‹ Daftar slidePertemuan 8: Penganggaran Modal Internasional: Penyesuaian NPV untuk Proyek Lintas Negara
RPS minggu 8 · 2x50 menit
Penganggaran Modal Internasional
Penyesuaian NPV untuk Proyek Lintas Negara
Finance of International Business — Pertemuan 8
Bagian 1
Dari NPV Domestik ke NPV Internasional
Mengapa arus kas proyek dan arus kas ke induk perusahaan bisa sangat berbeda nilainya
Kenapa Proyek Lintas Negara Butuh Pendekatan Berbeda?
NPV Domestik (yang sudah Anda pelajari)
Satu mata uang, satu sistem pajak, satu regulator
Arus kas proyek = arus kas yang diterima pemegang saham
Discount rate = WACC perusahaan, relatif stabil
Risiko utama: bisnis dan pasar saja
NPV Proyek Lintas Negara (topik hari ini)
Dua mata uang, dua sistem pajak yang bisa tumpang tindih
Arus kas proyek ≠ arus kas yang sampai ke induk
Discount rate perlu penyesuaian risiko negara (country risk)
Risiko tambahan: politik, transfer dana, pajak berganda
Istilah kunci: penganggaran modal internasional (international capital budgeting) adalah proses menilai kelayakan investasi jangka panjang perusahaan di negara lain menggunakan kerangka NPV yang disesuaikan.
Dua Sudut Pandang: Proyek vs Induk Perusahaan
Kaidah penting: NPV internasional harus dihitung dari sudut pandang induk perusahaan (parent perspective), bukan sudut pandang proyek — karena pemegang saham hanya menikmati arus kas yang sampai ke rekening induk.
Dana Terblokir dan Pembatasan Repatriasi
Apa itu Blocked Funds?
Dana terblokir (blocked funds) adalah laba anak perusahaan di luar negeri yang tidak boleh atau belum boleh dikirim pulang ke induk karena aturan devisa, kontrol modal, atau kebijakan pemerintah tuan rumah.
Contoh Pemicu di Dunia Nyata
Kontrol devisa negara berkembang (mis. era krisis mata uang)
Batas repatriasi tahunan dari regulator setempat
Persyaratan reinvestasi laba minimum di negara tuan rumah
Antrean birokrasi transfer devisa yang menunda pencairan
Efeknya terhadap NPV: dana yang tertahan kehilangan nilai waktu uang — bahkan jika akhirnya cair, nilainya sudah terdiskonto lebih dalam karena tertunda.
Efek Kanibalisasi: Proyek Baru Memakan Bisnis Lama
Kanibalisasi (cannibalization) terjadi ketika investasi baru di luar negeri mengambil alih penjualan yang sebelumnya sudah dinikmati perusahaan lewat jalur lain — misalnya ekspor.
Contoh Sebelum FDI
Wings Group mengekspor produk consumer goods ke Filipina senilai USD 3 juta per tahun, dengan margin ekspor yang sudah nyaman.
Setelah Membangun Pabrik di Filipina
Sebagian pelanggan yang tadinya membeli produk impor kini membeli produk buatan pabrik baru — arus kas ekspor lama hilang, harus dikurangkan dari manfaat proyek baru.
Prinsip penilaian: gunakan incremental cash flow — arus kas tambahan bersih, bukan arus kas kotor proyek baru — persis prinsip opportunity cost yang sudah Anda kenal.
Hitung dari Nol #1: Dari Arus Kas Proyek ke Arus Kas Induk
Kasus: PT Nusantara Otomotif membangun pabrik komponen di Vietnam. Proyeksi tahun pertama (dalam ekuivalen USD).
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. EBIT proyek di Vietnam
diberikan
USD 5.000.000
2. Pajak lokal Vietnam (20%)
20% x 5.000.000
USD 1.000.000
3. Laba proyek setelah pajak (EAT)
5.000.000 − 1.000.000
USD 4.000.000
4. Tambah depresiasi (non-kas)
4.000.000 + 800.000
USD 4.800.000
5. Dana terblokir 25% (tidak boleh direpatriasi)
25% x 4.800.000
USD 1.200.000
6. Arus kas yang boleh diremitansi (remittable)
4.800.000 − 1.200.000
USD 3.600.000
7. Pajak pemotongan dividen 10% (tax treaty)
10% x 3.600.000
USD 360.000
Arus Kas ke Induk (Parent Cash Flow)
USD 3.240.000
3.600.000 − 360.000 — inilah angka yang masuk ke perhitungan NPV proyek dari sudut pandang induk
Peramalan Nilai Tukar dalam Proyeksi Arus Kas
Arus kas proyek asing harus dikonversi ke mata uang induk menggunakan nilai tukar masa depan yang diperkirakan, bukan kurs hari ini.
Recap dari Pertemuan 2–3
Paritas daya beli (PPP) memproyeksikan kurs jangka panjang
Paritas suku bunga (IRP) untuk kurs forward jangka pendek
Selisih inflasi Indonesia vs negara tujuan jadi acuan
Dampak ke Penganggaran Modal
Depresiasi mata uang lokal proyek menekan nilai arus kas terkonversi
Skenario kurs pesimis wajib disertakan sebagai uji sensitivitas
Hedging (forward/opsi) bisa mengunci sebagian risiko ini
Kaitan lintas-pertemuan: risiko translasi arus kas proyek ini adalah bentuk economic exposure yang sudah Anda pelajari di Pertemuan 4–5 — solusinya bisa memakai instrumen hedging yang sama.
Bagian 2
APV: Kerangka Penilaian Proyek Internasional
Memecah nilai proyek menjadi komponen operasional murni dan efek samping pembiayaan
Mengapa Bukan NPV Berbasis WACC Saja?
Keterbatasan NPV-WACC untuk Proyek Asing
WACC tunggal sulit menangkap pinjaman bersubsidi pemerintah tuan rumah
Insentif pajak khusus proyek sulit "dicampur" ke satu tarif diskonto
Risiko politik spesifik-negara tidak linear terhadap struktur modal
Solusi: Adjusted Present Value (APV)
APV memisahkan nilai proyek menjadi nilai operasional murni (seolah dibiayai 100% ekuitas) ditambah nilai tunai dari setiap efek samping pembiayaan, dihitung dan didiskontokan terpisah.
APV = NPV Dasar (all-equity) + Σ PV Efek Pembiayaan
Empat Komponen Utama APV
Ingat: komponen 1 dan 2 selalu menambah nilai APV; komponen 3 biasanya menambah; komponen 4 selalu mengurangi nilai APV.
Menentukan Discount Rate: Domestik vs Proyek Asing
WACC Domestik Induk
Mencerminkan risiko bisnis dan struktur modal di negara asal — belum menangkap risiko tambahan negara tuan rumah.
Required Return Proyek Asing
WACC domestik + premi risiko negara (country risk premium) yang mencerminkan ketidakstabilan politik, likuiditas pasar modal lokal, dan kualitas institusi.
r proyek asing = WACC domestik + Country Risk Premium (CRP)
CRP tipikal untuk pasar berkembang berkisar ~2–5%, tergantung peringkat kredit negara tujuan dan volatilitas historisnya — bukan angka tetap, harus diverifikasi ke sumber terkini seperti Damodaran country risk premium atau lembaga rating.
Hitung dari Nol #2: APV Lengkap — Pabrik Komponen di Vietnam
Investasi awal USD 20.000.000. PV arus kas induk 5 tahun (didiskon pada required return 12%) = USD 24.000.000.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Base-case NPV (all-equity)
24.000.000 − 20.000.000
USD 4.000.000
2. + PV tax shield pinjaman lokal
(8.000.000 x 6% x 20%) x anuitas 5thn
USD 404.000
3. + PV manfaat pembiayaan bersubsidi
(8% − 4%) x 5.000.000 x (1−20%) x anuitas
USD 639.000
4. − PV biaya asuransi risiko politik
diberikan
USD 300.000
5. APV = jumlah seluruh komponen
4.000.000+404.000+639.000−300.000
USD 4.743.000
Keputusan
APV > 0
USD 4.743.000 — proyek LAYAK dijalankan karena menambah nilai bagi pemegang saham induk
Coba Sendiri: Susun APV Proyek Lintas Negara Anda Sendiri
Ubah asumsi kurs, porsi dana terblokir, dan sumber pembiayaan (pasar vs subsidi) lalu amati bagaimana tiap komponen mengubah nilai APV akhir.
Nilai Terminal dan Perbedaan Sistem Pajak Host vs Home
Nilai Terminal Proyek Asing
Estimasi nilai sisa aset/bisnis di akhir horizon proyeksi
Harus dikonversi ke mata uang induk dengan kurs proyeksi akhir periode
Rentan terhadap pajak capital gain saat divestasi di negara tuan rumah
Perbedaan Pajak Host vs Home
Indonesia: PPh Badan 22% atas laba korporasi
Vietnam (contoh kasus): tarif korporasi ~20%
Jika tarif home > host, induk bisa dikenakan pajak tambahan atas selisih
Prinsip pajak berganda: banyak negara memakai sistem tax credit — pajak yang sudah dibayar di negara tuan rumah menjadi kredit pengurang pajak di negara asal, sepanjang ada perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B/tax treaty).
Withholding Tax dan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda
Withholding tax (pajak pemotongan) dipungut oleh negara tuan rumah saat dividen, bunga, atau royalti dikirim keluar negeri — sebelum dana sampai ke induk perusahaan.
Tanpa Tax Treaty
Tarif withholding tax bisa mencapai 15–20% dari nilai dividen yang dikirim — mengurangi signifikan arus kas ke induk.
Dengan Tax Treaty (P3B)
Tarif diturunkan lewat perjanjian bilateral, umumnya menjadi 5–10% — Indonesia memiliki P3B dengan puluhan negara mitra dagang utama.
Implikasi praktis: struktur kepemilikan (langsung vs melalui negara ketiga dengan tax treaty lebih baik) bisa memengaruhi NPV proyek secara material — ini area kerja sama erat antara tim keuangan dan tim pajak korporat.
Bagian 3
Risiko Politik, Sensitivitas, dan Keputusan Akhir
Melengkapi APV dengan uji ketahanan sebelum rekomendasi investasi disampaikan ke direksi
Risiko Politik dan Penyesuaian Discount Rate
Risiko Rendah
~1–2%
CRP tambahan — negara stabil, institusi kuat (mis. Singapura)
Risiko Sedang
~3–5%
CRP tambahan — pasar berkembang umum (mis. Vietnam, Filipina)
Risiko Tinggi
~6%+
CRP tambahan — ketidakstabilan politik signifikan
Dua pendekatan mitigasi risiko politik: (1) penyesuaian discount rate — menaikkan tingkat diskonto untuk mencerminkan risiko; (2) penyesuaian arus kas — memangkas langsung proyeksi arus kas di skenario buruk, lalu memakai asuransi risiko politik (mis. dari lembaga seperti MIGA).
Analisis Sensitivitas: Menguji Ketahanan Keputusan
Skenario
Asumsi Kunci
APV Hasil
Optimis
Kurs stabil, CRP 3%, tanpa gangguan operasional
~USD 6,2 juta
Dasar (base case)
Asumsi Hitung dari Nol #2
USD 4,74 juta
Pesimis
Mata uang lokal melemah 15%, CRP naik ke 6%
~USD 1,1 juta
Kaidah keputusan: proyek dianggap tangguh (robust) jika APV tetap positif bahkan pada skenario pesimis — bukan hanya positif di skenario dasar.
Praktik terbaik: selalu sertakan minimal tiga skenario (optimis, dasar, pesimis) dalam laporan rekomendasi investasi lintas negara — direksi jarang puas hanya dengan satu angka tunggal.
Kerangka Keputusan: Checklist Penganggaran Modal Internasional
Langkah Wajib Sebelum Rekomendasi
Hitung arus kas dari sudut pandang induk, bukan proyek
Sesuaikan dana terblokir, kanibalisasi, dan withholding tax
Gunakan APV — pisahkan nilai operasional dan efek pembiayaan
Tambahkan country risk premium yang relevan & terkini
Uji sensitivitas minimal 3 skenario kurs & risiko politik
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
Memakai EBIT proyek mentah sebagai dasar NPV
Mengabaikan pajak berganda / tidak cek tax treaty
Memakai kurs hari ini untuk seluruh proyeksi jangka panjang
Hanya melapor satu angka APV tanpa uji sensitivitas
Latihan Mandiri: Kasus PT Sinergi Pangan Nusantara
Kerjakan sebelum pertemuan berikutnya, siapkan jawaban untuk dibahas singkat di awal Pertemuan 9.
Soal Kasus
PT Sinergi Pangan Nusantara berencana membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di Ghana. Investasi awal USD 15.000.000. Proyeksi EBIT tahun pertama USD 4.000.000, tarif pajak Ghana 25%, depresiasi tahunan USD 600.000, dana terblokir kebijakan Ghana 20%, dan withholding tax dividen ke Indonesia (belum ada tax treaty) 15%.
Tugas Anda
Hitung arus kas tahun pertama yang sampai ke induk (parent cash flow)
Jelaskan dua faktor yang membuat arus kas induk lebih kecil dari EBIT proyek