‹ Daftar slidePertemuan 2: Strategi Model Bisnis E-Commerce: marketplace vs D2C vs social commerce
RPS minggu 2 · 2x50 menit
Strategi Model Bisnis E-Commerce
Marketplace vs D2C vs Social Commerce
Mata Kuliah E-Commerce · Program Studi Manajemen, FEB UNDIP · Pertemuan 2
Bagian 1 dari 3
Lanskap E-Commerce Indonesia & Tiga Model Bisnis Inti
Skala pasar, definisi, dan karakteristik marketplace, D2C, serta social commerce.
Pertumbuhan Pasar E-Commerce Indonesia
Skala Pasar
~Rp 700 T
estimasi nilai transaksi (GMV) e-commerce Indonesia per tahun
Pengguna Digital
~200 jt
pengguna internet aktif, mayoritas mengakses lewat perangkat mobile
Kontribusi Ekonomi Digital
~40%
pangsa e-commerce terhadap total ekonomi digital ASEAN dari Indonesia
Implikasi manajerial: pasar sebesar ini membuat pilihan model bisnis bukan keputusan operasional kecil, melainkan keputusan strategis yang menentukan struktur biaya, kontrol data pelanggan, dan kecepatan skala bisnis selama bertahun-tahun ke depan.
Tiga Model Bisnis Inti E-Commerce
Kata kunci pertemuan ini: setiap model menukar kontrol dengan jangkauan secara berbeda — memahami trade-off ini adalah inti keputusan manajerial hari ini.
Marketplace: Definisi & Karakteristik
Definisi
Platform pihak ketiga yang mempertemukan banyak penjual dengan banyak pembeli dalam satu etalase digital bersama (model many-to-many).
Platform menyediakan infrastruktur: pencarian, pembayaran, logistik
Penjual "menumpang" trafik yang sudah dibangun platform
Contoh: Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak
Karakteristik Kunci
Akuisisi pelanggan murah — trafik organik platform
Kompetisi harga ketat, mudah dibandingkan dalam satu layar
Data pelanggan dikuasai platform, bukan penjual
Struktur biaya: komisi, biaya layanan, biaya iklan internal
Hitung dari Nol: Ekonomi Transaksi di Marketplace
Kasus: UMKM menjual produk seharga Rp 150.000 per unit lewat marketplace.
Pemicu utama: live streaming, video pendek, endorsement
Karakteristik Kunci
Pembelian bersifat impulsif, dipicu konten & emosi
Jarak antara "melihat" dan "membeli" sangat pendek
Kepercayaan dibangun lewat interaksi sosial & ulasan langsung
Data perilaku kaya, tetapi tetap milik platform sosial
Funnel Social Commerce: dari Konten ke Transaksi
Bagian 2 dari 3
Perbandingan Strategis Tiga Model
Trade-off kontrol vs jangkauan, kerangka keputusan, dan strategi hybrid.
Tabel Komparasi: Marketplace vs D2C vs Social Commerce
Dimensi
Marketplace
D2C
Social Commerce
Kontrol merek & harga
Rendah
Tinggi
Sedang
Biaya akuisisi pelanggan
Rendah (trafik platform)
Tinggi (bangun sendiri)
Sedang-rendah (viral/konten)
Kepemilikan data pelanggan
Milik platform
Milik brand
Milik platform sosial
Kecepatan skala awal
Cepat
Lambat
Cepat (jika konten viral)
Struktur biaya utama
Komisi + biaya iklan internal
Iklan digital + fulfillment
Biaya konten + endorsement
Cocok untuk tahap bisnis
Awal / UMKM baru
Brand mapan / premium
Semua tahap, produk visual
Trade-off Strategis: Kontrol vs Jangkauan
Prinsip inti: tidak ada model yang "terbaik" secara absolut — hanya model yang paling sesuai dengan tahap pertumbuhan, kategori produk, dan tujuan strategis bisnis.
Kerangka Keputusan: Kapan Memilih Model Mana
Pilih Marketplace jika...
Bisnis baru mulai, modal pemasaran terbatas
Produk mudah dibandingkan (harga jadi faktor utama)
Prioritas: validasi pasar cepat, volume tinggi
Pilih D2C jika...
Merek sudah punya basis pelanggan/reputasi
Produk butuh cerita, edukasi, atau personalisasi
Prioritas: margin jangka panjang & data pelanggan
Pilih Social Commerce jika...
Produk sangat visual/mudah didemonstrasikan
Tim mampu produksi konten & live rutin
Prioritas: viralitas & interaksi komunitas
Strategi Hybrid: Menggabungkan Ketiga Model
Pola nyata di Indonesia: brand seperti Erigo dan Somethinc berjualan di marketplace untuk volume, punya situs D2C untuk margin & loyalitas, dan aktif di social commerce untuk akuisisi & konten — ketiganya diarahkan ke satu basis data pelanggan.
Bagian 3 dari 3
Studi Kasus & Aplikasi
Menerapkan kerangka keputusan pada kasus nyata UMKM dan brand Indonesia.
Studi Kasus 1: UMKM Kuliner Memilih Model Pertama
Situasi
"Dapur Bu Rina" di Semarang memproduksi keripik tempe kemasan, modal pemasaran terbatas (~Rp 3 juta/bulan), belum punya basis pelanggan digital, ingin mulai berjualan daring bulan depan.
Langkah 1 — Analisis Kondisi
Modal pemasaran kecil → tak sanggup biayai CAC D2C
Belum ada basis pelanggan → butuh jangkauan instan
Produk mudah dibandingkan harga oleh pembeli
Langkah 2 — Rekomendasi
Mulai dari marketplace untuk validasi & volume
Rintis akun social commerce paralel (biaya rendah, konten organik)
Tunda D2C sampai basis pelanggan & margin memadai
Studi Kasus 2: Transisi dari Marketplace ke D2C
Situasi
Brand skincare lokal sudah 2 tahun berjualan di marketplace, omzet stabil, tetapi margin tergerus komisi & perang harga; basis pelanggan setia mulai terbentuk lewat ulasan positif berulang.
Langkah 1 — Sinyal Waktunya Transisi
Margin tergerus komisi + perang harga sesama penjual
Ada pelanggan repeat order → potensi LTV terukur
Brand mulai dikenal → biaya akuisisi D2C jadi lebih murah
Langkah 2 — Strategi Transisi Bertahap
Bangun situs D2C paralel, tidak tutup marketplace
Tawarkan insentif eksklusif (bundel, akses awal) di D2C
Alihkan sebagian anggaran iklan ke pemasaran ulang pelanggan lama
Latihan Kelompok: Rekomendasikan Model Bisnis
Instruksi (15 menit, kelompok 4-5 orang):
Setiap kelompok mendapat 1 profil bisnis fiktif (UMKM batik, startup fesyen lokal, brand kopi kemasan, atau toko elektronik kecil)
Gunakan kerangka keputusan pertemuan ini untuk merekomendasikan model bisnis utama (boleh hybrid)
Justifikasi rekomendasi dengan minimal 1 perhitungan sederhana (mis. estimasi margin atau CAC)
Presentasikan dalam 2 menit per kelompok — siapkan argumen untuk sanggahan teman sekelas
Kriteria Penilaian Cepat
Ketepatan analisis kondisi bisnis (modal, kategori produk, tahap pertumbuhan)
Konsistensi antara rekomendasi model dan angka pendukung
Kejelasan trade-off yang disadari (bukan hanya menyebut kelebihan)
Ringkasan Pertemuan 2 & Menuju Pertemuan 3
Yang Sudah Kita Pelajari
Skala & pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia
Tiga model bisnis inti: marketplace, D2C, social commerce
Ekonomi transaksi terukur (komisi, HPP, CAC, LTV)
Kerangka keputusan & pola strategi hybrid nyata
Pertemuan 3: Perilaku Konsumen Digital
Customer journey di lingkungan digital Indonesia
Faktor pemicu keputusan beli daring
Bagaimana model bisnis memengaruhi perilaku konsumen
Bawa hasil latihan kelompok hari ini — kita akan hubungkan dengan pembahasan customer journey di pertemuan berikutnya.