Dari data harga yang "mengembara" tak menentu, ke hubungan keseimbangan jangka panjang antar-variabel keuangan — fondasi model time series lanjutan untuk forecasting dan stress testing.
RPS minggu 5 · 2x50 menit
Bagian 1 dari 3
Dari Data Tak-Stasioner ke Kointegrasi
Mengapa model VAR biasa gagal menangkap hubungan jangka panjang antar-harga aset keuangan, dan apa itu kointegrasi.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan dan menaksir model VECM untuk data finansial yang saling berkointegrasi. Secara rinci:
CAPAIAN 1
STASIONERITAS
Menjelaskan konsep data non-stasioner dan uji akar unit (unit root) pada data keuangan.
CAPAIAN 2
KOINTEGRASI
Mengidentifikasi kapan dua atau lebih variabel keuangan berkointegrasi (punya keseimbangan jangka panjang).
CAPAIAN 3
MENAKSIR VECM
Membangun struktur VECM dan menghitung error correction term serta kecepatan penyesuaian.
CAPAIAN 4
APLIKASI
Menerapkan VECM pada kasus pair trading dan forecasting data finansial Indonesia.
Mengapa Analis Keuangan Perlu VECM?
Bayangkan Anda seorang quant analyst (analis kuantitatif) di sebuah sekuritas di Jakarta. Anda mengamati dua saham perbankan besar di BEI — BBCA dan BBRI — yang harganya sama-sama naik-turun tak menentu, tapi selisih harganya cenderung stabil dalam jangka panjang.
FENOMENA
SENASIB
Dua saham sektor sama sering bergerak bersama karena terpapar risiko makro yang sama (suku bunga BI, sentimen sektor perbankan).
MASALAH
VAR GAGAL
Model VAR minggu lalu perlu data stasioner. Kalau dipaksa memakai harga mentah (non-stasioner), hasilnya bisa menyesatkan.
SOLUSI
VECM
Menangkap gerak jangka pendek sekaligus menjaga informasi keseimbangan jangka panjang yang hilang kalau data hanya di-diferensi.
Inilah alasan VECM populer untuk pair trading, analisis kurs Rupiah–harga komoditas, dan hubungan IHSG dengan indeks bursa global.
Jembatan dari Minggu Lalu: Model VAR
Minggu lalu, kita menaksir VAR (Vector Autoregression) — tiap variabel dijelaskan oleh nilai masa lalunya sendiri dan nilai masa lalu variabel lain, dengan syarat data harus stasioner.
Yt = c + A1Yt-1 + A2Yt-2 + … + et
Syarat yang sering dilanggar data finansial — simak bertahap
Harga saham, kurs, dan harga komoditas umumnya non-stasioner (rata-rata & variansnya berubah sepanjang waktu, seperti tren naik terus).
Solusi umum: differencing (selisihkan data, Δyt = yt − yt-1) supaya stasioner — tapi ini membuang informasi keseimbangan jangka panjang.
Kalau dua variabel berkointegrasi, kita tak perlu membuang informasi itu — VECM menyimpannya lewat error correction term.
Data Non-Stasioner: "Random Walk" Harga Saham
Sebuah deret disebut memiliki akar unit (unit root) kalau nilai hari ini sangat bergantung pada nilai kemarin ditambah kejutan acak — ini pola klasik harga saham.
yt = yt-1 + εt (random walk)
Uji formal untuk mendeteksi ini disebut uji ADF (Augmented Dickey-Fuller) — membandingkan apakah koefisien yt-1 benar-benar sama dengan 1 (ada akar unit = non-stasioner).
Kointegrasi: "Pemabuk dan Anjingnya"
Analogi klasik ekonometrika: seorang pemabuk berjalan sempoyongan (non-stasioner) sambil menuntun anjingnya yang juga bergerak liar (non-stasioner) — tapi jarak tali antara keduanya relatif stabil (stasioner). Itulah kointegrasi.
Yt − βXt = stasioner ⇒ Y dan X berkointegrasi
Bagian 2 dari 3
Membangun & Menaksir Model VECM
Struktur formal VECM, error correction term, uji kointegrasi Johansen, dan dua perhitungan dari nol.
Struktur Formal Model VECM
VECM memecah perubahan Yt menjadi dua bagian: koreksi menuju keseimbangan jangka panjang, dan dinamika jangka pendek.
ΔYt = α(β'Yt-1) + Γ1ΔYt-1 + … + εt
β'Yt-1
ECT
Error Correction Term — seberapa jauh kondisi sekarang menyimpang dari keseimbangan jangka panjang.
α
SPEED
Speed of adjustment — seberapa cepat penyimpangan itu dikoreksi tiap periode.
ΓiΔYt-i
JANGKA PENDEK
Dinamika jangka pendek seperti VAR biasa, tapi memakai data selisih (Δ) yang stasioner.
Interpretasi: α Negatif = Kembali ke Ekuilibrium
Agar sistem stabil dan mengoreksi diri, koefisien α harus negatif (untuk deviasi positif) — semakin dekat ke −1, semakin cepat koreksinya.
Contoh Interpretasi α
α = −0,20: setiap periode, 20% dari penyimpangan periode lalu dikoreksi.
α = −0,80: koreksi cepat, hampir kembali ke ekuilibrium dalam satu periode.
α ≈ 0: hampir tidak ada koreksi — patut curiga variabel tak benar-benar berkointegrasi.
Kalau α positif, sistem justru menjauh dari ekuilibrium — model tidak stabil, biasanya tanda kesalahan spesifikasi atau data tidak benar-benar berkointegrasi.
Mendeteksi Kointegrasi: Uji Johansen
Sebelum menaksir VECM, kita harus membuktikan variabel-variabel memang berkointegrasi. Uji paling umum untuk sistem multivariat adalah uji Johansen (trace test). Ikuti alur berikut tahap demi tahap:
Alur Uji Johansen (disederhanakan)
Langkah 1: Pastikan semua variabel non-stasioner di level, tapi stasioner setelah differencing satu kali (integrasi orde 1, disebut I(1)).
Langkah 2: Hitung statistik trace untuk menguji jumlah rank kointegrasi (berapa banyak hubungan jangka panjang independen).
Langkah 3: Bandingkan statistik trace dengan nilai kritis — kalau melebihi, tolak hipotesis nol "tidak ada kointegrasi".
Langkah 4: Rank kointegrasi > 0 ⇒ gunakan VECM. Rank = 0 ⇒ gunakan VAR biasa pada data yang sudah di-diferensi.
Alternatif lebih sederhana untuk 2 variabel saja: uji Engle-Granger (2 tahap) — regresikan Y atas X, lalu uji stasioneritas residualnya dengan ADF.
Hitung dari Nol #1: Error Correction Term
Diketahui hubungan kointegrasi jangka panjang (dari taksiran β): Y* = 1,5X + 100. Data aktual periode t−1: Yt-1 = 900, Xt-1 = 500. Hitung ECTt-1 langkah demi langkah.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. β × Xt-1
1,5 × 500
750
2. Tambah konstanta ekuilibrium
750 + 100
850
3. ECTt-1 = Yt-1 − (βXt-1 + konstanta)
900 − 850
+50
ECT (t-1)
+50
Y sedang "kemahalan" 50 poin di atas keseimbangan jangka panjangnya
Coba Sendiri: Rasakan "Karet" Error Correction
Geser nilai Y dan X aktual lalu amati bagaimana ECT dan kecepatan koreksi menarik keduanya kembali ke hubungan jangka panjang.
Hitung dari Nol #2: Prediksi Koreksi Periode Berikutnya
Diketahui speed of adjustment α = −0,20 dan ECTt-1 = 50 (dari slide sebelumnya). Berapa ΔYt yang diprediksi VECM (abaikan suku jangka pendek)?
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. ΔYt = α × ECTt-1
−0,20 × 50
−10
2. Yt prediksi = Yt-1 + ΔYt
900 + (−10)
890
3. Sisa deviasi baru = Yt − 850
890 − 850
40
ΔY prediksi
−10
Deviasi mengecil dari 50 → 40 (terkoreksi 20%, persis sesuai α)
VECM vs VAR: Kapan Pakai yang Mana?
Kondisi
VAR (level atau diferensi)
VECM
Data stasioner sejak awal (level)
Pakai VAR level
Tidak relevan
Data non-stasioner, tidak berkointegrasi
Pakai VAR pada data differenced
Tidak berlaku (tak ada ECT bermakna)
Data non-stasioner, berkointegrasi
Kehilangan info jangka panjang
Pilihan tepat — simpan info jangka panjang
Aturan praktis: uji ADF dulu (stasioner atau tidak) → kalau non-stasioner, uji Johansen/Engle-Granger (berkointegrasi atau tidak) → baru pilih model.
Bagian 3 dari 3
VECM di Dunia Finance & Machine Learning
Studi kasus pair trading, forecasting, dan bagaimana VECM menjadi baseline untuk model ML yang lebih canggih.
Studi Kasus: Pair Trading BBCA – BBRI
Dua saham perbankan besar di BEI sering berkointegrasi karena terpapar risiko makro yang sama. Strategi pair trading memanfaatkan ECT sebagai sinyal jual/beli.
SINYAL ECT POSITIF BESAR
JUAL / SHORT
Saham "kemahalan" relatif pasangannya — VECM memprediksi harga akan turun kembali ke ekuilibrium.
SINYAL ECT NEGATIF BESAR
BELI / LONG
Saham "termurah" relatif pasangannya — VECM memprediksi harga akan naik kembali ke ekuilibrium.
Risiko: kointegrasi bisa runtuh (mis. salah satu emiten kena masalah spesifik) — strategi ini butuh pemantauan ulang uji kointegrasi secara berkala, bukan sekali pasang lalu ditinggal.
Forecasting & Impulse Response dengan VECM
Selain sinyal trading, VECM juga dipakai untuk peramalan (forecasting) dan Impulse Response Function (IRF) — simulasi "apa yang terjadi kalau ada guncangan".
Forecasting
VECM meramalkan Yt+1, Yt+2, … dengan tetap "sadar" ekuilibrium jangka panjang.
Lebih akurat untuk horizon panjang dibanding VAR yang di-diferensi (karena tidak "lupa" level jangka panjang).
Impulse Response Function (IRF)
Mensimulasikan efek satu kejutan (mis. kenaikan suku bunga BI 0,25%) terhadap seluruh sistem, periode demi periode.
Membantu regulator/analis melihat berapa lama efek guncangan bertahan sebelum sistem kembali stabil.
VECM sering jadi baseline pembanding untuk model ML modern (LSTM, random forest time series) — kalau ML tak mengalahkan VECM, ML belum tentu layak dipakai.
Latihan Kelas: Diskusi Kelompok (15 menit)
Bentuk kelompok 3–4 orang. Setiap kelompok memilih satu pasangan variabel finansial Indonesia dan mendiskusikan langkah pengujian VECM-nya.
Contoh pasangan variabel untuk didiskusikan
Kurs Rupiah/USD dan harga emas dunia
IHSG dan indeks S&P 500 (spillover pasar global)
Harga saham TLKM dan ISAT (sektor telekomunikasi)
Harga CPO dan saham emiten sawit (mis. AALI)
Tugas kelompok: (1) apakah kedua variabel masuk akal berkointegrasi secara ekonomi? (2) uji apa yang perlu dijalankan lebih dulu sebelum menaksir VECM? (3) apa makna α kalau ternyata mendekati nol?
Rangkuman: Cheat Sheet VECM
Konsep
Inti
Non-stasioner / unit root
Data "mengembara", rata-rata & varians berubah; dites dengan ADF
Kointegrasi
Kombinasi linear variabel non-stasioner yang stasioner (analogi pemabuk & anjing)
ECT (β'Yt-1)
Seberapa jauh kondisi sekarang menyimpang dari ekuilibrium jangka panjang
α (speed of adjustment)
Persentase koreksi tiap periode; harus negatif untuk deviasi positif agar stabil
Uji Johansen / Engle-Granger
Membuktikan ada-tidaknya kointegrasi sebelum menaksir VECM
Penutup: Minggu Depan & Tugas
Preview Pertemuan 6
Kita akan masuk ke ARMA/ARIMA — model time series univariat untuk forecasting satu variabel saja, dasar penting sebelum ARCH/GARCH untuk volatilitas.
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 6
DATA REAL
Unduh data harian 6 bulan terakhir dua saham pilihan Anda dari sektor yang sama (mis. via Yahoo Finance/IDX), lalu plot pergerakan harganya — bawa ke kelas minggu depan.