Dividend Discount Model, pertumbuhan, dan multiple P/E — bagaimana menaksir berapa seharusnya harga sebuah saham, lalu memutuskan murah atau mahal.
RPS Minggu 10 · Sub-CPMK 09 · 2 × 50 menit
Tujuan Pembelajaran (Sub-CPMK09)
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis model penilaian saham — penjabarannya empat capaian berikut.
Capaian 1 — Bedakan
Membedakan saham biasa dan saham preferen beserta arus kas masing-masing: hak suara, urutan klaim, dan sifat dividennya.
Capaian 2 — Hitung
Menghitung nilai intrinsik saham via Dividend Discount Model — zero-growth, constant-growth (Gordon), dan two-stage.
Capaian 3 — Nilai Relatif
Menaksir harga wajar via penilaian relatif P/E dan PBV, lalu memutuskan status overvalued atau undervalued.
Capaian 4 — Kritis
Menjelaskan keterbatasan DDM (mis. perusahaan tanpa dividen) dan memilih model yang tepat untuk tiap situasi.
Berapa Harga Wajar Saham TLKM?
Anda punya tabungan Rp 10 juta dan ingin membeli saham PT Telkom (TLKM) di Bursa Efek Indonesia. Aplikasi sekuritas menampilkan satu angka — harga pasar. Tetapi tiga pertanyaan menggantung:
Pertanyaan 1 — Mahal/Murah
Harga di layar ~Rp 3.000-an (ilustrasi). Itu mahal atau murah? Dibanding apa?
Pertanyaan 2 — Dasar Nilai
Apa yang membuat selembar kertas (saham) bernilai ribuan rupiah?
Pertanyaan 3 — Keputusan
Kalau "nilai wajar"-nya Rp 4.000 tapi harga pasar Rp 3.000 — beli atau tidak?
Hari ini Anda belajar menghitung nilai wajar itu sendiri, lalu membandingkannya dengan harga pasar. Itulah pekerjaan seorang analis saham.
Bagian 1 dari 4
Apa Itu Saham & Arus Kasnya
Sebelum menilai, kita pahami dulu apa yang dinilai: bukti kepemilikan, dua sumber imbal hasil, dan beda saham biasa versus preferen.
Apa Itu Saham & Dua Sumber Imbal Hasil
Saham (stock / share) = bukti kepemilikan sebagian perusahaan. Memegang 1% saham TLKM berarti Anda memiliki 1% Telkom — termasuk hak atas 1% labanya.
Sumber 1 — Dividen
(dividend) Bagian laba yang dibagikan tunai secara berkala ke pemegang saham. Contoh: TLKM & BBCA rutin membagi dividen.
Sumber 2 — Capital Gain
Selisih harga jual dikurangi harga beli. Beli Rp 3.000, jual Rp 3.500 → untung Rp 500 per lembar.
Imbal hasil saham = Dividen + Capital Gain
Saham Biasa vs Saham Preferen
Tabel Pembanding — Sering Keluar di Ujian
Aspek
Saham Biasa (Common)
Saham Preferen (Preferred)
Hak suara di RUPS
Ada
Umumnya tidak ada
Dividen
Tidak pasti, naik-turun ikut laba
Tetap & didahulukan
Urutan klaim saat bangkrut
Paling akhir
Sebelum saham biasa
Potensi capital gain
Tinggi (ikut pertumbuhan)
Terbatas
Sifat
Seperti "pemilik penuh"
Hibrida: mirip obligasi + saham
Karena dividen preferen tetap selamanya, menilainya jauh lebih mudah — persis perpetuitas yang Anda pelajari di Pertemuan 6.
Bagian 2 dari 4
Dividend Discount Model
Satu ide besar — nilai saham = nilai sekarang dari semua dividen masa depan — dalam tiga rasa: zero-growth, constant-growth (Gordon), dan two-stage.
Ide Inti DDM: Nilai = PV Semua Dividen
Prinsip dari Pertemuan 8 berlaku lagi: nilai aset = PV semua arus kasnya. Untuk saham, arus kasnya = dividen. Karena dividen bisa berbeda tiap tahun, kita beri label menurut tahunnya — D1 tahun depan, D2 dua tahun lagi, dan seterusnya.
P0 = D1/(1+r)1 + D2/(1+r)2 + D3/(1+r)3 + ...
Masalahnya: jumlahnya tak terhingga. Maka kita butuh asumsi pertumbuhan dividen agar deret ini bisa diringkas jadi satu rumus pendek.
Model 1 — Zero-Growth (Saham Preferen)
Kasus termudah: dividen tidak tumbuh — besarnya tetap (D) setiap tahun, selamanya. Inilah saham preferen.
P0 = D / r
Dari Mana?
Deret D/(1+r) + D/(1+r)2 + … adalah perpetuitas. Jumlah tak-hingganya menyederhana menjadi cukup D / r — rumus yang sudah Anda buktikan di Pertemuan 6.
Ini juga model untuk saham biasa perusahaan mature yang dividennya stabil — pendekatan kasar tapi berguna.
Zero-Growth dari Nol: Saham Preferen
Sebuah saham preferen membayar dividen tetap Rp 120 per lembar setiap tahun. Investor minta imbal hasil 10%. Berapa harga wajarnya?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Dividen tetap (D)
diketahui
Rp 120 / tahun
2. Required return (r)
diketahui
10% = 0,10
3. Rumus perpetuitas
P0 = D / r
120 / 0,10
Hasil — harga wajar
—
Rp 1.200
Harga Wajar (P0)
Rp 1.200
= 120 ÷ 0,10
Cek balik: 1.200 × 0,10 = 120 = dividen. Cocok.
Jika harga pasar Rp 1.000 → undervalued (murah, beli). Jika Rp 1.400 → overvalued (mahal).
Model 2 — Constant-Growth (Gordon)
Lebih realistis: dividen tumbuh dengan laju tetap g tiap tahun. Inilah Gordon Growth Model (Gordon, 1959).
P0 = D1 / (r − g) dengan D1 = D0 × (1 + g)
D0 = dividen terakhir yang sudah dibayar · D1 = dividen tahun depan
g = laju pertumbuhan dividen · r = required return
Syarat mutlak: g < r. Kalau g ≥ r, rumus pecah (penyebut nol/negatif) — artinya dividen tak boleh tumbuh selamanya lebih cepat dari yang investor minta.
Gordon dari Nol: Dividen TLKM (Ilustratif)
Sebuah saham (profil dividen seperti TLKM, ilustratif) tahun lalu membayar D0 = Rp 80. Dividen diperkirakan tumbuh g = 5%; investor minta r = 11%. Berapa nilai wajarnya?
D0 = Rp 100. Fase 1: tumbuh g₁ = 15% selama 3 tahun. Fase 2: stabil g₂ = 5% selamanya. r = 12%. Slide ini menyelesaikan fase cepat dulu.
Langkah 1 — Tumbuhkan dividen (×1,15)
Dividen
Perhitungan
Nilai
D1
100 × 1,15
Rp 115,00
D2
115,00 × 1,15
Rp 132,25
D3
132,25 × 1,15
Rp 152,09
Langkah 2 — Diskonto ke hari ini (@12%)
PV
Perhitungan
Nilai
PV(D1)
115,00 / 1,121
Rp 102,68
PV(D2)
132,25 / 1,122
Rp 105,43
PV(D3)
152,09 / 1,123
Rp 108,25
Σ PV fase cepat
102,68 + 105,43 + 108,25
Rp 316,36
Setiap dividen didiskontokan sesuai tahunnya — D1 mundur 1 periode, D2 mundur 2, D3 mundur 3. Total Rp 316,36 kita bawa ke slide berikutnya.
Two-Stage dari Nol (2/2): Terminal Value & P0
Fase cepat sudah memberi Σ PV = Rp 316,36. Sekarang fase stabil: pakai Gordon untuk terminal value, lalu diskontokan balik ke hari ini.
Langkah
Perhitungan
Nilai
D4 (dividen pertama fase stabil)
152,09 × 1,05
Rp 159,69
Terminal Value (akhir thn 3)
159,69 / (0,12 − 0,05)
Rp 2.281,31
PV(Terminal Value)
2.281,31 / 1,123
Rp 1.623,79
Hasil — P0
316,36 + 1.623,79
Rp 1.940,15
Nilai Wajar (P0)
Rp 1.940
316,36 (dividen) + 1.623,79 (TV)
Mengapa pangkat 3? TV dihitung pada akhir tahun ke-3, jadi ia mundur 3 periode ke hari ini — sama seperti dividen tahun ke-3.
Perhatikan: 84% nilai datang dari terminal value (1.623,79 / 1.940,15). Asumsi g₂ sangat menentukan — hati-hati.
Coba Sendiri: Geser Dividen & Pertumbuhan
Ubah dividen, required return, dan laju pertumbuhan, lalu lihat nilai wajar saham berubah pada model Gordon maupun two-stage.
Bagian 3 dari 4
Required Return & Penilaian Relatif
Dua pertanyaan praktis: dari mana angka r berasal (intro CAPM), dan bagaimana menilai saham tanpa harus meramal dividen (multiple P/E & PBV).
Dari Mana Angka r? Intro CAPM
Required return r bukan ditebak — ia dihitung dari risiko, lewat Capital Asset Pricing Model (CAPM). Hari ini cukup terima r sebagai angka jadi dan kenali logikanya; cara menghitung beta kita tuntaskan Pertemuan 10.
r = Rf + β × MRP
Rf = imbal hasil bebas risiko (SUN 10 thn ~6,8%)
β (beta) = kepekaan saham terhadap pasar
MRP = premi risiko pasar (emerging ~6–8%)
Contoh Ilustratif
14,5%
6,8% + 1,1 × 7%
Beta 1 = seirama pasar; 1,1 = 10% lebih liar; 0,5 = separuh lebih kalem.
Detail lengkap CAPM & beta → Pertemuan 10. Hari ini cukup tahu: makin berisiko saham, makin tinggi r, makin rendah nilainya (r ada di penyebut).
Penilaian Relatif: P/E dan PBV
Cara cepat & populer: bandingkan saham dengan saham sejenis lewat multiple — tanpa meramal dividen.
P/E — Price-to-Earnings
P/E = Harga / EPS. Berarti "investor bayar berapa rupiah untuk tiap Rp 1 laba". P/E 15× = bayar Rp 15 per Rp 1 laba. Cocok untuk perusahaan ber-laba stabil.
PBV — Price-to-Book Value
PBV = Harga / Nilai Buku per Saham. Berarti "berapa kali nilai buku investor mau bayar". Favorit untuk bank (BBCA, BBRI).
Cara baca: ambil P/E rata-rata industri, kalikan dengan EPS perusahaan target → taksiran harga wajar.
Penilaian via P/E Multiple dari Nol
Perusahaan target punya EPS = Rp 350. Rata-rata P/E industri = 15×. Harga pasar saat ini Rp 4.200. Saham ini murah atau mahal?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. EPS perusahaan target
diketahui
Rp 350
2. P/E wajar (industri)
diketahui
15×
3. Taksiran harga wajar
350 × 15
Rp 5.250
4. Harga pasar
diketahui
Rp 4.200
5. P/E implisit pasar
4.200 / 350
12×
Keputusan
4.200 < 5.250
UNDERVALUED
Keputusan
Murah
wajar 5.250 > pasar 4.200
P/E implisit pasar 12× < P/E industri 15× → mengonfirmasi saham murah → beli.
P/E industri hanya valid bila perusahaan benar-benar sebanding (sektor, pertumbuhan, risiko mirip).
PBV: Mengapa Bank Dinilai dengan PBV
Di BEI, analis menilai bank seperti BBCA, BBRI, BMRI dengan PBV, bukan P/E saja. Mengapa?
Alasan
Aset bank ≈ uang & kredit yang nilai bukunya relatif andal dan sering di-mark (dinilai ulang ke harga pasar). PBV menghubungkan harga ke modal riil bank.
Ilustrasi Hitung
Rp 22.500
BVPS 5.000 × PBV 4,5
Nilai buku per saham (BVPS) ilustratif Rp 5.000; PBV wajar 4,5× → harga wajar.
BBCA secara historis diperdagangkan pada PBV tinggi (beberapa kali nilai buku) karena dianggap bank paling efisien — pasar bersedia membayar premi. Angka PBV pasti berubah; verifikasi di idx.co.id.
Bagian 4 dari 4
Harga vs Nilai & Batas Model
Harga yang Anda lihat di bursa belum tentu sama dengan nilai intrinsik. Kapan pasar benar, kapan keliru, dan kapan model kita gagal?
Harga ≠ Nilai Intrinsik: Over/Undervalued
Hasil model kita (nilai intrinsik) dibandingkan dengan harga pasar menghasilkan keputusan investasi:
Nilai > Harga → Undervalued
Pasar terlalu murah menilai. Aksi: BELI (harga diharapkan naik menuju nilai).
Nilai < Harga → Overvalued
Pasar terlalu mahal menilai. Aksi: JUAL / HINDARI (harga diharapkan turun).
Inti analisis fundamental: cari saham yang harga pasarnya tertinggal dari nilai intrinsiknya, beli, dan tunggu pasar mengoreksi.
EMH: Apakah Pasar Selalu Benar? (Fama 1970)
Tapi tunggu — kalau pasar efisien, harga sudah mencerminkan semua informasi, dan mustahil menemukan saham 'murah'. Inilah Efficient Market Hypothesis (Fama, 1970).
Klaim EMH
Harga pasar selalu ≈ nilai intrinsik karena ribuan analis sudah memproses semua info. Tidak ada 'makan siang gratis'.
Implikasi & Debat
Jika benar → susah konsisten 'mengalahkan pasar'. Tapi anomali (gelembung dot-com 2000, krisis 2008) menunjukkan pasar bisa keliru sementara.
Sikap seimbang: pasar umumnya cukup efisien, tetapi tidak sempurna. Analisis penilaian tetap berguna — terutama saat pasar sedang panik atau euforia.
GOTO: Saham Tanpa Dividen, Tetap Bernilai
Masalah nyata: GOTO (induk Gojek-Tokopedia) belum pernah membagi dividen. Maka D = 0. Apakah DDM bilang nilainya nol?
Jebakan DDM
Masukkan D = 0 ke Gordon → P0 = 0. Jelas salah — GOTO jelas bernilai (kapitalisasi pasarnya triliunan rupiah).
Solusi
Nilai = ekspektasi dividen masa depan saat perusahaan dewasa, ATAU pakai model lain: DCF arus kas bebas, atau multiple EV/Sales (untuk perusahaan rugi).
Pelajaran: DDM gagal untuk perusahaan belum bagi dividen / masih rugi. Investor menilai GOTO dari potensi arus kas masa depan, bukan dividen hari ini.
Keterbatasan DDM & Kapan Pakai Apa
Peta Keputusan Model
Situasi perusahaan
Model yang tepat
Catatan
Dividen tetap (preferen)
Zero-growth D/r
Paling sederhana
Dividen tumbuh stabil, mature (BBCA, TLKM)
Gordon D1/(r−g)
Syarat g < r
Tumbuh cepat lalu melambat
Two-stage
Hati-hati asumsi terminal value
Belum bagi dividen / masih rugi (GOTO)
DCF / EV-multiple
DDM gagal
Bank
PBV + Gordon dividen
Aset = nilai buku andal
Tiga keterbatasan DDM: (1) butuh dividen; (2) sangat sensitif pada g & r; (3) mengabaikan buyback (pembelian saham kembali) sebagai alternatif dividen.
Cheat Sheet Penilaian Saham
Konsep Kunci Hari Ini
Konsep
Inti
Nilai saham
PV semua dividen masa depan (prinsip sama dgn obligasi)
Zero-growth
P0 = D / r — saham preferen / dividen tetap
Gordon
P0 = D1/(r−g), syarat g < r; r = D1/P0 + g
Two-stage
Diskonto fase cepat + terminal value (Gordon) fase stabil
Required return
r = Rf + β×MRP (CAPM, detail P10)
Penilaian relatif
P/E = Harga/EPS; PBV = Harga/BVPS (bank)
Harga vs nilai
Nilai > harga = undervalued (beli); sebaliknya overvalued
Batas DDM
Gagal bila tak ada dividen (GOTO) → DCF/multiple
Bisa menjelaskan tiap baris dengan kalimat sendiri tanpa buka buku? Anda menguasai Pertemuan 9.
Diskusi Kelas
Pikirkan 3 menit, lalu kita bahas. Kaitkan jawaban Anda dengan peta keputusan model di slide sebelumnya.
Diskusi 1 — Dua Saham, Satu Harga
Saham A dan B sama-sama dihargai Rp 2.000 di bursa. A perusahaan mature (g 4%), B tumbuh cepat (g 20% lalu melambat). Apakah 'harga sama' berarti 'nilai sama'? Model mana untuk masing-masing?
Diskusi 2 — Gordon untuk GOTO?
Seorang teman memaksa memakai Gordon untuk menilai GOTO dengan menebak dividen masa depan. Sah atau tidak? Apa risikonya, dan model apa yang lebih jujur?
Petunjuk: harga sama belum tentu nilai sama; dan memilih model yang tepat sama pentingnya dengan menghitungnya dengan benar.
Persiapan Pertemuan 10
Hari ini Anda belajar menaksir nilai wajar saham dari dividen dan multiple. Pertemuan depan kita jawab pertanyaan yang tergantung: dari mana angka r itu?
Pertemuan 10 — Biaya Modal (CAPM/WACC)
CAPM lengkap: Rf, beta, MRP
Cara membaca & menghitung beta
Biaya ekuitas vs biaya utang
Pengantar WACC
Tugas Mandiri — Hitung
Pilih satu saham dividen di BEI (TLKM/BBCA/UNVR), cari dividen terakhirnya di idx.co.id, asumsikan g & r wajar, hitung nilai Gordon, bandingkan dengan harga pasar. Bawa hasilnya.
Terima Kasih. Sampai jumpa di Pertemuan 10 — Biaya Modal.