Dari perjanjian berbasis kepercayaan pihak ketiga menuju eksekusi berbasis kode
Masalah Kontrak Tradisional
Kontrak Konvensional
Butuh pihak ketiga tepercaya (notaris, bank, escrow)
Eksekusi bergantung itikad baik & penegakan hukum
Biaya administrasi & waktu proses tinggi
Rawan sengketa interpretasi klausul
Ilustrasi Sehari-hari
Anda menjual UMKM batik ke pembeli luar kota via marketplace seperti Tokopedia. Tokopedia menahan dana pembeli sampai barang diterima — ini adalah "escrow" terpusat. Smart contract meniru fungsi ini, tetapi aturan penahanan dana ditulis dalam kode publik, bukan kebijakan internal satu perusahaan.
Definisi Smart Contract
Smart contract adalah program komputer yang tersimpan di blockchain, berjalan otomatis ketika kondisi yang telah ditentukan terpenuhi, dan hasilnya tidak dapat diubah sepihak (immutable) setelah dieksekusi.
Self-executing
Berjalan sendiri tanpa perantara manusia begitu syarat "jika-maka" terpenuhi.
Transparent
Kode & riwayat eksekusi dapat dilihat siapa pun di blockchain publik.
Immutable
Setelah di-deploy, logika kontrak sulit diubah — kesalahan kode jadi risiko nyata.
Analogi Vending Machine
Tidak ada kasir (bank/notaris) di tengah — aturan "jika-maka" tertulis di kode dan berjalan sendiri.
Bagian 2
Anatomi & Cara Kerja
Dari kode sumber sampai eksekusi terdesentralisasi di jaringan node
Komponen Utama Smart Contract
Elemen Kode
State — data/status yang tersimpan (mis. saldo)
Function — aksi yang bisa dipanggil (mis. transfer)
Event — catatan log saat aksi terjadi
Address — alamat unik kontrak di blockchain
Bahasa Pemrograman
Solidity — bahasa utama Ethereum, mirip JavaScript
Vyper — alternatif lebih sederhana & ketat
Rust — dipakai platform seperti Solana
Kode dikompilasi menjadi bytecode sebelum di-deploy
Siklus Hidup Smart Contract
Setelah tahap 3 (deploy), kode nyaris tidak bisa diubah — kesalahan pemrograman menjadi risiko permanen, berbeda dengan software biasa yang bisa di-patch kapan saja.
Validasi Terdesentralisasi
Setiap transaksi smart contract diverifikasi ulang oleh ribuan node independen di seluruh dunia, bukan satu server pusat — inilah sumber kepercayaan tanpa perantara (trustless).
Node
Komputer peserta jaringan yang menyimpan salinan blockchain & ikut memvalidasi.
Consensus
Mekanisme kesepakatan (mis. Proof of Stake) agar semua node sepakat pada satu hasil.
Finality
Titik saat transaksi dianggap final & tidak bisa dibatalkan lagi.
Bagian 3
Ethereum & EVM
Platform paling matang untuk smart contract — mesin virtual, gas, dan standar token
Ethereum sebagai "World Computer"
Apa itu EVM
Ethereum Virtual Machine (EVM) adalah mesin komputasi virtual yang menjalankan bytecode smart contract secara identik di setiap node — memastikan hasil eksekusi selalu sama di mana pun dijalankan.
Mengapa Ethereum Populer
Platform smart contract pertama yang matang (2015)
Ekosistem developer & dokumentasi terluas
Basis hampir seluruh protokol DeFi besar
Standar token (ERC-20, ERC-721) jadi acuan industri
Gas Fee: Biaya Menjalankan Kode
Gas adalah satuan biaya komputasi di Ethereum. Setiap operasi (transfer, pemanggilan fungsi) membutuhkan sejumlah gas, dibayar dalam ETH, agar node bersedia memproses transaksi Anda.
Semakin rumit logika smart contract yang dipanggil, semakin banyak gas yang dibutuhkan — mirip semakin banyak berkas yang diurus notaris, semakin tinggi biaya jasanya.
Hitung dari Nol: Estimasi Gas Fee Transfer ETH
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Gas limit transfer standar
Ditetapkan protokol untuk transfer ETH sederhana
21.000 unit gas
2. Gas price saat itu (contoh)
Harga per unit gas, mengambang sesuai kepadatan jaringan
20 gwei per unit
3. Total biaya dalam gwei
21.000 x 20 gwei
420.000 gwei
4. Konversi ke ETH
1 ETH = 1.000.000.000 gwei → 420.000 / 1.000.000.000
0,00042 ETH
5. Estimasi dalam Rupiah (contoh)
Asumsi ~1 ETH = Rp52.000.000 → 0,00042 x Rp52.000.000
~Rp21.840
Catatan: gwei = satuan mini ETH (1 gwei = 0,000000001 ETH); gas price berfluktuasi mengikuti kepadatan jaringan, angka Rupiah bersifat ilustratif, bukan patokan harga pasar.
Hitung dari Nol: Gas Fee Interaksi DeFi vs Transfer Biasa
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Gas transfer ETH biasa
Baseline dari perhitungan sebelumnya
21.000 unit gas
2. Gas swap token di DEX (estimasi umum)
Logika lebih kompleks: cek saldo, hitung rasio, transfer 2 arah
~150.000 unit gas
3. Rasio biaya DEX vs transfer biasa
150.000 / 21.000
~7,1 kali lipat
4. Total biaya swap (gas price 20 gwei)
150.000 x 20 gwei → 3.000.000 gwei / 1.000.000.000
0,003 ETH
5. Estimasi dalam Rupiah (contoh)
0,003 x Rp52.000.000
~Rp156.000
Semakin kompleks fungsi (mis. menukar token di decentralized exchange, dibahas P5), semakin mahal gas — pertimbangan penting saat merancang atau memakai aplikasi DeFi.
Standar Token Ethereum
ERC-20
Standar untuk token fungible (dapat dipertukarkan 1:1)
Dipakai stablecoin, token governance, token utilitas
Contoh: USDT, USDC, UNI mengikuti standar ini
ERC-721
Standar untuk token non-fungible (unik, tidak identik)
Tiap token punya ID & atribut berbeda
Dikenal luas sebagai basis teknis NFT
Bagian 4
Kasus & Risiko Dasar
Manfaat nyata, kerentanan kode, dan mengapa audit menjadi krusial
Kasus Penggunaan Smart Contract
Keuangan
Pinjam-meminjam otomatis, pertukaran token tanpa perantara (dibahas P5-P6).
Rantai Pasok
Pelacakan asal-usul produk UMKM ekspor secara transparan & tidak bisa dimanipulasi.
Tata Kelola
Voting otomatis pemegang token dalam organisasi terdesentralisasi (DAO, dibahas P9).
Risiko: Kode adalah Hukum, Tapi Kode Bisa Salah
Prinsip "code is law" berarti smart contract dieksekusi persis sesuai kodenya — jika ada bug, kesalahan itu ikut tereksekusi tanpa bisa dibatalkan pihak mana pun.
Kerentanan kode (bug/eksploitasi) — dibahas mendalam di P8
Sifat immutable membuat perbaikan pascadeploy sulit
Audit kode oleh pihak independen menjadi praktik wajib sebelum peluncuran
Prinsip kehati-hatian: verifikasi reputasi & audit sebelum berinteraksi dengan kontrak baru
Walkthrough: Kasus DAO Hack 2016 (Ringkas)
Langkah Kejadian
1. "The DAO" adalah dana investasi terdesentralisasi berbasis smart contract di Ethereum, menghimpun dana besar dari komunitas.
2. Peretas menemukan celah pada fungsi penarikan dana (reentrancy bug) yang belum teraudit sempurna.
3. Celah dieksploitasi untuk menarik dana berulang kali sebelum saldo ter-update — bug ikut "sah" dieksekusi (code is law).
4. Komunitas Ethereum akhirnya melakukan hard fork (memisah rantai) untuk mengembalikan dana — keputusan kontroversial hingga kini.
Latihan Kelas: Identifikasi Risiko
Instruksi (kerja berpasangan, 8 menit): Pilih satu kasus penggunaan smart contract (keuangan/rantai pasok/tata kelola) dari slide sebelumnya. Diskusikan: (1) manfaat efisiensi apa yang didapat dibanding proses konvensional, (2) risiko kode/keamanan apa yang paling relevan, (3) langkah mitigasi apa yang bisa direkomendasikan seorang manajer sebelum institusinya mengadopsi teknologi ini.
Siapkan jawaban singkat (3-4 kalimat) untuk dibahas bersama pada 5 menit terakhir sesi.
Penutup
Menuju Pertemuan 3
Dari fondasi smart contract menuju perbandingan CeFi vs DeFi
Rangkuman & Tugas Baca
Rangkuman Kunci
Smart contract = program otomatis, transparan, immutable di blockchain