‹ Daftar slidePertemuan 2: Budaya, Kekuasaan, dan Sejarah — hubungan antara budaya, komunikasi, konteks, dan kekuasaan, pengaruh sejarah makro terhadap interaksi individu
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Budaya, Kekuasaan, dan Sejarah
Hubungan antara budaya, komunikasi, konteks, dan kekuasaan — pengaruh sejarah makro terhadap interaksi individu
Intercultural Communication and Negotiation Skills · Program Studi Manajemen FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Tiga Konsep Kunci: Budaya, Komunikasi, Konteks
Membangun definisi kerja sebelum masuk ke kekuasaan dan sejarah
Apa Itu Budaya? Model Gunung Es
Definisi Kerja
Budaya = sistem nilai, keyakinan, dan makna bersama yang dipelajari (bukan bawaan lahir) dan diwariskan lintas generasi suatu kelompok (Martin & Nakayama).
Dipelajari — bukan genetik, mis. cara menyapa atasan di kantor Pertamina berbeda dengan startup digital
Dinamis — berubah, mis. budaya kerja generasi Z di Gojek vs generasi sebelumnya
Sebagian besar tak terlihat — 90% ada di bawah "permukaan air"
Komunikasi Antarbudaya: Proses Dasar
Komunikasi = proses simbolis encoding-decoding makna yang dipengaruhi latar belakang budaya pengirim dan penerima pesan.
Encoding
Pengirim menerjemahkan maksud ke simbol (kata, nada, gestur) sesuai budayanya
Noise / Konteks
Gangguan & asumsi budaya membelokkan makna saat pesan berpindah
Decoding
Penerima menafsirkan simbol memakai kerangka budayanya sendiri — bisa berbeda dari maksud pengirim
Komunikasi antarbudaya terjadi ketika encoding dan decoding dilakukan oleh orang dari sistem budaya berbeda — di sinilah peluang salah paham paling besar, misalnya anggukan kepala yang berarti "ya" di Indonesia tapi bisa berarti "saya mendengar" (bukan setuju) di beberapa budaya lain.
Konteks Tinggi vs Konteks Rendah (Edward Hall)
High-Context
Makna banyak tersirat pada konteks, hubungan, dan nonverbal — bukan pada kata-kata eksplisit.
Indonesia, Jepang, Tiongkok, Arab
Negosiasi bisnis: dimulai basa-basi & membangun hubungan (guanxi/silaturahmi) dulu
"Tidak" jarang diucapkan langsung — dihaluskan lewat isyarat
Low-Context
Makna terletak pada kata-kata eksplisit itu sendiri — pesan harus jelas dan langsung.
Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Skandinavia
Negosiasi bisnis: langsung ke poin, kontrak tertulis rinci
Ketidakjelasan dianggap tidak profesional, bukan sopan
Menyatukan Tiga Konsep: Segitiga Budaya-Komunikasi-Konteks
Budaya membentuk bagaimana kita berkomunikasi; konteks menentukan makna apa yang pantas disampaikan; komunikasi yang berulang lama-kelamaan membentuk kembali budaya itu sendiri (hubungan dua arah, bukan satu arah).
Hitung dari Nol: Jarak Budaya Indonesia — Amerika Serikat
Memakai dua dimensi budaya Hofstede: Power Distance Index (PDI) dan Individualism (IDV) — skor 0-100 per negara (Hofstede Insights).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Ambil skor PDI
Indonesia = 78, AS = 40
—
2. Selisih PDI
|78 − 40|
38
3. Ambil skor IDV
Indonesia = 14, AS = 91
—
4. Selisih IDV
|14 − 91|
77
5. Rata-rata selisih (indeks jarak)
(38 + 77) / 2
57,5
6. Kategorikan (skala 0-100)
57,5 → di atas titik tengah
Jarak Budaya TINGGI
Indeks Jarak Budaya
57,5 / 100
Indonesia collectivist-hierarkis vs AS individualist-egaliter
Coba Sendiri: Hitung Indeks Jarak Budaya Dua Negara
Pilih pasangan negara dan geser skor dimensi Hofstede untuk melihat indeks jarak budaya Kogut-Singh terhitung otomatis.
Studi Kasus: Rapat Bisnis AS — Indonesia
Skenario: Manajer cabang BCA di Jakarta menerima kunjungan investor dari perusahaan fintech Amerika Serikat untuk membahas kerja sama.
Langkah 1 — Sebelum Rapat
Pihak AS (low-context) mengirim agenda tertulis rinci per menit, berharap rapat langsung ke poin negosiasi. Pihak Indonesia (high-context) mengalokasikan 15-20 menit pertama untuk basa-basi dan membangun hubungan personal — tanpa ini dianggap kurang sopan.
Langkah 2 — Saat Rapat Berlangsung
Investor AS heran mengapa rapat "molor" dari agenda. Manajer BCA merasa investor "terburu-buru dan tidak menghargai hubungan". Tanpa kesadaran konteks tinggi-rendah, kedua pihak bisa salah menilai profesionalisme lawan bicara — padahal keduanya sama profesionalnya, hanya berbeda logika.
Bagian 2 dari 3
Kekuasaan dalam Komunikasi Antarbudaya
Siapa yang berbicara, siapa yang didengar, dan mengapa
Kekuasaan sebagai Dimensi Budaya: Power Distance
Power Distance Index (PDI) — sejauh mana anggota masyarakat dengan kekuasaan lebih rendah menerima bahwa kekuasaan didistribusikan tidak merata (Hofstede).
PDI Tinggi
Hierarki dihormati & jarang dipertanyakan; komunikasi mengalir top-down; contoh: Indonesia (78), Malaysia (104)
PDI Rendah
Hierarki cair, bawahan bebas berpendapat; komunikasi dua arah dianggap wajar; contoh: Austria (11), Denmark (18)
Kekuasaan bukan hanya soal jabatan formal — ia beroperasi lewat bahasa (tingkat tutur), ruang (siapa duduk di mana), dan giliran bicara (siapa boleh memotong pembicaraan siapa).
Coba Sendiri: Jelajahi Radar Power Distance Antarnegara
Geser pilihan negara untuk membandingkan skor Power Distance dan lima dimensi Hofstede lain dalam bentuk radar interaktif.
Hitung dari Nol: Jarak Kekuasaan Indonesia — Jepang
Membandingkan dua budaya high-context yang berbeda struktur kekuasaannya, memakai skor Hofstede yang sama seperti sebelumnya.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Ambil skor PDI
Indonesia = 78, Jepang = 54
—
2. Selisih PDI
|78 − 54|
24
3. Ambil skor IDV
Indonesia = 14, Jepang = 46
—
4. Selisih IDV
|14 − 46|
32
5. Rata-rata selisih (indeks jarak)
(24 + 32) / 2
28
6. Kategorikan (skala 0-100)
28 → di bawah titik tengah
Jarak Budaya SEDANG
Indeks Jarak Budaya
28 / 100
Lebih dekat dari Indonesia-AS (57,5) — tapi hierarki kekuasaan tetap terasa berbeda nuansanya
Kekuasaan Lewat Bahasa: Speech Codes & Kesantunan
Tingkat Tutur (Speech Codes)
Bahasa Jawa: ngoko (akrab/bawahan) vs krama (hormat/atasan) — pilihan kata menandai posisi kekuasaan
Bahasa Jepang: keigo (bahasa hormat) wajib pada atasan & klien
Bahasa Indonesia: "Bapak/Ibu" vs "kamu" menandai jarak kekuasaan sosial
Teori Kesantunan (Brown & Levinson)
Semakin besar jarak kekuasaan antara pembicara, semakin banyak strategi kesantunan tidak langsung dipakai untuk menjaga "muka" (face) lawan bicara.
Ke atasan: "Mungkin bisa dipertimbangkan..."
Ke bawahan: instruksi bisa langsung
Kekuasaan Struktural: Hegemoni & Standpoint
Hegemoni Budaya
Kelompok dominan menormalkan nilai dan bahasanya sebagai "standar", sementara kelompok lain harus beradaptasi. Contoh: bahasa Inggris sebagai bahasa bisnis internasional default, meski mayoritas peserta rapat bukan penutur asli.
Standpoint Theory
Posisi sosial seseorang (gender, kelas, etnis) membentuk sudut pandang & pengalaman komunikasinya. Karyawan perempuan & karyawan daerah sering mengalami dinamika kekuasaan berbeda dari rekan pria di kota besar dalam rapat yang sama.
Kekuasaan dalam komunikasi antarbudaya sering tidak terlihat oleh kelompok dominan justru karena mereka tidak perlu menyadarinya — inilah yang membuatnya sulit diubah tanpa kesadaran eksplisit.
Studi Kasus: Rapat Regional MNC di Jakarta
Skenario: Rapat regional Asia Tenggara sebuah perusahaan multinasional consumer goods diadakan di kantor pusat Jakarta, dipimpin direktur regional asal Singapura.
Langkah 1 — Setting Kekuasaan
Bahasa Inggris otomatis dipakai meski mayoritas peserta orang Indonesia & Thailand yang bahasa Inggrisnya bukan bahasa ibu. Direktur regional duduk di kepala meja — posisi ruang menegaskan hierarki sebelum kata pertama diucapkan.
Langkah 2 — Dinamika Bicara
Manajer Indonesia yang punya data pasar lokal terkuat justru paling jarang bicara karena kombinasi PDI tinggi (segan pada atasan) & hambatan bahasa. Ide terbaik soal pasar lokal berisiko tidak tersampaikan — bukan karena kurang kompeten, tapi karena struktur kekuasaan komunikasi tidak mendukungnya bicara.
Bagian 3 dari 3
Sejarah Makro & Interaksi Individu
Mengapa masa lalu bangsa membentuk percakapan hari ini
Enam Pendekatan Sejarah (Martin & Nakayama)
Politik
Perang, penjajahan, perjanjian antarnegara yang membentuk batas & hubungan kekuasaan
Intelektual
Ide & sistem pemikiran yang menyebar lewat pendidikan & literatur
Sosial
Perubahan struktur masyarakat kelas menengah, urbanisasi, migrasi
Keluarga
Sejarah pribadi & leluhur yang diwariskan lewat cerita keluarga
Budaya
Tradisi, ritual, & nilai kolektif kelompok dari generasi ke generasi
Komunikasi
Bagaimana media & teknologi komunikasi berubah antarwaktu (surat → radio → internet)
Dari Sejarah Makro ke Interaksi Mikro
Ketika Anda bernegosiasi dengan kolega, sebenarnya Anda sedang membawa warisan sejarah berlapis-lapis ke meja perundingan — meski tak ada yang menyebutnya secara eksplisit.
Studi Kasus: Warisan Kolonial & Budaya Organisasi Indonesia
Langkah 1 — Akar Historis
Sistem administrasi kolonial Belanda (1800-an-1942) membangun birokrasi berlapis dengan garis komando tegas & jarak sosial antara pejabat (Eropa/priayi) dan rakyat. Pola ini diwariskan ke birokrasi Indonesia pasca-kemerdekaan.
Langkah 2 — Jejak di Organisasi Hari Ini
Skor PDI Indonesia yang tinggi (78) sebagian dijelaskan warisan ini: hierarki formal ketat, gelar & jabatan sangat dihormati, komunikasi ke atas cenderung tidak langsung — pola yang masih terasa di banyak BUMN & instansi pemerintah hari ini.
Latihan Kelompok: Membaca Kasus Negosiasi
Instruksi: Berkelompok 4-5 orang. Baca skenario berikut — perusahaan logistik Indonesia bernegosiasi kontrak jangka panjang dengan perusahaan pelayaran asal Korea Selatan yang baru masuk pasar Indonesia.
Tugas (15 menit diskusi + 10 menit presentasi singkat)
Identifikasi minimal 2 dimensi budaya yang mungkin berbeda antara kedua pihak (gunakan konsep konteks tinggi-rendah & power distance)
Identifikasi 1 dinamika kekuasaan yang berpotensi muncul dalam rapat (bahasa, ruang, giliran bicara)
Identifikasi 1 faktor sejarah makro yang relevan (mis. sejarah hubungan dagang Indonesia-Korea, industrialisasi Korea Selatan)
Tuliskan 1 rekomendasi konkret agar negosiasi berjalan lebih lancar
Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 3
Yang Sudah Kita Pelajari
Budaya = sistem nilai & asumsi yang sebagian besar tersembunyi (gunung es)
Komunikasi = proses encoding-decoding yang dipengaruhi konteks tinggi/rendah
Kekuasaan beroperasi lewat bahasa, ruang, & giliran bicara — sering tak disadari kelompok dominan
Sejarah makro mengalir turun lewat institusi ke interaksi individu sehari-hari
Pertemuan 3: Pembentukan Identitas Budaya
Minggu depan kita bahas bagaimana identitas budaya seseorang terbentuk (bukan given, tapi hasil proses) — bekal langsung untuk memahami mengapa individu dari budaya "sama" pun bisa berkomunikasi sangat berbeda.