stdsquare²
🎓 Kelas
stdsquare / materi / slides / pertemuan-02
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
‹ Daftar slide Pertemuan 2: Budaya, Kekuasaan, dan Sejarah — hubungan antara budaya, komunikasi, konteks, dan kekuasaan, pengaruh sejarah makro terhadap interaksi individu
RPS minggu 2 · 2x50 menit

Budaya, Kekuasaan, dan Sejarah

Hubungan antara budaya, komunikasi, konteks, dan kekuasaan — pengaruh sejarah makro terhadap interaksi individu

Intercultural Communication and Negotiation Skills · Program Studi Manajemen FEB UNDIP

Bagian 1 dari 3
Tiga Konsep Kunci: Budaya, Komunikasi, Konteks

Membangun definisi kerja sebelum masuk ke kekuasaan dan sejarah

Apa Itu Budaya? Model Gunung Es

Tampak: makanan,bahasa, pakaian, seniTersembunyi: nilai,asumsi, keyakinan,konsep waktu & kekuasaanpermukaan air
Definisi Kerja

Budaya = sistem nilai, keyakinan, dan makna bersama yang dipelajari (bukan bawaan lahir) dan diwariskan lintas generasi suatu kelompok (Martin & Nakayama).

  • Dipelajari — bukan genetik, mis. cara menyapa atasan di kantor Pertamina berbeda dengan startup digital
  • Dinamis — berubah, mis. budaya kerja generasi Z di Gojek vs generasi sebelumnya
  • Sebagian besar tak terlihat — 90% ada di bawah "permukaan air"

Komunikasi Antarbudaya: Proses Dasar

Komunikasi = proses simbolis encoding-decoding makna yang dipengaruhi latar belakang budaya pengirim dan penerima pesan.

Encoding
Pengirim menerjemahkan maksud ke simbol (kata, nada, gestur) sesuai budayanya
Noise / Konteks
Gangguan & asumsi budaya membelokkan makna saat pesan berpindah
Decoding
Penerima menafsirkan simbol memakai kerangka budayanya sendiri — bisa berbeda dari maksud pengirim
Komunikasi antarbudaya terjadi ketika encoding dan decoding dilakukan oleh orang dari sistem budaya berbeda — di sinilah peluang salah paham paling besar, misalnya anggukan kepala yang berarti "ya" di Indonesia tapi bisa berarti "saya mendengar" (bukan setuju) di beberapa budaya lain.

Konteks Tinggi vs Konteks Rendah (Edward Hall)

High-Context

Makna banyak tersirat pada konteks, hubungan, dan nonverbal — bukan pada kata-kata eksplisit.

  • Indonesia, Jepang, Tiongkok, Arab
  • Negosiasi bisnis: dimulai basa-basi & membangun hubungan (guanxi/silaturahmi) dulu
  • "Tidak" jarang diucapkan langsung — dihaluskan lewat isyarat
Low-Context

Makna terletak pada kata-kata eksplisit itu sendiri — pesan harus jelas dan langsung.

  • Jerman, Amerika Serikat, Belanda, Skandinavia
  • Negosiasi bisnis: langsung ke poin, kontrak tertulis rinci
  • Ketidakjelasan dianggap tidak profesional, bukan sopan

Menyatukan Tiga Konsep: Segitiga Budaya-Komunikasi-Konteks

Budayanilai & asumsiKomunikasiproses tukar maknaKontekssituasi & latarsaling membentuk,bukan berdiri sendiri
Budaya membentuk bagaimana kita berkomunikasi; konteks menentukan makna apa yang pantas disampaikan; komunikasi yang berulang lama-kelamaan membentuk kembali budaya itu sendiri (hubungan dua arah, bukan satu arah).

Hitung dari Nol: Jarak Budaya Indonesia — Amerika Serikat

Memakai dua dimensi budaya Hofstede: Power Distance Index (PDI) dan Individualism (IDV) — skor 0-100 per negara (Hofstede Insights).

LangkahPerhitunganNilai
1. Ambil skor PDIIndonesia = 78, AS = 40
2. Selisih PDI|78 − 40|38
3. Ambil skor IDVIndonesia = 14, AS = 91
4. Selisih IDV|14 − 91|77
5. Rata-rata selisih (indeks jarak)(38 + 77) / 257,5
6. Kategorikan (skala 0-100)57,5 → di atas titik tengahJarak Budaya TINGGI
Indeks Jarak Budaya
57,5 / 100
Indonesia collectivist-hierarkis vs AS individualist-egaliter

Coba Sendiri: Hitung Indeks Jarak Budaya Dua Negara

Pilih pasangan negara dan geser skor dimensi Hofstede untuk melihat indeks jarak budaya Kogut-Singh terhitung otomatis.

Studi Kasus: Rapat Bisnis AS — Indonesia

Skenario: Manajer cabang BCA di Jakarta menerima kunjungan investor dari perusahaan fintech Amerika Serikat untuk membahas kerja sama.
Langkah 1 — Sebelum Rapat

Pihak AS (low-context) mengirim agenda tertulis rinci per menit, berharap rapat langsung ke poin negosiasi. Pihak Indonesia (high-context) mengalokasikan 15-20 menit pertama untuk basa-basi dan membangun hubungan personal — tanpa ini dianggap kurang sopan.

Langkah 2 — Saat Rapat Berlangsung

Investor AS heran mengapa rapat "molor" dari agenda. Manajer BCA merasa investor "terburu-buru dan tidak menghargai hubungan". Tanpa kesadaran konteks tinggi-rendah, kedua pihak bisa salah menilai profesionalisme lawan bicara — padahal keduanya sama profesionalnya, hanya berbeda logika.

Bagian 2 dari 3
Kekuasaan dalam Komunikasi Antarbudaya

Siapa yang berbicara, siapa yang didengar, dan mengapa

Kekuasaan sebagai Dimensi Budaya: Power Distance

Power Distance Index (PDI) — sejauh mana anggota masyarakat dengan kekuasaan lebih rendah menerima bahwa kekuasaan didistribusikan tidak merata (Hofstede).

PDI Tinggi
Hierarki dihormati & jarang dipertanyakan; komunikasi mengalir top-down; contoh: Indonesia (78), Malaysia (104)
PDI Rendah
Hierarki cair, bawahan bebas berpendapat; komunikasi dua arah dianggap wajar; contoh: Austria (11), Denmark (18)
Kekuasaan bukan hanya soal jabatan formal — ia beroperasi lewat bahasa (tingkat tutur), ruang (siapa duduk di mana), dan giliran bicara (siapa boleh memotong pembicaraan siapa).

Coba Sendiri: Jelajahi Radar Power Distance Antarnegara

Geser pilihan negara untuk membandingkan skor Power Distance dan lima dimensi Hofstede lain dalam bentuk radar interaktif.

Hitung dari Nol: Jarak Kekuasaan Indonesia — Jepang

Membandingkan dua budaya high-context yang berbeda struktur kekuasaannya, memakai skor Hofstede yang sama seperti sebelumnya.

LangkahPerhitunganNilai
1. Ambil skor PDIIndonesia = 78, Jepang = 54
2. Selisih PDI|78 − 54|24
3. Ambil skor IDVIndonesia = 14, Jepang = 46
4. Selisih IDV|14 − 46|32
5. Rata-rata selisih (indeks jarak)(24 + 32) / 228
6. Kategorikan (skala 0-100)28 → di bawah titik tengahJarak Budaya SEDANG
Indeks Jarak Budaya
28 / 100
Lebih dekat dari Indonesia-AS (57,5) — tapi hierarki kekuasaan tetap terasa berbeda nuansanya

Kekuasaan Lewat Bahasa: Speech Codes & Kesantunan

Tingkat Tutur (Speech Codes)
  • Bahasa Jawa: ngoko (akrab/bawahan) vs krama (hormat/atasan) — pilihan kata menandai posisi kekuasaan
  • Bahasa Jepang: keigo (bahasa hormat) wajib pada atasan & klien
  • Bahasa Indonesia: "Bapak/Ibu" vs "kamu" menandai jarak kekuasaan sosial
Teori Kesantunan (Brown & Levinson)

Semakin besar jarak kekuasaan antara pembicara, semakin banyak strategi kesantunan tidak langsung dipakai untuk menjaga "muka" (face) lawan bicara.

  • Ke atasan: "Mungkin bisa dipertimbangkan..."
  • Ke bawahan: instruksi bisa langsung

Kekuasaan Struktural: Hegemoni & Standpoint

Hegemoni Budaya

Kelompok dominan menormalkan nilai dan bahasanya sebagai "standar", sementara kelompok lain harus beradaptasi. Contoh: bahasa Inggris sebagai bahasa bisnis internasional default, meski mayoritas peserta rapat bukan penutur asli.

Standpoint Theory

Posisi sosial seseorang (gender, kelas, etnis) membentuk sudut pandang & pengalaman komunikasinya. Karyawan perempuan & karyawan daerah sering mengalami dinamika kekuasaan berbeda dari rekan pria di kota besar dalam rapat yang sama.

Kekuasaan dalam komunikasi antarbudaya sering tidak terlihat oleh kelompok dominan justru karena mereka tidak perlu menyadarinya — inilah yang membuatnya sulit diubah tanpa kesadaran eksplisit.

Studi Kasus: Rapat Regional MNC di Jakarta

Skenario: Rapat regional Asia Tenggara sebuah perusahaan multinasional consumer goods diadakan di kantor pusat Jakarta, dipimpin direktur regional asal Singapura.
Langkah 1 — Setting Kekuasaan

Bahasa Inggris otomatis dipakai meski mayoritas peserta orang Indonesia & Thailand yang bahasa Inggrisnya bukan bahasa ibu. Direktur regional duduk di kepala meja — posisi ruang menegaskan hierarki sebelum kata pertama diucapkan.

Langkah 2 — Dinamika Bicara

Manajer Indonesia yang punya data pasar lokal terkuat justru paling jarang bicara karena kombinasi PDI tinggi (segan pada atasan) & hambatan bahasa. Ide terbaik soal pasar lokal berisiko tidak tersampaikan — bukan karena kurang kompeten, tapi karena struktur kekuasaan komunikasi tidak mendukungnya bicara.

Bagian 3 dari 3
Sejarah Makro & Interaksi Individu

Mengapa masa lalu bangsa membentuk percakapan hari ini

Enam Pendekatan Sejarah (Martin & Nakayama)

Politik
Perang, penjajahan, perjanjian antarnegara yang membentuk batas & hubungan kekuasaan
Intelektual
Ide & sistem pemikiran yang menyebar lewat pendidikan & literatur
Sosial
Perubahan struktur masyarakat kelas menengah, urbanisasi, migrasi
Keluarga
Sejarah pribadi & leluhur yang diwariskan lewat cerita keluarga
Budaya
Tradisi, ritual, & nilai kolektif kelompok dari generasi ke generasi
Komunikasi
Bagaimana media & teknologi komunikasi berubah antarwaktu (surat → radio → internet)

Dari Sejarah Makro ke Interaksi Mikro

Sejarah Makrokolonialisme, kebijakan negara, perang, migrasi besarStruktur Sosial & Institusisistem pendidikan, hierarki organisasi, norma bahasaInteraksi Individupercakapan, rapat, negosiasi harian
Ketika Anda bernegosiasi dengan kolega, sebenarnya Anda sedang membawa warisan sejarah berlapis-lapis ke meja perundingan — meski tak ada yang menyebutnya secara eksplisit.

Studi Kasus: Warisan Kolonial & Budaya Organisasi Indonesia

Langkah 1 — Akar Historis

Sistem administrasi kolonial Belanda (1800-an-1942) membangun birokrasi berlapis dengan garis komando tegas & jarak sosial antara pejabat (Eropa/priayi) dan rakyat. Pola ini diwariskan ke birokrasi Indonesia pasca-kemerdekaan.

Langkah 2 — Jejak di Organisasi Hari Ini

Skor PDI Indonesia yang tinggi (78) sebagian dijelaskan warisan ini: hierarki formal ketat, gelar & jabatan sangat dihormati, komunikasi ke atas cenderung tidak langsung — pola yang masih terasa di banyak BUMN & instansi pemerintah hari ini.

Latihan Kelompok: Membaca Kasus Negosiasi

Instruksi: Berkelompok 4-5 orang. Baca skenario berikut — perusahaan logistik Indonesia bernegosiasi kontrak jangka panjang dengan perusahaan pelayaran asal Korea Selatan yang baru masuk pasar Indonesia.
Tugas (15 menit diskusi + 10 menit presentasi singkat)
  • Identifikasi minimal 2 dimensi budaya yang mungkin berbeda antara kedua pihak (gunakan konsep konteks tinggi-rendah & power distance)
  • Identifikasi 1 dinamika kekuasaan yang berpotensi muncul dalam rapat (bahasa, ruang, giliran bicara)
  • Identifikasi 1 faktor sejarah makro yang relevan (mis. sejarah hubungan dagang Indonesia-Korea, industrialisasi Korea Selatan)
  • Tuliskan 1 rekomendasi konkret agar negosiasi berjalan lebih lancar

Ringkasan & Jembatan ke Pertemuan 3

Yang Sudah Kita Pelajari
  • Budaya = sistem nilai & asumsi yang sebagian besar tersembunyi (gunung es)
  • Komunikasi = proses encoding-decoding yang dipengaruhi konteks tinggi/rendah
  • Kekuasaan beroperasi lewat bahasa, ruang, & giliran bicara — sering tak disadari kelompok dominan
  • Sejarah makro mengalir turun lewat institusi ke interaksi individu sehari-hari
Pertemuan 3: Pembentukan Identitas Budaya

Minggu depan kita bahas bagaimana identitas budaya seseorang terbentuk (bukan given, tapi hasil proses) — bekal langsung untuk memahami mengapa individu dari budaya "sama" pun bisa berkomunikasi sangat berbeda.