Program Studi Bisnis Digital • FEB
Bahasa Inggris 3
Pertemuan 4 — Simulasi Negosiasi Bisnis: Bahasa Penawaran, Penerimaan, Penolakan, Kompromi Dari kalimat formal ke ruang tawar-menawar nyata — menguasai register bahasa Inggris yang dipakai eksekutif saat membuka penawaran, menolak dengan sopan, dan mencapai titik kompromi.
RPS MINGGU 4 • 2 × 50 MENIT
Selamat datang, Anda semua, di Pertemuan 4 Bahasa Inggris 3. Dua pertemuan lalu kita berlatih presentasi persuasif; hari ini kita masuk ke ruang yang lebih menegangkan sekaligus lebih dekat dengan dunia kerja Anda, yaitu negosiasi bisnis. Bayangkan Anda lulus nanti dan harus menegosiasikan harga kontrak vendor untuk startup Anda, atau menawar gaji saat wawancara kerja di perusahaan seperti Tokopedia atau Gojek — bahasa Inggris yang tepat bisa menentukan apakah Anda dianggap profesional atau justru terlihat kaku dan naif. Kita akan belajar empat pilar bahasa negosiasi: cara membuka penawaran, menerima, menolak dengan halus, dan mencari kompromi, lengkap dengan simulasi berpasangan di akhir sesi. Mari kita mulai dengan memahami mengapa penguasaan bahasa negosiasi ini begitu krusial bagi lulusan Bisnis Digital. Tujuan Pembelajaran Hari Ini Setelah pertemuan ini, Anda diharapkan mampu berpartisipasi dalam simulasi negosiasi memakai register bahasa Inggris bisnis yang tepat. Secara rinci:
CAPAIAN 1 — STRUKTUR
TAHAPAN NEGOSIASI
Mengidentifikasi empat tahap negosiasi (pembukaan, eksplorasi, tawar-menawar, penutupan) dan fungsi bahasanya masing-masing.
CAPAIAN 2 — REGISTER
4 FUNGSI BAHASA
Menyusun kalimat penawaran, penerimaan, penolakan halus, dan kompromi dengan tingkat formalitas yang tepat.
CAPAIAN 3 — HEDGING
BAHASA HALUS
Menggunakan hedging language ("I'm afraid...", "Would it be possible...") agar penolakan tetap profesional.
CAPAIAN 4 — PRAKTIK
SIMULASI LIVE
Mempraktikkan dialog negosiasi berpasangan dalam skenario bisnis digital yang realistis.
Empat capaian ini saling menopang, Anda akan menyadarinya saat masuk ke sesi simulasi di akhir pertemuan. Capaian pertama memberi Anda peta jalan supaya tidak bingung negosiasi sedang di tahap mana, mirip seperti membaca alur rapat dengan calon investor startup. Capaian kedua dan ketiga adalah inti bahasa yang akan kita latih paling banyak, karena kesalahan paling umum mahasiswa Indonesia adalah menolak tawaran terlalu blak-blakan sehingga terdengar kasar dalam bahasa Inggris bisnis. Terakhir, capaian keempat memastikan teori tadi benar-benar melekat lewat praktik langsung, seperti simulasi negosiasi harga sewa kios UMKM di platform digital yang akan kita mainkan nanti. BAGIAN 1 DARI 3
Anatomi Negosiasi Bisnis
Memahami struktur dan strategi dasar sebelum masuk ke bahasa spesifiknya.
Sebelum kita menghafal frasa-frasa siap pakai, penting bagi Anda untuk memahami dulu kerangka besar sebuah negosiasi berjalan. Banyak orang gagal negosiasi bukan karena bahasa Inggrisnya buruk, tetapi karena tidak paham di tahap mana mereka sedang berada, sehingga bicara terlalu cepat menawar harga padahal baru tahap perkenalan. Di bagian ini kita akan bedah empat tahap negosiasi dan konsep ZOPA, zona kesepakatan yang mungkin dicapai, yang sangat relevan misalnya saat Anda bernegosiasi dengan supplier bahan baku untuk bisnis kuliner rumahan. Anggap bagian ini sebagai peta sebelum kita masuk ke kosakata dan kalimat siap pakainya. Apa Itu Negosiasi Bisnis? Negosiasi adalah proses komunikasi dua arah untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan (win-win), bukan sekadar "menang-kalah".
Nada (tone) yang salah bisa merusak hubungan bisnis jangka panjang. Bahasa Inggris formal ≠ kaku — tetap perlu terasa manusiawi dan sopan. Kesalahan register sering dianggap sebagai kurang profesional oleh mitra asing. Negosiasi harga kontrak vendor logistik untuk toko online. Tawar-menawar term investasi dengan calon investor startup. Diskusi gaji dan tunjangan saat wawancara kerja di perusahaan multinasional. Konsep win-win ini penting Anda pegang sejak awal, karena banyak pemula mengira negosiasi berarti mengalahkan lawan bicara sehabis-habisnya. Dalam praktik bisnis nyata, misalnya saat pemilik UMKM menegosiasikan harga sewa lapak di platform seperti Shopee Mall dengan pihak marketplace, hubungan jangka panjang jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat. Perhatikan juga bahwa bahasa Inggris formal tidak berarti Anda harus terdengar seperti robot; ada ruang untuk bersikap ramah sambil tetap tegas pada substansi. Nanti dalam simulasi, Anda akan merasakan sendiri bagaimana pilihan kata bisa membuat lawan bicara merasa dihormati meski Anda menolak tawarannya. Empat Tahap Negosiasi Setiap negosiasi profesional mengikuti alur yang relatif sama — mengenali tahapnya membantu Anda memilih bahasa yang tepat.
TAHAP 1
OPENING
Perkenalan, membangun rapport, menyampaikan agenda pertemuan.
TAHAP 2
EXPLORING
Menggali kebutuhan & kepentingan masing-masing pihak (interests, bukan posisi).
TAHAP 3
BARGAINING
Tukar-menukar penawaran, penolakan halus, dan konsesi bertahap.
TAHAP 4
CLOSING
Meringkas kesepakatan, konfirmasi tertulis, ucapan Terima Kasih.
Perhatikan bagaimana empat tahap ini muncul lengkap bahkan dalam negosiasi sederhana, misalnya saat Anda menegosiasikan harga borongan desain logo dengan klien UMKM lewat WhatsApp. Tahap opening sering dilewatkan mahasiswa yang terlalu terburu-buru langsung menyebut angka, padahal membangun rapport dulu membuat lawan bicara lebih terbuka untuk berkompromi. Tahap exploring adalah kunci negosiasi modern, sebab di sinilah Anda mencari tahu kepentingan sebenarnya di balik posisi, misalnya klien BBCA yang menawar harga rendah mungkin sebenarnya butuh jadwal pembayaran yang lebih fleksibel, bukan harga murah. Nanti dalam latihan simulasi, saya minta Anda secara sadar menandai sedang berada di tahap mana setiap kali bicara. ZOPA dan Anchoring: Konsep di Balik Angka Dua konsep strategi ini menjelaskan mengapa angka pertama yang disebut dalam negosiasi sangat menentukan hasil akhir.
Rentang harga tempat kedua pihak bisa sepakat — di luar rentang ini, kesepakatan mustahil terjadi.
Penjual: batas bawah harga yang masih menguntungkan. Pembeli: batas atas harga yang masih sanggup dibayar. Angka pertama yang disebut menjadi jangkar yang menarik hasil akhir mendekatinya.
Penjual biasanya membuka dengan harga sedikit tinggi. Pembeli membalas dengan counter-offer, bukan menerima anchor. Glosarium: anchoring = teknik menetapkan patokan angka awal; ZOPA = zona harga yang mungkin disepakati kedua pihak.
Konsep ZOPA dan anchoring ini akan menjadi dasar perhitungan kompromi yang kita latih di dua slide "Hitung dari Nol" nanti, jadi pastikan Anda paham betul sebelum lanjut. Contoh sehari-hari, penjual kerajinan batik di pasar UMKM sering membuka harga di atas nilai sebenarnya, bukan untuk menipu, tetapi karena tahu pembeli akan menawar, dan itulah fungsi anchor. Sebaliknya, jika Anda sebagai pembeli langsung setuju pada tawaran pertama tanpa membalas dengan counter-offer, Anda kehilangan ruang negosiasi yang sebenarnya masih tersedia di dalam ZOPA. Ingat prinsip ini baik-baik karena akan langsung kita pakai untuk menghitung titik kompromi secara matematis sebentar lagi. BAGIAN 2 DARI 3
Bahasa Penawaran & Permintaan
Frasa siap pakai untuk membuka tawaran dan meresponsnya secara profesional.
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling praktis, yaitu kumpulan frasa siap pakai untuk membuka penawaran dalam bahasa Inggris bisnis. Bagian ini penting karena tanpa kosakata yang tepat, Anda cenderung menerjemahkan langsung dari Bahasa Indonesia, yang sering terdengar terlalu kasual atau justru terlalu kaku dalam konteks bisnis internasional. Kita akan lihat bagaimana perusahaan seperti Tokopedia atau Gojek menyusun proposal kerja sama dengan mitra menggunakan struktur kalimat formal namun tetap ramah. Setelah frasa penawaran, kita juga akan langsung berlatih menghitung titik kompromi memakai angka nyata, jadi siapkan kalkulator sederhana Anda. Frasa Membuka Penawaran (Making an Offer) Tawaran pembuka harus terdengar percaya diri namun tetap membuka ruang diskusi.
Fungsi Frasa Bahasa Inggris Tingkat Formalitas Membuka tawaran "We would like to propose a price of..." Formal Menyampaikan angka "Our offer is in the range of..." Formal Memberi syarat "We can offer X, provided that..." Formal Menawar santai "How about we meet at...?" Semi-formal
Glosarium: propose = mengajukan secara resmi; provided that = dengan syarat.
Perhatikan pola "would like to propose" ini sangat sering dipakai dalam email dan rapat resmi, misalnya ketika tim business development sebuah startup mengajukan harga kerja sama iklan kepada brand seperti Indomie atau Wardah. Frasa "in the range of" berguna ketika Anda belum ingin berkomitmen pada satu angka pasti, memberi ruang gerak untuk negosiasi lanjutan. Frasa bersyarat "provided that" sangat penting dalam konteks bisnis karena penawaran jarang tanpa syarat, misalnya harga khusus hanya berlaku jika volume pesanan mencapai jumlah tertentu. Perhatikan juga perbedaan tingkat formalitas antara konteks rapat resmi dengan investor dan obrolan santai dengan rekan bisnis yang sudah akrab. Meminta Klarifikasi & Mengajukan Counter-Offer Sebelum membalas dengan angka, negosiator ulung selalu memastikan mereka memahami tawaran lawan bicara.
"Could you clarify what's included in that price?" "When you say X, do you mean...?" "Just to confirm, are we talking about...?" "That's a bit higher than we expected. Could you go down to...?" "We were thinking more along the lines of..." "Would you consider...instead?" Klarifikasi bukan tanda kelemahan, justru sebaliknya, ini menunjukkan Anda serius dan teliti, sebuah sikap yang sangat dihargai dalam negosiasi bisnis profesional seperti saat due diligence investasi startup. Frasa "just to confirm" sangat berguna untuk menghindari kesalahpahaman yang mahal, misalnya soal apakah harga yang ditawarkan sudah termasuk PPN 11 persen atau belum. Setelah klarifikasi selesai, barulah Anda mengajukan counter-offer dengan bahasa yang tetap sopan, seperti "a bit higher than we expected" yang jauh lebih halus dibanding langsung bilang "too expensive". Latihlah pola "would you consider" karena struktur ini fleksibel dipakai baik untuk menawar harga maupun syarat pembayaran. Hitung dari Nol 1: Titik Tengah Kompromi Teknik "splitting the difference" — cara paling umum menghitung titik kompromi harga secara matematis.
Kasus: penjual jasa desain UMKM meminta Rp15.000.000 , klien menawar Rp11.000.000 .
Langkah Perhitungan Nilai Harga penjual (anchor) diketahui Rp15.000.000 Harga pembeli (counter-offer) diketahui Rp11.000.000 Selisih kedua tawaran 15.000.000 − 11.000.000 Rp4.000.000 Setengah selisih 4.000.000 ÷ 2 Rp2.000.000 Titik kompromi 11.000.000 + 2.000.000 Rp13.000.000
HASIL AKHIR
Rp13.000.000
"Let's meet in the middle at Rp13 million."
Mari kita hitung bersama-sama, Anda boleh ikuti dengan kalkulator masing-masing. Selisih antara harga penjual dan pembeli adalah 15 juta dikurangi 11 juta, hasilnya 4 juta rupiah, lalu kita bagi dua untuk mendapat 2 juta sebagai setengah selisih. Titik kompromi kemudian dihitung dari harga pembeli ditambah setengah selisih tadi, yaitu 11 juta ditambah 2 juta sama dengan 13 juta rupiah, dan angka inilah yang Anda sampaikan dengan kalimat "let's meet in the middle". Teknik split the difference ini sangat umum dipakai pedagang di Tanah Abang maupun negosiator kontrak vendor logistik untuk e-commerce, karena terasa adil bagi kedua pihak meski sebenarnya hanya rata-rata sederhana. BAGIAN 3 DARI 3
Penerimaan, Penolakan & Kompromi
Bahasa untuk merespons tawaran — dari "ya" penuh sampai "tidak" yang tetap sopan.
Bagian terakhir ini sering menjadi titik lemah mahasiswa Indonesia dalam bahasa Inggris bisnis, karena budaya kita cenderung menghindari penolakan langsung, sementara bahasa Inggris punya struktur khusus untuk menolak secara halus tanpa terdengar tidak sopan maupun terlalu berbelit. Kita akan pelajari tiga jenis respons, yaitu menerima penuh, menolak dengan hedging language, dan mengusulkan kompromi, lengkap dengan contoh dari konteks negosiasi kontrak vendor dan wawancara kerja. Setelah bagian ini, kita akan langsung berlatih menghitung konsesi bertahap dengan angka nyata sebelum masuk ke simulasi berpasangan penutup. Perhatikan baik-baik perbedaan nada antara ketiga jenis respons ini, karena kesalahan pemilihan register bisa merusak keseluruhan hasil negosiasi. Bahasa Penerimaan (Accepting an Offer) Menerima tawaran juga perlu bahasa yang tepat — antara terlalu antusias dan terlalu datar.
PENERIMAAN PENUH
FULL ACCEPT
"That sounds fair. We accept your terms."
PENERIMAAN BERSYARAT
CONDITIONAL
"We can agree to that, as long as the delivery date stays the same."
PENERIMAAN FORMAL
FORMAL CLOSE
"We are pleased to accept your proposal."
Penerimaan penuh cocok dipakai ketika tawaran memang sudah sesuai ekspektasi Anda, misalnya harga sewa gudang untuk gudang logistik e-commerce yang memang sudah sesuai budget dari awal. Namun dalam praktik, penerimaan bersyarat jauh lebih sering terjadi karena negosiasi jarang berakhir seratus persen sesuai satu pihak, seperti contoh menerima harga tapi meminta jadwal pengiriman tetap sama. Penerimaan formal biasanya dipakai untuk menutup kesepakatan besar secara tertulis, misalnya dalam email konfirmasi kontrak kerja sama dengan brand nasional seperti Wardah atau Indomie. Latihlah ketiga pola ini sampai terasa natural, karena nanti dalam simulasi Anda akan diminta memilih respons yang paling sesuai dengan skenario masing-masing. Bahasa Penolakan Halus (Polite Refusal & Hedging) Hedging language membuat penolakan terdengar profesional, bukan kasar atau defensif.
Situasi Frasa Hedging Fungsi Menolak harga "I'm afraid that's a bit too high for us." Melembutkan penolakan Menolak syarat "I understand your position, but we're unable to..." Mengakui, lalu menolak Menunda keputusan "Let me get back to you on that." Menunda tanpa menutup pintu Menolak sopan total "Unfortunately, that won't be possible at this stage." Penolakan final tapi sopan
Hindari: "No, that's too expensive." — terdengar kasar dan menutup ruang negosiasi lebih lanjut.
Perhatikan pola "I'm afraid" dan "I understand your position, but" — keduanya mengakui posisi lawan bicara terlebih dahulu sebelum menyampaikan penolakan, sebuah teknik yang disebut face-saving dalam linguistik pragmatik. Kesalahan paling umum mahasiswa Indonesia adalah langsung berkata "No" atau "too expensive" tanpa buffer, yang dalam budaya bisnis Barat maupun Asia tetap terasa kasar meski niatnya jujur. Frasa "let me get back to you" sangat berguna ketika Anda memang butuh waktu berkonsultasi, misalnya seorang manajer procurement UMKM yang perlu izin atasan sebelum menyetujui harga vendor baru. Ingat, tujuan hedging bukan berbohong atau plin-plan, melainkan menjaga hubungan bisnis tetap terbuka untuk negosiasi berikutnya. Bahasa Kompromi (Reaching a Middle Ground) Kompromi disampaikan lewat struktur conditional — "jika Anda..., maka kami..." — ciri khas negosiasi matang.
If you can [syarat dari lawan], then we can [tawaran balik].
"If you can lower the price to Rp13 million, we can sign today." "We're willing to meet halfway on the delivery schedule." "What if we split the difference?" meet halfway = berkompromi di titik tengahtrade-off = pertukaran satu hal demi hal lainwin-win solution = solusi saling menguntungkanStruktur conditional "if... then..." ini adalah pola advanced conditional yang juga kita pelajari saat menulis email bisnis, jadi Anda sebenarnya sudah punya modalnya dari materi sebelumnya. Frasa "meet halfway" sangat sering muncul dalam negosiasi kontrak vendor logistik untuk toko online, misalnya saat kedua pihak berkompromi antara harga dan jadwal pengiriman, bukan hanya soal angka semata. Konsep trade-off penting Anda pahami karena kompromi sejati sering melibatkan pertukaran, misalnya klien setuju harga lebih tinggi asalkan pembayaran dicicil dalam tiga tahap. Latihlah pola "what if we..." karena ini kalimat yang sangat natural untuk mengusulkan ide kompromi tanpa terdengar memaksa. Hitung dari Nol 2: Konsesi Bertahap dalam Negosiasi Harga Vendor katering UMKM memberi dua tahap konsesi diskon untuk mencapai kesepakatan kontrak event.
Harga awal penawaran vendor: Rp8.000.000 .
Langkah Perhitungan Nilai Konsesi 1: diskon 10% 8.000.000 × 10% Rp800.000 Harga setelah konsesi 1 8.000.000 − 800.000 Rp7.200.000 Konsesi 2: diskon 5% (dari harga baru) 7.200.000 × 5% Rp360.000 Harga final 7.200.000 − 360.000 Rp6.840.000 Total diskon dari harga awal 8.000.000 − 6.840.000 Rp1.160.000 (~14,5%)
KALIMAT PENUTUP
"With both concessions, our final offer is Rp6.84 million — that's our best price."
Perhatikan bahwa konsesi kedua dihitung dari harga BARU setelah konsesi pertama, bukan dari harga awal — ini kesalahan hitung yang sering terjadi, jadi mari kita pastikan bersama. Diskon 10 persen dari 8 juta adalah 800 ribu, sehingga harga turun menjadi 7,2 juta; lalu diskon 5 persen tahap kedua dihitung dari 7,2 juta, yaitu 360 ribu, sehingga harga final menjadi 6,84 juta rupiah. Total diskon dari harga awal adalah 1.160.000 rupiah, atau sekitar 14,5 persen, dan strategi konsesi bertahap seperti ini umum dipakai vendor katering, EO, maupun agency digital marketing agar terlihat masih "mengalah" tanpa langsung memberi diskon besar sekaligus. Frasa "that's our best price" penting Anda kuasai karena menandakan negosiasi memasuki tahap closing dan konsesi sudah final. Kesalahan Umum dalam Negosiasi Lintas Budaya Budaya komunikasi Indonesia (high-context) berbeda dengan budaya bisnis Barat (low-context) — kenali jebakannya.
Terlalu banyak basa-basi sebelum masuk substansi. Menghindari kata "no" sampai maksud jadi tidak jelas (ambiguous). Menerima tawaran pertama tanpa counter-offer (kehilangan ZOPA). Rapport singkat, lalu masuk agenda dengan jelas. Gunakan hedging language, bukan menghindari topik. Selalu ajukan klarifikasi/counter-offer sebelum menyepakati. Konsep high-context versus low-context ini penting Anda pahami, sebab budaya Indonesia cenderung menyampaikan pesan secara implisit lewat konteks dan bahasa tubuh, sementara budaya bisnis Amerika atau Eropa lebih eksplisit dan langsung. Ini bukan berarti satu budaya lebih baik, tetapi ketidaksesuaian gaya bisa membuat mitra asing salah paham, misalnya mengira Anda setuju padahal Anda hanya sedang sopan. Contoh nyata, seorang eksekutif dari perusahaan seperti BBCA yang bernegosiasi dengan mitra teknologi asing perlu menyesuaikan gaya komunikasinya agar tidak terjadi miskomunikasi soal tenggat waktu proyek. Kesalahan menerima tawaran pertama tanpa counter-offer juga sangat sering terjadi pada negosiator pemula, padahal seperti kita pelajari di konsep ZOPA tadi, hampir selalu ada ruang tawar yang belum dieksplorasi. Studi Kasus: Negosiasi Kontrak Vendor UMKM Ikuti alur dialog singkat ini — perhatikan pilihan bahasa di setiap tahap.
Vendor: "Thank you for meeting us. We'd like to propose a package price of Rp10 million for the full event catering."
Klien: "Could you clarify what's included? That's a bit higher than we budgeted — we were thinking around Rp8 million."
Vendor: "I'm afraid Rp8 million won't cover full service. If you can commit to 100 guests, we can offer Rp9 million."
Klien: "That works for us. We're pleased to accept — let's confirm in writing."
Mari kita telusuri dialog ini baris demi baris karena semua bahasa yang kita pelajari hari ini muncul di sini secara utuh. Vendor membuka dengan "propose", sesuai frasa penawaran yang kita bahas tadi, lalu klien membalas dengan klarifikasi diikuti counter-offer memakai "a bit higher than we budgeted", persis pola hedging untuk menolak halus. Vendor kemudian menolak Rp8 juta dengan "I'm afraid", lalu langsung mengusulkan kompromi bersyarat dengan struktur if-then yang sudah kita pelajari, menukar komitmen jumlah tamu dengan harga lebih rendah. Perhatikan bagaimana klien akhirnya menerima secara formal dengan "we're pleased to accept" — inilah alur lengkap negosiasi yang realistis, mirip dengan yang terjadi antara UMKM katering dan event organizer di kota-kota besar Indonesia. Latihan: Simulasi Negosiasi Berpasangan Kerjakan berpasangan (15 menit) — satu berperan sebagai Vendor , satu sebagai Klien .
Startup e-commerce menegosiasikan biaya jasa fotografi produk. Harga awal vendor: Rp5.000.000 untuk 50 produk. Budget klien: Rp3.500.000. Gunakan minimal 1 frasa dari setiap fungsi: offer, clarify, refuse, compromise. Hitung titik kompromi dengan teknik "split the difference". Tulis kesepakatan akhir dalam 1 kalimat bahasa Inggris formal. Dua pasangan akan diminta tampil di depan kelas untuk memperagakan dialognya secara singkat.
Coba Sendiri: Asesmen Gaya Negosiasi Anda Sebelum berlatih dengan pasangan, identifikasi profil Thomas-Kilmann Anda (competing / collaborating / compromising / avoiding / accommodating) — kesadaran diri ini membantu memilih gaya bahasa offer, refuse, dan compromise yang paling sesuai dengan disposisi alami Anda.
Sekarang giliran Anda berlatih, silakan berpasangan dengan teman di sebelah, dan saya akan berkeliling untuk mendengarkan serta memberi masukan langsung. Perhatikan skenario ini dirancang mirip situasi nyata sebuah startup e-commerce yang menegosiasikan jasa fotografi produk sebelum listing di marketplace seperti Shopee atau Tokopedia. Gunakan kalkulator untuk menghitung titik kompromi dari selisih Rp5 juta dan Rp3,5 juta memakai teknik yang sudah kita pelajari, lalu susun dialognya mengikuti empat tahap negosiasi. Saya akan memilih dua pasangan secara acak untuk tampil di depan kelas, jadi pastikan setiap anggota pasangan berlatih kedua peran, baik sebagai vendor maupun klien. Rangkuman: Empat Fungsi Bahasa Negosiasi Checklist frasa kunci hari ini — simpan sebagai referensi cepat untuk simulasi dan tugas berikutnya.
Fungsi Frasa Kunci Kapan Dipakai Offer "We'd like to propose..." Membuka tawaran Accept "We're pleased to accept..." Menyetujui kesepakatan Refuse "I'm afraid that's not possible..." Menolak dengan halus Compromise "If you can..., we can..." Mengusulkan titik tengah
Empat baris dalam tabel ini adalah inti dari seluruh pertemuan hari ini, jadi saya sarankan Anda foto atau catat sebagai kartu contekan pribadi. Setiap kali Anda menghadapi situasi negosiasi, baik dalam magang, wawancara kerja, maupun mengelola bisnis sampingan sendiri, empat pola ini akan selalu relevan sebagai kerangka dasar. Ingat juga bahwa di balik setiap frasa ada logika strategi, seperti anchoring saat membuka tawaran dan split the difference saat mencari kompromi, bukan sekadar hafalan kalimat kosong. Pertemuan berikutnya kita akan beralih membahas studi kasus bisnis kompleks dengan struktur kalimat yang lebih rumit, yaitu complex noun phrases dan participle clauses, jadi pastikan kosakata negosiasi hari ini sudah Anda kuasai dengan baik. PENUTUP PERTEMUAN 4
Siap Bernegosiasi dalam Bahasa Inggris
Minggu depan: menganalisis studi kasus bisnis kompleks — complex noun phrases & participle clauses.
Terima Kasih atas partisipasi aktif Anda dalam simulasi hari ini, saya melihat banyak pasangan sudah mulai natural menggunakan hedging language saat menolak tawaran, itu perkembangan yang bagus. Sebagai tugas mandiri, coba praktikkan salah satu frasa yang kita pelajari hari ini dalam situasi nyata, misalnya saat menawar harga di aplikasi jual-beli online atau saat diskusi kelompok tugas kuliah lain. Minggu depan kita akan beralih ke keterampilan membaca dan menulis level lanjut, yaitu menganalisis studi kasus bisnis kompleks dengan struktur kalimat complex noun phrases dan participle clauses, jadi siapkan diri Anda untuk tantangan tata bahasa yang lebih menantang. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, dan selamat mencoba mempraktikkan bahasa negosiasi Anda di kehidupan sehari-hari.