‹ Daftar slidePertemuan 1: Pengantar Blockchain dan Distributed Ledger Technology: prinsip desentralisasi
RPS minggu 1 · 2x50 menit
Pengantar Blockchain dan Distributed Ledger Technology
Prinsip Desentralisasi
Decentralized Finance (DeFi) — Program Studi Manajemen, FEB UNDIP
Bagian 1 dari 3
Fondasi Blockchain: Dari Masalah Kepercayaan ke Buku Besar Bersama
Mengapa kita butuh cara baru mencatat transaksi, dan bagaimana blockchain menjawabnya.
Masalah Lama: Mengapa Kita Butuh Perantara?
Sistem Terpusat (Centralized)
Saat Anda transfer lewat BCA, bank adalah wasit tunggal yang memvalidasi saldo Anda cukup atau tidak.
Tokopedia menahan dana pembeli (escrow) sampai barang diterima — Tokopedia yang dipercaya, bukan penjual.
Semua catatan (ledger) tersimpan di server milik satu institusi.
Risiko dari Satu Titik Kegagalan
Double-spending: tanpa wasit, orang bisa "membelanjakan" uang digital yang sama dua kali.
Kalau server bank down atau diretas, seluruh catatan bisa terganggu — single point of failure.
Pengguna harus percaya penuh pada niat baik dan kompetensi teknis institusi tersebut.
Blockchain lahir dari pertanyaan: bisakah kita mencatat transaksi tanpa wasit tunggal, tapi tetap dipercaya semua pihak?
Distributed Ledger: Buku Besar yang Disalin ke Banyak Pihak
Distributed Ledger Technology (DLT) adalah basis data transaksi yang disalin dan disinkronkan secara identik ke banyak komputer (disebut node) di lokasi berbeda — bukan disimpan tunggal di satu server.
Analogi Sederhana
Bayangkan buku kas UMKM yang, alih-alih dipegang satu bendahara, difotokopi identik ke 100 anggota koperasi. Setiap transaksi baru harus dicatat serentak di semua salinan agar sah.
Konsekuensi Kunci
Tidak ada satu pihak yang bisa diam-diam mengubah catatan, karena perubahan sepihak akan terlihat berbeda dari 99 salinan lain — mayoritas menang.
Blockchain adalah salah satu bentuk DLT yang paling populer: transaksi dikelompokkan ke dalam blok, dan blok-blok tersebut dirangkai secara kronologis membentuk rantai.
Anatomi Sebuah Blok
Tiap blok menyimpan tiga elemen inti: data transaksi, penanda waktu, dan hash (sidik jari digital unik dari isi blok tersebut) — termasuk hash dari blok sebelumnya.
Setiap blok "mengunci" blok sebelumnya lewat hash — inilah asal kata rantai (chain).
Hitung dari Nol: Fungsi Hash Sederhana
Fungsi hash asli (SHA-256) sangat kompleks, tapi prinsipnya bisa kita simulasikan dengan hash mainan: jumlahkan kode ASCII tiap karakter, lalu ambil sisa bagi (modulo) 97.
Langkah 1 — Oknum mengubah data transaksi di Blok #1 (mis. jumlah transfer dinaikkan).
Langkah 2 — Karena data berubah, hash Blok #1 otomatis berubah (seperti simulasi slide sebelumnya).
Langkah 3 — Blok #2 masih menyimpan hash Blok #1 yang lama → tautan ke Blok #1 kini tidak cocok, rantai "putus" secara matematis.
Langkah 4 — Oknum harus mengubah ULANG Blok #2, #3, dan seterusnya agar rantai tampak konsisten.
Langkah 5 — Tapi salinan asli rantai masih tersimpan di ribuan node lain di seluruh dunia — versi oknum langsung ketahuan berbeda dari mayoritas.
Inilah sifat immutability (kekekalan): bukan karena data "tidak bisa" diubah secara teknis, tapi karena mengubahnya butuh mengalahkan mayoritas jaringan secara bersamaan — praktis mustahil pada jaringan besar.
Tiga Topologi Jaringan: Sentralisasi, Desentralisasi, Distribusi
Blockchain publik seperti Bitcoin dan Ethereum mengadopsi topologi distribusi penuh — tidak ada node yang lebih berkuasa dari node lain.
Bagian 2 dari 3
Mekanisme Konsensus: Bagaimana Node Sepakat Tanpa Bos
Proof of Work, Proof of Stake, dan peran jaringan node dalam menjaga desentralisasi tetap berjalan.
Masalah Konsensus Terdistribusi
Ribuan node di seluruh dunia harus sepakat pada urutan transaksi yang sama, padahal tidak saling kenal dan bisa saja ada pihak yang berbohong (disebut masalah Byzantine General).
Tantangan
Bagaimana memastikan mayoritas node jujur menang, sementara node nakal (atau koneksi lambat) tidak bisa merusak kesepakatan bersama?
Solusi Umum
Mekanisme konsensus: aturan matematis yang membuat "berbohong" secara ekonomi jauh lebih mahal daripada jujur.
Dua mekanisme paling dipakai: Proof of Work (PoW) — dipakai Bitcoin — dan Proof of Stake (PoS) — dipakai Ethereum sejak 2022.
Proof of Work (PoW): Konsensus lewat "Kerja Keras" Komputasi
Cara Kerja
Node yang berkompetisi disebut miner; mereka mencoba menebak angka acak (nonce) sampai hash hasilnya memenuhi target tertentu (mis. diawali angka nol).
Menebak nonce yang benar butuh daya komputasi besar — inilah "kerja" (work) yang dibuktikan.
Miner pertama yang menemukan nonce valid berhak menambahkan blok baru dan mendapat imbalan (block reward).
Karena mencari nonce butuh biaya listrik & perangkat besar, berbohong (menambang blok palsu) menjadi secara ekonomi tidak menguntungkan.
Hitung dari Nol: Mencari Nonce (Simulasi Proof of Work)
Target sederhana: cari nonce (angka tambahan) sehingga (data transaksi + nonce) habis dibagi 16 — mensimulasikan "hash harus diawali angka nol" pada sistem asli.
Langkah
Perhitungan
Nilai
1. Data transaksi diringkas jadi angka
representasi tetap
200
2. Coba nonce = 0
(200+0) mod 16
8 → gagal
3. Coba nonce = 1
(200+1) mod 16
9 → gagal
4. Coba nonce = 2
(200+2) mod 16
10 → gagal
5. ... coba terus hingga nonce = 8
(200+8) mod 16
0 → BERHASIL
6. Bukti kerja valid ditemukan
nonce pemenang
nonce = 8
Poin Kunci
9 kali coba
Miner harus mencoba berulang kali (dalam sistem asli: miliaran kali per detik) sampai menemukan nonce yang tepat — itulah "kerja" yang dibuktikan.
Proof of Stake (PoS): Konsensus lewat "Jaminan" Aset
Cara Kerja
Alih-alih bersaing komputasi, node (disebut validator) mengunci sejumlah aset kripto sebagai jaminan (stake).
Validator dipilih secara semi-acak untuk mengusulkan blok baru — makin besar stake, makin besar peluang terpilih.
Kalau validator terbukti curang (mengusulkan blok palsu), sebagian stake-nya akan disita (slashing) — mirip jaminan yang hangus.
Ethereum berpindah dari PoW ke PoS pada September 2022 ("The Merge"), memangkas konsumsi energi jaringan sekitar ~99%.
Node: Ujung Tombak Desentralisasi Jaringan
Full Node
Menyimpan SELURUH riwayat blockchain sejak blok pertama dan memvalidasi setiap transaksi baru secara independen.
Validator / Miner
Node yang aktif mengusulkan blok baru (lewat PoW atau PoS) dan mendapat imbalan bila berhasil.
Light Node
Menyimpan ringkasan saja (mis. di aplikasi dompet kripto di ponsel Anda) — bergantung pada full node untuk verifikasi penuh.
Semakin banyak dan tersebar node independen di seluruh dunia, semakin sulit jaringan dikendalikan segelintir pihak — inilah ukuran nyata derajat desentralisasi.
Blockchain Publik vs Permissioned: Siapa Boleh Ikut?
Aspek
Publik (Permissionless)
Permissioned (Konsorsium)
Siapa boleh jadi node?
Siapa saja, tanpa izin — basis ekosistem DeFi
Hanya pihak yang diverifikasi/diundang
Contoh
Bitcoin, Ethereum
Hyperledger untuk konsorsium beberapa bank
Tingkat desentralisasi
Tinggi
Terbatas, mendekati sentralisasi
Kecepatan & biaya
Relatif lebih lambat & mahal (banyak node harus setuju)
Lebih cepat & murah (node terbatas & saling kenal)
DeFi (topik pertemuan 3 dan seterusnya) dibangun hampir seluruhnya di atas blockchain publik — karena prinsip "tanpa izin" (permissionless) adalah nilai jual utamanya.
Bagian 3 dari 3
Dari Prinsip Desentralisasi ke Peta Jalan DeFi
Merangkum tiga pilar desentralisasi, dan melihat ke depan ke 13 pertemuan berikutnya.
Tiga Pilar Prinsip Desentralisasi
Trustless
Anda tidak perlu percaya pada niat baik satu pihak — kepercayaan digantikan oleh matematika & insentif ekonomi (PoW/PoS).
Immutable
Data yang sudah tercatat sangat sulit diubah, karena butuh mengalahkan mayoritas node sekaligus.
Transparent
Seluruh riwayat transaksi bisa dilihat siapa saja (pada blockchain publik) — berbeda dari buku besar bank yang tertutup.
Ketiga pilar ini adalah alasan mendasar mengapa DeFi bisa menawarkan layanan keuangan tanpa bank atau lembaga perantara tradisional.
Peta Jalan Mata Kuliah: Dari Fondasi ke Implikasi Strategis
Fondasi & Komponen Inti (P2–P7)
P2 — Smart contract
P3 — CeFi vs DeFi
P4 — Stablecoin
P5 — Decentralized exchange (AMM)
P6 — Lending-borrowing terdesentralisasi
P7 — Yield farming & liquidity mining
Risiko, Tata Kelola & Implikasi (P8–P14)
P8 — Analisis risiko DeFi
P9 — Tata kelola DAO
P10 — Tokenisasi aset
P11 — Regulasi Indonesia (Bappebti/OJK)
P12 — Interoperabilitas cross-chain
P13–14 — Implikasi bagi institusi keuangan & studi kasus
Latihan Singkat: Uji Pemahaman Anda
Instruksi Tugas (kerjakan individu, 10 menit)
Pilih SATU contoh layanan keuangan yang Anda pakai sehari-hari (mis. GoPay, tabungan BRI, atau OVO).
Identifikasi: siapa pihak "wasit tunggal" yang dipercaya dalam sistem tersebut?
Jelaskan dalam 3–4 kalimat: bagaimana prinsip trustless, immutable, dan transparent akan mengubah cara kerja layanan tersebut jika dipindahkan ke sistem terdesentralisasi.
Kumpulkan lewat platform pembelajaran sebelum pertemuan berikutnya — akan didiskusikan singkat di awal pertemuan 2 sebagai jembatan ke topik smart contract.
Tidak ada jawaban "benar tunggal" — tujuan latihan ini adalah melatih Anda berpikir kritis membandingkan sistem terpusat vs terdesentralisasi, bukan menghafal definisi.
Ringkasan Pertemuan 1
Yang Sudah Kita Pelajari
Masalah kepercayaan pada sistem keuangan terpusat & risiko satu titik kegagalan.
Distributed Ledger Technology & struktur blok yang dirangkai lewat hash.
Mekanisme konsensus: Proof of Work vs Proof of Stake.
Tiga pilar: trustless, immutable, transparent.
Persiapan Pertemuan 2
Baca ringkasan Werner et al., "SoK: Decentralized Finance (DeFi)" — dibahas sepanjang semester.
Topik minggu depan: Smart Contract — bagaimana aturan otomatis berjalan di atas blockchain.
Kumpulkan latihan singkat sebelum sesi dimulai.
Catatan penting: materi mata kuliah ini bersifat edukatif-akademik — bukan rekomendasi investasi, dan kita menghindari klaim prediksi harga aset kripto mana pun.