pangkat n kedua sisi (membatalkan pangkat n di kiri) → 1+MIRR = (TV / PV biaya)1/n → kurangi 1.
MIRR = ( TV / PV biaya )1/n − 1
1 TV
Majemukkan semua arus kas masuk ke akhir umur proyek pada tingkat reinvestasi = WACC.
2 PV Biaya
Diskonkan semua arus kas keluar ke tahun 0 pada WACC.
3 MIRR
Tingkat yang menyetarakan PV biaya dengan TV. Hasil: satu nilai saja.

Hitung dari Nol: MIRR Proyek Besar (L)

Proyek L: investasi Rp 800 jt, arus kas masuk Rp 380 jt/tahun selama 3 tahun. WACC = reinvestasi = 10%, n = 3. Angka dalam Rp juta.

LangkahPerhitunganNilai
Majemukkan CF thn 1 ke thn 3380 × (1,10)2459,80
Majemukkan CF thn 2 ke thn 3380 × (1,10)1418,00
CF thn 3 (sudah di akhir)380 × (1,10)0380,00
Nilai Terminal (TV)459,80 + 418,00 + 380,001.257,80
PV biayainvestasi awal800,00
MIRR(1.257,80 / 800)1/3 − 116,28%
Bandingkan: IRR L = 20,04%, tetapi MIRR L = 16,28% — lebih rendah & lebih realistis (reinvestasi di 10%, bukan 20%). Tetap > WACC 10% → proyek L layak.

MIRR: Keunggulan & Cara Membaca

Keunggulan MIRR
① Asumsi reinvestasi realistis (WACC). ② Selalu satu nilai — bebas masalah multiple IRR. ③ Tetap dalam persen, mudah dikomunikasikan ke direksi.
Tetapi…
MIRR tetap bisa salah memilih pada proyek mutually exclusive beda skala. Untuk memilih antar-proyek, NPV tetap juara. MIRR unggul vs IRR, bukan vs NPV.
Aturan pakai: terima bila MIRR > WACC. Untuk memeringkat proyek yang saling meniadakan → tetap pakai NPV. (IRR 20,04% → MIRR 16,28% → keduanya "terima", tetapi MIRR lebih jujur.)
Bagian 3 dari 4
Profitability Index & Penjatahan Modal
Alat untuk memilih saat dana terbatas — mengukur NPV per rupiah yang diinvestasikan, lalu memeringkat proyek dalam batas anggaran.

Profitability Index (PI)

PI mengukur nilai sekarang arus kas masuk per rupiah investasi.

PI = PV arus kas masuk / Investasi awal
PI = 1 + ( NPV / Investasi awal )
Nilai PIArtiKeputusan
PI > 1NPV positif (tiap Rp 1 jadi > Rp 1)Terima
PI = 1NPV nol (impas)Indiferen
PI < 1NPV negatifTolak
PI = ukuran efisiensi (bang for the buck). Sangat berguna untuk penjatahan modal, karena memeringkat NPV per rupiah.

Hitung dari Nol: PI & Bandingkan

Pakai data Slide 7. WACC 10%. PV arus kas masuk sudah dihitung: S = 298,42; L = 945,00 (Rp juta).

LangkahPerhitunganNilai
PI Proyek S298,42 / 2001,492
PI Proyek L945,00 / 8001,181
Cek via NPV: PI S1 + (98,42 / 200)1,492 ✓
Cek via NPV: PI L1 + (145,00 / 800)1,181 ✓
PI memilih S (1,492 > 1,181) — sama seperti IRR. NPV tetap memilih L (Rp 145 jt > Rp 98 jt). → PI, seperti IRR, mengabaikan skala. Untuk memilih satu proyek besar, ikuti NPV.

Capital Rationing: Memilih Saat Dana Terbatas

Justru di sinilah PI bersinar. Anggaran modal Rp 1.000 jt (terbatas). Lima proyek independen ber-NPV positif (total kebutuhan Rp 1.700 jt > anggaran):

ProyekInvestasiNPVPIPeringkat PI
A4001201,301
B300751,252
C300601,203
E200381,194
D500901,185
Urut PI tinggi→rendah sampai dana habis: A (400) + B (300) + C (300) = Rp 1.000 jt → dana habis, total NPV = Rp 255 jt. Proyek E & D ber-NPV positif tetapi terpaksa ditolak — inti capital rationing: ada proyek bagus yang harus dikorbankan.

Anchor Indonesia: Emiten Ritel, Dana Terbatas

Konteks nyata: sebuah emiten ritel di BEI (sektor consumer) punya anggaran ekspansi terbatas dan harus memilih bentuk gerai baru.

Opsi Gerai Kecil (S)
Modal Rp 200 jt/gerai. IRR 36%, PI 1,49 — efisien, cepat balik modal. Cocok bila perusahaan ingin menyebar risiko & banyak titik.
Opsi Gerai Besar (L)
Modal Rp 800 jt/gerai. NPV Rp 145 jt — rupiah terbesar per gerai. Cocok bila tujuan maksimalkan nilai & dana cukup.
Bila dana hanya cukup satu gerai besar: pilih L (NPV terbesar). Bila bisa membuka empat gerai kecil dengan dana Rp 800 jt: 4 × NPV S = 4 × 98,42 = Rp 393,7 jt > Rp 145 jt → justru S menang saat dapat direplikasi!
Bagian 4 dari 4
Analisis Risiko & Keputusan Akhir
NPV mengandalkan estimasi masa depan yang tak pasti. Sensitivitas & skenario menguji seberapa rapuh keputusan kita — lalu kita susun hierarki keputusan akhir.

Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas mengukur berapa besar NPV berubah ketika satu asumsi diubah, asumsi lain ditahan tetap (ceteris paribus).

KomponenPenjelasan
Variabel diujiMis. arus kas masuk, WACC, harga jual, volume penjualan
CaraUbah satu variabel ±10%, ±20%; hitung ulang NPV
OutputVariabel dengan perubahan NPV terbesar = paling berisiko
Pertanyaan kunci: variabel mana yang bila meleset paling merusak NPV? Itulah yang harus dikelola & dipantau paling ketat. Hasilnya biasa digambar sebagai grafik tornado — batang terpanjang (paling sensitif) di atas.

Hitung dari Nol: Tabel Sensitivitas

Proyek L (base: invest 800, CF 380/thn × 3, WACC 10%, NPV base = 145). Uji sensitivitas arus kas masuk (Rp juta), faktor anuitas 2,4869.

Skenario CFCF/thnPerhitungan NPVNPV
−20%304304 × 2,4869 − 800−44,0
−10%342342 × 2,4869 − 80050,5
Base380380 × 2,4869 − 800145,0
+10%418418 × 2,4869 − 800239,5
+20%456456 × 2,4869 − 800334,0
Temuan: bila arus kas turun 20%, NPV jadi negatif (−44) → proyek gugur. Arus kas masuk = variabel sangat sensitif. Titik impas arus kas di sekitar −15% dari estimasi.

Coba Sendiri: Geser Variabel, Lihat NPV Goyang

Ubah arus kas, WACC, dan investasi awal Proyek L, lalu lihat langsung seberapa sensitif NPV terhadap tiap variabel.

Analisis Skenario

Sensitivitas mengubah satu variabel; skenario mengubah beberapa variabel sekaligus secara konsisten (mis. resesi → penjualan turun & biaya naik bersamaan).

Optimis (best)
Penjualan +20%, biaya −5%. NPV tinggi. Probabilitas mis. 25%.
Dasar (base)
Estimasi paling mungkin. NPV = Rp 145 jt. Probabilitas mis. 50%.
Pesimis (worst)
Penjualan −20%, biaya +10%. NPV bisa negatif. Probabilitas mis. 25%.
NPV harapan = (0,25 × NPV optimis) + (0,50 × NPV dasar) + (0,25 × NPV pesimis). Jika worst-case masih tertanggung & NPV harapan positif → proyek lebih kokoh.

Keputusan Akhir: Utamakan NPV

Setelah semua alat, inilah hierarki keputusan yang dipakai praktisi:

PrioritasAlatPeran
1 — HakimNPVPengambil keputusan akhir; pilih NPV terbesar (asalkan > 0)
2 — PendukungIRR / MIRRKomunikasi "tingkat hasil"; MIRR > IRR untuk arus kas non-konvensional
3 — PenjatahanPIMemeringkat efisiensi saat dana terbatas
4 — Cek cepatPaybackSinyal likuiditas & risiko awal (dari Pertemuan 13)
5 — Uji risikoSensitivitas / SkenarioMenguji ketahanan NPV terhadap ketidakpastian
Satu kalimat untuk diingat seumur hidup: Saat alat berkonflik pada proyek mutually exclusive, NPV selalu menang.

Apa Kata CFO Sungguhan? (Graham–Harvey)

Survei klasik Graham & Harvey (2001) terhadap ratusan CFO perusahaan AS: alat apa yang benar-benar dipakai?

Paling Populer
NPV dan IRR adalah dua metode yang paling sering dipakai CFO (mayoritas besar responden) — sejalan dengan yang Anda pelajari hari ini.
Temuan Penting
Banyak praktisi menyukai IRR karena "persen" mudah dikomunikasikan — tetapi justru di situlah jebakan konflik skala/waktu muncul. Memahami NPV melindungi Anda dari jebakan itu.
Pelajaran: teori dan praktik bertemu di sini. Alat-alat pertemuan ini bukan sekadar akademis — inilah yang dipakai direktur keuangan sungguhan di seluruh dunia, termasuk emiten BEI.

Cheat Sheet Pertemuan 14

KonsepInti
Konflik NPV–IRRMuncul pada proyek mutually exclusive karena beda skala &/atau beda waktu arus kas
Crossover rateTingkat diskonto saat NPV dua proyek sama; di kiri/kanan-nya peringkat berbalik
Solusi konflikSelalu ikuti NPV (mengukur kekayaan dalam rupiah)
Multiple IRRArus kas berubah tanda > 1× → IRR ganda → IRR tak terpakai
MIRR(TV / PV biaya)1/n − 1; reinvestasi di WACC; satu nilai saja
PIPV masuk ÷ investasi = 1 + NPV/investasi; ukur efisiensi; untuk capital rationing
Sensitivitas / SkenarioUji ketahanan NPV terhadap ketidakpastian
Jika Anda bisa menjelaskan setiap baris ini dengan kalimat sendiri, Anda menguasai Pertemuan 14 — dan menutup Manajemen Keuangan I dengan kuat.

Penutup Mata Kuliah & Diskusi

Pertemuan terakhir. Kita telah menempuh keputusan keuangan dari nilai waktu uang hingga penganggaran modal lanjutan.

Soal Diskusi
Sebuah emiten punya dua proyek mutually exclusive: Proyek X (IRR 28%, NPV Rp 50 jt) dan Proyek Y (IRR 18%, NPV Rp 120 jt). Manajer operasi ngotot pilih X karena "return-nya lebih tinggi". Sebagai analis, bagaimana Anda meyakinkannya?
Persiapan UAS
Kuasai: hitung NPV/IRR dua proyek + tentukan pilihan; hitung MIRR & PI dari nol; baca profil NPV; susun tabel sensitivitas. Bawa kalkulator finansial.
Terima Kasih telah menempuh Manajemen Keuangan I bersama. Sampai jumpa di Manajemen Keuangan II — struktur modal, kebijakan dividen, dan merger.

📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.