stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-09
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 9: Factor Models, Value-at-Risk, dan Optimasi Robust
Program Studi Bisnis Digital • FEB

Machine Learning in Finance

Pertemuan 9 — Factor Models, Value-at-Risk, dan Optimasi Robust

Dari portofolio Markowitz minggu lalu, kita masuk ke tiga alat lanjutan: factor model untuk membedah sumber risiko, Value-at-Risk untuk mengukur potensi kerugian, dan optimasi robust untuk portofolio yang tahan banting terhadap kesalahan estimasi.

RPS MINGGU 10 • 2X50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menerapkan alat analisis risiko dan optimasi portofolio tingkat lanjut. Secara rinci:

Capaian 1 — Factor Model
DEKOMPOSISI RISIKO
Menghitung beta saham dan menjelaskan bagaimana factor model memisahkan risiko sistematis dari risiko unik perusahaan.
Capaian 2 — Value-at-Risk
UKUR POTENSI RUGI
Menghitung VaR portofolio dengan metode parametrik dan menjelaskan makna Expected Shortfall (CVaR).
Capaian 3 — Robust
PORTOFOLIO TAHAN BANTING
Menjelaskan keterbatasan Markowitz klasik dan mengenal Black-Litterman serta resampling sebagai solusi.

Recap: Kelemahan Tersembunyi Markowitz

Minggu lalu Anda belajar Markowitz: memaksimalkan return untuk tingkat risiko tertentu memakai rata-rata (mean) dan kovarians (covariance) return historis. Masalahnya?

Masalah: Estimation Error
  • Mean dan kovarians ditaksir dari data historis terbatas — penuh noise.
  • Kesalahan taksir kecil → bobot portofolio bisa melompat ekstrem (misal 100% di satu saham).
  • Istilah industri: "garbage in, garbage out".
Tiga Alat Penambal (Hari Ini)
  • Factor model → menaksir kovarians lebih stabil.
  • VaR/CVaR → mengukur risiko downside secara langsung, bukan cuma varians.
  • Optimasi robust → meredam sensitivitas terhadap kesalahan input.
Bagian 1 dari 3
Factor Models
Membongkar dari mana risiko sebuah saham sebenarnya berasal — risiko pasar atau risiko perusahaan itu sendiri.
CAPM Fama-French Risk Decomposition

Apa itu Factor Model?

Factor model menjelaskan return sebuah saham sebagai fungsi dari satu atau lebih faktor risiko sistematis ditambah risiko yang khas milik perusahaan itu sendiri.

Ri = αi + βi × F + εi
Total Risiko SahamRisiko Sistematis (βF)suku bunga BI, resesi, sentimen pasarRisiko Unik (ε)skandal, gempa pabrik, isu manajemenBisa didiversifikasi(jika risiko unik — via banyak saham)

F = nilai faktor (mis. return pasar); β = sensitivitas saham terhadap faktor; ε = risiko unik (idiosyncratic) yang bisa hilang lewat diversifikasi.

CAPM: Factor Model Paling Sederhana

Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah factor model dengan satu faktor saja: return pasar. Dipakai luas karena sederhana dan mudah dihitung.

E(Ri) = Rf + βi × (Rm − Rf)
β > 1
AGRESIF
Bergerak lebih tajam dari pasar (mis. saham teknologi/startup)
β = 1
MENGIKUTI PASAR
Bergerak sejalan dengan IHSG
β < 1
DEFENSIF
Lebih tenang dari pasar (mis. saham consumer staples)

Rf = imbal hasil bebas risiko (mis. SUN 10 tahun ~6,8%); Rm = return pasar (mis. IHSG); (Rm−Rf) = premi risiko pasar.

Hitung dari Nol — HDN-1: Beta & CAPM Saham BBCA

Dari data historis return bulanan, tim riset menemukan Cov(RBBCA, RPasar) = 0,00048 dan Var(RPasar) = 0,00032. Asumsi Rf ~6,8% dan ekspektasi Rm = 12%.

LangkahPerhitunganNilai
Cov(RBBCA, RPasar) — diberikan dari data historisdata historis0,00048
Var(RPasar) — diberikan dari data historisdata historis0,00032
Beta = Cov ÷ Var0,00048 ÷ 0,000321,50
Premi Risiko Pasar = Rm − Rf12% − 6,8%5,2%
E(RBBCA) = Rf + β×(Rm−Rf)6,8% + 1,50×5,2%14,6%
Kesimpulan
β = 1,50 → Agresif
BBCA diprediksi bergerak 1,5× lipat dari pergerakan IHSG, dengan ekspektasi return CAPM 14,6% per tahun.

Coba Sendiri: Geser Beta, Lihat Posisi di SML

Geser beta saham dan premi risiko pasar, lalu amati bagaimana posisi titik terhadap Security Market Line dan Capital Market Line berubah.

Melampaui CAPM: Model Multi-Faktor Fama-French

CAPM hanya punya satu faktor. Fama-French menambahkan faktor lain yang terbukti secara empiris ikut menjelaskan return saham.

FaktorDefinisiContoh di BEI
Market (pasar)Faktor CAPM — return pasar dikurangi RfIHSG vs SUN 10 tahun
SMB (Size)Small Minus Big — saham kecil historis mengungguli saham besarsaham lapis dua vs BBCA/BBRI
HML (Value)High Minus Low — saham murah (book-to-market tinggi) mengungguli saham mahalsaham value vs saham growth teknologi
RMW & CMA (5-faktor)Profitabilitas tinggi & investasi konservatif cenderung unggulemiten margin tebal vs emiten ekspansif agresif
Semakin banyak faktor → semakin akurat menaksir kovarians antar-saham, tapi juga semakin butuh data dan rawan overfitting jika faktornya tidak relevan secara ekonomi.

Kegunaan Praktis: Dekomposisi & Atribusi Risiko

Factor model memecah varians total saham menjadi dua komponen yang bisa dihitung terpisah:

Var(Ri) = βi² × Var(F) + Var(εi)
Manajer Portofolio Pakai Ini Untuk
  • Attribution: menjelaskan performa reksadana — berapa persen dari return karena pasar naik, berapa persen dari pilihan saham manajer.
  • Stress test: simulasikan dampak faktor (mis. suku bunga naik 1%) ke seluruh portofolio sekaligus.
Contoh Kasus
  • Saham teknologi seperti GoTo sangat terekspos faktor sentimen sektor teknologi global.
  • Manajer investasi bisa mengukur berapa banyak risiko portofolionya berasal dari sektor ini, lalu membatasi eksposurnya.
Bagian 2 dari 3
Value-at-Risk (VaR)
Satu angka untuk menjawab: "Seberapa besar kerugian maksimum yang wajar saya perkirakan?"
Historical Parametric Monte Carlo

Apa itu Value-at-Risk?

VaR adalah estimasi kerugian maksimum pada suatu confidence level tertentu, dalam suatu horizon waktu tertentu. Contoh: "VaR 1 hari, 95% = Rp 15 juta" berarti hanya ada peluang 5% kerugian besok melebihi Rp 15 juta.

5% TailVaR (95%)95% distribusi return — kerugian di bawah ambang VaR
Confidence Level
Umum: 95% atau 99%
Horizon
1 hari, 10 hari, dst.
Mata Uang
Dilaporkan dalam Rp

Tiga Metode Menghitung VaR

MetodeCara KerjaKelebihan / Keterbatasan
Historical SimulationUrutkan return historis aktual, ambil persentil ke-5 terburukTanpa asumsi distribusi, tapi bergantung penuh pada data masa lalu
Parametric (Variance-Covariance)Asumsikan return berdistribusi normal, pakai mean & std. deviasiCepat dihitung, tapi meleset saat distribusi return "berekor tebal" (fat tail)
Monte Carlo SimulationSimulasikan ribuan skenario return acak berdasarkan model statistikPaling fleksibel untuk portofolio kompleks, tapi butuh daya komputasi besar
Fokus perhitungan manual hari ini: metode Parametrik, karena paling sering dipakai sebagai pengantar sebelum masuk ke Monte Carlo berbasis machine learning.

Coba Sendiri: Bandingkan Tiga Metode VaR

Pilih metode historis, parametrik, atau Monte Carlo pada data portofolio yang sama dan bandingkan angka VaR yang dihasilkan.

Hitung dari Nol — HDN-2: VaR Parametrik Portofolio

Portofolio saham Anda bernilai Rp 500.000.000 dengan volatilitas harian σ = 1,8%. Hitung VaR pada confidence level 95% (z = 1,645).

LangkahPerhitunganNilai
Nilai Portofolio (V)diberikanRp 500.000.000
Volatilitas harian (σ)diberikan (data historis)1,8%
Z-score untuk CI 95%tabel distribusi normal1,645
VaR (1 hari, 95%) = V × z × σ500.000.000 × 1,645 × 0,018Rp 14.805.000
VaR (10 hari, 95%) = VaR1hari × √1014.805.000 × 3,1623~Rp 46.817.521
Interpretasi
Rp 14,8 juta / hari
Hanya 5% peluang kerugian besok melebihi angka ini — penskalaan √t untuk horizon lebih panjang.

Kelemahan VaR: Kenalkan Expected Shortfall (CVaR)

VaR menjawab "di mana ambang batas 5% terburuk", tapi tidak menjawab seberapa parah kerugian di dalam 5% itu. CVaR (Conditional VaR) menjawabnya: rata-rata kerugian jika kita sudah berada di area terburuk.

VaR (95%)
Rp 14.805.000
Ambang batas kerugian 5% terburuk
CVaR / Expected Shortfall
~Rp 18.506.250
Rata-rata kerugian — VaR × ~1,25 (rasio khas distribusi normal CI 95%)
Basel Committee (regulasi perbankan internasional) kini mendorong bank memakai CVaR/Expected Shortfall, bukan sekadar VaR, karena lebih peka terhadap risiko ekor (tail risk) seperti krisis finansial.

Backtesting: Apakah Model VaR Kita Bisa Dipercaya?

Model VaR harus divalidasi secara berkala dengan membandingkan prediksi vs kenyataan — prinsip dasar uji Kupiec.

Logika Backtesting
  • Confidence level 95% berarti ekspektasi 5% hari kerugian melebihi VaR.
  • Dalam 250 hari perdagangan setahun, wajar terjadi ±12–13 kali breach (pelanggaran).
  • Jika breach jauh lebih sering — model meremehkan risiko, perlu dikalibrasi ulang.
Kapan Model Perlu Diragukan?
  • Breach 25× dalam setahun (harusnya ~12–13) → volatilitas historis sudah tidak relevan.
  • Sering terjadi setelah krisis besar (mis. pandemi 2020) mengubah karakter pasar.
  • Solusi: perpendek jendela data historis atau ganti ke Monte Carlo.
Bagian 3 dari 3
Optimasi Robust
Menambal kelemahan Markowitz agar portofolio tidak "meledak" hanya karena kesalahan kecil menaksir data.
Estimation Error Black-Litterman Resampling

Kenapa Markowitz Perlu "Dirobust-kan"?

Optimasi mean-variance klasik sangat sensitif: perubahan kecil pada taksiran expected return bisa menghasilkan bobot portofolio yang melompat drastis.

Taksiran E(R) BBRInaik dari 10% → 11%optimizerBobot Portofoliosebelum: BBRI 15%sesudah: BBRI 80% (!)perubahan 1% input → goncangan besar
Fenomena ini disebut "error maximization" — optimizer justru "memburu" saham yang datanya paling salah ditaksir, bukan yang paling menguntungkan.

Solusi 1: Model Black-Litterman

Black-Litterman menggabungkan ekuilibrium pasar (bobot kapitalisasi pasar riil, misal komposisi IHSG) dengan pandangan investor secara Bayesian, menghasilkan taksiran return yang lebih stabil.

Input 1: Ekuilibrium Pasar
  • Diturunkan terbalik (reverse-optimized) dari bobot kapitalisasi pasar riil — bukan tebakan bebas.
  • Titik awal netral, "pasar sudah efisien kecuali kita punya alasan kuat berbeda".
Input 2: Pandangan Investor (Views)
  • Mis. "saham perbankan digital akan unggul 3% dari sektor perbankan konvensional".
  • Setiap view diberi tingkat keyakinan (confidence) — makin yakin, makin besar pengaruhnya.
Hasil: bobot portofolio jauh lebih terdiversifikasi & tidak "meledak" ekstrem dibanding Markowitz murni.

Solusi 2: Resampling & Robust Counterpart

Resampling (Michaud)
  • Simulasikan ribuan set data baru (Monte Carlo) dari data historis asli.
  • Jalankan Markowitz pada tiap set data simulasi → dapat ribuan portofolio optimal berbeda.
  • Rata-ratakan seluruh bobot portofolio tersebut → hasil akhir lebih stabil, tidak bergantung satu taksiran data saja.
Robust Counterpart (Worst-Case)
  • Tentukan "uncertainty set" — rentang kemungkinan nilai expected return yang wajar.
  • Optimalkan portofolio untuk skenario terburuk di dalam rentang tersebut (min-max).
  • Hasil lebih konservatif, tapi tahan banting terhadap kesalahan taksir.
Ketiga solusi (Black-Litterman, resampling, robust counterpart) sama-sama menerima satu prinsip: lebih baik agak konservatif tapi stabil, daripada "optimal di atas kertas" tapi rapuh di dunia nyata.

Latihan Praktik & Ringkasan Pertemuan

Latihan Praktik (Kerjakan di Kelas)
  • Diketahui Cov(Rsaham, Rpasar) = 0,00060 dan Var(Rpasar) = 0,00040. Hitung Beta.
  • Dengan portofolio Rp 800.000.000, σ harian 2,2%, z=1,645 — hitung VaR 1 hari (95%).
  • Diskusikan: mengapa CVaR lebih relevan dibanding VaR untuk sebuah dana pensiun BUMN?
Tiga Takeaway Utama
  • Factor model memisahkan risiko sistematis (tak bisa didiversifikasi) dari risiko unik (bisa didiversifikasi).
  • VaR/CVaR mengukur potensi kerugian secara langsung dalam rupiah, bukan hanya varians abstrak.
  • Optimasi robust (Black-Litterman, resampling) menambal sensitivitas berlebihan Markowitz terhadap kesalahan data.
Minggu depan: kita masuk ke valuasi opsi — membandingkan Black-Scholes klasik dengan pendekatan machine learning.

📖 Baca juga: Capm Cost Of Equity — penjelasan mendalam dan contoh numerik.