Bayangkan tim desain Gojek ingin menambah fitur baru di aplikasi driver. Tanpa riset, ada dua jalan — dan hanya satu yang aman:
JALAN TEBAK-TEBAKAN
ASUMSI TIM
Desainer merancang berdasar "menurut saya driver pasti mau fitur ini" — cepat, tapi berisiko tinggi meleset dari kebutuhan nyata di lapangan.
JALAN RISET
DATA PENGGUNA
Desainer bicara/mengamati driver asli sebelum menggambar apa pun — lebih lambat, tapi fondasinya nyata, bukan tebakan.
Riset pengguna itu bukan langkah "opsional bila sempat" — ia adalah asuransi agar produk yang dibangun tim developer tidak dibuang percuma karena ternyata tak ada yang butuh.
Riset Pengguna = Jantung Tahap "Empathize"
Minggu lalu Anda mengenal lima tahap Design Thinking. Riset pengguna adalah alat utama tahap pertama: Empathize (berempati).
Tanpa riset yang solid di tahap Empathize, tahap Define (merumuskan masalah, minggu 4) akan dibangun di atas asumsi yang salah — seperti membangun rumah tanpa survei tanah dulu.
Dua Jenis Data: Kualitatif vs Kuantitatif
Setiap metode riset pengguna menghasilkan salah satu (atau kombinasi) dari dua jenis data ini. Memahami perbedaannya menentukan metode mana yang Anda pilih.
Kualitatif — "MENGAPA"
Data berupa cerita, kata-kata, perasaan
Jumlah partisipan sedikit (5–10 orang)
Contoh alat: wawancara, observasi mendalam
Cocok untuk menggali motivasi di balik perilaku
Kuantitatif — "BERAPA BANYAK"
Data berupa angka yang bisa dihitung
Jumlah partisipan banyak (puluhan–ribuan)
Contoh alat: survei/kuesioner berskala
Cocok untuk memvalidasi pola di populasi luas
Tim UI/UX profesional (BCA mobile, Tokopedia) biasanya memakai keduanya secara berurutan: wawancara kualitatif dulu untuk menemukan hipotesis, lalu survei kuantitatif untuk mengukur seberapa luas hipotesis itu berlaku.
Bagian 1 dari 3
Metode Wawancara
Menggali cerita dan motivasi pengguna lewat percakapan satu-satu yang terstruktur.
Wawancara: Definisi dan Kapan Dipakai
Wawancara (interview) adalah percakapan terarah satu lawan satu antara periset dan satu pengguna, untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan motivasinya secara mendalam.
TERSTRUKTUR
DAFTAR TETAP
Pertanyaan sudah ditentukan penuh, urutan sama untuk semua partisipan — mudah dibandingkan.
SEMI-TERSTRUKTUR
PALING UMUM
Ada panduan pertanyaan inti, tapi periset bebas menggali lebih dalam ("probing") saat menarik.
TAK TERSTRUKTUR
MENGALIR BEBAS
Tanpa daftar tetap, mengalir seperti obrolan — cocok tahap eksplorasi awal yang sangat terbuka.
Gunakan wawancara saat Anda perlu memahami konteks dan alasan di balik perilaku — misalnya, mengapa mahasiswa UNDIP jarang memakai aplikasi SIAP untuk mengecek KRS-nya.
Membangun Pertanyaan yang Menggali, Bukan Menjebak
Kualitas wawancara ditentukan oleh kualitas pertanyaannya. Perhatikan dua walkthrough berikut — bandingkan pertanyaan lemah versus kuat.
Kasus
Pertanyaan Lemah (tertutup/menuntun)
Perbaikan (terbuka/netral)
1. Kepuasan fitur
"Anda suka fitur checkout kami, kan?"
"Ceritakan pengalaman Anda terakhir kali checkout di aplikasi ini."
2. Frekuensi pakai
"Anda sering pakai aplikasi ini, ya?"
"Kapan terakhir kali Anda membuka aplikasi ini, dan untuk apa?"
3. Masalah teknis
"Loading-nya lambat, betul?"
"Apa yang Anda rasakan saat menunggu halaman ini terbuka?"
Pertanyaan lemah disebut leading question (pertanyaan menggiring) — jawabannya sudah "disetir" duluan oleh periset, sehingga hasil risetnya bias dan tidak bisa dipercaya.
Kebiasaan Pewawancara yang Baik vs Buruk
LAKUKAN
Dengarkan lebih banyak, bicara lebih sedikit (rasio ideal ~20:80)
Diam sejenak setelah bertanya — beri ruang partisipan berpikir
Tanyakan contoh konkret: "coba ceritakan kejadian terakhir kalinya"
Rekam (dengan izin) agar bisa fokus mendengarkan, bukan mencatat
HINDARI
Memotong cerita partisipan untuk buru-buru ke pertanyaan berikut
Menawarkan solusi/opini periset di tengah wawancara
Menanyakan hal hipotetis: "kalau ada fitur X, apakah Anda akan pakai?"
Dari mengukur pola di banyak orang, sampai mengamati perilaku asli tanpa bertanya sama sekali.
Survei: Mengukur Pola di Banyak Pengguna
Survei (kuesioner) adalah kumpulan pertanyaan tertulis yang sama, dijawab banyak responden sekaligus — hasilnya berupa angka yang bisa dihitung dan dibandingkan.
Skala Likert — alat ukur sikap paling umum di survei UX
Contoh pertanyaan: "Aplikasi ini mudah digunakan"
Hitung dari Nol: Berapa Responden Survei yang Cukup?
Tim UX ingin survei ke mahasiswa pengguna aplikasi kampus SIAP UNDIP. Populasi (N) = 500 mahasiswa aktif, margin error (e) yang ditoleransi = 5%. Pakai rumus Slovin.
n = N ÷ (1 + N × e²)
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Populasi (N)
Jumlah mahasiswa aktif pengguna
500
2. Margin error (e)
Toleransi kesalahan 5%
0,05
3. Kuadratkan e
0,05 × 0,05
0,0025
4. N × e²
500 × 0,0025
1,25
5. Tambah 1
1 + 1,25
2,25
6. Bagi N
500 ÷ 2,25
222,2
7. Bulatkan ke atas
Pembulatan responden
223 responden
HASIL AKHIR
223
responden minimal dibutuhkan
Coba Sendiri: Hitung Ukuran Sampel dengan Rumus Slovin
Geser jumlah populasi dan margin error, lalu amati bagaimana jumlah responden minimal berubah.
Observasi: Mengamati, Bukan Bertanya
Observasi adalah metode mengamati langsung perilaku pengguna saat mereka memakai produk — tanpa mengandalkan apa yang mereka katakan tentang perilakunya.
PARTICIPANT OBSERVATION
IKUT TERLIBAT
Periset ikut memakai produk bersama pengguna, mis. duduk di sebelah pedagang UMKM saat memakai aplikasi kasir digital.
NON-PARTICIPANT OBSERVATION
AMATI DARI LUAR
Periset diam-diam mengamati tanpa ikut campur, mis. merekam layar pengguna saat mencoba checkout tanpa diarahkan.
Prinsip kunci: apa yang orang katakan dan apa yang orang lakukan sering berbeda. Observasi menangkap kebenaran perilaku yang bahkan tidak disadari penggunanya sendiri.
Hitung dari Nol: Tingkat Keberhasilan Tugas
Tim UX mengobservasi 20 pengguna mencoba menyelesaikan tugas "checkout produk" di prototipe aplikasi belanja tanpa dibantu. 15 orang berhasil tanpa bantuan.
Success rate = (berhasil ÷ total) × 100%
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Total partisipan diamati
Jumlah sesi observasi
20 orang
2. Berhasil tanpa bantuan
Menyelesaikan tugas sendiri
15 orang
3. Gagal/butuh bantuan
20 − 15
5 orang
4. Rasio keberhasilan
15 ÷ 20
0,75
5. Ubah ke persen
0,75 × 100
75%
6. Bandingkan ambang industri
75% vs ~70% (ambang "baik")
Tergolong baik
SUCCESS RATE
75%
berhasil menyelesaikan tugas
Wawancara vs Survei vs Observasi — Kapan Pakai Apa?
Aspek
Wawancara
Survei
Observasi
Jenis data
Kualitatif
Kuantitatif
Kualitatif + perilaku
Jumlah partisipan
Sedikit (5–10)
Banyak (puluhan–ribuan)
Sedang (5–15)
Menjawab pertanyaan
"Mengapa?"
"Berapa banyak?"
"Apa yang benar-benar terjadi?"
Waktu & biaya
Tinggi per orang
Rendah per orang
Sedang–tinggi
Risiko bias utama
Leading question
Pertanyaan ambigu
Efek diamati (Hawthorne)
Proyek riset yang matang biasanya mengombinasikan ketiganya: observasi/wawancara awal untuk eksplorasi, lalu survei untuk validasi skala luas.
Bagian 3 dari 3
Etika Riset Pengguna
Karena partisipan riset Anda adalah manusia sungguhan, bukan sekadar sumber data.
Dua Pilar Etika Riset Pengguna
1. Informed Consent (Persetujuan Berinformasi)
Partisipan diberi tahu tujuan riset sebelum sesi dimulai
Partisipan tahu data apa yang direkam (audio, video, layar)
Partisipan berhak menolak atau berhenti kapan saja tanpa sanksi
Persetujuan diminta secara tertulis/terekam, bukan diasumsikan
2. Privasi & Keamanan Data
Data pribadi (nama, wajah) dianonimkan saat dilaporkan ke tim
Rekaman disimpan terbatas, dihapus setelah analisis selesai
Selaras semangat UU PDP (Pelindungan Data Pribadi) di Indonesia
Data tidak dibagikan ke pihak luar tanpa izin ulang partisipan
Studi Kasus: Ketika Etika Riset Dilanggar
Dua walkthrough kasus nyata yang jadi pelajaran penting dunia riset pengguna & data digital secara global.
Kasus
Apa yang Terjadi
Pelanggaran Etika
1. Cambridge Analytica (2018)
Data pengguna Facebook dipakai untuk profil politik tanpa persetujuan eksplisit mereka.
Tidak ada informed consent untuk tujuan penggunaan data sesungguhnya.
2. Riset UX tanpa anonimisasi
Video sesi usability testing pengguna (wajah & nama terlihat) dibagikan ke publik sebagai studi kasus portofolio.
Privasi data dilanggar — partisipan tidak setuju identitasnya dipublikasikan.
Kedua kasus ini menunjukkan pola yang sama: data dikumpulkan secara sah, tapi dipakai/dibagikan melampaui persetujuan awal partisipan.
Latihan Kelas: Pilih Metode yang Tepat
Kerjakan berpasangan (5 menit). Untuk tiap skenario di bawah, tentukan metode paling tepat: wawancara, survei, atau observasi — lalu siapkan alasannya.
SKENARIO A
?
Tim ingin tahu berapa persen dari 10.000 pengguna aplikasi kampus pernah gagal login bulan ini.
SKENARIO B
?
Tim ingin memahami alasan mendalam mengapa pedagang UMKM enggan pindah ke kasir digital.
SKENARIO C
?
Tim ingin melihat langkah asli pengguna saat mencoba fitur baru, tanpa bias jawaban lisan.
Setelah 5 menit, dua pasangan akan diminta menjelaskan pilihan metode dan alasannya di depan kelas.
Rangkuman & Persiapan Pertemuan Berikutnya
CHEAT SHEET HARI INI
Wawancara: kedalaman, sedikit orang, jawab "mengapa"
Survei: skala luas, banyak orang, jawab "berapa banyak"
Observasi: perilaku asli, jawab "apa yang terjadi"
Etika: informed consent + privasi data, selalu wajib
TUGAS SEBELUM PERTEMUAN 4
RANCANG WAWANCARA
Susun 5 pertanyaan semi-terstruktur (non-leading) untuk riset pengguna aplikasi pilihan Anda, bawa ke kelas berikutnya.
Pertemuan 4: Riset Pengguna Bagian 2 — mengubah hasil riset mentah menjadi Persona dan Empathy Map.