stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-13
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 13: Capital Budgeting — Kriteria Dasar (Bagian 1)
FEB UNDIP · Manajemen Keuangan I

Capital Budgeting — Kriteria Dasar

Pertemuan 13 · Payback, Discounted Payback, NPV & IRR (Bagian 1)

Empat alat menilai kelayakan proyek — kapan menerima, kapan menolak, dan mengapa NPV adalah kriteria emas.

RPS Minggu 14 · Sub-CPMK 12 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menghitung dan menganalisis penganggaran modal (Sub-CPMK 12). Secara rinci:

Capaian 1
Payback
Menghitung Payback & Discounted Payback dari nol, serta menjelaskan kelemahannya (abai nilai waktu uang & arus kas setelah periode payback).
Capaian 2
NPV
Menghitung NPV dengan mendiskontokan tiap arus kas; menerapkan aturan "terima jika NPV > 0" dan menafsirkannya sebagai nilai tambah.
Capaian 3
IRR
Mengestimasi IRR dengan trial-and-error & interpolasi; menerapkan aturan "terima jika IRR > WACC".
Capaian 4
NPV ↔ IRR
Menjelaskan profil NPV, titik silang (crossover), dan berargumen mengapa NPV adalah kriteria utama secara teori.

Pabrik Rp 1 Miliar — Layak atau Tidak?

Anda CFO (direktur keuangan) sebuah perusahaan manufaktur Tbk di BEI. Tim operasi mengusulkan satu proyek besar:

Fakta 1 — Investasi
Rp 1 M
Investasi awal membangun lini produksi baru (mesin + bangunan), keluar hari ini (tahun ke-0).
Fakta 2 — Horizon
5 Tahun
Proyek menghasilkan arus kas bersih selama 5 tahun, lalu mesin habis umur ekonomisnya.
Fakta 3 — Biaya Modal
WACC 12%
Dana proyek punya biaya modal 12% per tahun (dari Pertemuan 11) — proyek harus mengalahkan angka ini.
Pertanyaan satu juta dolar: apakah proyek ini layak? Hari ini kita kuasai empat alat untuk menjawabnya secara meyakinkan.

Empat Alat Penilai Kelayakan Proyek

Manajer keuangan punya empat alat utama untuk menilai apakah sebuah proyek layak. Kita pelajari berurutan dari yang paling tua ke yang paling benar.

Alat 1 — Payback
Berapa tahun modal kembali? Cepat & intuitif, tetapi abai nilai waktu uang.
Alat 2 — Disc. Payback
Sama, tetapi arus kas didiskonto dulu. Lebih baik, tetapi masih abai arus kas setelah balik modal.
Alat 3 — NPV
Total nilai tambah hari ini setelah menutup biaya modal. Kriteria emas. Aturan: terima jika NPV > 0.
Alat 4 — IRR
Tingkat hasil "impas" proyek. Disukai praktisi. Aturan: terima jika IRR > WACC.
Dua alat pertama mengukur kecepatan balik modal; dua alat terakhir mengukur penciptaan nilai. Hari ini kita lihat mengapa perbedaan ini krusial.
Blok 1 dari 4
Payback & Discounted Payback
Alat tertua dan paling intuitif: berapa lama modal kembali? Mudah dipahami, tetapi menyimpan dua cacat yang harus Anda waspadai.

Payback Period — Berapa Lama Modal Kembali?

Payback Period = lama waktu sampai akumulasi arus kas masuk menutup kembali investasi awal.
Payback = Tahun penuh sebelum tertutup + (Sisa belum tertutup ÷ Arus kas tahun berikutnya)
Aturan Keputusan
Bandingkan dengan periode batas (cutoff) yang ditetapkan perusahaan. Terima jika Payback ≤ cutoff; tolak jika lebih lama.
Kelebihan
Mudah dihitung & dijelaskan ke non-keuangan; menyoroti likuiditas (cepat-tidaknya kas kembali) dan risiko waktu — balik modal cepat berarti uang tak lama "tersangkut".
Cutoff bersifat subjektif — ditetapkan manajemen, bukan dari teori. Inilah benih masalahnya.

HDN-1: Payback Period dari Nol

Proyek pabrik kita: investasi Rp 1.000 juta (Rp 1 miliar), arus kas masuk tahun 1–5 (juta rupiah).

TahunArus KasKumulatif
0(1.000)(1.000)
1300(700)
2350(350)
3400+50 ← lewat nol
4400+450
5350+800
Payback Period
2,88
tahun ≈ 2 tahun 11 bulan
Sisa belum tertutup setelah tahun ke-2 = Rp 350 juta. Arus kas tahun ke-3 = Rp 400 juta. Payback = 2 + (350 ÷ 400) = 2,88 tahun.

Dua Kelemahan Fatal Payback

Payback yang rapi tadi ternyata menyembunyikan dua cacat fatal:

Cacat 1 — Abai Nilai Waktu Uang
Rp 300 juta di tahun 1 diperlakukan sama nilainya dengan Rp 300 juta di tahun 5. Padahal uang hari ini lebih berharga (P6). Payback menjumlahkan rupiah dari tahun berbeda seolah setara.
Cacat 2 — Abai Arus Kas Setelah Payback
Begitu modal balik, payback berhenti menghitung. Arus kas tahun 4 & 5 (masing-masing 400 & 350 juta) diabaikan total — padahal itu justru keuntungan proyek.
Akibatnya payback bisa menolak proyek bernilai tinggi yang untungnya datang belakangan, dan memilih proyek pelit yang untungnya hanya di awal. Solusi parsial: discounted payback (cacat 1), tetapi cacat 2 tetap ada.

HDN-2: Discounted Payback dari Nol

Perbaikan cacat 1: diskonto dulu tiap arus kas dengan WACC 12%, baru kumulatifkan.

TahunArus KasPV @12%Kumulatif PV
0(1.000)(1.000,0)(1.000,0)
1300267,9(732,1)
2350279,0(453,1)
3400284,7(168,4)
4400254,2+85,8 ← lewat nol
5350198,6+284,4
Discounted Payback
3,66
tahun ≈ 3 tahun 8 bulan
= 3 + (168,4 ÷ 254,2) = 3,66 tahun — lebih lama dari payback biasa (2,88), karena kini kita "membayar" nilai waktu uang. Tetap abai arus kas setelah tahun ke-4.
Blok 2 dari 4
Net Present Value (NPV)
Kriteria emas keuangan korporat: jumlahkan seluruh arus kas dalam nilai hari ini, lalu kurangi investasi awal. Hasilnya = nilai tambah bagi pemegang saham.

Rumus NPV & Aturan Keputusan

NPV = −CF0 + Σ [ CFt ÷ (1 + WACC)t ]  untuk t = 1 … n
Komponen
CF0 = investasi awal (keluar di t=0). CFt = arus kas bersih tahun ke-t. WACC = tingkat diskonto (biaya modal). n = umur proyek.
Aturan Keputusan
NPV > 0 → TERIMA (proyek menambah nilai). NPV < 0 → TOLAK (menghancurkan nilai). NPV = 0 → indiferen (pas menutup biaya modal).
Untuk proyek saling-meniadakan (hanya boleh pilih satu): pilih yang NPV-nya tertinggi, asalkan positif.

HDN-3: Menghitung NPV dari Nol

Diskonto tiap arus kas proyek pabrik dengan WACC 12%, lalu jumlahkan (juta rupiah).

TahunArus KasFaktor 1/(1,12)tPV
0(1.000)1,0000(1.000,00)
13000,8929267,86
23500,7972279,02
34000,7118284,71
44000,6355254,21
53500,5674198,60
NPVΣ PV+284,39
Hasil NPV
+284,4
juta rupiah · NPV > 0 → TERIMA
PV arus kas masuk = Rp 1.284,39 juta; dikurangi investasi Rp 1.000 juta → NPV = +Rp 284,39 juta. Proyek diterima.

Apa Arti NPV +Rp 284 Juta?

NPV bukan sekadar angka "lulus/tidak". Ia punya makna ekonomi yang sangat konkret.

Makna 1 — Kekayaan Hari Ini
NPV = tambahan kekayaan pemegang saham hari ini, setelah seluruh arus kas masuk cukup membayar biaya modal 12%. Proyek tidak hanya menutup biaya modal, tetapi melebihi-nya senilai Rp 284 juta dalam nilai sekarang.
Makna 2 — Harga Saham
Secara teori, jika pasar tahu proyek ini, nilai perusahaan naik ±Rp 284 juta. Inilah jembatan langsung ke tujuan P1: maksimumkan kekayaan pemegang saham.
Bukan berarti saldo kas akhir +Rp 284 juta. NPV adalah nilai tambah dalam rupiah hari ini sesudah memperhitungkan biaya modal — angka "sudah bersih" dari ekspektasi minimum investor.
Blok 3 dari 4
Internal Rate of Return (IRR)
Alat kesayangan praktisi: tingkat hasil "impas" proyek, dinyatakan dalam persen. Mudah dikomunikasikan — tetapi menyimpan jebakan tersendiri.

Rumus IRR & Aturan vs WACC

IRR = tingkat r yang membuat: −CF0 + Σ [ CFt ÷ (1 + r)t ] = 0
Cara Mencari
Tidak ada rumus langsung untuk n > 1. Dicari dengan trial-and-error: coba beberapa r, lihat di mana NPV berpindah dari + ke −, lalu interpolasi. (Excel/kalkulator pakai iterasi yang sama.)
Aturan Keputusan
IRR > WACC → TERIMA (hasil proyek melebihi biaya modal). IRR < WACC → TOLAK. IRR = WACC → indiferen.
Intuisi: IRR = "suku bunga maksimum" yang masih bisa proyek tanggung sebelum merugi. Selama IRR di atas biaya dana (WACC), proyek menguntungkan.

HDN-4: Mencari IRR (Trial & Interpolasi)

Cari r yang membuat NPV proyek pabrik = 0. Coba beberapa tingkat, lalu interpolasi.

Coba rNPV (juta)Tanda
12% (WACC)+284,39+
20%+58,10+
22%+11,40+ (mendekati nol)
23%−10,72− (berpindah!)
25%−52,67
Hasil IRR
22,5%
22,5% > WACC 12% → TERIMA
NPV berpindah tanda antara 22% dan 23%. Interpolasi: IRR = 22% + [11,40 ÷ (11,40 + 10,72)] × 1% = 22,52%.

Membaca IRR dengan Benar (& Jebakannya)

Kekuatan IRR
Dinyatakan dalam persen → mudah dikomunikasikan & dibandingkan dengan WACC, suku bunga bank, atau imbal hasil alternatif. Untuk proyek independen dengan arus kas normal (keluar lalu masuk), IRR dan NPV selalu sepakat.
Jebakan IRR
(1) Abai skala — proyek kecil ber-IRR tinggi bisa kalah nilai dari proyek besar ber-IRR sedang. (2) IRR ganda bila tanda arus kas berbalik berkali-kali. (3) Pada proyek saling-meniadakan, IRR bisa berkonflik dengan NPV.
Karena itu IRR adalah pendamping, bukan pengganti NPV. Saat IRR & NPV bertabrakan, ikuti NPV (blok 4).

Coba Sendiri: Kalkulator NPV & IRR

Masukkan arus kas proyek Anda sendiri dan bandingkan langsung NPV, IRR, dan payback period dalam satu layar.

Blok 4 dari 4
Hubungan NPV ↔ IRR
Satu grafik menyatukan keduanya: profil NPV. Di sinilah kita lihat titik silang (crossover) dan memahami mengapa NPV yang harus menang.

Profil NPV — Satu Grafik, Dua Alat

Sumbu-X = tingkat diskonto, sumbu-Y = NPV. Kurva menurun — makin tinggi diskonto, makin kecil NPV.

NPVr (%)0+80012%NPV +284,4IRR 22,5%
DiskontoNPV
0%+800,0
10%+353,0
12% (WACC)+284,4
20%+58,1
22,5% (IRR)0
25%−52,7
Pada WACC 12%, tinggi kurva = NPV (+284,4); titik kurva memotong sumbu nol = IRR (22,5%). NPV dan IRR adalah dua pembacaan dari grafik yang sama.

Dua Proyek Berebut Satu Anggaran

Ada dua usulan proyek manufaktur, sama-sama butuh Rp 1.000 juta, tetapi hanya boleh dipilih satu (saling-meniadakan). Mana yang Anda pilih?

TahunProyek A (panen merata)Proyek B (panen di depan)
0(1.000)(1.000)
1300500
2350400
3400300
4400250
5350200
NPV @12%+284,4+251,2
IRR22,5%23,7%
Konflik! NPV memilih A (284,4 > 251,2); IRR memilih B (23,7% > 22,5%). Alat mana yang benar?

Titik Silang (Crossover) & Konflik NPV–IRR

Mengapa konflik terjadi? Lihat profil NPV kedua proyek pada satu grafik.

NPVr (%)Proyek AProyek Bcrossover 17,7%12%A di atas B
Inti Konflik
Pada WACC 12% < crossover 17,7%, NPV memilih A. IRR (yang abai tingkat diskonto aktual) tetap memilih B. Konflik muncul hanya saat WACC berada di bawah titik silang.
Dari mana 17,7%? Crossover = IRR dari arus kas selisih A−B = {0; −200; −50; +100; +150; +150} juta. Tingkat yang membuat NPV deret selisih ini = 0 adalah 17,68% — pakai metode IRR yang sama (HDN-4).

Mengapa NPV Kriteria Utama (Secara Teori)

Saat NPV & IRR berkonflik, teori keuangan tegas: ikuti NPV. Tiga alasan:

Alasan Teoritis
(1) NPV langsung mengukur tambahan kekayaan dalam rupiah — sejalan persis dengan maks. kekayaan pemegang saham (P1). (2) NPV memakai WACC aktual sebagai tingkat reinvestasi realistis; IRR diam-diam menganggap arus kas direinvestasi pada IRR (sering tak realistis). (3) NPV bisa dijumlahkan antar-proyek; IRR tidak.
Keputusan Kasus Kita
Karena WACC 12% < crossover 17,7%, pilih proyek ber-NPV tertinggi, yaitu Proyek A (+284,4 juta). Lebih banyak kekayaan tercipta, walau IRR-nya sedikit lebih rendah.
Aturan emas: untuk proyek saling-meniadakan, maksimumkan NPV. IRR boleh dilaporkan sebagai pelengkap, tetapi keputusan akhir di tangan NPV. (Asumsi reinvestasi IRR diperbaiki lewat MIRR — Pertemuan 14.)

Apa yang Dipakai Praktisi? (Graham–Harvey 2001)

Survei lapangan klasik Graham & Harvey (2001, Journal of Financial Economics) ke ratusan CFO Amerika: alat apa yang benar-benar mereka pakai?

Dua Teratas
NPV dan IRR adalah dua metode yang paling sering dipakai CFO untuk menilai proyek — keduanya jauh mengungguli payback dalam frekuensi penggunaan di perusahaan besar.
Payback Belum Mati
Payback masih dipakai cukup luas, terutama oleh perusahaan kecil dan untuk proyek berisiko/likuiditas-sensitif — karena sederhana, bukan karena benar secara teori.
Pelajaran: teori (NPV unggul) dan praktik bertemu di perusahaan besar; tetapi payback bertahan karena kesederhanaannya. Anda harus tahu keempatnya — dan tahu kapan mempercayai NPV.

Empat Miskonsepsi yang Sering Salah

Empat salah-paham yang paling sering membuat mahasiswa (dan manajer) tersesat:

Miskonsepsi 1 & 2
(1) "Payback cepat = proyek terbaik." → Salah; payback abai nilai waktu & arus kas setelah balik modal. (2) "NPV & IRR selalu sepakat." → Hanya untuk proyek independen normal; pada proyek saling-meniadakan bisa konflik.
Miskonsepsi 3 & 4
(3) "IRR lebih tinggi = pasti lebih baik." → Tidak; IRR abai skala & pola arus kas. (4) "NPV +Rp 284 jt = saldo kas akhir +284 jt." → Salah; NPV = nilai tambah hari ini setelah biaya modal.
Akar semua miskonsepsi: lupa bahwa tujuan kita adalah memaksimumkan nilai (rupiah hari ini), bukan kecepatan balik modal atau persentase tertinggi.

Cheat Sheet Pertemuan 13

Empat Alat Capital Budgeting
AlatIntiAturan TerimaCacat Utama
PaybackTahun modal kembali≤ cutoffAbai nilai waktu & arus kas setelah payback
Disc. PaybackSama, arus kas didiskonto≤ cutoffMasih abai arus kas setelah payback
NPVNilai tambah (Rp hari ini)NPV > 0Kriteria emas — paling sedikit cacat
IRRTingkat hasil impas (%)IRR > WACCAbai skala; bisa ganda; konflik di mut. exclusive
Angka proyek kita: Payback 2,88 thn · Disc. Payback 3,66 thn · NPV +284,4 jt · IRR 22,5%. Keempatnya bilang TERIMA — dan saat dua proyek berkonflik, NPV memutuskan.

Diskusi & Latihan Kelas

Latihan — Hitung Sendiri
Proyek: investasi Rp 600 juta; arus kas tahun 1–4 = 200, 250, 250, 200 juta; WACC 10%. Hitung (a) Payback, (b) NPV, (c) putuskan terima/tolak. Kerjakan dengan langkah yang sama seperti proyek pabrik tadi.
Diskusi — Konteks Indonesia
Sebuah BUMN karya mengevaluasi proyek jalan tol dengan arus kas baru positif besar di tahun ke-8 dan seterusnya. Jika ia memakai payback sebagai kriteria utama, kesalahan apa yang berisiko terjadi? Kaitkan dengan cacat 2.
Pikirkan 5 menit. Untuk eksplorasi cepat, gunakan widget npv-irr-calculator — ubah arus kas/WACC dan lihat NPV, IRR, serta profil NPV bergerak.

Persiapan Pertemuan Berikutnya

Hari ini Anda menguasai empat alat dasar capital budgeting. Pertemuan depan kita perdalam dengan kriteria lanjutan & komplikasi nyata.

Pertemuan 14 — Capital Budgeting (Bagian 2)
  • MIRR (Modified IRR) — memperbaiki asumsi reinvestasi IRR.
  • Profitability Index (PI) — untuk proyek dengan keterbatasan anggaran.
  • Komplikasi IRR ganda & cara mengatasinya.
  • Integrasi keputusan akhir antar-kriteria.
Tugas Mandiri
Baca & Coba
Brigham & Houston, bab The Basics of Capital Budgeting (lanjutan MIRR & PI). Selesaikan latihan slide sebelumnya dan bawa hasilnya ke kelas.
Terima Kasih. Sampai jumpa di Pertemuan 14 — Capital Budgeting Bagian 2 (MIRR, PI, & keputusan akhir).

📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.