RPS minggu 1 · 2x50 menit
Pengantar Manajemen Inovasi Dari Ide menjadi Nilai: Mengapa Inovasi Menentukan Nasib Perusahaan Managing Innovation · Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Selamat datang di pertemuan pertama mata kuliah Managing Innovation. Anda akan memulai perjalanan memahami bagaimana perusahaan seperti Gojek dan Tokopedia tumbuh dari sekadar aplikasi menjadi pemain besar di ekonomi Indonesia, dan apa peran inovasi di baliknya. Hari ini kita meletakkan fondasi: apa itu inovasi, bedanya dengan sekadar penemuan, mengapa perusahaan wajib berinovasi, dan jenis-jenis inovasi yang ada. Anggap pertemuan ini sebagai peta jalan sebelum kita masuk ke teori, proses, dan strategi inovasi di pertemuan-pertemuan berikutnya. Anda tidak perlu latar belakang teknis apa pun, cukup rasa ingin tahu terhadap bagaimana bisnis bertahan dan menang. Bagian 1
Mengapa Inovasi?
Memahami definisi inti, perbedaan inovasi dengan invensi, dan alasan inovasi menjadi kunci kelangsungan perusahaan.
Sebelum Anda menghafal nama teori atau model, penting membangun intuisi dulu tentang mengapa inovasi begitu krusial. Bayangkan Nokia yang dulu merajai ponsel, atau Kodak yang kuat di film kamera, keduanya jatuh karena lambat berinovasi meski punya teknologi lebih dahulu. Bagian ini akan menanamkan pemahaman dasar: inovasi bukan sekadar menciptakan hal baru, melainkan mengubahnya menjadi nilai nyata di pasar. Kita akan menelusuri definisi, konsep Schumpeter tentang creative destruction, lalu mengapa perusahaan besar pun bisa hancur jika berhenti berinovasi. Anggap ini "mengapa" sebelum kita masuk ke "bagaimana". Inovasi vs Invensi: Jangan Tertukar Penemuan ide, konsep, atau prototipe baru yang belum tentu dikomersialkan . Fokus pada sisi teknis & kebaruan. Contoh: orang pertama yang menemukan cara memesan ojek lewat SMS. Belum menghasilkan uang atau dampak ekonomi. Invensi yang dijadikan solusi , dipakai pasar, dan menciptakan nilai ekonomi. Contoh: Gojek mengubah ide memesan ojek menjadi super-app yang dipakai jutaan orang tiap hari. Wajib ada adopsi nyata oleh pengguna atau pasar. Banyak mahasiswa mengira inovasi sama dengan penemuan, padahal keduanya berbeda tipis tapi sangat penting. Invensi adalah saat seseorang berhasil menemukan ide atau membuat prototipe baru, misalnya seorang programmer membuat aplikasi memesan ojek lewat ponsel, tetapi aplikasi itu belum dipakai siapa pun. Inovasi baru terjadi ketika ide itu benar-benar dipakai banyak orang dan menghasilkan nilai, persis seperti yang Gojek lakukan ketika memesan ojek lewat ponsel menjadi kebiasaan jutaan orang setiap hari. Intinya: invensi adalah "menemukan", inovasi adalah "menemukan lalu menjadikannya berguna dan laku". Perbedaan ini akan jadi acuan kita menilai apakah suatu hal benar-benar inovasi atau sekadar ide. Schumpeter & "Creative Destruction" Joseph Schumpeter (1942): inovasi adalah proses "creative destruction" — penciptaan nilai baru yang sekaligus menghancurkan model bisnis lama.
Inovasi bukan sekadar menambah, melainkan menggantikan cara lama yang tidak lagi efisien. Contoh: e-wallet dan QRIS menggantikan sebagian transaksi tunai; taksi konvensional terdesak ojek daring. Schumpeter menyebut wirausaha inovatif sebagai entrepreneur — penggerak perubahan ekonomi. Tanpa creative destruction, ekonomi akan stagnan dan perusahaan lama sulit digeser. Joseph Schumpeter adalah ekonom Austria yang memberi kita salah satu konsep paling kuat tentang inovasi, yaitu creative destruction atau penghancuran yang kreatif. Inti idenya: setiap inovasi besar selalu meruntuhkan sesuatu yang lama, misalnya QRIS dan dompet digital menggantikan kebiasaan membayar tunai, atau ojek daring mengubah nasib taksi konvensional. Jadi inovasi bukan proses yang halus dan damai saja, melainkan juga menghancurkan model bisnis yang tidak lagi efisien, dan di sinilah letak ketegangan antara pelaku lama dan pendatang baru. Schumpeter juga menekankan peran entrepreneur, yaitu orang yang berani menjalankan inovasi meski penuh risiko, sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Pahami konsep ini karena ia akan muncul lagi saat kita bahas inovasi disruptif di bagian dua. Mengapa Inovasi Begitu Penting? Alasan 1
01
Bertahan Hidup
Pasar berubah cepat; perusahaan yang berhenti berinovasi akan digeser pesaing, seperti yang dialami banyak pemain ritel lama saat e-commerce masuk.
Alasan 2
02
Pertumbuhan Laba
Inovasi membuka produk, pasar, dan sumber pendapatan baru — meski BBCA pun terus merilis layanan digital agar tetap relevan bagi nasabah muda.
Alasan 3
03
Daya Saing
Di pasar global, hanya perusahaan yang gesit berinovasi yang mampu menekan biaya dan memberi nilai lebih baik bagi pelanggan.
Ada tiga alasan utama mengapa inovasi bukan pilihan melainkan keharusan bagi perusahaan modern. Pertama, bertahan hidup, sebab pasar berubah begitu cepat dan perusahaan yang berhenti berinovasi akan tergeser, seperti nasib banyak toko fisik saat e-commerce seperti Tokopedia masuk. Kedua, pertumbuhan laba, karena inovasi membuka produk dan pasar baru, bahkan bank besar seperti BBCA pun terus meluncurkan layanan digital agar tetap dipakai generasi muda. Ketiga, daya saing, sebab di pasar yang global dan ketat, hanya perusahaan yang gesit berinovasi yang bisa menekan biaya sekaligus memberi nilai lebih baik kepada pelanggan. Tiga alasan ini akan muncul berulang sepanjang mata kuliah, jadi simpan baik-baik di ingatan Anda. Walkthrough: Membedakan Inovasi vs Invensi Langkah Analisis Hasil/Kesimpulan 1. Identifikasi kebaruan Apakah ada ide/teknologi baru yang sebelumnya tidak ada? Jika ya, lanjut ke langkah adopsi 2. Cek adopsi pasar Apakah ide itu benar-benar dipakai pengguna dan menghasilkan nilai? Tanpa adopsi → masih invensi 3. Ukur dampak ekonomi Apakah ada pendapatan, efisiensi, atau manfaat nyata? Ada dampak → sudah menjadi inovasi 4. Bandingkan contoh Prototipe robot di lab vs Gojek yang dipakai jutaan orang Robot = invensi; Gojek = inovasi
Kesimpulan Analisis
Inovasi = Invensi + Adopsi
Kebaruan saja tidak cukup tanpa nilai ekonomi yang nyata di pasar.
Mari kita latih kemampuan membedakan inovasi dengan invensi lewat kerangka empat langkah ini agar Anda tidak salah melabeli. Langkah pertama, identifikasi apakah ada kebaruan, misalnya sebuah teknologi robot di laboratorium kampus, lalu langkah kedua cek apakah kebaruan itu benar-benar dipakai pasar. Jika sebuah robot canggih hanya ada di lab dan belum dipakai siapa pun, ia masih invensi, tetapi jika Gojek memakai teknologi pemesanan dan dipakai jutaan orang, ia sudah menjadi inovasi. Langkah ketiga, ukur dampak ekonominya, dan langkah keempat, bandingkan dengan contoh konkret agar intuisi Anda terasah. Dengan kerangka ini Anda bisa menilai sendiri apakah ide yang Anda temui di koran atau presentasi benar-benar inovasi atau sekadar invensi yang menarik perhatian. Bagian 2
Jenis-jenis Inovasi
Dari perbaikan kecil hingga inovasi disruptif yang merombak pasar secara keseluruhan.
Setelah memahami definisi, kita masuk ke pertanyaan: apakah semua inovasi itu sama? Jawabannya tidak. Ada inovasi yang hanya memperbaiki sedikit produk yang sudah ada, ada pula inovasi yang merombak seluruh industri. Bagian ini akan memperkenalkan tiga klasifikasi penting: inovasi radikal versus inkremental, inovasi disruptif ala Christensen, serta tipologi 4P yang membantu melihat dimensi inovasi secara lebih luas. Anda akan melihat bahwa Gojek dan Tokopedia adalah contoh inovasi yang berbeda jenis meski keduanya digital. Pemahaman jenis inovasi penting agar strategi yang dipilih sesuai dengan skala perubahan yang ingin dicapai. Inovasi Radikal vs Inkremental Perbaikan kecil dan bertahap pada produk/proses yang sudah ada. Risiko rendah, hasil cepat. Contoh: BBCA menambah fitur biometrik di aplikasi. Mempertahankan posisi pasar saat ini. Lompatan besar dan mendasar , sering mengubah teknologi inti. Risiko tinggi, dampak besar. Contoh: mesin uap, internet, kecerdasan buatan. Membuka industri baru atau merombak yang lama. Klasifikasi pertama membagi inovasi berdasarkan besar lompatan perubahannya. Inovasi inkremental adalah perbaikan kecil dan bertahap pada produk yang sudah ada, contohnya BBCA yang menambah fitur login biometrik atau memperhalus tampilan aplikasinya, risikonya rendah dan hasilnya cepat terlihat. Sebaliknya, inovasi radikal adalah lompatan mendasar yang sering mengubah teknologi inti, seperti penemuan internet atau mesin uap, risikonya tinggi tetapi dampaknya bisa membuka industri baru. Sebagian besar perusahaan menjalankan inovasi inkremental sehari-hari untuk bertahan, sambil secara berkala mengambil risiko radikal agar tidak tertinggal jangka panjang. Perbedaan ini menentukan berapa banyak sumber daya dan toleransi risiko yang harus disiapkan manajemen. Inovasi Disruptif (Christensen) Clayton Christensen (1997): inovasi disruptif dimulai dari pasar kecil/low-end, kemudian naik kelas hingga menggulingkan pemain mapan.
Pendatang baru menawarkan produk lebih sederhana & murah yang awalnya "diremehkan" pemain besar. Lambat laun kualitasnya naik sampai menggeser pemain incumbent (mapan). Contoh global: Netflix menggeser penyewaan DVD; contoh Indonesia: Traveloka dari tiket murah jadi super-app. Bahaya bagi incumbent: fokus berlebih pada pelanggan premium, melupakan segmen bawah. Konsep inovasi disruptif diperkenalkan oleh Clayton Christensen dan menjadi salah satu teori paling terkenal dalam manajemen inovasi. Pola disruptif biasanya dimulai dari pasar kecil atau segmen low-end, di mana pendatang baru menawarkan produk yang lebih sederhana dan murah sehingga awalnya diremehkan oleh pemain mapan. Seiring waktu kualitas produk pendatang baru naik, dan tanpa disadari ia menggeser pemain incumbent, seperti Netflix yang menghancurkan industri penyewaan DVD Blockbuster, atau Traveloka yang dari sekadar pencarian tiket murah tumbuh menjadi super-app. Pesan utamanya bagi perusahaan mapan: jangan hanya fokus pada pelanggan premium, sebab ancaman nyata sering datang dari segmen bawah yang awalnya terlihat tidak menjanjikan. Konsep ini akan kita pakai saat menganalisis kasus di slide berikutnya. Tipologi 4P: Dimensi Inovasi Product — produk/jasa baru (Gojek GO-FOOD).Process — cara produksi/distribusi baru (gudang robotik).Position — reposisi pasar (minuman energi untuk olahraga).Paradigm — perubahan model mental (Uber tanpa kendaraan).Membantu tim melihat bahwa inovasi tidak hanya soal produk. Banyak peluang justru pada process dan paradigm. Mencegah perusahaan terjebak hanya mengejar fitur baru. Selain radikal dan inkremental, ada kerangka 4P dari Bessant dan Tidd yang sangat berguna memperluas cara pandang kita terhadap inovasi. Product innovation berarti menciptakan produk atau jasa baru, contohnya Gojek merilis GO-FOOD. Process innovation adalah mengubah cara produksi atau distribusi, misalnya gudang robotik di e-commerce. Position innovation berarti reposisi produk ke pasar baru, dan paradigm innovation adalah perubahan model mental bisnis, seperti Uber yang mengubah transportasi tanpa memiliki kendaraan. Kerangka ini berguna karena membuat tim sadar bahwa inovasi tidak hanya soal menambah fitur produk, padahal sering kali peluang terbesar justru ada pada process dan paradigm. Gunakan 4P sebagai checklist saat berdiskusi ide inovasi di kelas maupun proyek Anda. Mini-kasus: Gojek sebagai Super-app Mulai sebagai call center ojek lewat telepon (2010). Pindah ke aplikasi mobile (2015) dengan peta & pelacakan real-time. Melirik kebutuhan lain: makanan, pembayaran, logistik. Menjadi super-app : ojek, GO-FOOD, GO-PAY, GOSEND, hingga investasi. Inovasi paradigma: dari transportasi jadi "platform gaya hidup sehari-hari". Mengubah kebiasaan jutaan orang, termasuk UMKM mitra. Mari kita lihat Gojek sebagai salah satu contoh inovasi Indonesia paling monumental. Gojek tidak lahir langsung sebagai super-app, melainkan bermula pada 2010 sebagai call center ojek lewat telepon biasa, lalu pada 2015 pindah ke aplikasi mobile dengan peta dan pelacakan real-time. Inovasi sejati terjadi ketika Gojek menyadari penggunanya butuh lebih dari sekadar ojek, sehingga ia menambahkan GO-FOOD, GO-PAY untuk pembayaran, GOSEND untuk logistik, hingga layanan investasi, menjadi apa yang kita sebut super-app. Dari kacamata 4P, ini jelas inovasi paradigma karena Gojek mengubah model bisnisnya dari transportasi menjadi platform gaya hidup sehari-hari. Kasus ini juga menunjukkan bagaimana inovasi bisa mengangkat UMKM mitra yang ikut terhubung ke pasar yang lebih luas. Mini-kasus: Tokopedia & Inovasi Marketplace Berdiri 2009, visi "demokratisasi perdagangan" lewat internet untuk UMKM Indonesia. Inovasi product: sistem rating penjual, pembayaran aman (escrow), integrasi logistik. Inovasi process: memungkinkan UMKM daerah jualan ke seluruh Indonesia tanpa toko fisik. Inovasi paradigm: mengubah persepsi bahwa belanja online "berbahaya" menjadi rutinitas sehari-hari. Bukti nilai: tumbuh menjadi salah satu unicorn Indonesia, kini bagian ekosistem GoTo. Kasus kedua adalah Tokopedia, yang berdiri pada 2009 dengan visi mulia yaitu demokratisasi perdagangan lewat internet untuk UMKM Indonesia. Dari sisi product, Tokopedia berinovasi lewat sistem rating penjual, sistem pembayaran aman yang disebut escrow, serta integrasi logistik yang membuat pelanggan percaya berbelanja jarak jauh. Dari sisi process, Tokopedia memungkinkan UMKM di daerah menjual produknya ke seluruh Indonesia tanpa harus punya toko fisik, yang merupakan lompatan efisiensi besar. Yang paling kuat adalah inovasi paradigm, karena Tokopedia mengubah persepsi masyarakat bahwa belanja online itu berbahaya menjadi kebiasaan sehari-hari. Keberhasilannya terbukti dari statusnya sebagai unicorn dan kini bagian ekosistem GoTo, menunjukkan nilai ekonomi nyata dari inovasi yang tepat. Walkthrough: Menganalisis Inovasi Disruptif Langkah Analisis Hasil/Kesimpulan 1. Pasar awal Dari segmen mana pendatang baru memulai? Biasanya low-end/niche yang diremehkan 2. Penawaran awal Apakah produk lebih sederhana & murah dari incumbent? Ya → ciri disruptif 3. Trayektori kualitas Apakah mutu produk naik seiring waktu? Naik terus hingga mengancam incumbent 4. Reaksi incumbent Apakah pemain mapan mengabaikan awalnya? Terlambat sadar → tergeser
Pola Disruptif Terkonfirmasi
Low-end → Naik Kelas
Cocok dengan kasus Traveloka & ojek daring di Indonesia.
Sekarang mari kita latih menganalisis apakah suatu inovasi termasuk disruptif dengan empat langkah yang konsisten dengan teori Christensen. Langkah pertama, tentukan dari segmen mana pendatang baru memulai, biasanya dari low-end atau ceruk yang diremehkan pemain besar. Langkah kedua, periksa apakah penawarannya lebih sederhana dan lebih murah, karena itu ciri khas disruptif. Langkah ketiga, amati apakah kualitas produk naik seiring waktu sampai mampu menyaingi incumbent, dan langkah keempat, lihat reaksi pemain mapan yang biasanya mengabaikan ancaman di awal. Pola ini cocok dengan kasus Traveloka yang dari tiket murah tumbuh jadi super-app, serta ojek daring yang awalnya diremehkan taksi konvensional. Dengan kerangka ini Anda bisa mendiagnosis sendiri kasus disruptif di sekitar Anda. Bagian 3
Manajemen Inovasi dalam Praktik
Bagaimana perusahaan mengelola inovasi secara sistematis, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.
Memahami definisi dan jenis inovasi saja tidak cukup, sebab pertanyaan utama bagi seorang manajer adalah bagaimana mengelola inovasi secara sistematis di dalam organisasi. Bagian ini membahas apa itu manajemen inovasi, bagaimana perusahaan membangun kapabilitas inovasinya, serta tantangan khas yang dihadapi Indonesia termasuk UMKM. Anda akan melihat bahwa inovasi bukan keajaiban satu orang jenius, melainkan hasil proses, budaya, dan sumber daya yang dikelola dengan sengaja. Kita juga akan menutup dengan refleksi dan tugas persiapan untuk pertemuan kedua. Anggap bagian ini sebagai jembatan dari teori menuju praktik manajerial sehari-hari. Apa itu Manajemen Inovasi? Proses merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan inovasi agar menghasilkan nilai. Mencakup pencarian ide, pengembangan, hingga komersialisasi. Tujuan: menjadikan inovasi berulang , bukan kebetulan. Tanpa manajemen, ide bertebaran tapi tak dieksekusi. Sumber daya terbatas perlu dialokasikan ke ide paling potensial. Risiko kegagalan bisa dikurangi lewat proses terstruktur. Manajemen inovasi adalah disiplin yang menjawab pertanyaan bagaimana mengelola proses inovasi secara sistematis, bukan sekadar mengandalkan momen eureka seorang individu. Secara formal, manajemen inovasi adalah proses merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan inovasi mulai dari pencarian ide, pengembangan, sampai komersialisasi, dengan tujuan menjadikan inovasi berulang dan dapat diprediksi. Tanpa manajemen yang baik, ide brilian akan bertebaran tanpa pernah dieksekusi, dan sumber daya perusahaan yang terbatas akan terbuang ke ide yang tidak potensial. Intinya, manajemen inovasi mengubah inovasi dari kebetulan menjadi kemampuan organisasi yang terus menerus menghasilkan nilai baru, dan inilah yang akan kita pelajari lebih dalam di pertemuan-pertemuan berikutnya. Tiga Pilar Kapabilitas Inovasi People Talenta, keterampilan, budaya berani mencoba Process Tahapan & tata kelola ide → prototype → pasar Platform Teknologi, data, alat, mitra & ekosistem Kapabilitas inovasi sebuah perusahaan berdiri di atas tiga pilar yang saling menguatkan, seperti gambar diagram di slide ini. Pilar pertama adalah people, yaitu talenta dan keterampilan karyawan serta budaya organisasi yang berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. Pilar kedua adalah process, yaitu tahapan dan tata kelola yang mengubah ide mentah menjadi prototipe lalu produk yang siap dipasarkan. Pilar ketiga adalah platform, mencakup teknologi, data, alat kerja, serta mitra dan ekosistem yang memperluas jangkauan inovasi. Banyak perusahaan gagal bukan karena kurang ide, melainkan karena salah satu pilar ini lemah, misalnya punya orang pintar tetapi tidak ada proses atau punya teknologi tetapi budayanya takut gagal. Tiga pilar ini akan menjadi acuan saat kita bahas proses dan strategi inovasi di pertemuan berikutnya. Tantangan Inovasi di Indonesia Keterbatasan pendanaan riset & pengembangan (R&D). Minim budaya toleransi terhadap kegagalan. Sulitnya menarik & mempertahankan talenta teknis. UMKM fokus bertahan, sulit luangkan waktu berinovasi. Adopsi digital lambat, meski marketplace & QRIS membuka peluang. Perlu dukungan ekosistem: pelatihan, pembiayaan, mentor. Inovasi di Indonesia menghadapi tantangan yang spesifik dan perlu Anda pahami sebagai calon manajer di konteks kita. Tantangan umumnya meliputi keterbatasan anggaran riset dan pengembangan, budaya yang belum terbiasa mentoleransi kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran, serta kesulitan menarik dan mempertahankan talenta teknis yang banyak dilirik pasar global. Konteks UMKM Indonesia lebih menantang lagi, sebagian besar UMKM fokus bertahan hidup sehari-hari sehingga sulit meluangkan waktu dan uang untuk berinovasi, meski platform seperti marketplace Tokopedia dan QRIS sebenarnya membuka peluang besar. Solusinya bukan hanya teknologi, melainkan membangun ekosistem yang menyediakan pelatihan, pembiayaan terjangkau, dan mentor yang menemani UMKM bertransformasi. Pemahaman ini penting agar Anda tidak menerapkan teori inovasi mentah-mentah tanpa mempertimbangkan konteks lokal. Sisi Gelap: Risiko Tidak Berinovasi Perusahaan yang hanya mempertahankan status quo berisiko mengalami "innovator's dilemma" — terlalu nyaman dengan keberhasilan saat ini hingga lambat mengantisipasi perubahan.
Pelanggan beralih ke pesaing yang menawarkan cara baru (mis. toko fisik kalah praktis dari marketplace). Mahasiswa & talenta muda enggan bekerja di tempat yang terasa ketinggalan zaman. Biaya mengejar ketertinggalan jauh lebih besar daripada biaya berinovasi secara terus-menerus. Contoh pelajaran: Nokia, Kodak, Blockbuster — pernah dominan, lalu runtuh cepat. Jika inovasi begitu penting, maka sebaliknya risiko tidak berinovasi sangatlah nyata dan sering fatal. Perusahaan yang terlalu nyaman dengan keberhasilan saat ini rentan jatuh ke dalam apa yang Christensen sebut innovator's dilemma, yaitu situasi di mana mendengarkan pelanggan terbaik saat ini justru membuat perusahaan mengabaikan ancaman dari bawah. Akibatnya pelanggan beralih ke pesaing yang menawarkan cara baru, talenta muda enggan bekerja di tempat yang terasa ketinggalan zaman, dan biaya untuk mengejar ketertinggalan akhirnya jauh lebih besar daripada biaya berinovasi secara terus-menerus. Contoh klasik adalah Nokia yang dulu merajai pasar ponsel, Kodak di film kamera, dan Blockbuster di penyewaan DVD, ketiganya pernah sangat dominan lalu runtuh cepat karena lambat berinovasi. Pelajaran ini menjadi pengingat bahwa status quo adalah musuh terbesar dalam dunia yang berubah cepat. Kerangka Besar: Manajemen Inovasi Pencarian Ide Riset · observasi · ideation Pengembangan Prototipe · uji · iterasi Komersialisasi Peluncuran · skala · evaluasi Manajemen & Strategi Inovasi People · Process · Platform · Budaya Diagram ini merangkum keseluruhan perjalanan inovasi yang akan kita pelajari sepanjang mata kuliah. Tiga kotak di atas, yaitu pencarian ide, pengembangan, dan komersialisasi, adalah tahapan inti yang akan kita bedah di pertemuan ketiga tentang proses inovasi. Di bawahnya ada landasan manajemen dan strategi inovasi yang mencakup people, process, platform, dan budaya, yang akan jadi fokus di pertemuan kedua tentang teori dan keempat tentang strategi. Jadi sebenarnya seluruh mata kuliah ini berputar di sekitar bagaimana mengelola tiga tahapan tersebut di atas landasan kapabilitas yang kokoh. Simpan diagram ini sebagai peta mental Anda, sebab setiap pertemuan berikutnya akan mengisi bagian tertentu dari gambar besar ini. Ringkasan Pertemuan 1 & Persiapan Pertemuan 2 Inovasi = invensi + adopsi yang menghasilkan nilai ekonomi (Schumpeter, creative destruction). Tiga alasan inovasi penting: bertahan hidup, pertumbuhan laba, daya saing. Jenis inovasi: radikal vs inkremental, disruptif (Christensen), tipologi 4P. Manajemen inovasi mengelola ide → pengembangan → komersialisasi secara sistematis. Baca ringkas konsep 5 generasi model inovasi Rothwell sebelum kelas. Pilih satu perusahaan Indonesia, identifikasi satu inovasinya dan jenisnya (radikal/inkremental/disruptif). Catat satu pertanyaan tentang teori difusi Rogers untuk didiskusikan di kelas. Sampailah kita di penghujung pertemuan pertama, mari kita rangkum apa yang sudah Anda pelajari sebagai bekal menuju pertemuan berikutnya. Anda kini memahami bahwa inovasi adalah invensi yang sudah diadopsi pasar dan menghasilkan nilai, konsep creative destruction Schumpeter, tiga alasan mengapa inovasi krusial, serta berbagai jenis inovasi dari inkremental hingga disruptif. Anda juga mulai melihat bagaimana manajemen inovasi mengelola perjalanan dari ide ke komersialisasi secara sistematis, bukan mengandalkan kebetulan. Pertemuan kedua kita akan masuk ke teori dan model inovasi, termasuk lima generasi model Rothwell dan teori difusi Rogers, jadi silakan baca ringkas materi tersebut. Sebagai tugas, pilih satu perusahaan Indonesia, identifikasi satu inovasinya beserta jenisnya, agar kita bisa diskusi konkret di awal pertemuan berikutnya.