Klik langkah demi langkah untuk melihat titik data ditugaskan ke centroid terdekat, lalu centroid diperbarui hingga konvergen.
Memilih K yang Tepat: Metode Elbow
Elbow Method: Plot nilai Within-Cluster Sum of Squares (WCSS) terhadap berbagai nilai k. Titik "elbow" adalah k optimal — di situlah penurunan WCSS mulai melambat drastis.
k
WCSS
Penurunan
2
9.200
—
3
4.800
−4.400 ✓
4
3.900
−900
5
3.600
−300
6
3.450
−150
k=3 adalah titik elbow — penurunan terbesar.
Silhouette Score
Mengukur seberapa mirip suatu titik dengan klusternya dibanding kluster tetangga.
s(i) = (b − a) / max(a, b)
s ≈ 1: titik cocok di kluster ini
s ≈ 0: di perbatasan dua kluster
s ≈ −1: salah kluster
Target: rata-rata silhouette > 0,5
Coba Sendiri: Temukan Titik Elbow pada Kurva WCSS
Ubah jumlah k lalu amati bagaimana kurva WCSS menurun dan di mana penurunannya mulai melandai (titik elbow).
Hierarchical Clustering: Membangun Dendogram
Dua pendekatan utama:
Metode
Cara Kerja
Cocok Untuk
Agglomerative (bottom-up)
Mulai dari n kluster, gabung yang terdekat
Dataset kecil-menengah
Divisive (top-down)
Mulai dari 1 kluster, pecah secara rekursif
Skenario khusus
Linkage methods:
Single linkage: jarak minimum antar pasang
Complete linkage: jarak maksimum antar pasang
Average linkage: rata-rata semua jarak (paling stabil)
Ward: minimasi variance dalam kluster (paling populer)
Coba Sendiri: Potong Dendrogram di Ketinggian Berbeda
Geser garis potong pada dendrogram lalu amati bagaimana jumlah kluster yang terbentuk berubah tanpa perlu menentukan k di awal.
Topik 2
Association Rules Mining
Menemukan pola "jika — maka" dalam data transaksi
Metrik Association Rules
Support
support(A→B) = P(A ∩ B) = |A∪B| / |transaksi|
Seberapa sering A dan B muncul bersama dari seluruh transaksi. Threshold minimum mencegah rules trivial.
Confidence
conf(A→B) = P(B|A) = support(A∪B) / support(A)
Seberapa sering B dibeli ketika A sudah ada di keranjang. Ukuran kekuatan rule.
Lift
lift(A→B) = conf(A→B) / support(B)
Lift > 1: A dan B benar-benar berkaitan. Lift = 1: independen. Lift < 1: saling menghindari.
Contoh: Dari 1.000 transaksi, 200 berisi mi instan, 150 berisi telur, 120 berisi keduanya. Support = 120/1.000 = 12% | Confidence = 120/200 = 60% | Lift = 0,6/0,15 = 4,0 (sangat kuat)
Coba Sendiri: Hitung Support, Confidence, dan Lift
Ubah jumlah transaksi yang mengandung item A, B, dan keduanya, lalu amati bagaimana support, confidence, dan lift berubah.
Algoritma Apriori vs FP-Growth
Dimensi
Apriori
FP-Growth
Pendekatan
Generate-and-test (kandidat itemset)
FP-Tree — tanpa kandidat eksplisit
Skalabilitas
Lambat pada dataset besar (banyak scan DB)
Cepat — hanya 2 kali scan database
Memori
Rendah (prune dini)
Lebih tinggi (menyimpan tree)
Kelebihan
Mudah dipahami, implementasi sederhana
Efisien untuk transaksi jutaan baris
Kekurangan
Lambat jika support rendah
Tree bisa sangat besar jika data sparse
Kapan dipakai
Dataset kecil (<100 rb transaksi), pembelajaran
Produksi: POS e-commerce, ERP retail
Prinsip Apriori: Jika itemset tidak frequent, semua supersetnya juga tidak frequent — prune dini menghemat komputasi.
Interpretasi Rules untuk Keputusan Bisnis
Rule
Sup.
Conf.
Lift
Aksi
Sampo → Kondisioner
18%
72%
3.2
Bundle promo
Popok → Susu formula
9%
68%
4.5
Rak berdekatan
Kopi → Gula
31%
85%
2.1
Cross-sell
Sabun mandi → Pasta gigi
22%
61%
1.3
Pantau
Framework Keputusan
Lift > 3 + Conf > 60%: tindakan segera (bundle, rak, notifikasi)
Lift 1,5–3: uji A/B sebelum scale
Lift < 1,5: monitor, belum perlu tindakan
Rules banyak ≠ rules berguna. Filter dengan minimum lift ≥ 1,5 dan pastikan dapat ditindaklanjuti oleh tim bisnis.
Topik 3
Model Evaluation & Aplikasi Bisnis
Studi kasus Indonesia: Gojek · Tokopedia · BCA · BRImo
Model Evaluation: Kerangka Lengkap
Untuk Clustering:
Metrik
Interpretasi
Target
Silhouette Score
Kohesi vs separasi
> 0,50
Davies-Bouldin Index
Rasio scatter vs separasi
Serendah mungkin
WCSS / Elbow
Variance dalam kluster
Titik elbow
Calinski-Harabasz
Between vs within scatter
Setinggi mungkin
Untuk Model Prediktif (supervised):
Metrik
Cocok Untuk
Accuracy
Data seimbang
Precision / Recall
Kelas imbalanced (fraud, churn)
F1-Score
Keseimbangan P & R
AUC-ROC
Ranking probabilitas
RMSE / MAE
Regresi (prediksi angka)
Studi Kasus: Segmentasi Pelanggan Gojek
Konteks: Gojek memiliki ~38 juta pengguna aktif bulanan (data publik ~2023). Segmentasi diperlukan untuk personalisasi promosi GoFood, GoRide, dan GoPay.
Fitur yang digunakan:
Frekuensi order per bulan
Rata-rata nilai transaksi
Layanan dominan (GoRide/GoFood/GoPay)
Waktu aktif (pagi/siang/malam)
Recency (hari sejak order terakhir)
Hasil K-means k=4:
Segmen
Profil
Strategi
Champion
Frek tinggi, nilai tinggi
Loyalty reward
Loyal
Frek tinggi, nilai menengah
Upsell layanan
At-Risk
Pernah aktif, recency tinggi
Win-back voucher
New/Passive
Frek rendah, baru bergabung
Onboarding promo
Framework ini identik dengan RFM (Recency-Frequency-Monetary) yang umum di CRM.
Coba Sendiri: Hitung Skor RFM Pelanggan
Masukkan nilai recency, frequency, dan monetary seorang pelanggan lalu amati ke segmen mana ia jatuh (Champion, Loyal, At-Risk, atau New/Passive).
Studi Kasus: Market Basket Tokopedia
Konteks: Tokopedia (kini TikTok Shop ID) memproses jutaan transaksi harian. Association rules digunakan untuk fitur "Sering Dibeli Bersama" dan penentuan bundle produk.
Pengaturan parameter:
Algoritma: FP-Growth (skala jutaan transaksi)
Minimum support: 0,5% (50 rb dari 10 jt transaksi)
Minimum confidence: 40%
Minimum lift: 1,5
Max itemset length: 3 produk
Rules yang ditemukan (contoh ilustratif):
Rule
Lift
Aksi
Case HP → Screen protector
5.2
Bundle otomatis
Sepatu lari → Kaos kaki olahraga
3.8
"Lengkapi outfit"
Printer → Tinta refill
4.1
Subscription
Buku masak → Peralatan dapur
2.7
Cross-category
Nilai lift ilustratif untuk pembelajaran — bukan data resmi Tokopedia.
Studi Kasus: Deteksi Anomali BRImo & BCA
BRImo — Clustering untuk Profil Transaksi Normal
K-means membentuk profil transaksi normal per segmen nasabah
Transaksi yang jauh dari centroid segmennya ditandai sebagai anomali
Threshold: jarak > 3σ dari centroid = alert fraud
Diintegrasikan ke sistem real-time monitoring
BCA — Behavioral Clustering Nasabah
Hierarchical clustering mengklasifikasikan nasabah berdasarkan pola transaksi bulanan
Hasil: segmen Wealth, Mass Affluent, Mass, dan Micro
Setiap segmen mendapatkan produk dan komunikasi berbeda
Model diperbarui setiap kuartal
Pelajaran kunci: Clustering tidak hanya untuk marketing — anomaly detection, credit scoring, dan risk segmentation juga mengandalkan teknik yang sama.
Diagram: Pipeline Analitik Prediktif
Rangkuman Pertemuan 7
Key Takeaway — 5 Poin Utama:
K-means efisien untuk dataset besar tetapi memerlukan k yang ditentukan di awal; gunakan Elbow + Silhouette untuk memilih k optimal.
Hierarchical clustering tidak perlu k di awal dan menghasilkan dendogram yang intuitif, namun tidak skalabel untuk data sangat besar.
Association rules mengukur kekuatan asosiasi antar item via support, confidence, dan lift — lift > 1,5 biasanya baru layak ditindaklanjuti.
FP-Growth lebih cepat dari Apriori untuk dataset produksi (jutaan transaksi) karena hanya membutuhkan dua kali scan database.
Pemilihan metrik evaluasi bergantung konteks: silhouette score untuk clustering, AUC-ROC/Recall untuk kasus imbalanced seperti deteksi fraud.
Ingat: Teknik terbaik bukan yang paling canggih, melainkan yang paling dapat dijelaskan dan ditindaklanjuti oleh pemangku kepentingan bisnis.
Tugas & Diskusi Kelompok
Tugas Individu (dikumpul P9)
Pilih satu dataset publik (UCI Machine Learning, Kaggle, atau data simulasi) yang memiliki minimal 500 baris.
Terapkan K-means dengan k=3 dan k=5. Hitung silhouette score keduanya.
Jalankan association rules mining dengan minimum support 5% dan confidence 40%.
Tulis laporan 2 halaman: interpretasi bisnis dari kluster dan rules yang ditemukan.
Diskusi Kelompok (sesi ini)
Skenario: Anda adalah data analyst di jaringan minimarket dengan 500 gerai di Jawa Tengah. Manajer meminta Anda mengoptimalkan tata letak produk menggunakan data POS 3 bulan terakhir (simulasi: 50.000 transaksi).
Algoritma mana yang dipilih dan mengapa?
Parameter minimum support berapa yang masuk akal?
Bagaimana menyampaikan hasilnya kepada manajer non-teknis?
Q&A
Pertanyaan & Diskusi
Preview Pertemuan 8: Insight Strategis dari Analisis Data
Kita akan membahas bagaimana mengubah output teknis (kluster, rules, prediksi) menjadi rekomendasi strategis yang dapat dipresentasikan ke C-level — dari data story telling, visualisasi eksekutif, hingga business case berbasis data.
Slides & materi: LMS Kulino UNDIP · Konsultasi: jam kantor atau email dosen