stdsquare²
Kelas
stdsquare / Kelas / Bloomberg for Student / Pertemuan 12: Pengujian Asumsi Klasik …
Tema
Japan
Arcade
Dark Retro
Font
Program Studi Bisnis Digital • FEB UNDIP

Bloomberg for Student

Pertemuan 12 — Pengujian Asumsi Klasik pada Data Keuangan: Normalitas dan Kesamaan Varians

Mengapa distribusi return saham jarang normal, bagaimana mendeteksinya (histogram, Jarque-Bera, Shapiro-Wilk), dan mengapa varians yang tidak konstan (heteroskedastisitas) bisa menyesatkan analisis Anda di Bloomberg.

RPS MINGGU 13 • 2X50 MENIT

Tujuan Pembelajaran Hari Ini

Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu menguji asumsi klasik dasar pada data keuangan sebelum data itu dipakai untuk analisis lanjutan. Secara rinci:

CAPAIAN 1
MENGAPA UJI
Menjelaskan mengapa asumsi klasik (normalitas, kesamaan varians) penting sebelum data keuangan dianalisis statistik.
CAPAIAN 2
NORMALITAS
Mendeteksi normalitas data lewat histogram, skewness/kurtosis, dan uji Jarque-Bera / Shapiro-Wilk.
CAPAIAN 3
VARIANS
Mengenali heteroskedastisitas (varians tidak konstan) pada data return dan dampaknya pada kesimpulan risiko.
CAPAIAN 4
INTERPRETASI
Membaca output uji asumsi klasik (p-value) dan menerjemahkannya menjadi keputusan riset yang tepat.

Kasus: Analis Muda yang Terlalu Percaya Diri

Bayangkan Anda seorang analis junior di sekuritas, diminta menghitung Value at Risk (VaR) — perkiraan kerugian maksimum saham GOTO dalam satu hari dengan tingkat keyakinan 95%. Anda memakai rumus yang mengasumsikan return berdistribusi normal (lonceng simetris).

ASUMSI ANDA
NORMAL
Return harian tersebar rapi di sekitar rata-rata, ekor distribusi tipis — kerugian ekstrem "jarang terjadi".
KENYATAAN PASAR
EKOR TEBAL
Return saham nyatanya sering punya fat tail — lonjakan/anjlok ekstrem lebih sering terjadi dari perkiraan normal.
Kalau asumsi normalitas tidak diuji lebih dulu, VaR Anda bisa meremehkan risiko — persis pola yang muncul saat krisis 2008 dan saat IHSG anjlok tajam Maret 2020.

Mengapa "Asumsi Klasik" Ini Relevan buat Bloomberg?

Terminal Bloomberg menyediakan data mentah (harga, return, volatilitas) — tapi tidak otomatis memberi tahu Anda apakah data itu layak dipakai untuk model statistik tertentu.

DATA MENTAH
HP / HRA
Fungsi Bloomberg menarik histori harga & return, tapi bentuk mentah — belum tentu "siap uji statistik".
UJI ASUMSI
ANDA LAKUKAN
Normalitas & kesamaan varians dicek di software statistik/Excel sebelum data dipakai model.
KEPUTUSAN
LEBIH VALID
Model risiko, regresi, atau perbandingan portofolio jadi lebih bisa dipercaya oleh atasan/klien.
Bagian 1 dari 3
Mengapa Asumsi Klasik Penting?
Konsep dasar: apa itu asumsi klasik, dan kenapa dua di antaranya — normalitas dan kesamaan varians — jadi pemeriksaan wajib sebelum analisis data keuangan.

Apa Itu "Asumsi Klasik" dalam Analisis Data?

Asumsi klasik adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi data agar metode statistik standar (rata-rata, regresi, uji-t) memberi kesimpulan yang valid dan bisa dipercaya.

Dua Asumsi yang Kita Bahas Hari Ini
  • Normalitas: sebaran data (mis. return saham) mengikuti pola distribusi normal — kurva lonceng simetris di sekitar rata-rata.
  • Homoskedastisitas (kesamaan varians): tingkat "penyebaran" data konsisten dari waktu ke waktu atau antar kelompok — lawannya heteroskedastisitas, varians yang berubah-ubah.
Analogi: normalitas mengecek "bentuk" sebaran data; kesamaan varians mengecek "konsistensi lebar" sebaran itu dari periode ke periode.

Mengapa Data Keuangan Sering "Melanggar" Asumsi Ini?

Return saham dan indeks punya karakteristik alami yang membuatnya jarang benar-benar normal atau berkesamaan varians.

EKOR TEBAL
FAT TAIL
Kejadian ekstrem (crash, rally) lebih sering muncul daripada yang diprediksi kurva normal.
VOLATILITY CLUSTERING
GEROMBOL
Periode bergejolak (mis. saat resesi/pandemi) cenderung diikuti periode bergejolak lagi — varians berkelompok, tidak konstan.
Contoh nyata: volatilitas IHSG selama pandemi Covid-19 (Maret 2020) jauh lebih tinggi dari volatilitas normal 2019 — ini contoh heteroskedastisitas antar periode.

Konsekuensi Kalau Asumsi Ini Diabaikan

Melanggar asumsi klasik tidak membuat analisis otomatis "salah total" — tapi membuat kesimpulan Anda tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

JIKA TIDAK NORMAL
VAR/UJI-T BIAS
Estimasi risiko (VaR) dan uji hipotesis (uji-t) berbasis kurva normal jadi kurang akurat, terutama di ekor distribusi.
JIKA HETEROSKEDASTIS
STANDAR ERROR SALAH
Standard error taksiran jadi keliru → kesimpulan "signifikan secara statistik" bisa menyesatkan.
Ini bukan berarti data "tidak boleh dipakai" — tapi Anda perlu tahu metode alternatif (mis. distribusi t, robust standard error) atau memberi disclaimer yang jujur pada laporan.
Bagian 2 dari 3
Menguji Normalitas
Dari visual (histogram) ke ukuran bentuk (skewness, kurtosis), sampai uji formal Jarque-Bera dan Shapiro-Wilk — dihitung langkah demi langkah.

Langkah Pertama: Deteksi Visual dengan Histogram

Cara tercepat mengecek normalitas: plot histogram data return, lalu bandingkan bentuknya dengan kurva lonceng normal.

Mendekati NormalEkor Tebal (Return Saham Riil)puncak tajam + ekor jauh
Histogram puncak tajam (leptokurtik) dengan sedikit titik jauh di kiri-kanan adalah tanda khas data return saham riil — beda dari kurva normal yang mulus.

Coba Sendiri: P-P Plot Normalitas

Ubah parameter distribusi data return saham, lalu lihat bagaimana P-P plot menyimpang dari garis diagonal 45 derajat yang menandai distribusi normal sempurna.

Dua Ukuran Bentuk: Skewness dan Kurtosis

Sebelum uji formal, dua statistik ini merangkum bentuk sebaran data secara angka.

Skewness (kemencengan)

Mengukur ketidaksimetrisan sebaran data.

  • Normal ideal: skewness ≈ 0
  • Positif: ekor kanan lebih panjang (untung ekstrem lebih jarang, rugi lebih sering kecil)
  • Negatif: ekor kiri lebih panjang (rugi ekstrem lebih sering — umum di return saham)
Kurtosis (keruncingan)

Mengukur ketebalan ekor dan keruncingan puncak.

  • Normal ideal: kurtosis ≈ 3 (excess kurtosis ≈ 0)
  • > 3: leptokurtik — puncak tajam, ekor tebal (ciri khas return saham)
  • < 3: platikurtik — puncak datar, ekor tipis

Coba Sendiri: Uji Jarque-Bera — Normalitas Residual

Ubah skewness dan kurtosis data return saham, lalu lihat bagaimana statistik Jarque-Bera dan p-value berubah, dan apakah asumsi normalitas ditolak.

Hitung dari Nol: Uji Jarque-Bera

Uji Jarque-Bera (JB) menggabungkan skewness (S) dan kurtosis (K) jadi satu statistik. Data return 60 hari BBCA (ilustrasi) menghasilkan S = 0,3 dan K = 4,2.

$\text{JB} = (n/6) \times [S^{2} + (K-3)^{2}/4]$
LangkahPerhitunganNilai
1. Kuadrat skewness$0{,}3^{2}$0,09
2. Excess kurtosis kuadrat$(4{,}2 - 3)^{2} = 1{,}2^{2}$1,44
3. Bagi 41,44 ÷ 40,36
4. Jumlahkan dua komponen0,09 + 0,360,45
5. Kalikan n/6 (n=60)(60 ÷ 6) × 0,454,5
JB HITUNG
4,5
Bandingkan dengan nilai kritis chi-square (2 df, α=5%) ≈ 5,99 → JB < nilai kritis → gagal tolak H0 normal

Membaca P-Value: Jarque-Bera vs Shapiro-Wilk

Software (Excel, Eviews, Python) biasanya langsung memberi p-value, bukan hanya statistik hitung. Aturan baca yang sama berlaku untuk kedua uji ini.

P-VALUE > 0,05
NORMAL
Gagal tolak H0 → data cukup layak dianggap normal pada tingkat keyakinan 95%.
P-VALUE ≤ 0,05
TIDAK NORMAL
Tolak H0 → data menyimpang signifikan dari distribusi normal.
Shapiro-Wilk umumnya lebih akurat untuk sampel kecil (n < 50); Jarque-Bera lebih umum dipakai untuk data time-series keuangan sampel besar.
Bagian 3 dari 3
Menguji Kesamaan Varians
Dari plot residual ke uji Levene dan Breusch-Pagan — mengenali heteroskedastisitas pada data return dan volatilitas Bloomberg.

Coba Sendiri: Korelasi Pearson vs Spearman

Ubah data dua variabel dan amati bagaimana koefisien Pearson (linear) dan Spearman (rank) bisa berbeda saat ada outlier atau hubungan non-linear.

Homoskedastisitas vs Heteroskedastisitas

Perhatikan sebaran residual (selisih nilai aktual dan prediksi) di sepanjang waktu.

Homoskedastis (varians konstan)Heteroskedastis (varians melebar)lebar sebaran tetap sepanjang waktusebaran melebar seiring waktu → corong
Pola "corong melebar" (seperti kanan) adalah tanda visual klasik heteroskedastisitas — sering muncul saat volatilitas saham meningkat menjelang/selama krisis.

Hitung dari Nol: Uji Levene Sederhana

Uji Levene membandingkan varians dua kelompok data. Kita bandingkan varians return BBCA sebelum vs selama volatilitas tinggi (ilustrasi, n=5 tiap kelompok).

LangkahPerhitunganNilai
1. Varians kelompok "tenang"rata-rata $(\text{return} - \text{mean})^{2}$0,0004
2. Varians kelompok "bergejolak"rata-rata $(\text{return} - \text{mean})^{2}$0,0028
3. Rasio varians (F sederhana)0,0028 ÷ 0,00047,0
4. Bandingkan nilai kritis F (4,4)F kritis α=5% ≈ 6,397,0 > 6,39
KESIMPULAN
TOLAK H0
Varians "bergejolak" 7x lebih besar dari "tenang" → heteroskedastis — dua periode ini TIDAK boleh disatukan tanpa penyesuaian.

Uji Breusch-Pagan dan Solusi Praktis

Untuk data regresi (bukan hanya dua kelompok), uji Breusch-Pagan lebih umum dipakai — mengecek apakah varians residual berhubungan dengan variabel lain.

Cara Baca Output BP
  • p-value > 0,05 → homoskedastis (aman)
  • p-value ≤ 0,05 → heteroskedastis (perlu penanganan)
Jika Terdeteksi Heteroskedastis
  • Gunakan robust standard error (White's correction)
  • Transformasi data (mis. log return)
  • Model volatilitas khusus (ARCH/GARCH — dibahas ringkas saja)

Cheat Sheet: Uji Asumsi Klasik Hari Ini

UjiYang DicekAturan Baca
Histogram / skewness-kurtosisBentuk sebaran (visual)Simetris & kurtosis ≈3 = mendekati normal
Jarque-BeraNormalitas (sampel besar)p-value > 0,05 → normal
Shapiro-WilkNormalitas (sampel kecil, n<50)p-value > 0,05 → normal
LeveneKesamaan varians antar kelompokp-value > 0,05 → homoskedastis
Breusch-PaganKesamaan varians residual regresip-value > 0,05 → homoskedastis
Kunci mengingat: p-value besar = "aman", p-value kecil (≤0,05) = "curigai" — berlaku hampir untuk semua uji asumsi klasik.

Coba Sendiri: Uji Levene — Apakah Dua Kelompok Punya Varians Sama?

Bandingkan volatilitas return saham perbankan vs tambang, lalu lihat apakah uji Levene menyatakan varians keduanya sama atau berbeda secara signifikan.

Latihan Kelas: Cek Sendiri di Bloomberg

Kerjakan berpasangan (10 menit), lalu satu pasangan mempresentasikan hasilnya.

Instruksi
  • Tarik return harian 1 tahun terakhir salah satu saham (BBCA, TLKM, GOTO, atau ASII) via fungsi HP/HRA di Bloomberg.
  • Buat histogram return tersebut di Excel — apakah bentuknya simetris atau ada ekor tebal?
  • Hitung skewness dan kurtosis (fungsi SKEW dan KURT di Excel) — bandingkan dengan patokan 0 dan 3.
  • Diskusikan: kalau kurtosis di atas 3, apa artinya bagi analis risiko yang memakai saham ini?
Tidak ada jawaban "salah" di sini — tujuan latihan adalah membiasakan Anda melakukan pengecekan ini sebelum analisis lanjutan, bukan menghafal angka tertentu.

Rangkuman & Menuju Pertemuan Berikutnya

Yang Kita Pelajari Hari Ini
  • Mengapa data keuangan sering tidak normal & tidak homoskedastis
  • Menghitung Jarque-Bera untuk uji normalitas
  • Menghitung rasio varians (semangat uji Levene) untuk kesamaan varians
  • Membaca p-value sebagai aturan keputusan universal
MINGGU DEPAN
OPTIMASI PORTOFOLIO
Risk-return, matriks kovarian, dan efficient frontier — membangun portofolio optimal dari saham-saham yang sudah kita analisis.
Tugas mandiri: simpan hasil histogram + skewness/kurtosis latihan kelas Anda — akan dipakai kembali sebagai input membangun matriks kovarian minggu depan.