‹ Daftar slidePertemuan 14: Simulasi Negosiasi Lintas Budaya — integrasi kompetensi komunikasi antarbudaya (Martin) dan teknik negosiasi prinsipil (Fisher) dalam studi kasus bisnis global
RPS minggu 15 · 2x50 menit
Simulasi Negosiasi Lintas Budaya
Integrasi kompetensi komunikasi antarbudaya (Martin) dan teknik negosiasi prinsipil (Fisher) dalam studi kasus bisnis global
Pertemuan 14 — Intercultural Communication and Negotiation Skills · Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Menyatukan Dua Kerangka
Dari kompetensi komunikasi antarbudaya Martin menuju prinsip negosiasi Fisher — mengapa keduanya harus berjalan bersama, bukan terpisah.
Recap — Kompetensi Komunikasi Antarbudaya (Martin)
Motivasi
Keinginan tulus berinteraksi dengan orang berbeda budaya, mengelola kecemasan (anxiety) dan ketidakpastian (uncertainty) saat berhadapan dengan mitra asing.
Pengetahuan
Pemahaman tentang nilai budaya (mis. konteks tinggi vs rendah, jarak kekuasaan) dan sejarah relasi kekuasaan antarbudaya yang membentuk cara pandang mitra.
Keterampilan
Kemampuan membaca kode verbal-nonverbal, beradaptasi (mengingat kurva-U/W), dan menyesuaikan gaya komunikasi tanpa kehilangan tujuan sendiri.
Tiga komponen ini adalah fondasi yang akan Anda pakai sepanjang simulasi hari ini — bukan hanya latar belakang teori.
Recap — Empat Prinsip Negosiasi Prinsipil (Fisher)
Orang & Kepentingan
Pisahkan orang dari masalah — jangan serang pribadi lawan.
Gali kepentingan (interests) di balik posisi (positions) yang dinyatakan.
Opsi & Kriteria
Ciptakan opsi keuntungan bersama sebelum memutuskan.
Gunakan kriteria objektif (data pasar, standar industri) untuk menilai hasil.
Empat prinsip ini dirancang universal — tetapi cara menjalankannya berbeda di tiap budaya, itulah tantangan simulasi hari ini.
Titik Temu — Budaya Membentuk Cara Prinsip Fisher Dijalankan
Prinsip Fisher
Pengaruh Budaya (Martin)
Contoh Praktik
Pisahkan orang dari masalah
Budaya kolektivis menilai kritik langsung sebagai serangan pada harga diri kelompok (face)
Kritik disampaikan lewat perantara di negosiasi Jepang-Indonesia
Gali kepentingan
Budaya konteks tinggi menyembunyikan kepentingan di balik basa-basi panjang
Pertemuan pembuka tanpa bahas angka di negosiasi Timur Tengah
Opsi keuntungan bersama
Jarak kekuasaan tinggi membuat opsi harus disetujui atasan, bukan diputuskan di meja
Delegasi Tiongkok sering menunda keputusan untuk konsultasi internal
Kriteria objektif
Sumber data yang dianggap "objektif" berbeda tiap budaya (rating lembaga vs relasi lama)
Mitra AS percaya data BEI, mitra lokal percaya rekam jejak relasi
Hitung dari Nol — Zone of Possible Agreement (ZOPA)
Kasus: PT Nusantara Prima (Indonesia) menegosiasikan divestasi 25% saham ke Kaisha Corp (Jepang).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Harga minimum penjual (reservation price)
Valuasi replacement cost penjual untuk 25% saham
Rp 40 miliar
2. Harga maksimum pembeli (reservation price)
Valuasi nilai sinergi pembeli untuk 25% saham
Rp 55 miliar
3. Rentang ZOPA
55 miliar − 40 miliar
Rp 15 miliar
4. Titik tengah wajar (anchor)
(40 miliar + 55 miliar) / 2
Rp 47,5 miliar
BATNA Lintas Budaya — Bukan Sekadar Angka
BATNA (Best Alternative to a Negotiated Agreement) = pilihan terbaik jika negosiasi gagal. Nilainya objektif, tetapi cara mengungkapkannya dipengaruhi budaya.
Budaya konteks rendah (mis. AS, Jerman)
BATNA sering diungkap eksplisit sebagai leverage tawar-menawar.
"Kami punya penawaran lain di angka X" disampaikan langsung.
Budaya konteks tinggi (mis. Jepang, Indonesia)
BATNA disiratkan lewat nada, bukan diucapkan gamblang.
Mengungkap BATNA terang-terangan bisa dibaca sebagai ancaman kasar.
Bagian 2 dari 3
Anatomi Simulasi Negosiasi
Struktur skenario, peran, tahapan, dan taktik yang perlu Anda kuasai sebelum masuk ke ruang breakout.
Studi Kasus — Joint Venture Indonesia–Jepang
Skenario Bisnis Global
PT Sinergi Boga (produsen makanan olahan UMKM naik kelas, Semarang) ingin membentuk joint venture dengan Fujiwara Foods (distributor makanan, Osaka).
Isu dinegosiasikan: struktur kepemilikan, transfer teknologi pengemasan, retensi karyawan lokal, penggunaan merek lokal di pasar ekspor.
Tenggat: kesepakatan harus tercapai sebelum pameran dagang di Tokyo, tiga bulan lagi.
Skenario ini sengaja menggabungkan isu bisnis konkret dengan perbedaan gaya komunikasi — seperti kasus nyata ekspansi UMKM Indonesia ke pasar Asia Timur.
Kartu Peran & Instruksi Rahasia
Kelompok A — PT Sinergi Boga
Target: pertahankan minimal 51% kepemilikan.
Prioritas tersembunyi: menjaga seluruh karyawan produksi tetap bekerja.
Gaya komunikasi yang diperankan: konteks tinggi, hindari penolakan langsung.
Kelompok B — Fujiwara Foods
Target: kendali penuh atas standar kemasan & merek ekspor.
Prioritas tersembunyi: kecepatan — harus rilis sebelum musim liburan.
Gaya komunikasi yang diperankan: formal, keputusan perlu konsultasi kantor pusat.
Setiap kelompok HANYA membaca kartu perannya sendiri — jangan bertukar informasi sebelum simulasi dimulai. Dosen akan membagikan kartu fisik/digital terpisah per kelompok.
Empat Tahapan Simulasi
Tahap
Fokus
Durasi
1. Persiapan
Baca kartu peran, tentukan BATNA & reservation price internal kelompok
10 menit
2. Pembukaan (opening)
Perkenalan, membangun rapport sesuai gaya budaya yang diperankan
Rubrik ini bersifat instruksional — tidak dianimasikan bertahap, silakan foto/catat untuk acuan simulasi Anda.
Instruksi Praktik — Pembentukan Kelompok Breakout
Langkah pelaksanaan di kelas:
Kelas dibagi menjadi kelompok berisi 4-5 mahasiswa (2-3 per pihak negosiasi).
Dosen membagikan kartu peran digital/cetak — baca HANYA kartu kelompok Anda.
Simulasi berjalan 60 menit penuh mengikuti empat tahap yang sudah dijelaskan.
10 menit terakhir sesi: setiap kelompok menulis catatan hasil di lembar kerja.
Dosen akan berkeliling sebagai observer — tidak mengintervensi kecuali diminta.
Bagian 3 dari 3
Refleksi & Sintesis
Dari pengalaman simulasi menuju kompetensi yang bisa Anda bawa ke dunia kerja.
Kerangka Debrief — What / So What / Now What
What
Apa yang terjadi? Ceritakan momen kunci simulasi — kapan negosiasi terasa lancar, kapan terasa buntu.
So What
Mengapa itu terjadi? Hubungkan dengan konsep Martin (kepekaan budaya) atau Fisher (prinsip yang dilanggar/dijalankan).
Now What
Apa yang akan Anda lakukan berbeda? Rumuskan satu perubahan konkret untuk negosiasi lintas budaya berikutnya.
Peta Sintesis — Kompetensi Terintegrasi
Kedua kerangka saling mengisi: Martin menjelaskan MENGAPA gaya negosiasi berbeda, Fisher menjelaskan BAGAIMANA tetap prinsipil di tengah perbedaan itu.
Penutup — Dari Kelas ke Dunia Kerja
Relevansi Karier
Negosiasi vendor/klien lintas negara (ekspor UMKM, prokurmen multinasional).
Negosiasi internal di perusahaan multikultural (merger, akuisisi, ekspansi cabang).
Mediasi konflik tim kerja yang beragam latar belakang budaya.
Rekap satu semester: P1-7 membangun fondasi memahami budaya (Martin) → P8-14 membangun keterampilan bernegosiasi secara prinsipil (Fisher) → hari ini keduanya terbukti tak terpisahkan.