‹ Daftar slidePertemuan 3: Identitas dan Komunikasi Antarbudaya — pembentukan identitas (etnis, kelas, gender), sikap inklusif terhadap keberagaman identitas
Intercultural Communication and Negotiation Skills — Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Apa Itu Identitas Budaya?
Bagaimana identitas terbentuk, bukan sebagai label tetap, melainkan proses sosial yang terus bergerak.
Identitas: Definisi dan Mengapa Penting bagi IC
Identitas budaya adalah konsep diri yang terbentuk melalui interaksi sosial dan afiliasi terhadap kelompok — bukan sifat bawaan yang tetap.
Definisi Kerja (Martin & Nakayama)
Identitas = rasa "siapa saya" yang dibentuk relasi dengan orang lain
Selalu terkait kelompok: etnis, kelas, gender, agama, usia
Muncul jelas justru saat berhadapan dengan "yang berbeda"
Relevansi untuk Manajemen
Tim kerja lintas identitas kini norma, bukan pengecualian
Salah baca identitas mitra → kesalahpahaman negosiasi
Inklusivitas identitas = bagian strategi SDM modern
Dua Sisi Pembentukan Identitas: Avowal vs Ascription
Identitas terbentuk dari tarik-menarik antara bagaimana saya melihat diri saya dan bagaimana orang lain melabeli saya.
Avowal
Cara individu menampilkan & mengakui identitasnya sendiri. Contoh: seorang mahasiswa Bali menyebut dirinya "orang Bali yang taat Hindu" saat memperkenalkan diri di kelas Manajemen.
Ascription
Cara orang lain menempelkan label identitas kepada individu, kadang tidak sesuai persepsi diri. Contoh: rekan kerja langsung mengasumsikan mahasiswa itu "pasti pandai menari" hanya karena asal Bali.
Ketegangan avowal-ascription inilah sumber banyak kesalahpahaman antarbudaya — orang lain sering memaksakan identitas yang tak Anda akui sendiri.
Walkthrough 1 — Kasus Ascription vs Avowal di Tempat Kerja
Ikuti langkah kasus ini: seorang staf baru keturunan Tionghoa-Indonesia bernama Melani bergabung dengan tim penjualan sebuah UMKM ekspor mebel di Jepara.
1
Avowal Melani: ia memperkenalkan diri sebagai "orang Jepara, besar di lingkungan pengrajin mebel", identitas yang ia rasa paling relevan dengan pekerjaan barunya.
2
Ascription rekan kerja: tim penjualan justru langsung mengasumsikan Melani "pasti jago hitung-hitungan dan negosiasi harga" karena identitas etnisnya, bukan karena pengalamannya.
3
Gesekan yang muncul: Melani merasa keahlian sesungguhnya (pengetahuan desain mebel) diabaikan, sementara tim menaruh ekspektasi berlebihan pada hal yang tak ia klaim.
4
Resolusi komunikatif: supervisor memfasilitasi diskusi terbuka agar Melani bisa mengklarifikasi avowal-nya, sehingga tim menyesuaikan ekspektasi berbasis kompetensi nyata, bukan stereotip.
Identitas sebagai Proses, Bukan Status Tetap
Model perkembangan identitas kelompok minoritas (Phinney) menunjukkan identitas bergerak melalui tahap, bukan langsung "jadi".
1
Tahap belum diperiksa (unexamined): individu menerima identitas dari lingkungan tanpa mempertanyakannya — misalnya remaja Batak yang menganggap wajar semua nilai keluarganya tanpa refleksi.
2
Tahap pencarian (search): muncul krisis atau peristiwa yang memicu pertanyaan — misalnya saat kuliah di kota lain dan bertemu pandangan berbeda.
3
Tahap pencapaian (achieved): individu mencapai pemahaman identitas yang lebih matang dan disadari secara aktif, bukan sekadar warisan.
Implikasi: mahasiswa Anda hari ini, termasuk Anda sendiri, sedang berada di salah satu tahap ini — dan itu wajar.
Interseksionalitas: Identitas yang Saling Silang
Setiap individu membawa banyak identitas sekaligus — etnis, kelas, gender, agama — yang saling berinteraksi, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Contoh: pengalaman seorang perempuan Minang kelas pekerja di pasar tradisional berbeda dari pengalaman perempuan Minang kelas menengah-atas di kantor pusat bank — meski sama-sama "perempuan Minang".
Bagian 2 dari 3
Tiga Dimensi Identitas: Etnis, Kelas, Gender
Membedah masing-masing dimensi dengan data Indonesia riil, lalu melihat bagaimana ketiganya berinteraksi dalam komunikasi sehari-hari.
Dimensi 1 — Identitas Etnis: Hitung dari Nol
Indonesia memiliki ratusan kelompok etnis. Mari hitung proporsi dua suku terbesar dari data Sensus Penduduk BPS 2010.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Populasi total Indonesia (Sensus 2010)
data BPS
~237,6 juta jiwa
2. Populasi suku Jawa
data BPS
~95,2 juta jiwa
3. Persentase suku Jawa
95,2 juta ÷ 237,6 juta x 100
~40,1%
4. Populasi suku Sunda
data BPS
~36,7 juta jiwa
5. Persentase suku Sunda
36,7 juta ÷ 237,6 juta x 100
~15,5%
Insight
55,6%
gabungan Jawa + Sunda dari total populasi — sisanya ratusan etnis lain
Dimensi 2 — Identitas Kelas Sosial: Hitung dari Nol
Kelas sosial ditandai pendapatan, pendidikan, dan pola konsumsi. Mari hitung proporsi penduduk miskin dari data BPS Maret 2024.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total penduduk Indonesia (Maret 2024)
data BPS
~278 juta jiwa
2. Jumlah penduduk miskin (garis kemiskinan)
data BPS
~25,22 juta jiwa
3. Persentase penduduk miskin
25,22 juta ÷ 278 juta x 100
~9,07% (BPS lapor ~9,03%)
4. Sisanya (di atas garis kemiskinan)
100% − 9,03%
~90,97%
Catatan Penting
~9%
bukan berarti 91% sisanya otomatis "kelas menengah" — ada lapisan rentan miskin di antaranya
Dimensi 3 — Identitas Gender: Sex vs Gender
Penting dibedakan: sex adalah kategori biologis, sedangkan gender adalah konstruksi sosial-budaya tentang peran, perilaku, dan ekspektasi.
Sex (Biologis)
Ditentukan karakteristik biologis saat lahir
Relatif tetap secara fisik
Bukan fokus utama studi komunikasi antarbudaya
Gender (Konstruksi Sosial)
Peran, sikap, dan ekspektasi yang dibentuk budaya
Berbeda-beda antarbudaya dan berubah antarwaktu
Memengaruhi gaya komunikasi, otoritas, akses ekonomi
Contoh: ekspektasi gaya kepemimpinan "tegas" pada perempuan sering dinilai berbeda dari laki-laki dengan perilaku sama — ini bentuk konstruksi sosial gender di tempat kerja.
Ketika Tiga Dimensi Bertemu di Tempat Kerja
Studi kasus: seorang pengusaha UMKM perempuan Jawa kelas menengah yang menegosiasikan kontrak pasokan dengan distributor besar di Jakarta.
Etnis
Gaya komunikasinya cenderung tidak langsung (halus), khas budaya Jawa — bisa disalahartikan sebagai "ragu-ragu" oleh mitra dari budaya konteks-rendah.
Kelas
Sebagai pelaku UMKM, ia dianggap punya daya tawar lebih rendah dibanding distributor besar — memengaruhi dinamika kekuasaan dalam negosiasi.
Gender
Sebagai perempuan, ia kerap menghadapi asumsi tambahan tentang "kelayakan" memimpin negosiasi bisnis dibanding rekan laki-laki.
Ketiga dimensi ini bekerja bersamaan, bukan bergantian — inilah esensi interseksionalitas dalam praktik nyata.
Identitas dan Bias dalam Komunikasi
Identitas yang kita bawa memengaruhi bagaimana kita menafsirkan pesan orang lain — sering tanpa disadari.
Stereotip
Generalisasi berlebihan tentang kelompok identitas tertentu
Contoh: "orang Batak pasti keras dalam berbicara"
Bias Atribusi
Menjelaskan perilaku orang lain berdasar identitas kelompoknya, bukan konteks situasi
Contoh: menilai keterlambatan rekan kerja sebagai "budaya jam karet", bukan kondisi lalu lintas
Bagian 3 dari 3
Menuju Sikap Inklusif
Dari memahami identitas menuju sikap dan praktik nyata yang merangkul keberagaman identitas di lingkungan kerja dan kampus.
Apa Itu Sikap Inklusif?
Inklusivitas dalam komunikasi antarbudaya berarti secara aktif mengakui, menghormati, dan merangkul keberagaman identitas — bukan sekadar "toleransi pasif".
Toleransi = membiarkan perbedaan ada tanpa gangguan. Inklusi = melibatkan perbedaan secara aktif dalam pengambilan keputusan dan interaksi sehari-hari.
Ciri Sikap Eksklusif
Menganggap satu identitas sebagai "standar/normal" dan lainnya sebagai "penyimpangan" yang harus menyesuaikan diri.
Ciri Sikap Inklusif
Menganggap keberagaman identitas sebagai sumber kekuatan kolektif, bukan hambatan yang harus diseragamkan.
Empat Prinsip Praktik Komunikasi Inklusif
1. Mindfulness
Sadar penuh saat berinteraksi, tidak berjalan otomatis dengan asumsi lama
2. Empati Perspektif
Berusaha memahami situasi dari sudut pandang identitas orang lain
3. Menahan Penilaian Cepat
Tidak langsung menyimpulkan makna perilaku berdasar stereotip kelompok
4. Bertanya, Bukan Menebak
Klarifikasi langsung ke individu, bukan mengandalkan asumsi kelompok
Hambatan Menuju Inklusivitas
Beberapa hambatan psikologis dan sosial yang sering menghalangi sikap inklusif, bahkan pada orang dengan niat baik.
Etnosentrisme
Menilai budaya lain menggunakan standar budaya sendiri sebagai patokan "benar"
Prasangka (Prejudice)
Sikap negatif terhadap kelompok tertentu yang terbentuk sebelum interaksi nyata terjadi
Diskriminasi Implisit
Perlakuan berbeda yang tidak disadari pelakunya sendiri, misalnya dalam proses rekrutmen
Groupthink Homogen
Tim dengan identitas seragam cenderung tidak menyadari titik buta perspektifnya sendiri
Strategi Praktis Membangun Komunikasi Inklusif
Di Level Individu
Refleksi diri rutin: sadari identitas & bias pribadi Anda sendiri
Aktif mencari perspektif dari kelompok identitas berbeda
Gunakan bahasa netral, hindari asumsi berbasis kelompok
Di Level Organisasi
Kebijakan SDM yang mengakomodasi keberagaman identitas (contoh: fleksibilitas jadwal ibadah)
Pelatihan kesadaran bias bagi manajer & tim rekrutmen
Saluran keluhan yang aman untuk isu diskriminasi
Latihan Refleksi & Jembatan ke Pertemuan Berikutnya
Tugas refleksi singkat (10 menit, tulis di kertas/gawai):
Sebutkan 3 identitas yang paling Anda akui (avowal) tentang diri Anda
Sebutkan 1 identitas yang pernah "ditempelkan" orang lain (ascription) namun tidak sesuai dengan cara Anda melihat diri sendiri
Tulis 1 situasi Anda pernah bersikap kurang inklusif — apa yang akan Anda lakukan berbeda sekarang?
Minggu Ini
Identitas terbentuk lewat avowal-ascription, bersifat dinamis, dan bersilang (etnis-kelas-gender) — sikap inklusif adalah pilihan aktif.
Pertemuan 4
Kode verbal & non-verbal lintas budaya — bagaimana identitas yang kita bahas hari ini terekspresikan lewat bahasa & bahasa tubuh.