‹ Daftar slidePertemuan 2: Karakteristik dan Sikap Wirausaha
FEB UNDIP · Program Umum
Kewirausahaan
Pertemuan 2: Karakteristik dan Sikap Wirausaha
Mengenali pola pikir dan perilaku yang membedakan wirausaha sukses dari sekadar pemilik usaha — dari need for achievement hingga ketahanan menghadapi kegagalan.
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Tujuan Pembelajaran Hari Ini
Sesuai Sub-CPMK minggu 2, setelah pertemuan ini Anda diharapkan mampu:
Kognitif
4
Karakteristik inti
Menjelaskan karakteristik psikologis utama wirausaha (need for achievement, locus of control, risk-taking, self-efficacy) dan mengapa keempatnya saling berkaitan.
Afektif
1
Refleksi diri
Mengukur dan merefleksikan tingkat kesiapan wirausaha diri sendiri melalui instrumen skor sederhana, sebagai bekal sebelum masuk ke identifikasi peluang usaha minggu depan.
Catatan: karakteristik ini bukan bakat bawaan yang tetap — riset kewirausahaan modern menunjukkan sikap ini bisa dilatih dan dikembangkan lewat pengalaman dan refleksi sadar.
Bagian 1 dari 4
Mengapa Karakter Menentukan Keberhasilan Usaha
Modal dan ide bisa ditiru dalam semalam. Karakter dan sikap mental jauh lebih sulit disalin — dan justru di situlah keunggulan bersaing wirausaha sejati berada.
Apa Itu "Jiwa" atau Mindset Wirausaha?
Mindset (pola pikir) wirausaha adalah cara seseorang memandang masalah sebagai peluang, bukan hambatan — dan berani bertindak atas peluang itu meski sumber daya terbatas.
Mindset Karyawan
Menunggu instruksi & kepastian
Menghindari risiko pribadi
Fokus pada gaji tetap & stabilitas
Mindset Wirausaha
Inisiatif tanpa menunggu perintah
Menerima risiko terukur demi hasil
Fokus pada nilai & pertumbuhan jangka panjang
Karakteristik #1: Kebutuhan Berprestasi (n-Ach)
Psikolog David McClelland (1961) menemukan bahwa wirausaha sukses punya need for achievement (n-Ach) yang tinggi — dorongan internal untuk mencapai standar keunggulan, bukan sekadar mengejar uang atau status.
n-Ach Tinggi = Suka Target Menantang + Suka Umpan Balik Cepat + Tanggung Jawab Penuh atas Hasil
Ciri di lapangan: pemilik warung yang terus mencatat omzet harian dan mencoba menu baru tiap minggu menunjukkan n-Ach tinggi — bukan karena dipaksa, tapi karena terdorong ingin lebih baik dari kemarin.
Karakteristik #2: Lokus Kendali Internal (Locus of Control)
Locus of control adalah keyakinan seseorang tentang siapa yang mengendalikan hasil hidupnya. Wirausaha cenderung memiliki lokus kendali internal: yakin hasil usaha ditentukan oleh usaha dan keputusannya sendiri, bukan nasib.
Karakteristik #3: Kesediaan Mengambil Risiko Terukur
Wirausaha sukses bukan penjudi yang nekat, melainkan pengambil risiko terukur (calculated risk) — risiko sedang yang sudah dipertimbangkan, di mana peluang keberhasilan dan kerugian sudah dianalisis lebih dulu.
Risk Averse
Penghindar Risiko
Hanya mau usaha yang hasilnya nyaris pasti. Jarang berkembang, tapi jarang rugi besar.
Wirausaha
Risiko Terukur
Menganalisis dulu, lalu mengambil risiko sedang yang sepadan dengan potensi hasil.
Gambler
Penjudi Nekat
Mengambil risiko ekstrem tanpa analisis, mengandalkan keberuntungan semata.
Karakteristik #4: Efikasi Diri (Self-Efficacy)
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang atas kemampuannya sendiri untuk berhasil menjalankan tugas tertentu — bukan rasa percaya diri umum, tapi keyakinan spesifik: "saya mampu menjalankan usaha ini."
Wirausaha dengan self-efficacy tinggi lebih tahan menghadapi penolakan pelanggan atau investor, karena mereka menilai kegagalan sebagai masalah teknis yang bisa diperbaiki, bukan bukti bahwa dirinya tidak mampu.
Cara melatihnya: mulai dari kemenangan kecil (small wins) — menyelesaikan proyek kecil, jualan online skala kecil di kampus — sebelum mencoba usaha berskala lebih besar.
Hitung dari Nol #1: Skor Toleransi Risiko Sederhana
Sebuah kuesioner singkat berisi 5 pernyataan (skala 1–5, 5 = sangat setuju) dipakai untuk mengukur toleransi risiko seorang calon wirausaha. Hasil pengisian: 4, 3, 5, 4, 4.
Dari psikologi kita turun ke perilaku sehari-hari: bagaimana karakter di atas terwujud dalam tindakan proaktif, inovatif, dan gigih menghadapi kegagalan.
Sikap Proaktif dan Berorientasi Peluang
Proaktif berarti bertindak lebih dulu sebelum masalah/peluang menjadi jelas bagi orang lain — bukan menunggu kondisi ideal.
Reaktif
Menunggu pesaing bergerak dulu
Baru bertindak setelah masalah besar
"Nanti saja kalau sudah pasti laku"
Proaktif
Mencari celah pasar sebelum ramai
Mencegah masalah sebelum membesar
Uji coba skala kecil lebih dulu (minimum viable product)
Sikap Inovatif: Melihat Masalah sebagai Bahan Baku
Wirausaha inovatif tidak selalu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru — lebih sering mereka mengombinasikan ulang hal yang sudah ada dengan cara baru untuk memecahkan masalah nyata.
Contoh: ojek pangkalan sudah ada puluhan tahun di Indonesia; GPS dan aplikasi pemesanan sudah ada. Gojek dan Grab menggabungkan keduanya menjadi model baru — inovasi kombinasi, bukan penemuan dari nol.
Latihan reflektif: coba pikirkan satu masalah kecil yang Anda alami minggu ini di sekitar kampus — apakah ada solusi yang sudah ada di tempat lain yang bisa Anda kombinasikan ke sini?
Kegigihan (Resilience): Bangkit dari Kegagalan
Resiliensi adalah kemampuan bangkit kembali setelah gagal, dengan belajar dari kesalahan alih-alih berhenti total. Ini karakteristik yang paling sering membedakan wirausaha yang akhirnya berhasil.
Prinsip: setiap kegagalan diperlakukan sebagai data untuk perbaikan, bukan bukti kegagalan pribadi permanen.
Etika Kerja dan Integritas sebagai Modal Kepercayaan
Karakter yang sering diabaikan padahal krusial: integritas (konsisten antara ucapan dan tindakan) dan etika kerja (disiplin, tepat waktu, jujur pada pelanggan dan mitra).
Mengapa Penting
Usaha kecil sangat bergantung pada reputasi dari mulut ke mulut. Satu kali menipu pelanggan bisa merusak kepercayaan yang butuh bertahun-tahun dibangun.
Contoh Praktik
UMKM yang jujur soal bahan baku (misalnya melabelkan produk halal secara akurat) dan tepat menepati janji pengiriman biasanya lebih cepat mendapat pelanggan setia.
Bagian 3 dari 3
Mengukur, Mengembangkan, dan Merefleksikan Karakter
Karakter bukan takdir tetap. Bagian penutup ini menunjukkan bagaimana pola pikir bisa diukur, dilihat dalam studi kasus UMKM nyata, lalu direfleksikan pada diri Anda sendiri.
Growth Mindset vs Fixed Mindset dalam Wirausaha
Psikolog Carol Dweck membedakan dua pola pikir: fixed mindset (kemampuan dianggap bawaan & tetap) versus growth mindset (kemampuan bisa berkembang lewat usaha dan belajar).
Situasi
Fixed Mindset
Growth Mindset
Produk tidak laku
"Saya memang tidak berbakat jualan"
"Saya perlu belajar strategi pemasaran baru"
Ditolak investor
"Ide saya pasti jelek, lebih baik berhenti"
"Saya perlu perbaiki proposal & coba lagi"
Melihat pesaing sukses
Iri & merasa terancam
Belajar dari strategi pesaing
Hitung dari Nol #2: Indeks Kesiapan Wirausaha
Seorang mahasiswa menilai dirinya sendiri pada 4 dimensi (skala 0–10): Need for Achievement = 8, Locus of Control internal = 7, Risk-taking = 6, Self-efficacy = 9.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Jumlahkan skor 4 dimensi
8 + 7 + 6 + 9
30
2. Skor maksimum yang mungkin
4 dimensi × 10
40
3. Hitung indeks (persentase)
30 ÷ 40 × 100
75%
4. Kategorikan (<50% belum siap, 50–74% cukup siap, ≥75% siap)
75% ≥ 75%
Siap
Indeks Kesiapan Wirausaha
75%
Kategori: Siap (dengan catatan risk-taking masih dimensi terlemah)
Coba Sendiri: Hitung Skor Kesiapan Wirausaha Anda
Geser keempat dimensi ke skor diri Anda sendiri dan amati bagaimana indeks kesiapan serta kategorinya berubah.
Studi Kasus: Karakter Wirausaha di Balik UMKM Indonesia
Sebagian besar unit usaha di Indonesia adalah UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) — lebih dari 60 juta unit menurut data Kementerian Koperasi dan UKM (~data 2023). Karakter di balik yang bertahan sering sama polanya.
Kasus 1
Warung angkringan di Jogja yang bertahan 20 tahun karena konsisten menjaga harga & rasa (integritas + kegigihan).
Kasus 2
Pengrajin tempe di Semarang yang beralih ke penjualan daring saat pandemi (proaktif + inovasi kombinasi).
Kasus 3
Reseller skincare mahasiswa yang bangkit setelah gagal di produk pertama, lalu sukses di produk kedua (resiliensi + n-Ach).
Latihan Mandiri: Self-Assessment Karakter Wirausaha
Kerjakan secara individu selama 10 menit, lalu diskusikan dengan teman sebangku:
Instruksi
Nilai diri Anda 0–10 pada 4 dimensi: need for achievement, locus of control internal, risk-taking, self-efficacy.
Hitung indeks kesiapan Anda dengan rumus yang sudah dipelajari (jumlah ÷ skor maksimum × 100).
Identifikasi 1 dimensi terlemah Anda dan tulis 1 langkah konkret untuk melatihnya minggu ini.
Siapkan untuk berbagi hasil secara sukarela di depan kelas (opsional, tidak dinilai benar/salah).
Tidak ada jawaban "benar" — tujuan latihan ini murni refleksi diri, bukan penilaian akademik.
Rangkuman & Pertemuan Berikutnya
Dimensi
Inti
Contoh Perilaku
Need for Achievement
Dorongan mencapai standar tinggi
Terus evaluasi & perbaiki omzet
Locus of Control Internal
Yakin hasil ditentukan usaha sendiri
Mencari solusi, bukan menyalahkan nasib
Risk-Taking & Self-Efficacy
Berani ambil risiko terukur & yakin mampu
Uji coba skala kecil, mulai dari small wins
Resiliensi
Bangkit & belajar dari kegagalan
Perbaiki strategi setelah ditolak
Minggu Depan (Pertemuan 3)
Identifikasi peluang usaha lewat kreativitas dan inovasi, memakai kerangka design thinking.
Tugas
Wawancarai 1 pemilik usaha kecil (warung, reseller, jasa) 10 menit — tanyakan karakter apa yang membantu mereka bertahan. Bawa catatannya ke kelas.