‹ Daftar slidePertemuan 4: Stablecoin: jenis, mekanisme penjagaan nilai, peran dalam ekosistem DeFi
RPS minggu 4 · 2x50 menit
Stablecoin
Jenis, mekanisme penjagaan nilai, dan peran dalam ekosistem DeFi
Pertemuan 4 · Decentralized Finance · Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Apa itu Stablecoin dan Mengapa Diperlukan
Masalah volatilitas kripto, definisi stablecoin, dan taksonomi jenis-jenisnya.
Masalah Volatilitas dan Lahirnya Stablecoin
Tanpa stablecoin
Harga Bitcoin/Ethereum bisa berubah >10% dalam sehari — tak layak jadi alat tukar atau penyimpan nilai jangka pendek.
UMKM yang menerima pembayaran kripto menanggung risiko nilai anjlok sebelum sempat dikonversi ke Rupiah.
Protokol lending/DEX sulit menetapkan harga pinjaman atau kolateral yang stabil.
Definisi stablecoin
Aset kripto yang dirancang menjaga nilai tetap mendekati 1:1 terhadap aset acuan (biasanya USD), melalui mekanisme peg (patokan nilai) — cadangan aset, kolateral berlebih, atau algoritma penawaran-permintaan.
Analoginya: seperti kupon toko yang selalu bisa ditukar 1 lembar = Rp 10.000 — nilainya tidak naik-turun mengikuti pasar saham.
Taksonomi Empat Jenis Stablecoin
Semakin ke kanan, semakin bergantung pada mekanisme pasar/algoritma — semakin ke kiri, semakin bergantung pada kepercayaan terhadap kustodian terpusat.
Fiat-Collateralized: Mekanisme Cadangan 1:1
Penerbit (mis. Circle untuk USDC) menyimpan cadangan kas dan surat utang jangka pendek senilai (idealnya) ≥ jumlah token beredar, di kustodian yang diaudit berkala.
Pengguna setor USD → penerbit mint (menerbitkan) token baru senilai setoran.
Pengguna tebus token → penerbit burn (memusnahkan) token dan mengembalikan USD.
Laporan reserve attestation (pernyataan cadangan) dipublikasikan bulanan sebagai bukti transparansi.
Hitung dari Nol: Rasio Cadangan dan Penebusan
Kasus: penerbit stablecoin fiat-collateralized punya 1.000.000 token beredar dan cadangan kas+T-bill sebesar $1.020.000.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Token beredar
diketahui
1.000.000 unit
2. Cadangan total
diketahui
$1.020.000
3. Rasio cadangan awal
1.020.000 ÷ 1.000.000 x 100%
102%
4. Investor tebus 50.000 token
50.000 x $1
terima $50.000
5. Token beredar sisa
1.000.000 - 50.000
950.000 unit
6. Cadangan sisa
1.020.000 - 50.000
$970.000
7. Rasio cadangan baru
970.000 ÷ 950.000 x 100%
102,1%
Kesimpulan
102,1%
rasio tetap sehat (>100%) setelah penebusan — peg terjaga
Crypto-Collateralized: Jaminan Berlebih (DAI)
Cara kerja MakerDAO / DAI
Pengguna mengunci aset kripto (mis. ETH) sebagai jaminan ke vault smart contract.
Sistem menerbitkan DAI senilai lebih kecil dari jaminan — disebut over-collateralization (kolateral berlebih).
Jika harga jaminan turun mendekati ambang minimum, vault berisiko likuidasi otomatis oleh smart contract.
Kenapa harus berlebih? Karena aset kripto (ETH) sendiri masih fluktuatif — kolateral 150% menjadi "bantalan" agar penurunan harga tidak langsung membuat DAI kehilangan penopang nilainya. Tidak ada kustodian terpusat yang menyimpan Dolar sungguhan — semua diatur smart contract yang transparan dan dapat diaudit publik.
Hitung dari Nol: Rasio Kolateralisasi dan Ambang Likuidasi
Kasus: pengguna mengunci ETH senilai $150 sebagai jaminan, menerbitkan DAI senilai $100. Ambang likuidasi protokol = 150%.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Nilai kolateral ETH
diketahui
$150
2. DAI diterbitkan
diketahui
$100
3. Rasio kolateralisasi awal
150 ÷ 100 x 100%
150%
4. Harga ETH turun 20%
150 x (1 - 20%)
kolateral jadi $120
5. Rasio kolateralisasi baru
120 ÷ 100 x 100%
120%
6. Bandingkan dengan ambang
120% < 150%
di bawah ambang
Hasil
Likuidasi
vault otomatis dilikuidasi smart contract untuk melunasi DAI
Coba Sendiri: Uji Buffer De-Peg Stablecoin
Geser jenis stablecoin (fiat 1:1 vs crypto-collateralized) dan guncangan harga kolateral, amati kapan rasio jaminan menembus ambang de-peg.
Bagian 2 dari 3
Mekanisme Penjagaan Nilai (Peg)
Bagaimana stablecoin algoritmik bekerja, arbitrase yang menjaga peg, dan risiko de-peg — termasuk pelajaran dari keruntuhan UST/Luna 2022.
Algorithmic Stablecoin: Mint-Burn Tanpa Jaminan Penuh
Walkthrough bertahap: bagaimana model seigniorage dua-token (seperti UST-Luna sebelum keruntuhan) menjaga peg tanpa cadangan Dolar sungguhan.
Tahap 1-2: harga stabil
1 UST diperdagangkan ≈ $1 di pasar — peg terjaga tanpa intervensi.
Protokol menjamin: 1 UST selalu bisa ditukar dengan token volatil (Luna) senilai $1, dan sebaliknya.
Tahap 3-4: menjaga peg naik/turun
Jika UST > $1: pengguna burn Luna untuk mint UST baru → jual UST → profit arbitrase → pasokan UST naik, harga turun ke $1.
Jika UST < $1: pengguna beli UST murah → burn UST untuk mint Luna → pasokan UST turun, harga naik ke $1.
Studi Kasus: Death Spiral UST/Luna, Mei 2022
Walkthrough bertahap: mengapa mekanisme mint-burn justru mempercepat keruntuhan, bukan menahannya.
Tahap
Apa yang terjadi
Dampak pada peg
1. Pemicu
Penarikan besar dari protokol lending Anchor (imbal hasil ~20% UST) memicu jual UST massal.
UST mulai < $1
2. Respons mekanisme
Pengguna burn UST → mint Luna dalam jumlah besar untuk arbitrase.
Pasokan Luna meledak
3. Efek domino
Pasokan Luna yang meledak menekan harga Luna jatuh drastis.
Nilai "jaminan" Luna anjlok
4. Hilang kepercayaan
Karena Luna makin tak bernilai, mekanisme tukar tak lagi menarik → kepercayaan runtuh total.
UST jatuh ke < $0,10
Pelajaran kunci: stablecoin algoritmik tanpa jaminan aset nyata rentan reflexivity risk — nilai penopangnya (Luna) dan nilai yang ditopang (UST) sama-sama bergantung pada kepercayaan pasar yang sama, sehingga bisa runtuh bersamaan dalam death spiral (spiral kematian).
Arbitrase: Mesin yang Menjaga Peg Tetap Dekat $1
Selama ada jalur penebusan/mint 1:1 yang kredibel, insentif profit dari arbitrase inilah yang mendorong harga kembali ke $1 — bukan janji sepihak penerbit.
Risiko De-Peg dan Skenario Black Swan
Risiko kustodian
Cadangan fiat tidak likuid penuh, atau kustodian bangkrut/dibekukan otoritas (mis. kasus USDC sempat depeg singkat Maret 2023 karena eksposur ke Silicon Valley Bank).
Risiko kolateral kripto
Penurunan harga ekstrem & cepat membuat likuidasi massal tak sempat menutup kewajiban — kolateral "kalah cepat" dari jatuhnya harga.
Risiko algoritmik
Tanpa jaminan aset nyata, kepercayaan pasar adalah satu-satunya penopang — sekali runtuh, sulit dipulihkan (death spiral).
De-peg (lepas patokan) = harga stablecoin menyimpang signifikan dari $1. Bisa sementara (dipulihkan arbitrase) atau permanen (kepercayaan hilang total, seperti UST).
Bagian 3 dari 3
Peran Stablecoin dalam Ekosistem DeFi
Dari alat tukar, kolateral pinjaman, hingga likuiditas DEX — serta konteks regulasi Indonesia.
Stablecoin sebagai Unit Hitung dan Alat Tukar DeFi
Fungsi inti di DeFi
Denominasi harga aset lain (mis. "1 ETH = 3.200 USDC") — jangkar yang stabil dibanding kripto lain.
Media penyimpan nilai sementara saat pengguna "keluar" dari posisi volatil tanpa harus konversi ke fiat.
Alat transfer nilai lintas-batas cepat & murah dibanding transfer bank konvensional.
Analogi: mirip fungsi kas kecil (petty cash) di sebuah perusahaan — nilainya stabil, cepat dipakai untuk transaksi rutin, tanpa harus bolak-balik ke rekening utama.
Stablecoin dalam Protokol Lending-Borrowing
Karena nilainya stabil, stablecoin jadi denominasi favorit untuk pinjaman — peminjam tahu persis kewajiban yang harus dikembalikan.
Pemberi pinjaman mendapat bunga (dari peminjam) tanpa terpapar volatilitas harga aset yang dipinjamkan.
Topik ini akan diperdalam di pertemuan 6 (lending-borrowing terdesentralisasi).
Stablecoin dalam DEX dan Liquidity Pool (AMM)
Peran di Automated Market Maker
Pasangan trading (mis. ETH/USDC) butuh salah satu sisi stabil agar harga acuan mudah dipahami trader.
Pool stablecoin-ke-stablecoin (mis. USDC/DAI) punya slippage sangat rendah — dipakai untuk swap besar antar-stablecoin.
Penyedia likuiditas (LP) menerima fee transaksi — mekanisme detailnya dibahas di pertemuan 5.
Tanpa stablecoin, hampir seluruh pasangan trading di DEX akan volatil-vs-volatil — jauh lebih sulit dianalisis trader ritel maupun institusi.
Konteks Regulasi Stablecoin di Indonesia
Bappebti (saat ini)
Aset kripto (termasuk stablecoin) diatur sebagai komoditas digital yang diperdagangkan di bursa berjangka.
Pedagang aset kripto wajib terdaftar & memenuhi ketentuan permodalan serta pelaporan Bappebti.
Transisi ke OJK
UU P2SK mengamanatkan pengalihan kewenangan pengaturan aset kripto dari Bappebti ke OJK.
Arah ke depan: aset kripto berpotensi diperlakukan lebih dekat ke instrumen keuangan, bukan sekadar komoditas.
Catatan penting: kerangka spesifik untuk stablecoin (mis. syarat cadangan, audit wajib) di Indonesia masih terus berkembang — selalu verifikasi ketentuan terbaru dari sumber resmi Bappebti/OJK sebelum mengambil keputusan bisnis.
Latihan Diskusi Kelompok
Instruksi (15 menit, kelompok 3-4 orang)
Pilih satu stablecoin (USDT, USDC, atau DAI) dan identifikasi jenisnya berdasarkan taksonomi Bagian 1.
Jelaskan mekanisme penjagaan peg-nya menggunakan istilah yang sudah dipelajari (mint/burn, kolateralisasi, arbitrase).
Diskusikan: skenario apa yang paling mungkin membuat stablecoin pilihan Anda mengalami de-peg? Bandingkan dengan risiko UST/Luna.
Siapkan 1 juru bicara untuk presentasi singkat 2 menit per kelompok.
Gunakan kerangka Werner et al., "SoK: Decentralized Finance", sebagai rujukan istilah baku bila diperlukan.
Ringkasan Pertemuan 4
Yang sudah kita kuasai
Empat jenis stablecoin: fiat-collateralized, crypto-collateralized, algorithmic, commodity-backed.
Mekanisme peg: cadangan 1:1, over-collateralization, mint/burn algoritmik, dan peran arbitrase.
Studi kasus UST/Luna sebagai pelajaran risiko reflexivity dan death spiral.
Peran stablecoin sebagai unit hitung, kolateral lending, dan likuiditas DEX/AMM.
Jembatan ke Pertemuan 5: Setelah memahami "darah" ekosistem DeFi (stablecoin), minggu depan kita bedah "jantung" perdagangannya — Decentralized Exchange dan mekanisme Automated Market Maker (AMM) yang sudah beberapa kali disinggung hari ini.