FEB UNDIP · Bloomberg for Student
Pasar Saham: Analisis Fundamental & Teknikal di Terminal Bloomberg
Pertemuan 4 · Membaca Saham dari Dua Lensa Setelah kenal fungsi dasar Bloomberg, indikator ekonomi, dan kebijakan moneter — sekarang kita turun ke saham individual: mengapa harganya wajar (fundamental) dan ke mana arahnya (teknikal), langsung di layar terminal.
RPS minggu 4 · 2x50 menit
Selamat datang di Pertemuan 4. Tiga pertemuan sebelumnya membangun fondasi Anda: mengenal terminal Bloomberg dan sertifikasi BMC, membaca indikator ekonomi dan siklus bisnis, lalu memahami bagaimana bank sentral seperti Bank Indonesia menggerakkan suku bunga. Hari ini kita turun satu level lebih spesifik, dari ekonomi makro ke satu lembar saham — misalnya BBCA di Bursa Efek Indonesia — dan bertanya dua hal: apakah harganya masuk akal, dan ke arah mana kecenderungannya bergerak. Dua pertanyaan itu dijawab oleh dua mazhab analisis yang saling melengkapi, fundamental dan teknikal, dan keduanya bisa langsung Anda praktikkan di Bloomberg lewat fungsi DES, FA, GP, dan EQS. Siapkan laptop dan akun Bloomberg Anda, karena kelas ini akan sangat hands-on dengan angka nyata. Tujuan Pembelajaran Hari Ini Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu membaca saham individual dari dua sudut pandang analisis menggunakan data Bloomberg. Secara rinci:
Capaian 1 — Konsep
🔍
Membedakan filosofi analisis fundamental (nilai wajar) dan analisis teknikal (pola harga & volume).
Capaian 2 — Hitung
🧮
Menghitung rasio fundamental (PER, PBV ) dan indikator teknikal (RSI ) dari data mentah tanpa salah aritmetika.
Capaian 3 — Terminal
💻
Mengoperasikan fungsi Bloomberg DES, FA, GP, EQS untuk menggali data perusahaan & menyaring saham.
Capaian 4 — Terapan
🇮🇩
Membaca saham riil di BEI (contoh BBCA ) secara kombinasi, dan mengenali kesalahan analisis pemula.
Empat capaian ini adalah penjabaran fokus minggu keempat: analisis pasar saham secara fundamental dan teknikal. Capaian pertama memastikan Anda paham perbedaan filosofis kedua mazhab sebelum menyentuh angka — fundamental bertanya "berapa nilai wajarnya", teknikal bertanya "ke mana arah harganya". Capaian kedua menuntut Anda berhitung sungguhan, bukan hafalan istilah; kita akan menghitung PER, PBV, dan RSI dari data mentah langkah demi langkah. Capaian ketiga membawa Anda langsung ke terminal, karena teori tanpa praktik di Bloomberg tidak lengkap untuk mata kuliah ini — Anda akan pakai fungsi DES untuk profil perusahaan, FA untuk laporan keuangan, GP untuk grafik harga, dan EQS untuk menyaring ratusan saham sekaligus. Capaian keempat mendaratkan semua ini ke kasus nyata BEI dan mengingatkan jebakan yang sering dijatuhi mahasiswa pemula. Dua Analis, Dua Cara Membaca Saham yang Sama Bayangkan dua mahasiswa magang di sekuritas melihat layar Bloomberg untuk saham BBCA yang sama — tapi menghasilkan kesimpulan dari sudut berbeda.
Analis A — "Nilai Wajarnya Berapa?"
📊
Buka fungsi FA : cek laba bersih, ekuitas, utang. Bandingkan harga saham dengan laba dan aset perusahaan — ini analisis fundamental .
Analis B — "Ke Mana Arahnya?"
📈
Buka fungsi GP : lihat grafik harga, pola candlestick, garis rata-rata bergerak. Tidak peduli laba perusahaan — ini analisis teknikal .
Keduanya benar, hanya beda pertanyaan. Analis profesional di meja riset biasanya memakai keduanya sekaligus — itulah yang kita bangun hari ini.
Saya suka membuka topik ini dengan gambaran dua orang magang di meja riset sekuritas, karena perbedaan fundamental dan teknikal baru terasa nyata kalau dikaitkan dengan cara kerja sehari-hari. Analis pertama membuka fungsi FA di Bloomberg untuk saham BBCA, menelusuri laba bersih, ekuitas, dan utang perusahaan, lalu bertanya apakah harga pasar saat ini masuk akal dibanding kinerja sesungguhnya — ini cara berpikir fundamental. Analis kedua sama sekali tidak membuka laporan keuangan; ia membuka fungsi GP, menatap grafik candlestick beberapa bulan terakhir, mencari pola dan tren, lalu bertanya ke arah mana harga cenderung bergerak berikutnya — ini cara berpikir teknikal. Menariknya, keduanya bisa melihat saham yang sama dan sama-sama mengambil keputusan beli, hanya lewat jalan yang berbeda. Di industri nyata, kedua pendekatan ini jarang dipakai sendiri-sendiri; analis yang matang mengombinasikan keduanya, dan itulah keterampilan yang kita bangun sepanjang pertemuan ini. Blok 1 dari 3
Fondasi Analisis Fundamental
Filosofi "nilai wajar": dari makroekonomi turun ke laporan keuangan perusahaan, lalu dihitung jadi rasio yang bisa dibandingkan.
Kita mulai dari mazhab yang lebih dulu diajarkan di ilmu keuangan klasik, yaitu analisis fundamental. Intinya sederhana: setiap saham punya nilai wajar yang ditentukan oleh kinerja sesungguhnya perusahaan — laba, aset, prospek bisnis — dan tugas analis adalah menemukan apakah harga pasar saat ini lebih murah, wajar, atau lebih mahal dari nilai itu. Di blok ini kita akan bahas dua pendekatan meninjau ekonomi, top-down dan bottom-up, lalu turun ke rasio-rasio kunci yang paling sering dipakai seperti PER dan PBV, dan kita tutup dengan bagaimana menggali semua data itu langsung dari fungsi DES dan FA di Bloomberg. Siapkan kalkulator Anda karena di blok ini kita akan menghitung rasio dari data mentah, bukan sekadar membaca angka jadi. Analisis Fundamental vs Teknikal — Filosofi Dasar Sebelum berhitung, pahami dulu asumsi masing-masing mazhab — keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda.
Aspek Analisis Fundamental Analisis Teknikal Pertanyaan inti Berapa nilai wajar saham ini? Ke mana arah harganya? Data yang dipakai Laporan keuangan, ekonomi makro, industri Harga historis & volume perdagangan Horizon waktu Menengah–panjang (bulan–tahun) Pendek–menengah (hari–minggu) Fungsi Bloomberg utama DES, FA GP
Fundamental menjawab "apa yang seharusnya" ; teknikal menjawab "apa yang sedang terjadi" di pasar. Investor jangka panjang condong ke fundamental, trader harian condong ke teknikal.
Tabel ini adalah peta induk seluruh pertemuan hari ini, jadi mari kita baca baris demi baris. Baris pertama paling penting: analisis fundamental bertanya berapa nilai wajar sebuah saham berdasarkan kinerja bisnisnya, sementara analisis teknikal bertanya ke mana arah pergerakan harga berdasarkan pola historisnya — dua pertanyaan yang sama sekali berbeda meski objeknya sama. Karena pertanyaannya berbeda, data yang dipakai juga berbeda: fundamental menggali laporan keuangan dan kondisi ekonomi, teknikal cukup menatap grafik harga dan volume tanpa peduli laba perusahaan. Horizon waktunya pun berbeda; seorang investor yang berniat memegang saham BBCA selama lima tahun akan condong ke fundamental, sementara seorang trader yang ingin untung dalam tiga hari akan condong ke teknikal. Di Bloomberg, perbedaan ini tercermin di fungsi yang dipakai: fundamentalis membuka DES dan FA, sedangkan teknikalis membuka GP — dan sepanjang pertemuan ini kita akan mempraktikkan ketiganya secara berurutan. Pendekatan Fundamental: Top-Down vs Bottom-Up Analis fundamental bisa mulai dari ekonomi besar (top-down) atau langsung dari perusahaan (bottom-up).
TOP-DOWN → Ekonomi Makro Sektor / Industri Perusahaan BOTTOM-UP → Perusahaan Sektor / Industri Ekonomi Makro Bloomberg mendukung keduanya: ECST/WECO untuk gambaran makro (top-down), DES/FA langsung ke laporan keuangan satu emiten (bottom-up).
Ada dua rute untuk sampai ke kesimpulan fundamental, dan keduanya sah. Rute top-down dimulai dari gambar besar: Anda melihat kondisi ekonomi makro dulu — misalnya suku bunga BI sedang naik atau turun — lalu menyempit ke sektor mana yang paling diuntungkan, katakanlah perbankan, baru kemudian memilih emiten terbaik di sektor itu, misalnya BBCA. Rute bottom-up justru kebalikannya: Anda menemukan satu perusahaan menarik lebih dulu, katakanlah karena produknya sedang naik daun seperti platform digital ala Tokopedia, lalu baru mengecek posisinya di industri dan bagaimana kondisi makro memengaruhinya. Tidak ada yang lebih benar; analis mikro yang fokus stock-picking sering pakai bottom-up, sementara manajer portofolio yang mengalokasikan dana antarsektor cenderung top-down. Di Bloomberg, top-down biasa dimulai dari fungsi ringkasan ekonomi, sedangkan bottom-up langsung menuju DES dan FA satu emiten — dan pertemuan hari ini akan banyak berada di jalur bottom-up karena kita fokus pada satu saham demi satu saham. Menghitung Rasio Fundamental Kunci — Hitung dari Nol Dua rasio paling dasar untuk menilai kewajaran harga saham: PER (Price to Earnings Ratio — rasio harga terhadap laba per saham) dan PBV (Price to Book Value — rasio harga terhadap nilai buku per saham). Kasus: saham hipotetis mirip BBCA.
Langkah Perhitungan Nilai Harga saham saat ini (dari fungsi DES) Data pasar terkini Rp 9.800 Laba bersih per saham setahun (EPS) Dari laporan laba-rugi Rp 350 PER = Harga saham ÷ EPS 9.800 ÷ 350 28,0x Nilai buku per saham (BVPS) Ekuitas ÷ jumlah saham beredar Rp 2.000 PBV = Harga saham ÷ BVPS 9.800 ÷ 2.000 4,9x
Interpretasi
28,0x vs ~18x
PER 28,0x berada di atas rata-rata sektor perbankan ~18x — premium sekitar 56% ((28−18)÷18). Pasar menilai prospeknya lebih baik dari rata-rata, atau saham ini relatif mahal — perlu dikonfirmasi dengan data lain.
Mari kita hitung dari nol, karena rasio yang hanya dihafal gampang salah pakai. Pertama kita ambil harga saham saat ini langsung dari fungsi DES di Bloomberg, misalnya sembilan ribu delapan ratus rupiah. Kedua kita ambil laba bersih per saham setahun terakhir, atau EPS, misalnya tiga ratus lima puluh rupiah. PER dihitung dengan membagi harga saham dengan EPS: sembilan ribu delapan ratus dibagi tiga ratus lima puluh sama dengan dua puluh delapan kali — artinya pasar bersedia membayar dua puluh delapan kali lipat laba tahunan perusahaan untuk memiliki satu lembar sahamnya. Untuk PBV, kita perlu nilai buku per saham yang didapat dari ekuitas dibagi jumlah saham beredar, misalnya dua ribu rupiah, lalu harga saham dibagi angka itu menghasilkan empat koma sembilan kali. Angka dua puluh delapan kali ini baru bermakna kalau dibandingkan; kalau rata-rata PER sektor perbankan di BEI sekitar delapan belas kali, saham ini diperdagangkan dengan premium sekitar lima puluh enam persen — bisa berarti pasar optimis dengan prospeknya, atau justru harganya sudah kemahalan, dan itulah yang perlu Anda selidiki lebih lanjut lewat data lain. Coba Sendiri: PER Berapa yang Pantas? Ubah ekspektasi pertumbuhan laba dan biaya modal, lalu lihat bagaimana valuasi PER wajar untuk sebuah saham berubah dari nol.
Coba set pertumbuhan laba ke 15 persen dan biaya modal ke 10 persen — model akan menyarankan PER wajar sekitar 18 sampai 22 kali, jauh lebih tinggi dari pasar rata-rata. Inilah mengapa saham growth seperti UNVR atau ICBP secara historis diperdagangkan di PER tinggi — pasar membayar premium untuk pertumbuhan. Sebaliknya, saham value dengan pertumbuhan rendah wajar diperdagangkan di PER 8 hingga 12 kali. Pertanyaan kunci yang harus selalu Anda ajukan: apakah pertumbuhan ini berkelanjutan, atau hanya sementara? Inilah inti dari analisis fundamental — bukan sekadar membaca angka PER, tetapi memahami dari mana angka itu datang dan apakah masuk akal. Menggali Data Fundamental: Fungsi DES & FA Dua fungsi Bloomberg paling dipakai untuk riset fundamental satu emiten.
Profil singkat perusahaan: sektor, alamat, manajemen kunci Ringkasan harga, kapitalisasi pasar, kisaran 52 minggu Titik masuk cepat sebelum menggali lebih dalam Laporan laba-rugi, neraca, arus kas beberapa tahun terakhir Rasio siap pakai: PER, PBV, ROE, DER — tanpa hitung manual Bisa bandingkan tren tahun-ke-tahun dalam satu layar Alur praktis: ketik ticker <Equity> DES <GO> untuk profil cepat → lanjut FA <GO> untuk bedah laporan keuangan lengkap.
Sekarang kita pindah dari rumus ke tombol di terminal. Fungsi DES adalah pintu masuk tercepat — begitu Anda ketik kode ticker seperti BBCA lalu DES, Bloomberg langsung menampilkan profil ringkas: sektor usaha, manajemen kunci, kapitalisasi pasar, dan kisaran harga lima puluh dua minggu terakhir, cocok untuk orientasi cepat sebelum riset mendalam. Setelah punya gambaran umum, Anda pindah ke fungsi FA yang jauh lebih dalam: laporan laba-rugi, neraca, dan arus kas beberapa tahun terakhir tersaji rapi, lengkap dengan rasio-rasio siap pakai seperti PER, PBV, ROE, dan DER yang sudah dihitungkan otomatis oleh sistem — jadi rumus yang kita hitung manual tadi sebenarnya bisa langsung dibaca di sini. Keunggulan FA dibanding menghitung sendiri dari laporan keuangan adalah kecepatan dan konsistensi metodologi antar-perusahaan, sehingga Anda bisa membandingkan BBCA dengan bank lain apel-lawan-apel. Namun tetap penting memahami rumus di baliknya seperti yang baru kita hitung, supaya Anda tidak sekadar membaca angka tanpa mengerti maknanya. Blok 2 dari 3
Analisis Teknikal & Membaca Grafik
Lupakan laporan keuangan sejenak — di sini kita membaca pola harga dan volume lewat candlestick, indikator, serta garis support & resistance.
Sekarang kita pindah mazhab sepenuhnya. Kalau di blok pertama kita menggali laporan keuangan untuk mencari nilai wajar, di blok ini kita justru mengabaikan laporan keuangan sama sekali dan hanya menatap grafik harga serta volume perdagangan. Asumsi dasarnya berbeda: analisis teknikal percaya bahwa semua informasi — termasuk laba perusahaan — sudah tercermin di harga, sehingga cukup mempelajari pola pergerakan harga itu sendiri untuk memprediksi arah selanjutnya. Kita akan bahas cara membaca candlestick di fungsi GP Bloomberg, menghitung indikator seperti moving average dan RSI, lalu menutup dengan konsep support, resistance, dan garis tren. Siapkan mata Anda untuk membaca pola grafik, dan kalkulator Anda tetap perlu untuk menghitung RSI nanti. Tiga Asumsi Dasar Analisis Teknikal Analisis teknikal berdiri di atas tiga keyakinan yang berbeda total dari fundamental.
Asumsi 1
📉
Harga sudah mencerminkan semua informasi — termasuk laba, berita, dan sentimen pasar.
Asumsi 2
🔁
Harga bergerak dalam tren , bukan acak — tren cenderung berlanjut sampai ada sinyal pembalikan.
Asumsi 3
🔂
Sejarah berulang — pola perilaku investor di masa lalu cenderung terjadi lagi di masa depan.
Karena mengabaikan laporan keuangan, teknikal tidak menjawab apakah saham murah atau mahal secara nilai — hanya ke mana arah harga cenderung bergerak.
Tiga asumsi ini adalah fondasi seluruh analisis teknikal, dan mahasiswa sering kaget karena sangat berbeda dari cara berpikir fundamental. Asumsi pertama: harga pasar sudah mencerminkan semua informasi yang relevan, termasuk laba perusahaan yang tadi kita hitung susah payah lewat PER — teknikalis percaya semua itu sudah otomatis "terbaca" di harga, jadi tidak perlu dihitung ulang. Asumsi kedua: harga bergerak dalam tren, bukan acak sepenuhnya; kalau BBCA sedang tren naik, kemungkinan besar tren itu berlanjut sampai muncul sinyal jelas pembalikan arah. Asumsi ketiga, yang paling filosofis: sejarah cenderung berulang, karena pola perilaku investor — panik saat harga turun, euforia saat harga naik — didorong psikologi manusia yang relatif konsisten dari waktu ke waktu. Konsekuensi pentingnya, dan ini sering jadi kesalahan pemula, teknikal tidak pernah menjawab pertanyaan "apakah saham ini murah", ia hanya menjawab "ke mana kecenderungan arahnya" — dua pertanyaan yang benar-benar berbeda. Membaca Candlestick Chart — Fungsi GP Satu candle merangkum pergerakan harga dalam satu periode: pembukaan, penutupan, tertinggi, terendah.
Candle Bullish (naik) Tutup > Buka Candle Bearish (turun) Tutup < Buka Rangkaian di GP Kotak (body ) putih/terang = harga naik ; kotak abu tua = harga turun . Garis atas-bawah (wick ) menunjukkan tertinggi & terendah periode itu.
Fungsi GP di Bloomberg menampilkan grafik harga dalam bentuk candlestick, dan satu candle itu sebenarnya merangkum empat angka sekaligus: harga pembukaan, penutupan, tertinggi, dan terendah dalam satu periode, misalnya satu hari perdagangan. Kalau harga penutupan lebih tinggi dari pembukaan, candle-nya disebut bullish dan biasa digambar dengan kotak terang; kalau penutupan lebih rendah dari pembukaan, disebut bearish dan digambar dengan kotak gelap. Garis tipis di atas dan bawah kotak, yang disebut wick atau bayangan, menunjukkan seberapa jauh harga sempat naik atau turun sebelum akhirnya kembali ke area penutupan. Ketika Anda melihat rangkaian banyak candle berturut-turut di layar GP, pola itulah yang dibaca teknikalis: rangkaian candle terang berturut-turut biasanya menandakan tren naik yang kuat, sementara campuran candle gelap dan terang yang bergantian menandakan pasar sedang ragu, belum ada arah dominan. Latihan membaca satu-per-satu candle inilah modal dasar sebelum Anda mempelajari indikator yang lebih rumit. Menghitung Indikator RSI — Hitung dari Nol RSI (Relative Strength Index — indeks kekuatan relatif) mengukur momentum: 0–100, di atas 70 dianggap overbought (jenuh beli), di bawah 30 oversold (jenuh jual).
Langkah Perhitungan Nilai Rata-rata kenaikan harga, 14 hari terakhir Total kenaikan ÷ 14 hari 2,4 Rata-rata penurunan harga, 14 hari terakhir Total penurunan ÷ 14 hari 1,2 Relative Strength (RS) 2,4 ÷ 1,2 2,0 RSI = 100 − [100 ÷ (1 + RS)] 100 − [100 ÷ (1+2,0)] 66,7
Interpretasi
RSI ≈ 66,7
Belum melewati ambang 70, tapi mendekati zona overbought — momentum beli kuat, waspada potensi koreksi harga dalam waktu dekat.
RSI sering terasa seperti kotak ajaib di layar Bloomberg, padahal rumusnya bisa kita hitung sendiri dari nol. Pertama kita hitung rata-rata kenaikan harga selama empat belas hari terakhir — anggap saja hasilnya dua koma empat, artinya rata-rata setiap hari naik saham ini bergerak naik dua koma empat poin. Kedua kita hitung rata-rata penurunannya dengan cara sama, misalnya satu koma dua. Ketiga kita bagi rata-rata kenaikan dengan rata-rata penurunan untuk mendapat Relative Strength, dua koma empat dibagi satu koma dua sama dengan dua koma nol — artinya tekanan beli dua kali lebih kuat dari tekanan jual. Terakhir kita masukkan ke rumus RSI: seratus dikurangi seratus dibagi satu ditambah RS, yaitu seratus dikurangi seratus dibagi tiga, hasilnya enam puluh enam koma tujuh. Angka ini belum melewati tujuh puluh yang jadi ambang jenuh beli, tetapi sudah cukup dekat sehingga seorang trader akan mulai waspada — momentum beli sedang kuat, tapi ruang untuk naik lebih jauh mulai menyempit dan koreksi bisa terjadi kapan saja. Coba Sendiri: Golden Cross atau Death Cross? Geser parameter SMA jangka pendek dan panjang, amati kapan garis-garis itu berpotongan dan bagaimana RSI bereaksi di sekitar titik silang tersebut.
Sekarang kita coba langsung — saya minta satu mahasiswa maju untuk memainkan widget ini. Silakan ubah periode SMA jangka pendek dan jangka panjang, lalu perhatikan titik di mana kedua garis itu berpotongan; kalau garis pendek memotong ke atas garis panjang, itu disebut golden cross dan biasanya sinyal beli, sebaliknya kalau memotong ke bawah itu death cross, sinyal jual. Perhatikan juga bagaimana nilai RSI di panel bawah bergerak mendekati zona overbought atau oversold pada momen yang sama. Dengan melihat SMA dan RSI bersamaan seperti ini, Anda akan lebih terbiasa membaca sinyal kombinasi, bukan hanya satu indikator saja — dan itu jadi bekal penting saat kita masuk ke pembahasan support, resistance, dan garis tren berikutnya. Support, Resistance & Garis Tren Support (batas bawah) adalah level harga tempat pembeli cenderung masuk; resistance (batas atas) tempat penjual cenderung keluar.
Resistance Support Harga "memantul" antara dua garis ini disebut trading range . Kalau harga menembus resistance dengan volume besar, itu sinyal breakout — potensi tren naik baru dimulai.
Support dan resistance adalah dua konsep paling praktis dalam analisis teknikal, dan Anda akan sering mendengarnya dipakai trader di berita ekonomi. Resistance adalah level harga di atas yang berulang kali gagal ditembus, biasanya karena di titik itu banyak investor memutuskan menjual, sehingga tekanan jual menahan harga naik lebih tinggi. Support adalah kebalikannya, level di bawah yang berulang kali menahan penurunan harga, karena di titik itu banyak pembeli baru masuk memborong saham yang mereka anggap sudah murah. Ketika harga bergerak naik-turun di antara dua garis ini berulang kali, kondisi itu disebut trading range, dan trader teknikal sering membeli dekat support lalu menjual dekat resistance. Yang paling ditunggu trader adalah momen breakout, yaitu ketika harga akhirnya menembus resistance disertai lonjakan volume perdagangan yang besar — itu dibaca sebagai sinyal kuat bahwa tren naik baru sedang dimulai, dan pola serupa juga berlaku sebaliknya kalau harga menembus ke bawah support. Blok 3 dari 3
Kombinasi & Praktik di Terminal Bloomberg
Menyatukan dua mazhab, menyaring saham dengan EQS, dan membedah satu studi kasus BEI langkah demi langkah.
Di blok terakhir ini kita menyatukan semua yang sudah dipelajari. Kita akan bahas kapan sebaiknya mengandalkan fundamental, kapan mengandalkan teknikal, dan mengapa keduanya sering dipakai berdampingan oleh analis profesional di sekuritas maupun manajer investasi. Kita juga akan berkenalan dengan fungsi EQS di Bloomberg, alat penyaring yang bisa menyortir ratusan saham di BEI berdasarkan kriteria fundamental maupun teknikal sekaligus, jauh lebih cepat dari mengecek satu-satu. Kita tutup blok ini dengan studi kasus langkah demi langkah membaca BBCA di Bloomberg, dan daftar kesalahan umum yang sering dilakukan pemula supaya Anda tidak mengulanginya. Setelah blok ini Anda siap praktik mandiri di terminal. Kapan Pakai Fundamental, Kapan Pakai Teknikal? Keduanya bukan saingan — pilihannya bergantung pada tujuan dan horizon waktu Anda.
Condong Fundamental
🏦
Investor jangka panjang (mis. dana pensiun, reksa dana saham) Tujuan: memilih perusahaan berkualitas untuk dipegang bertahun-tahun Contoh: memilih BBCA karena ROE konsisten tinggi Condong Teknikal
⚡
Trader harian/mingguan, momentum jangka pendekTujuan: menentukan kapan masuk/keluar, bukan perusahaan mana Contoh: masuk saat RSI turun dari zona overbought Praktik umum di sekuritas: pakai fundamental untuk memilih saham (apa yang dibeli), lalu teknikal untuk memilih waktu (kapan membeli/menjual).
Setelah memahami keduanya, pertanyaan paling praktis adalah kapan Anda memakai yang mana, dan jawabannya bergantung pada tujuan Anda. Kalau Anda seorang investor jangka panjang, misalnya mengelola dana pensiun atau reksa dana saham yang berniat memegang posisi bertahun-tahun, fundamental jauh lebih relevan karena yang dicari adalah perusahaan berkualitas dengan kinerja konsisten, seperti memilih BBCA karena ROE-nya stabil tinggi dari tahun ke tahun. Sebaliknya kalau Anda seorang trader yang ingin untung dalam hitungan hari atau minggu, teknikal jauh lebih berguna karena yang dicari bukan perusahaan mana yang bagus, melainkan kapan momentum harga mendukung untuk masuk atau keluar posisi. Praktik paling umum di meja riset sekuritas sebenarnya menggabungkan keduanya secara berurutan: fundamental dipakai lebih dulu untuk menyaring dan memilih saham mana yang layak dilirik, baru kemudian teknikal dipakai untuk menentukan waktu eksekusi yang paling menguntungkan — jadi keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Coba Sendiri: Hitung Altman Z-Score — Skrining Risiko Bangkrut Ubah rasio keuangan kunci sebuah emiten, lalu lihat apakah ia masuk zona aman, abu-abu, atau bahaya gagal bayar.
Coba masukkan rasio emiten yang sedang kesulitan — misalnya laba ditahan negatif dan sales melambat — dan lihat bagaimana Z-Score jatuh ke zona bahaya di bawah 1,8. Altman Z-Score adalah salah satu model prediksi kebangkrutan paling teruji dalam literatur keuangan, dan meskipun dirancang untuk emiten AS tahun 1960-an, logikanya masih relevan untuk skrining emiten Indonesia hari ini. Di Terminal Bloomberg, indikator serupa tersedia via fungsi {CRPR} dan {DEFAULT} yang memakai model risiko kredit modern. Gunakan Z-Score sebagai penyaring pertama: hindari emiten di zona merah kecuali Anda punya tesis khusus tentang turn-around. Menyaring Saham dengan Fungsi EQS EQS (Equity Screening) menyaring ratusan saham sekaligus berdasarkan kriteria yang Anda tentukan — kombinasi fundamental & teknikal.
PER < 15x (relatif murah) ROE > 15% (profitabilitas sehat) DER < 1,0x (utang tidak berlebihan) RSI antara 30–50 (belum overbought) Harga di atas moving average 50 hari (tren naik) Volume 30 hari terakhir naik Hasil EQS bukan keputusan final — ia hanya daftar kandidat yang lolos filter. Analisis mendalam (DES, FA, GP) tetap wajib sebelum memutuskan.
Kalau tadi kita menghitung rasio satu-per-satu untuk satu saham, fungsi EQS di Bloomberg membalik cara kerjanya: Anda tentukan dulu kriteria yang diinginkan, lalu sistem menyaring ratusan saham di seluruh BEI dan menyisakan hanya yang lolos, dalam hitungan detik. Di sisi fundamental, Anda bisa menetapkan misalnya PER di bawah lima belas kali untuk mencari saham relatif murah, ROE di atas lima belas persen untuk memastikan profitabilitas sehat, dan DER di bawah satu koma nol kali supaya utangnya tidak berlebihan. Di sisi teknikal, Anda bisa menambahkan RSI di antara tiga puluh sampai lima puluh untuk menghindari saham yang sudah jenuh beli, atau mensyaratkan harga berada di atas rata-rata bergerak lima puluh hari sebagai tanda tren naik sedang berlangsung. Yang penting diingat, hasil EQS itu bukan rekomendasi beli otomatis, melainkan sekadar daftar kandidat awal; setiap saham yang lolos filter tetap wajib Anda telusuri lebih dalam lewat DES, FA, dan GP sebelum benar-benar mengambil keputusan, persis seperti yang sudah kita latih sepanjang pertemuan ini. Coba Sendiri: Susun Kriteria Screening EQS Anda Atur ambang P/E, ROE, pertumbuhan laba, dan rasio utang, lalu lihat saham BEI mana yang lolos penyaringan bertingkat ini.
Silakan maju dan coba dua preset: pertama strategi value dengan P/E maksimum 10 dan ROE minimum 20, kemudian strategi growth dengan pertumbuhan laba minimum 15. Perhatikan bagaimana daftar saham yang lolos berubah drastis — kandidat value cenderung emiten mature seperti bank besar, sementara kandidat growth biasanya tambang atau konsumer dengan momentum. Saat sudah ada hasil, langkah berikutnya di Terminal adalah masuk ke tiap ticker lewat FA untuk verifikasi data, lalu RV untuk bandingkan dengan peer. Tips profesional: tambahkan filter kapitalisasi pasar minimum dan likuiditas volume agar tidak terjebak saham illiquid. Studi Kasus: Membaca BBCA di Bloomberg, Langkah demi Langkah Menyatukan fundamental & teknikal dalam satu alur kerja nyata, seperti yang dilakukan analis sekuritas.
Walkthrough A — Sisi Fundamental
1. Ketik BBCA IJ Equity DES <GO> — cek profil & kapitalisasi pasar 2. Buka FA <GO> — catat PER, PBV, ROE tiga tahun terakhir 3. Bandingkan dengan rata-rata sektor perbankan (peer comparison) 4. Simpulkan: wajar / premium / diskon terhadap peer Walkthrough B — Sisi Teknikal
1. Buka GP <GO> — amati tren 6 bulan terakhir 2. Tandai level support & resistance yang berulang 3. Cek RSI & moving average — overbought, oversold, atau netral? 4. Simpulkan: momentum mendukung masuk sekarang atau tunggu? Studi kasus ini menyatukan seluruh keterampilan hari ini menjadi satu alur kerja seperti yang benar-benar dilakukan analis di meja riset sekuritas terhadap BBCA, bank terbesar di Bursa Efek Indonesia dari sisi kapitalisasi pasar. Di jalur fundamental, langkah pertama adalah orientasi cepat lewat DES untuk melihat profil dan ukuran perusahaan, lalu masuk ke FA untuk mencatat PER, PBV, dan ROE tiga tahun terakhir supaya terlihat trennya bukan hanya angka sesaat, kemudian membandingkan dengan rata-rata bank sejenis seperti BRI atau Mandiri sebagai peer comparison, dan akhirnya menyimpulkan apakah harga saat ini wajar, premium, atau diskon. Di jalur teknikal secara paralel, Anda membuka GP untuk mengamati tren enam bulan terakhir, menandai level support dan resistance yang berulang kali diuji harga, mengecek RSI dan moving average untuk melihat apakah momentum sedang jenuh beli atau justru masih ruang naik, dan akhirnya menyimpulkan apakah momentum mendukung masuk sekarang atau lebih baik menunggu. Analis matang menjalankan kedua jalur ini berdampingan sebelum menulis rekomendasi akhir kepada kliennya. Kesalahan Umum Analisis Saham Pemula Empat jebakan yang paling sering dijumpai — kenali agar Anda tidak mengulanginya.
Kesalahan Mengapa Keliru Cara Menghindari Pakai PER saja tanpa pembanding PER 28x terlihat "mahal" — padahal bisa wajar untuk sektor tertentu Selalu bandingkan dengan rata-rata sektor (peer comparison) Abaikan fundamental demi grafik Saham dengan tren teknikal bagus bisa saja perusahaannya bermasalah Kombinasikan — teknikal untuk waktu, fundamental untuk pilihan saham Anggap RSI di atas 70 = "jual sekarang" Saham bisa tetap overbought berminggu-minggu di tren kuat Gunakan RSI sebagai konfirmasi, bukan sinyal tunggal Kejar saham setelah breakout besar Sering sudah telat — risiko naik, potensi untung menyempit Cek volume & konfirmasi tren sebelum ikut masuk
Prinsip umum: jangan pernah memutuskan hanya dari satu angka atau satu indikator — selalu silangkan beberapa sumber data.
Setelah menguasai teknik, penting juga mengenali jebakan yang sering menjatuhkan investor pemula, termasuk mahasiswa yang baru belajar seperti Anda. Kesalahan pertama adalah memakai PER sendirian tanpa pembanding; angka dua puluh delapan kali yang tadi kita hitung bisa terdengar mahal, padahal untuk sektor dengan pertumbuhan tinggi angka itu wajar-wajar saja, sehingga pembanding sektor mutlak diperlukan. Kesalahan kedua adalah mengabaikan fundamental sama sekali demi mengejar pola grafik yang terlihat menarik, padahal grafik bagus tidak menjamin perusahaannya sehat — bisa saja tren naik itu didorong isu sesaat yang tidak berkelanjutan. Kesalahan ketiga adalah menganggap RSI di atas tujuh puluh sebagai perintah jual mutlak, padahal dalam tren yang sangat kuat saham bisa bertahan overbought berminggu-minggu sebelum akhirnya terkoreksi, sehingga RSI sebaiknya jadi konfirmasi tambahan, bukan sinyal tunggal. Kesalahan keempat adalah terburu-buru mengejar saham yang sudah melonjak tajam setelah breakout, padahal momentum terbaik biasanya sudah lewat dan risiko justru meningkat pada titik itu. Prinsip yang harus Anda pegang: jangan pernah memutuskan hanya berdasarkan satu angka. Latihan Praktik di Terminal Bloomberg Kerjakan langsung di terminal kampus atau simulasi Bloomberg Market Concepts (BMC) Anda.
Pilih satu emiten BEI sektor konsumer/UMKM digital (mis. saham terkait ekosistem Tokopedia/GoTo ) atau perbankan (mis. BBCA ) Buka DES dan FA — catat PER dan PBV terkini, hitung ulang manual dari harga & EPS Buka GP — identifikasi 1 level support dan 1 level resistance, hitung RSI 14 hari Tulis kesimpulan 3–5 kalimat: apakah saham ini layak diperhatikan , dari sisi fundamental & teknikal Kumpulkan dalam bentuk screenshot terminal + catatan analisis singkat. Dibahas bersama di awal pertemuan berikutnya.
Latihan ini adalah kesempatan Anda mempraktikkan langsung semua yang sudah dipelajari, jadi luangkan waktu serius mengerjakannya di terminal kampus atau lewat simulasi Bloomberg Market Concepts yang sudah Anda kenal sejak pertemuan pertama. Pilih satu emiten yang relevan dengan keseharian Anda sebagai mahasiswa bisnis digital, misalnya saham yang berkaitan dengan ekosistem digital seperti GoTo yang menaungi Tokopedia, atau kalau ingin yang lebih klasik pilih BBCA. Jalankan urutan yang sudah kita latih: DES untuk orientasi, FA untuk data fundamental lalu hitung ulang PER dan PBV secara manual supaya rumusnya benar-benar melekat, kemudian GP untuk menandai support, resistance, dan menghitung RSI empat belas hari dari data yang Anda amati. Tugas ini sengaja tidak diberi jawaban benar tunggal, karena tujuannya melatih penalaran Anda menggabungkan dua mazhab menjadi satu kesimpulan yang koheren, dan kita akan bahas bersama beberapa hasil kerja Anda di awal pertemuan berikutnya sebagai jembatan menuju topik indeks saham dan peer comparison. Ringkasan & Menuju Pertemuan 5 Yang Sudah Anda Kuasai
Filosofi & rasio analisis fundamental (PER, PBV) Filosofi & indikator analisis teknikal (RSI, support/resistance) Fungsi Bloomberg DES, FA, GP, EQS Pertemuan 5 — Selanjutnya
📇
Dari satu saham ke indeks & peer comparison — bagaimana IHSG dibentuk dan bagaimana membandingkan BBCA dengan bank sejenis secara sistematis.
Satu saham sudah bisa Anda bedah dari dua sisi. Pertanyaan berikutnya: bagaimana kalau harus membandingkan puluhan saham sekaligus ?
Mari kita rangkum perjalanan hari ini. Anda mulai dari filosofi dua mazhab yang berbeda, lalu benar-benar berhitung dari nol untuk PER, PBV, dan RSI sehingga rumusnya bukan lagi angka abstrak melainkan sesuatu yang bisa Anda telusuri sendiri. Anda juga sudah tahu jalur praktis di terminal: DES untuk orientasi cepat, FA untuk data fundamental lengkap, GP untuk membaca grafik dan indikator teknikal, serta EQS untuk menyaring banyak saham sekaligus. Kemampuan membedah satu saham seperti BBCA dari dua sisi ini adalah fondasi penting, tetapi di dunia nyata Anda jarang hanya menganalisis satu saham sendirian — biasanya Anda perlu membandingkannya dengan puluhan kompetitor sekaligus untuk memutuskan mana yang terbaik. Itulah yang akan kita bahas di pertemuan kelima: bagaimana indeks saham seperti IHSG dibentuk, dan bagaimana melakukan peer comparison secara sistematis di Bloomberg. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, dan jangan lupa kerjakan latihan praktik Anda.