Persiapan P2: desain Global Supply Chain & strategi sourcing
Posisi dalam alur 14 pertemuan: fondasi konseptual sebelum kita membahas desain GSC (P2-3), lingkungan global (P4-6), risiko (P8-10), sistem informasi (P11-12), dan teknologi (P13-14).
Mengapa GOM Lebih Kompleks dari Operasi Domestik
Global operations mengelola dimensi yang tidak ada di operasi domestik: lintas-batas negara, lintas-mata uang, lintas-budaya, lintas-regulasi, dan lintas-zona waktu.
Arus FDI Global
~USD 1,3 T
UNCTAD WIR ~2024, dihedge ~
Realisasi PMA Indonesia
~Rp 800 T
BKPM 2024, dihedge ~
Pertanyaan pemantik: mengapa produksi iPhone tersebar di Tiongkok, India, dan Vietnam, sementara desain terpusat di Cupertino? Jawabannya ada di keputusan GOM strategis yang akan kita bedah sepanjang semester.
Bagian 1 · 1/4
Definisi GOM & Mengapa Berbeda
Diskusi kelas: dari pengalaman Anda atau keluarga yang bekerja di MNC, apa tantangan operasi global yang paling terasa?
Definisi Global Operations Management (Krajewski)
Global Operations Management (GOM) adalah perencanaan, pengelolaan, dan optimalisasi aktivitas produksi dan jasa yang melibatkan jaringan plant, supplier, dan customer di lebih dari satu negara, dengan tujuan mengintegrasikan efisiensi, responsif, dan pembelajaran lintas-batas.
Pilar 1
Efisiensi — cost competitive via scale & location
Pilar 2
Responsif — adaptasi pasar lokal & customer
Pilar 3
Pembelajaran — transfer knowledge lintas-batas
Inti: GOM mengelola trade-off antara efisiensi (standardisasi global) dan responsif (adaptasi lokal) — paradigma klasik Bartlett-Ghoshal "integration-responsiveness" yang akan jadi lensa sepanjang semester.
Operasi Domestik vs Global — Lima Dimensi Pembeda
Lima dimensi yang paling jelas membedakan operasi domestik dari operasi global.
Dimensi
Domestik
Global
Ruang lingkup
Satu negara
Multi-negara, multi-region
Supplier network
Lokal dominan
Lintas-negara, lintas-benua
Mata uang
Tunggal
Multi-currency, exposure valas
Regulasi
Satu kerangka hukum
Bea cukai, FTA, ISO, sanctions
Budaya kerja
Homogen
Hofstede 6 dimensi, cross-cultural
Kerangka Cohen-Huchzermeier (1999) — Tiga Pilar Desain GSC
Tiga dimensi yang harus Anda optimasi saat mendesain global supply chain.
Trade-off klasik: wholly owned memberi kontrol penuh tetapi modal besar & risiko politik; JV bagi risiko tetapi kontrol terbatas; contract manufacturing paling fleksibel tetapi IP risk.
Hitung dari Nol: Konfigurasi SC Astra Toyota
Skenario: Toyota memproduksi model Innova dan Avanza untuk pasar ASEAN. Plant di Indonesia (Karawang), Thailand (Gateway), India (Bidadi). Demand ASEAN 2024: Indonesia 200rb unit, Thailand 150rb, Filipina 80rb, Vietnam 60rb, Malaysia 90rb. Capacity plant: Indonesia 250rb, Thailand 200rb, India 180rb. Hitung (a) total demand vs total capacity, (b) strategi alokasi optimal, (c) implikasi koordinasi.
Komponen
Perhitungan
Nilai
Total demand ASEAN
200+150+80+60+90
580.000 unit
Total capacity plant
250+200+180
630.000 unit
Utilization rate
580.000 / 630.000
~92%
Surplus capacity
630.000 − 580.000
50.000 unit (export non-ASEAN)
Implikasi koordinasi
3 plant
Toyota Production System distandarkan; supplier network sebagian shared (Denso, Aisin) & sebagian lokal; inventory buffer via JIT regional
Bagian 2 · 2/4
Dunning OLI & Ferdows Plant Chartering
Diskusi kelas: dari pengamatan Anda, faktor apa yang paling membedakan operasi Toyota di Indonesia dari di Jepang?
Dunning OLI Paradigm — Mengapa MNC Pilih Lokasi Tertentu
John Dunning (1977) mengidentifikasi tiga keunggulan yang menjelaskan Foreign Direct Investment: Ownership, Location, Internalization.
O & L
Ownership — keunggulan perusahaan (brand, teknologi, manajemen) yang transferable lintas-negara
Location — keunggulan lokasi (cost, market, talent, resource, regulasi) yang tidak mobile
I & Implikasi
Internalization — keunggulan build vs outsource (kontrol IP, transaction cost)
Implikasi — MNC lakukan FDI bila O + L + I lebih besar dari lisensi/export
Contoh Indonesia: Toyota (Ownership: TPS & brand) memilih Indonesia (Location: market besar 280 juta + ASEAN hub) via wholly owned & JV (Internalization: kontrol teknologi engine).
Ferdows Plant Chartering — Lima Peran Plant di Jaringan Global
Kasra Ferdows (1997) mengidentifikasi enam peran plant berdasarkan dua dimensi: strategic contribution (primary/secondary) dan reason for location (access to market / low-cost / access to skill).
Peran Plant
Alasan Lokasi
Strategic Contribution
Contoh Toyota
Offshore
Low-cost
Secondary (production only)
Toyota di Vietnam (cost labor rendah)
Server
Market access
Secondary (regional market)
Toyota Indonesia untuk ASEAN
Outpost
Skill access
Secondary (R&D, learning)
Toyota R&D di Silicon Valley
Contributor
Market or low-cost
Primary (production + improvement)
Toyota Thailand IMV pickup hub
Lead
Skill access
Primary (innovation, global)
Toyota Motomachi Jepang (model plant)
Path karir plant: banyak plant mulai sebagai offshore/server, lalu naik ke contributor/lead seiring maturity dan akumulasi capability — Indonesia Toyota sudah dijalur contributor untuk IMV platform.
Kombinasi Cohen-Huchzermeier × Ferdows
Menggabungkan kedua kerangka memberi peta diagnostik untuk strategi global operations MNC manapun.
Diskusi: di mana posisi perusahaan Indonesia tempat Anda bekerja atau kenal di peta ini? Peran plant-nya apa?
Hitung dari Nol: Estimasi Landed Cost Komponen Otomotif
Skenario: Astra Toyota Indonesia impor engine komponen dari Jepang. Harga ex-work Jepang USD 500/unit. Volume 50.000 unit/tahun. Freight Jepang-Jakarta USD 20/unit. Asuransi USD 5/unit. Duty 7,5% (FKM Indonesia-Japan). PPN impor 10%. PPnBM 0% (komponen otomotif non-mewah). Biaya handling pelabuhan Rp 200.000/unit. Kurs USD/IDR 16.000. Hitung landed cost per unit dalam IDR.
Komponen
Perhitungan
Nilai (IDR)
Harga ex-work
500 × 16.000
8.000.000
Freight
20 × 16.000
320.000
Asuransi
5 × 16.000
80.000
CIF value
8.000.000 + 320.000 + 80.000
8.400.000
Duty 7,5%
7,5% × 8.400.000
630.000
Nilai pabean + duty
8.400.000 + 630.000
9.030.000
PPN impor 10%
10% × 9.030.000
903.000
Handling pelabuhan
fixed
200.000
Landed cost total
9.030.000 + 903.000 + 200.000
10.133.000
Markup landed vs ex-work
~27%
Landed cost 10,1 juta vs ex-work 8 juta = biaya tambahan 27% untuk freight, duty, PPN, handling
Bagian 3 · 3/4
Global Value Chain & Posisi Indonesia
Diskusi kelas: di peta global value chain, di mana posisi Indonesia saat ini — upstream (raw material) atau downstream (assembly)?
Global Value Chain (GVC) & OECD TiVA
Global Value Chain adalah fragmentasi produksi lintas-negara di mana setiap tahap (R&D, manufacturing, logistik, marketing) dapat dilakukan di negara berbeda.
OECD TiVA — Trade in Value Added
Metrik baru: value added per negara, bukan gross export
Indonesia share GVC ~
Service value-added share naik — bukan hanya manufacturing
Smile Curve (Meng, 2005)
Upstream R&D, design — value added tinggi
Middle Manufacturing, assembly — value added rendah
Downstream Brand, marketing, service — value added tinggi
Indonesia banyak di "middle" smile curve (assembly, raw material extraction); tantangan: naik ke upstream (R&D, design) atau downstream (brand, marketing).
Studi Kasus: Astra Toyota-Astra Motor (AHM)
Astra Honda Motor dan Toyota Astra Motor adalah contoh GOM Indonesia paling matang dengan supply chain terintegrasi regional ASEAN.
Profil AHM
Joint venture Astra International & Honda Japan (50-50 ~)
Plant di Sunter dan Cikarang
Capacity ~5,8 juta unit/tahun (motorcycle)
Local content >90% untuk bebek, ~50-60% untuk skutik
Praktik GOM Kunci
JIT delivery dari supplier Tier 1 di Karawang
Toyota Production System di Toyota, Honda Cara di AHM
Export ke ASEAN dan Afrika untuk model tertentu
Talent development via Astra Management Development
Pelajaran GOM: Indonesia bukan hanya market besar tetapi juga manufacturing base yang competitive untuk ASEAN dan beyond — bila supply chain ecosystem didukung.
Tantangan Utama GOM Kontemporer
Empat tantangan besar yang dihadapi praktisi GOM di era 2020-an.
Tantangan Internal
Geopolitical disruption — perang dagang US-China, Russia-Ukraine, Red Sea attacks
Supply chain resilience — chip crisis 2021-2023, pandemi, bencana alam
Digital transformation — Industry 4.0, AI, IoT, ERP global
Hitung dari Nol: Total Landed Cost Comparison Sourcing
Skenario: Perusahaan otomotif Indonesia butuh 100.000 unit komponen X/tahun. Tiga opsi: (A) import dari Tiongkok ex-work USD 10 + freight USD 1,5 + duty 15% + PPN 10%, (B) import dari Thailand via ACFTA FTA duty 0%, (C) produksi lokal di Indonesia cost Rp 220.000/unit. Kurs USD/IDR 16.000. Opsi mana yang paling ekonomis?
Opsi
Ex-work/Freight
Duty
PPN
Landed (IDR)
A. Tiongkok
(10+1,5)×16k = Rp 184k
15% × 184k = Rp 27,6k
10% × (184+27,6)k = Rp 21,2k
Rp 232,8k
B. Thailand (ACFTA)
(10+1,5)×16k = Rp 184k
0% (FTA)
10% × 184k = Rp 18,4k
Rp 202,4k
C. Lokal Indonesia
—
—
—
Rp 220k
Pemenang
Opsi B
Thailand via ACFTA FTA paling ekonomis Rp 202,4k; ikut Opsi C lokal Rp 220k; Opsi A Tiongkok tariff paling mahal Rp 232,8k. FTA memberi Thailand cost advantage 13% vs Tiongkok.
Bagian 4 · 4/4
Peta 14 Pertemuan & Kontrak Belajar
Diskusi kelas: dari 14 topik di RPS, mana yang paling Anda tunggu, dan mana yang menurut Anda paling sulit?
Roadmap Semester & Aturan Main Kelas
14 pertemuan dipetakan ke 6 Sub-CPMK dengan tugas terstruktur tiap blok.
Blok I-III (P1-7)
Blok I (P1-3) Sub-CPMK1-2: Pengantar, desain GSC, network design
Blok II (P4-6) Sub-CPMK3: Lingkungan budaya, ekonomi-legal, ISO
Blok III (P7) Sub-CPMK3: Strategi produksi & distribusi
UTS (P8): integrasi blok I-III
Blok IV-VI (P9-14)
Blok IV (P8-10) Sub-CPMK4: Manajemen risiko, resilience, risiko kontemporer
Blok V (P11-12) Sub-CPMK5: Sistem informasi, Industry 4.0, IoT
Blok VI (P13-14) Sub-CPMK6: Teknologi emerging, ringkasan semester
UAS (P16): integrasi penuh
Aturan: kehadiran ≥80%, 6 tugas terstruktur, UTS, UAS, partisipasi diskusi. Bobot mengikuti RPS GOM EMJ1624-7030.
Ringkasan & Persiapan Pertemuan 2
Apa yang sudah kita pelajari hari ini dan apa yang akan datang minggu depan.
Indonesia mini-case: garments Indonesia vs Vietnam
Persiapan P2: baca Krajewski bab 8 (Supply Chain Design) & bab 11 (Global Supply Chain); refresh widget landed-cost-importir untuk simulasi sourcing; bawa satu perusahaan Indonesia yang ingin Anda analisis strategi sourcing-nya.