stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-12
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 12: Arus Kas Proyek
FEB UNDIP · Manajemen Keuangan I

Arus Kas Proyek

Pertemuan 12 · Mengestimasi Arus Kas yang Relevan

Menyusun arus kas yang relevan untuk menilai sebuah proyek investasi — incremental, tiga tahap (initial · operating · terminal), depresiasi & perisai pajak, serta peran modal kerja.

RPS Minggu 13 · Sub-CPMK 11 · 2 × 50 menit

Tujuan Pembelajaran (Sub-CPMK 11)

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis arus kas proyek.

Capaian 1 — Relevan
Memilah arus kas relevan (incremental) dari yang tidak: abaikan sunk cost, masukkan opportunity cost & eksternalitas.
Capaian 2 — Susun
Menyusun proyeksi arus kas proyek dari nol untuk tiga tahap: initial, operating, dan terminal.
Capaian 3 — Hitung OCF
Menghitung operating cash flow dari laba operasi setelah pajak ditambah depresiasi, serta menunjukkan tax shield depresiasi. (Rumusnya dibedah pelan di Bagian 2.)
Capaian 4 — Jelaskan
Menjelaskan peran modal kerja & terminal cash flow dalam total arus kas proyek.

Mesin Rp 5 Miliar: Layak atau Tidak?

Anda manajer keuangan sebuah emiten consumer goods di BEI (ilustratif, bergaya UNVR/ICBP). Divisi produksi mengusulkan mesin baru senilai Rp 5 miliar. Direktur bertanya: "Layak atau tidak?"

Pertanyaan 1 — Uang Keluar
Berapa total kas yang harus dikeluarkan di awal? Hanya harga mesin, atau ada yang lain?
Pertanyaan 2 — Uang Masuk
Berapa kas yang dihasilkan mesin tiap tahun? Apakah sama dengan labanya?
Pertanyaan 3 — Akhir Proyek
Saat mesin pensiun, apakah masih ada uang yang kembali?
Tiga pertanyaan ini persis tiga tahap arus kas proyek yang kita susun hari ini. Setelah arus kasnya jadi, barulah Pertemuan 13–14 menilai layak-tidaknya dengan NPV.
Bagian 1 dari 4
Arus Kas yang RELEVAN
Sebelum menghitung, kita harus tahu uang mana yang dihitung — prinsip incremental, sunk cost yang diabaikan, opportunity cost yang dimasukkan, dan eksternalitas.

Mengapa Arus Kas, Bukan Laba?

Dalam menilai proyek, yang dipakai adalah arus kas (cash flow), bukan laba akuntansi (net income). Kas adalah uang yang benar-benar bisa Anda pegang dan investasikan ulang.
Laba Akuntansi
Mengandung pos non-tunai (terutama depresiasi); mengikuti aturan akrual — pendapatan diakui walau kas belum diterima. Bisa "tampak" untung tapi kasnya kosong.
Arus Kas
Uang tunai riil masuk-keluar. Inilah yang dipakai membayar dividen, melunasi utang, atau investasi lagi. Sulit dimanipulasi — kas ada atau tidak.
Arus Kas ≠ Laba Akuntansi  (beda utama: depresiasi & akrual)

Prinsip Incremental: Dengan vs Tanpa Proyek

Arus kas relevan = arus kas incremental: selisih kondisi perusahaan dengan proyek dikurangi tanpa proyek.

CF Relevan = CF (dengan proyek) − CF (tanpa proyek)
Dengan Proyek
Perusahaan menjalankan investasi — ada pendapatan, biaya, dan kas baru.
Tanpa Proyek
Skenario pembanding — apa yang terjadi jika proyek tidak dijalankan.
Waktu →Arus KasDengan proyekTanpa proyekINCREMENTAL= yang dihitung
Disebut juga stand-alone principle: nilai proyek = selisihnya terhadap dunia tanpa proyek. Hanya yang berubah yang dihitung.

Sunk Cost — Abaikan

Definisi — Sunk Cost
Biaya yang sudah dikeluarkan dan tak bisa ditarik kembali, apa pun keputusan kita sekarang. Contoh: biaya studi kelayakan Rp 200 jt yang sudah dibayar tahun lalu.
Aturan
ABAIKAN. Karena sama-sama hilang entah proyek jalan atau tidak, ia tidak incremental. Memasukkannya membuat proyek tampak lebih buruk dari seharusnya.
Jebakan psikologis: "sayang kalau studi mahal itu mubazir". Tetapi keputusan rasional hanya menatap masa depan, bukan uang yang sudah hilang. Let bygones be bygones.

Opportunity Cost — Masukkan

Definisi — Opportunity Cost
Nilai terbaik yang dikorbankan karena sumber daya dipakai untuk proyek ini, bukan untuk pemakaian alternatif terbaiknya.
Aturan
MASUKKAN sebagai biaya proyek — meski tak ada uang tunai yang berpindah.
Contoh: proyek akan memakai gudang menganggur milik perusahaan. Tampak "gratis", padahal gudang itu bisa disewakan Rp 800 jt/tahun. Rp 800 jt itu opportunity cost — nilai yang hilang — wajib dibebankan ke proyek.

Eksternalitas & Kanibalisasi

Eksternalitas Negatif — Kanibalisasi
Proyek baru menggerus penjualan produk lama. Contoh: mi instan rasa baru memakan sebagian penjualan rasa lama. Penurunan itu dikurangkan dari arus kas proyek.
Eksternalitas Positif — Sinergi
Proyek baru justru menambah penjualan lini lain. Contoh: gerai kopi baru menaikkan penjualan roti yang sudah ada. Kenaikan itu ditambahkan.
Aturan incremental tetap sama: hitung dampak total proyek terhadap seluruh perusahaan, bukan hanya proyeknya sendiri.

Incremental dari Nol: Sunk vs Opportunity

Berapa kas keluar yang benar di Tahun 0? Mesin Rp 5.000 jt · studi kelayakan Rp 200 jt (dibayar tahun lalu) · proyek memakai gudang yang bisa disewakan Rp 800 jt. (Semua dalam juta rupiah.)

LangkahPerhitunganNilai
Harga mesin (CapEx)belanja modalRp 5.000 jt
Biaya studi kelayakan (sunk)sudah keluar → ABAIKANRp 0
Opportunity cost gudangnilai sewa hilang → MASUKKANRp 800 jt
CF₀ relevan (benar)5.000 + 800Rp 5.800 jt
(Bandingkan) CF₀ keliru5.000 + 200 (ikut sunk)Rp 5.200 jt
Hasil benar Rp 5.800 jt: abaikan sunk cost Rp 200 jt, masukkan opportunity cost Rp 800 jt. Dua kesalahan ini menarik angka ke arah berlawanan.
Bagian 2 dari 4
Anatomi FCF Proyek
Setelah tahu uang mana yang dihitung, kita pelajari strukturnya: tiga tahap arus kas dan rumus baku untuk menghitung kas operasi tahunan.

Tiga Tahap Arus Kas Proyek

Garis Waktu Satu Proyek
Tahun 0Tahun 1Tahun 2 …Tahun n1 · Initial outlayCapEx + NWC awal (kas keluar)2 · Operating cash flow (berulang, kas masuk)3 · Terminal (nilai sisa + NWC kembali)
Total arus kas proyek = gabungan ketiga tahap, tahun demi tahun. Inilah angka yang nanti didiskon dengan WACC (P13–14).

Rumus FCF Proyek & OCF

FCF Proyek = EBIT(1 − T) + Depresiasi − ΔNWC − CapEx
OCF = EBIT(1 − T) + Depresiasi  (tahun operasi: ΔNWC & CapEx = 0)
+ EBIT(1−T) & + Depresiasi
EBIT(1−T) = laba operasi setelah pajak (NOPAT), pakai T = 22%. + Depresiasi ditambah kembali karena non-tunai (sudah dikurangkan saat hitung EBIT).
− ΔNWC & − CapEx
− ΔNWC: kenaikan modal kerja menyedot kas. − CapEx: belanja modal menyedot kas. Keduanya bertanda minus.
Kesalahan fatal: pakai net income sebagai ganti EBIT(1−T) → menghitung ganda perisai pajak bunga. Untuk FCF proyek, mulai dari EBIT, bukan laba bersih.

Depresiasi & Tax Shield

Depresiasi tidak mengeluarkan kas, tetapi ia menghemat pajak — inilah tax shield (perisai pajak).

Tax Shield Depresiasi = T × Depresiasi
Mengapa Menghemat Pajak?
Depresiasi boleh dikurangkan dari laba kena pajak. Makin besar depresiasi → laba kena pajak makin kecil → pajak makin kecil → kas tersisa lebih banyak.
Berapa Nilainya?
Rp 275 jt
= 22% × Rp 1.250 jt
Jika depresiasi Rp 1.250 jt dan T = 22%, perisai pajak = Rp 275 jt kas yang dihemat setiap tahun.
Itu sebabnya pemerintah memberi insentif lewat depresiasi dipercepat — mempercepat perisai pajak agar investasi lebih menarik.

Peran Modal Kerja (NWC)

Proyek butuh modal kerja — kas untuk membiayai piutang & persediaan sebelum uang penjualan kembali.

NWC = Aset Lancar − Kewajiban Lancar
Di Awal — Kas Keluar
Menumpuk persediaan & memberi tempo ke pelanggan (piutang). Tambahan NWC ini mengurangi arus kas (tanda minus).
Di Akhir — Kas Kembali
Persediaan habis terjual & piutang tertagih. NWC dipulihkan → kas masuk di tahun terakhir.
Tahun 0Tahun n+NWC awal(kas keluar)pemulihan NWC(kas masuk)keluar di awal, kembali di akhir
Modal kerja seperti "pinjaman ke proyek dari kas perusahaan": dikeluarkan di awal, dikembalikan di akhir. Lupa memasukkannya = arus kas awal terlalu kecil.
Bagian 3 dari 4
Susun Proyeksi dari Nol
Saatnya merakit: kita bangun arus kas satu proyek mesin Rp 5 miliar selama 4 tahun — tahap demi tahap, angka demi angka.

Tahap 1 — Initial Outlay dari Nol

Asumsi proyek (juta rupiah): mesin Rp 5.000 jt · umur ekonomis 4 tahun · depresiasi garis lurus · tambahan modal kerja awal Rp 500 jt. (Gudang dari slide 10 sengaja dikeluarkan agar contoh utama tetap bersih.)

LangkahPerhitunganNilai
Belanja modal (CapEx) mesinharga perolehan(Rp 5.000 jt)
Tambahan modal kerja awal (ΔNWC)persediaan + piutang awal(Rp 500 jt)
Initial outlay (CF₀)5.000 + 500(Rp 5.500 jt)
CF₀ — Kas Keluar Tahun 0
(Rp 5.500 jt)
CapEx Rp 5.000 jt + NWC Rp 500 jt
Tanda kurung = kas keluar (negatif). Investasi awal bukan hanya harga mesin; modal kerja awal juga ikut menyedot kas.

Tahap 2 — Operating Cash Flow dari Nol

Asumsi operasi tiap tahun (Tahun 1–4): pendapatan tambahan Rp 4.000 jt · biaya operasi tunai Rp 1.800 jt · depresiasi 5.000/4 = Rp 1.250 jt · pajak T = 22%.

LangkahPerhitunganNilai
Pendapatantambahan dari mesinRp 4.000 jt
(−) Biaya operasi tunaidi luar depresiasi(Rp 1.800 jt)
(−) Depresiasi5.000 / 4(Rp 1.250 jt)
EBIT4.000 − 1.800 − 1.250Rp 950 jt
(−) Pajak 22%22% × 950(Rp 209 jt)
EBIT(1−T) = NOPAT950 − 209Rp 741 jt
(+) Depresiasi (tambah balik)non-tunaiRp 1.250 jt
OCF per tahun741 + 1.250Rp 1.991 jt
OCF Rp 1.991 jt lebih besar dari NOPAT Rp 741 jt — selisihnya persis depresiasi Rp 1.250 jt yang ditambahkan kembali.

Tax Shield Depresiasi: Head-to-Head

Bukti perisai pajak: bandingkan pajak dengan vs tanpa mengakui depresiasi fiskal (angka sama dengan slide 18).

 A — Ada DepresiasiB — Abaikan
Pendapatan − biaya tunai2.2002.200
(−) Depresiasi(1.250)0
Laba kena pajak9502.200
Pajak 22%209484
Selisih Pajak
Rp 275 jt
= 484 − 209
Persis = T × Depresiasi = 22% × 1.250 = Rp 275 jt. Inilah perisai pajak yang dihemat setiap tahun.
Mengabaikan depresiasi membuat perusahaan seolah membayar pajak Rp 275 jt lebih banyak per tahun — itulah nilai nyata perisai pajak.

Tahap 3 — Terminal Cash Flow dari Nol

Akhir Tahun 4: mesin dijual seharga nilai sisa Rp 400 jt (nilai buku = 0 karena sudah disusutkan habis); modal kerja Rp 500 jt dipulihkan.

LangkahPerhitunganNilai
Nilai sisa mesin (kotor)harga jualRp 400 jt
Nilai buku akhirdisusutkan habisRp 0
(−) Pajak atas keuntungan jual22% × (400 − 0)(Rp 88 jt)
Nilai sisa setelah pajak400 − 88Rp 312 jt
(+) Pemulihan modal kerjaNWC kembaliRp 500 jt
Terminal cash flow312 + 500Rp 812 jt
Jika dijual di atas nilai buku, selisihnya kena pajak (laba penjualan aset). Modal kerja yang ditanam Rp 500 jt kembali utuh.

Rakit Jadi Satu: Profil Arus Kas 4 Tahun

TahunKomponenArus Kas
0Initial outlay (CapEx + NWC)(Rp 5.500 jt)
1OCFRp 1.991 jt
2OCFRp 1.991 jt
3OCFRp 1.991 jt
4OCF + Terminal (1.991 + 812)Rp 2.803 jt
0Th 0−5.500Th 11.991Th 21.991Th 31.991Th 42.803
Inilah "bahan" untuk Pertemuan 13–14. Konteks: jika didiskon pada ~10%, NPV-nya positif (≈ Rp 1.366 jt) → indikasi proyek layak. Cara menghitung NPV-nya minggu depan.

Coba Sendiri: Rakit Profil Arus Kas Proyek

Ubah CapEx, modal kerja, OCF, dan nilai sisa, lalu lihat profil arus kas 3 tahap terbentuk otomatis di grafik batang.

Bagian 4 dari 4
Jebakan & Jembatan ke NPV
Kita tutup dengan daftar kesalahan klasik yang harus dihindari, konteks depresiasi fiskal Indonesia, dan jembatan ke penilaian kelayakan.

Jebakan Klasik Estimasi Arus Kas

JebakanSalahBenar
Pakai laba, bukan kasPakai net income langsungTambah balik depresiasi → arus kas
Sunk cost ikut dihitungMasukkan biaya studi yang sudah keluarAbaikan — tak incremental
Opportunity cost dilewatkanAset milik sendiri dianggap "gratis"Bebani nilai pakai terbaik yang hilang
Modal kerja dilupakanCF₀ hanya harga mesinTambah ΔNWC awal; pulihkan di akhir
Lupa pajak nilai sisaSalvage masuk penuhKurangi pajak atas (salvage − nilai buku)
Mulai dari laba bersih untuk FCFFPakai net incomeMulai dari EBIT(1−T)
Bunga dikurangkan di arus kasMasukkan beban bungaBunga ditangani lewat diskonto (WACC)
Bunga tidak dimasukkan ke arus kas proyek — efek pendanaan sudah tercermin di tingkat diskonto WACC. Memasukkan keduanya = hitung ganda.

Konteks Indonesia: Depresiasi Fiskal & Emiten

Pajak & Depresiasi Fiskal (Indonesia)
PPh Badan 22% (UU HPP). Depresiasi fiskal diatur Pasal 11 UU PPh — aset dikelompokkan (mis. Kelompok 1–4 & bangunan) dengan masa manfaat & tarif baku; perusahaan boleh memilih garis lurus atau saldo menurun. Pilihan metode memengaruhi timing perisai pajak.
Praktik di Emiten BEI
Emiten manufaktur (mis. ASII, ICBP, sektor consumer/otomotif) rutin menyusun arus kas proyek untuk ekspansi pabrik/lini baru sebelum capital budgeting. Asumsi pendapatan, biaya, & nilai sisa diuji dengan analisis sensitivitas.
Catatan akurasi: tarif & pengelompokan depresiasi fiskal mengikuti UU PPh/aturan DJP yang berlaku — verifikasi saat dipakai untuk angka riil. Angka contoh di kelas adalah ilustrasi pedagogis, bukan data emiten.

Cheat Sheet Arus Kas Proyek

KonsepInti
Kas, bukan labaNilai proyek pakai arus kas; tambah balik depresiasi (non-tunai)
IncrementalHitung selisih dengan − tanpa proyek (stand-alone principle)
Sunk costSudah keluar → abaikan
Opportunity costSumber daya sendiri → bebani nilai yang hilang
EksternalitasKanibalisasi (−), sinergi (+)
Rumus FCFEBIT(1−T) + Depresiasi − ΔNWC − CapEx
Tax shieldT × Depresiasi (22% × 1.250 = Rp 275 jt)
Tiga tahapInitial (−5.500) · Operating (1.991/th) · Terminal (812)
Modal kerjaKeluar di awal, kembali di akhir
BungaTidak masuk arus kas (ditangani via WACC)
Jika Anda bisa membangun tabel arus kas proyek 4 tahun dari nol tanpa membuka catatan, Anda sudah menguasai Pertemuan 12.

Diskusi & Soal Kilat

Diskusi 1 — Jebakan Sunk
Perusahaan sudah keluar Rp 300 jt untuk riset pasar. Manajer berkata: "Kita harus jalankan proyek ini, sayang kalau riset Rp 300 jt mubazir." Apakah argumen ini benar secara keuangan? Jelaskan dengan konsep sunk cost.
Diskusi 2 — Kanibalisasi
Sebuah emiten consumer goods akan meluncurkan varian premium. Analis muda hanya menghitung penjualan varian baru, mengabaikan bahwa sebagian pembeli pindah dari varian reguler. Arus kas proyek jadi terlalu optimis atau pesimis? Mengapa?
Pikirkan 3 menit, lalu kita bahas. Kaitkan jawaban dengan prinsip incremental & arus kas relevan.

Jembatan ke Pertemuan 13–14 (NPV/IRR)

Hari ini Anda belajar menyusun arus kas proyek. Dua pertemuan terakhir, Anda belajar menilainya.

Pertemuan 13–14 — Capital Budgeting
Mengubah profil arus kas (yang Anda susun hari ini) menjadi keputusan: NPV, IRR, MIRR, Payback, & PI. Aturan: terima jika NPV > 0.
Tugas Mandiri
Kerjakan Bank Soal & bawa profil arus kas mesin Rp 5 miliar (tabel slide 21). Pertemuan depan kita diskon dengan WACC untuk dapat NPV-nya.
Arus kas yang benar adalah fondasi keputusan yang benar. Sampai jumpa di Capital Budgeting (Pertemuan 13).

📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.