‹ Daftar slidePertemuan 7: Keputusan Investasi Asing Langsung (FDI): Motif dan Evaluasi Kelayakan Investasi Lintas Negara
RPS minggu 7 · 2x50 menit
Keputusan Investasi Asing Langsung (FDI)
Motif dan Evaluasi Kelayakan Investasi Lintas Negara
Finance of International Business — Prodi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1 dari 4
Apa itu FDI dan Mengapa Perusahaan Melakukannya
Definisi, bentuk, dan motif ekonomi di balik keputusan investasi lintas negara
Definisi Foreign Direct Investment (FDI)
Definisi Inti
FDI adalah investasi yang memberikan kendali manajerial signifikan atas entitas bisnis di negara lain, biasanya ditandai kepemilikan saham ≥10% (standar IMF/OECD).
Beda dengan Portfolio Investment
FDI: kendali operasional, jangka panjang, aset fisik/manajemen
Portofolio: kepemilikan saham/obligasi pasif, mudah dijual, tanpa kendali
Contoh portofolio: investor asing beli saham BBCA di BEI tanpa duduk di direksi
Contoh riil: saat Toyota membangun pabrik perakitan di Karawang dengan direksi Jepang yang mengendalikan operasi, itu FDI. Saat dana pensiun asing membeli saham TLKM di bursa tanpa keterlibatan manajemen, itu portofolio.
Bentuk-Bentuk FDI
Greenfield
Bangun dari nol
Mendirikan fasilitas baru sepenuhnya di negara tujuan. Contoh: Hyundai membangun pabrik EV baru di Bekasi mulai 2022.
Akuisisi (Brownfield)
Beli entitas yang sudah ada
Membeli mayoritas saham perusahaan lokal yang sudah beroperasi. Contoh: Grab mengakuisisi sebagian saham perusahaan rintisan lokal.
Joint Venture
Patungan dengan mitra lokal
Kerja sama modal dan manajemen dengan perusahaan lokal. Contoh: Astra-Daihatsu Motor sebagai patungan Jepang-Indonesia.
Motif FDI: Kerangka Market-Seeking dan Resource-Seeking
Market-Seeking
Mengejar pasar baru dengan daya beli besar
Menghindari tarif impor dan biaya logistik lintas batas
Contoh: produsen otomotif membangun pabrik di Indonesia karena pasar domestik >270 juta penduduk
Resource-Seeking
Mengakses bahan baku, tenaga kerja murah, atau energi
Contoh: perusahaan nikel asing berinvestasi smelter di Sulawesi untuk akses bijih nikel
Sering berorientasi ekspor kembali ke negara asal
Glosarium: tariff jumping — strategi FDI untuk melompati hambatan tarif impor dengan berproduksi langsung di dalam negara tujuan.
Motif FDI Lanjutan: Efficiency-Seeking dan Strategic-Asset-Seeking
Motif
Tujuan Utama
Contoh Kasus
Efficiency-seeking
Optimalkan rantai produksi global, manfaatkan skala ekonomi
Perusahaan elektronik memindahkan perakitan ke Vietnam untuk efisiensi biaya
Strategic-asset-seeking
Akuisisi teknologi, merek, atau jaringan distribusi
Perusahaan teknologi mengakuisisi startup asing untuk paten dan talenta
Diversifikasi risiko
Menyebar eksposur ekonomi/politik ke banyak negara
Perusahaan tambang berinvestasi di beberapa negara agar tak bergantung satu rezim
Bagian 2 dari 4
Teori Klasik di Balik Keputusan FDI
Mengapa perusahaan memilih FDI ketimbang ekspor atau lisensi
Teori Keunggulan Kepemilikan (Ownership Advantage)
Kepemilikan keunggulan unik → nilai lebih besar jika dieksploitasi sendiri di luar negeri
Perusahaan punya aset tak berwujud unggul: merek, paten, teknologi, keahlian manajemen
Keunggulan ini sulit ditiru pesaing lokal di negara tujuan
Contoh: Unilever memakai keunggulan merek globalnya (Pepsodent, Lifebuoy) untuk mendominasi pasar Indonesia lewat anak perusahaan sendiri
Teori ini dikembangkan Stephen Hymer (1960) dan diperluas John Dunning sebagai bagian kerangka OLI (Ownership-Location-Internalization) yang akan kita singgung sebentar lagi.
Teori Internalisasi (Internalization Theory)
Masalah Pasar Eksternal
Menjual lisensi teknologi ke mitra asing berisiko: mitra bisa meniru atau membocorkan rahasia dagang
Biaya negosiasi dan pengawasan kontrak lisensi bisa tinggi
Solusi: Internalisasi
Perusahaan lebih baik mengendalikan sendiri operasi di luar negeri lewat FDI
Contoh: perusahaan farmasi memilih membangun pabrik sendiri di luar negeri ketimbang melisensikan formula obatnya ke mitra lokal
Teori Siklus Produk (Product Life Cycle Theory)
Teori Raymond Vernon (1966): produk baru diproduksi di negara asal (biasanya negara maju), lalu diekspor, lalu diproduksi lewat FDI di negara maju lain, dan akhirnya dipindah ke negara berkembang saat produk sudah terstandardisasi dan biaya jadi faktor utama.
Kerangka OLI: Sintesis Tiga Teori
O — Ownership
Keunggulan kepemilikan
Perusahaan punya aset unik: merek, teknologi, manajemen.
L — Location
Daya tarik lokasi
Negara tujuan punya keunggulan: pasar besar, biaya rendah, sumber daya.
I — Internalization
Kendali internal lebih baik
Mengendalikan sendiri lebih menguntungkan daripada lisensi/kontrak.
Ketiga syarat OLI harus terpenuhi bersamaan agar FDI menjadi pilihan rasional dibanding ekspor (tanpa L) atau lisensi (tanpa I).
Bagian 3 dari 4
Kerangka Evaluasi Kelayakan Investasi Lintas Negara
Dari analisis kualitatif ke perhitungan kelayakan kuantitatif
Kerangka Evaluasi Kelayakan FDI: Lima Dimensi
Dimensi
Fokus Analisis
Contoh Pertanyaan Kunci
Pasar
Ukuran, pertumbuhan, daya beli konsumen
Apakah permintaan cukup besar dan tumbuh?
Regulasi & politik
Kebijakan investasi asing, stabilitas politik
Adakah batasan kepemilikan asing atau risiko nasionalisasi?
Operasional
Ketersediaan tenaga kerja, infrastruktur, pemasok
Apakah rantai pasok lokal memadai?
Finansial
Biaya modal, nilai tukar, pajak
Berapa NPV proyek dalam mata uang domestik?
Risiko negara
Country risk premium, risiko mata uang
Berapa premi risiko tambahan dibanding investasi domestik?
Country Risk Premium (CRP): Konsep dan Peran
Discount Rate Proyek Luar Negeri = Rf + Beta x ERP + CRP
Rf: risk-free rate acuan (mis. SUN 10 tahun Indonesia ~7,2%)
ERP: equity risk premium pasar
CRP: premi tambahan untuk risiko spesifik negara tujuan (~2-3% untuk pasar berkembang, bervariasi per negara)
CRP mencerminkan risiko politik, risiko mata uang, dan risiko likuiditas pasar modal negara tujuan — semakin tidak stabil, semakin tinggi CRP yang ditambahkan ke discount rate.
Hitung dari Nol: Menyusun Discount Rate Proyek FDI
Kasus: perusahaan Indonesia mengevaluasi proyek FDI di negara berkembang dengan Beta proyek 1,2 dan ERP pasar 6%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Risk-free rate (Rf)
SUN 10 tahun Indonesia
~7,2%
2. Premi risiko sistematis
Beta 1,2 x ERP 6%
7,2%
3. Country risk premium (CRP)
Ditambahkan untuk negara tujuan
2,5%
4. Discount rate proyek
7,2% + 7,2% + 2,5%
16,9%
Discount Rate Proyek
16,9%
vs discount rate domestik ~14,4% (tanpa CRP)
Hitung dari Nol: Estimasi NPV Sederhana Proyek FDI
Investasi awal Rp 50 miliar, arus kas bersih tahunan Rp 12 miliar selama 3 tahun (disederhanakan), discount rate 16,9%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. PV arus kas tahun 1
12 miliar / (1+0,169)^1
Rp 10,27 miliar
2. PV arus kas tahun 2
12 miliar / (1+0,169)^2
Rp 8,78 miliar
3. PV arus kas tahun 3
12 miliar / (1+0,169)^3
Rp 7,51 miliar
4. Total PV arus kas
10,27 + 8,78 + 7,51
Rp 26,56 miliar
5. NPV
26,56 miliar - 50 miliar
Rp -23,44 miliar
Kesimpulan Sementara
NPV Negatif
Dengan asumsi arus kas 3 tahun ini, proyek belum layak — perlu horizon lebih panjang atau arus kas lebih besar untuk menutup investasi awal.
Faktor Kualitatif Pelengkap Analisis Kuantitatif
Risiko Politik
Potensi nasionalisasi atau ekspropriasi aset
Perubahan kebijakan investasi asing mendadak
Stabilitas pemerintahan dan penegakan hukum
Risiko Budaya & Operasional
Perbedaan budaya bisnis dan cara negosiasi
Ketersediaan tenaga kerja terampil lokal
Kepatuhan terhadap regulasi lokal (perizinan, ketenagakerjaan)
NPV positif tidak otomatis berarti "layak jalan" — manajer keuangan tetap harus menimbang faktor kualitatif ini sebagai bagian keputusan akhir, terutama untuk proyek besar dan jangka panjang.
Bagian 4 dari 4
Studi Kasus dan Aplikasi Kontekstual
Menerapkan kerangka motif dan kelayakan pada kasus Indonesia
Studi Kasus: Investasi Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia
Konsorsium produsen baterai asing berinvestasi membangun pabrik sel baterai EV di Indonesia, memanfaatkan cadangan nikel domestik terbesar dunia.
Motif: resource-seeking (nikel) + market-seeking (pasar EV ASEAN yang tumbuh)
OLI: Ownership (teknologi baterai), Location (cadangan nikel + insentif pemerintah), Internalization (menjaga rahasia teknologi lewat kendali penuh)
Risiko: perubahan kebijakan hilirisasi, fluktuasi harga nikel dunia, kebutuhan infrastruktur listrik
Latihan Kelas: Analisis Kelayakan FDI
Instruksi
Kerjakan berpasangan (10 menit), lalu presentasikan singkat 2 menit per pasangan.
Pilih satu perusahaan riil (Indonesia atau asing) yang melakukan FDI dalam 5 tahun terakhir
Identifikasi motif FDI-nya menggunakan kerangka market/resource/efficiency/strategic-asset-seeking
Petakan ke kerangka OLI: apa keunggulan kepemilikan, daya tarik lokasi, dan alasan internalisasinya?
Sebutkan minimal 2 risiko kualitatif yang relevan bagi keputusan investasi tersebut
Kaitan dengan Neraca Pembayaran Indonesia
FDI inflow tercatat di Financial Account neraca pembayaran (materi Pertemuan 1) sebagai kredit — memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas Rupiah dalam jangka panjang.
Kesalahan Umum dalam Evaluasi Kelayakan FDI
Kesalahan Analisis
Memakai discount rate domestik tanpa penyesuaian CRP
Mengabaikan risiko repatriasi arus kas (pembatasan transfer dana ke negara asal)
Tidak mempertimbangkan pajak ganda antarnegara
Kesalahan Strategis
Terlalu fokus pada satu motif (mis. biaya rendah) tanpa lihat risiko politik
Mengabaikan riset budaya bisnis dan regulasi ketenagakerjaan lokal
Tidak menyiapkan exit strategy jika kondisi negara tujuan memburuk
Ringkasan Pertemuan 7
FDI = investasi dengan kendali manajerial (≥10% kepemilikan), berbeda dari investasi portofolio pasif
Empat motif utama: market-seeking, resource-seeking, efficiency-seeking, strategic-asset-seeking
Kerangka OLI (Ownership-Location-Internalization) menjelaskan kapan FDI rasional dilakukan
Kelayakan finansial FDI butuh discount rate disesuaikan CRP dan analisis lima dimensi (pasar, regulasi, operasional, finansial, risiko negara)
Analisis kuantitatif (NPV) harus dilengkapi faktor kualitatif (politik, budaya, operasional)
Minggu depan (Pertemuan 8): penganggaran modal internasional — memperluas perhitungan NPV hari ini dengan penyesuaian arus kas, nilai terminal, dan repatriasi lintas negara.
📖 Baca juga: Npv Vs Irr — penjelasan mendalam dan contoh numerik.