PEBD6027 · RPS minggu 2 · 2x50 menit
Model Layanan Cloud IaaS · PaaS · SaaS · FaaS — Cloud System Bisdig Hari ini kita bedah empat model layanan cloud yang akan jadi kosakata sehari-hari Anda di industri. Banyak mahasiswa bingung apakah Gmail itu cloud — iya, sebagai SaaS. Bedakan dari EC2 yang IaaS, atau Lambda yang FaaS. Pemilihan model menentukan biaya, kontrol, tim yang dibutuhkan, dan strategi vendor lock-in. Anda sebagai calon product manager wajib bisa justifikasi pilihan ini ke CTO. Peta Pembelajaran Hari Ini Sub-CPMK 2: membedakan model layanan cloud dan memilih untuk skenario. Empat indikator capaian.
4 model: IaaS, PaaS, SaaS, FaaS + analogi pizza Komparasi tanggung jawab & stack Hitung dari nol: EC2 vs Lambda Shared responsibility model + Capital One breach Matriks skenario → model Kapan serverless menang & kalah Posisi alur 14P: setelah fondasi P1, hari ini kita pilih "menu makanan" cloud. P3 akan bahas model deployment public/private/hybrid.
Empat indikator hari ini: definisi 4 model, skenario mapping, shared responsibility, hitung serverless. Saya pakai analogi pizza-as-a-service yang viral di komunitas cloud karena efektif. Diskusi kasus Capital One breach 2019 adalah pelajaran mahal soal shared responsibility. Akhirnya kita bahas kapan serverless justru kalah dari EC2 — bukan silver bullet. Pizza-as-a-Service: Analogi Klasik Albert Barron (IBM, 2014) membuat analogi yang masih jadi rujukan terbaik untuk memahami model cloud.
On-premise
Masak Sendiri
Beli tepung, oven, gas — pegang kontrol penuh
IaaS
Pizza Beku
Beli pizza beku, masak di oven sendiri (DiGiorno)
PaaS
Delivery
Pesan pizza delivery, tinggal makan (Pizza Hut)
SaaS
Makan di Restoran
Semua ditangani, Anda konsumsi saja
Naik abstraksi = kurang kontrol, lebih banyak yang ditangani provider. Trade-off utama cloud.
Analogi pizza-as-a-service pertama dibuat Albert Barron di IBM 2014 dan masih jadi referensi terbaik untuk memahami model cloud. Memasak sendiri sama dengan on-premise, Anda pegang kontrol penuh. Pizza beku sama dengan IaaS, provider beri infrastruktur dasar, Anda masak. Delivery sama dengan PaaS, provider siapkan platform, Anda tinggal deploy kode. Restoran sama dengan SaaS, Anda konsumsi produk jadi. Naik abstraksi berarti kontrol turun tapi produktivitas naik. Bagian 1 · 1/4
4 Model Layanan Cloud
Diskusi kelas: aplikasi Gojek (driver, food, ride) pake model apa? Bisakah beda per fitur?
Pertanyaan diskusi tadi nyata: Gojek menggunakan multi-model. Driver matching memakai serverless, food delivery menggunakan microservices di Kubernetes PaaS-like, internal CRM menggunakan SaaS seperti Salesforce. Sebagai manajer produk Anda harus bisa menjawab trade-off. Skenario berbeda, model berbeda, tim berbeda. IaaS: Infrastructure as a Service Provider beri VM, storage, network; Anda install OS, app, database sendiri. Kontrol tinggi, beban operasional tinggi.
Aspek Detail Contoh provider AWS EC2, Azure VM, GCP Compute Engine, DigitalOcean Droplet, Lintasarta Cloudeka VM Anda kelola OS, runtime, data, aplikasi, security patch, backup Provider kelola Virtualization, server fisik, storage, network, data center Cocok untuk Migrasi lift-and-shift, legacy app, kontrol penuh, database sensitif Kerugian Tim DevOps wajib, beban patching & monitoring
IaaS adalah model paling dekat dengan server fisik — Anda dapat VM kosong dan harus install semuanya sendiri. Keuntungannya kontrol penuh dan kompatibel dengan aplikasi lama. Kerugiannya Anda harus urus patching OS, security, backup, scaling — beban operasional besar. Cocok untuk migrasi lift-and-shift aplikasi legacy perusahaan atau kebutuhan kontrol tinggi seperti database sensitif bank. PaaS: Platform as a Service Provider beri runtime (Java, Node, Python), DB managed. Anda tinggal push kode. Fokus produktivitas developer.
Heroku (pionir, git push heroku main) Google App Engine AWS Elastic Beanstalk Azure App Service Render, Railway (modern) + Deploy cepat , fokus kode bisnis+ Auto-scaling built-in − Runtime terbatas yang didukung− Vendor lock-in buildpackPaaS adalah pilihan favorit startup yang ingin deploy cepat. Heroku mendominasi era 2010 karena cukup git push heroku main. AWS Elastic Beanstalk dan Google App Engine menyusul dengan ekosistem lebih luas. Anda tidak perlu install OS atau runtime — tinggal push kode, provider handle sisanya. Kerugian terikat ke runtime yang didukung, migrasi antar-PaaS tidak trivial. SaaS: Software as a Service Aplikasi jadi, akses via browser/API, bayar subscription. Yang Anda pakai sehari-hari.
Gmail, Google Workspace, Office 365 Slack, Notion, Miro, Canva Salesforce, HubSpot (CRM) Shopify, Tokopedia Seller (e-commerce) Zoom, Google Meet, Discord Zero maintenance bagi pelanggan Multi-tenant (1 instance, banyak pelanggan) Subscription per user/bulan Update otomatis provider SaaS adalah model paling dekat dengan pengguna akhir — Gmail dan Office 365 yang Anda pakai sehari-hari adalah SaaS. Anda tidak peduli server di mana, bahasa pemrograman apa — cukup login dan pakai. Model bisnis biasanya subscription per user per bulan. Bagi Bisdig penting memahami SaaS karena Anda akan jadi pembeli procurement atau penjual go-to-market strategy. FaaS / Serverless: Function as a Service Deploy function (potongan kode), provider jalanin saat dipanggil. Skala 0 ke jutaan, bayar per eksekusi (ms).
AWS Lambda (pionir 2014) Google Cloud Functions Azure Functions Cloudflare Workers (edge) Vercel Functions (frontend) Webhook payment gateway Chatbot trigger event Cron job ringan & scheduler Image/thumbnail processing API ringan event-driven Kerugian: cold start latency 100–500ms, debugging kompleks, vendor lock-in event format. Bukan silver bullet — pelajari trade-off di Slide 19. Sejarah: Salesforce 1999 (SaaS), AWS 2006 (IaaS), Google App Engine 2008 (PaaS), AWS Lambda 2014 (FaaS), Cloudflare Workers 2018 (Edge). Pola 5–6 tahunan: model baru lebih abstrak.
Serverless adalah lompatan abstraksi tertinggi: Anda tidak melihat server sama sekali, hanya tulis function 50 baris kode. AWS Lambda menjalankan function saat ada trigger HTTP request upload file schedule dan menagih per milidetik eksekusi. Cocok untuk webhook chatbot cron job. Kerugian cold start latency 100 hingga 500 milidetik saat function idle, debugging kompleks, dan lock-in ke event format provider. Sejarahnya menarik: empat model ini muncul bertahap — Salesforce 1999 memperkenalkan SaaS, AWS 2006 melahirkan IaaS, Google App Engine 2008 mendefinisikan PaaS, AWS Lambda 2014 merevolusi FaaS, Cloudflare Workers 2018 memperkenalkan edge compute. Pola lima tahunan ini membantu Anda mengantisipasi skill masa depan seperti edge computing dan WebAssembly yang sudah mulai populer 2025. Pada Slide 19 kita akan bahas lima situasi serverless kalah dari EC2 atau container agar Anda tidak terjebak dogma. Komparasi 4 Model: Stack Tanggung Jawab Naik abstraksi = banyak lapisan yang ditangani provider. Grafik tanggung jawab per model.
On-premise IaaS PaaS SaaS Applications Data Runtime OS (Middleware) Virtualization Servers Storage Networking Anda Anda Provider Anda Provider Anda Provider Gelap = pelanggan · Terang = provider Diagram ini adalah inti hari ini. Pada on-premise Anda kelola seluruh 7 lapisan dari aplikasi hingga fisik server. IaaS menggeser tanggung jawab: virtualisasi ke bawah jadi milik provider, Anda kelola OS ke atas. PaaS menggeser lagi: runtime ke bawah milik provider. SaaS paling ekstrem: hanya data dan konfigurasi yang Anda urus. Pemahaman stack ini krusial untuk audit keamanan dan budgeting tim DevOps. Hitung dari Nol: EC2 Always-on vs Lambda Webhook 100 request/hari, durasi 200ms tiap. Memory Lambda 128MB. EC2 t3.micro. Kurs Rp 16.000/USD (dihedge).
Langkah Komponen Perhitungan Nilai 1 EC2 t3.micro on-demand $0,0104/jam × 730 jam $7,59/bln = Rp 121.440 2 Lambda compute (100×30×0,2×0,125 GB) 750 GBs × $0,00000001667 $0,0000125 ≈ Rp 0,2 3 Lambda request (3.000 req < 1jt free) gratis (free tier) Rp 0 4 Selisih traffic rendah 121.440 − 0,2 Rp 121.440/bln 5 Pada 1jt req/hari: Lambda compute 750rb GBs = $12,50 + $6 req $18,50 ≈ Rp 296.000 6 Di sini EC2 ($7,59) lebih murah dari Lambda ($18,50) break-even ~500rb req/hari EC2 menang steady
Aturan praktis: spiky traffic → Lambda , steady high load → EC2 . Harga AWS public pricing (verify via Pricing Calculator).
Mari hitung konkret kapan serverless menang. Untuk traffic rendah 100 request per hari, EC2 always-on terlalu mahal karena bayar 730 jam per bulan walau idle. Lambda dengan free tier praktis Rp 0. Tapi pada traffic sangat tinggi dengan latensi konsisten misalnya real-time gaming, EC2 bisa lebih murah. Aturan praktis spiky traffic ke Lambda, steady high load ke EC2. Inilah keputusan arsitektur penting yang harus Anda kuasai sebagai calon product manager. Bagian 2 · 2/4
Shared Responsibility Model
Diskusi kelas: bila data nasabah bocor dari S3 yang salah konfigurasi public, siapa salahnya — AWS atau pelanggan?
Pertanyaan diskusi tadi adalah kasus Capital One 2019 nyata. Jawabannya pelanggan salah, karena permission S3 dikelola pelanggan bukan AWS. Shared responsibility model membagi tegas AWS jaga security OF cloud fisik hypervisor, pelanggan jaga security IN cloud data IAM config. Pemahaman ini menentukan liability kontrak miliaran. Shared Responsibility Model (AWS) AWS bertanggung jawab atas security OF the cloud. Pelanggan bertanggung jawab atas security IN the cloud.
AWS (Security OF Cloud) Pelanggan (Security IN Cloud) Hardware fisik server & storage Data (enkripsi at-rest/in-transit) Software virtualisasi (hypervisor) Identity & Access Management (IAM) Jaringan fisik data center OS & patching (untuk IaaS) Region & Availability Zone Platform & aplikasi (untuk IaaS/PaaS) Keamanan fisik (guard, CCTV, AC) Firewall, security group, WAF config Redundansi infrastruktur Backup & disaster recovery data
Garis pembagian bergeser per model: pada SaaS, sebagian besar OS & runtime jadi tanggungan provider. Pada IaaS, OS jadi tanggungan Anda.
AWS bertanggung jawab atas fisik data center hardware hypervisor dan jaringan — ini Security OF the Cloud. Anda bertanggung jawab atas data IAM patching OS enkripsi dan konfigurasi — ini Security IN the Cloud. Garis pembagian berbeda per model: pada IaaS OS jadi tanggungan Anda; pada SaaS sebagian besar OS jadi tanggungan provider. Kontrak SLA selalu merujuk garis ini. Chief Information Security Officer modern wajib punya peta tegas. Studi Kasus: Capital One Breach 2019 Pelajaran klasik shared responsibility di industri keuangan AS — kasus yang wajib Anda kenal sebelum kerja di bank digital.
Fakta kasus: Hacker eksfiltrasi data 106 juta nasabah Capital One (bank AS) Vektor: WAF misconfigured + permission IAM longgar di S3 AWS TIDAK salah — infrastruktur fisik & hypervisor aman Capital One salah konfigurasi permission S3 & WAF Denda class action: $190 juta (settlement 2022) Pelajaran untuk Bank Jago / Bank Neo / Bank Neo Commerce: pilih provider hanya setengah pekerjaan. Konfigurasi IAM & tim security adalah separuh lainnya. BPOJK & POJK cloud perbankan mewajibkan audit konfigurasi berkala.
Kasus Capital One 2019 adalah pelajaran klasik shared responsibility di industri keuangan. Hacker mengeksploitasi WAF yang misconfigured untuk mengakses S3 berisi data sensitif 106 juta nasabah. AWS tidak salah — infrastruktur fisik aman. Capital One salah karena permission IAM longgar. Denda 190 juta dolar class action 2022. Pelajaran untuk Bank Jago atau Bank Neo: pilih provider hanya setengah pekerjaan, konfigurasi dan tim security adalah separuh lainnya. Bagian 3 · 3/4
Pemilihan Model untuk Skenario
Diskusi: startup Bisdig tim 3 orang mau bikin marketplace, pilih model apa? Bagaimana jika tim 20 orang?
Pemilihan model layanan adalah keputusan strategis yang melibatkan tim anggaran dan roadmap. Startup tim kecil harus kontraintuitif memilih abstraksi tinggi PaaS SaaS untuk hemat waktu dev. Tim besar dengan kebutuhan kontrol detail bisa pilih IaaS. Tidak ada model terbaik universal. Matriks Keputusan: Skenario vs Model Lima skenario realistis di industri Indonesia. Aturan emas: pilih abstraksi tertinggi yang masih memenuhi kebutuhan.
Skenario Model Justifikasi Migrasi ERP legacy lift-and-shift IaaS Kontrol OS, kompatibilitas aplikasi lama Web app baru tim 3 orang PaaS Heroku/Beanstalk, hemat waktu DevOps Email korporat 100 karyawan SaaS Google Workspace, zero maintenance Webhook payment gateway FaaS Lambda, bayar per event, scale otomatis Marketplace kompleks (Tokopedia) Mix IaaS DB + PaaS app + FaaS trigger + SaaS CRM
Untuk Bisdig founder: mulai dari abstraksi tertinggi (SaaS/PaaS), turun ke IaaS hanya bila ada kebutuhan spesifik (kontrol, regulasi, cost).
Matriks ini adalah pegangan praktis. Untuk migrasi ERP lama IaaS paling realistis karena modifikasi arsitektur mahal. Untuk startup baru tim kecil PaaS mempercepat time-to-market. Untuk webhook yang hanya jalan saat ada event payment FaaS paling efisien. Untuk marketplace kompleks seperti Tokopedia biasanya multi-model. Aturan emas pilih abstraksi tertinggi yang masih memenuhi kebutuhan — itu minim beban operasional. Vendor Lock-in & Portabilitas Naik abstraksi = naik lock-in. Mitigasi: container Docker + Kubernetes = portabilitas tinggi.
SaaS proprietary (Salesforce) FaaS event format (Lambda) Migrasi rewrite kode 80%+ PaaS runtime (Heroku Buildpack) Managed DB dengan API spesifik Migrasi butuh refactor moderate IaaS dengan Docker container DB open-source (PostgreSQL) Migrasi lift-and-shift antar provider Strategi multi-cloud (Docker + K8s) = portabilitas tinggi, tapi naikkan kompleksitas operasional. Tidak ada makan siang gratis di cloud.
Vendor lock-in adalah konsekuensi yang sering diabaikan startup. SaaS proprietary seperti Salesforce sangat sulit dipindahkan. FaaS Lambda terikat ke event format AWS. Strategi mitigasi gunakan container Docker yang portabel antar provider plus Kubernetes sebagai abstraction layer. Tapi strategi ini naikkan kompleksitas operasional — tidak ada makan siang gratis di cloud. Pada P13 FinOps kita akan bahas strategi cost-aware untuk lock-in. Latihan: Pilih Model untuk 4 Startup Diskusi kelompok (10 menit): Pilih model + justifikasi untuk 4 startup:
A. Fintech P2P lending tim 5 orang — kepatuhan POJK OJK ketatB. E-commerce UMKM batik tim 2 orang — bootstrap, modal minimC. News portal traffic spike saat breaking newsD. Chatbot customer service bank — idle lama, spike saat promoPresentasi 2 menit per kelompok. Pertimbangkan: ukuran tim, anggaran, kebutuhan kontrol, vendor lock-in, regulasi sektor.
Empat kasus ini simulasi realistis. P2P lending fintech butuh kontrol keamanan tinggi tapi tim kecil — kemungkinan PaaS managed dengan compliance. E-commerce UMKM tim 2 orang — SaaS Shopify paling realistis. News portal dengan traffic spike — FaaS plus CDN. Chatbot customer service — FaaS Lambda plus Lex. Justifikasi harus menyebut trade-off tim anggaran lock-in. Latih argumentasi bisnis bukan teknis semata. Bagian 4 · 4/4
Serverless: Kapan Menang & Kalah
Diskusi: bila Lambda cold start 200ms, bisakah dipakai untuk high-frequency trading sub-milidetk?
Serverless bukan silver bullet. Cold start 200 milidetik tidak bisa untuk trading frekuensi tinggi yang butuh sub-milidetk. Tapi untuk webhook payment gateway 200 milidetik masih OK. Anda harus tahu kapan serverless kalah agar bisa justifikasi ke CTO kenapa pilih EC2 atau container. Kapan Serverless Kalah Lima situasi serverless bukan pilihan optimal. Bukan silver bullet — kenali batasnya.
Situasi Masalah Alternatif 1. Cold start 100–500ms Tidak cocok real-time gaming / trading EC2 dengan koneksi persisten 2. Execution cap 15 menit Tidak cocok batch job ETL panjang Fargate / EC2 spot 3. Debugging kompleks Local emulation tidak sempurna Serverless Framework + SAM 4. Vendor lock-in event format Migrasi ke provider lain sulit Abstraction layer (Knative) 5. Cost meledak steady high load 1jt+ req/detik lebih mahal dari EC2 EC2 reserved/spot
Serverless optimal: spiky, event-driven, light compute. EC2 optimal: steady, long-running, latency-critical.
Lima situasi serverless kalah: cold start untuk real-time, cap 15 menit untuk batch, debugging sulit, vendor lock-in event, dan cost meledak pada steady high load. Untuk aplikasi real-time seperti game multiplayer atau trading EC2 dengan koneksi persisten lebih baik. Untuk batch job ETL 2 jam Fargate atau EC2 spot lebih murah. Diskusi cold start bisa diatasi dengan provisioned concurrency tapi dengan biaya tambahan. Widget: Komparator 5 Service Model Klik tab On-Prem, IaaS, PaaS, SaaS, FaaS. Perhatikan tumpukan layer yang bergeser dari "Anda kelola" (aksen merah) ke "AWS kelola" (vendor). Geser dari On-Prem ke SaaS untuk melihat trade-off kontrol vs kecepatan.
Baik, sekarang mari satu dari Anda maju dan klik tab On-Prem dulu. Lihat, semua 8 layer dari jaringan sampai aplikasi berwarna aksen merah, artinya Anda kelola sendiri. Sekarang klik IaaS, lihat bagian bawah tumpukan, virtualisasi sampai fisik jadi abu-abu dikelola AWS. Lanjut klik SaaS, hampir seluruh tumpukan jadi abu-abu, Anda cuma kelola konfigurasi dan data. Inilah visualisasi trade-off yang harus Anda pahami. Control menurun, tapi time-to-market jadi menit. Diskusikan dengan teman sebangku, untuk startup e-commerce 500 pengguna awal mana yang akan kalian pilih? Ringkasan Kunci Pertemuan 2 4 Model
IaaS · PaaS · SaaS · FaaS — trade-off kontrol vs kenyamanan
Shared Responsibility
Security OF cloud (provider) vs IN cloud (pelanggan) — Capital One pelajaran
Spiky vs Steady
Spiky → Lambda, steady → EC2. Aturan praktis arsitektur.
Tiga lensa P2: 4 model layanan · shared responsibility · spiky vs steady.
Persiapan P3: baca Wittig bab 2; pelajari perbedaan public/private/hybrid cloud. Kuis 5 menit di awal P3 soal 4 model layanan + Capital One case.
Tiga pesan kunci: empat model layanan dengan trade-off kontrol vs kenyamanan, shared responsibility yang membagi tegas tanggung jawab, dan lensa spiky vs steady untuk memilih serverless atau EC2. P3 kita masuk deployment model public private hybrid multi-cloud dengan trade-off cost security fleksibilitas. Sampai jumpa minggu depan.