Menyusun HPP (harga pokok penjualan), menghitung titik impas (BEP), dan membuat proyeksi arus kas — tiga fondasi kelayakan keuangan sebelum usaha dijalankan.
RPS MINGGU 7 • 2 × 50 MENIT
Bagian 1 dari 3
Kenapa Rencana Keuangan Membuat atau Menghancurkan Usaha
Sebelum masuk ke rumus, kita perlu paham mengapa banyak usaha rintisan tutup bukan karena idenya buruk, melainkan karena angkanya tidak pernah dihitung.
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sub-CPMK minggu ini: mahasiswa mampu menyusun rencana keuangan dasar usaha. Secara rinci, setelah pertemuan ini Anda diharapkan mampu:
CAPAIAN 1
HPP
Menghitung harga pokok penjualan per unit produk dari komponen biaya bahan, tenaga kerja, dan overhead.
CAPAIAN 2
HARGA JUAL
Menetapkan harga jual yang wajar dari HPP menggunakan markup dan margin keuntungan.
CAPAIAN 3
BEP
Menghitung titik impas (break even point) dalam unit dan rupiah untuk menguji kelayakan usaha.
CAPAIAN 4
ARUS KAS
Menyusun proyeksi arus kas bulanan sederhana untuk memantau kesehatan kas usaha.
Dua Wirausaha, Satu Ide, Nasib Berbeda
Bayangkan dua mahasiswa membuka usaha kedai kopi kekinian dengan modal dan produk yang mirip.
WIRAUSAHA A
MODAL NEKAT
Menentukan harga jual dengan menebak dari kompetitor, tidak pernah menghitung HPP, tidak tahu titik impasnya. Tiga bulan kemudian kas habis, tidak tahu kenapa.
WIRAUSAHA B
MODAL TERUKUR
Menghitung HPP setiap produk, tahu persis harus menjual ~31 cup/hari untuk impas, dan memantau arus kas tiap bulan. Bertahan dan berkembang.
Riset UMKM Indonesia berulang kali menemukan bahwa ~sebagian besar usaha rintisan yang tutup dalam tahun pertama gagal bukan karena produknya jelek, melainkan karena pengelolaan keuangan yang lemah (angka pasti bervariasi antar-studi — anggap ini sebagai pola, bukan statistik presisi).
Tiga Pilar Rencana Keuangan Wirausaha
Ketiganya berurutan dan saling bergantung — Anda tidak bisa melompat ke BEP tanpa HPP, atau menyusun arus kas tanpa tahu titik impas.
Pilar 1
HPP
Harga Pokok Penjualan — berapa biaya sebenarnya untuk membuat satu unit produk.
Pilar 2
BEP
Break Even Point — berapa unit harus terjual agar usaha tidak rugi dan tidak untung (impas).
Pilar 3
Proyeksi Arus Kas
Perkiraan kas masuk dan keluar tiap bulan, untuk memastikan usaha tidak kehabisan kas meski di atas kertas untung.
Ingat urutannya: HPP → Harga Jual → BEP → Proyeksi Kas. Hari ini kita akan menghitung keempatnya secara berurutan dengan satu contoh usaha yang sama.
Bagian 2 dari 3
HPP: Fondasi Menentukan Harga Jual
Kita mulai dari pertanyaan paling dasar: berapa sebenarnya biaya untuk membuat satu produk? Jawabannya adalah HPP.
Dua Jenis Biaya yang Wajib Anda Bedakan
Setiap usaha punya dua jenis biaya dengan perilaku berbeda terhadap volume produksi.
BIAYA TETAP (fixed cost)
TIDAK BERUBAH
Jumlahnya sama tiap bulan, tidak peduli terjual 10 atau 1.000 unit. Contoh: sewa tempat, gaji karyawan tetap, penyusutan mesin kopi.
BIAYA VARIABEL (variable cost)
BERUBAH-UBAH
Naik-turun mengikuti jumlah produk yang dibuat. Contoh: bubuk kopi, susu, gula aren, cup dan sedotan — makin banyak cup dibuat, makin banyak bahan terpakai.
Glosarium: overhead adalah biaya pendukung produksi yang bukan bahan baku langsung maupun gaji langsung — misalnya listrik dan gas dapur, yang sebagian sifatnya tetap namun sering dialokasikan per unit demi kemudahan hitung HPP.
Hitung dari Nol #1: HPP Kopi Susu Gula Aren
Usaha "Kedai Kopi Anjar" ingin tahu HPP per cup dari produk andalannya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Bahan baku langsung (kopi, susu, gula aren, cup+tutup+sedotan)
2.000 + 3.000 + 1.500 + 1.000
Rp 7.500
Tenaga kerja langsung per cup (upah barista dibagi produksi harian)
—
Rp 1.000
Overhead per cup (listrik, gas, dibagi estimasi volume bulanan)
—
Rp 1.500
HPP per cup
7.500 + 1.000 + 1.500
Rp 10.000
HPP PER CUP
Rp 10.000
Biaya sebenarnya untuk membuat 1 cup kopi susu gula aren
Coba Sendiri: Hitung HPP Produk UMKM Anda
Ganti komponen bahan, tenaga kerja, dan overhead dengan angka produk UMKM pilihan Anda sendiri, lalu amati bagaimana HPP per unit terbentuk.
Hitung dari Nol #2: Dari HPP ke Harga Jual
Kedai Anjar menetapkan markup 50% (persentase tambahan di atas HPP) untuk menutup risiko dan menghasilkan laba.
Harga Jual = HPP × (1 + Markup)
Langkah
Perhitungan
Nilai
HPP per cup (dari slide sebelumnya)
—
Rp 10.000
Markup yang diinginkan
—
50%
Harga jual
10.000 × (1 + 0,5)
Rp 15.000
Margin keuntungan (profit margin) atas harga jual
(15.000 − 10.000) ÷ 15.000
~33,3%
Glosarium: markup = persentase tambahan di atas biaya (HPP), sedangkan margin = persentase laba dihitung dari harga jual. Rp 5.000 di atas sama, tetapi persennya beda tergantung basisnya (HPP vs harga jual) — jangan tertukar saat pitching ke investor.
Coba Sendiri: Hitung Harga Jual Cost-Plus
Ubah HPP dan persentase markup, lalu amati bagaimana harga jual, margin, dan PPN berubah.
Bagian 3 dari 3
BEP dan Proyeksi Arus Kas: Menguji Kelayakan
Setelah tahu harga jual, pertanyaan berikutnya: berapa banyak yang harus terjual agar usaha tidak rugi, dan bagaimana kas mengalir tiap bulan?
Apa Itu BEP (Break Even Point)?
BEP atau titik impas adalah jumlah penjualan di mana total pendapatan = total biaya — usaha tidak untung, tapi juga tidak rugi.
BEP (unit) = Biaya Tetap ÷ (Harga Jual − Biaya Variabel per unit)
Hitung dari Nol #3: BEP Kedai Anjar
Biaya tetap bulanan kedai (sewa, gaji tetap, penyusutan alat) = Rp 6.000.000. Biaya variabel per cup (bahan + tenaga kerja langsung) = Rp 8.500.
Langkah
Perhitungan
Nilai
Margin kontribusi per cup
15.000 − 8.500
Rp 6.500
BEP dalam unit (dibulatkan ke atas — unit tak bisa pecahan)
6.000.000 ÷ 6.500 = 923,08 → dibulatkan
~924 cup/bulan
BEP per hari (924 ÷ 30 hari)
924 ÷ 30
~31 cup/hari
BEP dalam rupiah
924 × 15.000
~Rp 13.860.000
TARGET IMPAS
~31 cup/hari
Di bawah ini, kedai masih rugi. Di atasnya, mulai untung.
Coba Sendiri: Hitung Titik Impas Usaha Anda
Ubah biaya tetap, harga jual, dan biaya variabel, lalu amati bagaimana titik BEP bergeser pada grafik.
Proyeksi Arus Kas: Kenapa Untung di Atas Kertas Tidak Cukup
Arus kas (cash flow) mencatat kapan uang benar-benar masuk dan keluar — berbeda dari laba yang hanya mencatat berapa untung/rugi.
KAS MASUK (cash inflow)
UANG DITERIMA
Penjualan tunai, pencairan pinjaman, suntikan modal pemilik — semua uang yang benar-benar masuk ke rekening/kas usaha.
KAS KELUAR (cash outflow)
UANG DIBAYAR
Belanja bahan baku, gaji, sewa, cicilan — semua uang yang benar-benar keluar dari rekening/kas usaha.
Jebakan umum: usaha bisa untung di laporan laba-rugi tetapi tetap kehabisan kas — misalnya karena piutang pelanggan belum dibayar, atau stok bahan baku dibeli borongan di muka. Inilah sebabnya proyeksi arus kas wajib dibuat terpisah dari perhitungan untung-rugi.
Contoh Proyeksi Arus Kas Bulanan Kedai Anjar
Bulan ini kedai menargetkan penjualan 1.000 cup — sedikit di atas BEP (~924 cup).
Langkah
Perhitungan
Nilai
Kas masuk (penjualan 1.000 cup × Rp 15.000)
1.000 × 15.000
Rp 15.000.000
Kas keluar — biaya variabel (1.000 cup × Rp 8.500)
1.000 × 8.500
Rp 8.500.000
Kas keluar — biaya tetap bulanan
—
Rp 6.000.000
Kas bersih bulan ini
15.000.000 − 8.500.000 − 6.000.000
Rp 500.000
SISA KAS BULAN INI
Rp 500.000
Tipis, karena penjualan hanya sedikit di atas BEP — wajar untuk usaha baru
Coba Sendiri: Proyeksikan Arus Kas 6 Bulan Anda
Ubah target penjualan tiap bulan dan amati bagaimana saldo kas kumulatif bergerak selama enam bulan.
HPP, BEP, dan Arus Kas: Satu Sistem, Bukan Tiga Hal Terpisah
Kalau HPP dihitung salah (terlalu rendah), harga jual jadi terlalu murah → BEP jadi tidak realistis tinggi → proyeksi kas akan selalu meleset dari kenyataan. Kesalahan di hulu (HPP) merambat ke seluruh rencana keuangan.
Kesalahan Umum Pemula dalam Rencana Keuangan
Mencampur kas pribadi dan kas usaha — jadi tidak tahu usahanya sebenarnya untung atau rugi.
Lupa memasukkan penyusutan alat (mesin kopi, gerobak) sebagai biaya tetap — padahal alat akan aus dan perlu diganti.
Menentukan harga jual dengan menebak/meniru kompetitor tanpa menghitung HPP sendiri.
Tidak pernah menghitung BEP — sehingga tidak tahu target penjualan minimal harian.
Latihan Kelas: Hitung Rencana Keuangan Usaha Impian Anda
Kerjakan berkelompok (3–4 orang), gunakan ide usaha dari BMC minggu lalu. Waktu: 15 menit.
Instruksi
Tentukan 1 produk andalan dari ide usaha kelompok Anda.
Hitung HPP per unit (bahan + tenaga kerja + overhead) — boleh estimasi wajar.
Tentukan markup dan hitung harga jual.
Estimasi biaya tetap bulanan, lalu hitung BEP unit dan rupiah.
Satu kelompok akan diminta presentasi singkat (2 menit) di akhir sesi.
Tips: kalau angka HPP Anda kurang dari harga jual kompetitor di pasar, tandai sebagai bendera merah — kemungkinan ada biaya yang terlewat atau markup terlalu tinggi.
Cheat Sheet: Empat Rumus Rencana Keuangan
Rumus
Formula
Contoh Kedai Anjar
HPP per unit
Bahan + Tenaga Kerja + Overhead
Rp 10.000
Harga Jual
HPP × (1 + Markup)
Rp 15.000
BEP (unit)
Biaya Tetap ÷ (Harga Jual − Biaya Variabel)
~924 cup/bulan
Kas Bersih Bulanan
Kas Masuk − Kas Keluar
Rp 500.000
Simpan tabel ini — Anda akan memakainya lagi saat menyusun proposal rencana bisnis komprehensif untuk pitching di akhir semester.
Checklist Rencana Keuangan Sebelum Mulai Usaha
Sudah Dihitung?
HPP setiap produk andalan
Harga jual dengan markup yang wajar
BEP unit & rupiah per bulan
Proyeksi arus kas minimal 3 bulan ke depan
Sudah Dipisah?
Rekening/kas pribadi vs usaha
Biaya tetap vs biaya variabel
Penyusutan alat dimasukkan sebagai biaya
Target harian/mingguan vs target bulanan
Sebelum Pertemuan Berikutnya
Minggu Depan
Sumber Pendanaan Usaha
Dari bootstrapping (modal sendiri) hingga crowdfunding — setelah tahu berapa modal yang dibutuhkan dari rencana keuangan hari ini, kita cari dari mana uangnya.
TUGAS SEBELUM MINGGU DEPAN
SELESAIKAN LATIHAN
Rapikan hasil latihan kelompok hari ini (HPP, harga jual, BEP, proyeksi kas) — akan dipakai sebagai lampiran proposal rencana bisnis komprehensif.