Karakteristik obligasi, cara menilai harganya, dan hubungan terbalik antara harga dan yield.
RPS MINGGU 9 · SUB-CPMK 8 · 2 × 50 MENIT
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menganalisis model penilaian obligasi (Sub-CPMK 8).
Capaian 1
ANATOMI
Mengenali nilai nominal, kupon, jatuh tempo, dan yield; membedakan obligasi pemerintah (SUN/ORI/SBR) vs korporasi.
Capaian 2
HARGA
Menghitung harga wajar obligasi = PV seluruh kupon (anuitas) + PV nilai nominal.
Capaian 3
YIELD
Membuktikan hubungan terbalik harga–yield; mengklasifikasi premium / diskon / par.
Capaian 4
RISIKO
Mengestimasi YTM & current yield; memahami durasi, risiko, dan peringkat Pefindo.
Mengapa Belajar Menilai Obligasi?
Bayangkan Anda punya tabungan Rp 10 juta dan ingin imbal hasil lebih tinggi dari deposito, tetapi tidur tetap nyenyak. Tiga pilihan muncul di aplikasi:
Surat 1
ORI
Obligasi Negara Ritel dari pemerintah, kupon ~6% (ilustrasi) dibayar tiap bulan. Aman — tapi berapa harga wajarnya kalau dijual sebelum jatuh tempo?
Surat 2
KORPORASI
Obligasi PT besar di BEI, kupon lebih tinggi ~9% (ilustrasi). Imbal hasil menggoda — tapi sepadankah dengan risikonya?
Surat 3
HARGA NAIK?
Suku bunga BI baru saja turun. Teman bilang "buruan beli obligasi, harganya bakal naik." Benarkah? Mengapa?
Ketiga pertanyaan ini hanya bisa dijawab kalau Anda bisa menilai obligasi — dan itulah seluruh isi pertemuan hari ini.
Bagian 1 dari 4
Anatomi Sebuah Obligasi
Sebelum menilai, kenali dulu bagian-bagiannya — nilai nominal, kupon, jatuh tempo, yield — dan dua keluarganya: pemerintah dan korporasi.
Nilai NominalKuponJatuh TempoYield
Apa Itu Obligasi?
Obligasi adalah surat utang jangka panjang — penerbit meminjam uang dari investor, lalu berjanji membayar bunga berkala (kupon) dan mengembalikan pokok di tanggal jatuh tempo.
Anda = Pemberi Pinjaman
Membeli obligasi berarti meminjamkan uang ke penerbit. Anda jadi kreditor, bukan pemilik. Berhak atas kupon + pokok, tetapi tidak punya hak suara di RUPS.
Beda dengan Saham
Saham = bukti kepemilikan (ekuitas); imbal hasil tak dijanjikan. Obligasi = bukti utang; arus kas dijanjikan di kontrak, didahulukan saat penerbit bangkrut.
Karena arus kasnya dijanjikan, penilaian obligasi jauh lebih pasti daripada saham — inilah sebabnya kita pelajari lebih dulu.
Empat Karakteristik Inti
Nilai Nominal (Par)
Pokok utang yang dilunasi saat jatuh tempo. Standar di Indonesia: ORI/SBR per unit Rp 1.000.000; obligasi korporasi sering Rp 1 miliar per lot.
Kupon
Bunga berkala. Coupon rate × nominal = rupiah kupon. Nominal Rp 1jt, rate 8% = Rp 80.000/tahun. Bisa dibayar tahunan, semesteran, atau bulanan (ORI).
Jatuh Tempo
Umur obligasi — sering disebut tenor. ORI biasanya ~3 tahun, SUN bisa 5–30 tahun. Makin panjang, makin sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Yield
Imbal hasil yang diminta pasar sekarang. Berubah tiap hari mengikuti suku bunga & risiko. Inilah angka diskonto yang menentukan harga.
Diagram Arus Kas Obligasi
Garis Waktu Arus Kas — Obligasi 5 Tahun
Pola ini = anuitas (kupon yang sama tiap periode) + satu arus tunggal (nominal di akhir). Dua hal yang sudah Anda kuasai di P6–P7.
Jenis 1 — Obligasi Pemerintah (SUN/ORI/SBR)
Obligasi pemerintah Indonesia (Surat Berharga Negara) — diterbitkan DJPPR Kemenkeu, dianggap bebas risiko gagal bayar rupiah.
Instrumen
Untuk siapa
Bisa dijual lagi?
Ciri
SUN
Institusi & umum
Ya (pasar sekunder)
Tenor panjang 5–30 thn, kupon tetap
ORI
Ritel (individu WNI)
Ya (pasar sekunder)
Tenor ~3 thn, kupon tetap, per unit Rp 1jt
SBR
Ritel (individu WNI)
Tidak (non-tradable)
Kupon mengambang (floating), ada early redemption
ORI/SBR dirancang agar warga biasa ikut mendanai pembangunan. Kupon ~6% (ilustrasi) dibayar tiap bulan — verifikasi seri terbaru di djppr.kemenkeu.go.id.
Jenis 2 — Obligasi Korporasi
Penerbit
Perusahaan besar mencari dana jangka panjang tanpa menjual saham. Banyak emiten BEI menerbitkannya — bank, BUMN, perusahaan pembiayaan. Diperdagangkan di pasar obligasi BEI.
Mengapa Kuponnya Lebih Tinggi?
Karena ada risiko gagal bayar. Investor minta tambahan imbal hasil di atas obligasi pemerintah, disebut credit spread. Makin berisiko penerbit, makin lebar spread-nya.
Aturan inti: Yield korporasi = Yield pemerintah (acuan) + spread risiko kredit. Spread inilah kompensasi atas kemungkinan penerbit tidak membayar.
Bagian 2 dari 4
Menghitung Harga Obligasi
Satu prinsip emas: harga sebuah aset = nilai sekarang dari semua arus kas yang dijanjikannya.
Harga = PV(semua kupon) + PV(nilai nominal)
Harga = PV Kupon + PV Nominal
P₀ = C × [1 − (1 + r)−n] / r + F × (1 + r)−n
Komponen Rumus
C = kupon rupiah per periode (coupon rate × F)
F = nilai nominal (face value), dibayar di periode n
r = yield per periode (tingkat diskonto pasar)
n = jumlah periode sampai jatuh tempo
Suku pertama = PV anuitas kupon. Suku kedua = PV nominal tunggal. Persis dua mesin TVM dari P6–P7, dijumlahkan.
Jika kupon dibayar semesteran: bagi C dan r dengan 2, kalikan n dengan 2. Hari ini kita pakai kupon tahunan agar jelas dulu.
HDN-1: Harga Obligasi Par dari Nol
Obligasi: nominal Rp 1.000.000, kupon 8%/tahun (= Rp 80.000), jatuh tempo 5 tahun, yield pasar 8%. Berapa harganya?
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kupon per tahun (C)
8% × Rp 1.000.000
Rp 80.000
Faktor anuitas 5 thn @8%
[1 − 1,08−5] / 0,08
3,992710
PV semua kupon
Rp 80.000 × 3,992710
Rp 319.417
Faktor diskonto thn-5 @8%
1,08−5
0,680583
PV nilai nominal
Rp 1.000.000 × 0,680583
Rp 680.583
HARGA OBLIGASI
319.417 + 680.583
Rp 1.000.000
Hasil
Rp 1.000.000
= NILAI NOMINAL (PAR)
Yield = kupon (8% = 8%) → harga persis sama dengan nominal.
Yield = kupon → harga = nominal. Inilah obligasi par — titik tolak memahami diskon & premium.
Bagian 3 dari 4
Harga ↔ Yield
Hukum paling penting di pasar obligasi: harga dan yield selalu bergerak berlawanan arah.
Yield ↑ ⟹ Harga ↓ | Yield ↓ ⟹ Harga ↑
Hubungan Terbalik Harga–Yield
Kurva Harga–Yield (Obligasi Kupon 8%, n = 5)
Intuisi: kupon obligasi ini tetap 8%. Kalau pasar minta yield lebih tinggi (10%), tak ada yang mau bayar penuh → harga turun sampai imbal hasil efektifnya naik jadi 10%.
HDN-2: Diskon vs Premium saat Yield Berubah
Obligasi yang sama (kupon 8%, nominal Rp 1jt, n=5). Apa yang terjadi pada harga saat yield berubah?
Yield NAIK ke 10% → Diskon
Nilai
PV kupon: 80.000 × 3,790787
Rp 303.263
PV nominal: 1.000.000 × 0,620921
Rp 620.921
Harga
Rp 924.184
Rp 924.184
< Rp 1jt → DISKON (−7,6%)
Yield TURUN ke 6% → Premium
Nilai
PV kupon: 80.000 × 4,212364
Rp 336.989
PV nominal: 1.000.000 × 0,747258
Rp 747.258
Harga
Rp 1.084.247
Rp 1.084.247
> Rp 1jt → PREMIUM (+8,4%)
Kupon tetap, yang berubah hanya yield. Yield naik 8→10% → harga jatuh. Yield turun 8→6% → harga naik. Hukum terbalik terbukti.
Coba Sendiri: Geser Yield, Lihat Harga Obligasi
Ubah kupon, yield, dan jatuh tempo, lalu lihat harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan yield.
Tiga Ukuran Imbal Hasil
Coupon Rate
8%
Kupon ÷ nominal. Tetap seumur obligasi. 80.000 ÷ 1.000.000 = 8%. Hanya soal kontrak, abaikan harga pasar.
Current Yield
8,66%
Kupon ÷ harga pasar sekarang. Diskon @924.184: 80.000 ÷ 924.184 = ~8,66%. Imbal hasil kas relatif harga beli.
Yield to Maturity
10%
Imbal hasil total jika dipegang sampai jatuh tempo — termasuk kupon dan selisih harga vs nominal. Ukuran paling lengkap.
Urutan untuk obligasi diskon: Coupon rate (8%) < Current yield (8,66%) < YTM (10%). Untuk premium, urutannya terbalik.
HDN-3: Estimasi YTM dari Harga Pasar
Anda beli obligasi (kupon Rp 80.000, nominal Rp 1jt, n=5) di harga pasar Rp 950.000. Berapa YTM-nya?
YTM ≈ [C + (F − P)/n] / [(F + P)/2]
Langkah
Perhitungan
Nilai
Capital gain per thn = (F − P)/n
(1.000.000 − 950.000) / 5
Rp 10.000
Pembilang = C + (F − P)/n
80.000 + 10.000
Rp 90.000
Penyebut = (F + P)/2
(1.000.000 + 950.000) / 2
Rp 975.000
YTM aproksimasi
90.000 / 975.000
≈ 9,23%
Cek harga @9% (trial)
rumus harga, r = 9%
Rp 961.103
Cek harga @10% (trial)
rumus harga, r = 10%
Rp 924.184
Interpolasi linear
9% + (961.103 − 950.000)/(961.103 − 924.184) × 1%
= 9,30%
YTM tepat (interpolasi)
antara 9%–10%
≈ 9,30%
Beli diskon (950rb < 1jt) → YTM (9,30%) di atas kupon (8%). Aproksimasi cepat (9,23%) sangat dekat dengan jawaban tepat (9,30%).
Membaca Kuotasi Obligasi (% dari Par)
Di pasar, harga obligasi dikutip sebagai persentase dari nilai nominal, bukan rupiah. Begini cara membacanya:
Kuotasi
Artinya
Status
Harga atas nominal Rp 1jt
102,50
102,5% × nominal
Premium
Rp 1.025.000
100,00
100% × nominal
Par
Rp 1.000.000
92,42
92,42% × nominal
Diskon
Rp 924.200
Jadi kalau aplikasi menampilkan obligasi "di harga 98,5", artinya Anda membayar 98,5% dari nominal — sedang dijual diskon. Yield-nya pasti di atas kupon.
Bagian 4 dari 4
Risiko, Durasi & Peringkat
Obligasi bukan tanpa risiko. Kenali tiga bahayanya, ukur sensitivitasnya lewat durasi, dan baca peringkatnya dari Pefindo.
Risiko Gagal BayarRisiko Suku BungaRisiko Reinvestasi
Tiga Risiko Utama Obligasi
Risiko Gagal Bayar
Penerbit tak mampu membayar kupon/pokok (default). Tinggi pada korporasi lemah, nyaris nol pada SUN rupiah. Diukur lewat peringkat.
Risiko Suku Bunga
Kalau suku bunga pasar naik, harga obligasi yang sudah Anda pegang turun. Menyakitkan jika harus dijual sebelum jatuh tempo. Bahkan SUN kena risiko ini.
Risiko Reinvestasi
Kupon yang Anda terima harus diinvestasikan ulang. Kalau suku bunga sudah turun, Anda terpaksa menanam ulang dengan imbal hasil lebih rendah.
Penting: obligasi pemerintah bebas risiko gagal bayar, TAPI tetap kena risiko suku bunga & reinvestasi. "Bebas risiko" bukan berarti "bebas semua risiko".
Durasi — Sensitivitas Harga (Intro)
Durasi mengukur seberapa sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga. Aturan praktis: makin panjang tenor, makin besar durasi, makin liar harganya bergoyang.
Tenor
Harga @8%
Harga @9%
Perubahan
2 tahun
Rp 1.000.000
Rp 982.409
−1,76%
10 tahun
Rp 1.000.000
Rp 935.823
−6,42%
Kenaikan yield yang sama (1%) memukul obligasi 10-tahun jauh lebih keras daripada yang 2-tahun. Itulah inti durasi — dipelajari lebih dalam di mata kuliah Manajemen Investasi.
Peringkat Obligasi (Pefindo)
Bagaimana mengukur risiko gagal bayar tanpa membongkar laporan keuangan penerbit? Baca peringkat dari lembaga seperti Pefindo.
Kelompok
Peringkat
Arti
Layak Investasi (Investment Grade)
idAAA, idAA, idA, idBBB
Risiko gagal bayar rendah. idAAA = paling aman.
Non-Investasi (Speculative / High Yield)
idBB, idB, idCCC
Risiko gagal bayar tinggi; kupon harus besar untuk menarik investor.
Gagal Bayar
idD
Sudah/akan gagal bayar.
Awalan "id" menandai skala nasional Indonesia. Makin rendah peringkat → makin lebar credit spread → makin tinggi kupon yang diminta investor. Peringkat bisa diturunkan (downgrade) bila kondisi penerbit memburuk.
ORI vs Deposito vs Saham
Kembali ke pertanyaan pembuka: ke mana menaruh Rp 10 juta? Bandingkan tiga instrumen dari sisi risiko–imbal hasil.
Aspek
Deposito
ORI (obligasi pemerintah)
Saham
Imbal hasil
Rendah (~bunga deposito)
Sedang (kupon ~6% ilustrasi)
Tinggi tapi tak pasti
Risiko gagal bayar
Dijamin LPS*
Nyaris nol (pemerintah)
— (bukan utang)
Fluktuasi harga
Tidak ada
Ada (risiko suku bunga)
Besar
Pajak
Final atas bunga
Final atas kupon
Final atas transaksi/dividen
ORI menempati posisi tengah: imbal hasil lebih tinggi dari deposito, tetapi risiko jauh lebih rendah dari saham. *LPS menjamin simpanan sampai batas & syarat tertentu.
Miskonsepsi yang Sering Salah
Mitos
Harga obligasi selalu = nilai nominalnya.
Suku bunga naik → harga obligasi naik.
Coupon rate = yield to maturity.
Obligasi pemerintah = bebas semua risiko.
Fakta
Harga berubah mengikuti yield; hanya = nominal saat par.
Terbalik: suku bunga naik → harga turun.
Sama hanya saat par; diskon → YTM > kupon, premium → YTM < kupon.
Bebas risiko gagal bayar saja; tetap kena risiko suku bunga & reinvestasi.
Empat miskonsepsi ini paling sering muncul di ujian — kuasai bantahannya.
Cheat Sheet Pertemuan 8
Konsep
Inti
Obligasi
Surat utang; Anda = kreditor (pemberi pinjaman), bukan pemilik
Berlawanan arah: yield ↑ → harga ↓ (dan sebaliknya)
3 ukuran yield
Coupon rate < Current yield < YTM (untuk obligasi diskon)
3 risiko
Gagal bayar, suku bunga, reinvestasi
Peringkat
Pefindo: idAAA (aman) … idD (gagal bayar)
Jika Anda bisa menjelaskan tiap baris ini tanpa membuka buku, Anda sudah menguasai Pertemuan 8.
Diskusi & Latihan Kelas
Diskusi 1
BI TURUNKAN SUKU BUNGA
Bank Indonesia baru saja menurunkan suku bunga acuan. Anda sudah memegang ORI berkupon tetap. Apa yang terjadi pada harga ORI Anda? Untung atau rugi? Jelaskan dengan hukum harga–yield.
Diskusi 2
KUPON TINGGI, AMANKAH?
Dua obligasi: A (idAAA, kupon 7%) dan B (idBB, kupon 12%). Teman tergiur kupon B yang lebih besar. Argumen apa yang Anda berikan sebelum ia membeli?
Pikirkan 3 menit, lalu kita bahas. Kaitkan dengan hubungan harga–yield (Diskusi 1) dan credit spread–peringkat (Diskusi 2).
Persiapan Pertemuan Berikutnya
Hari ini kita menilai obligasi — aset dengan arus kas yang dijanjikan. Pertemuan depan kita naik level ke saham, yang arus kasnya tak pasti.
Pertemuan 9 — Penilaian Saham
Mengapa saham lebih sulit dinilai dari obligasi
Dividen sebagai arus kas ke pemegang saham
Model pertumbuhan dividen (Gordon Growth Model)
Penilaian saham bertumbuh vs tidak bertumbuh
Tugas Mandiri
LATIH
Kerjakan ulang HDN-1 sampai HDN-3 dengan angka Anda sendiri (ubah kupon/yield/tenor). Cek apakah hubungan harga–yield tetap berlaku.
Terima Kasih. Sampai jumpa di Pertemuan 9 — Penilaian Saham.