‹ Daftar slidePertemuan 13: Proyek Akhir Data Science: Integrasi Siklus
Program Studi Bisnis Digital • Laboratorium Sains Data
Proyek Akhir Data Science: Integrasi Siklus
Pertemuan 13 — Merangkai Seluruh Siklus Jadi Satu Proyek Nyata
Selama 12 pertemuan Anda belajar satu per satu alat sains data — EDA, K-Means, aturan asosiasi, regresi, klasifikasi, teks, big data, visualisasi. Hari ini semuanya disatukan menjadi satu proyek nyata.
RPS MINGGU 14 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1
Merangkai Ulang Siklus Data Science
Dari pertanyaan bisnis sampai model yang teruji — melihat kembali seluruh tahap sebagai satu alur, bukan bab-bab terpisah.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK minggu ini: mahasiswa mampu mengintegrasikan seluruh tahap siklus analisis data ke dalam satu proyek nyata secara berkelompok. Secara rinci, setelah pertemuan ini Anda mampu:
CAPAIAN 1 — INTEGRASI
Menghubungkan tahap define, collect, clean, explore, model, evaluate, communicate menjadi satu alur kerja tunggal.
Memilih metode analisis yang tepat untuk satu pertanyaan bisnis konkret.
CAPAIAN 2 — TIM & DELIVERABLE
Membagi peran dalam tim dan menyusun rencana kerja proyek akhir dua pertemuan.
Menyiapkan deliverable (laporan, kode, dashboard, presentasi) sesuai rubrik penilaian.
Recap: Siklus Analisis Data Secara Penuh
Tujuh tahap yang sudah Anda pelajari sejak Pertemuan 2, kini dilihat sebagai satu siklus berulang — bukan daftar bab yang berdiri sendiri.
Studi Kasus Contoh: Prediksi Churn Pelanggan
Sepanjang pertemuan ini kita memakai satu kasus konsisten untuk menunjukkan integrasi siklus — kelompok Anda nanti memilih kasus sendiri dengan pola serupa.
Konteks Bisnis
Platform e-commerce fiktif BelanjaKita (mirip Tokopedia) kehilangan sebagian pelanggan tiap bulan — disebut churn (pelanggan berhenti bertransaksi).
Tim manajemen ingin tahu: pelanggan mana yang berisiko churn, dan mengapa?
Data tersedia: riwayat transaksi, frekuensi kunjungan, keluhan layanan, nilai belanja bulanan.
Tujuan Analisis
Bangun model klasifikasi yang memprediksi churn dari pola perilaku pelanggan.
Ubah hasil model menjadi insight bisnis: segmen mana yang perlu kampanye retensi.
Sajikan hasil dalam dashboard yang mudah dipahami tim marketing, bukan hanya angka statistik.
Tahap 1–2: Define & Collect — Langkah demi Langkah
Dua tahap ini menentukan arah seluruh proyek — kesalahan di sini akan menular ke semua tahap berikutnya.
Walkthrough A — Mendefinisikan Pertanyaan Bisnis
Mulai dari keluhan manajemen: "pendapatan bulanan menurun perlahan sejak 3 bulan lalu."
Perjelas menjadi pertanyaan terukur: "pelanggan mana yang berhenti bertransaksi, dan pola apa yang mereka bagikan?"
Tetapkan target: prediksi ya/tidak churn untuk tiap pelanggan bulan depan — ini menentukan bahwa metode yang dipakai adalah klasifikasi, bukan regresi.
Gabungkan (merge) tabel-tabel itu per ID pelanggan menjadi satu tabel analisis.
Cek kelengkapan: apakah rentang waktu data cukup panjang untuk menangkap pola churn (idealnya ≥6 bulan)?
Tahap 3–4: EDA — Hitung dari Nol
Sebelum memodelkan, kita cek dulu apakah data nilai belanja bulanan 5 pelanggan contoh punya outlier (nilai jauh dari kebanyakan data) yang bisa menyesatkan rata-rata.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Data mentah 5 pelanggan (ribu Rp)
250, 300, 275, 900, 260
—
Urutkan data dari kecil ke besar
250, 260, 275, 300, 900
—
Rata-rata (mean)
(250+260+275+300+900) / 5
397
Nilai tengah (median), data ke-3 dari 5
urutan: 250,260,275,300,900
275
Selisih mean − median
397 − 275
122
Kesimpulan EDA
Selisih 122 yang besar menandakan outlier: pelanggan dengan belanja Rp900rb menarik rata-rata ke atas. Gunakan median (275), bukan mean, sebagai gambaran pelanggan tipikal — keputusan yang hanya bisa diambil setelah EDA, bukan sebelumnya.
Tahap 5: Modeling — Memilih Metode yang Tepat
Untuk kasus churn, kita membandingkan dua metode klasifikasi yang sudah Anda pelajari di Pertemuan 8.
Walkthrough A — Decision Tree
Membentuk aturan bertingkat: "jika frekuensi kunjungan < 2x/bulan DAN ada keluhan, maka churn."
Kelebihan: hasil mudah dijelaskan ke tim marketing yang tidak paham statistik.
Walkthrough B — Naive Bayes
Menghitung peluang churn berdasarkan kombinasi fitur pelanggan secara probabilistik.
Kelebihan: cepat dilatih pada data besar; kelemahan: sulit dijelaskan sebagai "aturan" ke non-teknis.
Keputusan proyek contoh: pilih decision tree — karena deliverable akhir harus dipresentasikan ke "manajemen" (audiens non-teknis), interpretasi aturan lebih penting daripada kecepatan komputasi.
Coba Sendiri: Alternatif Ketiga, Regresi Logistik
Selain decision tree dan naive bayes, regresi logistik adalah opsi ketiga yang lazim dipakai untuk klasifikasi churn — coba geser koefisiennya dan amati bagaimana probabilitas prediksi berubah.
Tahap 6: Evaluasi Model — Hitung dari Nol
Model decision tree diuji pada 200 pelanggan. Hasilnya dirangkum dalam confusion matrix (tabel prediksi vs kenyataan) berikut.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Confusion matrix hasil uji (200 pelanggan)
TP=40, FP=10, FN=20, TN=130
Total 200
Akurasi = (TP+TN) / Total
(40+130) / 200
85%
Presisi = TP / (TP+FP)
40 / (40+10)
80%
Recall = TP / (TP+FN)
40 / (40+20)
~66,7%
Kesimpulan Evaluasi
Akurasi 85% terlihat tinggi, tapi recall hanya ~66,7% — artinya 1 dari 3 pelanggan yang benar-benar akan churn justru tidak terdeteksi (FN=20). Untuk kasus retensi pelanggan, recall rendah berisiko mahal: pelanggan berisiko lolos tanpa kampanye retensi.
Menerjemahkan Angka Model Menjadi Insight Bisnis
Model yang akurat tidak berguna kalau berhenti di angka statistik — tahap ini mengubah hasil menjadi rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti.
Temuan Teknis
Aturan decision tree menunjukkan: pelanggan dengan frekuensi kunjungan rendah + pernah mengeluh punya risiko churn tertinggi (~70% dari kelompok ini churn dalam sebulan).
Insight Bisnis
Rekomendasi: kirim voucher retensi otomatis ke pelanggan yang memenuhi pola ini H-3 sebelum diperkirakan churn, dan prioritaskan penyelesaian tiket keluhan <24 jam.
Prinsip kunci: setiap angka model (akurasi, recall, aturan pohon) harus diakhiri dengan kalimat "maka tim bisnis sebaiknya melakukan..." — tanpa itu, analisis belum selesai.
Bagian 2
Dari Model ke Keputusan Bisnis
Mengomunikasikan hasil, membentuk tim, dan menyiapkan seluruh deliverable proyek akhir.
Tahap 7: Komunikasi Hasil yang Efektif
Recap Pertemuan 11–12: dashboard dan visualisasi adalah "wajah" proyek Anda di depan audiens non-teknis.
Lakukan
Satu grafik = satu pesan utama (mis. "20% pelanggan berisiko churn bulan ini").
Urutkan cerita: konteks → temuan → rekomendasi.
Gunakan label angka langsung pada grafik, bukan hanya legenda.
Hindari
Grafik 3D atau pie chart untuk >5 kategori (sulit dibaca).
Menumpuk semua tabel mentah di slide presentasi.
Istilah teknis (recall, TP/FP) tanpa penjelasan singkat untuk audiens bisnis.
Struktur Tim: Membagi Peran dalam Kelompok
Proyek nyata dikerjakan tim, bukan satu orang — pembagian peran berikut membantu kelompok Anda bekerja seimbang.
Data Engineer
Mengumpulkan, membersihkan, dan menggabungkan data (tahap 1–3). Memastikan data siap dianalisis.
Data Analyst / Modeler
Menjalankan EDA, membangun & mengevaluasi model (tahap 4–6). Menjustifikasi pilihan metode.
Business Translator
Menerjemahkan hasil jadi insight, menyusun dashboard & slide presentasi (tahap 7). Memimpin presentasi.
Peran boleh tumpang tindih di kelompok kecil, tapi setiap anggota wajib bisa menjelaskan seluruh alur proyek saat presentasi — dosen boleh bertanya ke siapa saja.
Rubrik Penilaian Proyek Akhir — Hitung dari Nol
Nilai akhir proyek adalah rata-rata tertimbang (weighted average) lima komponen. Contoh simulasi nilai Kelompok A: